STUDI KASUS KOMPARASI GENRE
MUSIK METAL DAN INSTRUMENTAL TERHADAP PERSEPSI APRESIATOR
Revita Anindya
Lestari1, Rangga Ramdhani
Sukardi2, Merdifa Chiquita
Kayla Cahyadi3, Yusuf Maulana
Febrian4
Departemen Fisika, Fakultas
Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Pendidikan
Indonesia
[email protected];
[email protected]; [email protected]; [email protected]
Abstrak:
Musik memiliki
keterkaitan dengan fisika dan psikologi. Konsep fisika seperti frekuensi,
amplitudo, dan harmoni merupakan bagian dari fenomena fisika yang inheren
dengan musik. Musik adalah kebutuhan ekspresi manusia. Hal tersebut yang
membuat musik inheren dengan psikologi. Penelitian ini menggunakan metode
penelitian wawancara pada tiga narasumber ahli di bidangnya dan observasi pada
dua puluh apresiator yang menjadi partisipan. Hanya 32.59% diantaranya yang
menggemari musik metal karena nadanya yang tidak nyaman didengar. Sisanya lebih
menggemari musik instrumental karena nadanya yang indah dan harmonis. Musik
metal menghasilkan 3.000 Hz, sedangkan musik instrumental lembut menghasilkan
528 Hz. Batas manusia bida mendengar suara berkisar di 20 Hz sampai 20.000 Hz.
Namun, penting untuk diingat bahwa pengaruh musik pada psikologis individu
dapat bervariasi. Setiap orang memiliki preferensi musik yang berbeda dan dapat
merespons secara unik terhadap genre tertentu. Beberapa orang mungkin menemukan
musik metal membantu. Sementara yang lain mungkin tidak merasa terhubung atau
bahkan merasa terganggu olehnya, seperti halnya apresiator yang merupakan anak
kecil yang kabur ketika diberikan musik metal dan apresiator dewasa yang
meminta musik metal tersebut untuk dihentikan diputar. Kemudian, beberapa orang
mungkin menemukan musik instrumental lembut sangat menyenangkan dan
menenangkan, sedangkan beberapa diantaranya justru merasa musik instrumental
lembut ini dapat menimbulkan perasaan kecemasan karena suatu pengalaman.
Seperti halnya yang dirasakan seorang apresiator remaja yang menyatakan bahwa
mendengar musik instrumental dapat membuatnya menangis.
Kata Kunci: Musik Metal dan Instrumental, Fisika, Psikologi, Frekuensi, Reaksi
Abstract:
Music has
connections with physics and psychology. Physical concepts such as frequency,
amplitude, and harmony are part of the physical phenomena inherent in music.
Music is the necessity of human expression that makes music inherent in
psychology. The study uses the research method of interviewing three sources of
experts in their field and observations on twenty appraisers who became
participants. Only 32.59% of them love metal because it's uncomfortable to
hear, while the rest prefer instrumental music because it is beautiful and
harmonious. Metal music yields 3,000 Hz, while soft instrumental music produces
528 Hz. Human listening limits range from 20 Hz to 20,000 Hz. However, it is
important to remember that the influence of music on individual psychology can
vary. Everyone has different musical preferences and can respond uniquely to a
particular genre. Some people may find metal music helpful. While others may
not feel connected or even disturbed by it, such as the appreciator who is a
little kid who escapes when given metal music and the adult apprecier who asks
that metal music be stopped playing. Later, some people may find soft
instrumental music very pleasant and soothing, while some of them feel that
this soft musical can cause anxiety from an experience. Like a teenage
appreciator who stated that listening to instrumental music can make him cry.
Keywords: Metal and Instrumental Music, Physics, Psychology, Frequency, Reaction
���������
Pendahuluan
Musik merupakan
salah satu bentuk ekspresi seni yang telah ada sejak zaman purba dan memiliki
pengaruh yang kuat terhadap emosi dan pikiran manusia (Pramudya, 2019). Dalam
artikel ini, akan dibahas mengenai keterkaitan antara fisika dan psikologi
dalam konteks musik dengan genre metal dan instrumental, serta bagaimana aliran
musik tersebut dapat memengaruhi reaksi manusia. Analisis ini penting untuk
memahami bagaimana musik dapat digunakan sebagai alat untuk mengendalikan
emosi, meningkatkan konsentrasi, atau bahkan mengurangi stres (Larasati &
Prihatanta, 2017).
Fisika memainkan
peran penting dalam produksi dan persepsi suara (Prianto, 2022). Konsep seperti
frekuensi, amplitudo, dan harmoni merupakan bagian dari fenomena fisika yang
inheren dengan musik. Konsep ini digunakan dalam membantu memahami bagaimana
musik dengan genre metal dan instrumental dapat memiliki efek yang berbeda pada
pendengar musik.
Musik memiliki kemampuan
unik untuk memengaruhi emosi dan suasana hati manusia (Ratnasari, 2016). Aliran
musik metal berkaitkan dengan energi, kekuatan, atau bahkan agresi. Sementara
aliran musik instrumental cenderung memengaruhi denyut jantung dan relaksasi.
Dalam penelitian
ini, kami bertujuan untuk memberikan wawasan tentang bagaimana musik dapat
memengaruhi manusia secara emosional dan fisik. Penelitian ini dapat memiliki
implikasi penting dalam penggunaan musik sebagai terapi, pengatur suasana, atau
bahkan dalam industri hiburan.
��
Metode
Metode penelitian
yang diterapkan dalam artikel ini yang pertama adalah metode penelitian
wawancara kepada narasumber ahli musik (Narasumber F), ahli fisika (Narasumber
D), dan ahli psikologi (Narasumber S) untuk mendapatkan pemahaman yang lebih
dalam tentang Musik, Fisika, dan Psikologi yang berkaitan dengan tujuan
penelitian. Setelah dilakukan metode penelitian wawancara, dilakukan metode
penelitian observasi untuk mengamati dan mencatat secara sistematis reaksi
manusia terhadap musik dengan genre metal dan instrumental yang dilihat dari
persepsi dan pengalaman apresiator anak kecil, remaja, dewasa, dan lansia
terhadap musik dengan genre metal dan instrumental untuk memperoleh data berupa
preferensi musik individu, pengalaman pribadi, atau interpretasi subjektif.
Hasil dan Pembahasan
Narasumber F
menyatakan bahwa musik adalah perasaan yang tidak bisa dideskripsikan. Nyaman
tidaknya musik untuk didengar kembali lagi pada karakteristik manusia.
Berdasarkan dari reaksi para apresiator, 100% apresiator lebih menggemari musik
instrumental karena sifatnya yang menenangkan.
Musik metal
memberikan kesan tidak sebaik musik instrumental bagi apresiator yang mengaku
kurang menyukai musik metal. 35.29% apresiator menyatakan kesukaannya pada
musik metal. Mereka berpendapat bahwa musik metal layak didengar guna
memotivasi ketika melakukan kegiatan yang membutuhkan energi. Berdasarkan
Narasumber D, amplitudo musik metal memiliki energi yang besar. Maka dari itu,
bagi sebagian orang yang dapat merasakan energi tersebut, musik metal dapat
membangkitkan semangat. Hanya 5.88% yang menyatakan bahwa musik metal justru
membuat kantuk karena lantunannya yang monoton.
Dari 35.29%
apresiator yang menyukai musik metal, mereka juga termasuk ke dalam apresiator
yang menyukai musik instrumental yang tenang. Ditarik kesamaan pendapat dari
100% apresiator adalah musik instrumental lebih menenangkan sehingga dapat
didengar dengan baik. 5.88% apresiator sangat menyukai musik instrumental
tenang karena menurutnya musik ini dapat diulik dan dianalisis sehingga
membuatnya semangat. Sedangkan 94.12% sisanya menyatakan bahwa musik
instrumental yang tenang ini membuat kantuk karena frekuensinya yang rendah.
11.76% apresiator yang merupakan anak kecil yang aktif setelah diberikan musik
instrumental yang tenang dapat berhenti berlarian dan mendengarkan dengan
tenang. 5.88% apresiator yang merupakan lansia berpendapat bahwa ketika
mendengarkan musik instrumental yang tenang ini mengingatkan pada ketika sedang
berkumpul dengan keluarga, saling melepas rindu satu sama lain, bertemu orang
tua dan bersosialisasi dengan kerabat. Hal ini membuktikan bahwa bagi lansia,
musik instrumental yang tenang bersifat �kenangan� atau �mengingat� yang
artinya dapat memanggil kembali informasi atau pengalaman dari masa lalu.
Sedangkan apresiator remaja sampai dewasa mengakui ketenangan yang didapat
setelah mendengarkan musik instrumental dengan frekuensi rendah.
Rentang frekuensi
yang dapat didengar oleh manusia berkisar antara sekitar 20 Hz hingga 20.000
Hz. Dalam konteks musik, frekuensi mengukur seberapa sering suara bergetar atau
berulang dalam waktu tertentu. Frekuensi diukur dalam satuan hertz (Hz). Satu
Hz berarti satu siklus gelombang per detik. Pada musik instrumental yang
dijadikan variabel dalam penelitian ini, frekuensi musik instrumental yang
dikatakan menenangkan ini adalah 528 Hz, artinya gelombang suara bergetar
sebanyak 528 kali dalam satu detik. Frekuensi suara yang lebih tinggi
menghasilkan nada yang lebih tinggi, seperti halnya musik metal dalam
penelitian ini yang memiliki 3.000 Hz.
Dalam musik,
frekuensi berperan penting dalam menentukan nada dan harmoni. Nada-nada yang
berbeda dalam sebuah lagu memiliki frekuensi yang berbeda, dan perbedaan
frekuensi inilah yang menciptakan variasi dalam musik. Dikutip dari Narasumber
D, frekuensi berhubungan dengan tinggi rendahnya suara dan memberikan
karakteristik unik pada instrumen musik.
Di dalam musik juga
ada amplitudo yang merupakan ukuran dari tingkat kekuatan atau intensitas
suara. Dalam konteks fisika, amplitudo mengacu pada jangkauan maksimum getaran
suara atau gelombang suara. Narasumber D menyatakan, semakin besar amplitudo,
semakin kuat suara yang dihasilkan. Dalam musik, amplitudo berkontribusi pada
karakteristik dan kekuatan suara yang didengar. Amplitudo yang lebih besar
menghasilkan suara yang lebih keras atau lebih nyaring, sedangkan amplitudo
yang lebih kecil menghasilkan suara yang lebih lemah atau lebih pelan.
Dikutip dari
Narasumber F, amplitudo memengaruhi kualitas suara atau timbre. Pada instrumen
musik, amplitudo yang berbeda dapat menghasilkan karakteristik suara yang
berbeda. Misalnya, pada gitar listrik, amplitudo yang tinggi pada senar yang
dipetik akan menghasilkan suara yang lebih keras dan kaya distorsi, sementara
amplitudo yang lebih rendah akan menghasilkan suara yang lebih lembut dan
tenang.
Secara sisi
psikologi, Narasumber S menyatakan bahwa Musik metal memiliki pengaruh yang
kuat terhadap psikologis pendengarnya. Musik metal sering kali berisi lirik
yang kuat, suara vokal yang keras, dan instrumen yang intens. Gaya musik ini
dapat memberikan sarana ekspresi emosi yang kuat bagi pendengarnya. Mereka
mungkin merasa lebih bebas untuk mengungkapkan kemarahan, ketegangan, atau
ketidakpuasan melalui musik ini.
Selain itu, musik
metal yang cepat dan keras sering kali dianggap menghasilkan energi yang
tinggi. Pendengar dapat merasakan dorongan energi dan gairah yang kuat saat
mendengarkan musik ini. Hal ini dapat membantu mereka melepaskan stres,
kegelisahan, atau ketegangan yang dirasakan.
Metal adalah genre
musik dengan basis penggemar yang kuat dan komunitas yang erat. Pendengar musik
metal sering merasakan rasa persatuan dan identitas dengan orang-orang yang
memiliki minat yang sama. Hal ini dapat memberikan perasaan inklusi dan
kebanggaan pada pendengarnya.
Meskipun musik metal
sering dikaitkan dengan intensitas dan kekerasan, beberapa pendengar merasa
bahwa musik ini dapat membantu mereka merasa tenang dan rileks. Mereka mungkin
menemukan kenyamanan dan pembebasan dari stres melalui musik ini.
Namun, penting untuk
diingat bahwa pengaruh musik pada psikologis individu dapat bervariasi. Setiap
orang memiliki preferensi musik yang berbeda dan dapat merespons secara unik
terhadap genre tertentu. Beberapa orang mungkin menemukan musik metal membantu.
Sementara yang lain mungkin tidak merasa terhubung atau bahkan merasa terganggu
olehnya, seperti halnya apresiator yang merupakan anak kecil yang kabur ketika
diberikan musik metal dan apresiator dewasa yang meminta musik metal tersebut
untuk dihentikan diputar.
Musik instrumental
lembut memiliki pengaruh yang positif terhadap psikologis pendengarnya. Musik
instrumental lembut memiliki melodi yang tenang, alunan yang lembut, dan tidak
ada vokal yang dominan. Hal ini dapat membantu merilekskan pikiran dan tubuh,
mengurangi stres, dan menciptakan suasana yang tenang. Pendengar dapat merasa
lebih nyaman dan santai saat mendengarkan musik ini.
Musik instrumental
lembut juga dapat membantu meningkatkan fokus dan konsentrasi. Dengan tidak
adanya lirik atau vokal yang mengalihkan perhatian, pendengar dapat lebih mudah
memusatkan pikiran pada tugas atau aktivitas yang sedang dilakukan. Musik ini
bisa menjadi latar belakang yang menenangkan dan membantu meningkatkan
efisiensi kerja atau belajar.
Musik instrumental
lembut sering kali memiliki melodi yang indah dan harmonis. Hal ini dapat
meningkatkan suasana hati dan kesejahteraan emosional pendengarnya. Musik ini
dapat membantu mengurangi kecemasan, depresi, atau rasa sedih, dan memberikan
perasaan positif dan damai.
Musik instrumental
lembut juga sering digunakan dalam praktik meditasi, yoga, atau terapi
relaksasi. Melodi yang lembut dan alunan yang tenang dapat membantu pendengar
memasuki keadaan meditatif, mengarahkan perhatian ke dalam, dan mencapai
ketenangan batin. Musik ini dapat membantu menciptakan suasana yang mendukung
pengalaman spiritual atau introspeksi.
Penting untuk
dicatat bahwa efek musik instrumental lembut dapat bervariasi antara individu.
Setiap orang memiliki preferensi musik yang berbeda dan dapat merespons secara
unik terhadap genre tertentu. Beberapa orang mungkin menemukan musik
instrumental lembut sangat menyenangkan dan menenangkan, sedangkan beberapa
diantaranya justru merasa musik instrumental lembut ini dapat menimbulkan
perasaan kecemasan karena suatu pengalaman. Seperti halnya yang dirasakan
seorang apresiator remaja yang menyatakan bahwa mendengar musik instrumental
dapat membuatnya menangis.
Kesimpulan
Musik adalah media
non-verbal yang tidak dapat dijelaskan, dan sering digunakan untuk mengajar
orang. Menurut reaksi apresiator, 100% darinya lebih memilih musik instrumental
karena dampak emosionalnya. Musik metal dianggap kurang efektif bagi mereka
yang tidak menikmatinya, karena monoton dan sulit dipahami. Frekuensi sangat
penting dalam memahami harmoni dan frekuensi yang bervariasi dalam berbagai
jenis musik. Musik metal menghasilkan 3.000 Hz, sedangkan musik instrumental
menghasilkan 528 Hz. Amplitudo dalam musik juga berkontribusi pada kualitas
atau intensitas musik. Amplitudo yang keras dapat meningkatkan semangat,
sementara yang lembut dapat memberikan ketenangan. Musik metal memiliki
pengaruh yang signifikan pada psikologis pendengar ysng ditandai dengan lirik
yang kuat, vokal kuat, dan musik yang intens. Sedangkan, musik instrumental
memberikan rasa nyaman, konsentrasi, dan ketenangan karenamemiliki melodi yang
harmonis. Musik adalah media non-verbal yang dapat diajarkan dan dinikmati oleh
orang-orang dari segala usia. Dampak emosionalnya pada pendengar adalah
signifikan, dan penggunaan musik dalam berbagai bentuk dapat membantu individu
mengembangkan pemahaman yang lebih dalam tentang dunia di sekitar mereka. Saran prospek pengembangan dari hasil penelitian dan aplikasi
lebih jauh yang menjadi prospek kajian berikutnya adalah dengan
melakukan penelitian pada responden yang lebih banyak supaya
pembahasan dapat dilakukan dengan lebih general.���
Daptar Pustaka
Gabela, E & Sampurno, J. (2014). Analisis Fraktal Sinyal Berbagai Jenis Musik. https://www.researchgate.net/profile/Joko-Sampurno/publication/298402921_Analisis_Fraktal_Sinyal_Berbagai_Jenis_Musik/links/56e9281508ae166360e69880/Analisis-Fraktal-Sinyal-Berbagai-Jenis-Musik.pdf
Gani, Muhammad
Rizani . (2022). Mendengarkan Musik
Akustik Sebagai Strategi Coping pada Mahasiswa yang Mengalami Stress. https://idr.uin-antasari.ac.id/19188/2/AWAL.pdf
Hurless, N, dkk.
(2013). Music Genre Preference and Tempo
Alpha and Beta Waves in Human Non-muscians. https://impulse.pubpub.org/pub/idmxseha/release/1
Knox, dkk.
(2011). Acoustic Analysis and Mood
Classification of Pain-relieving Music. https://researchonline.gcu.ac.uk/files/63614/online-full-text
Larasati, D.M. & Prihatanta, H.
(2017). PENGARUH TERAPI MUSIK TERHADAP TINGKAT KECEMASAN
SEBELUM BERTANDING PADA ATLET FUTSAL PUTRI. MEDIKORA, XVI(1),
18-19. https://journal.uny.ac.id/index.php/medikora/article/download/23476/11709
Pramudya, N.A. (2019). PENCIPTAAN
KARYA KOMPOSISI MUSIK SEBAGAI SEBUAH PENYAMPAIAN MAKNA PENGALAMAN EMPIRIS
MENJADI SEBUAH MAHAKARYA, 17(1), 14.
Prianto, E.
(2022). Buku Ajar Fisika Bangunan
2. Diakses 3 November
2023, dari FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG. https://eprints2.undip.ac.id/id/eprint/9241/1/Buku%20Ajar_Fisika%20Bangunan%202_EBook.pdf
Prasetya, P.R.M. & Giri, Gst. A.V.M. (2019). Comparison of Use of Music Content (Tempo) and User Context (Mood) Features on Classification of Music
Genre. https://ojs.unud.ac.id/index.php/JLK/article/view/51893
Ratnasari, B.E. (2016). PERAN
MUSIK DALAM EKSPRESI EMOSIONAL REMAJA KETIKA MENGHADAPI MASALAH PADA KEHIDUPAN
REMAJA KAMPUNG PANJANGSARI BARU PARAKAN TEMANGGUNG. Diakses 3 November 2023, dari Universitas Negeri
Semarang. https://lib.unnes.ac.id/29208/1/2501412062.PDF���
Stewart, J, dkk.
(2019). Music Use for Mood Regulation:
Self-Awareness and Conscious Listening Choicesin Young People With Tendencies
to Depression. https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fpsyg.2019.01199/full