FAKTOR DOMINAN PENYEBAB TERJADINYA KEKURANGAN
ENERGI KRONIK (KEK) PADA IBU HAMIL
Listyaning
Ajeng Pambudi
Poltekkes Kemenkes Surabaya, Indonesia
Abstrak:
Masa kehamilan merupakan
masa dimana ibu hamil harus mendapatkan asupan nutrisi yang bergizi untuk
mendukung pertumbuhan janin dan mencegah terjadinya KEK. WHO menetapkan batas
ambang masalah ibu hamil dengan risiko KEK sebesar <5%, namun di Indonesia
prosentase kejadian KEK masih tinggi yaitu sebesar 17,3%. Tujuan penelitian ini
untuk mengetahui faktor dominan penyebab terjadinya KEK pada ibu hamil di
Wilayah Kerja Puskesmas Gaji Kabupaten Tuban. Desain penelitian ini adalah
analitik. Populasinya sebesar 82 ibu hamil dengan sampel sebanyak 68 ibu hamil.
Tehnik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan pendekatan
cross sectional. Tehnik pengumpulan data menggunakan kuesioner, observasional
dan wawancara. Data dianalisis menggunakan uji regresi logistik. Diperoleh
hasil hampir setengah ibu hamil masih mengalami KEK (26,5%), sebagian besar
berada pada usia tidak berisiko (75,0%), sebagian besar primipara (61,8%),
hampir seluruh ibu hamil memiliki jarak kehamilan >2 tahun (89,7%), sebagian
besar pendapatan kepala keluarga rendah (69,1%), sebagian besar tidak bekerja
(55,9%), sebagian besar berpendidikan tinggi (61,8%), sebagian besar memiliki
asupan energi kurang (61,8%), hampir setengah ibu hamil berpengetahuan cukup
(41,2%) dan paritas dengan primipara lebih tinggi berisiko KEK (p=0,020, 95%
CI=1,410-57,833, OR=9,031). Faktor dominan penyebab terjadinya KEK pada ibu
hamil di wilayah kerja Puskesmas Gaji adalah paritas dengan primipara, dimana
pada kehamilan <2 ibu belum memiliki pengalaman terkait kebutuhan gizi
selama kehamilan. Dengan begitu ibu hamil perlu melakukan konseling saat ANC
dan mengikuti kelas ibu hamil secara rutin untuk mamantau kesehatan ibu dan
janin serta dapat meminimalisir terjadinya KEK.
Kata Kunci: Faktor
Dominan, Ibu Hamil, KEK
Abstract:
Pregnancy is a period where the
pregnant woman must get nutrition to support fetal growth and prevent Chronic
Energy Deficiency (CED). WHO states that the threshold for the problem of the
pregnant woman by a risk of CED of <5%, but the percentage of CED incidence
is still upper at 17,3% in Indonesia. This study aims to know dominant factors
cause CED of the pregnant women in the work area of Gaji�s community health
center Tuban regency. The design of this study is analytic. The population in this
study were 82 pregnant women while the sample was 68 pregnant women. The
researcher used purposive sampling with cross-sectional approach as the
sampling technique. The technique used to collect data was questionnaire,
observation, and interview. The researcher used regression logistic to analyze
the data. The result showed that almost half of pregnant women still experience
CED (26,5%), most the pregnant women were at the unrisk age (75,0%), most the
pregnant woman were primaparas (61,8%), almost all pregnant women have a
pregnancy interval of <2 years (89,7%), most the pregnant women have a low
income in economic (69,1%), most of the pregnant women were unemployed (55,9%),
most of the pregnant women have high education (61,8%), most of the pregnant
women have less energy intake (61,8%), almost half of the pregnant women have
knowledge sufficiency (41,2%), and the parity with primiparas were at higher
risk of CED (p=0,020, 95% CI=1,410-57,833, OR=9,031). The dominant factor that
causes CED in pregnant women in the work area of Gaji�s community health center
is parity with primiparas, which in <2 pregnancies, the pregnant woman has
no experience related to nutritional needs during pregnancy. It can be
concluded that pregnant woman needs do counseling during ANC, attend classes
for pregnant women regularly to monitor the health of the mother and fetus, and
can minimize the incident of CED.
Keywords:
Dominant
Factors, Pregnant Women, CED
����� ����
Pendahuluan
Masa
kehamilan adalah proses dimana bertemunya sel sperma dengan sel telur matang
dari wanita sehingga terjadi fertilisasi sampai lahirnya janin. Pada proses
kehamilan membutuhkan asupan energi yang banyak dan asupan gizi yang tepat (Mandung et al., 2016).
Moehji (2003 dalam Sari et al., 2020)
mengemukakan bahwa status gizi ibu hamil merupakan dimensi keberhasilan dalam
pemenuhan nutrisi untuk ibu yang sedang mengandung. Status gizi ibu hamil yang
kurang akan menimbulkan ketidak seimbangan zat gizi yang dapat menyebabkan
masalah gizi pada ibu hamil.
Masalah gizi pada ibu hamil yang paling sering
terjadi adalah Kekurangan Energi Kronik (KEK). KEK pada ibu hamil merupakan
suatu keadaan dimana kurangnya asupan energi dan protein pada masa kehamilan (Teguh et al., 2019).
KEK pada wanita di negara berkembang merupakan hasil kumulatif dari kondisi
kurang gizi sejak masa kandungan, balita, anak-anak dan bersinambungan sampai
dewasa (menahun atau kronik) (Mijayanti et al., 2020).
Fakta dilapangan menunjukkan angka kejadiaan ibu hamil dengan KEK masih bearada
diatas target yang telah ditetapkan oleh WHO.
Dikutip dari laporan Ditjen Kesmas Kemenkes RI pada tahun 2017
menurut WHO batas ambang masalah kesehatan ibu hamil dengan risiko KEK adalah
<5%, sementara di Indonesia menurut hasil PSG (Pemantauan Status Gizi) pada
tahun 2017 menunjukkan angka 14,8%, sedangkan pada tahun 2018 menurut standar
Riskesdas, Indonesia masih memiliki masalah kesehatan masyarakat dalam kategori
sedang, yaitu 17,3% untuk prevelensi ibu hamil KEK. Menurut riskesdas pada
tahun 2018, angka kejadian KEK di Jawa Timur sebesar 19,59%.
Prevelensi ibu hamil dengan KEK selama 3 tahun
terakhir yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Tuban pada tahun 2018
sebanyak 1922 ibu hamil (11,3%), tahun 2019 sebanyak 2130 ibu hamil (12,07%)
dan pada tahun 2020 sebanyak 2392 ibu hamil (14,11%).� Prevelensi tersebut menujukkan bahwa terjadi
peningkatan tiap tahunnya.� Dari 33
Puskesmas yang ada di Kabupaten Tuban, Puskesmas Gaji merupakan salah satu
Puskesmas yang angka kejadian ibu hamil dengan KEK nya tinggi. Dari data yang
diperoleh dari laporan tahunan Puskesmas Gaji Kecamatan Kerek Kabuaten Tuban
ibu hamil dengan KEK pada tahun 2018 sebanyak 32 ibu hamil (9,97%), tahun 2019
sebanyak 70 ibu hamil (20,96%) dan pada tahun 2020 sebanyak 70 ibu hamil
(19,44%). Prevelensi tersebut menunjukkan terjadi peningkatan dari tahun 2018
(9,97 %) sampai dengan tahun 2019 (20,96 %) sebesar 10,99 %. Kemudian terjadi
penurunan dari tahun 2019 (20,96 %) sampai dengan 2020 (19,44 %) sebesar 1,52
%. Meskipun demikian, prevelensi tersebut masih berada di atas target yang
telah di tetapkan oleh WHO.
Rendahnya konsumsi energi yang berasal dari zat gizi
makro (karbohidrat, protein serta lemak) ataupun zat gizi mikro yang paling
utama yaitu vit A, vit D, asam folat, zat besi, seng, kalsium serta iodium dan
zat mikro lain pada wanita usia produktif yang berkepanjangan (remaja hingga
masa kehamilan), menyebabkan terjadinya Kurang Energi Kronik (KEK) pada masa
kehamilan yang dimulai dengan peristiwa �Risiko� KEK (Damajanti, 2015).
Penilaian status gizi bisa dilakukan menggunakan
cara evaluasi pelayanan antenatal yang bisa dilakukan yaitu penelitian status
gizi secara langsung (antropometri gizi, biokimia, evaluasi klinis, &
biofisik) secara tidak langsung (survei konsumsi makanan, survei penting &
ekologi). Namun ketika pelayanan antenatal ini asuhan keperawatan yang bisa
dilakukan yaitu evaluasi status gizi secara langsung (antropometri gizi) yaitu
dengan mengukur tinggi badan, menimbang berat badan, mengukur lingkar lengan
atas, & kadar hemoglobin. Pengukuran lingkar lengan atas (LILA) bertujuan
agar mengetahui ibu hamil mempunyai risiko KEK atau tidak. Ambang batas LILA
dengan risiko KEK di Indonesia ialah 23,5 cm, apabila <23,5 cm maka ibu
hamil mempunyai status gizi yang tidak baik dan jika ≥23,5 cm maka ibu
hamil berstatus gizi baik (Sari et al., 2020).
Sediaeotama (2014 dalam Alifka, 2020) mengemukakan
kejadian KEK pada ibu hamil di pengaruhi oleh faktor langsung dan faktor tidak
langsung. Faktor langsung meliputi usia ibu, asupan konsumsi ibu hamil.
Sedangkan faktor tidak langsung meliputi jarak kehamilan, paritas, pendapatan
kepala keluarga, pekerjaan ibu, pendidikan dan pengetahuan ibu.
Kekurangan Energi Kronik (KEK) tentunya memiliki
dampak negatif. Dampak insiden KEK terhadap ibu antara lain meningkatkan risiko
terjadinya kurang darah, pendarahan, dan terkena penyakit infeksi. Selain itu
pengaruh KEK terhadap proses persalinan antara lain akan berisiko terjadinya
persalinan lama, persalinan sebelum waktunya (premature), dan persalinan dengan
operasi cenderung meningkat. Kejadian KEK juga mempunyai pengaruh terhadap janin
antara lain berisiko terjadinya proses pertumbuhan janin terhambat, keguguran
atau abortus, bayi lahir meninggal, kematian neonatal, cacat bawaan, kurang
darah pada bayi, asfiksia intra partum (meninggal dalam kandungan), lahir
dengan berat badan lahir rendah (BBLR) (Andini, 2020).
Untuk
menurunkan kejadian KEK pada ibu hamil, sebelum kehamilan wanita usia subur
(WUS) sudah harus mempunyai gizi yang baik dengan LILA tidak kurang dari 23,5
cm. Apabila LILA sebelum hamil kurang dari angka tersebut, sebaiknya kehamilan
ditunda. Saat diketahui hamil, segera melakukan kunjungan ANC di pelayanan
kesehatan agar bisa mengetahui bahwa ibu beresiko KEK atau tidak. Kondisi KEK
pada ibu hamil wajib segera ditindak lanjuti sebelum usia kehamilan 16 minggu
dengan pemberian makanan tambahan yang tinggi energi serta tinggi protein
melalui pemberian PMT-ibu hamil selama 90 hari dan dipadukan dengan penerapan
mengkonsumsi makanan yang sesuai kebutuhan dengan porsi kecil akan tetapi
sering. Menunda kehamilan apabila usia masih <20 tahun dan >35 tahun.
Lantaran wanita usia 20-35 tahun lebih sempurna dalam perkara gizi yang galat
salah satunya adalah Kekurangan Energi Kronik (KEK) (Yosephin et al., 2019).
Melalui uraian diatas menunjukkan betapa pentingnya untuk dilakukan penelitian
untuk mendeskripsikan faktor dominan apakah yang menjadi penyebab terjadinya
Kekurangan Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil.
Metode
Desain
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional analitik.
Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu hamil pada 3 bulan terakhir
tahun 2020 di wilayah kerja Puskesmas Gaji Kabupaten Tuban yang berjumlah 82
ibu hamil dengan sampel sebanyak 68 ibu hamil. Tehnik sampling yang digunakan
adalah purposive sampling dengan pendekatan cross sectional. Tehnik pengumpulan
data menggunakan kuesioner, observasional dan wawancara. Data dianalisis
menggunakan uji regresi logistik.
Hasil dan
Pembahasan
1.
Distribusi
Frekuensi Kejadian KEK pada Ibu Hamil
Tabel
1 Distribusi Frekuensi Kejadian KEK pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas
Gaji Tahun 2020
|
No. |
KEK |
Frekuensi |
Prosentase (%) |
|
1. |
KEK |
18 |
26,5 |
|
2. |
Tdk
KEK |
50 |
73,5 |
|
Total |
68 |
100 |
|
Berdasarakan
tabel 1 diketahui bahwa hampir setengah ibu hamil masih mengalami KEK sebanyak
18 ibu hamil (26,5%).
2. Distribusi Frekuensi Usia
Ibu Hamil
Tabel
2 Distribusi Frekuensi Usia Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Gaji Tahun
2020
|
No. |
Usia |
Frekuensi |
Prosentase (%) |
|
1. |
Hamil berisiko (<20 dan
>35 th) |
17 |
25,0 |
|
2. |
Hamil tdk berisiko (20-35 th) |
51 |
75,0 |
|
Total |
68 |
100 |
|
Berdasarkan
tabel 2 diketahui bahwa sebagian besar ibu hamil berada pada usia tidak
berisiko sebanyak 51 ibu hamil (75,0%).
3. Distribusi Frekuensi
Paritas Ibu Hamil
Tabel
3 Distribusi Frekuensi Paritas Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Gaji Tahun
2020
|
No. |
Paritas |
Frekuensi |
Prosentase (%) |
|
1. |
Primipara |
42 |
61,8 |
|
2. |
Multipara |
26 |
38,2 |
|
Total |
68 |
100 |
|
Berdasarkan
tebel 3 diketahui bahwa sebagian besar ibu hamil adalah primipara, sebanyak 42
ibu hamil (61,8%).
4.
Distribusi
Frekuensi Jarak Kehamilan
Tabel
4 Distribusi Frekuensi Jarak Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Gaji Tahun
2020
|
No. |
Jarak Kehamilan |
Frekuensi |
Prosentase (%) |
|
1. |
<2
tahun |
7 |
10,3 |
|
2. |
>2 tahun |
61 |
89,7 |
|
Total |
68 |
100 |
|
Berdasarkan
tabel 4 didapatkan hasil bahwa hampir seluruh ibu hamil berada pada jarak
kehamilan yang tidak berisiko, yaitu >2 tahun sebanyak 61 ibu hamil
(89,7%).
5.
Distribusi
Frekuensi Pendapatan Kepala Keluarga
Tabel
5 Distribusi Frekuensi Pendapatan Kepala Keluarga di Wilayah Kerja Puskesmas
Gaji Tahun 2020
|
No. |
Pendapatan |
Frekuensi |
Prosentase (%) |
|
1. |
Rendah
(<UMK) |
47 |
69,1 |
|
2. |
Tinggi
(>UMK) |
21 |
30,9 |
|
Total |
68 |
100 |
|
Berdasarkan
tabel 5 diperoleh sebagian besar pendapatan kepala keluarga ibu hamil masih
rendah, sebanyak 47 kepala keluarga (69,1%).
6.
Distribusi
Frekuensi Status Pekerjaan Ibu Hamil
Tabel
6 Distribusi Frekuensi Status Pekerjaan Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas
Gaji Tahun 2020
|
No. |
Status Pekerjaan |
Frekuensi |
Prosentase (%) |
|
1. |
Tidak
Bekerja |
38 |
55,9 |
|
2. |
Bekerja |
30 |
44,1 |
|
Total |
68 |
100 |
|
Berdasarkan
tabel 6 diperoleh hasil bahwa sebagian besar ibu hamil tidak bekerja, sebanyak
38 ibu hamil (55,9%).
7.
Distribusi
Frekuensi Pendidikan Terakhir Ibu Hamil
Tabel
7 Distribusi Frekuensi Pendidikan Terakhir Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas
Gaji Tahun 2020
|
No. |
Pendidikan |
Frekuensi |
Prosentase (%) |
|
1. |
Rendah |
26 |
38,2 |
|
2. |
Tinggi |
42 |
61,8 |
|
Total |
68 |
100 |
|
Berdasarkan
tabel 7 diperoleh bahwa sebagian besar pendidikan ibu hamil tinggi, sebanyak 42
ibu hamil (61,8%).
8.
Distribusi
Frekuensi Asupan Energi Ibu Hamil
Tabel
8 Distribusi Frekuensi Asupan Energi Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Gaji
Tahun 2020
|
No. |
Asupan Energi |
Frekuensi |
Prosentase (%) |
|
1. |
Kurang
(<2500 kkal) |
42 |
61,8 |
|
2. |
Baik
(>2500 kkal) |
26 |
38,2 |
|
Total |
68 |
100 |
|
Berdasarkan
tabel 8 diperoleh hasil bahwa sebagian besar ibu hamil memiliki asupan energi
yang kurang (<2500 kkal), sebanyak 42 ibu hamil (61,8%).
9.�� Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu Hamil
Tabel
9 Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Gaji
Tahun 2020
|
No. |
Pengetahuan |
Frekuensi |
Prosentase (%) |
|
1. |
Baik |
20 |
29,4 |
|
2. |
Cukup |
28 |
41,2 |
|
3. |
Kurang |
20 |
29,4 |
|
Total |
68 |
100 |
|
Berdasarkan
tabel 9 diperoleh hasil bahwa hampir setengah ibu berpengetahuan cukup,
sebanyak 28 ibu hamil (41,2%).
10
Analisis
Faktor Dominan Penyebab Terjadinya KEK pada Ibu Hamil
Tabel
10 Analisis Bivarat (Uji Chi-Square) Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya KEK pada
Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Gaji Tahun 2020
|
No. |
Faktor |
KEK |
n=68 |
P Value |
|
|
KEK |
Tidak KEK |
||||
|
1. |
Usia |
|
|
|
|
|
�
Hamil
berisiko (<20 dan >35 th) |
10 (58,8%) |
7 (41,2%) |
17 (100%) |
0,001 |
|
|
�
Hamil
tdk berisiko (20-35 th) |
8 (15,7%) |
43 (84,3%) |
51 (100%) |
||
|
2. |
Paritas |
|
|
|
|
|
�
Primipara |
16 (38,1%) |
26 (61,9%) |
42 (100%) |
0,013 |
|
|
�
Multipara |
2 (7,7%) |
24 (92,3%) |
26 (100%) |
||
|
3. |
Jarak
kehamilan |
|
|
|
|
|
�
<2
tahun |
2 (28,6%) |
5 (71,4%) |
7 (100%) |
1,000 |
|
|
�
>2 tahun |
16 (26,2%) |
45 (73,8%) |
61 (100%) |
||
|
4. |
Pendapatan |
|
|
|
|
|
�
Rendah
(<UMK) |
14 (29,8%) |
33 (70,2%) |
47 (100%) |
0,529 |
|
|
�
Tinggi
(>UMK) |
4 (19,0%) |
17 (81,0%) |
21 (100%) |
||
|
5. |
Pekerjaan |
|
|
|
|
|
�
Tidak
bekerja |
15 (39,5%) |
23 (60,5%) |
38 (100%) |
0,014 |
|
|
�
Bekerja |
3 (10,0%) |
27 (90,0%) |
30 (100%) |
||
|
6. |
Pendidikan |
|
|
|
|
|
�
Rendah |
12 (46,2%) |
14 (53,8%) |
26 (100%) |
0,009 |
|
|
�
Tinggi |
6 (14,3%) |
36 (85,7%) |
42 (100%) |
||
|
7. |
Asupan
energi |
|
|
|
|
|
�
Kurang |
15 (35,7%) |
27 (64,3%) |
42 (100%) |
0,056 |
|
|
�
Baik |
3 (11,5%) |
23 (73,5%) |
27 (100%) |
||
|
8. |
Pengetahuan |
|
|
|
|
|
�
Baik |
2 (10,0%) |
18 (90,0%) |
20 (100%) |
0,126 |
|
|
�
Cukup |
10 (35,7%) |
18 (64,3%) |
28 (100%) |
||
|
�
Kurang |
6 (26,5%) |
14 (73,5%) |
20 (100%) |
||
Berdasarkan
tabel 10 dapat dilihat dari uji signifikansi (p<0,05) menggunakan uji
chi-square didapatkan hasil bahwa faktor yang memiliki hubungan bermakna
terhadap kejadian KEK antara lain usia ibu hamil (p=0,001), paritas (p=0,013),
status pekerjaan ibu hamil (p=0,014) dan pendidikan ibu hamil (p=0,009).
Sedangkan faktor yang tidak memiliki hubungan
bermakna terhadap kejadian KEK antara lain jarak kehamilan (p=1,000),
pendapatan kepala keluarga (p=0,529), asupan energi (p=0,056) dan pengetahuan
ibu (p=0,126).
Tabel 11 Analisis Multivariat (Uji Regresi Logistik)
Faktor Dominan Penyebab Terjadinya KEK pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja
Puskesmas Gaji Tahun 2020
|
No. |
Faktor |
P value |
OR |
95% CI |
|
1. |
Usia |
0,016 |
6,818 |
1,430-32,501 |
|
2. |
Paritas |
0,020 |
9,031 |
1,410-57,833 |
|
3. |
Pekerjaan |
0,080 |
4,182 |
0,842-20,762 |
|
4. |
Pendidikan |
0,097 |
3,328 |
0,804-13,778 |
Berdasarkan tabel 11 didapatkan hasil akhir bahwa
peluang ibu hamil dengan paritas primipara lebih tinggi untuk berisiko KEK
sebesar 9,031 kali dibandingkan ibu hamil dengan paritas multipara.
PEMBAHSASAN
1.
Kejadian
KEK pada
ibu hamil di
Wilayah Kerja Puskesmas Gaji Tahun
2020
Berdasarakan
tabel 1 diketahui bahwa hampir setengah ibu hamil masih mengalami KEK sebanyak
18 ibu hamil (26,5%).
Masalah
gizi pada ibu hamil yang paling sering terjadi adalah Kekurangan Energi Kronik
(KEK). KEK pada ibu hamil merupakan suatu keadaan dimana kurangnya asupan
energi dan protein pada masa kehamilan (Teguh et al., 2019). Sediaeotama (2014
dalam Alifka, 2020) mengemukakan kejadian KEK pada ibu hamil di pengaruhi oleh
faktor langsung dan faktor tidak langsung. Faktor langsung meliputi usia ibu,
asupan konsumsi ibu hamil. Sedangkan faktor tidak langsung meliputi jarak
kehamilan, paritas, pendapatan kepala keluarga, pekerjaan ibu, pendidikan dan
pengetahuan ibu. Azrimaidaliza (2015 dalam Mijayanti et al., 2020) seseorang
dikatakan kekurangan energi kronik (KEK) dapat dilihat melalui hasil pengukuran
LILA, dan dibagi kedalan dua kategori yaitu, KEK (jika LILA<23,5 cm) dan
Normal (jika LILA ≥23,5 cm. Linda dkk (2018 dalam Mijayanti, 2020)
mengemukakan ibu hamil membutuhkan energi yang lebih besar dari kebutuhan
energi individu normal. Hal ini dikarenakan pada saat hamil ibu tidak hanya
memenuhi kebutuhan energi untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk janin yang
dikandungnya. Karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh
sebagai sumber energi. Sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat
sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan.
Sehingga jika keadaan ini terus berlanjut, maka tubuh akan menggunakan cadangan
lemak dan protein amino yang digunakan untuk diubah menjadi karbohidrat. Jika
keadaan ini terus berlanjut maka tubuh ibu akan mengalami kekurangan zat gizi
terutama energi yang akan berakibat buruk.Huliana (2001 dalam Mijayanti et al.,
2020) ibu hamil membutuhkan tambahan energi sebanyak 300 kalori per hari atau
sekitar 15% lebih banyak dari jumlah normalnya, yaitu sekitar 2.500 sampai 3000
kalori dalam satu hari. Makanan yang konsumsi oleh ibu hamil akan digunakan
untuk pertumbuhan janin sebesar 40% dan sisanya (60%) digunakan untuk
pertumbuhan ibunya. Kemenkes RI (2015 dalam Mijayanti et al., 2020) pengukuran
pola konsumsi pada ibu hamil dibagi kedalam dua kriteria, yaitu kurang (jika
asupan energi <2500 kkal/hari) dan baik (jika asupan energi >2500
kkal/hari).
Berdasarkan
hasil penelitian, dengan teori atas bahwa hampir setengahnya masih terdapat ibu
hamil yang mengalami KEK. Hal ini disebabkan karena sebagian besar ibu hamil di
wilayah kerja Puskesmas Gaji memiliki asupan energi yang kurang, yaitu <2500
kkal.� Jika asupan energi tidak terpenuhi
maka akan digantikan menggunakan cadangan lemak dan protein amino yang digunakan
untuk diubah menjadi karbohidrat. Justru keadaan ini bila terjadi terus menerus
akan berdampak buruk, hal ini lah yang menyebabkan ibu memiliki status gizi
KEK.
2.�� Usia Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Gaji Tahun 2020
Berdasarkan tabel 2
diketahui bahwa sebagian besar ibu hamil berada pada usia tidak berisiko
sebanyak 51 ibu hamil (75,0%).
Aeda
Ernawati (2018) mengemukakan bahwa usia ibu hamil digolongkan menjadi dua yaitu
berisiko dan tidak berisiko. Usia berisiko maksudnya usia ibu hamil mempunyai
risiko tinggi jika mengalami kehamilan, yaitu usia terlalu muda(<20 tahun)
dan terlalu tua (>35 tahun). Usia tidak berisiko maksudnya usia ibu yang
dianjurkan untuk mengalami kehamilan yaitu usia 20-35 tahun. Sediaeotama (2014
dalam Alifka, 2020) kejadian KEK pada ibu hamil dapat dipengaruhi oleh faktor
usia. Pada ibu yang terlalu muda (<20 tahun) dapat terjadi kompetisi makanan
antara janin dan ibunya sendiri yang masih dalam masa pertumbuhan dan adanya
perubahan hormonal yang terjadi selama kehamilan.Kehamilan di usia muda terjadi
karena pernikahan dilakukan pada usia muda. Fatimah & Fatmasanti (2019)
mengemukakan usia yang terlalu tua (>35 tahun) perlu energi yang besar juga
karena fungsi organ yang melemah dan diharuskan untuk bekerja maksimal, maka
memerlukan tambahan energi yang cukup guna mendukung kehamilan yang sedang
berlangsung. Sehingga usia yang paling baik adalah antara 20-35 tahun, dengan
harapan gizi ibu hamil akan lebih baik.�
Wijanti, Ribut E., Rahmaningtyas, I. & Suwoyo (2016) semakin cukup
umur maka tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih baik dalam
berfikir dan bekerja. Dalam kurun waktu reproduksi sehat dikenal bahwa usia
aman untuk kehamilan, persalinan dan menyusui adalah 20-35 tahun. Oleh sebab
itu, yang sesuai dengan masa reproduksi sangat baik dan sangat mendukung dalam
pemenuhan gizi seimbang,
Berdasarkan
hasil penelitian, dengan teori atas sebagian besar ibu hamil berada pada usia
yang tidak berisiko yaitu 20-35 tahun. Terlalu muda atau terlalu tua akan
berpengaruh terhadap kebutuhan gizi yang diperlukan. Jika terlalu muda terjadi
kompetisi makanan antara ibu hamil dan janin yang masih dalam tahap
pertumbuhan, sedangkan jika usia terlalu tua fungsi organ pada ibu mulai
melemah dan harus dipaksa bekerja secara maksimal akan sangat membutuhkan
tambahan energi yang cukup besar guna mendukung kehamilan yang sedang
berlangsung.Maka usia yang ideal untuk hamil adalah usia 20-35 tahun, dimana
pada usia ini merupakan usia yang aman untuk hamil dan sangat mendukung dalam
proses pemenuhan gizi seimbang pada masa kehamilan agar tidak terjadi KEK.
3.�� Paritas pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Gaji Tahun 2020
Berdasarkan
tebel 3 diketahui bahwa sebagian besar ibu hamil adalah primipara, sebanyak 42
ibu hamil (61,8%).
Paritas
adalah status seorang wanita sehubungan dengan jumlah anak yang dilahirkan
hidup atau mati, tetapi bukan aborsi (Sari et al., 2020). Rahmat, Jansen &
Listyawati (2018) mengungkapkan bahwa kehamilan�
yang� pertama� bagi�
ibu merupakan kehamilan yang berisiko KEK karena kesiapan ibu hamil dan
pengalaman mengenai� kehamilan ibu
hamil� masih belum mumpuni, hal ini yang
menyebabkan asupan energi ibu hamil tidak tercukupi. Rizky & Misra (2017)
juga berpendapat bahwa ibu dengan paritas primipara lebih banyak mengalami KEK
karena ibu hamil pertama cenderung tidak memiliki pengalaman, jadi ibu lebih
fokus pada apa yang ia rasa, hanya mau makan apa yang ibu mau, makan seadanya,
tanpa mempertimbangkan kebutuhan gizinya, tanpa memikirkan efek dari kekurangan
gizi (KEK) yang ibu alami nantinya yang dapat membahayakan bayinya.
Berdasarkan
hasil penelitian, dengan teori diatas bahwa sebagian besar ibu hamil adalah
primipara. Hal ini akan memiliki risiko ibu hamil memiliki status gizi KEK.
Karena ibu yang pertama kali hamil belum memiliki pengalaman dalam hal kehamilan.
Kehamilan pertama juga merupakan kehamilan yang berisiko KEK karena ibu belum
memiliki kesiapan yang matang sehingga menyebabkan asupan energi ibu hamil
tidak tecukupi
4.�� Jarak Kehamilan pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Gaji
Tahun 2020
Berdasarkan
tabel 4 didapatkan hasil bahwa hampir seluruh ibu hamil berada pada jarak
kehamilan yang tidak berisiko, yaitu >2 tahun sebanyak 61 ibu hamil (89,7%).
Menurut
Alwi (2005 dalam Casnuri & Zahrah, 2017) jarak kehamilan adalah sela antara
kehamilan yang lalu dengan kehamilan yang sekarang. Padila (2014) jarak
persalinan terakhir dengan awal kehamilan sekurang-kurangnya adalah 2 tahun.
Putra & Dewi (2020) jarak kehamilan yang berdekatan atau <2 tahun akan
berpengaruh pada cadangan atau ketersediaan zat gizi tubuh ibu dan daya
penyerapan zat gizi tergolong rendah. Jarak kehamilan yang berdekatan juga akan
meningkatkan risiko mengalami gangguan kesehatan selama masa kehamilan dan akan
berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan janin. Istiany dan Rusilanti (2013
dalam Casnuri & Zahrah, 2017) juga berpendapat bahwa jarak antara dua
kelahiran yang terlalu dekat atau kurang dari satu tahun dapat menyebabkan
buruknya status gizi ibu hamil. Wendt dkk (2012 dalam Casnuri & Zahrah,
2017) menyebutkan bahwa wanita dengan jarak kelahiran yang pendek diketahui
berisiko tinggi melahirkan bayi pre-term, IUGR dan lahir mati. Hal ini
dimungkinkan karena wanita yang tidak memiliki cukup waktu untuk mengatur jarak
kelahiran tidak akan memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan kebutuhan
akan makro dan mikro nutrient yang dibutuhkan oleh tubuhnya. Paramashanti (2019
dalam Lilis Suryani, 2021) seorang perempuan yang belum berjarak dua tahun dari
kealahiran anak pertamanya, tentu belum siap untuk mengalami kehamilan
berikutnya. Selama dua tahun dari kehamilan pertama, seorang perempuan harus
benar-benar memulihkan kondisi tubuh serta meningkatkan status gizi yang diasup
dalam tubuhnya.
Berdasarkan
hasil penelitian, dengan teori atasbahwa hampir seluruhnya ibu hamil memiliki
jarak kehamilan tidak berisiko, yaitu >2 tahun. Karena jarak kehamilan
yang>2 tahun merupakan waktu yang tepat untuk pemulihan kondisi ibu serta
siap untuk meningkatkan asupan gizi agar tidak terjadi KEK.Sehingga jarak
kehamilan yang baik untuk menjaga kesehatan janin dan ibu sebaiknya adalah
>2 tahun.
5.�� Pendapatan Kepala Keluarga Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas
Gaji Tahun 2020
Berdasarkan
tabel 5 diperoleh sebagian besar pendapatan kepala keluarga ibu hamil masih
rendah, sebanyak 47 kepala keluarga (69,1%).
Status
ekonomi seseorang mempengaruhi pemilihan makanan yang akan dikonsumsi
sehari-harinya. Ibu hamil dengan status ekonomi tinggi kemungkinan besar akan
dapat mencukupi kebutuhan gizi sehingga kebutuhan gizi ibu hamil akan
tercukupi. Ibu hamil dengan status ekonomi tinggi juga akan melakukan
pemeriksaan kehamilan sehingga membuat gizi ibu hamil semakin terpantau,
sedangkan ibu hamil dengan status ekonomi yang rendah tidak memperhatikan
kebutuhan gizi dan hygiene sanitasi makanan yang dikonsumsi sehingga ibu hamil
sangat beresiko terkena penyakit infeksi (Febrianti et al, 2020). Tingkat
pendapatan dapat menentukan pola makan sebuah keluarga. Pendapatan merupakan
faktor yang menentukan kualitas dan kuantitas hidangan. Semakin tinggi
pendapatan keluarga, maka semakin mampu keluarga tersebut untuk memenuhi
nutrisi dan asupan gizi yang baik bagi keluarganya termasuk ibu hamil (Laila
Rahmi, 2017).
Berdasarkan
hasil penelitian, dengan teori atasbahwasebagian besar pendapatan kepala
keluarga rendah. Meskipun pendapatan kepala keluarga rendah namun bidan desa di
wilayah kerja Puskesmas Gaji mengadakan program kelas ibu hamil secara gratis.
Dalam kelas tersebut ibu hamil juga diberikan PMT berupa biskuit dan susu ibu
hamil guna menunjang ibu melalui proses kehamilan yang telah berlangsung.
Selain pemberian PMT, ibu hamil juga dapat leluasa melakukan konseling dengan
bidan desa terakait kehamilannya.Program pemberian PMT ini merupakan suatu
bentuk dukungan terhadap ibu hamil dalam memperbaiki status gizinya melalui penyediaan
makanan yang optimal agar tercapai berat badan standar dan mencegah terjadinya
KEK.
6.�� Status Pekerjaan Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Gaji Tahun
2020
Berdasarkan
tabel 6 diperoleh hasil bahwa sebagian besar ibu hamil tidak bekerja, sebanyak
38 ibu hamil (55,9%).
Depkes
RI (1991 dalam Aeda Ernawati, 2018) aktifitas dan gerakan seseorang
berbeda-beda. Seseorang yang bergerakotomatis memerlukan energi yang lebih
besar dari pada mereka yang hanya duduk diam saja. Setiap aktifitas memerlukan
energi, maka apabila semakin banyak aktifitas yang dilakukan, energi yang
dibutuhkan juga semakin banyak. Kebutuhan gizi ibu hamil yang bekerja tentunya
lebih tinggi dari ibu hamil yang tidak bekerja. Seorang ibu hamil yang bekerja
membutuhkan zat gizi untuk aktivitas kerja, kesehatan ibu hamil dan janin.
Sudirman (2016 dalam Aeda Ernawati, 2018) Lapangan pekerjaan juga banyak
tersedia bagi perempuan. Perempuan yang dimasa lajangnya sudah bekerja
nampaknya akan terus bekerja meskipun sudah menikah. Mereka sebagai ibu rumah
tangga terus bekerja dengan berbagai motivasi dan alasan seperti kebutuhan
aktualisasi diri dan perlunya membantu ekonomi rumah tangga. Peranan perempuan
dalam pembangunan terus didorong dalam segala aspek kehidupan.
Berdasarkan
hasil penelitian, sebagian besar ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Gaji
tidak bekerja. Ibu hamil yang tidak bekerja mempunyai waktu untuk melakukan
pemeriksaan kehamilannya. Hal ini dapat menunjang ibu dalam menjaga kesehatan
ibu dan janinnya serta ibu hamil juga dapat melakukan konseling mengenai status
gizi yang harus dipenuhi selama kehamilan berlangusng untuk mencegah terjadinya
KEK
7.�� Pendidikan Ibu Hamil dengan Kejadian KEK di Wilayah Kerja
Puskesmas Gaji Tahun 2020
Berdasarkan
tabel 7 diperoleh bahwa sebagian besar pendidikan ibu hamil tinggi, sebanyak 42
ibu hamil (61,8%).
Pendidikan
merupakan proses belajar yang mengarahkan seseorang kearah yang lebih dewasa,
lebih baik dan lebih matang. Tingkat pendidikan mempengaruhi perilaku seseorang
dalam memilih makanan. Makanan yang seimbang dan beragam akan membantu mencegah
terjadinya Kekurangan Energi Kronis (KEK). Tingkat pendidikan seseorang dapat
mendukung atau mempengaruhi tingkat pengetahuan yaitu semakin tinggi pendidikan
maka semakin tinggi pengetahuan seseorang karena pendidikan yang tinggi
mempermudah ibu menerima informasi baru sehingga tidak akan acuh terhadap
informasi kesehatan (Febrianti et al., 2020). Notoatmodjo (2005 dalam Andini,
2020) mengemukakan pendidikan ibu sering kali memiliki pandangan yang positif
terhadap pengembangan pola konsumsi makanan dalam keluarga. Semakin tinggi
pendidikan seseorang maka semakin mudah pula untuk menerima informasi sehingga
semakin banyak pengetahuan yang dimilikinya. Pendidikan dibagi dalam dua
kategori yaitu pendidikan tinggi (wajib belajar >9 tahun) dan pendidikan
rendah (wajib belajar <9 tahun) (Masturoh & T., 2018).
Berdasarkan
hasil penelitian, dengan teori diatas bahwa sebagian besar ibu hamil di wilayah
kerja Puskesmas Gaji yang memiliki pendidikan tinggi. Ibu hamil yang mengetahui
dan paham mengenai status gizi dan nutrisi akan memperhatikan setiap apa yang
dikonsumsi. Ibu hamil yang berpendidikan tinggi juga tidak akan acuh terhadap
informasi yang didapatkan sekaligus akan lebih selektif terhadap informasi yang
diterima. Pendidikan tinggi terdiri dari SMA dan PT, dimana pada tinngkatan ini
wawasan ibu hamil semakin luas. Semakin luasnya wawasan akan menjadi upaya
dalam pencegahan terjadinya KEK pada ibu hamil.
8.�� Asupan Energi Ibu Hamil dengan Kejadian KEK di Wilayah Kerja
Puskesmas Gaji Tahun 2020
Berdasarkan
tabel 8 diperoleh hasil bahwa sebagian besar ibu hamil memiliki asupan energi
yang kurang (<2500 kkal), sebanyak 42 ibu hamil (61,8%).
Huliana
(2001 dalam Mijayanti et al., 2020) asupan konsumsi merupakan jenis dan
frekuensi yang biasa dikonsumsi saat hamil. Asupan gizi sangat menentukan
kesehatan ibu hamil dan janin yang di kandungnya. Ibu hamil membutuhkan
tambahan energi sebanyak 300 kalori per hari atau sekitar 15% lebih banyak dari
jumlah normalnya, yaitu sekitar 2.500 sampai 3000 kalori dalam satu hari.
Makanan yang konsumsi oleh ibu hamil akan digunakan untuk pertumbuhan janin
sebesar 40% dan sisanya (60%) digunakan untuk pertumbuhan ibunya. Vira, Lymbran
& Akifah (2021) penyebab utama kejadian KEK Pada ibu hamil yaitu sejak
sebelum hamil sudah mengalami kekurangan energi karena kebutuhan orang hamil
lebih tinggi dari ibu tidak dalam keadaan hamil. Kehamilan menyebabkan
meningkatnya metabolisme energi, karena itu kebutuhan energi dan zat gizi lainnya
meningkat selama hamil. A. Ilhitirami, Andi Sitti R. & Andi Tihardimanto
(2021) terjadinya KEK dapat disebabkan ketidakseimbangan antara masukan dan
pengeluaran energi dari tubuh. Mengkonsumsi bahan makanan baik sebelum dan
selama kehamilan akan berpengaruh pada status gizi ibu hamil. Ibu hamil yang
dapat mencukupi kebutuhan gizinya lebih sedikit mengalami masalah selama
kehamilan, sehingga status gizi sebelum kehamilan dapat menjadi salah satu
faktor yang mempengaruhi gizi. Rahmat, Jansen & Listyawati (2018)
mengungkapkan bahwa kehamilan� yang� pertama�
bagi� ibu merupakan kehamilan yang
berisiko KEK karena kesiapan ibu hamil dan pengalaman mengenai� kehamilan ibu hamil� masih belum mumpuni, hal ini yang menyebabkan
asupan energi ibu hamil tidak tercukupi. Rizky & Misra (2017) juga
berpendapat bahwa ibu dengan paritas primipara lebih banyak mengalami KEK
karena ibu hamil pertama cenderung tidak memiliki pengalaman, jadi ibu lebih
fokus pada apa yang ia rasa, hanya mau makan apa yang ibu mau, makan seadanya,
tanpa mempertimbangkan kebutuhan gizinya, tanpa memikirkan efek dari kekurangan
gizi (KEK) yang ibu alami nantinya yang dapat membahayakan bayinya.
���� Berdasarkan hasil penelitian, dengan teori
diatas bahwa sebagian besar ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Gaji memiliki
asupan energi kurang (<2500 kkal). Hal ini bisa dikarenakan ibu hamil tidak
hanya membutuhkan asupan energi, namun dapat ditinjau dari asupan zat gizi
lain, seperti protein, mineral, lemak, vitamin dll. Namun dalam ini yang hanya
dilihat dari segi asupan energi saja, jadi masih belum tahu asupan zat gizi
lain yang dikonsumsi oleh ibu hamil. Ditinjau dengan hasil penelitian bahwa
sebagian besar ibu hamil adalah primipara, dimana ibu yang baru pertama kali
hamil cenderung belum memiliki pengalaman langsung. Kehamilan pertama juga
merupakan kehamilan yang berisiko KEK karena ibu belum memiliki kesiapan yang
matang sehingga menyebabkan asupan energi ibu hamil tidak tecukupi.
9.�� Pengetahuan Ibu Hamil dengan Kejadian KEK di Wilayah Kerja Puskesmas
Gaji Tahun 2020
Berdasarkan
tabel 9 diperoleh hasil bahwa hampir setengah ibu berpengetahuan cukup,
sebanyak 28 ibu hamil (41,2%).
Menurut
Notoatmodjo (2010 dalam Nisa et al., 2018) menyebutkan bahwa pengetahuan atau
kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan
seseorang. Apabila perilaku didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang
positif maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long sting). Aulia et
al., (2020) pengetahuan ibu merupakan segala sesuatu yang diketahui oleh ibu
tentang zat makanan yang diperlukan oleh pertumbuhan dan kesehatan janin dan
ibu hamil. Pengetahuan ibu yang tinggi mempengaruhi ibu untuk memeriksakan
kehamilannya (pemanfaatan ANC ke fasilitas kesehatan). Surasih (2005 dalam
Vira, Lymbran & Akifah, 2021) ibu dengan pengetahuan baik mengerti dengan
benar betapa diperlukannya peningkatan energi dan zat gizi yang cukup akan
membuat janin tumbuh dan sempurna. Kementrian Kesehatan (2018) tingginya
kejadian KEK ini erat kaitannya dengan faktor kurangnya pengetahuan ibu dalam
mengonsumsi makan-makanan yang bergizi. Lely, Sifa & Sri (2021) ibu hamil
yang mempunyai pengetahuan baik mengenai gizi yang dibutuhkan selama hamil dan
mengetahui akibatnya jika gizi tersebut tidak terpenuhi maka ibu hamil akan
lebih memperhatikan gizinya dari pada ibu hamil yang pengetahuannya kurang.
Berdasarkan
hasil penelitian, dengan teori diatashampir setengahnya ibu hamil di wilayah
kerja Puskesmas Gaji yang memiliki pengetahuan cukup. Pengetahuan akan
mempengaruhi seseorang dalam bertindak. Seperti hal nya ibu hamil yang paham
akan asupan nutrisi akan memperhatikan makananan yang dikonsumsinya untuk
pertumbuhan serta keselamatan janin dan ibu. Berdasarkan hasil penelitian bahwa
sebagian besar ibu hamil juga berpendidikan tinggi yang terdiri dari SMA dan
PT, namun mayoritas ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Gaji berpendidikan
SMA. Ibu hamil yang berpendidikan terakhir SMA mungkin sudah memiliki wawasan
yang luas, namun masih terbatas sehingga pengetahuan yang cukup akan
mempengaruhi ibu dalam ANC yang mungkin saja tidak rutin dilakukan.
10. Faktor Dominan Penyebab Terjadinya KEK di Wilayah Kerja Puskesmas
Gaji Tahun 2020
Berdasarkan
tabel 11 didapatkan hasil akhir bahwa peluang ibu hamil dengan paritas
primipara lebih tinggi untuk berisiko KEK sebesar 9,031 kali dibandingkan ibu
hamil dengan paritas multipara.
Masalah
gizi pada ibu hamil yang paling sering terjadi adalah Kekurangan Energi Kronik
(KEK). KEK pada ibu hamil merupakan suatu keadaan dimana kurangnya asupan
energi dan protein pada masa kehamilan (Teguh et al., 2019). Sediaeotama (2014
dalam Alifka, 2020) mengemukakan kejadian KEK pada ibu hamil di pengaruhi oleh
faktor langsung dan faktor tidak langsung. Faktor langsung meliputi usia ibu,
asupan konsumsi ibu hamil. Sedangkan faktor tidak langsung meliputi jarak
kehamilan, paritas, pendapatan kepala keluarga, pekerjaan ibu, pendidikan dan
pengetahuan ibu. Paritas adalah status seorang wanita sehubungan dengan jumlah
anak yang dilahirkan hidup atau mati, tetapi bukan aborsi (Sari et al., 2020).
Rahmat, Jansen & Listyawati (2018) mengungkapkan bahwa kehamilan� yang�
pertama� bagi� ibu merupakan�
kehamilan� yang� berisiko�
KEK karena kesiapan ibu hamil dan pengalaman mengenai� kehamilan�
ibu� hamil� masih belum mumpuni, hal ini yang menyebabkan
asupan energi ibu hamil tidak tercukupi.�
Rizky & Misra (2017) juga berpendapat bahwa ibu dengan paritas
primipara lebih banyak mengalami KEK karena ibu hamil pertama cenderung tidak
memiliki pengalaman, jadi ibu lebih fokus pada apa yang ia rasa, hanya mau
makan apa yang ibu mau, makan seadanya, tanpa mempertimbangkan kebutuhan
gizinya, tanpa memikirkan efek dari kekurangan gizi (KEK) yang ibu alami
nantinya yang dapat membahayakan bayinya.
Berdasarkan
hasil penelitian, ibu hamil dengan paritas primipara lebih tinggi untuk
berisiko KEK dibandingkan ibu hamil dengan paritas multipara. Karena ibu yang
baru pertama kali mengalami kehamilan cenderung belum memiliki pengalaman
terkait kebutuhan gizinya selama kehamilan. Hal tersebut akan membuatibu yang
baru pertama kali hamil yang belum paham betul mengenai kehamilan dan cenderung
tidak memiliki pengalaman hanya fokus pada apa yang dirasakan, memakan apa yang
ibu mau tanpa memikirkan efek dari kekurangan gizi (KEK) yang ibu alami
nantinya yang dapat membahayakan bayinya.
Kesimpulan
Temuan
dari penelitian ini menunjukkan bahwa hampir setengah dari ibu hamil mengalami
Kekurangan Energi Kronis (KEK), dan sebagian besar dari mereka berada dalam
kategori usia yang tidak berisiko, merupakan primipara, memiliki jarak
kehamilan lebih dari 2 tahun, dengan pendapatan kepala keluarga yang cenderung
rendah, tidak bekerja, berpendidikan tinggi, asupan energi yang kurang, dan
hampir setengah dari mereka memiliki pengetahuan yang cukup. Analisis terhadap
8 faktor penyebab KEK menunjukkan bahwa paritas primipara memiliki tingkat
risiko lebih tinggi dibandingkan dengan ibu hamil yang memiliki paritas
multipara.
Daptar Pustaka
Alifka,
D. S. (2020). Hubungan Pantangan Makanan Terhadap Risiko Kekurangan Energi
Kronik pada Ibu Hamil. Jurnal Medika Hutama, 02(01), 278�286.
Andini,
F. R. (2020). Hubungan Faktor Sosio Ekonomi Dan Usia Kehamilan Dengan Kejadian
Kekurangan Energi Kronis Pada Ibu Hamil Di Puskesmas Prambontergayang Kabupaten
Tuban. Jurnal Amerta Nutrition, 4(3), 218�224.
Aulia,
I., Verawati, B., Dhilon, D. A., & Yanto, N. (2020). Hubungan Pengetahuan
Gizi, Ketersediaan Pangan Dan Asupan Makan Dengan Kejadian Kekurangan Energi
Kronis Pada Ibu Hamil. Jurnal Doppler, 4(2), 106�111.
Casnuri
& Zakiyah, Zahrah. (2017). Hubungan Umur, Paritas dan Jarak Kelahiran
Terhadap Status Gizi pada Ibu Hamil di Puskesmas Wilayah Kota Yogyakarta.
Journal The Shine Cahaya Dunia D-III Keperawatan Vol 2, No 2 (2017).
Damajanti,
M. (2015). Pedoman Penanggulangan Kurang Energi Kronik (KEK) Pada Ibu Hamil.
Depok: Direktorat Jendral Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kemenrtian
Kesehatan RI.
Ernawati,
Aeda. (2018). Hubungan Usia Dan Status Pekerjaan Ibu dengan Kejadian Kurang
Energi Kronis pada Ibu Hamil. Jurnal Litbang Vol. XIV, No.1 Juni 2018: 27-37.
Fatimah,
S., & Fatmasanti, A. U. (2019). Hubungan Antara Umur, Gravida dan Usia
Kehamilan Terhadap Resiko Kurang Energi Kronis ( KEK ) pada Ibu Hamil. Jurnal
Ilmiah Kesehatan Diagnosis, 14(3), 271�274.
Febrianti,
R., Riya, R., & Sumiati. (2020). Status ekonomi dan tingkat pendidikan
dengan kejadian kek ibu hamil di puskesmas. Jurnal Ilmiah Pannmed (Pharmacyst,
Analyst, Nurse, Nutrition, Midwivery, Environment, Dental Hygiene), 15(3),
395�399.
Ihtirami,
A., Rahma, Andi Sitti & Tihardimanto, Andi. (2021). Hubungan Pola Makan
Terhadap Kejadian Kekurangan Energi Kronik pada Ibu Hamil Trimester I di
Wilayah Kerja Puskesmas Kassi-Kassi Kota Makassar. Jurnal Molucca Medica Volume
14, Nomor 1, April 2021.
Indriasari,
Lely, Altika, Sifa & Sulistyaningsih Sri Hadi. (2021). Analisis
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Status Gizi pada Ibu Hamil di
Wilayah Kerja Puskesmas Winong I Kabupaten Pati. Jurnal ilmiah Ilmu Kebidanan
dan Kesehatan Volume 12 No 1, Hal 16 - 25, Januari 2021.
Kemenkes
RI. (2018). Laporan Kinerja Ditjen Kesehatan Masyarakat Tahun 2017. Jakarta:
Ditjen Kesehatan Masyarakat Kemkes RI.
Mandung,
J., Tombokan, S., & Tando, N. M. (2016). Asuhan Kebidanan Kehamilan.
Bogor:� Penerbit IN MEDIA.
Masturoh,
I., & T., N. A. (2018). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Badan
Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan.
Mijayanti,
R., Sagita, Y. D., Fauziah, N. A., & Fara, Y. D. (2020). Faktor-Faktor yang
Berhubungan dengan Kurang Energi Kronik (KEK) pada Ibu Hamil di UPT Puskesmas
Rawat Inap Sukoharjo Kabupaten Pringsewu Tahun 2020. Jurnal Maternitas Aisyah
(JAMAN AISYAH), 1(3), 205�219.
Nisa,
L. S., Sandra, C., & Utami, S. (2018). Penyebab Kejadian Kekurangan Energi
Kronis Pada Ibu Hamil Risiko Tinggi Dan Pemanfaatan Antenatal Care Di Wilayah
Kerja Puskesmas Jelbuk Jember. Jurnal Administrasi Kesehatan Indonesia, 6(2),
136�142.
Nugraha,
Rahmat Nurwan, Lalandos, Jansen L. & Nurina, Rr. Listyawati. (2019).
Hubungan Jarak Kehamilan dan Jumlah Paritas dengan Kejadian Kurang Energi
Kronik (KEK) pada Ibu Hamil di Kota Kupang. Cendana Medical Journal, Volume 17,
Nomor 2,Agustus 2019.
Patmalia,
Vira, Tina, Lymbran & Akifah. (2021). Faktor Risiko yang Berhubungan dengan
Kejadian Kekurangan Energi Kronik (KEK) Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Nambo
Kota Kendari. Endemis Journal Vol.1/No.4/ Januari 2021; ISSN 2723-0139.
Putra,
M. G. S., & Dewi, M. (2020). Faktor Risiko Kurang Energi Kronis (KEK) pada
Ibu Hamil di Cikembar Kabupaten Sukabumi. ARTERI : Jurnal Ilmu Kesehatan,
1(4), 319�332.
Rahmi,
Laila (2017). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kekurangan Energi Kronik
(KEK) pada Ibu Hamil di Puskesmas Belimbing Padang. Jurnal Kesehatan Medika
Saintika Volome 8 Nomor 1 | http:// jurnal.syedzasaintika.ac.id.
Renjani,
Rizky Swastika & Misra. (2017). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan
Kejadian Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja
Puskesmas Krueng Barona Jaya Kabupaten Aceh Besar. Journal of Healthcare
Technology and Medicine Vol. 3 No. 2 Oktober 2017 Universitas Ubudiyah
Indonesia e-ISSN : 2615-109X.
Sari,
L., Widisih, R., & Hendrawati. (2020). Gambaran Status Gizi Ibu Hamil
Primigravida Dan Multigravida Di Wilayah Kerja Puskesmas Karang Mulya Kabupaten
Garut. Jurnal Keperawatan Koprehensif, 6(2), 121�131.
Suryani,
L., Riski, M., Sari, Rini G. & Listiono, H. (2021). Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Terjadinya Kekurangan Energi Kronik pada Ibu Hamil. Jurnal Ilmiah
Universitas Batanghari Jambi, 21(1), Februari 2021, 311-316
Teguh,
N. A., Hapsari, A., Dewi, P. R. A., & Aryani, P. (2019). Faktor-faktor yang
mempengaruhi kejadian kurang energi kronis (kek) pada ibu hamil di wilayah
kerja upt Puskesmas I Pekutatan, Jembrana, Bali Published. Intisari Sains
Medis, 10(3), 506�510.
Wijanti,
Ribut Eko, Rahmaningtyas, Indah & Suwoyo. (2016). Analisis Faktor
Determinan Kejadian Kek Pada Ibu Hamil Di RSIA Citra Keluarga Kediri Tahun
2015. Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2016): Nopember 2016.
Yosephin,
B., Darwis, Eliana, Maigoda, T. C., Yuniarti, Wahyudi, A., Mizawati, A., &
Gustiana, M. (2019). BUKU PEGANGAN PETUGAS KUA: Sebagai Konselor 1000 HPK dalam
Mengedukasi Calon Pengantin Menuju Bengkulu Bebas Stunting.Yogyakarta:
Deepublish.