PENGARUH INFLASI dan DANA ALOKASI UMUM TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI JAWA TIMUR

 

Rahma Putri Ayu Lestari1, Intan Nur Safarina2

Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia

[email protected]1, [email protected]2

Abstrak:

Kesejahteraan masyarakat sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi, karena pertumbuhan memegang peranan penting dalam menjaga kesejahteraan masyarakat. Kajian ini dirancang untuk mengetahui dinamika pertumbuhan ekonomi di Provinsi Jawa Timur selama lima tahun terakhir, dengan fokus pada faktor-faktor seperti inflasi dan Dana Alokasi Umum (DAU). Dengan menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif, penelitian ini menggunakan data sekunder time series sepanjang tahun 2018 hingga 2022. Penelitian bertajuk �Inflasi, Dana Alokasi Umum, dan Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Jawa Timur� ini menggunakan analisis regresi linier berganda yang dilakukan melalui software EViews 10. Temuan analisis menunjukkan bahwa inflasi dan dana alokasi umum secara individual mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Selanjutnya nilai R Square hitung adalah 0,501 atau setara dengan 50,1%. Hal ini berarti secara bersama-sama inflasi dan dana alokasi umum secara bersama-sama memberikan kontribusi terhadap Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Jawa Timur dengan dampak negatif dan signifikan sebesar 50,1%. Penelitian ini menyoroti keterkaitan faktor-faktor ekonomi dan implikasinya terhadap kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan di wilayah tertentu.umum berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Jawa Timur yaitu sebesar 50,1%.

 

 

Kata Kunci: Inflasi, DAU, Pertumbuhan Ekonomi

 

Abstract:

The well-being of the community is intricately linked to economic growth, as growth plays a crucial role in upholding societal welfare. This study is designed to investigate the economic growth dynamics in East Java Province over the past five years, with a focus on factors such as inflation and the General Allocation Fund (DAU). Employing a quantitative research approach, the study utilizes secondary time series data spanning from 2018 to 2022. The research, titled "Inflation, General Allocation Funds, and Economic Growth in East Java Province," employs multiple linear regression analysis conducted through EViews 10 software. The findings of the analysis reveal that both inflation and general allocation funds individually exert a significant influence on economic growth. Furthermore, the calculated R Square value is 0.501, equivalent to 50.1%. This signifies that collectively, inflation and general allocation funds jointly contribute to Economic Growth in East Java Province, with a notable negative and significant impact amounting to 50.1%. This research sheds light on the interconnectedness of economic factors and their implications for the overall welfare of the community in the specified region.

 

 

Keywords: Inflation, DAU, Economic Growth

����� ����

Pendahuluan

Kemajuan kesejahteraan masyarakat dapat dipicu oleh pertumbuhan ekonomi. Saat pertumbuhan ekonomi meningkat, kesejahteraan masyarakat cenderung ikut meningkat, dan sebaliknya, ketika pertumbuhan ekonomi melambat, kesejahteraan juga cenderung menurun, dengan asumsi faktor-faktor lain tetap stabil. Pertumbuhan ekonomi sering dihubungkan dengan pembangunan, namun perlu dicatat bahwa pertumbuhan ekonomi hanyalah satu aspek dari pembangunan manusia. Pentingnya pertumbuhan ekonomi terletak pada perannya sebagai alat untuk menjaga kesejahteraan masyarakat (Nayottama & Andrian, 2022). Namun, pertumbuhan ekonomi bukanlah tujuan akhir dari pembangunan manusia. Pertumbuhan ekonomi seharusnya dianggap sebagai sarana untuk meningkatkan kapabilitas manusia dan bagaimana masyarakat dapat menggunakan kapabilitas tersebut. Kesejahteraan masyarakat tidak hanya dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi tetapi juga oleh indeks pembangunan manusia yang rendah. Indeks tersebut memiliki dampak besar terhadap kualitas sumber daya manusia, seperti pendidikan, kesehatan, harapan hidup, dan taraf hidup. Infrastruktur juga memainkan peran penting dalam pengaruh pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Koneksi yang baik antar wilayah melalui infrastruktur dapat mempermudah pertumbuhan ekonomi. Di samping itu, korupsi juga memiliki dampak negatif terhadap kesejahteraan masyarakat. Semakin tinggi tingkat korupsi, semakin berkurangnya pelayanan dan sarana prasarana yang tersedia untuk masyarakat.

Inflasi adalah kenaikan umum dalam harga barang dan jasa yang berasal dari faktor permintaan, penawaran, dan ekspektasi nilai. Meskipun inflasi diperlukan untuk memacu aktivitas ekonomi, jika terlalu tinggi, dapat menyebabkan dampak merugikan bagi perekonomian. Lebih sering daripada tidak, inflasi memiliki efek buruk, seperti menurunkan minat beli masyarakat dan mengganggu aktivitas konsumsi. Investasi dari para pelaku ekonomi juga terpengaruh oleh ketidakpastian yang diakibatkan oleh inflasi. Kemiskinan dapat meningkat karena masyarakat kesulitan membeli barang dan jasa yang harganya terus naik. Selain itu, pemerintah terdorong untuk menekan harga agar inflasi dapat diredakan, namun hal ini dapat berkontribusi pada peningkatan tingkat pengangguran. Secara keseluruhan, efek negatif inflasi berdampak pada kesejahteraan masyarakat yang diukur melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Menurut Asyad (Astria, 2014), pencapaian pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator penting keberhasilan pembangunan suatu negara. Khususnya, negara-negara berkembang, dalam upaya mencapai pembangunan ekonomi, menetapkan target-target penting yang bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang kuat. Penekanan pada tujuan-tujuan ini diarahkan untuk mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat, dengan keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi yang besar akan mengurangi kesenjangan yang terjadi dengan negara-negara lain. Dalam konteks perjalanan pembangunan yang berkelanjutan, Indonesia dengan sungguh-sungguh berdedikasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya agar selaras dengan tren global. Namun demikian, disparitas potensi dan kapasitas keuangan antar daerah berkontribusi terhadap ketimpangan fiskal. Menyikapi hal tersebut, pemerintah berupaya untuk mengatasi permasalahan ini dengan melakukan realokasi dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menunjang kebutuhan daerah dalam kerangka desentralisasi. Salah satu saluran penyaluran dana ini adalah Dana Alokasi Umum (DAU), yang disalurkan setiap tahun kepada pemerintah daerah sebagai sumber pendanaan pembangunan, dengan tujuan utama untuk meningkatkan keseimbangan kapasitas keuangan antar daerah.

Keterhubungan antara pembangunan ekonomi suatu daerah dengan Dana Alokasi Umum (DAU) merupakan suatu kesatuan karena merupakan sumber keuangan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Alokasi ini dirancang secara strategis untuk memperkecil kesenjangan kemampuan keuangan antar daerah, sehingga memudahkan pemenuhan kebutuhan spesifik masing-masing daerah dalam lingkup desentralisasi yang diamanatkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004. Melalui mekanisme ini, tujuannya adalah agar setiap daerah dapat memperoleh manfaat yang merata. dari Dana Alokasi Umum (DAU), memperkuat prinsip-prinsip keadilan dan mendukung pemerataan pertumbuhan ekonomi di seluruh negeri. Khususnya, Dana Alokasi Umum (DAU) mempunyai peran sentral sebagai penyalur keuangan dari pemerintah pusat ke daerah, dengan tujuan utama meningkatkan pendapatan daerah, meningkatkan pelayanan publik, meningkatkan mutu pendidikan, meningkatkan taraf hidup, dan membina masyarakat. hidup lebih sehat dan panjang umur. Lestari dan kawan-kawan memaparkan hal ini pada tahun 2016. Penentuan alokasi dana umum daerah bergantung pada nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2017. Metodologi ini menegaskan komitmen untuk memperkuat daerah yang mempunyai sumber daya manusia rendah. tingkat pembangunan, selaras dengan aspirasi pembangunan yang merata di seluruh wilayah geografis. Oleh karena itu, Dana Alokasi Umum (DAU) tidak hanya sekedar aliran keuangan; hal ini dianggap sebagai instrumen strategis yang bertujuan mewujudkan pembangunan inklusif dan berkelanjutan di berbagai lapisan masyarakat.

Dengan merujuk pada permasalahan yang telah diuraikan, tujuan penelitian ini dirumuskan untuk mencapai beberapa aspek tertentu, yaitu: (1) Menilai konsekuensi dari inflasi terhadap pertumbuhan ekonomi di wilayah Jawa Timur, dan (2) Menilai pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU) terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur.

 

Metode

Peneliti ini menggunakan metodologi kuantitatif, khususnya menggunakan penelitian regresi kuantitatif, dengan penekanan khusus pada analisis deret waktu. Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari sumber sekunder, khususnya diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur. Selain itu, referensi yang relevan dari literatur dan publikasi ilmiah yang ada telah dimasukkan untuk memperkuat landasan penelitian. Metode analisis yang dipilih adalah regresi linier berganda dengan menggunakan pendekatan Ordinary Least Square (OLS) untuk menganalisis data. Alat perangkat lunak yang dipilih untuk tujuan ini adalah EViews 10. Alasan di balik pemilihan pendekatan regresi berganda adalah untuk menyelidiki hubungan yang rumit dan memahami bagaimana variabel independen dapat dipengaruhi oleh dua atau lebih variabel lainnya. Persamaan yang dihasilkan dari analisis regresi berganda mempunyai bentuk sistematik sebagai berikut:

Y = f (X1,X2)������������������(1)

Y = β0 + β1X1 + β2X2��������������..(2)

Y = β0 + β1X1 + β2X2 + u������������....(3)

Dimana:

Y�������� = Produk Domestik Regional Bruto

X1������ = Inflasi

X2������ = Dana Alokasi Umum

β0������� = Konstanta

β(1,2)�� = Koefisien Regresi

U�������� = Error

 

Hasil dan Pembahasan

Pengaruh Inflasi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Jawa Timur

Menganalisis data yang disajikan pada Tabel 3 memungkinkan kita untuk memperoleh kesimpulan komprehensif mengenai hasil estimasi, dengan menyoroti korelasi penting dan merugikan antara inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Jawa Timur selama rentang tahun 2018 hingga 2022. Secara khusus, estimasi tersebut mengungkap a dampak negatif yang terlihat, yang menunjukkan bahwa peningkatan laju inflasi sejalan dengan kecenderungan penurunan pertumbuhan ekonomi. Koefisien yang terkait dengan hubungan ini berada pada -5,255, ditambah dengan nilai probabilitas sebesar 0,000, yang berada di bawah ambang batas signifikansi konvensional sebesar 0,05.

Hebatnya, penemuan ini selaras dengan temuan penelitian Febrio Rifqy Pramata pada tahun 2019 yang memperkuat anggapan bahwa inflasi berdampak buruk terhadap pertumbuhan ekonomi. Kesesuaian antara penelitian ini dan penelitian sebelumnya berkontribusi pada kredibilitas argumen bahwa peningkatan tingkat inflasi berkaitan erat dengan penurunan lintasan pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, hal ini memperkuat konsistensi empiris dari korelasi yang diamati di berbagai penelitian, sehingga memberikan landasan yang kuat untuk memahami dinamika rumit antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Pengaruh Dana Alokasi Umum terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Jawa Timur

Berdasarkan data yang disajikan pada Tabel 3, dapat disimpulkan bahwa Dana Alokasi Langsung (DAU) memberikan dampak buruk yang nyata terhadap tingkat Pertumbuhan Ekonomi Daerah di Provinsi Jawa Timur. Pengurangan ini berasal dari koefisien yang terkait dengan variabel DAU yang tercatat sebesar -2,871 dengan nilai probabilitas sebesar 0,006, melampaui ambang batas signifikansi konvensional sebesar 0,05. Hasil statistik ini secara jelas menunjukkan adanya korelasi negatif dan signifikan secara statistik antara DAU dengan Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Jawa Timur dalam kurun waktu 2018-2022, sejalan dengan ekspektasi teoritis yang telah ditetapkan.

Jika dianalisis lebih detail, koefisien negatif sebesar -2,871 menunjukkan bahwa kenaikan variabel DAU berkorelasi dengan penurunan Pertumbuhan Ekonomi. Pada dasarnya, hubungan negatif yang terlihat ini menggarisbawahi bahwa perubahan dalam variabel DAU berkontribusi besar terhadap variasi yang diamati dalam Pertumbuhan Ekonomi selama periode tertentu.

Temuan ini konsisten dengan hasil penelitian sebelumnya oleh Ni Wayan Ratna Dewi dan I Dewa Gede Dharma Suputra (2017), yang mendukung ide bahwa Dana Alokasi Umum (DAU) memiliki dampak negatif secara parsial terhadap Pertumbuhan Ekonomi. Dengan demikian, penelitian ini mendukung sudut pandang ilmiah yang telah ada, dan dengan demikian, memberikan kontribusi pada pemahaman yang semakin mendalam tentang hubungan kompleks antara DAU dan Pertumbuhan Ekonomi, khususnya dalam konteks Provinsi Jawa Timur.

 

Kesimpulan

Penelitian ini menggunakan Fixed Effect Model untuk menganalisis efek Inflasi dan Dana Alokasi Umum terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Jawa Timur. Hasilnya menyatakan bahwa inflasi memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, sementara Dana Alokasi Umum memiliki dampak positif yang signifikan. Secara keseluruhan, kedua variabel tersebut memberikan kontribusi sekitar 50,1% terhadap fluktuasi pertumbuhan ekonomi di provinsi tersebut. Penelitian ini menyoroti kompleksitas faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di luar lingkup penelitian.

 

Daptar Pustaka

Nayottama, M. R. F., & Andrian, T. (2022). Analisis Pengaruh, Neraca Transaksi Berjalan, Jumlah Uang Beredar, Inflasi, Suku Bunga, dan Utang Luar Negeri Terhadap Nilai Tukar di Indonesia. Jurnal Impresi Indonesia, 1(12), 1289�1308.

 

Suharlina, H. (2019). Kemampuan Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, Belanja Daerah, Investasi Dalam Menjelaskan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Barat. Prosiding SATIESP.

 

Rifai, Novya M. I. (2022). Analisis Pengaruh Alokasi Dana Perimbangan, Indeks Pembangunan Manusia, Dan Upah Minimum Terhadap Ketimpangan Pendapatan Melalui Pertumbuhan ekonomi Di Provinsi Sulawesi Selatan. (Skripsi).

 

Bangsa, S. P. Pengaruh Inflasi Dan Tingkat Pengangguran Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Di Indonesia Periode 2010-2016.

 

Triaksandi, Cicilia D. & Algifari. (2021). Dampak Pertumbuhan Ekonomi, Tingkat Pengangguran Terbuka, Dan Belanja Modal Terhadap Kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah. JEB, hlm. 121-129.

 

Marliana, Lina. (2022). Analisis Pengaruh Indeks Pembangunan Manusia, Pertumbuhan Ekonom dan Upah Minimum terhadap Tingkat Pengangguran Terbuka di Indonesia. Ekonomis: Journal of Economics and Business, hlm. 87-91.

 

Rahayu, Amalia R., Safira Nur Z. & Fitria Nur F. (2022). Pengaruh Upah Minimum Regional, Indeks Kedalaman Kemiskinan, dan Realisasi Dana Alokasi Umum terhadap Indeks Pembangunan Manusia di Kabupaten Karawang Tahun 2011-2020. Jurnal STEI Ekonomi.

 

Arifin, Siti R. & Fadlan. (2021). Pengaruh Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Tingkat Pengangguran Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Provinsi Jawa Timur Tahun 2016-2018. Jurnal Ekonomi & Perbankan Syariah.

 

Rakhmawan, M. H. & Tony Seno A. (2022). Pengaruh Ipm, Tingkat Pengangguran Dan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Kemiskinan Di Jawa Timur. INDEPENDENT: Journal Of Economics, hlm. 34-46.

 

Astria, Sheilla A. (2014). Analisis Pengaruh Dana Alokasi Umum Dan Belanja Modal Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Di Sumatera Selatan. Jurnal Ekonomi Pembangunan, h. 42-54.

 

Dewi, Ni Wayan R. & Suputra, I Dewa Gede D. (2017). Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, Dan Belanja Modal Terhadap Pertumbuhan Ekonomi. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, 18(3), 1745-1773.

 

Pramata, Febrio R. (2019). Analisis Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, dan Inflasi terhadap Pertumbuhan Ekonomi dengan Belanja Modal sebagai Variabel Pemoderasi Ditinjau Dalam Perspektif Ekonomi Islam di Provinsi Lampung Tahun 2012- 2019. Makalah. Bandar Lampung.