PENGALAMAN LONLINES PADA DEWASA AWAL FATHERLESS

 

Anggun Etika Thoyyibah1, Ahmad Fauzan2

Fakultas Ushuluddin, Adab Dan Dakwah, UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Indonesia

[email protected]

 

Abstrak: �����������������������

Fatherless atau bisa dibilang bentuk pengalaman seseorang yang mengalami kehilangan sosok ayah, baik secara fisik maupun emosional, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan peran ayah dalam hidupnya. Ketidak hadiran sosok ayah ini akan membuat sang anak menjadi pemalu dan memiliki pengalaman traumatis yang berhubungan dengan sang ayah, ditambah dengan tidak adanya dukungan emosional dari keluarga anak tidak dapat memiliki tempat yang di sebut �rumah� dan merasa kesepian, membuat mereka harus mencari orang lain atau tempat lain, yang mampu untuk bersandar atau sekedar curhat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih dalam mengenai kehidupan dewasa awal yang memiliki pengalaman fatherless, hingga memiliki perasaan lonliness, bagaimana segala pengalaman tersebut akan berdampak pada pola fikir dan kehidupan mereka. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Subjek pada penelitian ini berjumlah tiga orang dewasa awal dengan rentan usia 20-25 tahun yang di pilih sesuai dengan kriteria. Teknik pengumpulan data yang di gunakan peneliti yaitu dengan wawancara mendalam yang kemudian dilakukan analisis menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Pada penelitian ini menemukan beberapa dampak fatherless yang mempengaruhi informan, sehingga menimbulkan banyak emosi-emosi negatif yang ditimbulkan, kontrol emosi yang tidak stabil, juga trauma masa kecil yang masih berdampak sampai sekarang, selain itu terdapat pengaruh kurangnya dukungan lingkungan yang mungkin tidak di sadari oleh informan saat remaja, namun ketika sudah mencapai usia dewasa awal, dengan pemikiran yang lebih matang seperti sekarang, informan berusaha untuk berdamai dengan masa lalu, dan lebih objektif dalam memahami masa lalu informan.

 

Kata Kunci: kesepian, dewasa awal, fatherless

 

Abstract:

the loss of a father figure, both physically and emotionally, so that he cannot fulfil the need for a father's role in his life. fulfil the needs of the father's role in his life. The absence of this father figure will make the child shy and have traumatic experiences related to the father, in addition to the absence of support from the father. traumatic experiences related to the father, in addition to the absence of emotional support from the family. emotional support from the family the child cannot have a place to call "home" and feels loneliness, making them have to look for other people or other places, who are able to lean on or confide in them. to lean on or just confide in. This research aims to find out more the lives of early adults who have fatherless experiences, to have feelings of lonliness, how all these experiences will have an impact on their mindset and life. impact on their mindset and life. This research is a qualitative qualitative research using the interpretative Phenomenological Analysis (IPA) method. Analysis (IPA) method. The subjects in this study were three early adults with 20-25 years old who were selected according to the criteria. Data collection techniques data collection techniques used by researchers are in-depth interviews which are then analysed using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). in This study found several impacts of fatherlessness that affected informants, resulting in many negative emotions, unstable emotional control, as well as childhood trauma that still has an impact today. unstable emotional control, as well as childhood trauma that still has an impact today, besides that there is the influence of a lack of environmental support that may not be realised by informants when they are teenagers, but when they reach early adulthood, with more mature thinking, they will be able to realise the impact of fatherlessness. informants when they were teenagers, but when they reached early adulthood, with more mature thinking as they are now, informants tried to reconcile with the past. reconcile with the past, and be more objective in understanding the informant's past.

 

Keywords: loneliness, early adulthood, fatherless

 

Pendahuluan

Setiap dari kita menginginkan keluarga yang harmonis dan utuh, dimana setiap keluarga juga mengharapkan keluarga dalam keadaan hadir mendampingi satu sama lain, baik ayah, ibu, dan anak (Febriyani et al., 2020). Namun sayangnya tidak semua orang dan anak dapat merasakan hangatnya perhatian dari kedua orang tua, dimana Indonesia sendiri memiliki jumlah penduduk mencapai 260 juta jiwa (Fernandez & Joseph, 2020; Suradiyanto, 2019). sebanyak 3.2 juta atau 1.24 % dari penduduk merupakan anak yatim piatu (Nasional Republika, 2019) dan sebesar 4.1 juta atau 1.6 % merupakan jumlah anak terlantar.

Salah satunya di karenakan perceraian, dimana menurut laporan statistik indonesia, jumlah kasus perceraian di Indonesia mencapai 516.334 kasus pada 2022, Angka ini meningkat 15,315% dibandingkan 2021 yang mencapai 447.743 pada 1 Maret 2023 (Annur, 2023) melihat dari kasus perceraian yang meningkat tentu tidak dapat di pungkiri bahwa semua itu akan berdampak tidak hanya bagi pasangan, terutama anak-anak yang belum dewasa, akan mengalami denial dan penolakan sehingga sangat mungkin mengganggu keseharian di sekolah, atau bahkan dalam pergaulan di lingkungannya.

Pada pusat penelitian kebijakan, balibatang dan perbukuan kementerian pendidikan dan kebudayaan (kemendikbud) mengatakan pendampingan anak-anak di indonesia masih cenderung di lakukan oleh ibu (Widodo, 2020), sebanyak 66, 7% ada pula survei yang di lakukan pada bulan april-mei, 2020 di 34 profinsi kepada orang tua menunjukkan sebanyak 53,8% bahwa tuntutan pekerjaan menjadi alasan utama orang tua tidak bisa mendampingi anak belajar di rumah.

Dimana di surabaya terdapat 55,6% dari 63 dewasa awal mengalami perasaan yang kosong saat melihat teman - tema nya, beberapa individu juga merasa dirinya kurang berharga atau kurang bahagia (Budiarti, 2018). di daerah sidoarjo di temukan penurunan tingkat kebahagiaan adalah timbulnya perasaan lonliness (Anggraini & Tukiman, 2022; Muljanto, 2021).

Perasaan lonliness yang di miliki oleh seseorang spesifik terhadap anak-anak yang mengalami fatherless, akan memiliki tekanan emosional yang tinggi, dan rasa kecemasan yang cenderung tinggi (Teza, 2023). Semua perasaan tidak nyaman tersebut dalam penelitian sebelumnya terjadi pada perempuan lajang yang bekerja, dimana mereka merasakan emotional lonliness dalam bentuk kecemasan dan merasa terancam dengan status lajang yang dimiliki.

Menurut penelitian sebelumnya mengatakan bahwa kesepian yang dikarenakan perpisahan dengan orang yang dicintai dapat menimbulkan reaksi emosional yang seperti kekecewaan, kesedihan, hingga timbulnya kemarahan pada diri sendiri bahkan lingkungannya Alina dimana pada penelitian terdahulu subjek yang mengalami pelecehan merasakan kurangnya dukungan emosional dari keluarga, dan mulai menyendiri dan ketakutan dalam bersosialisasi, sehingga subjek merasa sendirian baik secara emosional maupun sosial (Azzahra, 2023).

�� Subjek di penelitian sebelumnya yang dilakukan Indah Putri Nazmi (2017:3030-335, vol.5no.3) dimana pada fase sebulan setelah kasus pelecehan yang di alami subjek dukungan orang tua yang berkurang membuat subjek merasa gelisah dan ketakutan dalam bersosialisasi, begitu juga dengan subjek yang ibu angkat dan ibu tiri nya sering mendebat kan masalah yang terkait subjek membuat subjek merasa tidak di perhatikan.��

Menurut Alfasma (2022) menyebutkan loneliness adalah suatu bentuk reaksi yang timbul karena ketiadaan jenis-jenis hubungan tertentu. Perasaan kesepian ini lebih mengarah pada kualitas hubungan antar pribadi antara orang tua dan anak itu sendiri. Weis sendiri memberi tambahan bahwa kesepian dibagi menjadi dua jenis, yaitu emotional lonelines dan social loneliness, Emotional loneliness yaitu kesepian ditimbulkan karena ikatan hubungan yang intim, sedangkan social loneliness yaitu kesepian yang muncul ketika sesorang tidak terlibat dalam hubungan sosial.

Pada penelitian terdahulu terdapat 79% remaja dibawah 18 tahun mengalami kesepian. Jika remaja tidak bisa menangani rasa kesepiannya, dikhawatirkan pengembangan potensinya yang berhubungan dengan pembentukan identitas diri akan terhambat (Dewi, 2015). pada penelitian Khaula Karimah (2021) terdapat subjek yang melakukan self harm di karena kan rasa kesepian, dan faktor keluarga juga sangat memengaruhi, dimana ayah dari subjek tidak memenuhi peranannya sebagai ayah, karena berbagai alasan yang membuat subjek kesulitan saat ditanya tentang keluarga.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menjawab rumusan masalah, yaitu mengetahui bagaimana pengalaman loneliness pada individu dewasa awal yang mengalami kondisi fatherless.

Manfaat penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis (Ismail, 2015). Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada perkembangan keilmuan, khususnya dalam bidang psikologi kepribadian, dengan menyediakan gambaran mendalam dan tambahan pengetahuan mengenai dinamika keluarga, terutama pada anak yang kehilangan peran seorang ayah secara utuh, melalui pembahasan tentang perasaan loneliness pada dewasa awal yang fatherless. Secara praktis, penelitian ini bermanfaat bagi orang tua, sebagai pihak yang langsung terlibat dalam pengasuhan, untuk memahami apa itu fatherless, mengenali apa yang dirasakan anak saat mengalami loneliness akibat pengalaman fatherless, serta meningkatkan kualitas pengasuhan. Selain itu, penelitian ini juga bermanfaat bagi pembaca, dengan memberikan gambaran dan wawasan mendalam tentang hubungan antara perasaan loneliness dengan pengalaman fatherless sejak masa anak-anak hingga dampaknya di kemudian hari.

 

Metode

A.     Prosedur Penelitian

Desain penelitian yang ingin digunakan adalah metode kualitatif (qualitative research), yaitu penelitian untuk memahami masalah-masalah manusia atau sosial dengan menciptakan gambaran menyeluruh dan kompleks yang di sajikan, dengan kata-kata, melaporkan pandangan terinci dari para sumber informasi serta di lakukan dalam latar belakang alamiah (Creswell & Poth, 2016). fenomenologi adalah penelitian reflektif tentang esensi (inti) dari kesadaran yang di alami dari perfektif orang pertama (La Kahija, 2017). fenomenologi adalah penelitian tentang struktur-struktur kesadaran sebagaimana di alami dari sudut pandang orang pertama (Maulana & Budiyono, 2024).

Pada penelitian ini peneliti menggunakan versi IPA (interpretative Phenomenlogical Analysis). IPA sebagai penelitian fenomenologis berfokus pada kesibukan bahwa peneliti ingin menafsirkan bagaimana partisipan sebagai orang yang mengalami langsung peristiwa tertentu menafsirkan pengalamanya (La Kahija, 2017). IPA sendiri memiliki dua aktivitas penafsiran berupa penafsiran dari subjek dan satunya lagi dari peneliti.

 

 

 

B.      Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang di perlukan peneliti menggunakan teknik pengambilan data sebagai berikut:

1. Wawancara

Wawancara merupakan salah satu teknik yang dapat di gunakan untuk mengumpulkan data penelitian (Muri. A Yusuf, 2014). Secara singkat dapat di katakan bahwa wawancara adalah suatu kejadian atau suatu proses interaksi antara pewawancara, dan sumber informasi atau orang yang di wawancara melalui komunikasi langsung. Dapat di katakan juga bahwa wawancara adalah percakapan tatap muka, antara pewawancara dengan sumber informasi. dimana pewawancara bertanya langsung tentang suatu objek yang di teliti yang telah di rancang sebelumnya.

Panduan dalam wawancara IPA dianjurkan wawancara semi ter struktur, dalam pertanyaan semi ter struktur, peneliti mengajukan pertanyaan pertanyaan pokok, yang bisa di kembangkan lebih jauh dan di per dalam lagi saat mendengarkan jawaban partisipan (La Kahija, 2017).

Wawancara ini digunakan sebagai alat untuk memudahkan peneliti mengumpulkan data dan mendalami permasalahan yang sedang diteliti mengenai lonliness pada dewasa awal fatherless. Dalam teknik ini peneliti menyiapkan beberapa topik yang ingin peneliti cari tau, yang di mulai dari menanyakan masa kecil dari narasumber, dan memberikan ruang untuk narasumber mengeksplorasi memori masa kecil, semasa mereka merasakan kenangan itu pertama kali, sampai bagai mana kenangan itu memengaruhi mereka sampai dewasa awal kini.

 

C.     Teknik Analisis Data

1.       Uji Keabsahan Data

Uji keabsahan data menggunakan member chek yang merupakan proses pengecekan pada suatu data pada sumber nya (Octaviani & Sutriani, 2019). Dengan tujuan agar informasi yang di lakukan member check dapat memenuhi kesesuaian dari sudut pandang informan. Member checkdapat di lakukan setelah berakhirnya suatu periorde pengumpulan data.mekanisme nya dapatdilakukan secara individual, dengan menemui sumber data atau bertemu dalam forum diskusi kelompok. Pada proses ini data dapat di tambah atau dikurangi, ataupun di tolak oleh sumber data hingga diperolehnya kesepakatan bersama.����

2.       Analisis Data

Menurut LA. Kahija (2017), Tahapan-tahapananalisis data dalam kualitatifIPA ada lima, yaitu:Tahap analis 1, berupa penghayatan transkip dimana transkip di baca dan Di hayati secarah menyeluruh, dan membuat tiga kolom yang berisi kan Transkip orisional, catatan - catatan awal berupa eksploration, dan temaemergen. Tahap analisis 2, Pencatatan awal dimana peneliti memeriksa transkip secara detail dan memberi komentar untuk bagian-bagian yang di anggap bermakna, komentar di berikan dari awal sampai akhir ����� transkip. Tahap Analisis ke 3, perumusan tema emergen kata inggrisemergeberartikeluarataumuncul�. tema emergen atau tema yang keluar dari komentar eksploratoris bisa berupa kata atau frasa. Kata atau frasa itu adalah hasil dari perenungan peneliti terhadap komentar-komentar eksploratoris. Tahap Analisis 4, Perumusan Tema Superordinat Kata inggris �superordinate� terdiri dari dua kata, yaitu �super� yang berarti �di atas� dan �ordinate� yang berartitatanan�, temasuperordinate berarti tema yang berarti posisinya berada di atas tema - tema emergen Superordinat menampung beberapa tema emergen. dimana sebelumnya saya mengibaratkan tema superordinat dengan folder yang menampung beberapa file lagu yang genrenya mirip atau sejenis. Tahap Analisis ke 5, Pola-Pola Antarkasus dimana kita mencari pola-pola atau jalinan yang ada di antara teman-teman yang sudah kita dapatkan dari seluruh partisipan, yang di butuhkan disini adalah fokus dan tenang saat memperhatikan seluruh tema dari seluruh partisipan.

 

Hasil dan Pembahasan

A.     Profil Informan

Penelitian ini melibatkan tiga informan yang memiliki pengalaman fatherless pada masa dewasa awal. Ketiga informan ini berasal dari latar belakang yang berbeda namun memiliki kesamaan dalam hal ketidakhadiran ayah dalam kehidupan mereka, baik secara fisik maupun emosional. Mereka menghadapi berbagai tantangan emosional yang memengaruhi perkembangan psikologis dan sosial mereka. Berikut adalah profil singkat dari masing-masing informan:

1.       Informan 1 � Salsa

Salsa merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Ia memiliki ayah kandung dan ayah tiri yang keduanya tidak memberikan perhatian emosional secara memadai. Ayah tiri Salsa sering memberikan perlakuan yang berbeda kepada Salsa dibandingkan saudara tirinya, bahkan tidak jarang menggunakan kekerasan fisik. Salsa merasa tidak memiliki tempat yang benar-benar dapat disebut sebagai "rumah," sehingga ia lebih memilih untuk tinggal di pesantren dan asrama kampus.

2.       Informan 2 - Maylin

Maylin adalah anak kedua dari dua bersaudara. Ayahnya meninggal pada tahun 2018, dan ia menghadapi banyak tekanan emosional setelah kehilangan sosok ayah dan kakaknya. Ketidakstabilan hubungan orang tuanya membuat Maylin mengalami berbagai masalah emosional dan melukai diri sendiri sebagai bentuk pelampiasan. Ia memiliki ketergantungan emosional yang besar pada pasangannya sebagai bentuk kompensasi atas kehilangan tersebut.

3.       Informan 3 � Lathifa

Lathifa adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Ayahnya seorang PNS yang dikenal sebagai sosok yang pendiam dan kurang menunjukkan kasih sayang secara verbal maupun fisik. Hubungan Lathifa dengan ayahnya bersifat formal dan terbatas pada masalah akademis dan kebutuhan materi. Setelah ayahnya meninggal, Lathifa merasa kehilangan dan menyadari betapa besar peran ayah dalam kehidupannya.

 

B.      Temuan Penelitian

1.       Kesepian dan Kekosongan Emosional

Semua informan melaporkan perasaan kesepian yang mendalam akibat ketidakhadiran ayah dalam kehidupan mereka. Salsa merasa bahwa rumah bukanlah tempat yang nyaman, sementara Maylin merasakan kehilangan berlapis-lapis dengan meninggalnya ayah dan kakaknya. Lathifa mengalami kesepian dalam bentuk kurangnya validasi emosional dari sang ayah. Kesepian ini sering kali diungkapkan dalam bentuk perilaku menyendiri, kurangnya motivasi, dan sulit mempercayai orang lain.

"Aku sering ngerasa nggak punya tempat buat pulang yang nyaman. Di rumah aku merasa kayak orang asing." (Salsa, W.I1.27-32)

"Setiap kali lihat orang yang deket sama ayahnya, aku langsung nangis. Aku pengen banget punya keluarga yang harmonis." (Maylin, W.I2.43-48)

2.       Ketidakstabilan Emosi dan Trauma Masa Kecil

Dua dari tiga informan (Salsa dan Maylin) mengalami kekerasan fisik dari ayah mereka. Pengalaman ini membekas hingga dewasa dan menjadi trauma yang sulit dihilangkan. Ketika dihadapkan pada situasi yang mengingatkan mereka pada masa lalu, reaksi emosional yang muncul sangat intens.

"Aku masih sakit hati sampai sekarang. Kadang kalau inget, aku bisa nangis tiba-tiba." (Salsa, W.I1.79-80)

Maylin bahkan memiliki perilaku self-harm sebagai cara untuk melampiaskan rasa frustasi yang tidak tersalurkan. Lathifa, meskipun tidak mengalami kekerasan fisik, merasa terabaikan dan kurang mendapatkan kasih sayang yang cukup.

"Aku dulu sering baca cerita sedih di Wattpad buat stimulus nangis, karena aku susah banget buat nangis karena masalahku sendiri." (Lathifa, W.I3.158-170)

 

 

3.       Ketergantungan Emosional pada Orang Lain

Ketiga informan menunjukkan adanya ketergantungan emosional yang besar pada orang lain, baik pasangan, teman, maupun figur publik. Salsa dan Maylin mengandalkan pasangan mereka sebagai sumber utama dukungan emosional, sementara Lathifa menemukan kenyamanan dalam mengidolakan artis K-pop yang memiliki citra sebagai sosok pelindung.

"Pacarku jadi tempat perlindungan, aku ngerasa ada sosok ayah di dia. Tapi aku tau itu nggak bisa 100 persen." (Maylin, W.I2.16-29)

Lathifa bahkan merasa nyaman dengan mengirim pesan ke artis K-pop favoritnya meskipun ia tahu pesan tersebut tidak akan dibalas. Hal ini menjadi cara Lathifa untuk merasa didengar dan divalidasi.

4.       Ketakutan dalam Membangun Keluarga

Ketiga informan memiliki ketakutan dalam membangun keluarga di masa depan. Salsa merasa takut memiliki anak yang mengalami nasib serupa dengannya, sementara Maylin takut kehilangan pasangannya karena merasa hanya pasangannya yang bisa memahami dirinya. Lathifa merasa cemas dalam membangun keluarga karena ia merasa belum menemukan sosok yang bisa dipercaya sepenuhnya.

"Aku takut nanti anakku kayak aku. Aku nggak mau dia ngerasa sendirian." (Salsa, W.I1.82-84)

"Kalau pacarku sedikit berubah, aku langsung overthinking, takut dia ninggalin aku." (Maylin, W.I2.70-77)

 

Pembahasan

Penelitian ini menjawab urgensi pentingnya figur ayah dalam kehidupan seorang anak, terutama dalam fase perkembangan menuju dewasa awal. Ketidakhadiran ayah, baik secara fisik maupun emosional, memicu perasaan kesepian yang mendalam, ketidakstabilan emosi, dan ketergantungan emosional pada pihak lain.

1.       Urgensi Penelitian

Ketidakhadiran figur ayah dapat berdampak panjang terhadap perkembangan psikologis anak. Menurut Djawa & Ambarini (2019), anak yang mengalami fatherless memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan emosi, perilaku impulsif, dan kecenderungan menyakiti diri sendiri. Data ini diperkuat oleh hasil wawancara yang menunjukkan bahwa dua dari tiga informan memiliki kecenderungan self-harm.

2.       Penyebab Masalah

Beberapa penyebab utama dari ketidakhadiran ayah adalah perceraian, kematian, atau hubungan yang dingin dan minim komunikasi. Dalam kasus Maylin, kematian ayah membawa dampak mendalam yang menimbulkan perasaan kehilangan yang sulit teratasi. Salsa dan Lathifa, meskipun memiliki ayah, merasa tidak mendapatkan perhatian yang cukup karena hubungan yang kaku dan minim interaksi emosional.

3.       Solusi dan Intervensi

Intervensi dalam bentuk terapi keluarga dan konseling psikologis menjadi solusi yang direkomendasikan untuk mengatasi masalah ini. Interaksi sosial yang positif dan dukungan dari lingkungan juga memiliki peran penting dalam mengurangi dampak negatif dari fatherless (Salsabillah & Fatonah, 2021). Selain itu, pendidikan mengenai pentingnya peran ayah dalam keluarga juga perlu ditingkatkan untuk mencegah kasus serupa di masa depan.

2.       Dampak Positif dari Intervensi

Jika dilakukan intervensi yang tepat, anak-anak yang mengalami fatherless dapat mengembangkan mekanisme koping yang lebih sehat. Hal ini dapat meningkatkan rasa percaya diri, memperbaiki hubungan interpersonal, dan mengurangi kecenderungan self-harm.

3.       Komparasi dengan Penelitian Terdahulu

Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan adanya korelasi antara fatherless dengan gangguan psikologis pada remaja dan dewasa awal. Namun, penelitian ini menambah perspektif baru dengan menghubungkan pengalaman fatherless dengan ketergantungan emosional pada figur lain, seperti pasangan atau idola. Aspek ini belum banyak dibahas dalam penelitian terdahulu dan menjadi salah satu novelty yang diangkat dalam studi ini.

 

Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat dilihat bahwa setiap informan memiliki keunikannya masing-masing, dalam pengalaman informan tanpa peran ayah, di setiap persamaan dan perbedaan sehingga dapat disimpulkan sebagai berikut:

Pengalaman-pengalaman abnormal yang dialami para informan menunjukkan bahwa kebiasaan menahan diri, dan memedam emosi yang mereka rasakan tidak lah di karenakan satu atau dua hari, namun di karenakan tumpukan emosi sejak kecil yang terus menerus di tahan, merasa tidak memiliki tempat aman di rumah, dan tindakan-tindakan kekerasan yang dilakukan sang ayah, menjadikan informan menjadi tertutup terhadap masalah yang dimiliki, kecenderungan memendam emosi ini mengakibatkan pelampiasan-pelampiasan yang meledak semasa remaja, dan di usia saat dewasa awal ini informan yang berusaha untuk bertahan hidup sampai kini, menujukkan kesulitan mengontrol emosi dan cenderung kurang memvalidasi emosi yang mereka rasakan, menjadi terlalu sensitif terhadap sesuatu yang berhubungan dengan keluarga terutama sosok ayah.

Sikap lingkungan dan orang-orang di sekitar informan sewaktu masih kecil, dan tanggapan-tanggapan yang diberikan ketika informan menceritakan masalahnya, juga mempengaruhi apa yang dirasakan informan dari remaja hingga dewasa awal ini, perasaan kesepian yang juga di pengaruhi lingkungan membuat informan merasakan kesendirian tanpa tempat kembali.

 

Daftar Pustaka

 

Alfasma, W., Santi, D. E., & Kusumandari, R. (2022). Loneliness dan perilaku agresi pada remaja fatherless. Jurnal Penelitian Psikologi, 3(01), 40�50. https://doi.org/10.30996/sukma.v3i1.6948

Anggraini, S. Z., & Tukiman, T. (2022). Strategi Dinas Tenaga Kerja dalam Meningkatkan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja di Kabupaten Sidoarjo. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 22(3), 2220�2226. https://doi.org/10.33087/jiubj.v22i3.2764

Annur, C. M. (2023). Kasus Perceraian di Indonesia Melonjak lagi pada 2022, tertinggi dalam enam tahun terakhir. Katadata. Co. Id. Diakses Pada Tanggal, 22.

Azzahra, A. (2023). Dampak Bullying Terhadap Perkembangan Sikap Sosial Dan Emosional Siswa Sekolah Dasar. Nusa Putra University.

Budiarti, K. O. (2018). TA: Perancangan Buku Komik dengan Teknik Digital Tentang Mengatasi Stres pada Dewasa Awal Sebagai Upaya Meningkatkan Motivasi. Institut Bisnis dan Informatika Stikom Surabaya.

Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2016). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches. Sage publications.

Dewi, R. C. (2015). Hubungan Attachment Orang Tua dengan Kenakalan Remaja MTS PGAI Padang. Naskah Publikasi.

Febriyani, R., Rostika, I., & Rahman, M. T. (2020). Peran keluarga dan bimbingan sufistik dalam mengembangkan religiusitas anak. Prodi S2 Studi Agama-Agama UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Fernandez, M., & Joseph, R. (2020). Foreign direct investment in Indonesia: An analysis from investors perspective. International Journal of Economics and Financial Issues, 10(5), 102�112. https://doi.org/10.32479/ijefi.10330

Ismail, N. (2015). Metodologi Penelitian Untuk Studi Islam Panduan Praktis Dan Diskusi Isu. Samudra Biru.

Karimah, K. (2021). Kesepian dan kecenderungan perilaku menyakiti diri sendiri pada remaja dari keluarga tidak harmonis. Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi, 9(2), 367�380.

La Kahija, Y. F. (2017). Penelitian fenomenologis: Jalan memahami pengalaman hidup. PT kanisius.

Maulana, Z. A., & Budiyono, A. (2024). Kajian Komunikasi dalam Sudut Pandang Studi Fenomenologi: Literatur Review. Translitera: Jurnal Kajian Komunikasi Dan Studi Media, 13(2), 98�110. https://doi.org/10.35457/translitera.v13i2.3645

Muljanto, M. A. (2021). Analisis Sektor Unggulan Dalam Pembangunan Daerah di Kabupaten Sidoarjo. Jurnal Manajemen Keuangan Publik, 5(2), 169�181. https://doi.org/10.31092/jmkp.v5i2.1386

Octaviani, R., & Sutriani, E. (2019). Analisis data dan pengecekan keabsahan data. https://doi.org/10.31227/osf.io/3w6qs

Suradiyanto. (2019). The investment law development to increase investment in Indonesia. Int�l JL & Mgmt., 61, 17. https://doi.org/10.32479/ijefi.10330

Teza, I. (2023). Pengaruh Fatherless Terhadap Resiliensi Mahasiswa.

Widodo, W. (2020). Penyelenggaraan pendidikan orang tua. Pusat Penelitian Kebijakan.