MENGATASI
HAMBATAN DALAM PEMBELAJARAN IPS �DI ERA DIGITAL : STRATEGI DAN SOLUSI YANG EFEKTIF
Siska Ariyantiˡ, Shafwatul
Widaad�, Ahmad Ruslan�, Purnama Syae Purrohman4
Program Studi Pendidikan Ekonomi,
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jakarta, Indonesia
�[email protected]1, [email protected]2, [email protected]3, [email protected]4
Abstrak:
Di dalam era digital saat
ini, pendidikan ilmu sosial yang efektif dapat menumbuhkan pemahaman kritis
tentang proses dan hubungan masyarakat.� Teknologi telah membawa dampak besar pada
sistem pendidikan global, terutama dalam pendidikan di era digital. Ada
tantangan yang perlu diatasi agar penggunaannya optimal dalam pendidikan IPS. Penelitian ini
bertujuan untuk memahami penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di sekolah pada era digital. Menggunakan
metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, data dikumpulkan melalui analisis berbagai sumber terdokumentasi dan literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun teknologi digital memiliki potensi besar untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran IPS, penggunaannya masih menghadapi tantangan signifikan. Guru sering kali menganggap teknologi digital sulit dioperasikan dan diterapkan dalam pengajaran. Di sisi lain, teknologi digital memberikan peluang besar bagi tenaga
pendidik untuk mengakses sumber daya pelatihan berkualitas tinggi secara mandiri dan menciptakan lingkungan belajar yang menarik bagi siswa. Oleh karena itu, pelatihan
yang memadai dan dukungan kelembagaan yang kuat sangat diperlukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan teknologi digital dalam pendidikan. Kesimpulannya, penggunaan strategis teknologi digital dapat meningkatkan pengalaman pembelajaran IPS secara signifikan, asalkan tantangan operasional dapat diatasi melalui
dukungan institusi dan pelatihan yang efektif bagi pendidik.
Kata Kunci: penggunaan alat digital, kelembagaan, pendidik
Abstract:
In
today's digital age, effective social studies education can foster a critical
understanding of societal processes and relationships.� Technology has had a major impact on the
global education system, especially in education in the digital age. There are
challenges that need to be overcome for its optimal use in social studies
education. This research aims to understand the use of digital technology in
learning Social Studies in schools in the digital era. Using a qualitative
method with a desk study approach, data was collected through analyzing various
documented sources and related literature. The results show that although
digital technology has great potential to improve the quality of social studies
learning, its use still faces significant challenges. Teachers often find
digital technology difficult to operate and apply in teaching. On the other
hand, digital technology provides great opportunities for educators to
independently access high-quality training resources and create an engaging
learning environment for students. Therefore, adequate training and strong
institutional support are necessary to optimize the use of digital technology
in education. In conclusion, the strategic use of digital technologies can
significantly enhance the social studies learning experience, provided that
operational challenges can be overcome through institutional support and
effective training for educators.
Keywords: digital
tools, institutionalization, educators
Pendahuluan
Di dalam era digital saat ini, ilmu sosial
telah mengalami banyak perubahan, mengubah cara pengetahuan
dikumpulkan, dibagikan, dan
digunakan (Salsabila & Rehnaningtyas, 2024). Penyerapan
teknologi digital dalam kehidupan sehari - hari menandai transformasi
ini. Belajar ilmu sosial melibatkan
pendekatan multifaset yang mengintegrasikan pedagogi, teknologi, dan tantangan kontemporer (Mariyono, 2024; Wulandari et al., 2024). Dalam studi
yang dilakukan oleh Seventilova
dalam �(2024)ditemukan
bahwa kualitas buku yang tersedia sering kali tidak cukup menarik perhatian
masyarakat. Konten yang tidak menarik atau
tidak sesuai dengan kebutuhan pembaca merupakan hambatan utama dalam menumbuhkan minat baca yang kuat.
Pada pendidikan ilmu sosial yang efektif dapat menumbuhkan pemahaman kritis tentang proses dan hubungan masyarakat, sementara metode dan alat pengajaran yang inovatif yaitu meningkatkannya pengalaman belajar (Pratama & Dewi, 2023). Hambatan
belajar dalam pengetahuan ilmu sosial mencakup berbagai tantangan yang dapat menghambat pemahaman yang efektif. Hal ini menunjukkan bahwa strategi pendidikan yang membosankan dan kurangnya promosi literasi di sekolah dapat menghalangi
minat baca (Tiara, 2022). Teknologi
telah membawa dampak besar pada sistem pendidikan global, termasuk di Indonesia, di mana teknologi
menjadi bagian penting dari kehidupan
sehari-hari, terutama dalam pendidikan di era digital (Nursyifa, 2019). Dengan
transformasi digital ini, pembelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS) juga mengalami perubahan besar.
Meski teknologi menawarkan banyak peluang untuk meningkatkan pembelajaran, ada tantangan yang perlu diatasi agar penggunaannya
optimal dalam pendidikan
IPS. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan cara terbaik dalam mengatasi
masalah pembelajaran di era
digital. Dengan menggabungkan
teknologi, memenuhi kebutuhan individu, dan menciptakan lingkungan belajar yang menarik, diharapkan kualitas pembelajaran IPS dapat ditingkatkan. Penggunaan alat digital, dukungan kelembagaan, dan partisipasi aktif siswa adalah
fokus utama dalam penelitian ini. Penting untuk
menerapkan strategi pengajaran
baru yang memanfaatkan teknologi dan menciptakan lingkungan belajar yang dinamis dan interaktif (Harahap & Dalimunthe, 2024). Sebagai
contoh, penelitian ini menunjukkan bahwa 82% siswa menyukai alat pembelajaran
interaktif seperti permainan papan digital (Herdianti et al., 2024). Hal ini
menegaskan bahwa memasukkan gamifikasi atau penceritaan digital dalam kurikulum IPS dapat secara signifikan
meningkatkan motivasi dan partisipasi siswa.
Era digital
telah membawa perubahan besar dalam pendidikan, termasuk pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) (Safran et al., 2024; Septianingsih & Safitri,
2023; Siregar & Sumantri, 2024). Perubahan ini tidak
hanya mencakup transformasi teknologi tetapi juga menuntut pendekatan pengajaran yang inovatif dan adaptif untuk memenuhi kebutuhan generasi siswa yang akrab dengan teknologi. Meski teknologi digital menawarkan peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, banyak pendidik menghadapi tantangan dalam mengintegrasikan teknologi ini ke
dalam praktik pengajaran sehari-hari. Kurangnya pelatihan dan dukungan kelembagaan menjadi hambatan utama yang menghalangi implementasi teknologi secara efektif. Oleh karena itu, penelitian
ini penting untuk mengidentifikasi strategi
dan solusi dalam mengatasi hambatan pembelajaran IPS di era digital (Purba et al., 2024), dengan fokus pada optimalisasi pemanfaatan teknologi, pelatihan pendidik, dan dukungan institusional. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang inovatif, relevan, dan menarik.
Penelitian
sebelumnya menunjukkan bahwa teknologi digital memiliki potensi besar untuk meningkatkan
pembelajaran IPS. Misalnya,
Nursyifa (2019) menekankan pentingnya transformasi pendidikan IPS untuk menghadapi era Revolusi Industri 4.0, sementara Seventilova (2024) mengeksplorasi hambatan yang dihadapi masyarakat Indonesia terkait rendahnya minat baca. Studi lain, seperti yang dilakukan oleh Zambrano Tomala et al. (2024), mengusulkan strategi pendidikan berbasis sumber daya digital untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran IPS, menunjukkan bahwa alat digital interaktif seperti gamifikasi dan penceritaan
digital dapat meningkatkan motivasi dan partisipasi siswa. Selain itu, penelitian oleh Herdianti et al. (2024) mengungkapkan bahwa media pembelajaran berbasis teknologi, seperti permainan papan digital, dapat meningkatkan keterlibatan siswa secara signifikan. Namun, masih terdapat
kesenjangan dalam pelatihan pendidik dan dukungan kelembagaan untuk mengintegrasikan teknologi ini secara
efektif ke dalam pembelajaran. Penelitian ini melanjutkan upaya untuk menjembatani kesenjangan tersebut dengan menawarkan solusi strategis dan berbasis bukti untuk mengoptimalkan pembelajaran IPS di era digital.
Pemanfaatan sumber daya multimedia tidak hanya memungkinkan
berbagai gaya belajar, tetapi juga membantu siswa berpikir kritis dan melihat peristiwa sejarah dari berbagai
perspektif. Metode ini sesuai dengan kebutuhan
pendidik untuk menyesuaikan metode mereka dengan tuntutan
di era digital, memastikan bahwa
siswa menjadi peserta aktif dalam
proses pendidikan dan bukan
sekadar konsumen pasif dalam informasi
(Nursyifa, 2019). Di era digital, hambatan dalam pembelajaran ilmu sosial mencakup isu-isu seperti kurangnya motivasi, literasi digital, dan akses ke teknologi. Strategi solusi yang efektif harus mencakup penggunaan alat digital, menciptakan lingkungan belajar yang mendukung, dan sistem dukungan kelembagaan untuk mengatasi hambatan-hambatan ini.
Metode
Metode kualitatif yang digunakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan
pemahaman tentang penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS) di sekolah.
Semua metode desain
kuantitatif menghasilkan bukti konkret dan terukur. Karena ketahanannya yang
dapat diamati, metode ini berada
di peringkat tinggi dalam urutan tingkatan bukti (Mantula et al., 2024).
Penelitian sekunder ini melibatkan studi kepustakaan, dan data dikumpulkan dengan menganalisis berbagai sumber terdokumentasi, serta data yang sudah tercatat dalam literatur. Kualitas pembelajaran IPS diharapkan dapat ditingkatkan dengan menggunakan teknologi digital, memenuhi kebutuhan pendidik, dan membuat lingkungan belajar yang menarik. Penggunaan alat digital, dukungan kelembagaan, dan pendidik adalah fokus utama
penelitian ini.
Untuk mengatasi masalah ini secara
efektif, strategi pengajaran
baru yang memanfaatkan teknologi dan lingkungan belajar yang menarik harus diterapkan. Metode ini sejalan dengan
kebutuhan yang semakin meningkat bagi pendidik untuk menyesuaikan pendekatan mereka untuk memenuhi
tuntutan era digital, memastikan
bahwa siswa bukan hanya konsumen
pasif informasi tetapi juga peserta aktif dalam proses pendidikan.
Hasil dan Pembahasan
Teknologi dan perangkat pendidikan sering kali menjadi tantangan besar bagi guru karena mereka menganggapnya
rumit dan sulit dioperasikan serta diterapkan (Rasimin et al.,
2024). Sehingga, mengatasi tantangan pembelajaran ilmu sosial di era digital memerlukan pendekatan yang menggabungkan teknologi, memenuhi berbagai kebutuhan siswa, dan pentingnya meningkatkan keterlibatan antara satu dengan yang lainnya. Akan tetapi, adanya kendala yang muncul akibat kurangnya pelatihan teknis dan literasi digital di kalangan guru. Namun, kemajuan teknologi pendidikan juga bisa menjadi peluang besar untuk meningkatkan
proses belajar mengajar.
Untuk memanfaatkan peluang ini, guru harus memiliki keterampilan teknologi dan pedagogi yang cukup untuk mengintegrasikan teknologi dengan pengajaran tradisional secara efektif. Mengatasi tantangan pembelajaran ilmu sosial di era digital memerlukan pendekatan yang menggabungkan teknologi, memenuhi berbagai kebutuhan siswa, dan pentingnya meningkatkan keterlibatan antara satu dengan yang lainnya. Strategi-strategi ini
meliputi penggunaan alat digital, menciptakan lingkungan belajar yang mendukung, dan memberikan sistem dukungan kelembagaan. melalui pendekatan pendidikan ini untuk mengatasi
hambatan yang akan terjadi. Dari lembaga pendidikan sering kali menyediakan pelatihan yang tidak memadai atau bahkan
tidak ada sama sekali, sehingga
guru harus mempelajari dan menguasai teknologi informasi secara mandiri. Pada akhirnya, pembelajaran IPS membutuhkan integrasi inovasi teknologi agar siswa dapat dengan mudah
memahami fakta, peristiwa, konsep, dan generalisasi melalui pengalaman belajar yang mendalam. Oleh karena itu, pelatihan atau lokakarya dan fasilitas pendukung sangat diperlukan untuk mendukung proses pembelajaran IPS sehingga strategi solusi yang efektif diperlukan untuk mengatasi tantangan yang ada.
1. Penggunaan
Alat Digital
Kementerian Pendidikan,
Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) yaitu Nadiem mengatakan
teknologi akan membantu memaksimalkan potensi sumber daya manusia dengan cara
ia akan memajukan ekosistem teknologi untuk menyelesaikan masalah dalam pelaksanaan
tugas guru setelah melihat kebutuhan guru. Menurut Sibagariang (2021) Platform
Merdeka Mengajar (PMM) yang menyediakan
referensi bagi guru untuk mengembangkan praktik mengajar sesuai kurikulum merdeka.
Salah satu fitur yang tersedia adalah pelatihan mandiri, guru dan tenaga pendidik memiliki kesempatan untuk mengakses sumber daya pelatihan berkualitas tinggi secara mandiri. Menurut penelitian Asencios (2024),
platform pendidikan yang inovatif
harus dibuat dengan menggunakan teknologi untuk meningkatkan pengalaman belajar siswa. Platform ini bertujuan untuk
menyediakan sumber daya interaktif seperti konten multimedia dan kegiatan yang menarik yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang ide-ide studi sosial. Dengan
menggabungkan komponen seperti peta interaktif
dan video pendidikan, platform ini
berusaha menciptakan lingkungan virtual yang menarik
yang mendorong siswa untuk bekerja sama
dan berpartisipasi. Sehingga
hasil menunjukkan, bahwa penggunaan teknologi dan pendekatan pengajaran inovatif dapat secara signifikan
meningkatkan pengalaman pendidikan di studi sosial.
Dan juga temuan menunjukkan bahwa pendekatan pedagogis yang baru diusulkan tidak hanya membawa
inovasi, tetapi juga meningkatkan relevansi dan efektivitas proses pembelajaran.
Studi ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam hasil pembelajaran
siswa. Ini menunjukkan bahwa memasukkan sumber daya digital dapat membuat lingkungan pendidikan lebih menarik dan efektif. Ini sesuai dengan tuntutan
saat ini untuk metodologi pengajaran kontemporer yang menempatkan penggunaan teknologi dan partisipasi siswa di atas segalanya.
Untuk meningkatkan pengalaman belajar, berbagai alat digital disarankan, seperti Telegram untuk berkomunikasi, ChatGPT dan Ensiklopedia virtual untuk membuat konten, Kahoot dan Google
forms untuk penilaian, dan
Timeline JS dan Powtoon untuk
presentasi dinamis. Selain
itu, penelitian ini menekankan bahwa pendidik harus mengubah metode pengajaran mereka dengan memasukkan
alat digital karena lanskap pendidikan saat ini semakin
bergantung pada teknologi.
Hasilnya menunjukkan bahwa tidak hanya
akses ke teknologi yang diperlukan untuk menerapkan strategi ini dengan sukses,
tetapi juga pelatihan yang memadai bagi pendidik
untuk secara efektif memanfaatkan alat digital di dalam pengajaran. Secara keseluruhan, penelitian ini mendorong perubahan
ke arah pendekatan
pedagogis baru yang memanfaatkan sumber daya digital untuk meningkatkan pembelajaran dan pengajaran ilmu sosial. Pendekatan ini akan mempersiapkan siswa untuk dunia yang pada akhirnya akan digerakkan oleh teknologi. Jadi, dibutuhkannya
penggunaan alat digital memiliki kesempatan untuk mengakses sumber daya pelatihan sehingga dapat meningkatnya relevansi dan efektivitas dalam proses pembelajaran dan dapat menempatkan penggunaan teknologi serta partisipasi siswa di atas segalanya, dengan ini mendorong perubahan ke arah pendekatan
pedagogis baru yang di dalamnya bisa memanfaatkan
sumber daya digitalnya.
2. Menciptakan
Lingkungan Belajar Yang Mendukung
Penelitian (Husna, 2022) menemukan beberapa komponen yang mendukung Gerakan Literasi Sekolah (GLS) untuk berhasil, seperti partisipasi aktif setiap siswa dan ketersediaan infrastruktur yang memadai. Namun, ada juga tantangan, terutama variasi tingkat minat siswa,
yang membuat guru perlu mengubah strategi motivasi mereka untuk memenuhi
kebutuhan masing-masing siswa.
Hasilnya menunjukkan perlu adanya pendekatan
terstruktur. Menurut
penelitian Seventilova (2024), kecenderungan seseorang untuk membaca dipengaruhi
oleh berbagai faktor, termasuk tahap perkembangan kognitif, motivasi intrinsik,
dan kebiasaan membaca pribadi. Pengaruh sosial seperti kelompok sebaya, sistem
pendidikan, dan dinamika keluarga juga memengaruhi perilaku membaca. Kehadiran
lingkungan yang mendukung membaca, terutama di rumah dan di sekolah, dapat
meningkatkan keinginan anak untuk membaca. Menciptakan lingkungan online yang
merangsang yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa dapat secara signifikan
mengurangi masalah seperti kurangnya motivasi dan pemahaman. Studi menunjukkan
bahwa pengalaman yang mendalam dan interaktif seperti Virtual Reality (VR)
meningkatkan partisipasi dan pemahaman. Metode ini tidak hanya menarik minat
siswa, tetapi juga membantu mereka mempelajari konsep yang lebih kompleks.
Di dalam kajian (Paramita et
al., 2024) terkait penggunaan virtual reality dalam pendidikan memiliki potensi yang luar biasa untuk meningkatkan
pengalaman belajar siswa. Dengan memiliki kemampuan
ini pembelajaran menjadi lebih menarik dan interaktif secara drastis meningkatkan pemahaman serta daya ingat siswa, sehingga teknologi ini tidak
hanya membuat belajar lebih unik akan tetapi mendorong partisipasi yang lebih aktif sehingga sangat
penting untuk meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswanya. Dan untuk memaksimalkan manfaatnya,
pendidik harus dilatih dalam teknik
pengajaran interaktif dan teknologi itu sendiri.
Selain itu, masalah seperti biaya implementasi
yang tinggi dan masalah teknis harus diatasi
untuk memastikan transisi yang lancar ke pendekatan pembelajaran
inovatif ini.
Kesimpulannya, perlunya dukungan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) supaya berhasil agar setiap siswa dapat partisipasi
aktif dan meskipun ada hambatan yang harus diatasi, virtual reality memiliki potensi untuk mengubah
pengalaman pendidikan. Jika
digunakan dengan bijak supaya memiliki potensi untuk menginspirasi generasi baru pelajar
dengan memberikan mereka kemampuan yang diperlukan untuk mengatasi kompleksitas dunia kontemporer.
3. Perlunya
Sistem Dukungan Kelembagaan
Mendukung pembelajaran siswa merupakan misi yang secara alami dipercayakan kepada semua lembaga
Pendidikan. Dikenal sebagai
dukungan administratif, bantuan kelembagaan yang diberikan untuk membangun dan menyediakan program
dan kursus pendidikan berkualitas tinggi didefinisikan sebagai kemampuan kelembagaan untuk mendukung partisipasi semua orang dalam penelitian, pengajaran, dan pengalaman belajar yang berkualitas (Teixeira,
2022). Di antara dukungan ini adalah
kebijakan, keuangan, rantai pasokan, manajemen SDM, pengembangan dan penelitian, urusan akademik, serta teknologi digital untuk memberikan dukungan efektif dan konsisten bagi pemangku kepentingan
seperti siswa.
Untuk memastikan bahwa pendidikan terbuka, jarak jauh, dan digital berkualitas tinggi, guru, siswa, dan staf membutuhkan dukungan administratif. Untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda dari berbagai pemangku
kepentingan, termasuk fakultas, staf pendukung, dan siswa jarak jauh, sistem
dukungan administrasi yang berhasil harus mencakup tidak hanya menyediakan sumber daya yang diperlukan, tetapi juga memastikan bahwa sumber daya ini
dapat diakses dan disesuaikan dengan kebutuhan siswa tersebut.
Adapun
Studi tentang Institutional Support Questionnaire
(ISQ) dari (Lim & Ho,
2022) menunjukkan bagaimana siswa dapat melihat dukungan
yang diberikan oleh sekolah
mereka, berfokus pada pandangan psikologis siswa tentang dukungan
kelembagaan untuk kebutuhan belajar mereka. Empat elemen
utama yang mewakili dimensi dukungan kelembagaan diidentifikasi dalam penelitian ini, diantaranya dukungan kompetensi akademik, praktik pengajaran, ciri-ciri tutor, dan penggunaan teknologi dalam pengajaran. Secara kolektif, komponen ini menunjukkan
komponen penting yang membuat lingkungan belajar menjadi menyenangkan bagi siswa. menekankan betapa pentingnya mengetahui bagaimana siswa melihat dukungan,
dan tetapi harus mengoptimalkan sumber daya mereka untuk
memenuhi kebutuhannya. Sekolah dapat menggunakan
informasi yang diperoleh untuk membuat keputusan
tentang bagaimana meningkatkan sistem dukungan mereka. Pada akhirnya, ini akan
menghasilkan lingkungan belajar yang lebih baik dan mendukung bagi siswa.
Kesimpulan
Era digital telah merevolusi ilmu sosial, baik
dalam pengumpulan maupun pemanfaatan pengetahuan, sehingga integrasi teknologi digital dalam pendidikan ilmu sosial membutuhkan
pendekatan yang multifaset dengan menggabungkan pedagogi, teknologi, dan tantangan kontemporer. Pendidikan
ilmu sosial yang efektif harus mendorong
pemahaman kritis tentang proses dan hubungan sosial, serta memerlukan
strategi pengajaran yang menarik
didukung oleh dukungan institusional yang memadai untuk mengatasi berbagai tantangan. Teknologi memiliki dampak besar terhadap
pendidikan global dengan menekankan perannya yang vital dalam kehidupan sehari-hari dan pembelajaran, meskipun tantangan penggunaannya tidak dapat diabaikan. Oleh karena itu, penggabungan
teknologi dengan pemenuhan kebutuhan individu dan penciptaan lingkungan belajar yang menarik menjadi kunci dalam meningkatkan
pendidikan ilmu sosial. Penggunaan alat digital, dukungan institusi, dan partisipasi aktif siswa sangat penting untuk menciptakan
lingkungan pembelajaran
yang dinamis dan interaktif,
termasuk integrasi alat pembelajaran interaktif yang dapat meningkatkan motivasi dan partisipasi siswa, serta menggabungkan sumber daya digital yang mendorong pemikiran kritis dan perspektif
multidimensional tentang peristiwa
sejarah. Pemanfaatan strategis teknologi digital memberikan peluang untuk meningkatkan relevansi dan efektivitas proses pembelajaran, menciptakan lingkungan online yang disesuaikan
dengan kebutuhan siswa, memperkaya pengalaman belajar, dan mempersiapkan mereka menghadapi dunia yang didorong
oleh teknologi, sehingga memiliki potensi untuk secara substansial
meningkatkan pengalaman pendidikan dalam studi sosial.
Daftar Pustaka
Asencios-Trujillo, L. V., Asencios-Trujillo, L.,
La-Rosa-Longobardi, C. J., Gallegos-Espinoza, D., Pi�as-Livia, C., Matta-Solis,
H., Perez-Siguas, R., & Ventura-Hernandez, E. (2024). Design of a Mobile
Application for Geolocation and Medical Information for University Students in
Emergency Situations. Journal of
Electrical Systems, 20(5s),
2643�2651. https://doi.org/10.14445/22315381/IJETT-V72I7P111
Harahap, F. H., & Dalimunthe, R. H. (2024). Integrasi
Teknologi Dalam Kurikulum Sebagai Sebuah Inovasi Pembelajaran Untuk Menciptakan
Lingkungan Belajar Yang Dinamis. Media
Komunikasi Dan Informasi Pendidikan (MKIP), 6(2), 79�87.
Herdianti, N. P., Hanim, W., & Hasanah, U. (2024).
Analisis Kebutuhan Pengembangan Media Pembelajaran Ular Tangga Digital pada
Pembelajaran IPS untuk Meningkatkan Partisipasi Belajar Siswa Kelas IV Sekolah
Dasar. Jurnal Basicedu, 8(2), 1592�1603.
https://doi.org/10.31004/basicedu.v8i2.7393
Husna, R. A. (2022). Peran Gerakan Literasi Sekolah Dalam
Meningkatkan Motivasi Dan Minat Baca Siswa. LEARNING: Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan Dan Pembelajaran,
2(3), 201�208.
https://doi.org/10.51878/learning.v2i3.1523
Lim, L., & Ho, Y. Y. (2022). Supporting student learning
needs in tertiary education: Institutional support structures based on the
Institutional Support Questionnaire. Behavioral
Sciences, 12(8), 277.
https://doi.org/10.3390/bs12080277
Mantula, F., Mpofu, A. C., Mpofu, F. Y., & Shava, G. N.
(2024). Qualitative Research Approach in Higher Education: Application,
Challenges and Opportunities. East
African Journal of Education and Social Sciences, 5(1), 1�10.
https://doi.org/10.46606/eajess2024v05i01.0343a
Mariyono, D. (2024). Strategi
Pembelajaran dari Teori ke Praktik Pendekatan Pembelajaran Kolaboratif di
Perguruan Tinggi. Nas Media Pustaka.
Nursyifa, A. (2019). Transformasi Pendidikan Ilmu Pengetahuan
Sosial dalam Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, 6(1), 51. https://doi.org/10.32493/jpkn.v6i1.y2019.p51-64
Paramita, P. E., Julanos, J., Fayola, A. D., Sabur, F., &
Husain, D. L. (2024). Utilization of Virtual Reality (VR) in Developing
Interactive Learning Experiences. Al-Fikrah:
Jurnal Manajemen Pendidikan, 12(1),
136�148. https://doi.org/10.31958/jaf.v10i1.12501
Pratama, Y. A., & Dewi, L. (2023). Pengembangan Kokurikuler: Menumbuhkan
Potensi, Meraih Merdeka Belajar. Indonesia Emas Group.
Purba, E. E., Haliza, N., Christine, J. M., Hanum, S. L.,
& Umar, A. T. (2024). Upaya Guru dalam Mengatasi Masalah Permasalahan
Pembelajaran IPS Pada Era Digital. Jurnal
Nakula: Pusat Ilmu Pendidikan, Bahasa Dan Ilmu Sosial, 2(4), 261�269.
https://doi.org/10.61132/nakula.v2i4.967
Rasimin, Semma, A. B., Zakiyuddin, Ali, M., & Helmy, M.
I. (2024). Multi-dimensional challenges in the Indonesian social science
information technology-based learning: A systematic literature review. Heliyon, 10(7), e28706. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2024.e28706
Safran, S., Hasibuan, A. R., Megarani, O., & Ramadhani,
F. (2024). Rancangan Guru Dalam Pembelajaran Pendidikan IPS Di Era Digital. Bersatu: Jurnal Pendidikan Bhinneka Tunggal
Ika, 2(1), 283�290.
https://doi.org/10.51903/bersatu.v2i1.555
Salsabila, A. F., & Rehnaningtyas, R. (2024). Pengaruh
Revolusi Industri 4.0 Terhadap Hubungan Komunikasi Antarmanusia Dalam Implikasi
Perubahan Sosial Di Era Digital. JURNAL
PENDIDIKAN DAN ILMU SOSIAL (JUPENDIS), 2(1), 68�87. https://doi.org/10.54066/jupendis.v2i1.1180
Septianingsih, R., & Safitri, D. (2023). Media Audio
Visual Dalam Konteks Pembelajaran Ips: Implikasinya Untuk Pendidikan Di Era
Digital. Sindoro: Cendikia Pendidikan,
1(5), 21�30.
https://doi.org/10.9644/sindoro.v1i5.769
Seventilova, I. G. N. O. (2024). Eksplorasi Minat Baca Rendah
Masyarakat Indonesia: Perspektif Multidisiplin. Al-Qalbu: Jurnal Pendidikan, Sosial Dan Sains, 2(1), 52�57.
https://doi.org/10.59896/qalbu.v2i1.68
Sibagariang, D., Sihotang, H., & Murniarti, E. (2021).
Peran guru penggerak dalam pendidikan merdeka belajar di indonesia. Jurnal Dinamika Pendidikan, 14(2), 88�99.
http://repository.uki.ac.id/id/eprint/7959
Siregar, A., & Sumantri, P. (2024). Pemanfaatan media
digital dalam proses pembelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS) terpadu di
Sekolah Dasar Kak Seto. Education
& Learning, 4(1),
17�22. https://doi.org/10.57251/el.v4i1.1242
Teixeira, A. M. (2022). Administrative Support System. In Handbook of Open, Distance and Digital
Education (pp. 1�20). Springer Nature Singapore.
https://doi.org/10.1007/978-981-19-0351-9_48-1
Tiara, T. (2022). Kajian Filsafati Terhadap Kemajuan
Teknologi Pendidikan Di Indonesia. Indonesian
Journal of Teaching and Learning (INTEL), 1(1), 171�178. https://doi.org/10.56855/intel.v1i1.284
Wulandari, A., Alfiani, F., & Saputra, T. (2024).
Pentingnya Mengintegrasikan Pendidikan Kewarganegaraan dalam Kurikulum Sekolah
Melalui Perspektif Global. Jurnal
Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 1(3),
11. https://doi.org/10.47134/pgsd.v1i3.511
Zambrano Tomala, C. C., Vega Intriago, J. O., & Pazmino
Campuzano, M. F. (2024). Design of an educational strategy based on digital
resources for the teaching of social sciences. Minerva, 5(13),
27�37. https://doi.org/10.47460/minerva.v5i13.149