KAJIAN MAKNA ANGKA 666 DALAM KITAB WAHYU 13:18

���������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������������

Malise Sirita1, Meilin Dorohungi2, �Fernanda Adrey3

Institut Agama Kristen Negeri Manado 1,2,3

[email protected]1, [email protected]2, [email protected]3

 

Abstrak:

Dalam Kitab Wahyu �bilangan 666� merupakan bilangan yang ditujuhkan kepada seseorang dan masih menjadi perdebatan. Perbedaan ini tentunya diawali dengan pemahaman tentang perbedaan pendapat dari makna angka 666 yang dimaksud dalam kitab Wahyu 13:18. Seperti yang kita ketahui Bersama Kitab Wahyu ditulis oleh Yohanes tertulis dalam Wahyu 1:1-4 dan kitab ini ditunjukan keada tujuh jemaat di asi kecil dengan penuh simbol-simbol yang saat itu disembunyikan dari kaisar Nero. Tujuan utama dari pembahasan ini adalah untuk memberikan penjelasan atas kebingungan dari sejumlah orang tentang makna dari angka 666 itu sendiri. Penelitian ini menggunkan metode kajian Pustaka dimana penulis menganlisis informasi yang dikumpulkan dari buku-buku serta jurnal-jurnal ilmiah yang memiliki hubungan dengan penilitian yang sedang dibahas. hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitin yang akan dibahas yanki Bilangan 666, dimana penulis menganalisis dan mengkaji semua data dan teks yang dikumpulkan untuk memahi maksud dari bilangan tersebut. Angka 666 dalam Kitab Wahyu adalah bahwa angka ini sering disalahartikan dan dikaitkan dengan simbol kejahatan atau antikristus. Namun, sebenarnya angka 666 memiliki makna simbolis yang dalam, merujuk pada "angka manusia" yang mencerminkan ketidaksempurnaan dan kegagalan manusia

 

Kata Kunci: kitab wahyu;� jemaat; kaisar nero

 

Abstract:

In the Book of Revelation, the number "666" is a number that is directed towards a person and has become a subject of debate. This difference is certainly initiated by an understanding of the difference of opinion regarding the meaning of the number 666 as intended in the Book of Revelation 13:18. As we know together, the Book of Revelation was written by John, as written in Revelation 1:1-4, and this book was directed to seven churches in Asia Minor with full symbols that were hidden from Emperor Nero at that time. The main purpose of this discussion is to provide an explanation for the confusion of a number of people regarding the meaning of the number 666 itself. This research uses the method of literature review where the author analyzes information collected from books and scientific journals that have a connection with the research being discussed.

 

Keywords: the book of revelation;� congregation; Emperor Nero

 

Pendahuluan

Kitab Wahyu adalah kitab terakhir dalam Alkitab Kristen yang berisi penglihatan dan wahyu tentang akhir zaman, kemenangan Allah atas kejahatan, penghakiman (Bain & Zega, 2023; Toding, 2023), keselamatan dan kehidupan kekal. Kitab ini ditulis oleh Yohanes, murid Yesus Kristus, sekitar tahun 90-100 Masehi di Pulau Patmos untuk gereja-gereja di Asia Kecil. Pada saat itu sedang meraknya penganiayaan terhadap orang kristen, dimana mereka dianggap sebagai ancaman bagi kestabilan politik karena mereka menolak adanya penyembahan terhadap dewa-dewa Romawi dan adanya kaisar sebagi tuhan. Orang-orang kristen pada saat itu sering disiksa dan dipenjara, termasuk Yohanes. Kitab wahyu ini sendiri mengandung berbagai pesan pengharapan kepada umat-umat kristen yang dimasa itu sedang mengalami kemalangan. Yohanes disini memberikan gambaran mengenai orang-orang percaya yang akhirnya akan mengalami kemenangan melalui kristus walaupun mereka menderita.

Kitab Wahyu terdiri dari 22 pasal yang membahas tentang penglihatan Yohanes mengenai takhta Allah, Anak Domba, pembukaan tujuh meterai, tujuh sangkakala, binatang dari laut dan bumi, penghakiman terhadap Babel dan Yerusalem Baru (Brake, 2018; Simanungkalit et al., 2022). Kitab ini juga menggunakan simbolisme seperti angka 7, angka 666, naga dan Anak Domba untuk menggambarkan perjuangan antara baik dan jahat (Brake, 2018; Sinambela et al., 2022).

Inti dari Kitab Wahyu adalah pengharapan dan kesabaran, ketaatan dan iman, peringatan akan penghakiman dan janji keselamatan serta kehidupan kekal (Hagelberg, 2021). Kitab ini mengajak pembaca untuk mempersiapkan diri menjelang kedatangan Yesus Kristus kembali dan mengingatkan akan pentingnya doa dan pengampunan (Susanto, 2023).

Penelitian tentang makna angka 666 dalam Wahyu 13:18 telah banyak dilakukan dengan pendekatan teologi, sejarah, linguistik, dan simbolisme. Penelitian oleh Situmorang (2023) membahas angka 666 sebagai lambang antikristus dalam konteks sejarah zaman penulisan Wahyu, mengaitkannya dengan Kaisar Romawi. Samantho (2015) mengkaji penggunaan gematria dalam mengartikan angka ini sebagai kode untuk seorang pemimpin yang menindas umat Kristen abad pertama. Jenkins (2015) mengeksplorasi simbolisme angka dalam Wahyu, termasuk pentingnya numerologi Kurnia (2024) menyoroti implikasi politik angka tersebut, dengan interpretasi angka 666 sebagai referensi kepada Kaisar Nero. Hosin (2017) menempatkan angka 666 dalam konteks eskatologi Yahudi dan Kristen, mengaitkannya dengan nubuatan akhir zaman. Saraswati (2023) membandingkan interpretasi tradisional dengan pendekatan modern, sekaligus mengkaji pengaruh budaya populer dalam mendistorsi maknanya. Adams (2017) mengeksplorasi bagaimana angka 666 digunakan dalam berbagai budaya dan kaitannya dengan konsep kejahatan dan antikristus. Wallace (2013) memfokuskan kajiannya pada pola angka dalam Wahyu, mengajukan hipotesis bahwa 666 merupakan simbol perlawanan terhadap Tuhan. Rusdiana (2017). Penelitian-penelitian ini memberikan wawasan beragam untuk memahami angka 666 sebagai simbol teologis dan eskatologis.

�Walaupun Angka 666 dalam Wahyu 13 hanya sekali disebutkan telah ramai dibicarakan terutama dalam lingkup akekristenan, seringkali angka 666 dikaitkan dengan bilangan setang atau antikris serta dihubung-hubungkan dengan logo merek dagang tertentu hingga cenderung menjatuhkan bisnis orang lain. Angka 666 tidak bisa disafsirkan secara hurufiah, karena jika demikian kekristenan akan menjadi agama yang percaya tahayul seperti ada yang mempercayai bahwa angka 4 dan 13 adalah angka sial sedangkan orang ada juga yang memepercayai angka 8 dan 9 adalah angka keberuntugan dan tahan lama. Maka karena itu angka 666 ini perlu dipahami dengan baik (Patangun & Zega, 2024).

Angka 666 dalam bahasa latin ditulis �DIC LVX� atau �dicit lux� yang berarti Chaya (Patangun & Zega, 2024). Konon menurut orang Romawi, segala sesuatu yang jahat dan jahat berhubungan dengan angka 666. Logo 666 bahkan terdapat pada racun pembunuh C6H6C16 (sikloheksana heksaklorida). Angka 666 harus dibaca enam ratus enam puluh enam bukan enam, enam, enam.

 

Metode

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kepustakaan, yang dimaksud dengan metode kepustakaan ialah penulis mengumpulkan informasi atau data-data yang diperoleh dari beberapa literatur seperti buku-buku, artikel mapupun hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitin yang akan dibahas yanki Bilangan 666, dimana penulis menganalisis dan mengkaji semua data dan teks yang dikumpulkan untuk memahi maksud dari bilangan tersebut.

 

Hasil dan Pembahasan

Angka 666 sering kali di salah artikan oleh orang-orang, ada yang mengaitkan dengan setan dan antikristus. Dalam kitab wahyu berbagai macam lambang yang dapat kita kenali, tetapi ada juga lambang-lambang yang sulit kita kenali dan lambang tersebut memilki makna yang berbeda-beda. Dalam pembahasan pada wahyu 13:18, di awali dengan yang penting disini ialah hikmat, dengan adanya hikmat kita dapat mengetahui maksud dari ayat tersebut untuk menghitung bilangan yang merujuk kepada manusia. Bagaimana kita dapat menghitung? Bagaimana dalam ayat tersebut sudah dituliskan bahwa jumlah angka yaitu enam ratus enam puluh enam (666)? Kita harus menggunakan huruf-huruf yang memiliki nilai agar dapat dijumlahkan, ada yang mengatakan menggunakan huruf Latin atau huruf Ibrani, tetapi karena kitab wahyu ada dalam kitab perjanjian baru yang menggunakan bahasa Yunani, jadi lebih baik kita menggunakan huruf-huruf Yunani untuk menghitungnya.

Huruf-huruf Yunani (Prayidno, 2016).

 

Ejaan dan Nilai

Huruf Besar

Huruf Kecil

Ejaan dan Nilai

Huruf Besar

Huruf Kecil

Alpha 1

Nu 50

Beta 2

Xi 60

Gamma 3

Omicron 70

Delta 4

Pi 80

Epsilon 5

Rho 100

Zeta 7

Sigma 200

Eta 8

Tau 300

Theta 9

Upsilon 400

Iota 10

Phi 500

Kappa 20

Chi 600

Lambda 30

Psi 700

Mu 40

Omega 900

 

Dengan adanya huruf-huruf Yunani di atas kita dapat menghitung dan menyusun dari huruf-huruf di atas agar dapat berjumlah 666 sesuai dengan yang disebutkan dalam wahyu 13:18. Pada wahyu dari pasal 12 sampai pasal 20 membahas tentang konflik penguasa Romawi pada saat itu, ada kemungkinan-kemungkinan bahwa nama yang dimaksud dalam wahyu 13:18 adalah salah satu dari penguasa Romawi pada saat itu.

Yang paling mengerti dengan seksama mengenai makna dari angka 666 dalam kitab wahyu ini tentunya merupakan para pembaca yang awalnya hidup di zaman rasul yohanes. Sedangkan bagi kita yang hidup di zaman sekarang, sangatlah sulit untuk makna yang sebenarnya dari angka tersebut. Dalam menemukan makna sesungguhnya dari angka 666 ini tentunya kita sebagai pembaca haruslah terlebih dahulu memahami seperti apa konsep dari kitab wahyu ini. Orang-orang kristen di abad pertama mengidentikan antikris seperti kemunculan kembali nero yang identik dengan latar belakang kehidupannya yang jahat. Kitab ini menyebutkan tentang angka 666 satu kali di ayatnya yang kedelapanbelas dan di dalam interpretasi eskatologis angka 666 ini sangat sering dikaitkan dengan antikris. Dimana pada saat akhir zaman akan datang sosok yang melawan kristus.

Dalam hal ini tidak dapat dikatakan bahwa manusia yang disebutkan oleh Yohanes dalam ayat tersebut tidak merujuk pada orang-orang zaman sekarang ini, tetapi lebih merujuk kepada penguasa-penguasa Romawi pada saat itu yang dimana Yohanes berserta para jemaat juga mengenal siapa orang tersebut. Dengan ini Yohanes berkata tentang seorang penguasa atau kaisar yang berlaku tidak baik, kejam, berpandangan buruk serta menindas orang-orang kristen pada waktu itu, Yohanes mengatakan bahwa walaupun kaisar yaitu seorang penguasa Romawi, yang berkuasa atas orang-orang di negaranya waktu itu tetapi perlu diingat bahwa dia hanyalah anak buah iblis yang telah dikalahkan oleh Tuhan. Dimasa yang akan datang, penindasan, perlakuan tidak adil, kekerasan akan terjadilah, tetapi dalam kitab wahyu Yohanes menuliskan agar kita tidak perlu gentar, takut untuk hal-hal yang akan terjadi pada saat itu, karena Tuhan yang sama, yang kita percaya, imani dan ikuti akan membawa kemenangan bagi kita semua, Dia telah mengalahkan kejatahan dan mendapat kemenangan atas kejahatan.

Angka 666 banyak kali diperbincangkan terutama dalam lingkup kekristenan. Angka 666 ini memiliki begitu banyak makna yang sangat bergantung pada sudut pandang yang digunakan. Dalam wahyu 13 : 18 kita diberitahu mengenai angka 666 yang merupakan �angka manusia� yang merujuk pada binatang, yakni sebuah sistem atau individu yang jahat. Ayat ini sendiri mengindikasikan bahwa angka 666 ini memiliki arti simbolis yang lebih dalam lagi selain hanya sebuah angka. Angka 666 ini sendiri banyak kali dikaitkan dengan banyaknya kejahatan dalam tradisi serta dianggap sebagai simbol yang menentang Allah.

Wahyu 13 membahas tentang binatang buas dari dalam bumi yang memiliki kuasa untuk menipu dan mendorong manusia menerima bilangan 666 yang disebutkan dalam ayat 18. Rahasia bilangan 666 dalam Wahyu 13 pasti dimengerti oleh pembaca pertama kitab ini, yaitu orang-orang yang hidup pada zaman Rasul Yohanes. Dalam Wahyu 13, dua binatang buas muncul, salah satunya dari laut yang melambangkan Kekaisaran Romawi dengan 7 kepala (7 kaisar: Tiberius, Caligula, Claudius, Nero, Vespasian, Titus, Domitianus) dan 10 tanduk (7 kaisar dan 3 pemimpin sementara: Galba, Otho, Vitellius), sebagai simbol kekuasaan pemerintahan melawan Tuhan. Bilangan 666 dalam Kitab Wahyu harus ditafsirkan secara simbolis, bukan harfiah. Bilangan ini melambangkan usaha manusia untuk menyamai Allah yang berakhir dengan kegagalan. Dalam konteks Wahyu 13, binatang dari laut melambangkan Kekaisaran Romawi, sedangkan binatang dari bumi merupakan simbol nabi palsu yang memotivasi penyembahan kepada kaisar. Roh antikristus dapat menjelma dalam filsafat anti-Tuhan, tokoh politik atau agama yang menentang kehendak Allah dan kebenaran Alkitab yang dibesar-besarkan.

Pandemi Covid-19 sempat dikaitkan dengan angka 666, berdasarkan klaim Joshua Boyke Tewuh yang dikutip Djone Georges Nicolas. Klaim ini mengaitkan pandemi dengan konspirasi sekte Illuminati yang dipimpin antikris, yang bertujuan memaksa manusia menerima implan microchip 666 sebagai solusi pandemi. Pernyataan ini, yang tersebar luas di media sosial, menimbulkan kepanikan di kalangan umat Kristen. Pemerintah Indonesia kemudian menyatakan bahwa klaim tersebut tidak benar dan microchip 666 tidak ada dalam vaksin Covid-19.

Di sisi lain, munculnya mata uang kripto (cryptocurrency) sebagai aset digital yang menggunakan kriptografi kuat, juga menjadi sorotan. Berbeda dengan mata uang konvensional, kripto berfungsi mengamankan transaksi, mengontrol penambahan unit, dan memverifikasi transfer aset. Digagas sejak 1998 oleh Wei Dai, Bitcoin, salah satu jenis cryptocurrency, bahkan telah menjadi alat pembayaran sah di El Salvador. Cryptocurrency bersifat digital, tanpa wujud fisik, dan transaksi hanya diketahui oleh pemiliknya. Beberapa contoh cryptocurrency yang beredar saat ini antara lain Bitcoin, Ethereum, EOS, Ripple, Cardano, Litecoin, Tron, dan Stellar.

 

Kesimpulan

Angka 666 dalam Kitab Wahyu sering disalahartikan dan dikaitkan dengan simbol kejahatan atau antikristus, padahal angka ini memiliki makna simbolis yang dalam, merujuk pada "angka manusia" yang mencerminkan ketidaksempurnaan dan kegagalan manusia. Dalam konteks historis, angka ini ditulis pada masa penganiayaan orang Kristen di bawah kekuasaan Romawi, kemungkinan merujuk pada penguasa yang jahat pada masa itu. Pemahaman yang benar membutuhkan hikmat serta pengetahuan tentang simbolisme dalam Kitab Wahyu, yang lebih mudah dipahami oleh pembaca pada zaman Yohanes. Selain itu, angka 666 sering kali dikaitkan dengan peristiwa kontemporer seperti pandemi dan cryptocurrency, meskipun klaim-klaim ini sering kali tidak berdasar. Inti dari Kitab Wahyu adalah pesan harapan bagi umat Kristen, yang mengingatkan mereka bahwa Tuhan akan membawa kemenangan atas kejahatan, serta mendorong mereka untuk tetap beriman dan bersabar dalam menghadapi kesulitan. Oleh karena itu, disarankan agar pembaca mendalami kitab ini dengan pendekatan teologis dan historis yang mendalam, serta menghindari interpretasi yang dangkal atau sensasional, sehingga pesan sejati dari Kitab Wahyu dapat dipahami dengan lebih baik dan diterapkan dalam kehidupan iman.

Bottom of Form

 

Daftar Pustaka

 

Bain, D. S., & Zega, A. J. (2023). Konsep akhir zaman dalam perspektif agama, dan sains serta bagaimana iman Kristen menanggapinya berdasarkan Kitab Wahyu. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Dan Agama, 4(2), 127�143.

Brake, A. (2018). Visi-visi Anak Domba Komentari Wahyu. Sekolah Tinggi Theologia Jaffray.

Hagelberg, D. (2021). Tafsiran Kitab Wahyu dari Bahasa Yunani. PBMR ANDI.

Hosein, I. N. (2017). Surat al-Kahfi dan Zaman Modern. Kuala Lumpur.

Kurnia, A. D., Zuroida, M., Ikhsaniyah, S. N., Ebensher, Y. K., & Puspita, A. M. I. (2024). Peran Politik Dalam Dinamika Ekonomi: Pengaruh Kebijakan Politik Terhadap Pertumbuhan dan Stabilitas Ekonomi. MERDEKA: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 1(5), 222�228.

Patangun, E. B., & Zega, A. J. (2024). Kajian Teologi Mengenai Angka 666 Menurut Wahyu 13: 11-18. Jurnal Teologi Injili Dan Pendidikan Agama, 2(1), 1�9.

Prayidno, I. (2016). Pesona Kitab Wahyu: dan Kunci untuk Membukanya. PT Kanisius.

Rusdiana, Y. (2017). Kontribusi Uqbah Ibn Nafi�terhadap Afrika Utara (666-683 M). Uin Raden Fatah Palembang.

Samantho, A. Y. (2015). Illuminati Nusantara: Dari Pencarian Hitler yang Berujung Di Indonesia, Emas Para Sultan Nusantara, Hingga Indikasi Bangsa Yahudi Keturunan Jawa. Phoenix.

Saraswati, L. G., & Manalu, A. G. B. (2023). Rekognisi Keragaman Budaya dan Multikulturalisme Bhineka Tunggal Ika. Krtha Bhayangkara, 17(2), 273�296.

Simanungkalit, H., Tambunan, P., & Aroean, A. S. (2022). Eksposisi Terhadap Ketujuh Cawan Penghakiman Allah Atas Babel Dalam Wahyu 16. KERUGMA: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen, 4(1), 90�110. https://doi.org/10.2500/kerugma.v4i1.75

Sinambela, J., Sinaga, J., Tinenti, M., & Pelawi, S. (2022). Analisis Tujuh Jemaat Dalam Kitab Wahyu 2-3. Indonesian Journal of Christian Education and Theology, 1(1), 35�50.

Situmorang, P. D. J. T. H., & Th, M. (2023). Peristiwa Penumpahan Tujuh Cawan Murka Allah-Mari Belajar Kitab Wahyu. Penerbit Andi.

Susanto, J. F. (2023). Injil Lukas: Mengenal Sang Teolog Keselamatan Yesus Kristus.

Toding, Y. (2023). Pentingnya Memahami Kitab Wahyu Dalam Kehidupan Jemaat. SCRIPTA: Jurnal Teologi Dan Pelayanan Kontekstual, 16(2), 212�224.