EVALUASI ANALISIS KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN SUB-SEKTOR D-22 PROCESSED FOODS YANG TERCATAT DI BURSA EFEK INDONESIA 2018-2022

 

Yosep Suteja

Universitas Mercu Buana Jakarta, Indonesia

[email protected]

Abstrak:

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengevaluasi dan melakukan analisis pada kinerja keuangan Perusahaan sub-sektor D-22 Processed Foods yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2018 sampai dengan tahun 2022. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan memperbandingkan dan menganalisis rasio keuangan dan tren perkembangan setiap Perusahaan selama 5 tahun terakhir. Analisis kinerja menggunakan rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio solvabilitas dan rasio profitabilitas. Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari laporan keuangan tahunan Perusahaan yang dipublikasikan dalam periode 2018 hingga 2022. Hasil perhitungan rasio likuiditas menunjukkan bahwa adanya peningkatan dalam kebutuhan modal kerja setiap tahunnya dan ada pengingkatan kemampuan Perusahaan untuk memenuhi kewajibannya. Hasil perhitungan rasio aktivitas menunjukkan adanya penurunan kinerja keuangan Perusahaan dalam menghasilkan pendapatan operasional relatif terhadap investasi yang dilakukan dan adanya penurunan efisiensi penggunaan asset Perusahaan dalam menghasilkan pendapatan. Hasil rasio solvabilitas menunjukkan hasil yang bervariasi ada Perusahaan yang lebih banyak menggunakan sumber dana darihutang dibandingkan dengan ekuitasnya untuk membiayai operasional dan investasi dan ada juga yang menunjukkan sebaliknya. Berdasarkan hasil perhitungan rasio profitabilitas menunjukkan penurunan kinerja atau efisiensi penggunaan asset dan ekuitas Perusahaan dalam menghasilkan laba. Penelitian ini dapat menjadi wawasan yang berharga bagi para pemangku kepentingan, termasuk investor, manajemen perusahaan, dan regulator pasar modal, dalam mengevaluasi kinerja keuangan perusahaan sub-sektor D-22 Processed Foods yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Temuan pada penelitian ini dapat jadikan sebagai dasar untuk mengambil keputusan investasi dan mengembangkan strategi bisnis di industri makanan olahan. Selain itu, penelitian ini juga memberikan kontribusi pada literatur akademik dalam bidang analisis kinerja keuangan perusahaan di sektor makanan olahan.

 

 

Kata Kunci: kinerja keuangan, sub-sektor D-22 Processed Foods, Bursa Efek Indonesia

 

Abstract:

This study aims to evaluate and analyze the financial performance of companies in the D-22 Processed Foods sub-sector listed on the Indonesia Stock Exchange from 2018 to 2022. The research method involves comparing and analyzing financial ratios and development trends of each company over the past 5 years. Performance analysis includes liquidity ratios, activity ratios, solvency ratios, and profitability ratios. Data used in the study were obtained from the annual financial reports of the companies published from 2018 to 2022. The results of liquidity ratio calculations indicate an annual increase in working capital requirements and an improvement in the company's ability to meet its obligations. Activity ratio calculations show a decline in the financial performance of companies in generating operational income relative to the investments made, along with a decrease in the efficiency of using company assets to generate income. Solvency ratio results vary, with some companies relying more on debt than equity to finance operations and investments, while others show the opposite. Profitability ratio calculations reveal a decline in the performance or efficiency of using assets and equity to generate profits. This research provides valuable insights for stakeholders, including investors, company management, and capital market regulators, in evaluating the financial performance of companies in the D-22 Processed Foods sub-sector listed on the Indonesia Stock Exchange. The findings can serve as a basis for investment decisions and business strategy development in the processed food industry. Additionally, the study contributes to academic literature in the field of financial performance analysis of companies in the processed food sector.

Top of Form

 

 

Keywords: financial performance, D-22 Processed Foods sub-sector, Indonesia Stock Exchange

����� ����

 


 

Pendahuluan

Industri makanan olahan atau processed foods adalah salah satu sektor yang penting dalam industri pangan. Produk makanan olahan telah menjadi bagian penting dari pola konsumsi masyarakat modern. Proses pengolahan makanan membantu dalam meningkatkan daya tahan, kenyamanan, dan nilai gizi produk makanan. Industri makanan olahan memiliki potensi pertumbuhan yang signifikan di berbagai negara, termasuk Indonesia, karena perubahan gaya hidup dan meningkatnya permintaan konsumen akan produk makanan yang praktis dan siap saji. Pada tahun 2019 hingga tahun 2022 telah terjadi Pandemi Covid-19, salah satu dampak negatif dari Covid-19 adalah terjadinya penurunan permintaan pada beberapa komoditas yang menyebabkan turunnya profit. Pada Perusahaan yang bergerak di bidang Kesehatan dan barang kebutuhan pokok dalam kondisi ini mengalami profit yang tinggi. Bagi Perusahaan kondisi pandemi ini mengancam dana kas, pilihan Perusahaan agar tetap bisa bertahan adalah dengan terlibat dalam persaingan harga dan melakukan penekanan pada biaya keluar dan operasional Perusahaan, sedangkan bagi bisnis yang tidak menguntungkan akan ditutup.

Sektor industri makanan olahan merupakan salah satu bidang usaha yang berkembang dan terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Kecenderungan Masyarakat terhadap makanan cepat saji di Indonesia mengakibatkan banyak bermunculan pelaku usaha makanan baru karena sektor tersebut diyakini memiliki prospek yang menjanjikan baik saat ini maupun dimasa yang akan datang.

Menurut Wiratna (2017:71) menyatakan bahwa Kinerja keuangan merupakan hasil dari evaluasi terhadap pekerjaan yang telah selesai dilakukan, hasil pekerjaan tersebut dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan bersama. Baik atau buruknya kinerja suatu perusahaan dapat dilihat dari laporan keuangan perusahaan. Analisis laporan keuangan pada dasarnya membantu dalam menilai status keuangan suatu perusahaan. Tujuan yang dicapai ketika menganalisis laporan keuangan mengenai status keuangan adalah untuk melakukan analisis rasio keuangan. Dalam konteks ini, analisis kinerja keuangan Perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dalam Sub-sektor D22 Processed Foods menjadi sangat penting.

 

Metode

Penelitian ini menggunakan Teknik kuantitatif deskripsi. Peneliti akan meneliti Perusahaan-perusahaan dalam sub sektor makanan olahan (processed foods) yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dari tahun 2018 hingga 2022. Data laporan keuangan yang digunakan diambil dari website resmi Perusahaan. Untuk objek penelitian ini, ada 4 perusahaan dari 19 perusahaan sub sektor makanan olahan yang peneliti gunakan. Masing-masing rasio yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah rasio likuiditas yaitu net working capital dan current ratio, rasio aktivitas yaitu operating income return on investment (oiroi) dan total asset turnover, rasio solvabilitas yaitu debt to asset ratio dan debt to equity ratio, dan rasio profitabilitas yaitu Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE).

 

 

 

Hasil dan Pembahasan

1��� Rasio Likuiditas

 

Tabel 1 Net Working Capital

No

Code Perusahaan

Net Working Capital

Rata-rata selama 5 Tahun

2018

2019

2020

2021

2022

1

ICBP

��� 6.886,20

10.068,60

11.540,10

15.101,50

21.036,40

������������� 12.926,56

2

GOOD

������� 242,39

������� 696,01

��� 1.008,00

������� 842,00

��� 1.359,00

������������������ 829,48

3

MYOR

��� 7.883,34

��� 9.049,74

��� 9.363,40

��� 7.399,01

��� 9.135,99

��������������� 8.566,30

4

STTP

������� 574,13

������� 756,91

������� 879,74

��� 1.504,48

��� 2.044,69

��������������� 1.151,99

Rata-Rata NWC 4 Perusahaan

��������� 3.897

��������� 5.143

��������� 5.698

��������� 6.212

��������� 8.394

 

Rata-Rata Net Working Capital 4 Perusahaan 5 Tahun

�������������������� 5.869

Net Working Capital

Sumber : Data Terproses (2023)

 

Gambar 1 Grafik

Net Working Capita

Sumber : Data Terproses (2023)

 

 

Berdasarkan data diatas penulis menyimpulkan bahwa perusahaan yang memiliki net working capital tertinggi terletak pada PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dengan rata-rata 5 tahun sebesar 12.926,56 dan berada diatas rata-rata industri sebesar 5.869 yang artinya menunjukkan bahwa PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) memiliki cukup asset lancar (current assets) untuk memenuhi kewajiban lancar (current liabilities). Ini menunjukkan bahwa PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) memiliki likuiditas yang baik dan dapat memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan mudah. Dan net working capital terendah terletak pada PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) dengan rata-rata 5 tahun sebesar 829,48 dan berada dibawah rata-rata industri sebesar 5.869.

 

2. Current Ratio

Tabel 2 Current Ratio

No

Code Perusahaan

Current ratio

Rata-rata selama 5 Tahun

2018

2019

2020

2021

2022

1

ICBP

1,95

2,54

2,26

1,80

3,10

2,33

2

GOOD

1,18

1,53

1,76

1,47

1,74

1,54

3

MYOR

2,65

3,42

3,69

2,32

2,62

2,94

4

STTP

1,84

2,85

2,40

4,16

4,85

3,22

Rata-Rata Current Ratio 4 Perusahaan

����������� 1,91

2,59

2,53

2,44

3,08

 

Rata-Rata Current Ratio 4 Perusahaan 5 Tahun

����������������������� 2,51

 

Sumber : Data Terproses (2023)

 

Gambar Grafik 2 Current Ratio

Sumber : Data Terproses (2023)

 

Berdasarkan data diatas penulis menyimpulkan bahwa perusahaan yang memiliki current ratio tertinggi terletak pada PT. Siantar Top Tbk (STTP) dengan rata-rata 5 tahun sebesar 3,22 dan berada diatas rata-rata industri sebesar 2,51 yang artinya menunjukkan bahwa PT. Siantar Top Tbk (STTP) memiliki asset lancar (current assets) yang cukup besar untuk memenuhi kewajiban lancar (current liabilities). Ini menunjukkan bahwa PT. Siantar Top Tbk (STTP) memiliki likuiditas yang baik dan dapat memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan mudah. Dengan memiliki asset lancar yang cukup besar, Perusahaan dapat melindungi dirinya dari resiko keuangan yang mungkin timbul. Dan current ratio terendah terletak pada PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) dengan rata-rata 5 tahun sebesar 1,54 dan berada dibawah rata-rata industri sebesar 2,51.

3��� Rasio Aktivitas

1. Operating Income Return on Investment (OIROI)

 

Tabel 3 Operating Income Return on Investment (OIROI)

No

Code Perusahaan

Operating Income Return on Investment (OIROI)

Rata-rata selama 5 Tahun

2018

2019

2020

2021

2022

1

ICBP

0,18

0,19

0,08

0,09

0,11

0,13

2

GOOD

0,15

0,13

0,03

0,07

0,07

0,09

3

MYOR

0,14

0,16

0,14

0,08

0,10

0,12

4

STTP

0,12

0,21

0,22

0,16

0,12

0,17

Rata-Rata OIROI 4 Perusahaan

0,15

0,17

0,12

0,10

0,10

 

Rata-Rata Operating Income Return on Investment (OIROI) 4 Perusahaan 5 Tahun

0,13

 

Sumber : Data Terproses (2023)

 

Gambar Grafik 3

Operating Income Return on Investment (OIROI)

Sumber : Data Terproses (2023)

 

 

 

Berdasarkan data diatas penulis menyimpulkan bahwa perusahaan yang memiliki Operating Income Return on Investment (OIROI) tertinggi terletak pada PT. Siantar Top Tbk (STTP) dengan rata-rata 5 tahun sebesar 0,17 dan berada diatas rata-rata industri sebesar 0,13 yang artinya menunjukkan bahwa PT. Siantar Top Tbk (STTP) telah berhasil menghasilkan pendapatan operasional (operating income) yang tinggi dibandingkan dengan investasi yang telah dilakukan. Ini menunjukkan bahwa PT. Siantar Top Tbk (STTP) memiliki efisiensi dalam mengelola sumber daya dan proses operasionalnya. Dengan menghasilkan pendapatan operasional yang tinggi secara konsisten, Perusahaan dapat memperoleh keuntungan yang lebih besar dan meningkatkan nilai bagi pemegang saham. Dan Operating Income Return on Investment (OIROI) terendah terletak pada PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) dengan rata-rata 5 tahun sebesar 0,09 dan berada dibawah rata-rata industri sebesar 0,13.

2. Total Assets Turnover

Tabel 4

Total Assets Turnover

No

Code Perusahaan

Total Assets Turnover

Rata-rata selama 5 Tahun

2018

2019

2020

2021

2022

1

ICBP

1,11

1,09

0,45

0,48

0,56

0,74

2

GOOD

1,90

1,66

1,15

1,30

1,43

1,49

3

MYOR

1,36

1,31

1,23

1,40

1,37

1,33

4

STTP

1,07

1,21

1,11

1,08

1,07

1,11

Rata-Rata Total Assets Turnover 4 Perusahaan

1,36

1,32

0,99

1,07

1,11

 

Rata-Rata Total Assets Turnover 4 Perusahaan 5 Tahun

1,17

 

Sumber : Data Terproses (2023)

 

Gambar Grafik 4

Total Assets Turnover

Sumber : Data Terproses (2023)

 

 

Berdasarkan data diatas penulis menyimpulkan bahwa perusahaan yang memiliki Total Assets Turnover tertinggi terletak pada PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) dengan rata-rata 5 tahun sebesar 1,49 dan berada diatas rata-rata industri sebesar 1,17 yang artinya menunjukkan bahwa PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) telah berhasil menghasilkan pendapatan yang tinggi dengan penggunaan asset yang efisien. Ini menunjukkan bahwa PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) telah mengelola dan memanfaatkan asset dengan efisien, sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan efektivitas operasional. Ini juga mengindikasikan bahwa PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) memiliki pengelolaan stok yang baik dengan mengurangi stok yang tidak perlu atau berlebihan, Perusahaan dapat mengoptimalkan penggunaan asset dan menghindari biaya penyimpanan yang tinggi. Total assets turnover yang tinggi dapat membuat Perusahaan menjadi lebih menarik bagi investor. Dan Total assets turnover terendah terletak pada PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dengan rata-rata 5 tahun sebesar 0,74 dan berada dibawah rata-rata industri sebesar 1,17.

3. Rasio Solvabilitas

1. Debt to Assets Ratio (DAR)

 

Tabel 5 Debt to Assets Ratio (DAR)

No

Code Perusahaan

Debt to Assets Ratio (DAR)

Rata-rata selama 5 Tahun

2018

2019

2020

2021

2022

1

ICBP

0,34

0,31

0,51

0,53

0,50

0,44

2

GOOD

0,41

0,45

0,56

0,55

0,54

0,50

3

MYOR

0,51

0,48

0,43

0,43

0,42

0,45

4

STTP

0,37

0,25

0,22

0,15

0,14

0,23

Rata-Rata DAR 4 Perusahaan

0,41

0,37

0,43

0,42

0,40

 

Rata-Rata Debt to Assets Ratio (DAR) 4 Perusahaan 5 Tahun

0,41


Sumber : Data Terproses (2023)

 

Gambar Grafik 5

Debt to Assets Ratio (DAR)

Sumber : Data Terproses (2023)

 

Berdasarkan data diatas penulis menyimpulkan bahwa perusahaan yang memiliki Debt to Assets Ratio (DAR) tertinggi terletak pada PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) dengan rata-rata 5 tahun sebesar 0,50 dan berada diatas rata-rata industri sebesar 0,41 yang artinya menunjukkan bahwa PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) memiliki tingkat resiko keuangan yang tinggi karena memiliki proporsi utang yang tinggi dibandingkan dengan total asset yang dimiliki. Perusahaan dengan tingkat utang yang tinggi harus membayar bunga dan pokok utang yang lebih besar, sehingga meningkatkan resiko ketidakmampuan untuk memenuhi kewajiban finansialnya. Debt to Assets Ratio (DAR) yang tinggi juga dapat menunjukkan bahwa Perusahaan sangat bergantung pada pendanaan melalui utang, hal ini dapat mengurangi profitabilitas Perusahaan dan mengurangi kemampuan untuk melakukan investasi atau membayar dividen kepada pemegang saham. Dan Debt to Assets Ratio (DAR) terendah terletak pada PT. Siantar Top Tbk (STTP) dengan rata-rata 5 tahun sebesar 0,23 dan berada dibawah rata-rata industri sebesar 0,41.

�����������

Tabel 6 Debt to Equity Ratio (DER)

 

No

Code Perusahaan

Debt to Equity Ratio (DER)

Rata-rata selama 5 Tahun 

2018

2019

2020

2021

2022

1

ICBP

0,51

0,45

1,04

1,15

1,01

0,83

2

GOOD

0,69

0,83

1,25

1,22

1,19

1,04

3

MYOR

1,06

0,92

0,75

0,75

0,74

0,84

4

STTP

0,59

0,34

0,29

0,18

0,16

0,31

Rata-Rata DER 4 Perusahaan

0,71

0,64

0,83

0,83

0,78

 

Rata-Rata Debt to Equity Ratio (DER) 4 Perusahaan 5 Tahun

0,76

Debt to Equity Ratio (DER)

Sumber : Data Terproses (2023)

 

 

Gambar Grafik 6

Debt to Equity Ratio (DER)

Sumber : Data Terproses (2023)

 

Berdasarkan data diatas penulis menyimpulkan bahwa perusahaan yang memiliki Debt to Equity Ratio (DER) tertinggi terletak pada PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) dengan rata-rata 5 tahun sebesar 1,04 dan berada diatas rata-rata industri sebesar 0,76 yang artinya menunjukkan bahwa PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) memiliki proporsi utang yang tinggi. Perusahaan mungkin menghadapi kesulitan dalam mendapatkan sumber pendanaan lain, seperti ekuitas atau pendanaan internal, yang dapat membatasi fleksibilitas keuangan dan pertumbuhan jangka panjang. Perusahaan yang memiliki Debt to Equity Ratio (DER)yang tinggi meningkatkan resiko kesulitan keuangan, terutama jika Perusahaan mengalami penurunan pendapatan. Dan Debt to Equity Ratio (DER) terendah terletak pada PT. Siantar Top Tbk (STTP) dengan rata-rata 5 tahun sebesar 0,31 dan berada dibawah rata-rata industri sebesar 0,76.

Tabel 7

Return on Assets (ROA)

No

Code Perusahaan

Return on Assets (ROA)

Rata-rata selama 5 Tahun

2018

2019

2020

2021

2022

1

ICBP

19,50

20,30

12,90

10,50

11,50

14,94

2

GOOD

10,10

8,61

3,67

7,28

7,12

7,36

3

MYOR

10,00

11,00

11,00

6,00

9,00

9,40

4

STTP

9,69

16,75

18,23

15,76

13,60

14,81

Rata-Rata ROA 4 Perusahaan

12,32

14,17

11,45

9,89

10,31

 

Rata-Rata Return on Assets (ROA) 4 Perusahaan 5 Tahun

11,63

Sumber : Data Terproses (2023)

 

Gambar Grafik 7

Return on Assets (ROA)
Sumber : Data Terproses (2023)

 

Berdasarkan data diatas penulis menyimpulkan bahwa perusahaan yang memiliki Return on Assets (ROA) tertinggi terletak pada PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) dengan rata-rata 5 tahun sebesar 14,94 dan berada diatas rata-rata industri sebesar 11,63 yang artinya menunjukkan bahwa PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) berhasil menghasilkan keuntungan yang tinggi dibandingkan dengan asset yang dimiliki. PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) telah efisien dalam memanfaatkan asset untuk menghasilkan keuntungan. Perusahaan mampu menghasilkan pendapatan yang tinggi dengan biaya operasional yang terkendali, sehingga meningkatkan profitabilitas. Hal ini juga menunjukkanbahwa PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) memiliki pengelolaan risiko yang baik. Dan Return on Assets (ROA) terendah terletak pada PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) dengan rata-rata 5 tahun sebesar 7,36 dan berada dibawah rata-rata industri sebesar 11,63.

 

Tabel 8 Return on Equity (ROE)

No

Code Perusahaan

Return on Equity (ROE)

Rata-rata selama 5 Tahun

2018

2019

2020

2021

2022

1

ICBP

21,70

21,70

19,20

15,00

10,20

17,56

2

GOOD

17,09

15,76

8,26

16,19

15,57

14,57

3

MYOR

21,00

21,00

19,00

11,00

15,00

17,40

4

STTP

15,49

22,47

23,52

18,71

15,90

19,22

Rata-Rata ROE 4 Perusahaan

18,82

20,23

17,50

15,23

14,17

 

Rata-Rata Return on Equity (ROE) 4 Perusahaan 5 Tahun

17,19

Return on Equity (ROE)

Sumber : Data Terproses (2023)

 

Gambar Grafik 8

Return on Equity (ROE)

Sumber : Data Terproses (2023)

 

 

Berdasarkan data diatas penulis menyimpulkan bahwa perusahaan yang memiliki Return on Equity (ROE) tertinggi terletak pada PT. Siantar Top Tbk (STTP) dengan rata-rata 5 tahun sebesar 19,22 dan berada diatas rata-rata industri sebesar 17,19 yang artinya menunjukkan bahwa PT. Siantar Top Tbk (STTP) berhasil memperoleh keuntungan yang tinggi bagi para pemegang saham dibandingkan dengan ekuitas yang dimiliki. PT. Siantar Top Tbk (STTP) telah efisien dalam memanfaatkan modalnya untuk mendapatkan keuntungan bagi para pemegang saham. Perusahaan dengan Return on Equity (ROE) yang tinggi cenderung menunjukkan kualitas manajemen yang baik, pertumbuhan yang berkelanjutan dan kemampuan untuk menghasilkan keuntungan yang tinggi dalam jangka panjang. Dan Return on Equity (ROE) terendah terletak pada PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) dengan rata-rata 5 tahun sebesar 14,57 dan berada dibawah rata-rata industri sebesar 17,19.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa Perusahaan menunjukkan kinerja keuangan yang positif. Rasio likuiditas yang tinggi menandakan kemampuan baik dalam memenuhi kewajiban finansial jangka pendek. Sementara rasio aktivitas yang tinggi mengindikasikan efisiensi yang baik dalam penggunaan aset untuk menghasilkan pendapatan. Selain itu, rasio solvabilitas yang tinggi menunjukkan kemampuan Perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial jangka panjang. Terakhir, rasio profitabilitas yang tinggi menandakan bahwa Perusahaan mampu menghasilkan keuntungan yang signifikan dibandingkan dengan pendapatan atau aset yang dimilikinya.

 

Daptar Pustaka

 

http://repository.unas.ac.id/5882/3/BAB%20II.pdf

 

http://eprints.pknstan.ac.id/412/5/06.%20Bab%20II_Arya%20Wibisono_1302190313.pdf

 

Dr. Pardomuan Sihombing. 2018. Corporate Financial Management. Bogor : IPB Press.

 

https://adoc.pub/bab-iii-metode-penelitian-jenis-penelitianyang-digunakan-ada5b2919747ae93e7556fe4626eddc7fd497167.html

 

http://repository.dharmawangsa.ac.id/171/7/BAB%20II_15510034.pdf

 

Endri,E,. Susanti,D,. Hutabarat,. Simanjutak,T,p,. & Handayani,S,. (2020).
���� Financial Performance Evaluation : Empirical Evidence of Pharmaceutical
���� Companies in Indonesia. Sys Rev Pharm, 11(6), 803 816.

 

https://jurnal-stiepari.ac.id/index.php/gemilang/article/download/141/151

 

https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/emba/article/view/42070/37620

 

Nurhayati,I,. Endri,E,. & Siswanto ,I,H. (2020). Financial Performance Analysis:
���� Evidence of Retail Trade Companies in Indonesia. International Journal of
���� Innovation, Creativity and Change, Vol. 14, I.1.

 

https://jurnaltsm.id/index.php/EJATSM/article/download/1348/744/

 

Rusdana,F,. & Endri,. (2020). Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan Tembakau
��� yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Konsep Bisnis dan
��� Manajemen), 6(2), 179-187.

 

http://repository.stei.ac.id/6491/3/BAB%202.pdf

 

https://e-journal.unmas.ac.id/index.php/karma/article/download/5382/4096/11941