DIALOG DAN MEDIASI: PERSPEKTIF KOMUNIKASI KONFLIK
DALAM STRATEGI MANAJEMEN KONFLIK
Ori
Erlangga1, Syamsir2, M. Ferdian Abduravi3, Hilman
Mulki Syaenra4, Muhammad
Fayet5, Pio
Andika Nambela6
Universitas Negeri Padang, Indonesia
Abstrak:
Konflik
yang terjadi di sanggar seni Rumah Gadang adalah konflik internal yang sering
terjadi dan menjadi hal yang biasa bagi pelatih dan anggota sanggar. Perspektif
komunikasi konflik memandang dialog dan mediasi sebagai strategi manajemen
konflik yang efektif untuk konflik internal. Namun, dalam kasus konflik di
sanggar seni Rumah Gadang, dialog dan mediasi belum mampu menyelesaikan konflik
secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi proses manajemen
konflik yang telah dilakukan oleh pengurus sanggar seni. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode fenomenologi. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga faktor utama yang menghambat proses
dialog dan mediasi, yaitu perbedaan latar belakang budaya, perbedaan
kepentingan, perubahan nilai, dan kurangnya keharmonisan dalam interaksi
sosial. Efektifitas proses dialog dan mediasi dapat didorong oleh netralitas
pihak yang berkonflik, pemberdayaan komunitas, dan program kerja yang
berkelanjutan.
Kata Kunci: konflik
internal, manajemen konflik, komunikasi konflik
Abstract:
The
conflicts that occur in the Rumah Gadang art studio are internal conflicts that
often occur and are commonplace for trainers and studio members. The conflict
communication perspective views dialogue and mediation as effective conflict
management strategies for internal conflicts. However, in the case of the
conflict at the Rumah Gadang art studio, dialogue and mediation have not been
able to resolve the conflict completely. This research aims to evaluate the
conflict management process carried out by art studio administrators. This
research uses a descriptive qualitative approach with phenomenological methods.
The research results show that there are three main factors that hinder the
dialogue and mediation process, namely differences in cultural background,
differences in interests, changes in values, and lack of harmony in social
interactions. The effectiveness of dialogue and mediation processes can be
driven by the neutrality of parties in conflict, community empowerment, and
sustainable work programs.
Keywords:
internal
conflict, conflict management, conflict communication
����� ����
Pendahuluan
Perspektif komunikasi konflik merupakan satu
prakiraan yang digunakan untuk memahami dan menganalisis konflik yang terjadi
antara individu, kelompok, dan masyarakat. Dalam konteks konflik, perspektif
ini dapat membantu dalam memahami bagaimana konflik terjadi dan bagaimana
komunikasi memainkan peran penting dalam penyelesaiannya. Menurut Aubrey B.
Fisher, terdapat empat perspektif komunikasi antar pribadi, yaitu perspektif
mekanistik, psikologis, interaksional, dan pragmatis. Perspektif mekanistik
menekankan unsur saluran fisik komunikasi, sementara perspektif psikologis
fokus pada mekanisme internal penerimaan dan pengolahan informasi. Perspektif
interaksional dan pragmatis memperlihatkan pengaruh sosiologi pada komunikasi
antar pribadi.
Konflik adalah suatu bentuk pertentangan alamiah
yang berasal dari individu atau kelompok karena perbedaan kepercayaan, sikap,
kebutuhan, dan nilai. Menurut Soerjono Soekanto, konflik adalah suatu keadaan
pertentangan antara dua pihak untuk berusaha memenuhi tujuan dengan cara
menentang pihak lain. Konflik juga dapat didefinisikan sebagai perjuangan yang
dilakukan oleh berbagai pihak untuk memperoleh hal-hal yang langka seperti
nilai, status, kekuasaan, otoritas, dan lain sebagainya. Beberapa faktor
penyebab konflik antara lain perbedaan individu, perbedaan latar belakang
kebudayaan, perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok,
perubahan-perubahan nilai, dan kurangnya keharmonisan dalam interaksi sosial.
Jenis-jenis konflik meliputi konflik individu, konflik rasial, konflik agama,
konflik antara kelas sosial, dan konflik politik.
Konflik yang sering terjadi disanggar seni rumah
gadang adalah perbedaan pendapat dengan latar belakang budaya yang berbeda
diatara pelatih yang nantinya akan berdampak kepada anggota. Perbedaan pendapat
ini bisa muncul dalam berbagai aspek, seperti pemilihan tema pementasan, metode
pelatihan, atau tata kelola sanggar. Konflik semacam ini umumnya dapat diatasi
melalui komunikasi yang baik dan musyawarah antaranggota.
Konflik sering kali dipandang sebagai masalah yang
harus dihindari atau ditekan karena dapat menimbulkan dampak negatif. Namun,
jika konflik dikelola dengan baik, konflik dapat menjadi kekuatan positif yang
dapat meningkatkan inovasi dan produktivitas individu. Dampak konflik
tergantung pada cara pengelolaannya. Konflik dapat berdampak positif jika
dikelola secara konstruktif, yaitu dengan mengutamakan kerjasama. Sebaliknya,
konflik dapat berdampak negatif jika dikelola secara destruktif, yaitu dengan
mengutamakan persaingan.
Konflik dalam proses komunikasi terjadi akibat
pelemparan pesan yang tidak memuaskan antara komunikan dengan komunikator.
Perspektif konflik digunakan untuk menggeneralisasi berbagai analisis yang
menggunakan pendekatan konflik. Perspektif komunikasi konflik melibatkan dialog
dan mediasi sebagai strategi manajemen konflik yang efektif. Dalam konteks
manajemen konflik, dialog dan mediasi dapat membantu mengatasi perbedaan
pendapat dan mencari solusi yang saling menguntungkan bagi semua pihak yang
terlibat. Para ahli juga telah mengemukakan pandangan mereka mengenai dialog
dan mediasi sebagai strategi manajemen konflik. Menurut Usman Ridwan, dialog
dan mediasi dapat membantu mengatasi konflik dengan cara membangun hubungan
yang harmonis antara pihak yang terlibat. Dalam konteks manajemen konflik di
organisasi, dialog dan mediasi juga dapat membantu memperbaiki hubungan
antarindividu dan meningkatkan produktivitas kerja. Menurut Robbins dan Judge,
dialog dan mediasi dapat membantu mengatasi konflik dengan cara memfasilitasi
komunikasi yang efektif dan mencari solusi yang saling menguntungkan bagi semua
pihak yang terlibat. Dengan demikian, perspektif komunikasi konflik melibatkan
dialog dan mediasi sebagai strategi manajemen konflik yang efektif, yang
didukung oleh faktor netralitas pihak yang terlibat, pemberdayaan komunitas,
dan program kerja yang berkelanjutan. Para ahli juga telah mengemukakan
pandangan mereka mengenai dialog dan mediasi sebagai strategi manajemen konflik
yang efektif dalam berbagai konteks, termasuk di organisasi.
Berdasarkan urgensi tersebut di atas, muncul dua
asumsi penelitian yang melatarbelakangi penelitian ini penting untuk dilakukan.
Asumsi pertama, mengacu pada usman ridwan, dialog dan mediasi dapat membantu
mengatasi konflik dengan cara membangun hubungan yang harmonis antara pihak
yang terlibat. Namun pada fenomena konflik Sanggar Seni Rumah Gadang, proses
dialog yang telah dilakukan belum mampu mewujudkan kondisi damai dalam
lingkungan internal di Sanggar Seni Rumah Gadang. Asumsi kedua yaitu Robbins
dan Judge, dialog dan mediasi dapat membantu mengatasi konflik dengan cara
memfasilitasi komunikasi yang efektif dan mencari solusi yang saling menguntungkan
bagi semua pihak yang terlibat. Kedua asumsi tersebut memunculkan rumusan
masalah penelitian, yaitu �Bagaimana proses manajemen konflik yang dilakukan
oleh lingkungan internal Sanggar seni Rumah Gadang hingga konflik terjadi
secara berulang dan berkelanjutan ?.
A.
TINJAUAN
PUSTAKA
1.
Manajemen
konflik
Manajemen konflik melibatkan proses mengatur,
mengelola, dan menyelesaikan konflik yang terjadi dalam organisasi. Menurut
Wirawan, manajemen konflik adalah seni mengatur dan mengelola konflik yang ada
pada organisasi agar menjadi fungsional dan bermanfaat bagi peningkatan
efektivitas dan prestasi organisasi. Tujuan utama manajemen konflik adalah
untuk membangun dan mempertahankan kerjasama yang kooperatif dengan para
bawahan, teman sejawat, atasan, dan pihak luar. Beberapa bentuk perilaku
manajemen konflik seperti tawar-menawar, dan pemecahan masalah secara
integratif, merupakan pendekatan-pendekatan untuk menangani konflik yang
menyangkut seorang manajer dan pihak lain yang bantuannya dibutuhkan untuk
mencapai sasaran pekerjaan
Menurut Winardi, manajemen konflik meliputi
kegiatan-kegiatan seperti menstimulasi konflik, mengurangi atau menekan
konflik, dan penyelesaian konflik. Tindakan mengurangi konflik dilakukan
apabila konflik tersebut dapat menghambat kinerja organisasi. Manajemen konflik
juga melibatkan pengelolaan sumber daya, seperti keterbatasan sumber daya,
untuk menghindari terjadinya konflik yang merugikan organisasi. Dalam konteks
manajemen konflik, terdapat berbagai pendekatan dalam penyelesaian konflik,
seperti pendekatan kolaboratif, kompetitif, menghindari, akomodatif, dan
kompromi. Pendekatan kolaboratif menekankan pada pencarian solusi yang
memuaskan bagi semua pihak yang terlibat, sementara pendekatan kompetitif
menekankan pada kepentingan pribadi. Pendekatan menghindari dilakukan dengan
mengabaikan konflik, sementara pendekatan akomodatif dilakukan dengan
mengutamakan kepentingan pihak lain. Pendekatan kompromi dilakukan dengan
mencari solusi tengah yang dapat diterima oleh semua pihak.
2.
Perspektif
komunikasi konflik
Perspektif komunikasi konflik merupakan konsep yang
menjelaskan bagaimana konflik terjadi dan diatur melalui proses komunikasi
antara pihak-pihak yang terlibat. Menurut Usman Ridwan dalam jurnal
"Mediator: Jurnal Komunikasi" menyatakan bahwa konflik dalam
perspektif komunikasi terjadi akibat pelemparan pesan yang tidak memuaskan
antara komunikan dengan komunikator, yang menyebabkan kesenjangan dan konflik
yang berkepanjangan. Selain itu, menurut Arifuddin Tike dalam jurnal "Tabligh:
Jurnal Komunikasi" menyatakan bahwa konflik merupakan perbedaan pendapat
antara dua atau lebih banyak anggota organisasi atau kelompok, karena harus
membagi sumber daya yang langka, atau aktivitas. Konflik adalah suatu bentuk
interaksi di antara pihak yang berbeda dalam kepentingan, persepsi, dan tujuan.
��
Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif
dengan tujuan untuk memahami fenomena yang diteliti secara mendalam. Bogdan
& Taylor (1992) mendefenisikan Penelitian kualitatif adalah penelitian yang
bertujuan untuk memahami fenomena secara mendalam dengan cara mengamati dan
memahami secara menyeluruh suatu latar dan individu yang diteliti. Penelitian
kualitatif dapat digunakan untuk memahami pengalaman individu dalam kehidupan
sehari-hari, termasuk pengalaman-pengalaman yang tidak diketahui sebelumnya
(Bogdan & Taylor, 1922).. Penelitian kualitatif tidak berfokus pada jumlah
sampel, tetapi pada kedalaman dan kualitas data yang diperoleh. Hal ini
bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang menyeluruh tentang fenomena yang
diteliti (Elliot & Timulak, 2005; Kriyantono, 2007; Neuman, 2013).
Penelitian ini menggunakan metode fenomenologi untuk
memahami proses manajemen konflik yang dilakukan oleh pengurus sanggar seni
rumah gadang yang terlibat konflik. Pendekatan ini dilakukan dengan cara
menggali pengalaman pengurus dan anggota sanggar seni yang terlibat konflik.
Informan penelitian dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu
teknik pemilihan informan yang didasarkan pada kriteria tertentu. Penelitian
dilakukan di Padang Pariaman, karena Padang Pariaman merupakan pusat kreativitas
seni lokal Minangkabau.
Hasil dan
Pembahasan
1)
Konstruksi
konflik
Menurut perspektif komunikasi konflik, konflik
dikonstruksi oleh pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Pada konflik di
sanggar seni rumah gadang, pihak-pihak yang terlibat adalah pelatih sesama
pelatih dan pelatih dengan anggota sanggar. Hal ini masih kerap terjadi di
lingkungan internal sanggar seni rumah gadang.
Kedua, Menurut perspektif komunikasi konflik,
konflik juga dapat dikonstruksi oleh sumber daya yang digunakan dalam konflik
tersebut (Littlejohn & Domenici, 2001). Sumber daya yang digunakan dalam
konflik di sanggar seni rumah gadang adalah sumber daya manusia, yaitu anggota
dan pelatih. Konflik di sanggar seni rumah gadang sering terjadi antara anggota
dan pelatih karena anggota sanggar belum sepenuhnya mampu mengendalikan diri
secara pikiran, hati, dan sikap. Kurangnya kemampuan mengendalikan diri
tersebut disebabkan oleh ketidakseimbangan antara emosi dan pikiran.
Ketiga, Menurut perspektif komunikasi konflik,
konflik dikonstruksi oleh cara konflik tersebut dibangun dan jenis konflik yang
dihasilkan(Littlejohn & Domenici, 2001). Konflik dalam suatu sanggar seni,
seperti Sanggar Seni Rumah Gadang, dapat terjadi karena berbagai faktor,
seperti perbedaan budaya dan keterbatasan sumber daya. Perbedaan budaya, Seni
tradisional sering menjadi simbol dan makna bagi masyarakat yang menyatakannya.
Jika seni tradisional ditempatkan sebagai simbol, maka konflik mungkin terjadi
karena perbedaan pemahaman dan persepsi tentang arti seni dikalangan pelatih.
Konflik interpersonal: Konflik interpersonal dapat terjadi karena komunikasi
yang bersifat konsisten terhadap norma-norma sosial tertinggi. Misalnya,
perbedaan perasaan, perilaku, atau keterbatasan sumber daya dapat menyebabkan
konflik antara anggota sanggar seni.
Keempat, Konflik dapat dikonstruksi oleh cara
mengelola konflik. Perspektif komunikasi konflik memandang konflik sebagai
suatu fenomena yang dapat menghadirkan perubahan yang positif, sehingga dalam
proses pengelolaan konflik, perspektif komunikasi konflik menekankan pada
bentuk-bentuk kerjasama yang bertujuan untuk mengembangkan diri dan hubungan
antara pihak yang berkonflik. Dialog dan mediasi adalah dua cara utama dalam
proses pengelolaan konflik melalui perspektif komunikasi konflik. Dialog dan
mediasi didefinisikan sebagai jenis komunikasi yang menghormati hubungan antara
pihak yang berkonflik, sehingga dapat mewujudkan satu kesepakatan bersama.
2)
Dialog
sebagai strategi manajemen konflik
Dialog dapat menjadi strategi manajemen konflik yang
efektif dalam Sanggar Seni Rumah Gadang. Berdasarkan sumber yang tersedia,
dialog dapat diterapkan dalam berbagai aspek, seperti manajemen perubahan dan
konflik dalam rumah tangga.
Dalam penggunaan dialog sebagai strategi manajemen
konflik di Sanggar Seni Rumah Gadang, penting untuk memperhatikan peran
komunikasi dan mediasi dalam mengatasi konflik dan menciptakan solusi yang
sesuai. Selain itu, dialog juga dapat membantu dalam mengembangkan kapasitas
resolusi konflik melalui mediasi dan penyebaran pesan toleransi.
Dalam konteks Sanggar Seni Rumah Gadang, dialog
dapat diterapkan dalam berbagai aspek, seperti dalam mengatasi perbedaan
pendapat antara anggota sanggar seni, memperkuat hubungan antara anggota
sanggar seni, atau dalam mengatasi perbedaan budaya yang mungkin terjadi. Dalam
hal ini, dialog dapat membantu dalam memahami perbedaan pendapat dan mencari
solusi yang saling menguntungkan, serta menciptakan lingkungan yang saling
menghargai dan memahami.
Dalam penggunaan dialog sebagai strategi manajemen
konflik di Sanggar Seni Rumah Gadang, penting untuk memperhatikan beberapa hal,
seperti membuka ruang dialog antara pihak-pihak yang terlibat konflik,
mendengarkan dengan empati, menghindari sikap defensif, mencari solusi bersama,
dan menghargai perbedaan pendapat dan pandangan. Dengan menerapkan strategi
dialog sebagai bagian dari manajemen konflik di Sanggar Seni Rumah Gadang,
konflik dapat diatasi dengan efektif dan menciptakan lingkungan yang saling
mendukung dan memahami.
3)
Mediasi
sebagai strategi manajemen konflik
Mediasi dapat menjadi strategi manajemen konflik
yang efektif dalam Sanggar Seni Rumah Gadang. Mediasi adalah proses
penyelesaian konflik yang melibatkan pihak ketiga yang netral dan tidak
memihak, dengan tujuan untuk mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan
bagi semua pihak yang terlibat.
Dalam konteks Sanggar Seni Rumah Gadang, mediasi
dapat diterapkan dalam berbagai aspek, seperti dalam mengatasi perbedaan
pendapat antara anggota sanggar seni, memperkuat hubungan antara anggota sanggar
seni, atau dalam mengatasi perbedaan budaya yang mungkin terjadi. Dalam hal
ini, mediasi dapat membantu dalam memahami perbedaan pendapat dan mencari
solusi yang saling menguntungkan, serta menciptakan lingkungan yang saling
menghargai dan memahami.
Dalam penggunaan mediasi sebagai strategi manajemen
konflik di Sanggar Seni Rumah Gadang, penting untuk memperhatikan beberapa hal,
seperti memilih mediator yang netral dan tidak memihak, membuka ruang dialog
antara pihak-pihak yang terlibat konflik, mendengarkan dengan empati,
menghindari sikap defensif, mencari solusi bersama, dan menghargai perbedaan
pendapat dan pandangan. Dengan menerapkan strategi mediasi sebagai bagian dari
manajemen konflik di Sanggar Seni Rumah Gadang, konflik dapat diatasi dengan efektif
dan menciptakan lingkungan yang saling mendukung dan memahami.
4)
Identifikasi
keberhasilan proses manajemen konflik
Berdasarkan
hasil penelitian dan pendapat yang ada, beberapa keberhasilan proses manajemen
konflik di Sanggar Seni Rumah Gadang meliputi:
a.
Mengatasi
perbedaan pendapat: Manajemen konflik di Sanggar Seni Rumah Gadang memungkinkan
para pihak terlibat konflik untuk memahami perbedaan pendapat dan mencari
solusi yang saling menguntungkan. Hal ini menunjukkan bahwa proses manajemen
konflik di Sanggar Seni Rumah Gadang dapat menciptakan lingkungan yang saling
menghargai dan memahami.
b.
Meningkatkan
hubungan anggota sanggar seni: Dalam mengelola konflik, manajemen konflik di
Sanggar Seni Rumah Gadang memperkuat hubungan antara anggota sanggar seni. Hal
ini menunjukkan bahwa proses manajemen konflik di Sanggar Seni Rumah Gadang
dapat membantu dalam memperkuat keselamatan dan kolaborasi anggota sanggar
seni.
c.
Mengatasi
perbedaan budaya: Manajemen konflik di Sanggar Seni Rumah Gadang juga dapat
mengatasi perbedaan budaya yang mungkin terjadi dalam suatu sanggar seni. Hal
ini menunjukkan bahwa proses manajemen konflik di Sanggar Seni Rumah Gadang
dapat menciptakan lingkungan yang saling mengundang dan menghargai perbedaan
budaya.
d.
Menggunakan
mediasi: Manajemen konflik di Sanggar Seni Rumah Gadang menggunakan mediasi
sebagai alat untuk mengatasi konflik. Hal ini menunjukkan bahwa proses
manajemen konflik di Sanggar Seni Rumah Gadang dapat menciptakan solusi yang
saling menguntungkan dengan menggunakan mediasi yang imparial dan netral.
e.
Mengembangkan
kapasitas resolusi konflik: Dalam mengelola konflik, manajemen konflik di
Sanggar Seni Rumah Gadang dapat membantu mengembangkan kapasitas resolusi
konflik pribadi para pihak terlibat konflik melalui mediasi dan penyebaran
pesan toleransi. Hal ini menunjukkan bahwa proses manajemen konflik di Sanggar
Seni Rumah Gadang dapat menciptakan lingkungan yang saling menguntungkan dan
menghargai perbedaan pendapat.
Dari beberapa keberhasilan proses manajemen konflik
di Sanggar Seni Rumah Gadang yang telah dijelaskan, dapat disimpulkan bahwa
manajemen konflik di Sanggar Seni Rumah Gadang dapat menciptakan lingkungan
yang saling menghargai dan memahami, menciptakan solusi yang saling
menguntungkan, dan mengembangkan kapasitas resolusi konflik pribadi para pihak
terlibat konflik.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan
bahwa perspektif komunikasi konflik dapat membantu memahami konstruksi konflik
dan menentukan strategi manajemen konflik yang tepat. Konflik yang terjadi di
sanggar seni rumah gadang merupakan konflik internal yang masih berlangsung.
Proses dialog dan mediasi merupakan upaya terbaik untuk menyelesaikan konflik,
tetapi belum berhasil secara menyeluruh. Hal ini disebabkan oleh beberapa
faktor, yaitu perbedaan latar belakang budaya, perbedaan kepentingan, perubahan
nilai, dan kurangnya keharmonisan dalam interaksi sosial. Efektifitas proses
dialog dan mediasi dapat didorong oleh netralitas pihak yang berkonflik,
pemberdayaan komunitas, dan program kerja yang berkelanjutan.
Daptar Pustaka
Arisuddin
Tike. (2012). Etika Komunikasi :Suatu Kajian Kritis Berdasarkan Al-Qur�an.
(Makassar: Alauddin University).
Bogdan,
R., & Taylor, S. J. (1992). Pengantar metode penelitian kualitatif: suatu
pendekatan fenomenologis terhadap ilmu � ilmu sosial. Surabaya: Usaha Nasional.
Elliot,
R., & Timulak, L. (2005). Descriptive and interpretive approaches to
qualitative research. Dalam Miles, J., & Gilbert, P. A handbook of research
methods for clinical and health psychology (h. 147). USA: Oxford University Press.
Fisher,
B. Aubrey, Teori-Teori Komunikasi, Terj. Soejono Trimo, Bandung: Remaja Karya,
1990.
Littlejohn,
S. W., & Domenici, K. (2001). Engaging communication in conflict: systemic
practice. Thousand Oaks, CA: Sage Publication, Inc.
Robbins
dan Judge, 2011, Perilaku Organisasi, Edisi 12, Salemba Empat
Setiawati,
R. (2023). Pentingnya Negosiasi Dalam Manajemen Konflik.
Usman,
R. (2001). Konflik dalam Perspektif Komunikasi: Suatu Tinjauan Teoretis. MediaTor
(Jurnal Komunikasi), 2(1), 31-41.
Widiyowati,
E., Kriyantono, R., & Prasetyo, B. D. (2018). DIALOG DAN MEDIASI:
PERSPEKTIF KOMUNIKASI KONFLIK DALAM STRATEGI MANAJEMEN KONFLIK (Studi
Fenomenologi terhadap Konflik Perguruan Pencak Silat di Madiun –Jawa Timur). DIALOG, 6(1).
Wikandini,
N. A., Arindawati, W. A., & Nurkinan, N. (2022). Strategi Komunikasi
Sanggar Seni dalam Melestarikan Kebudayaan Melalui Media Sosial: Studi
Deskriptif Kualitatif Gawean Parikesit Melestarikan Kebudayaan Melalui Youtube. Syntax
Literate; Jurnal Ilmiah Indonesia, 7(5), 6277-6286.
Winardi.
1994. Manajemen Konflik Perubahan dan Pengembangan. Bandung. Penerbit: Mandar
Maju