ANALISIS LINGKUNGAN INTERNAL� LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM
Mashuri1,
Maisah2, Lukman Hakim3
Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin Jambi,
Indonesia
[email protected]1,
[email protected]2,
[email protected]3
Abstrak:
Penelitian
ini mengeksplorasi analisis lingkungan internal Lembaga Pendidikan Islam dengan
fokus pada Pendidikan Vokasi MAN 1 Bungo Plus Ketrampilan. Lingkup penelitian
mencakup konsep lingkungan internal, jenis-jenis lingkungan lembaga pendidikan
Islam, serta pentingnya analisis lingkungan dalam manajemen strategis. Tujuan
penelitian adalah memberikan pemahaman mendalam terhadap potensi dan kelemahan
lembaga, dengan analisis SWOT sebagai alat evaluasi. Melalui penelitian ini,
diharapkan dapat memberikan panduan praktis dan konseptual untuk meningkatkan
efektivitas dan daya saing Lembaga Pendidikan Islam, khususnya dalam konteks
Pendidikan Vokasi. Kesimpulan dan rekomendasi yang dihasilkan diharapkan dapat
menjadi landasan bagi lembaga pendidikan serupa dalam menghadapi tantangan dan
memaksimalkan potensi internal mereka untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Kata Kunci: Lembaga
Pendidikan, Lingkungan Internal
Abstract:
This
research explores the analysis of the internal environment of Islamic Education
Institutions with a focus on MAN 1 Bungo Vocational Education Plus Skills. The scope
of the research includes the concept of internal environment, the types of
environments of Islamic education institutions, and the importance of
environmental analysis in strategic management. The purpose of the research is
to provide an in-depth understanding of the potential and weaknesses of the
institution, with SWOT analysis as an evaluation tool.Through this research, it
is expected to provide practical and conceptual guidance to improve the
effectiveness and competitiveness of Islamic Education Institutions, especially
in the context of Vocational Education. The resulting conclusions and
recommendations are expected to serve as a foundation for similar educational
institutions in facing challenges and maximising their internal potential to
achieve their desired goals).
Keywords:
Educational Institutions,
Internal Environment
����� ����
Pendahuluan
Untuk mencapai tujuan organisasi dengan secara
efisien dan efektif, berbagai cabang Bidang pengetahuan manajemen menganggap
analisis lingkungan merupakan� aktivitas
sangat penting. Merupakan hal yang umum, sejak para ahli manajemen mengenalkan
konsep organisasi seperti sistem yang terbuka dipengaruhi oleh kondisi
lingkungannya.
Sebagai akibat dari efek reformasi informasi dan
globalisasi, lingkungan saat ini mengalami perubahan yang signifikan dan
intensitasnya semakin meningkat serta sulit untuk diprediksi. Dampaknya adalah
meningkatnya persaingan dan kompleksitas masalah yang dihadapi oleh organisasi
dari hari ke hari. Oleh karena itu, sebelum melangkah ke berbagai proses
manajemen strategis lainnya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah
melakukan analisis lingkungan perusahaan. Analisis ini melibatkan pemahaman
mendalam terhadap kondisi eksternal dan internal yang dihadapi oleh perusahaan
hingga ke akarnya. Dengan demikian, perusahaan dapat lebih waspada dan memahami
konsekuensi dari perubahan tersebut, sehingga dapat bersaing dengan lebih
efektif.
Analisis lingkungan internal adalah upaya untuk
mengidentifikasi faktor-faktor internal dan ekternal yang mempengaruhi
pencapaian tujuan suatu lembaga. Ini mencakup evaluasi semua potensi dan
batasan yang dimiliki oleh lembaga tersebut. Penting untuk mengenali dan
mengoptimalkan potensi yang ada karena hal ini dapat menjadi daya tarik unik
untuk institusi dalam mempengaruhi keinginan orang disekitarnya, khususny
siswa. Di sisi lain, mengidentifikasi kelemahan internal juga perlu dilakukan
secara dini agar lembaga bisa menemukan cara dan upaya agar bisa mencari solusi� kelemahan tersebut dan tetap beroperasi
secara optimal. Jika kita menggunakan bahasa manajemen perusahaan, analisis
internal mencakup: (1) posisi pasar; (2), keuangan dan akunting; (3) produksi,
aspek teknik dan operasional; (4) sumber daya manusia; dan (5) struktur
organisasi dan manajemen lembaga.
Kesulitan yang dihadapi adalah bahwa manajemen tidak
melakukan analisis yang memadai terhadap potensi dan kelemahan lembaga,
sehingga lembaga tersebut kehilangan daya tarik yang membedakannya dari
institusi pendidikan sejenis lainnya. Selain itu, kurangnya kesadaran terhadap
kelemahan lembaga dapat menyebabkan masalah di masa depan. Menemukan potensi
yang dimiliki terlambat dapat mengakibatkan masalah seperti penurunan daya
saing lembaga, sementara menyadari terlambat akan kelemahan lembaga dapat
membuatnya tidak siap menghadapi tantangan yang mungkin muncul.
����������� Lembaga
pendidikan merupakan institusi dimana dibentuk secara terstruktur, serta� terencana dengan tujuan agar mencapai tujuan
yang sudah ditetapkan. Melalui proses pembelajaran, organisasi ini menyediakan
tempat bagi para siswa untuk Mengupayakan pengembangan bakat, minat, dan
kemampuan mereka dalam unsur cognitif, afektif, dan psycomotorik. Tujuannya
adalah untuk menghasilkan manusia yang berkualitas. Lembaga pendidikan ini
melakukan berbagai kegiatan pendidikan dengan tujuan meningkatkan mutu keguatan
belajar mengajar di tingkat sekolah. Setiap tindakan yang dijalankan
berorientasi untuk pemenuhan� misi, visi
serta tujuan institusi pendidikan sesuai dengan keputusan bersama-sama. Dalam
hal ini, dalam plaksanaan pmbelajaran, penting untuk memanfaatkan strategi dan
langkah yang sesuai guna mencapai tujuan yang diinginkan, Pendekatan ini
dikenal sebagai manajemen strategis. Ada beberapa alasan mengapa manajemen
strategis menjadi penting, di antaranya adalah:�
Pertama, manajemen strategis memungkinkan suatu organisasi untuk
mengevaluasi sejauh mana pencapaian kinerja telah terjadi. Kedua, organisasi
perlu selalu siap menghadapi perubahan situasi yang mungkin terjadi. Ketiga,
setiap keputusan yang diambil oleh pimpinan selalu melibatkan manajemen
strategis, sehingga manajemen strategis memainkan peran yang sangat penting
dalam hal ini. Langkah-langkah serta kputusan yng dmaksud melibatkan analisisa
lngkungan intrnal dan lingkungn ekstrnal.
����������� Menurut
Filip, sekarang, lembaga pendidikan beroperasi dalam sebuah lingkungan pasar
yang memiliki dampak signifikan terhadap kemampuan lembaga tersebut dalam
melayani dan merespons kebutuhan pemangku kepentingannya. Menolak untuk
beradaptasi dengan perubahan yang terjadi akan meningkatkan risiko kalah dalam
kompetisi, serta risiko masalah internal dan masalah kelangsungan hidup. Oleh
karena itu, analisis lingkungan menjadi sebuah kegiatan yang sangat penting
yang harus dilakukan oleh lembaga pendidikan untuk mengidentifikasi kekuatan
dan kelemahan internal, serta peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi oleh
lembaga tersebut.
����������� Berdasarkan
konteks yang telah dijelaskan, Makalah�
ini bertujuan untuk melakukan analisis lingkungan Lembaga Pendidikan
Islam, baik yang bersifat internal. Langkah awal adalah menjelaskan konsep dan
variasi lingkungan, serta menggambarkan peran yang sangat penting dari analisis
lingkungan dalam manajemen Lembaga Pendidikan Islam. Diharapkan makalah ini
akan memberikan pemahaman yang betapa pentingnya melakukan analisisa lingkungan
Institusi� Pendidikan Islam dan dapat
memberikan rekomendasi kepada Lembaga Pendidikan Islam yang ingin menjalankan
analisis lingkungan mereka sendiri.
Tujuan penulisan ini mencakup beberapa aspek, antara
lain memahami pengertian lingkungan internal di lembaga pendidikan, mengetahui
jenis-jenis lingkungan lembaga pendidikan Islam, memahami pentingnya analisis
lingkungan dalam pengelolaan lembaga pendidikan Islam, menganalisis lingkungan
internal Pendidikan Vokasi MAN 1 Bungo Plus Ketrampilan, dan mengetahui
analisis SWOT Pendidikan Vokasi MAN 1 Bungo Plus Ketrampilan.��
Metode
Metode penelitian kuantitatif untuk analisis
lingkungan internal lembaga pendidikan Islam melibatkan perancangan survei
dengan variabel-variabel utama seperti sumber daya manusia, fasilitas,
keuangan, dan proses pendidikan. Kuesioner terstruktur didistribusikan kepada
staf, siswa, dan orang tua sebagai sampel representatif. Data yang terkumpul
dianalisis menggunakan perangkat lunak statistik, seperti SPSS, dengan
menerapkan teknik statistik deskriptif.
Hasil dan
Pembahasan
A.
Pengertian
Lingkungan Lembaga Pendidikan� Islam
Pendidikan Islam sebagai sebuah lembaga pendidikan
memiliki pendekatan khusus dalam pelaksanaannya untuk menghasilkan individu
yang bermanfaat bagi negara dan masyarakat, dan menjunjung tinggi nilai-nilai
moral. Tidak dapat disangkal bahwa manajemen strategis adalah hal yang sangat
penting dalam pengembangan potensi sumber daya manusia secara efektif dan
tepat. Oleh karena itu, penting untuk secara terperinci menjelaskan hakikat
(ontologi), sumber (epistemologi), dan nilai (aksiologi) dari pendidikan Islam
guna memahami jenis manajemen strategis yang sesuai untuk mengembangkan lembaga
pendidikan Islam itu sendiri.
Dari sudut pandang ontologi, pendidikan Islam
merujuk pada usaha yang disengaja oleh orang dewasa untuk meningkatkan
kemampuan anak-anak menuju tahap keutamaan manusia yang sempurna (insan kamil).
Semua jenis upaya untuk mengembangkan kemampuan ini harus dijalankan dengan
cara yang terstruktur, terencana, terarah, terintegrasi, dan berkelanjutan,
sehingga dapat dianggap sebagai inti dari pendidikan Islam. Prinsip
epistemologi dalam pendidikan Islam adalah rangkaian metode yang digunakan
untuk mengembangkan teori dan konsep dalam pendidikan Islam. Dengan adanya
epistemologi dalam pendidikan Islam, berbagai permasalahan dalam dunia
pendidikan Islam dapat diatasi. Sebagai contoh, salah satu sumber pendidikan
Islam adalah pengalaman empiris manusia, yang kemudian diajarkan kepada peserta
didik. �Aksiologi dalam pendidikan Islam mengacu pada
tujuan atau nilai-nilai yang terkandung dalam implementasi pendidikan Islam.
����������� Berbagai
cabang ilmu manajemen telah mengidentifikasi lingkungan sebagai tindakan
penting yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi secara lebih
efektif dan efisien. Hal ini merupakan hal yang lazim, karena para ahli
manajemen memandang organisasi sebagai sebuah sistem terbuka yang sangat
dipengaruhi oleh lingkungannya.
����������� Menurut
Robbin, lingkungan organisasi mencakup semua komponen yang ada di luar
organisasi.
Namun, sangat penting untuk digaris bawahi bahwa hal-hal tersebut tidak hanya
berada di luar organisasi, tetapi juga mempunyai pengaruh terhadap kehidupan
organisasi. Nikels et al. menjelaskan bahwa lingkungan adalah kombinasi
faktor-faktor di sekitar yang memiliki potensi untuk mendukung atau menghambat
perkembangan dan kelangsungan usaha.
Mengacu pada pandangan-pandangan tersebut, dapat dipahami bahwa ada dua aspek
kunci dalam konsep lingkungan, yaitu, pertama, lingkungan mencakup semua elemen
atau unsur yang berada di luar organisasi, dan kedua, lingkungan mencakup semua
elemen atau unsur yang memiliki dampak terhadap organisasi. Dengan definisi
yang lebih lengkap, lingkungan organisasi dapat dijelaskan sebagai semua unsur
di luar organisasi yang memiliki potensi untuk memengaruhi organisasi.
����������� Lingkungan
adalah komponen yang tidak dapat dipisahkan dari eksistensi sebuah Lembaga
Pendidikan Islam dan memiliki peran yang signifikan dalam kelangsungan hidup
Lembaga Pendidikan Islam tersebut. Dalam usaha mencapai visi dan menjalankan
misi, lingkungan memiliki peran penting yang berperan dalam menentukan faktor
kunci kesuksesan pencapaian tersebut. Oleh karena itu, sebuah LPI, sebagai
bagian integral dari kehidupan sosial, masyarakat, bangsa, dan negara, harus
mempunyai kesadaran tentang lingkungannya. Mereka harus menyadari dan memiliki
kemampuan untuk menganalisis faktor-faktor di sekitarnya yang dapat membantu
atau bahkan menghambat kelangsungan hidupnya.
����������� Apabila
berhubungan dengan konteks lingkungan lembaga pendidikan islam, maka lingkungan
lembaga pendidikan merujuk kepada semua unsur yang berada di luar atau di
sekitar lembaga pendidikan Islam tersebut yang dapat memengaruhi lembaga
pendidikan tersebut.
B.
Jenis-Jenis
Lingkungan Lembaga Pendidikan Islam
����������� Untuk
memudahkan analisis atau pemahaman terhadap lingkungan organisasi, para pakar
bisnis mengklasifikasikan berbagai jenis lingkungan. Pengelompokan jenis-jenis
lingkungan ini didasarkan pada sejauh mana Dampaknya pada perilaku dan kinerja
organisasi. Secara keseluruhan, ahli-ahli mengklasifikasikan jenis lingkungan
organisasi dengan berbagai istilah yang berbeda. Robbins memisahkan jenis
lingkungan organisasi menjadi lingkungan eksternal dan lingkungan internal. Wheelen dan Hunger
mengklasifikasikan lingkungan menjadi lingkungan internal dan lingkungan
eksternal. Dengan merujuk pada pandangan beberapa ahli, meskipun terdapat
variasi dalam istilah yang digunakan, secara umum Dengan demikian, kita dapat
menyimpulkan bahwa sebuah organisasi memiliki dua aspek utama, sebagaimana
telah disebutkan oleh Wheelen dan Hunger, yaitu aspek internal (di dalam
organisasi itu sendiri) dan aspek eksternal (di luar organisasi
����������� Berdasarkan
pendapat Wright et.al. lingkungan internal suatu organisasi, terutama dalam
konteks perusahaan, adalah sumber daya yang akan memengaruhi kekuatan dan
kelemahan organisasi tersebut. Penting untuk menganalisis lingkungan internal
ini guna mengidentifikasi kekuatan serta Keterbatasan organisasi. Sumber daya
perusahaan ini mencakup aspek seperti tenaga kerja, aset perusahaan, dan sumber
daya fisik.
Mirip dengan pandangan
para ahli bisnis yang telah disebutkan diatas, lembaga pendidikan juga memiliki
dua lingkungan yang perlu dipertimbangkan: lingkungan internal dan eksternal.
Konsep ini sesuai dengan gagasan yang diusulkan oleh Evans mengenai lingkungan
sekolah. Lingkungan internal terbentuk oleh semua komponen internal di dalam
sekolah. Sedangkan, lingkungan eksternal terbagi menjadi dua bagian, yaitu
liingkungan mikro dan makro. Lingkungan mikro (micro-environment) terdiri dari
individu atau organisasi yang memiliki potensi pengaruh langsung terhadap
sekolah. Sementara itu, lingkungan makro (macro-environment) terdiri dari
sejumlah faktor yang memiliki dampak tidak hanya pada sekolah tetapi juga pada
seluruh komponen yang ada dalam lingkungan mikro. Faktor-faktor ini mencakup
hal-hal seperti demografi, ekonomi, politik, hukum, sosial budaya, lingkungan,
dan teknologi. Dalam konteks penulisan ini, perbedaan antara kedua jenis
lingkungan ini akan menjadi dasar bagi penulis untuk memeriksa dan menganalisis
lingkungan LPI.
C.
Pentingnya
Analisa Lingkungan Dalam Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam.
Dalam dunia manajemen
bisnis, pengkajian lingkungan atau yang juga disebut observasi atau pemantauan
lingkungan adalah suatu tahap yang digunakan oleh perumus atau perencana
strategi untuk memonitor situasi lingkungan dengan tujuan mengidentifikasi
peluang atau ancaman yang mungkin memengaruhi perusahaan.
����� Kegiatan dalam proses analisis lingkungan melibatkan
pemantauan, evaluasi, dan berbagi informasi berdasarkan hasil observasi
lingkungan internal dan eksternal dengan para pemangku kepentingan di
perusahaan. Tujuannya adalah untuk menjadi alat manajemen yang efektif dalam
menghindari kejutan strategis serta memastikan�
manajemen dalam jangka panjang. Melalui analisis lingkungan, organisasi
dapat mengetahui berbagai kebutuhan, aspirasi, dan perubahan yang terjadi baik
dalam organisasi itu sendiri maupun di masyarakat.
Secara lebih rinci,
menurut Supriyono, terdapat beberapa alasan penting untuk melakukan diagnosis
dan analisis lingkungan, yang meliputi: (1) Karena lingkungan mengalami
perubahan yang sangat cepat dan dinamis, sehingga diperlukan aktivitas analisis
lingkungan untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut; (2) Manajer perlu
menyelidiki lingkungan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat menjadi
ancaman bagi organisasi dalam pencapaian tujuan, serta menentukan apakah
faktor-faktor saat ini memberikan peluang lebih besar bagi organisasi dalam
mencapai tujuan; (3) Organisasi yang secara sistematis melakukan analisis
lingkungan cenderung lebih efektif dibandingkan dengan yang tidak melakukannya.
Analisis adalah sesuatu
yang sudah dikenal dalam Islam yang mengajarkan setiap penganutnya untuk
melakukan analisis. Tujuan dari pengamatan atau analisis ini adalah untuk
memperoleh pengetahuan yang dapat bermanfaat bagi organisasi itu sendiri,
sesuai dengan firman Allah."
�Dan janganlah kamu
mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya
pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan
jawabnya. (Q.s.Al-Israa�:36)�
Hasan menyatakan bahwa ayat tersebut menggambarkan
landasan untuk melakukan riset. Dalam Islam, disarankan agar umatnya tidak
hanya mengikuti apa yang sudah ada, tetapi melakukan penelitian . Bagi
organisasi, ayat ini dapat mendorong mereka untuk melakukan evaluasi lingkungan
internal dan eksternal mereka sendiri, karena dampak atau pengaruhnya pasti
berbeda antara satu organisasi dan organisasi lainnya.
����� Berdasarkan
berbagai definisi, tujuan, dan pentingya dari kegiatan analisis lingkungan yang
telah disebutkan, kita dapat menyimpulkan Aktivitas analisis lingkungan dalam
lembaga pendidikan Islam bisa diartikan sebagai proses pemantauan dan evaluasi
lingkungan eksternal dan internal sebagai bagian dari upaya untuk
mengidentifikasi peluang atau ancaman yang mungkin memengaruhi lembaga
pendidikan Islam tersebut.
D.
Analisis
Lingkungan Internal Lembaga Pendidikan Islam
Bagian pertama yang harus
dianalisis dalam konteks Lingkungan Pendidikan Islam adalah lingkungan
internal, yang mencakup organisasi pendidikan itu sendiri. Lingkungan internal
merujuk pada semua unsur yang ada dalam organisasi itu sendiri, mulai dari
manajemen hingga karyawan, yang berkolaborasi untuk mencapai tujuan organisasi.
Menurut Evans, lingkungan internal melibatkan oleh semua kelompok internal
sekolah, termasuk tim manajemen puncak seperti kepala sekolah dan ketua
yayasan, manajemen tingkat menengah seperti kepala bidang, staf pengajar, staf
administrasi seperti sekretaris, staf domestik seperti bagian pelayanan, dapur,
dan cleaning service. Selain itu, murid juga merupakan bagian dari lingkungan
internal sekolah, bersama dengan orang tua dan komite sekolah. Semua kelompok
ini bersama-sama menciptakan suasana internal dan budaya sekolah yang unik.
Lembaga pendidikan perlu
melakukan analisis ini untuk mengidentifikasi potensi (kelebihan) dan hambatan
(kekurangan) yg dipunyai oleh lembaga. Kelebhan dan kekurngan ini dapat
dianggap sebagai peluang, risiko, dan tantangan yang harus dipertimbangkan
dalam perencanaan program kerja. Analisis internal yang dilakukan dapat
menentukan profil suatu lembaga pendidikan; memberi informasi tentang sumber
daya dan kemampuan spesifik organisasi, apabila sumber daya dan kemampuan
tergolong unggul maka menjadi kompetensi inti yang mampu menciptakan nilai
tersendiri bagi lembaga bersangkutan.
Secara esensial, terdapat
dua Strategi intrnal yg dapat dimamfaatkan untuk mengidntifikasi dan
mengevaluasi fktor-fktor intrnal. Pertama, ada pndekatan fungsii yang bertujuan
untuk mengenali serta menilaii aspek-aspek internal, termasuk kemampuan,
keterbatasan, dan karakteristik-karakteristiknya yang biasanya terkategori
dalam beberapa area seperti pasar, keuangan dan akunting, produksi/teknis,
sumber daya manusia, serta struktur organisasi dan manajemen. Pendekatan kedua
adalah analisis rinci operasional, yang mencakup evaluasi pelaksanaan aktivitas
inti serta analisis aktivitas pendukung. Ini melibatkan pemahaman tentang
sejarah lembaga, pemahaman tentang siklus kehidupan organisasi, dan pandangan
terhadap masa depan.
Dari kedua pendekatan
yang telah disebutkan, kita dapat memilih mana yang akan digunakan dalam
menganalisis lingkungan internal lembaga pendidikan. Dalam makalah ini, penulis
akan fokus pada pendekatan fungsional untuk mengevaluasi kelebihan dan kelemahan
lembaga pendidikan.
Komponen Analisis
internal meliputi (a) Analisis pemasaran,Keuangan, proses produksi dan
operasional, pengelolaan sumber daya manusia, layanan informasi, manajemen
mutu, manajemen umum dan organisasi.
Analisis
pemasaran
����������� Pasar adalah suatu istilah yang
sering digunakan dalam konteks ekonomi untuk merujuk kepada tempat di mana
Barang dan layanan disosialisasikan kepada konsumen atau calon pengguna, dan
juga sebagai lokasi utama di mana transaksi bisnis terjadi. Di dalam konteks lembaga
pendidikan, penggunaan istilah pasar merujuk pada kondisi penggunaan jasa
pendidikan. Pengidentifikasian posisi pasar dilakukan dengan tujuan mengambil
langkah-langkah yang diperlukan untuk memungkinkan lembaga memahami secara
komprehensif posisi para pengguna jasa, termasuk aspek-aspek seperti: (1)
kebutuhan mereka; (2) status sosial; (3) latar belakang pendidikan; (4)
preferensi mereka; (5) kecenderungan dalam pengeluaran; dan (6) sumber
pendapatan mereka (Siiagian, 2012:106).
����������� Pegguna jaasa pendidikn
yaitu kepada peserta didik. Dalam analisisa internall, penting untuk memahami
kebutuhan belajar individu peserta didik agar dapat menyusun kegiatan
pembelajaran yng sesuaii dengan kebutuhann mereka. Setiap siswa memiliki
karakteristik yang beragam, termasuk level kecrdasan intelektual,� emosiona, keecerdasan kreatifitas, dan aspek
spiritual atauu pemahamn keaagamaannya. Tngkat keceerdasan peserta didik
memengaruhi kemampuan mereka dalam Terlibat dalam proses belajar.. Selain itu,
setiap individu memiliki gaya belajar yang berbeda, sehingga diperlukan
pendekatan pembelajaraan yg sesuaii dengaan gya belajar mereka. Memahami gaya
belajar peserta didik dan mengaplikasikannya dalam proses pembelajaran
menciptakan lingkungan belajar yang nyaman bagi individu tersebut. Ketika
peserta didik merasa nyaman dalam belajar, mereka cenderung berbagi pengalaman
positif mereka kepada orang lain, termasuk orang tua, saudara, dan teman-teman
mereka yang mungkin bersekolah di tempat yang berbeda. Dengan tidak langsung,
kenyamanan belajar bagi peserta didik juga bisa berfungsi sebagai bentuk
promosi untuk institusi pendidikan. Selain itu, penting juga untuk menganalisis
status sosial peserta didik, dengan tujuan memahami lataar belakang sosial
keluarganya. Hal ini terutama relevan untuk merancang langkah-langkah
pencegahan serta perbaiikan terhadap potensi masalahh yang mungkin muncul
selama kegiatan pembelajaran. Membuat antisipasi terhadap masalah pada awal
proses pembelajaran adalah tindakan yang bijak untuk meningkatkan efisiensi dan
efektivitas kegiatan dalam mencapai tujuan lembaga pendidikan.���������� Peserta
didik berasal dari berbagai latar belakang keluarga yang beragam, sehingga
status sosial keluarga mereka juga beraneka ragam. Status sosial keluarga
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan anak. Anak-anak yang
memiliki bakat potensial biasanya dapat mengembangkan bakat mereka dengan baik
jika lingkungan keluarga mereka mendukung dengan tersedianya fasilitas yang
sesuai. Sebagai contoh, seorang anak yang memiliki bakat seni mungkin dapat
mengembangkan potensinya lebih baik jika memiliki akses ke alat musik yang
sesuai. Perkembangan anak dengan bakat serupa namun tanpa dukungan alat musik
akan berbeda. Demikian pula, kondisi sosial anak yang tumbuh dalam keluarga yang
lengkap (dengan ayah, ibu, dan saudara-saudara) akan memiliki perkembangan yang
berbeda dibandingkan dengan anak yang tidak memiliki struktur keluarga yang
utuh. Selain itu, kualitas interaksi dan hubungan antara nggota keluarga, serta
pola perilaku serta siikap keluarga dalam berinteraksi, juga berperan penting
dalam menentukan perkembangan sosial anak.
Di lembaga pendidikan Islam, di mana mayoritas
siswanya adalah ummat Islam, status keagamaan yang berlaku dalam lingkungan
keluarga memiliki pengaruh signifikan terhadap cara siswa memandang prosess
belajar. Perbedaan tersebut dapat diamati dalam pertumbuhan spiritual individu
yang berasal dari keluarga yang menjalankan ajaran agama dengan tekun,
dibandingkan dengan individu yang keluarganya kurang peduli terhadap aspek
keagamaan, tidak saling memberikan pengajaran agama, atau bahkan acuh tak acuh
terhadapnya. Manajemeen lembagaa penddikan Islam dapat merancang program
pendidikan yang sesuai dengan karakteristik keagamaan individu peserta didik,
berdasarkan latar belakang agama keluarganya. Status sosial dan keagamaan dalam
keluarga membantu dalam mengantisipasi kemungkinan masalah yang mungkin muncul
dalam proses pembelajaran, sehingga tujuan lembaga pendidikan dapat tercapai
tanpa hambatan yang signifikan.
����������� Manfaat memahami status
sosial peserta didik bagi lembaga pendidikan adalah agar lembaga dapat memahami
peserta didik dari segi perkembangan sosialnya. Hal ini penting untuk
merencanakan program-program pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan individu
peserta didik dan perkembangan sosial mereka. Selain itu, pemahaman ini
memberikan pengetahuan yang diperlukan untuk merancang Langkah-langkah
pencegahan dan tindakan perbaikan yang sesuai terhadap isu tersebut. yang
mungkin dihadapi peserta didik, yang pada akhirnya akan berkontribusi pada
kemajuan lembaga pendidikan.
����������� Selain itu, peserta didik
juga memiliki beragam latar belakang pendidikan. Latar belakang pendidikan
sebelumnya dapat berdampak pada pola pikir dan perkembangan individu peserta
didik, serta memengaruhi tingkat adaptasi mereka terhadaap liingkungan belajar
yang baru. Perbedaan dalam latar belakang pendidikan ini menghasilkan variasi
dalam Tahap perkembangan pemikiran, tingkat emosional, motivasi, serta kesiapan
belajar seseorang.
����������� Sejarah pendidikan
sebelumnya memiliki dampak signifikan pada sejauh mana pengetahuan dan wawasan
peserta didik terbentuk baik dalam jumlah maupun kualitasnya. Individu yang
telah memiliki dasar pengetahuan yang kuat Sebelumnya akan lebih cocok untuk.
mengambil pelajaran daripada mereka yang belum memiliki dasar pengetahuan
tersebut. Memahami variasi dalam laatar blakang pendidikan peserta didik
membantu lembaga pendidikan merancang program pembelajaran yang sesuai dengan
perbedaan tersebut. Dalam hal ini, penting untuk merncang kegiatan pembelajaran
yang memberi cukup waktu dan motivasi kepada individu yang belum memiliki dasar
pengetahuan yang memadai sebelumnya, sehingga mereka dapat mempersiapkan diri
sebelum memulai proses belajar. Tindakan ini dapat meningkatkan perkembangan
intelektual individu peserta didik selama proses pembelajaran.�����
����������� Pendidikan tidak hanya
dimaksudkan untuk meningkatkan kecerdasan intelektual peserta didik, melainkan
juga untuk mengembangkan aspek kecerdasan psikomotorik dan emosional mereka.
Semua bentuk kecerdasan ini dapat tumbuh melalui interaksi dalam proses
pembelajaran yang dirancang dengan baik, yang dimulai dari kemampuan berpikir.
Kemampuan berpikir yang berada dalam kisaran normal atau di atasnya berhubungan
erat dengan kemampuan individu untuk mengelola emosi, yaitu mengendalikan
impuls berdasarkan perasaan.
����������� erkait dengan tingkatt
kebutuhann, status sosial, dan latar belakang pendidikan, peserta didik juga
memiliki perbedaan dalam hal selera atau minat mereka. Selera atau minat adalah
aktivitas yang memberikan kepuasan pribadi kepada individu. Memahami preferensi
atau minat siswa membantu manajemen dalam merencanakan programm pendiidikan
atau mengembangkan kegiatan pembelajaran yang dapat menginspirasi semangat
siswa untuk belajar demi kepuasan dan kepentingan pribadinya. Konsep
pembelajaran progresif, seperti yang dijelaskan oleh John Dewey dalam karya
Sani (2014:31), mengatakan bhwa proses belajar mengajar disusun sedemikian rupa
sehingga peserta didik melakukan aktivitas yang bermanfaat bagi diri mereka
sendiri, dengan inisiatif berasal dari peserta didik sendiri, sementara peran
guru adalah sebagai pembimbing, pengarah, atau fasilitator.
����������� Mengetahui preferensi
atau minat siswa pada tahap awal pembelajaran adalah bantuan bagi manajemen
dalam merencanakan aktivitas pembelajaran yang dapat menginspirasi semangat
belajar individu sesuai dengan minat mereka. Dalam kerangka ini, individu
cenderung enggan untuk belajar jika mereka merasa bahwa kegiatan pembelajaran
tidak sesuai dengan minat mereka. Ketika ini terjadi, hal tersebut dapat
menjadi hambatan dalam mencapai tujuan Kegiatan pembelajaran yang dirancang
khusus untuk institusi tersebut. Program pendidikan dan pembelajaran yang telah
dirancang, meskipun telah disusun secara optimal, akan menjadi kurang efektif
jika tidak mempertimbangkan minat individu peserta didik, yang pada akhirnya
dapat menghambat pencapaian visi dan misi institusi pendidikan.
����������� Siswa yang mengalami
kegembiraan dalam belajar karena kebutuhannya dipenuhi sesuai dengan minatnya
akan menjadi pelajar yang setia dan bersedia menginvestasikan waktu, tenaga,
serta sumber daya finansialnya untuk mendalami materi pelajaran. Mereka akan
cenderung menghargai minat mereka dan menjadikannya sebagai fokus utama. Ada
korelasi antara minat individu dengan kecenderungan untuk mengalokasikan sumber
daya finansial (seperti waktu dan energi) untuk mengejar minat tersebut. Dengan
demikian, evaluasi terhadap kecenderungan peserta didik dalam menggunakan
sumber aya finansial perlu dilakukan dengan mempertimbangkan hubungannya dengan
minat atau kesenangan mereka. Selain itu, analisis kecenderungan pengeluaran
finansial juga diperlukan untuk orang tua peserta didik, baik dalam konteks
pendidikan anak mereka maupun untuk keperluan lainnya. Pemahaman atas aspek ini
Diperlukan untuk mendukung manajemen dalam mengembangkan prograam pendiidikan
yang sesuai dengan sifat-sifat keluarga siswa, dimana pencapaian tujuan lembaga
pendidikan harus diperkuat oleh keterlibatan seemua pihak, termasuk orang tua
peserta didik
����������� Sumber pendapatan orang
tua peserta didik dapat memiliki dampak pada kemampuan mereka untuk membiayai
pendidikan anak-anak mereka. Menganalisis sumber pendapatan wali murid (sbagai
salah satu konstituen dari pasar jassa pendidikan) berguna bagi lembaga untuk
merencanakan program-program yang dapat disesuaikan dengan tingkat dukungan
finansial yang dapat diberikan oleh wali murid peserta didik. Wali murid dapat
lebih mudah berperan aktif dalam mendukung pendidikan anak-anak mereka jika memiliki
kemampuan finansial yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan tersebut. Support
wali murid� terhadap pendidikan sangat
dipengaruhi oleh bagaimana mereka menilai Dana yang dibutuhkan untuk pendidikan
di institusi, terutama dalam kaitannya dengan kemampuan finansial mereka.
Prograam pendidikn yang ditawarkan oleh lembaga dengan biaya yang sesuai dengan
penghasilan orang tua menjadi salah satu faktor pertimbangan penting dalam
pemilihan lembaga pendidikan yang tepat bagi anak-anak mereka.
����������� Analisis� sumber penghasilan wali murid� oleh manajemen membantu dalam
mengidentifikasi potensi kelemahan atau keunggulan finansial lembaga pada tahap
awal sebelum merencanakan program pendidikan. Memahami kelemahan finansial lembaga
tersebut dapat membantu dalam menemukan cara yang sesuai untuk mengatasi
masalah tersebut.
����������� Penentuan posisi pasar
lembaga pendidikan menjadi kunci dalam mmbantuu manajeemen merancang
program-program yang cocok dengan karakteristik lembaga tersebut. Selain itu,
penting untuk memastikan bahwa prgram yg unggul dapat dijalankan tanpa hambatan
finansial. Dengan kata lain, pemahaman terhadap posisi pasar membantu dalam
menyusun program-program lembaga pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan,
status sosial, latar belakang pendidikan, minat, kecenderungan pengeluaran, dan
sumber pendapatan pelanggan atau pengguna jasa pendidikan.
����������� Penentuan posisi pasar dalam lembaga
pendidikan memiliki signifikansi penting dalam membntu manajemen meengelola
programs-program yang sesuai dengan karakteristik lembaga tersebut. Selain itu,
juga penting untuk memastikan bahwa program-program yang memiliki keunggulan
dpat berjalan tanpa masalah finansial. Dengan ungkapan yang berbeda, pemahaman
terhadap situasi pasar memainkan peran vital dalam merancang program-program lembaga
pendidikan yang dapat memenuhi keebutuhan, status sosial, Riwayat pendidikan,
minat, kecenderungan pengeluaran, dan sumber pendapatan para pengguna jasa
lembaga tersebut.
����������� Berdasarkan pandangan yang telah
diungkapkan, dapat disimpulkan bahwa menilai posisi pasar dalam lingkungan
internal memiliki signifikansi yang besar bagi lembaga pendidikan dalam
usahanya untuk merancang program pendidiikan dann pembelajaraan yang sesuai
dengan permintaan dan kebutuhan pengguna layanan pendidikan. Oleh karena itu,
mengembanggkan program pembelajaran yang tidak mempertimbangkan selera
pelanggan dapat berpotensi menyebabkan kegagalan program tersebut dan minim
peminat. Demikian pula, jika program yang dirancang tidak dapat dijangkau oleh
peserta didik, maka potensi optimalisasi program tersebut akan terbatas. Oleh
karena itu, menjadi esensial untuk melakuukan analisiis lingkungan internal
yang mencakup faktor posisi pasar.
Keuangan
����������� Lembaga pendidikan adalah entitas
yang berfokus pada penyediaan layanan pendidikan dan dalam menjalankan
operasionalnya, memerlukan sumber daya finansial. Manajemen keuuangan maupun
pembiayaan pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan ataau sekolah menjadi
elemen yang sangat krusial. Memastikan terpenuhinya sumber daya finansial yang
memadai menjadi hal yang esensial untuk menyelenggarakan pembelajaran yang
berkualitas,� Selain itu, analisis keuangan melibatkan
pemahaman tentang berbagai jenis biaya, termasuk biaya yang tetap, biaya yang
bervariabel, biaya langsung, biaya tak langsung, biaya total, biaya rata-rata,
dan biiaya tambahan. Mengenal semua komponen biaya pendidikan ini membantu
manajemen dalam menafsirkan jumlah uang yang dibutuhkan untuk operasional
pendidikan.
����������� Dari pandangan dii atass,
dapat disimpulkan jika analisis keuangan di lembaga pendidikan memiliki
signifikansi penting untuk memahami sejauh mana sumber daya finansial yang
tersedia di lembaga dan juga untuk menilai perkiraan biaya yang dibutuhkan
untuk menjalankan program pendidikan.
����������� Manajemen perlu melakukan analisis kondisi
keuangan lembaga sebagai langkah yang sangat penting dalam mengantisipasi
kekurangan dana yang mungkin terjadi dalam operasionalnya. Program-program
dengan biiaya operasiona yang tinggi tidak dapat berjalan secara optimal tanpa
dukungan sumber daya finansial yang memadai. Untuk itu, mengetahui kondisi
keuangan sebelum menjalankan program adalah esensial agar dapat mencarii solusi
yang sesuai untuk mendanai program tersebut, serta merencanakan alternatif jika
menghadapi kendala finansial dalam pelaksanaannya. Analisis keuangan juga
diperlukan untuk mengidentifikasi potensi pemborosan dalam pengeluaran yang
tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap kemajuan lembaga. Pengeluaran
yang tidak efektif dalam program yang tidak bermanfaat bagi perkembangan
lembaga merupakan pemborosan sumber daya. Dengan mendeteksi anggaran yang tidak
efisien dalam pendidikan sejak awal, lembaga dapat menghindari pemborosan dan
mengalihkan sumber daya tersebut ke program-program yang lebih
berpotensi."
(
SDM) Sumber Daya Manusia
����������� SDM adalah elemen inti yang penting
sebuah leembaga pendidikan, dan tanpa kehadiran mereka, operasional institusi
pendidikan tidak akan bisa berjalan. Keberadaan tenaga kerja yang memiliki
kualitas tinggi memiliki dampak yang sangat positif pada seluruh Kinerja
operasional institusi pendidikan. Meskipun fasilitas yang lengkap merupakan
aset yang penting, namun taanpa kehadiran sumber daya manusia yang mampu
memanfaatkannya untuk program-program unggulan, fasilitas tersebut tidak akan
memiliki dampak yang signifikan. Sebaliknya, ketika sdm berkualitas tinggi
hadir dalam lembaga pendidikan, mereka mampu menciptakan program-program
unggulan bahkan jika fasilitas yang tersedia terbatas. Dengan demikian, penting
untuk mengetahui ketersediaan SDM yang berkualitas tinggi bagi institusi
pendidikan, karena mereka memiliki peran kunci dalam menciptakan
program-program yang unggul.
����������� Dalam kerangka manajemen
strategis, SDM sebagai bagian dari lingkungan internal dapat memiliki dampak
yang signifikan pada pencapaian tujuan. Analisis sumber daya manusia pada tahap
awal perencanaan program merupakan langkah penting untuk memberikan informasi
kepada manajemen mengenai ketersediaan dan tingkat kualitas sumber daya manusia
yang tersedia di lembaga, serta bagaimana kualitaasnya. Kekurangan SDM dapat
menghambat pelaksanaan program yang telah direncanakan. Walaupun program
tersebut dirancang dengan baik, jika tidak diduukung oleh Sumber daya manusia
yang tersedia yang memadai, maka program tersebut tidak akan bisa dijalankan
secara efektif.
����������� Analisisis internal
terhadap tenaga kerja di Evaluasi yang dilakukan di leembaga pendidikan
bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memerlukan perhatianya
dalam konteks sumber SDM. Siagian menjelaskan terdapat tujuh faktor� perlu diperhatikan oleh manajemen terkait
dengan SDM, antara lain: Pertama, kebijakan SDM mencakup langkah-langkah
seperti penciiptaan sistem informasi sumber daya manusia, klasifikasi jabatan,
analisis pekerjaan, uraian pekerjaan, standar pengukuran kinerja, perencanaan
tenaga kerja, rekrutmen, seleksi, orientasi dan penempatan, sistem imbalan,
pendidikan dan pelatihan, penilaian kinerja, perencanaan dan pengembangan
karir, serta pemeliharaan hubungan.; (o) peemutusan hubungan kerja; dan (p)
peminsiunan pegawai; kedua, penanganan yang tepat terhadap terhadap
keterampilan dan Faktor-faktor yang memengaruhi produktivitas kerja meliputi
semangat kerja, pemberian motivasi yang sesuai, sistem penghargaan, kebijakan
selama lembaga sibuk dan di jam kerja yang tidak efektif, pengenalan sumber
daya manusia, serta peran serikat pekerja dan manajemennya
Dari pandangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa
analisis internal terhadap sumber daya manusia memiliki peranan krusial dalam
konteks lembaga pendidikan. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi
ketersediaan dan kualitas sumber daya manusia sebagai data yang diperlukan
dalam perencanaan program serta merumuskan strategi yang efektif untuk bersaing
dengan pesaing.
Analisis Lingkungan Internal
Pendidkan Vokasi MAN 1 Bungo Plus Ketrampilan.
����������� Analisis lingkungan internal pada
dasarnya melibatkan evaluasi terhadap faktor-faktor yang memiliki dampak pada
pencapaian tujuan internal lembaga yang telah ditetapkan. Secara umum,
Keunggulan dan kelemahan lembaga pendidikan melibatkan berbagai aspek, seperti
pasar, keuangan, produksi, SDM, serta struktur organisasi dan manajemen.
.���������� Kapasitas
institusi pendidikan dalam hal posisi pasar, keuangan, sumber daya manusia, dan
produksi memberikan wawasan berharga yang dapat membimbing pengambilan
keputusan. Kemampuan yang diperkuat dapat menjadi faktor kunci yang membedakan
lembaga pendidikan dari yang lain, dan mampu menarik minat para pengguna jasa.
Dengan menetapkan standar proses yang unggul, pembuat keputusan dapat membentuk
karakteristik khusus lembaga pendidikan dengan tujuan menciptakan keunggulan
sekolah tersebut.
Contohnya adalah MAN 1 Bungo Plus Ketrampilan,
sebuah lembaga pendidikan menengah atas yang memiliki latar belakang Islam yang
kuat dan telah tumbuh dengan pesat. Sekolah ini menawarkan beragam program
andalan dan program ketrampilan seperti Multimedia,
Teknik Elektronika, Teknik Pengelasan, Tata Boga, dan Hidroponik. Selain
itu, mereka juga memberikan peluang kepada siswa kelas XII untuk menjalani
Praktek Kerja Lapang (PKL) di Dunia Usaha (DUDI). MAN 1 Bungo Plus Ketrampilan
telah mencapai prestasi tertinggi baik di tingkat provinsi maupun nasional.
Sekolah ini telah berhasil membuktikan kemampuannya dalam menganalisis pasar
dengan mempertimbangkan kondisi siswa sebagai dasar untuk merencanakan
pembelajaran. Kemampuan ini menjadi nilai unik yang membedakan MAN 1 Bungo Plus
Ketrampilan dari sekolah lainnya.
Sebagai lembaga yang berkomitmen pada
prinsip-prinsip Islam dalam pencapaian tujuan, lembaga pendidikan Islam
seharusnya mampu menjadi teladan bagi lembaga pendidikan sekitarnya.
Setidaknya, lembaga tersebut harus memiliki pemahaman yang kuat mengenai
kemampuannya sendiri dan kemampuan ini harus dimanfaatkan secara optimal. Dengan melakukan evaluasi iinternal Menyangkut
komponen-komponen yang memengaruhi pencapaian tujuan lembaga pendidikan Islam,
tujuannya adalah untuk mengenali kekurangan yang ada dalam institusi tersebut.
Kekurangan-kekurangan ini bukan untuk dihindari, tetapi untuk diatasi melalui
pencarian solusi sehingga lembaga tersebut tetap relevan dan kompetitif
Analisis SWOT Pendidikan
Vokasi MAN 1 Bungo Plus Ketrampilan
����������� Dalam manajemen strategis, aspek
yang paling fundamental adalah melakukan analisis yang komprehensif dari
berbagai perspektif, baik yang terkait dengan faktor internal maupun eksternal.
Pendekatan yang umumnya digunakan adalah analisis SWOT. Analisis SWOT bisa
dijelaskan sebagai proses mengenali kondisi dari empat perspektif berbeda,
yaitu Kekuatan (Strengths) dan Kelemahan (Weaknesses) yang bersumber dari
internal, serta Peluang (Opportunities) dan Ancaman (Threats) yang muncul dari
eksternal.
����������� Menurut penulis, analisis SWOT
memiliki hubungan yang erat dengan kualitas pendidikan. Dengan melakukan
analisis SWOT, sekolah dapat memanfaatkan kekuatannya untuk menutupi kelemahan
yang ada, serta memanfaatkan peluang untuk menghindari hambatan. Hal ini
memungkinkan sekolah untuk merancang strategi yang efektif dalam meningkatkan
mutu pendidikan. Hasil dari analisis SWOT juga memberikan wawasan tentang
kualitas lembaga pendidikan tersebut.
����������� Di Muara Bungo berdiri lembaga
pendidikan islam yang menurut penulis cocok patut menjadi tempat madarasah
untuk menulis makalah tentang Analisi Lingkungan Lembaga Pendidikan Islam yaitu
Madarasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Bungo yang beralamat di Jalan Protokol
Komplek Perumnas Rimbo Tengah ini berdiri pada tahun 1979 yang pada waktu itu
status kelembagaanya adalah swasta, yaitu Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Muara
Bungo, namun sejalan dengan perkembangan dunia pendidikan dan dikarenakan
madrasah ini merupakan madrasah aliyah yang paling diminati ketika itu, serta
berdirinya beberapa lembaga-lembaga pendidikan baik yang bernuansa Islam maupun
yang bersifat umum dan untuk mengidentifikasi keberadaan Madrasah Aliyah Swasta
(MAS) yang pertama berdiri di kabupaten Bungo ini, maka dalam kurun waktu tiga
tahun secara resmi madrasah ini menjadi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) pada tahun
1982 dengan nomor statistik (NSM) 311.15.02.03.004. Setelah beberapa tahun
berjalan berdasarkan KMA No.681 Tahun 2016, maka MAN Muara Bungo kembali
berubah nama menjadi MAN 1 Bungo.
Pada perkembangan berikutnya, madrasah ini tergolong
dalam salah satu madrasah yang perkembangannya sangat pesat di kabupaten Bungo.
Hal ini dibuktikan dengan perkembangan pembangunan dan telah tersedia asrama
bagi peserta didik dan banyaknya masyarakat yang berminat mendidik anaknya pada
madrasah ini. Oleh karena lamanya MAN 1 Bungo ini berdiri dan berkembang di
kabupaten Bungo, tentunya sesuai dengan aturan birokrasi bahwa madrasah ini
telah mengalami tujuh kali berganti top manajer dimulai dari Drs. As�ad Syam.
A. Yani, S.Ag, Drs. Adnan Abubakar, Drs. M. Sobri A, M.Ag, Syafril Mawis, S.Ag,
Drs. Khairul Saleh, S.Pd, Dra. Hj. Nurbeda, M.Pd.I dan (kepala madrasah) yang
sekarang di kepalai oleh Bapak Dony Afrian, S.Pd.I., M.Pd.I.
Pada tahun 2019, dimulailah program pendidikan
vokasi di MAN 1 BUNGO, yang sesuai dengan Petunjuk Teknis Pengelolaan Madrasah
Plus Keterampilan yang telah ditetapkan oleh Dirjen Pendidikan Islam dengan
Surat Keputusan nomor 6985 Tahun 2019. Dengan merujuk pada Surat Keputusan
tersebut, MAN 1 Bungo Plus Keterampilan menjalankan beberapa program keahlian
atau keterampilan, yakni: a. Elektronika teknik, b. Hidroponik, c. Multimedia,
d. Tata boga, e. Pengelasan. Selain itu, mereka juga memberikan peluang kepada
siswa kelas XII untuk menjalani Praktek Kerja Lapang (PKL) di Dunia Usaha
(DUDI).[1]
Program-program keterampilan di MAN 1 Bungo Plus
Keterampilan disusun dengan penempatan peserta didik sebagai berikut: Program
Teknik Elektronika ditempuh oleh peserta didik kelas Ilmu Alam 1 dan Ilmu Alam
2. Program Hidroponik diajarkan kepada peserta didik kelas Ilmu Alam 3 dan Ilmu
Sosial 3. Program Multimedia diikuti oleh peserta didik kelas Bahasa. Program Tata
Boga dipelajari oleh peserta didik kelas Ilmu Sosial 1 dan� Program Pengelasan diajarkan kepada peserta
didik Ilmu Sosial 2.
Hasil Analisis SWOT
|
Kekuatan |
Kelemahan |
Peluang |
Tantangan |
|
Semua staf pengajar telah menyelesaikan gelar S1, dan beberapa di antaranya
juga telah meraih gelar S2, serta telah memperoleh sertifikasi. |
Sumber daya manusia terutama tenaga pendidik/staf pengajar� pendidikan vokasi belum semua linier dengan
kompetensi yang diajar |
Mendapat pengakuan sebagai sekolah model dan percontohan |
Persaingandengan institusi pendidikan luar, seperti sekolah menengah
Kejuaran Pusat Keunggulan (SMK-PK).SMK pariwisata, SMK Teknologi. |
|
Sarana dan prasarana sudah memadai sesuai dengan standar minimum
pelayanan. |
|
Minat masyarakat yang tinggi |
Transformasi globalisasi. |
|
Dana diperoleh dari anggaran pemerintah dan tambahan dana dari
kontribusi komite sekolah. |
|
Kemitraan dengan DUDI ( Dunia industri |
Menjaga tingkat kualitas pendidikan yang telah tercapai. |
|
Sekolah model dan percontohan |
|
|
|
Kesimpulan
Penutup
merupakan simpulan dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan dan merupakan
jawaban dari rumusan masalah. Simpulan diselaraskan dengan rumusan masalah dan
tujuan penelitian. Dalam hal simpulan lebih dari satu, maka dituliskan
menggunakan penomoran angka dan bukan menggunakan bullet. Dalam bagian penutup
ini juga dapat ditambahkan prospek pengembangan dari hasil penelitian dan
aplikasi lebih jauh yang menjadi prospek kajian berikutnya.� ��
Daptar Pustaka
Agus
Irianto, Haji penulis. Pendidikan sebagai investasi dalam pembangunan��������� suatu bangsa / H. Agus Irianto.
Jakarta :; �2011: Kencana,, 2017.
Alina
Filip, �Global Analysis of the Educational Market Environment,�Procedia� Social and Behavioural Science, 2012.
Alex
Miller dan Gregory G. Dess, Strategic Management. Second Edition. (New York.
A.
Hasan, Al-Furqan Tafsir Qur�an, (Jakarta: Universitas Al Azhar Indonesia,
2010).
Amirullah.
Manajemen strategi : teori konsep kinerja /Amirullah. Jakarta:: Mitra Wacana
Media,, 2015.
Anwar
Prabu Mangkunegara, A.A. pengarang; Redaksi Refika Aditama editor. Perilaku dan
Budaya Organisasi / A.A. Anwar Prabu Mangkunegara ; editor, Redaksi Refika
Aditama. Bandung:; � 2005: Refika Aditama,, 2017.
Hery,
1975- penulis. Cara cepat & mudah memahami pengantar manajemen / Hery,
S.E., M.Si.. Yogyakarta :: Gava Media,, 2017.
Ian
G Evans, Marketing For School, (New York: Cassel, 1995).
J.
David Hunger, Strategic Management and Bussiness Policy,Fourth Edition, (New
York: Addison Wesley Publishing Company, 2000).
Jamal
Ma`mur Asmani. Manajemen Efektif Marketing Sekolah / Jamal Ma`mur Asmani. ed. 1
cet. 1. Yogyakarta: Diva Press, 2015.
Ludwig
von Bertalanffy, �The History and Status of General Systems Theory,� Academy of
Management Journal, 15 (December 1972): 411, https://www.jstor.org/stable/255139
Lwrence
R. Jauch, dan Willian F. Glueck, Manajemen Strategis dan Kebijakan Perusahaan.
Edisi Ketiga. Alih Bahasa : Murad dan AR. Henry Sitanggang. (Jakarta : Erlangga,
1999).
Mawardi.ILMU
ALAMIAH DASAR, ILMU SOSIAL DASAR, ILMU BUDAYA DASAR / Drs. Mawardi
.2009.hlm.214.
Musa
Hubeis; Mukhamad Najib. Manajemen strategik : dalam pengembangan daya saing
organisasi / Musa Hubeis, Mukhamad Najib. Jakarta :: Elex Media Komputindo,,
2014.
Prof.
Dr. Maisah, M.Pd.I.. Jambi :; � 2016: Salim Media Indonesia,, 2016.hlm.31-32
Maisah, 1970- (penulis). Manajemen strategik dalam perspektif pendidikan Islam.
Peter
Wright etal. Strategic Management: Concepts and Cases, (Upper Saddle River,
N.J.:Prentice Hall., 1996.
Sondang
P. Siagian.Manajemen Stratejik : - / Sondang P. Siagian .2012
Stephen
P. Robbins, Organizations Theory: Structure, Design and Application.
ThirdEdition, Alih bahasa Yusuf Udaya, (Jakarta: Penerbit Arcan, 1994).
Supriyono,
Manajemen Strategi dan Kebijakan Bisnis, (Yogyakarta: BPFE,1989),
William
G. Nickels, Jam M. Hugh dan Susan M. Hugh. Pengantar Bisnis:
UnderstandingBusiness. (Jakarta: Salemba Empat, 2004).