ANALISIS LINGKUNGAN INTERNALLEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

 

Mashuri1, Maisah2, Lukman Hakim3

Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin Jambi, Indonesia

[email protected]1, [email protected]2, [email protected]3

Abstrak:

Penelitian ini mengeksplorasi analisis lingkungan internal Lembaga Pendidikan Islam dengan fokus pada Pendidikan Vokasi MAN 1 Bungo Plus Ketrampilan. Lingkup penelitian mencakup konsep lingkungan internal, jenis-jenis lingkungan lembaga pendidikan Islam, serta pentingnya analisis lingkungan dalam manajemen strategis. Tujuan penelitian adalah memberikan pemahaman mendalam terhadap potensi dan kelemahan lembaga, dengan analisis SWOT sebagai alat evaluasi. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat memberikan panduan praktis dan konseptual untuk meningkatkan efektivitas dan daya saing Lembaga Pendidikan Islam, khususnya dalam konteks Pendidikan Vokasi. Kesimpulan dan rekomendasi yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi landasan bagi lembaga pendidikan serupa dalam menghadapi tantangan dan memaksimalkan potensi internal mereka untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

 

Kata Kunci: Lembaga Pendidikan, Lingkungan Internal

 

Abstract:

This research explores the analysis of the internal environment of Islamic Education Institutions with a focus on MAN 1 Bungo Vocational Education Plus Skills. The scope of the research includes the concept of internal environment, the types of environments of Islamic education institutions, and the importance of environmental analysis in strategic management. The purpose of the research is to provide an in-depth understanding of the potential and weaknesses of the institution, with SWOT analysis as an evaluation tool.Through this research, it is expected to provide practical and conceptual guidance to improve the effectiveness and competitiveness of Islamic Education Institutions, especially in the context of Vocational Education. The resulting conclusions and recommendations are expected to serve as a foundation for similar educational institutions in facing challenges and maximising their internal potential to achieve their desired goals).

 

Keywords: Educational Institutions, Internal Environment

����� ����

 

Pendahuluan

Untuk mencapai tujuan organisasi dengan secara efisien dan efektif, berbagai cabang Bidang pengetahuan manajemen menganggap analisis lingkungan merupakanaktivitas sangat penting. Merupakan hal yang umum, sejak para ahli manajemen mengenalkan konsep organisasi seperti sistem yang terbuka dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya.

Sebagai akibat dari efek reformasi informasi dan globalisasi, lingkungan saat ini mengalami perubahan yang signifikan dan intensitasnya semakin meningkat serta sulit untuk diprediksi. Dampaknya adalah meningkatnya persaingan dan kompleksitas masalah yang dihadapi oleh organisasi dari hari ke hari. Oleh karena itu, sebelum melangkah ke berbagai proses manajemen strategis lainnya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan analisis lingkungan perusahaan. Analisis ini melibatkan pemahaman mendalam terhadap kondisi eksternal dan internal yang dihadapi oleh perusahaan hingga ke akarnya. Dengan demikian, perusahaan dapat lebih waspada dan memahami konsekuensi dari perubahan tersebut, sehingga dapat bersaing dengan lebih efektif.

Analisis lingkungan internal adalah upaya untuk mengidentifikasi faktor-faktor internal dan ekternal yang mempengaruhi pencapaian tujuan suatu lembaga. Ini mencakup evaluasi semua potensi dan batasan yang dimiliki oleh lembaga tersebut. Penting untuk mengenali dan mengoptimalkan potensi yang ada karena hal ini dapat menjadi daya tarik unik untuk institusi dalam mempengaruhi keinginan orang disekitarnya, khususny siswa. Di sisi lain, mengidentifikasi kelemahan internal juga perlu dilakukan secara dini agar lembaga bisa menemukan cara dan upaya agar bisa mencari solusikelemahan tersebut dan tetap beroperasi secara optimal. Jika kita menggunakan bahasa manajemen perusahaan, analisis internal mencakup: (1) posisi pasar; (2), keuangan dan akunting; (3) produksi, aspek teknik dan operasional; (4) sumber daya manusia; dan (5) struktur organisasi dan manajemen lembaga.

Kesulitan yang dihadapi adalah bahwa manajemen tidak melakukan analisis yang memadai terhadap potensi dan kelemahan lembaga, sehingga lembaga tersebut kehilangan daya tarik yang membedakannya dari institusi pendidikan sejenis lainnya. Selain itu, kurangnya kesadaran terhadap kelemahan lembaga dapat menyebabkan masalah di masa depan. Menemukan potensi yang dimiliki terlambat dapat mengakibatkan masalah seperti penurunan daya saing lembaga, sementara menyadari terlambat akan kelemahan lembaga dapat membuatnya tidak siap menghadapi tantangan yang mungkin muncul.

����������� Lembaga pendidikan merupakan institusi dimana dibentuk secara terstruktur, sertaterencana dengan tujuan agar mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. Melalui proses pembelajaran, organisasi ini menyediakan tempat bagi para siswa untuk Mengupayakan pengembangan bakat, minat, dan kemampuan mereka dalam unsur cognitif, afektif, dan psycomotorik. Tujuannya adalah untuk menghasilkan manusia yang berkualitas. Lembaga pendidikan ini melakukan berbagai kegiatan pendidikan dengan tujuan meningkatkan mutu keguatan belajar mengajar di tingkat sekolah. Setiap tindakan yang dijalankan berorientasi untuk pemenuhanmisi, visi serta tujuan institusi pendidikan sesuai dengan keputusan bersama-sama. Dalam hal ini, dalam plaksanaan pmbelajaran, penting untuk memanfaatkan strategi dan langkah yang sesuai guna mencapai tujuan yang diinginkan, Pendekatan ini dikenal sebagai manajemen strategis. Ada beberapa alasan mengapa manajemen strategis menjadi penting, di antaranya adalah:Pertama, manajemen strategis memungkinkan suatu organisasi untuk mengevaluasi sejauh mana pencapaian kinerja telah terjadi. Kedua, organisasi perlu selalu siap menghadapi perubahan situasi yang mungkin terjadi. Ketiga, setiap keputusan yang diambil oleh pimpinan selalu melibatkan manajemen strategis, sehingga manajemen strategis memainkan peran yang sangat penting dalam hal ini. Langkah-langkah serta kputusan yng dmaksud melibatkan analisisa lngkungan intrnal dan lingkungn ekstrnal.

����������� Menurut Filip, sekarang, lembaga pendidikan beroperasi dalam sebuah lingkungan pasar yang memiliki dampak signifikan terhadap kemampuan lembaga tersebut dalam melayani dan merespons kebutuhan pemangku kepentingannya. Menolak untuk beradaptasi dengan perubahan yang terjadi akan meningkatkan risiko kalah dalam kompetisi, serta risiko masalah internal dan masalah kelangsungan hidup. Oleh karena itu, analisis lingkungan menjadi sebuah kegiatan yang sangat penting yang harus dilakukan oleh lembaga pendidikan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan internal, serta peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi oleh lembaga tersebut.

����������� Berdasarkan konteks yang telah dijelaskan, Makalahini bertujuan untuk melakukan analisis lingkungan Lembaga Pendidikan Islam, baik yang bersifat internal. Langkah awal adalah menjelaskan konsep dan variasi lingkungan, serta menggambarkan peran yang sangat penting dari analisis lingkungan dalam manajemen Lembaga Pendidikan Islam. Diharapkan makalah ini akan memberikan pemahaman yang betapa pentingnya melakukan analisisa lingkungan InstitusiPendidikan Islam dan dapat memberikan rekomendasi kepada Lembaga Pendidikan Islam yang ingin menjalankan analisis lingkungan mereka sendiri.

Tujuan penulisan ini mencakup beberapa aspek, antara lain memahami pengertian lingkungan internal di lembaga pendidikan, mengetahui jenis-jenis lingkungan lembaga pendidikan Islam, memahami pentingnya analisis lingkungan dalam pengelolaan lembaga pendidikan Islam, menganalisis lingkungan internal Pendidikan Vokasi MAN 1 Bungo Plus Ketrampilan, dan mengetahui analisis SWOT Pendidikan Vokasi MAN 1 Bungo Plus Ketrampilan.��

 

Metode

Metode penelitian kuantitatif untuk analisis lingkungan internal lembaga pendidikan Islam melibatkan perancangan survei dengan variabel-variabel utama seperti sumber daya manusia, fasilitas, keuangan, dan proses pendidikan. Kuesioner terstruktur didistribusikan kepada staf, siswa, dan orang tua sebagai sampel representatif. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan perangkat lunak statistik, seperti SPSS, dengan menerapkan teknik statistik deskriptif.

 

Hasil dan Pembahasan

A.     Pengertian Lingkungan Lembaga PendidikanIslam

Pendidikan Islam sebagai sebuah lembaga pendidikan memiliki pendekatan khusus dalam pelaksanaannya untuk menghasilkan individu yang bermanfaat bagi negara dan masyarakat, dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral. Tidak dapat disangkal bahwa manajemen strategis adalah hal yang sangat penting dalam pengembangan potensi sumber daya manusia secara efektif dan tepat. Oleh karena itu, penting untuk secara terperinci menjelaskan hakikat (ontologi), sumber (epistemologi), dan nilai (aksiologi) dari pendidikan Islam guna memahami jenis manajemen strategis yang sesuai untuk mengembangkan lembaga pendidikan Islam itu sendiri.

Dari sudut pandang ontologi, pendidikan Islam merujuk pada usaha yang disengaja oleh orang dewasa untuk meningkatkan kemampuan anak-anak menuju tahap keutamaan manusia yang sempurna (insan kamil). Semua jenis upaya untuk mengembangkan kemampuan ini harus dijalankan dengan cara yang terstruktur, terencana, terarah, terintegrasi, dan berkelanjutan, sehingga dapat dianggap sebagai inti dari pendidikan Islam. Prinsip epistemologi dalam pendidikan Islam adalah rangkaian metode yang digunakan untuk mengembangkan teori dan konsep dalam pendidikan Islam. Dengan adanya epistemologi dalam pendidikan Islam, berbagai permasalahan dalam dunia pendidikan Islam dapat diatasi. Sebagai contoh, salah satu sumber pendidikan Islam adalah pengalaman empiris manusia, yang kemudian diajarkan kepada peserta didik. Aksiologi dalam pendidikan Islam mengacu pada tujuan atau nilai-nilai yang terkandung dalam implementasi pendidikan Islam.

����������� Berbagai cabang ilmu manajemen telah mengidentifikasi lingkungan sebagai tindakan penting yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi secara lebih efektif dan efisien. Hal ini merupakan hal yang lazim, karena para ahli manajemen memandang organisasi sebagai sebuah sistem terbuka yang sangat dipengaruhi oleh lingkungannya.

����������� Menurut Robbin, lingkungan organisasi mencakup semua komponen yang ada di luar organisasi. Namun, sangat penting untuk digaris bawahi bahwa hal-hal tersebut tidak hanya berada di luar organisasi, tetapi juga mempunyai pengaruh terhadap kehidupan organisasi. Nikels et al. menjelaskan bahwa lingkungan adalah kombinasi faktor-faktor di sekitar yang memiliki potensi untuk mendukung atau menghambat perkembangan dan kelangsungan usaha. Mengacu pada pandangan-pandangan tersebut, dapat dipahami bahwa ada dua aspek kunci dalam konsep lingkungan, yaitu, pertama, lingkungan mencakup semua elemen atau unsur yang berada di luar organisasi, dan kedua, lingkungan mencakup semua elemen atau unsur yang memiliki dampak terhadap organisasi. Dengan definisi yang lebih lengkap, lingkungan organisasi dapat dijelaskan sebagai semua unsur di luar organisasi yang memiliki potensi untuk memengaruhi organisasi.

����������� Lingkungan adalah komponen yang tidak dapat dipisahkan dari eksistensi sebuah Lembaga Pendidikan Islam dan memiliki peran yang signifikan dalam kelangsungan hidup Lembaga Pendidikan Islam tersebut. Dalam usaha mencapai visi dan menjalankan misi, lingkungan memiliki peran penting yang berperan dalam menentukan faktor kunci kesuksesan pencapaian tersebut. Oleh karena itu, sebuah LPI, sebagai bagian integral dari kehidupan sosial, masyarakat, bangsa, dan negara, harus mempunyai kesadaran tentang lingkungannya. Mereka harus menyadari dan memiliki kemampuan untuk menganalisis faktor-faktor di sekitarnya yang dapat membantu atau bahkan menghambat kelangsungan hidupnya.

����������� Apabila berhubungan dengan konteks lingkungan lembaga pendidikan islam, maka lingkungan lembaga pendidikan merujuk kepada semua unsur yang berada di luar atau di sekitar lembaga pendidikan Islam tersebut yang dapat memengaruhi lembaga pendidikan tersebut.

B.     Jenis-Jenis Lingkungan Lembaga Pendidikan Islam

����������� Untuk memudahkan analisis atau pemahaman terhadap lingkungan organisasi, para pakar bisnis mengklasifikasikan berbagai jenis lingkungan. Pengelompokan jenis-jenis lingkungan ini didasarkan pada sejauh mana Dampaknya pada perilaku dan kinerja organisasi. Secara keseluruhan, ahli-ahli mengklasifikasikan jenis lingkungan organisasi dengan berbagai istilah yang berbeda. Robbins memisahkan jenis lingkungan organisasi menjadi lingkungan eksternal dan lingkungan internal. Wheelen dan Hunger mengklasifikasikan lingkungan menjadi lingkungan internal dan lingkungan eksternal. Dengan merujuk pada pandangan beberapa ahli, meskipun terdapat variasi dalam istilah yang digunakan, secara umum Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa sebuah organisasi memiliki dua aspek utama, sebagaimana telah disebutkan oleh Wheelen dan Hunger, yaitu aspek internal (di dalam organisasi itu sendiri) dan aspek eksternal (di luar organisasi

����������� Berdasarkan pendapat Wright et.al. lingkungan internal suatu organisasi, terutama dalam konteks perusahaan, adalah sumber daya yang akan memengaruhi kekuatan dan kelemahan organisasi tersebut. Penting untuk menganalisis lingkungan internal ini guna mengidentifikasi kekuatan serta Keterbatasan organisasi. Sumber daya perusahaan ini mencakup aspek seperti tenaga kerja, aset perusahaan, dan sumber daya fisik.

Mirip dengan pandangan para ahli bisnis yang telah disebutkan diatas, lembaga pendidikan juga memiliki dua lingkungan yang perlu dipertimbangkan: lingkungan internal dan eksternal. Konsep ini sesuai dengan gagasan yang diusulkan oleh Evans mengenai lingkungan sekolah. Lingkungan internal terbentuk oleh semua komponen internal di dalam sekolah. Sedangkan, lingkungan eksternal terbagi menjadi dua bagian, yaitu liingkungan mikro dan makro. Lingkungan mikro (micro-environment) terdiri dari individu atau organisasi yang memiliki potensi pengaruh langsung terhadap sekolah. Sementara itu, lingkungan makro (macro-environment) terdiri dari sejumlah faktor yang memiliki dampak tidak hanya pada sekolah tetapi juga pada seluruh komponen yang ada dalam lingkungan mikro. Faktor-faktor ini mencakup hal-hal seperti demografi, ekonomi, politik, hukum, sosial budaya, lingkungan, dan teknologi. Dalam konteks penulisan ini, perbedaan antara kedua jenis lingkungan ini akan menjadi dasar bagi penulis untuk memeriksa dan menganalisis lingkungan LPI.

C.     Pentingnya Analisa Lingkungan Dalam Pengelolaan Lembaga Pendidikan Islam.

Dalam dunia manajemen bisnis, pengkajian lingkungan atau yang juga disebut observasi atau pemantauan lingkungan adalah suatu tahap yang digunakan oleh perumus atau perencana strategi untuk memonitor situasi lingkungan dengan tujuan mengidentifikasi peluang atau ancaman yang mungkin memengaruhi perusahaan.

����� Kegiatan dalam proses analisis lingkungan melibatkan pemantauan, evaluasi, dan berbagi informasi berdasarkan hasil observasi lingkungan internal dan eksternal dengan para pemangku kepentingan di perusahaan. Tujuannya adalah untuk menjadi alat manajemen yang efektif dalam menghindari kejutan strategis serta memastikanmanajemen dalam jangka panjang. Melalui analisis lingkungan, organisasi dapat mengetahui berbagai kebutuhan, aspirasi, dan perubahan yang terjadi baik dalam organisasi itu sendiri maupun di masyarakat.

Secara lebih rinci, menurut Supriyono, terdapat beberapa alasan penting untuk melakukan diagnosis dan analisis lingkungan, yang meliputi: (1) Karena lingkungan mengalami perubahan yang sangat cepat dan dinamis, sehingga diperlukan aktivitas analisis lingkungan untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut; (2) Manajer perlu menyelidiki lingkungan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat menjadi ancaman bagi organisasi dalam pencapaian tujuan, serta menentukan apakah faktor-faktor saat ini memberikan peluang lebih besar bagi organisasi dalam mencapai tujuan; (3) Organisasi yang secara sistematis melakukan analisis lingkungan cenderung lebih efektif dibandingkan dengan yang tidak melakukannya.

Analisis adalah sesuatu yang sudah dikenal dalam Islam yang mengajarkan setiap penganutnya untuk melakukan analisis. Tujuan dari pengamatan atau analisis ini adalah untuk memperoleh pengetahuan yang dapat bermanfaat bagi organisasi itu sendiri, sesuai dengan firman Allah."

�Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Q.s.Al-Israa�:36)�

 

Hasan menyatakan bahwa ayat tersebut menggambarkan landasan untuk melakukan riset. Dalam Islam, disarankan agar umatnya tidak hanya mengikuti apa yang sudah ada, tetapi melakukan penelitian . Bagi organisasi, ayat ini dapat mendorong mereka untuk melakukan evaluasi lingkungan internal dan eksternal mereka sendiri, karena dampak atau pengaruhnya pasti berbeda antara satu organisasi dan organisasi lainnya.

����� Berdasarkan berbagai definisi, tujuan, dan pentingya dari kegiatan analisis lingkungan yang telah disebutkan, kita dapat menyimpulkan Aktivitas analisis lingkungan dalam lembaga pendidikan Islam bisa diartikan sebagai proses pemantauan dan evaluasi lingkungan eksternal dan internal sebagai bagian dari upaya untuk mengidentifikasi peluang atau ancaman yang mungkin memengaruhi lembaga pendidikan Islam tersebut.

D.     Analisis Lingkungan Internal Lembaga Pendidikan Islam

Bagian pertama yang harus dianalisis dalam konteks Lingkungan Pendidikan Islam adalah lingkungan internal, yang mencakup organisasi pendidikan itu sendiri. Lingkungan internal merujuk pada semua unsur yang ada dalam organisasi itu sendiri, mulai dari manajemen hingga karyawan, yang berkolaborasi untuk mencapai tujuan organisasi. Menurut Evans, lingkungan internal melibatkan oleh semua kelompok internal sekolah, termasuk tim manajemen puncak seperti kepala sekolah dan ketua yayasan, manajemen tingkat menengah seperti kepala bidang, staf pengajar, staf administrasi seperti sekretaris, staf domestik seperti bagian pelayanan, dapur, dan cleaning service. Selain itu, murid juga merupakan bagian dari lingkungan internal sekolah, bersama dengan orang tua dan komite sekolah. Semua kelompok ini bersama-sama menciptakan suasana internal dan budaya sekolah yang unik.

Lembaga pendidikan perlu melakukan analisis ini untuk mengidentifikasi potensi (kelebihan) dan hambatan (kekurangan) yg dipunyai oleh lembaga. Kelebhan dan kekurngan ini dapat dianggap sebagai peluang, risiko, dan tantangan yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan program kerja. Analisis internal yang dilakukan dapat menentukan profil suatu lembaga pendidikan; memberi informasi tentang sumber daya dan kemampuan spesifik organisasi, apabila sumber daya dan kemampuan tergolong unggul maka menjadi kompetensi inti yang mampu menciptakan nilai tersendiri bagi lembaga bersangkutan.

Secara esensial, terdapat dua Strategi intrnal yg dapat dimamfaatkan untuk mengidntifikasi dan mengevaluasi fktor-fktor intrnal. Pertama, ada pndekatan fungsii yang bertujuan untuk mengenali serta menilaii aspek-aspek internal, termasuk kemampuan, keterbatasan, dan karakteristik-karakteristiknya yang biasanya terkategori dalam beberapa area seperti pasar, keuangan dan akunting, produksi/teknis, sumber daya manusia, serta struktur organisasi dan manajemen. Pendekatan kedua adalah analisis rinci operasional, yang mencakup evaluasi pelaksanaan aktivitas inti serta analisis aktivitas pendukung. Ini melibatkan pemahaman tentang sejarah lembaga, pemahaman tentang siklus kehidupan organisasi, dan pandangan terhadap masa depan.

Dari kedua pendekatan yang telah disebutkan, kita dapat memilih mana yang akan digunakan dalam menganalisis lingkungan internal lembaga pendidikan. Dalam makalah ini, penulis akan fokus pada pendekatan fungsional untuk mengevaluasi kelebihan dan kelemahan lembaga pendidikan.

Komponen Analisis internal meliputi (a) Analisis pemasaran,Keuangan, proses produksi dan operasional, pengelolaan sumber daya manusia, layanan informasi, manajemen mutu, manajemen umum dan organisasi.

Analisis pemasaran

����������� Pasar adalah suatu istilah yang sering digunakan dalam konteks ekonomi untuk merujuk kepada tempat di mana Barang dan layanan disosialisasikan kepada konsumen atau calon pengguna, dan juga sebagai lokasi utama di mana transaksi bisnis terjadi. Di dalam konteks lembaga pendidikan, penggunaan istilah pasar merujuk pada kondisi penggunaan jasa pendidikan. Pengidentifikasian posisi pasar dilakukan dengan tujuan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memungkinkan lembaga memahami secara komprehensif posisi para pengguna jasa, termasuk aspek-aspek seperti: (1) kebutuhan mereka; (2) status sosial; (3) latar belakang pendidikan; (4) preferensi mereka; (5) kecenderungan dalam pengeluaran; dan (6) sumber pendapatan mereka (Siiagian, 2012:106).

����������� Pegguna jaasa pendidikn yaitu kepada peserta didik. Dalam analisisa internall, penting untuk memahami kebutuhan belajar individu peserta didik agar dapat menyusun kegiatan pembelajaran yng sesuaii dengan kebutuhann mereka. Setiap siswa memiliki karakteristik yang beragam, termasuk level kecrdasan intelektual,emosiona, keecerdasan kreatifitas, dan aspek spiritual atauu pemahamn keaagamaannya. Tngkat keceerdasan peserta didik memengaruhi kemampuan mereka dalam Terlibat dalam proses belajar.. Selain itu, setiap individu memiliki gaya belajar yang berbeda, sehingga diperlukan pendekatan pembelajaraan yg sesuaii dengaan gya belajar mereka. Memahami gaya belajar peserta didik dan mengaplikasikannya dalam proses pembelajaran menciptakan lingkungan belajar yang nyaman bagi individu tersebut. Ketika peserta didik merasa nyaman dalam belajar, mereka cenderung berbagi pengalaman positif mereka kepada orang lain, termasuk orang tua, saudara, dan teman-teman mereka yang mungkin bersekolah di tempat yang berbeda. Dengan tidak langsung, kenyamanan belajar bagi peserta didik juga bisa berfungsi sebagai bentuk promosi untuk institusi pendidikan. Selain itu, penting juga untuk menganalisis status sosial peserta didik, dengan tujuan memahami lataar belakang sosial keluarganya. Hal ini terutama relevan untuk merancang langkah-langkah pencegahan serta perbaiikan terhadap potensi masalahh yang mungkin muncul selama kegiatan pembelajaran. Membuat antisipasi terhadap masalah pada awal proses pembelajaran adalah tindakan yang bijak untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan dalam mencapai tujuan lembaga pendidikan.���������� Peserta didik berasal dari berbagai latar belakang keluarga yang beragam, sehingga status sosial keluarga mereka juga beraneka ragam. Status sosial keluarga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan anak. Anak-anak yang memiliki bakat potensial biasanya dapat mengembangkan bakat mereka dengan baik jika lingkungan keluarga mereka mendukung dengan tersedianya fasilitas yang sesuai. Sebagai contoh, seorang anak yang memiliki bakat seni mungkin dapat mengembangkan potensinya lebih baik jika memiliki akses ke alat musik yang sesuai. Perkembangan anak dengan bakat serupa namun tanpa dukungan alat musik akan berbeda. Demikian pula, kondisi sosial anak yang tumbuh dalam keluarga yang lengkap (dengan ayah, ibu, dan saudara-saudara) akan memiliki perkembangan yang berbeda dibandingkan dengan anak yang tidak memiliki struktur keluarga yang utuh. Selain itu, kualitas interaksi dan hubungan antara nggota keluarga, serta pola perilaku serta siikap keluarga dalam berinteraksi, juga berperan penting dalam menentukan perkembangan sosial anak.

Di lembaga pendidikan Islam, di mana mayoritas siswanya adalah ummat Islam, status keagamaan yang berlaku dalam lingkungan keluarga memiliki pengaruh signifikan terhadap cara siswa memandang prosess belajar. Perbedaan tersebut dapat diamati dalam pertumbuhan spiritual individu yang berasal dari keluarga yang menjalankan ajaran agama dengan tekun, dibandingkan dengan individu yang keluarganya kurang peduli terhadap aspek keagamaan, tidak saling memberikan pengajaran agama, atau bahkan acuh tak acuh terhadapnya. Manajemeen lembagaa penddikan Islam dapat merancang program pendidikan yang sesuai dengan karakteristik keagamaan individu peserta didik, berdasarkan latar belakang agama keluarganya. Status sosial dan keagamaan dalam keluarga membantu dalam mengantisipasi kemungkinan masalah yang mungkin muncul dalam proses pembelajaran, sehingga tujuan lembaga pendidikan dapat tercapai tanpa hambatan yang signifikan.

����������� Manfaat memahami status sosial peserta didik bagi lembaga pendidikan adalah agar lembaga dapat memahami peserta didik dari segi perkembangan sosialnya. Hal ini penting untuk merencanakan program-program pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan individu peserta didik dan perkembangan sosial mereka. Selain itu, pemahaman ini memberikan pengetahuan yang diperlukan untuk merancang Langkah-langkah pencegahan dan tindakan perbaikan yang sesuai terhadap isu tersebut. yang mungkin dihadapi peserta didik, yang pada akhirnya akan berkontribusi pada kemajuan lembaga pendidikan.

����������� Selain itu, peserta didik juga memiliki beragam latar belakang pendidikan. Latar belakang pendidikan sebelumnya dapat berdampak pada pola pikir dan perkembangan individu peserta didik, serta memengaruhi tingkat adaptasi mereka terhadaap liingkungan belajar yang baru. Perbedaan dalam latar belakang pendidikan ini menghasilkan variasi dalam Tahap perkembangan pemikiran, tingkat emosional, motivasi, serta kesiapan belajar seseorang.

����������� Sejarah pendidikan sebelumnya memiliki dampak signifikan pada sejauh mana pengetahuan dan wawasan peserta didik terbentuk baik dalam jumlah maupun kualitasnya. Individu yang telah memiliki dasar pengetahuan yang kuat Sebelumnya akan lebih cocok untuk. mengambil pelajaran daripada mereka yang belum memiliki dasar pengetahuan tersebut. Memahami variasi dalam laatar blakang pendidikan peserta didik membantu lembaga pendidikan merancang program pembelajaran yang sesuai dengan perbedaan tersebut. Dalam hal ini, penting untuk merncang kegiatan pembelajaran yang memberi cukup waktu dan motivasi kepada individu yang belum memiliki dasar pengetahuan yang memadai sebelumnya, sehingga mereka dapat mempersiapkan diri sebelum memulai proses belajar. Tindakan ini dapat meningkatkan perkembangan intelektual individu peserta didik selama proses pembelajaran.�����

����������� Pendidikan tidak hanya dimaksudkan untuk meningkatkan kecerdasan intelektual peserta didik, melainkan juga untuk mengembangkan aspek kecerdasan psikomotorik dan emosional mereka. Semua bentuk kecerdasan ini dapat tumbuh melalui interaksi dalam proses pembelajaran yang dirancang dengan baik, yang dimulai dari kemampuan berpikir. Kemampuan berpikir yang berada dalam kisaran normal atau di atasnya berhubungan erat dengan kemampuan individu untuk mengelola emosi, yaitu mengendalikan impuls berdasarkan perasaan.

����������� erkait dengan tingkatt kebutuhann, status sosial, dan latar belakang pendidikan, peserta didik juga memiliki perbedaan dalam hal selera atau minat mereka. Selera atau minat adalah aktivitas yang memberikan kepuasan pribadi kepada individu. Memahami preferensi atau minat siswa membantu manajemen dalam merencanakan programm pendiidikan atau mengembangkan kegiatan pembelajaran yang dapat menginspirasi semangat siswa untuk belajar demi kepuasan dan kepentingan pribadinya. Konsep pembelajaran progresif, seperti yang dijelaskan oleh John Dewey dalam karya Sani (2014:31), mengatakan bhwa proses belajar mengajar disusun sedemikian rupa sehingga peserta didik melakukan aktivitas yang bermanfaat bagi diri mereka sendiri, dengan inisiatif berasal dari peserta didik sendiri, sementara peran guru adalah sebagai pembimbing, pengarah, atau fasilitator.

����������� Mengetahui preferensi atau minat siswa pada tahap awal pembelajaran adalah bantuan bagi manajemen dalam merencanakan aktivitas pembelajaran yang dapat menginspirasi semangat belajar individu sesuai dengan minat mereka. Dalam kerangka ini, individu cenderung enggan untuk belajar jika mereka merasa bahwa kegiatan pembelajaran tidak sesuai dengan minat mereka. Ketika ini terjadi, hal tersebut dapat menjadi hambatan dalam mencapai tujuan Kegiatan pembelajaran yang dirancang khusus untuk institusi tersebut. Program pendidikan dan pembelajaran yang telah dirancang, meskipun telah disusun secara optimal, akan menjadi kurang efektif jika tidak mempertimbangkan minat individu peserta didik, yang pada akhirnya dapat menghambat pencapaian visi dan misi institusi pendidikan.

����������� Siswa yang mengalami kegembiraan dalam belajar karena kebutuhannya dipenuhi sesuai dengan minatnya akan menjadi pelajar yang setia dan bersedia menginvestasikan waktu, tenaga, serta sumber daya finansialnya untuk mendalami materi pelajaran. Mereka akan cenderung menghargai minat mereka dan menjadikannya sebagai fokus utama. Ada korelasi antara minat individu dengan kecenderungan untuk mengalokasikan sumber daya finansial (seperti waktu dan energi) untuk mengejar minat tersebut. Dengan demikian, evaluasi terhadap kecenderungan peserta didik dalam menggunakan sumber aya finansial perlu dilakukan dengan mempertimbangkan hubungannya dengan minat atau kesenangan mereka. Selain itu, analisis kecenderungan pengeluaran finansial juga diperlukan untuk orang tua peserta didik, baik dalam konteks pendidikan anak mereka maupun untuk keperluan lainnya. Pemahaman atas aspek ini Diperlukan untuk mendukung manajemen dalam mengembangkan prograam pendiidikan yang sesuai dengan sifat-sifat keluarga siswa, dimana pencapaian tujuan lembaga pendidikan harus diperkuat oleh keterlibatan seemua pihak, termasuk orang tua peserta didik

����������� Sumber pendapatan orang tua peserta didik dapat memiliki dampak pada kemampuan mereka untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka. Menganalisis sumber pendapatan wali murid (sbagai salah satu konstituen dari pasar jassa pendidikan) berguna bagi lembaga untuk merencanakan program-program yang dapat disesuaikan dengan tingkat dukungan finansial yang dapat diberikan oleh wali murid peserta didik. Wali murid dapat lebih mudah berperan aktif dalam mendukung pendidikan anak-anak mereka jika memiliki kemampuan finansial yang sesuai dengan kebutuhan pendidikan tersebut. Support wali muridterhadap pendidikan sangat dipengaruhi oleh bagaimana mereka menilai Dana yang dibutuhkan untuk pendidikan di institusi, terutama dalam kaitannya dengan kemampuan finansial mereka. Prograam pendidikn yang ditawarkan oleh lembaga dengan biaya yang sesuai dengan penghasilan orang tua menjadi salah satu faktor pertimbangan penting dalam pemilihan lembaga pendidikan yang tepat bagi anak-anak mereka.

����������� Analisissumber penghasilan wali muridoleh manajemen membantu dalam mengidentifikasi potensi kelemahan atau keunggulan finansial lembaga pada tahap awal sebelum merencanakan program pendidikan. Memahami kelemahan finansial lembaga tersebut dapat membantu dalam menemukan cara yang sesuai untuk mengatasi masalah tersebut.

����������� Penentuan posisi pasar lembaga pendidikan menjadi kunci dalam mmbantuu manajeemen merancang program-program yang cocok dengan karakteristik lembaga tersebut. Selain itu, penting untuk memastikan bahwa prgram yg unggul dapat dijalankan tanpa hambatan finansial. Dengan kata lain, pemahaman terhadap posisi pasar membantu dalam menyusun program-program lembaga pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan, status sosial, latar belakang pendidikan, minat, kecenderungan pengeluaran, dan sumber pendapatan pelanggan atau pengguna jasa pendidikan.

����������� Penentuan posisi pasar dalam lembaga pendidikan memiliki signifikansi penting dalam membntu manajemen meengelola programs-program yang sesuai dengan karakteristik lembaga tersebut. Selain itu, juga penting untuk memastikan bahwa program-program yang memiliki keunggulan dpat berjalan tanpa masalah finansial. Dengan ungkapan yang berbeda, pemahaman terhadap situasi pasar memainkan peran vital dalam merancang program-program lembaga pendidikan yang dapat memenuhi keebutuhan, status sosial, Riwayat pendidikan, minat, kecenderungan pengeluaran, dan sumber pendapatan para pengguna jasa lembaga tersebut.

����������� Berdasarkan pandangan yang telah diungkapkan, dapat disimpulkan bahwa menilai posisi pasar dalam lingkungan internal memiliki signifikansi yang besar bagi lembaga pendidikan dalam usahanya untuk merancang program pendidiikan dann pembelajaraan yang sesuai dengan permintaan dan kebutuhan pengguna layanan pendidikan. Oleh karena itu, mengembanggkan program pembelajaran yang tidak mempertimbangkan selera pelanggan dapat berpotensi menyebabkan kegagalan program tersebut dan minim peminat. Demikian pula, jika program yang dirancang tidak dapat dijangkau oleh peserta didik, maka potensi optimalisasi program tersebut akan terbatas. Oleh karena itu, menjadi esensial untuk melakuukan analisiis lingkungan internal yang mencakup faktor posisi pasar.

Keuangan

����������� Lembaga pendidikan adalah entitas yang berfokus pada penyediaan layanan pendidikan dan dalam menjalankan operasionalnya, memerlukan sumber daya finansial. Manajemen keuuangan maupun pembiayaan pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan ataau sekolah menjadi elemen yang sangat krusial. Memastikan terpenuhinya sumber daya finansial yang memadai menjadi hal yang esensial untuk menyelenggarakan pembelajaran yang berkualitas,Selain itu, analisis keuangan melibatkan pemahaman tentang berbagai jenis biaya, termasuk biaya yang tetap, biaya yang bervariabel, biaya langsung, biaya tak langsung, biaya total, biaya rata-rata, dan biiaya tambahan. Mengenal semua komponen biaya pendidikan ini membantu manajemen dalam menafsirkan jumlah uang yang dibutuhkan untuk operasional pendidikan.

����������� Dari pandangan dii atass, dapat disimpulkan jika analisis keuangan di lembaga pendidikan memiliki signifikansi penting untuk memahami sejauh mana sumber daya finansial yang tersedia di lembaga dan juga untuk menilai perkiraan biaya yang dibutuhkan untuk menjalankan program pendidikan.

����������� Manajemen perlu melakukan analisis kondisi keuangan lembaga sebagai langkah yang sangat penting dalam mengantisipasi kekurangan dana yang mungkin terjadi dalam operasionalnya. Program-program dengan biiaya operasiona yang tinggi tidak dapat berjalan secara optimal tanpa dukungan sumber daya finansial yang memadai. Untuk itu, mengetahui kondisi keuangan sebelum menjalankan program adalah esensial agar dapat mencarii solusi yang sesuai untuk mendanai program tersebut, serta merencanakan alternatif jika menghadapi kendala finansial dalam pelaksanaannya. Analisis keuangan juga diperlukan untuk mengidentifikasi potensi pemborosan dalam pengeluaran yang tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap kemajuan lembaga. Pengeluaran yang tidak efektif dalam program yang tidak bermanfaat bagi perkembangan lembaga merupakan pemborosan sumber daya. Dengan mendeteksi anggaran yang tidak efisien dalam pendidikan sejak awal, lembaga dapat menghindari pemborosan dan mengalihkan sumber daya tersebut ke program-program yang lebih berpotensi."

( SDM) Sumber Daya Manusia

����������� SDM adalah elemen inti yang penting sebuah leembaga pendidikan, dan tanpa kehadiran mereka, operasional institusi pendidikan tidak akan bisa berjalan. Keberadaan tenaga kerja yang memiliki kualitas tinggi memiliki dampak yang sangat positif pada seluruh Kinerja operasional institusi pendidikan. Meskipun fasilitas yang lengkap merupakan aset yang penting, namun taanpa kehadiran sumber daya manusia yang mampu memanfaatkannya untuk program-program unggulan, fasilitas tersebut tidak akan memiliki dampak yang signifikan. Sebaliknya, ketika sdm berkualitas tinggi hadir dalam lembaga pendidikan, mereka mampu menciptakan program-program unggulan bahkan jika fasilitas yang tersedia terbatas. Dengan demikian, penting untuk mengetahui ketersediaan SDM yang berkualitas tinggi bagi institusi pendidikan, karena mereka memiliki peran kunci dalam menciptakan program-program yang unggul.

����������� Dalam kerangka manajemen strategis, SDM sebagai bagian dari lingkungan internal dapat memiliki dampak yang signifikan pada pencapaian tujuan. Analisis sumber daya manusia pada tahap awal perencanaan program merupakan langkah penting untuk memberikan informasi kepada manajemen mengenai ketersediaan dan tingkat kualitas sumber daya manusia yang tersedia di lembaga, serta bagaimana kualitaasnya. Kekurangan SDM dapat menghambat pelaksanaan program yang telah direncanakan. Walaupun program tersebut dirancang dengan baik, jika tidak diduukung oleh Sumber daya manusia yang tersedia yang memadai, maka program tersebut tidak akan bisa dijalankan secara efektif.

����������� Analisisis internal terhadap tenaga kerja di Evaluasi yang dilakukan di leembaga pendidikan bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memerlukan perhatianya dalam konteks sumber SDM. Siagian menjelaskan terdapat tujuh faktorperlu diperhatikan oleh manajemen terkait dengan SDM, antara lain: Pertama, kebijakan SDM mencakup langkah-langkah seperti penciiptaan sistem informasi sumber daya manusia, klasifikasi jabatan, analisis pekerjaan, uraian pekerjaan, standar pengukuran kinerja, perencanaan tenaga kerja, rekrutmen, seleksi, orientasi dan penempatan, sistem imbalan, pendidikan dan pelatihan, penilaian kinerja, perencanaan dan pengembangan karir, serta pemeliharaan hubungan.; (o) peemutusan hubungan kerja; dan (p) peminsiunan pegawai; kedua, penanganan yang tepat terhadap terhadap keterampilan dan Faktor-faktor yang memengaruhi produktivitas kerja meliputi semangat kerja, pemberian motivasi yang sesuai, sistem penghargaan, kebijakan selama lembaga sibuk dan di jam kerja yang tidak efektif, pengenalan sumber daya manusia, serta peran serikat pekerja dan manajemennya

Dari pandangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa analisis internal terhadap sumber daya manusia memiliki peranan krusial dalam konteks lembaga pendidikan. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi ketersediaan dan kualitas sumber daya manusia sebagai data yang diperlukan dalam perencanaan program serta merumuskan strategi yang efektif untuk bersaing dengan pesaing.

Analisis Lingkungan Internal Pendidkan Vokasi MAN 1 Bungo Plus Ketrampilan.

����������� Analisis lingkungan internal pada dasarnya melibatkan evaluasi terhadap faktor-faktor yang memiliki dampak pada pencapaian tujuan internal lembaga yang telah ditetapkan. Secara umum, Keunggulan dan kelemahan lembaga pendidikan melibatkan berbagai aspek, seperti pasar, keuangan, produksi, SDM, serta struktur organisasi dan manajemen.

.���������� Kapasitas institusi pendidikan dalam hal posisi pasar, keuangan, sumber daya manusia, dan produksi memberikan wawasan berharga yang dapat membimbing pengambilan keputusan. Kemampuan yang diperkuat dapat menjadi faktor kunci yang membedakan lembaga pendidikan dari yang lain, dan mampu menarik minat para pengguna jasa. Dengan menetapkan standar proses yang unggul, pembuat keputusan dapat membentuk karakteristik khusus lembaga pendidikan dengan tujuan menciptakan keunggulan sekolah tersebut.

Contohnya adalah MAN 1 Bungo Plus Ketrampilan, sebuah lembaga pendidikan menengah atas yang memiliki latar belakang Islam yang kuat dan telah tumbuh dengan pesat. Sekolah ini menawarkan beragam program andalan dan program ketrampilan seperti Multimedia, Teknik Elektronika, Teknik Pengelasan, Tata Boga, dan Hidroponik. Selain itu, mereka juga memberikan peluang kepada siswa kelas XII untuk menjalani Praktek Kerja Lapang (PKL) di Dunia Usaha (DUDI). MAN 1 Bungo Plus Ketrampilan telah mencapai prestasi tertinggi baik di tingkat provinsi maupun nasional. Sekolah ini telah berhasil membuktikan kemampuannya dalam menganalisis pasar dengan mempertimbangkan kondisi siswa sebagai dasar untuk merencanakan pembelajaran. Kemampuan ini menjadi nilai unik yang membedakan MAN 1 Bungo Plus Ketrampilan dari sekolah lainnya.

Sebagai lembaga yang berkomitmen pada prinsip-prinsip Islam dalam pencapaian tujuan, lembaga pendidikan Islam seharusnya mampu menjadi teladan bagi lembaga pendidikan sekitarnya. Setidaknya, lembaga tersebut harus memiliki pemahaman yang kuat mengenai kemampuannya sendiri dan kemampuan ini harus dimanfaatkan secara optimal. Dengan melakukan evaluasi iinternal Menyangkut komponen-komponen yang memengaruhi pencapaian tujuan lembaga pendidikan Islam, tujuannya adalah untuk mengenali kekurangan yang ada dalam institusi tersebut. Kekurangan-kekurangan ini bukan untuk dihindari, tetapi untuk diatasi melalui pencarian solusi sehingga lembaga tersebut tetap relevan dan kompetitif

Analisis SWOT Pendidikan Vokasi MAN 1 Bungo Plus Ketrampilan

����������� Dalam manajemen strategis, aspek yang paling fundamental adalah melakukan analisis yang komprehensif dari berbagai perspektif, baik yang terkait dengan faktor internal maupun eksternal. Pendekatan yang umumnya digunakan adalah analisis SWOT. Analisis SWOT bisa dijelaskan sebagai proses mengenali kondisi dari empat perspektif berbeda, yaitu Kekuatan (Strengths) dan Kelemahan (Weaknesses) yang bersumber dari internal, serta Peluang (Opportunities) dan Ancaman (Threats) yang muncul dari eksternal.

����������� Menurut penulis, analisis SWOT memiliki hubungan yang erat dengan kualitas pendidikan. Dengan melakukan analisis SWOT, sekolah dapat memanfaatkan kekuatannya untuk menutupi kelemahan yang ada, serta memanfaatkan peluang untuk menghindari hambatan. Hal ini memungkinkan sekolah untuk merancang strategi yang efektif dalam meningkatkan mutu pendidikan. Hasil dari analisis SWOT juga memberikan wawasan tentang kualitas lembaga pendidikan tersebut.

����������� Di Muara Bungo berdiri lembaga pendidikan islam yang menurut penulis cocok patut menjadi tempat madarasah untuk menulis makalah tentang Analisi Lingkungan Lembaga Pendidikan Islam yaitu Madarasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Bungo yang beralamat di Jalan Protokol Komplek Perumnas Rimbo Tengah ini berdiri pada tahun 1979 yang pada waktu itu status kelembagaanya adalah swasta, yaitu Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Muara Bungo, namun sejalan dengan perkembangan dunia pendidikan dan dikarenakan madrasah ini merupakan madrasah aliyah yang paling diminati ketika itu, serta berdirinya beberapa lembaga-lembaga pendidikan baik yang bernuansa Islam maupun yang bersifat umum dan untuk mengidentifikasi keberadaan Madrasah Aliyah Swasta (MAS) yang pertama berdiri di kabupaten Bungo ini, maka dalam kurun waktu tiga tahun secara resmi madrasah ini menjadi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) pada tahun 1982 dengan nomor statistik (NSM) 311.15.02.03.004. Setelah beberapa tahun berjalan berdasarkan KMA No.681 Tahun 2016, maka MAN Muara Bungo kembali berubah nama menjadi MAN 1 Bungo.

Pada perkembangan berikutnya, madrasah ini tergolong dalam salah satu madrasah yang perkembangannya sangat pesat di kabupaten Bungo. Hal ini dibuktikan dengan perkembangan pembangunan dan telah tersedia asrama bagi peserta didik dan banyaknya masyarakat yang berminat mendidik anaknya pada madrasah ini. Oleh karena lamanya MAN 1 Bungo ini berdiri dan berkembang di kabupaten Bungo, tentunya sesuai dengan aturan birokrasi bahwa madrasah ini telah mengalami tujuh kali berganti top manajer dimulai dari Drs. As�ad Syam. A. Yani, S.Ag, Drs. Adnan Abubakar, Drs. M. Sobri A, M.Ag, Syafril Mawis, S.Ag, Drs. Khairul Saleh, S.Pd, Dra. Hj. Nurbeda, M.Pd.I dan (kepala madrasah) yang sekarang di kepalai oleh Bapak Dony Afrian, S.Pd.I., M.Pd.I.

Pada tahun 2019, dimulailah program pendidikan vokasi di MAN 1 BUNGO, yang sesuai dengan Petunjuk Teknis Pengelolaan Madrasah Plus Keterampilan yang telah ditetapkan oleh Dirjen Pendidikan Islam dengan Surat Keputusan nomor 6985 Tahun 2019. Dengan merujuk pada Surat Keputusan tersebut, MAN 1 Bungo Plus Keterampilan menjalankan beberapa program keahlian atau keterampilan, yakni: a. Elektronika teknik, b. Hidroponik, c. Multimedia, d. Tata boga, e. Pengelasan. Selain itu, mereka juga memberikan peluang kepada siswa kelas XII untuk menjalani Praktek Kerja Lapang (PKL) di Dunia Usaha (DUDI).[1]

Program-program keterampilan di MAN 1 Bungo Plus Keterampilan disusun dengan penempatan peserta didik sebagai berikut: Program Teknik Elektronika ditempuh oleh peserta didik kelas Ilmu Alam 1 dan Ilmu Alam 2. Program Hidroponik diajarkan kepada peserta didik kelas Ilmu Alam 3 dan Ilmu Sosial 3. Program Multimedia diikuti oleh peserta didik kelas Bahasa. Program Tata Boga dipelajari oleh peserta didik kelas Ilmu Sosial 1 danProgram Pengelasan diajarkan kepada peserta didik Ilmu Sosial 2.

 

Hasil Analisis SWOT

Kekuatan

Kelemahan

Peluang

Tantangan

Semua staf pengajar telah menyelesaikan gelar S1, dan beberapa di antaranya juga telah meraih gelar S2, serta telah memperoleh sertifikasi.

Sumber daya manusia terutama tenaga pendidik/staf pengajarpendidikan vokasi belum semua linier dengan kompetensi yang diajar

Mendapat pengakuan sebagai sekolah model dan percontohan

Persaingandengan institusi pendidikan luar, seperti sekolah menengah Kejuaran Pusat Keunggulan (SMK-PK).SMK pariwisata, SMK Teknologi.

Sarana dan prasarana sudah memadai sesuai dengan standar minimum pelayanan.

 

Minat masyarakat yang tinggi

Transformasi globalisasi.

Dana diperoleh dari anggaran pemerintah dan tambahan dana dari kontribusi komite sekolah.

 

Kemitraan dengan DUDI ( Dunia industri

Menjaga tingkat kualitas pendidikan yang telah tercapai.

Sekolah model dan percontohan

 

 

 

 

 

Kesimpulan

Penutup merupakan simpulan dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan dan merupakan jawaban dari rumusan masalah. Simpulan diselaraskan dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian. Dalam hal simpulan lebih dari satu, maka dituliskan menggunakan penomoran angka dan bukan menggunakan bullet. Dalam bagian penutup ini juga dapat ditambahkan prospek pengembangan dari hasil penelitian dan aplikasi lebih jauh yang menjadi prospek kajian berikutnya.

 

 

 

Daptar Pustaka

Agus Irianto, Haji penulis. Pendidikan sebagai investasi dalam pembangunan��������� suatu bangsa / H. Agus Irianto. Jakarta :; �2011: Kencana,, 2017.

 

Alina Filip, �Global Analysis of the Educational Market Environment,�ProcediaSocial and Behavioural Science, 2012.

 

Alex Miller dan Gregory G. Dess, Strategic Management. Second Edition. (New York.

 

A. Hasan, Al-Furqan Tafsir Qur�an, (Jakarta: Universitas Al Azhar Indonesia, 2010).

 

Amirullah. Manajemen strategi : teori konsep kinerja /Amirullah. Jakarta:: Mitra Wacana Media,, 2015.

 

Anwar Prabu Mangkunegara, A.A. pengarang; Redaksi Refika Aditama editor. Perilaku dan Budaya Organisasi / A.A. Anwar Prabu Mangkunegara ; editor, Redaksi Refika Aditama. Bandung:; � 2005: Refika Aditama,, 2017.

 

Hery, 1975- penulis. Cara cepat & mudah memahami pengantar manajemen / Hery, S.E., M.Si.. Yogyakarta :: Gava Media,, 2017.

 

Ian G Evans, Marketing For School, (New York: Cassel, 1995).

 

J. David Hunger, Strategic Management and Bussiness Policy,Fourth Edition, (New York: Addison Wesley Publishing Company, 2000).

 

Jamal Ma`mur Asmani. Manajemen Efektif Marketing Sekolah / Jamal Ma`mur Asmani. ed. 1 cet. 1. Yogyakarta: Diva Press, 2015.

 

Ludwig von Bertalanffy, �The History and Status of General Systems Theory,� Academy of Management Journal, 15 (December 1972): 411, https://www.jstor.org/stable/255139

 

Lwrence R. Jauch, dan Willian F. Glueck, Manajemen Strategis dan Kebijakan Perusahaan. Edisi Ketiga. Alih Bahasa : Murad dan AR. Henry Sitanggang. (Jakarta : Erlangga, 1999).

 

Mawardi.ILMU ALAMIAH DASAR, ILMU SOSIAL DASAR, ILMU BUDAYA DASAR / Drs. Mawardi .2009.hlm.214.

 

Musa Hubeis; Mukhamad Najib. Manajemen strategik : dalam pengembangan daya saing organisasi / Musa Hubeis, Mukhamad Najib. Jakarta :: Elex Media Komputindo,, 2014.

 

Prof. Dr. Maisah, M.Pd.I.. Jambi :; � 2016: Salim Media Indonesia,, 2016.hlm.31-32 Maisah, 1970- (penulis). Manajemen strategik dalam perspektif pendidikan Islam.

 

Peter Wright etal. Strategic Management: Concepts and Cases, (Upper Saddle River, N.J.:Prentice Hall., 1996.

 

Sondang P. Siagian.Manajemen Stratejik : - / Sondang P. Siagian .2012

 

Stephen P. Robbins, Organizations Theory: Structure, Design and Application. ThirdEdition, Alih bahasa Yusuf Udaya, (Jakarta: Penerbit Arcan, 1994).

 

Supriyono, Manajemen Strategi dan Kebijakan Bisnis, (Yogyakarta: BPFE,1989),

 

William G. Nickels, Jam M. Hugh dan Susan M. Hugh. Pengantar Bisnis: UnderstandingBusiness. (Jakarta: Salemba Empat, 2004).

 

 

 

 

 

 

 

 

 



[1]