STRATEGI EKSPANSI PASAR PRODUK KOPI KE JERMAN:
STUDI KASUS WANOJA COFFEE
Ratnadya
Natassya
Universitas Padjadjaran, Indonesia
Abstrak:
Wanoja Coffee berupaya mengembangkan pasar produk kopi ke Jerman melalui ekspor langsung (direct export) dengan tujuan meningkatkan pendapatan, mengurangi biaya, dan memperluas jaringan perdagangannya. Namun, Wanoja Coffee menghadapi tantangan dalam persiapan ekspor dan pemasaran produk. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan merumuskan langkah-langkah rekomendasi agar Wanoja Coffee dapat melakukan ekspor kopi ke Jerman dan merancang strategi pemasaran yang dapat diimplementasi atau dilaksanakan di pasar tersebut. Metode penelitian ini menggunakan analisis SWOT, IFAS, EFAS, dan Marketing 4Ps. Hasil penelitian ini mencakup perumusan 6 (enam) langkah ekspor, mulai dari mengidentifikasi potensi ekspor hingga melakukan pengiriman barang. Wanoja Coffee memiliki posisi yang agresif sehingga direkomendasikan untuk menerapkan strategi pemasaran yang memanfaatkan peluang, seperti penetapan harga premium, kerja sama dengan roaster diaspora di Jerman, pemanfaatan situs perdagangan, serta promosi aktif melalui asosiasi kopi, pameran nasional dan internasional, platform e-commerce Jerman, dan sejumlah inisiasi lainnya.
Kata Kunci: Kopi,
Ekspor, Jerman, SWOT, Pemasaran
Abstract:
Wanoja
Coffee seeks to develop the market for coffee products to Germany through
direct exports with the aim of increasing revenue, reducing costs and expanding
its trading network. However, Wanoja Coffee faces challenges in preparing for
export and product marketing. Therefore, this research aims to develop
recommended steps so that Wanoja Coffee can export coffee to Germany and design
a marketing strategy that can be implemented or carried out in that market.
This research method uses SWOT analysis, IFAS, EFAS, and Marketing 4Ps. The
results of this research include the formulation of 6 (six) export steps,
starting from identifying export potential to delivering goods. Wanoja Coffee
has an aggressive position so it is recommended to implement marketing
strategies that take advantage of opportunities, such as setting premium
prices, collaborating with diaspora roasters in Germany, utilizing trade sites,
as well as active promotion through coffee associations, national and
international exhibitions, German e-commerce platforms. , and a number of other
initiations.
Keywords:
Coffee, Export, Germany,
SWOT, Marketing
����� ���
Pendahuluan
Untuk mencapai tujuan organisasi dengan secara
efisien dan efektif, berbagai cabang Bidang pengetahuan manajemen menganggap
analisis lingkungan merupakan� aktivitas
sangat penting. Merupakan hal yang umum, sejak para ahli manajemen mengenalkan
konsep organisasi seperti sistem yang terbuka dipengaruhi oleh kondisi
lingkungannya.
Sebagai akibat dari efek reformasi informasi dan
globalisasi, lingkungan saat ini mengalami perubahan yang signifikan dan
intensitasnya semakin meningkat serta sulit untuk diprediksi. Dampaknya adalah
meningkatnya persaingan dan kompleksitas masalah yang dihadapi oleh organisasi
dari hari ke hari. Oleh karena itu, sebelum melangkah ke berbagai proses
manajemen strategis lainnya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan
analisis lingkungan perusahaan. Analisis ini melibatkan pemahaman mendalam
terhadap kondisi eksternal dan internal yang dihadapi oleh perusahaan hingga ke
akarnya. Dengan demikian, perusahaan dapat lebih waspada dan memahami
konsekuensi dari perubahan tersebut, sehingga dapat bersaing dengan lebih
efektif.
Analisis lingkungan internal adalah upaya untuk
mengidentifikasi faktor-faktor internal dan ekternal yang mempengaruhi
pencapaian tujuan suatu lembaga. Ini mencakup evaluasi semua potensi dan batasan
yang dimiliki oleh lembaga tersebut. Penting untuk mengenali dan mengoptimalkan
potensi yang ada karena hal ini dapat menjadi daya tarik unik untuk institusi
dalam mempengaruhi keinginan orang disekitarnya, khususny siswa. Di sisi lain,
mengidentifikasi kelemahan internal juga perlu dilakukan secara dini agar
lembaga bisa menemukan cara dan upaya agar bisa mencari solusi� kelemahan tersebut dan tetap beroperasi
secara optimal. Jika kita menggunakan bahasa manajemen perusahaan, analisis
internal mencakup: (1) posisi pasar; (2), keuangan dan akunting; (3) produksi,
aspek teknik dan operasional; (4) sumber daya manusia; dan (5) struktur
organisasi dan manajemen lembaga.
Kesulitan yang dihadapi adalah bahwa manajemen tidak
melakukan analisis yang memadai terhadap potensi dan kelemahan lembaga,
sehingga lembaga tersebut kehilangan daya tarik yang membedakannya dari
institusi pendidikan sejenis lainnya. Selain itu, kurangnya kesadaran terhadap
kelemahan lembaga dapat menyebabkan masalah di masa depan. Menemukan potensi
yang dimiliki terlambat dapat mengakibatkan masalah seperti penurunan daya
saing lembaga, sementara menyadari terlambat akan kelemahan lembaga dapat
membuatnya tidak siap menghadapi tantangan yang mungkin muncul.
����������� Lembaga
pendidikan merupakan institusi dimana dibentuk secara terstruktur, serta� terencana dengan tujuan agar mencapai tujuan
yang sudah ditetapkan. Melalui proses pembelajaran, organisasi ini menyediakan
tempat bagi para siswa untuk Mengupayakan pengembangan bakat, minat, dan
kemampuan mereka dalam unsur cognitif, afektif, dan psycomotorik. Tujuannya
adalah untuk menghasilkan manusia yang berkualitas. Lembaga pendidikan ini
melakukan berbagai kegiatan pendidikan dengan tujuan meningkatkan mutu keguatan
belajar mengajar di tingkat sekolah. Setiap tindakan yang dijalankan
berorientasi untuk pemenuhan� misi, visi
serta tujuan institusi pendidikan sesuai dengan keputusan bersama-sama. Dalam
hal ini, dalam plaksanaan pmbelajaran, penting untuk memanfaatkan strategi dan
langkah yang sesuai guna mencapai tujuan yang diinginkan, Pendekatan ini
dikenal sebagai manajemen strategis. Ada beberapa alasan mengapa manajemen
strategis menjadi penting, di antaranya adalah:�
Pertama, manajemen strategis memungkinkan suatu organisasi untuk
mengevaluasi sejauh mana pencapaian kinerja telah terjadi. Kedua, organisasi
perlu selalu siap menghadapi perubahan situasi yang mungkin terjadi. Ketiga,
setiap keputusan yang diambil oleh pimpinan selalu melibatkan manajemen
strategis, sehingga manajemen strategis memainkan peran yang sangat penting
dalam hal ini. Langkah-langkah serta kputusan yng dmaksud melibatkan analisisa
lngkungan intrnal dan lingkungn ekstrnal.
����������� Menurut
Filip, sekarang, lembaga pendidikan beroperasi dalam sebuah lingkungan pasar
yang memiliki dampak signifikan terhadap kemampuan lembaga tersebut dalam
melayani dan merespons kebutuhan pemangku kepentingannya. Menolak untuk
beradaptasi dengan perubahan yang terjadi akan meningkatkan risiko kalah dalam
kompetisi, serta risiko masalah internal dan masalah kelangsungan hidup. Oleh
karena itu, analisis lingkungan menjadi sebuah kegiatan yang sangat penting
yang harus dilakukan oleh lembaga pendidikan untuk mengidentifikasi kekuatan
dan kelemahan internal, serta peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi oleh
lembaga tersebut.
����������� Berdasarkan
konteks yang telah dijelaskan, Makalah�
ini bertujuan untuk melakukan analisis lingkungan Lembaga Pendidikan
Islam, baik yang bersifat internal. Langkah awal adalah menjelaskan konsep dan
variasi lingkungan, serta menggambarkan peran yang sangat penting dari analisis
lingkungan dalam manajemen Lembaga Pendidikan Islam. Diharapkan makalah ini
akan memberikan pemahaman yang betapa pentingnya melakukan analisisa lingkungan
Institusi� Pendidikan Islam dan dapat
memberikan rekomendasi kepada Lembaga Pendidikan Islam yang ingin menjalankan
analisis lingkungan mereka sendiri.
Tujuan penulisan ini mencakup beberapa aspek, antara
lain memahami pengertian lingkungan internal di lembaga pendidikan, mengetahui
jenis-jenis lingkungan lembaga pendidikan Islam, memahami pentingnya analisis
lingkungan dalam pengelolaan lembaga pendidikan Islam, menganalisis lingkungan
internal Pendidikan Vokasi MAN 1 Bungo Plus Ketrampilan, dan mengetahui
analisis SWOT Pendidikan Vokasi MAN 1 Bungo Plus Ketrampilan.��
Indonesia
merupakan negara produsen kopi terbesar ke-4 di dunia. Brazil merupakan negara
produsen kopi yang berada di posisi pertama dengan memproduksi 69 juta karung,
Vietnam menempati posisi kedua dengan memproduksi 29 juta karung, dan Kolombia
menempati posisi ketiga dengan memproduksi 14,3 juta karung (1 karung = 60kg)
setiap tahunnya (Databoks, 2023). Produksi kopi di Indonesia meningkat dengan
tingkat pertumbuhan 4,2% per tahun.
Berdasarkan
grafik diatas, produksi kopi di Indonesia mencapai 794,5 ribu ton pada tahun
2022 atau naik 1,1% dari 774.6 ribu ton pada tahun sebelumnya. Pada tahun 2023,
Indonesia memproduksi kopi sebanyak 794.8 ribu ton. Setengah dari produksi
tersebut diperuntukkan untuk ekspor, yaitu sebanyak 384,51 ribu ton. Sebagian
lagi digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Sebagian besar
ekspor tersebut adalah jenis kopi Robusta sebesar 85% dari total ekspor dan 15%
sisanya adalah kopi arabika.
Kopi
merupakan komoditas ekspor yang berperan besar dalam meningkatkan perekonomian
secara makro dengan meningkatkan devisa negara. Dibandingkan dengan industri
lain seperti kelapa sawit, kakao, dan karet, komoditas kopi berkontribusi pada
peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) perkebunan Indonesia (Suwali, Putranto,
& Panunggul, 2022). Ekspor kopi juga memberikan kontribusi PDB pada sektor
perkebunan dengan rata-rata sebesar 3,13% per tahun dari tahun 2011-2020.
Selain itu, komoditas kopi dapat meningkatkan perekonomian secara mikro dengan
meningkatkan ekonomi wilayah pedesaan, dimana 95% perkebunan kopi di Indonesia
adalah perkebunan milik rakyat di tanah pedesaan.
Indonesia mempunyai potensi
sebagai produsen kopi untuk penetrasi
ke pasar internasional karena memiliki tingkat
produksi kopi yang tinggi. Akan tetapi, berdasarkan grafik 1.2 diatas,
nilai ekspor kopi Indonesia
berfluktuasi dengan jumlah nilai ekspor sebesar 1.189.551,3 US Dollars pada tahun 2015 kemudian menurun
drastis pada tahun
2018 sebesar 806.878,6 US Dollars. Selain
itu, meningkatnya konsumsi kopi dalam negeri juga menjadi salah satu
faktor menurunnya nilai ekspor kopi Indonesia (Kedoh & Setyari, 2021).
Setiap negara memproduksi dan mengekspor komoditas sebagai tujuan perdagangan untuk memenuhi permintaan dan kebutuhan negaranya. Kopi merupakan komoditas
yang memiliki nilai
tinggi karena banyak dikonsumsi oleh masyarakat global.
Pada tahun 2022/2023,
konsumsi kopi dunia
diproyeksikan bertambah sebesar 3,3% atau 3,1 juta kantong dibandingkan dengan
tahun sebelumnya. Konsumsi
kopi berjumlah 164,9
juta kantong bertambah menjadi 170,3 juta kantong (International Coffee Organization,
2021).
Tabel 1 menampilkan informasi mengenai ekspor kopi Indonesia ke beberapa
negara tujuan. Data menunjukkan bahwa
tujuan ekspor kopi Indonesia saat ini meliputi 5 (lima) benua yaitu Amerika, Asia, Australia, Afrika,
dan Eropa. Berdasarkan tabel diatas, ada sepuluh negara tujuan ekspor kopi Indonesia. Amerika Serikat adalah negara
tujuan ekspor terbesar dengan total ekspor
22%, sementara Inggris adalah negara tujuan ekspor terkecil dengan total ekspor
4.7%. Kopi yang diekspor ke 10 negara
diatas dibedakan menjadi dua kelompok Harmonized Systems (HS);
(1) HS 090111: not roasted,
decaffeinated, (2) HS 090121: roasted, decaffeinated, dan kopi jenis
lainnya.
Jerman adalah salah satu negara
yang menjadi tujuan ekspor kopi Indonesia karena
jumlah kopi yang dikonsumsi di Jerman adalah yang terbesar
di dunia setelah Amerika Serikat,
Jepang,
dan
Amerika Serikat. Selain itu, Jerman adalah salah satu importir sekaligus
re-eksportir kopi Indonesia di kawasan Eropa,
sehingga hal tersebut
menjadi peluang bagi eksportir Indonesia
untuk memperluas jaringan
pasar ekspor ke Uni Eropa. Penduduk Jerman memiliki budaya minum kopi yang sudah menjadi
tradisi sejak abad ke-17. Jerman
mengimpor kopi dari negara-negara produsen
kopi di seluruh
dunia agar kebutuhan
minum kopi masyarakat Jerman terpenuhi. Tingkat
konsumsi kopi masyarakat
Jerman sangat tinggi yaitu sekitar 5.2 kg per orang per tahun (Kementerian Luar Negeri
Indonesia, 2020). Oleh karena itu, Jerman menempati
posisi sebagai negara
dengan tingkat konsumsi kopi terbanyak di Uni Eropa.
Pasar Kopi Jerman memiliki volume penjualan tertinggi di Eropa dan negara tersebut menyumbang 29% dari total konsumsi
kopi Eropa. Lebih dari 96% kopi yang
diimpor Jerman bersumber langsung dari negara produsen (Stellar Market
Research, 2020). Menurut data
International Coffee Organization, Jerman mengimpor sekitar 1,69 juta metrik ton kopi pada tahun 2021.
Akan tetapi, berdasarkan data ekspor dari BPS diatas, jumlah ekspor kopi
ke pasar Uni Eropa terutama
negara Jerman masih fluktuatif setiap tahunnya. Menurut
Kedutaan Besar Republik
Indonesia (KBRI) Berlin
(2021), akses pemasaran untuk komoditas kopi Indonesia yang di produksi oleh UMKM Indonesia ke negara Jerman mengalami hambatan karena:
(1) Strategi promosi
kopi Indonesia yang kurang tepat dengan karakteristik masyarakat Jerman,
(2) Penetapan harga jual yang tinggi dibandingkan dengan kopi Brazil,
Vietnam, atau Kolombia.
Wanoja Coffee merupakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang
berasal dari Kabupaten Bandung, Jawa
Barat. UMKM tersebut memproduksi kopi jenis green bean, yaitu biji kopi mentah yang belum disangrai. Wanoja
Coffee mengolah biji kopi dari hulu ke hilir. Mulai dari pembibitan biji kopi, budidaya, pengolahan hasil produksi
hingga pemasaran produk.
Wanoja Coffee
memiliki lahan perkebunan kopi seluas 100 hektar dengan produktivitas per tahun sejumlah
180 ton. Perkebunan kopi ini dimiliki oleh kelompok tani Wanoja Coffee
yang berjumlah 10 kelompok. Ada 9 jenis kopi green
bean yang diproduksi oleh Wanoja Coffee,
diantaranya natural, natural extended, black honey, dan
lain-lain. Saat ini, total omset Wanoja Coffee adalah 260 juta rupiah per bulan atau sekitar 3 milliar
rupiah per tahun. Buyer (pembeli) dari produk Wanoja Coffee adalah
roaster atau pihak yang
menyangrai kopi green bean menjadi biji kopi.
Berdasarkan wawancara penulis
dengan pemilik Wanoja
Coffee, Wanoja Coffee sudah pernah
mengirimkan produknya ke roaster di
beberapa negara melalui
pihak ketiga, salah satu nya adalah Jerman.
Berdasarkan pengalaman tersebut,
pemilik Wanoja Coffee melihat bahwa Jerman memiliki pasar kopi maupun roaster yang potensial sehingga
Wanoja Coffee memiliki
minat untuk melakukan ekspansi
pasar sebagai eksportir ke Jerman untuk menurunkan biaya dan meningkatkan keuntungan dan penjualan. Dengan melakukan ekspansi
pasar ke Jerman sebagai eksportir, Wanoja Coffee dapat meluaskan jaringan
bisnisnya dengan memperoleh pelanggan baru, sehingga
dalam jangka panjang
akan meningkatkan keuntungan dan pertumbuhan bisnis.
Selain itu, Wanoja
Coffee juga dapat melakukan penetrasi ke pasar Uni Eropa dalam jangka
panjang karena Jerman merupakan re-eksportir kopi Indonesia untuk pasar Uni Eropa.
Sebagai UMKM, Wanoja Coffee mengalami
kendala dalam mempersiapkan ekspor dan memasarkan produk di negara tujuan. Oleh
karena itu, Wanoja Coffee memerlukan persiapan
ekspor dan strategi pemasaran yang tepat agar Wanoja Coffee
dapat memasarkan produknya sesuai dengan
kebutuhan dan karakteristik masyarakat Jerman. Berdasarkan fenomena diatas,
peneliti tertarik untuk merumuskan langkah-langkah ekspor dan strategi
pemasaran yang tepat agar Wanoja
Coffee dapat melakukan ekspor
ke Jerman.
Metode
Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif
untuk menganalisis data deskriptif. Metode
ini berlandaskan pada filsafat dan digunakan untuk meneliti situasi ilmiah
(eksperimen) dimana peneliti
sebagai instrumen dan teknik pengumpulan data yang di analisis bersifat
kualitatif (Sugiyono, 2018). Menurut McCusker & S Gunaydin (2015),
metode kualitatif digunakan untuk menjawab pertanyaan tentang �apa (what)�, �bagaimana (how)�, atau �mengapa (why)� atas suatu fenomena. Berdasarkan dua definisi
tersebut dapat disimpulkan bahwa metode kualitatif bertujuan untuk memahami fenomena yang dialami oleh subjek penelitian.
Peneliti menggunakan studi kasus pada UMKM yang
menjual produk kopi green bean di Jawa
Barat. Studi kasus adalah sebuah pendekatan untuk melibatkan mempelajari,
menerangkan atau menafsirkan suatu kasus dalam keadaan naturalnya tanpa intervensi pihak luar (Salim,
2001). Sedangkan menurut
Creswell (2016), studi kasus adalah metode kualitatif yang digunakan oleh penulis untuk mempelajari program,
kejadian, aktivitas, proses atau satu atau lebih orang secara mendalam.
Penelitian akan dilaksanakan di Wanoja Coffee yang berlokasi
di Jl. Sangkan, RT.02/RW.02, Laksana,
Kec. Ibun, Kabupaten
Bandung, Jawa Barat. Perumusan strategi
pemasaran akan berlangsung selama 4 (empat)
bulan, yaitu bulan Agustus 2023 - Desember
2023. Rentang waktu pelaksanaan penelitian dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Subjek penelitian adalah seseorang yang akan memberikan informasi dan dapat memberikan manfaat tentang situasi
serta kondisi tempat penelitian (Moleong,
2016). Berdasarkan definisi tersebut, subyek penelitian
yang menjadi responden informasi yang dibutuhkan meliputi Wanoja Coffee dan Atase Perdagangan KBRI Berlin.
Menurut Moh. Pabundu
Tika (2015), desain penelitian adalah rencana untuk mengumpulkan,
mengolah, dan menganalisis data secara sistematis dan terarah agar penelitian dapat dilakukan dengan efisien dan efektif sesuai
dengan tujuan penelitian. Desain penelitian dapat
didefinisikan sebagai sekumpulan tindakan dan teknik yang digunakan
untuk mengumpulkan informasi dan
mengumpulkan berbagai data untuk menentukan variabel yang akan diteliti dan menciptakan atau memecahkan masalah
penelitian (Febriyani, 2023).
Desain penelitian terdiri
dari 3 tahap, yaitu tahap perencanaan,
tahap pelaksanaan, dan tahap
laporan.
Perencanaan
Peneliti melakukan perencanaan penelitian dengan merumuskan masalah, melakukan studi pendahuluan, menentukan subyek penelitian, menyusun
rancangan penelitian, dan merumuskan alat penelitian.
1. Pelaksanaan
Peneliti melakukan
pelaksanaan penelitian dengan
mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data.
2. Laporan
Peneliti melakukan laporan
hasil penelitian dengan menjabarkan rekomendasi dan strategi yang dapat menjawab rumusan masalah. Gambar 3.1
dibawah ini merupakan diagram desain penelitian.
Gambar 1 Desain
penelitian
Komariah & Satori (2011) menyatakan bahwa
pengumpulan data dalam penelitian ilmiah adalah
prosedur yang sistematis untuk memperoleh data yang diperlukan. Sedangkan
menurut Darmadi (2014), metode
penelitian adalah metode ilmiah dalam mendapatkan data untuk tujuan tertentu. Berdasarkan dua definisi
tersebut, ada dua metode pengumpulan data yang digunakan untuk penelitian ini,
yaitu metode wawancara dan studi
pustaka.
1. Data primer
Menurut Sunyoto (2013), data primer adalah data asli
yang dikumpulkan secara mandiri oleh
penulis untuk menjawab masalah penelitian tertentu. Metode pengambilan data primer yang digunakan dalam
penelitian ini adalah wawancara dengan pihak yang dapat memberikan informasi
terkait dengan rumusan
masalah yang akan dibahas. Wawancara
adalah teknik pengumpulan data yang digunakan
untuk mengumpulkan informasi tanya jawab secara
lisan dan berhadapan muka dengan tujuan
tertentu. (Sudijono, 2011). Wawancara akan dilakukan dengan
(1) Pemilik Wanoja Coffee dan (2) Atase Perdagangan KBRI Berlin. Wawancara
ini dilakukan untuk mendapatkan data yang relevan
agar peneliti dapat merumuskan langkah-langkah ekspor dan strategi
pemasaran di negara
tujuan.
2.�� Data sekunder
Data yang diperoleh dari dokumen grafis
(seperti tabel, catatan,
notulen rapat, SMS, dan lain-lain), foto-foto, film, rekaman
video, benda-benda, dan lainnya yang dapat memperkaya data primer
disebut sebagai data sekunder, menurut
Arikunto (2013),. Peneliti
menggunakan sumber data sekunder berupa
undang-undang, buku, jurnal,
dan artikel yang berkaitan dengan topik penelitian mengenai langkah-langkah ekspor dan strategi
pemasaran di negara tujuan.
Analisis data adalah bekerja dengan data,
mengorganisasinya, memilah milahnya menjadi
satuan yang dapat dikontrol, mensintesiskannya, mencari dan menemukan
pola, menemukan apa yang penting dan
apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang harus disajikan dari data. (Moleong,
2016). Sementara itu, menurut Sugiyono
(2018), analisis data merupakan proses
mencari dan menyusun data sistematis yang dikumpulkan dari catatan
lapangan, wawancara, dan dokumentasi.
Proses olahan termasuk mengelompokkan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa,
menyusun pola, memilih data yang relevan dan penting, dan membuat
kesimpulan yang membuatnya mudah dipahami. Tahapan
analisis data yang akan dilakukan
oleh peneliti dicantumkan pada gambar 3.2 dibawah ini mengenai bagan tahapan analisis
riset kualitatif.
Gambar 2 Bagan tahapan
analisis riset kualitatif
Sumber: Miles & Huberman (2007)
1. Pengumpulan data
Peneliti akan melakukan pengumpulan data primer
melalui wawancara yang dilakukan
dengan Wanoja Coffee sebagai subyek penelitian dan Atase Perdagangan KBRI Berlin untuk mendapatkan informasi
mengenai kualitas dan kapasitas produk kopi
green bean, dokumen ekspor, dan kondisi pasar produk kopi green
bean maupun roasted di Jerman.
Selain itu, peneliti akan mengumpulkan data sekunder melalui jurnal, buku,
dan portal lembaga pendukung ekspor, seperti Market Brief
International Trade Promotion Center (ITPC)
Hamburg, Google Trends, Trademap, Market Access Map, Centre for the Promotion of Imports from developing countries
(CBI) Europe, dan lain- lain.
2.�� Reduksi data
Tahapan selanjutnya adalah reduksi data, yaitu proses ini berfokus
pada penyederhanaan,
pengabstrakkan, dan transformasi data yang berasal dari catatan tertulis di lapangan. Penurunan data terjadi
sepanjang proyek yang berorientasi kualitatif. (Miles & Huberman, 2007). Pada tahap ini peneliti akan melakukan
kategorisasi data untuk mengambil data yang paling
relevan dengan tujuan
penelitian dan rumusan
masalah sehingga dapat
ditarik kesimpulannya. Analisa reduksi data berlangsung selama proses pengumpulan data pada penelitian masih
berlangsung dengan memilih data kasar yang disederhanakan. Data tersebut diperoleh dari wawancara maupun
studi pustaka. Data akan direduksi dan dianalisis menggunakan alat analisis, yaitu SWOT, IFAS EFAS, dan Marketing Mix 4Ps.
3.�� Display data/Penyajian data
Penyajian data bertujuan untuk menganalisis masalah
agar memudahkan peneliti memecahkan
masalah secara tertulis. Penyajian analisis data dilakukan secara sistematis dengan menggunakan alat seperti grafik, matriks,
bagan, atau teks naratif. Peneliti akan melakukan penyajian data dilakukan dalam
bentuk bagan dan teks naratif.
4.�� Kesimpulan/Verifikasi
Setelah melakukan 3 tahapan analisis
data diatas, peneliti
akan melakukan penarikan kesimpulan/verifikasi berdasarkan
data yang diolah dengan menghubungkan teori, data lapangan, dan rumusan
masalah agar sesuai dengan tujuan penelitian.
Hasil dan
Pembahasan
Gambar 3 Logo Wanoja
Coffee
Wanoja Coffee didirikan oleh
Hj. Eti Sumiati pada bulan Juni 2012 yang berasal dari Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kata �Wanoja� berasal dari
bahasa sunda yang berarti wanita
muda. Pemilihan kata ini digunakan karena pada awalnya hanya petani perempuan yang bergabung dalam kelompok
ini. Pemberdayaan petani perempuan di representasikan
dalam logo perusahaan, yaitu terdapat siluet perempuan menghadap ke kanan yang dikelilingi oleh tumbuhan kopi.�
Saat ini, Wanoja Coffee terdiri
dari 10 (sepuluh) kelompok tani dengan jumlah anggota kurang lebih 75 anggota. Lahan perkebunan
kopi Wanoja Coffee memiliki luas 100 hektar. Lahan ini yang dimiliki oleh kelompok
tani dan Perhutani dengan
produktivitas per tahun sejumlah 180 ton.
Wanoja Coffee memiliki visi berupa terwujudnya
kesejahteraan masyarakat petani yang ekonomis, material, dan berkualitas dan pendidikan
masyarakat yang mulia. Sementara misi dari Wanoja Coffee adalah meningkatkan
perekonomian petani lokal dengan mengembangkan berbagai potensi unggulan sektor
pertanian khususnya kopi
dalam pengembangan agribisnis dengan sistem ekonomi berbasis
kerakyatan yang didukung oleh serta usaha mikro, kecil, menengah, dan atas
keterlibatan koperasi.
Wanoja Coffee memproduksi kopi jenis green bean,
yaitu biji kopi mentah yang belum
disangrai. Kopi green bean diolah oleh Wanoja Coffee dari hulu ke hilir. Mulai dari pembibitan benih kopi, budidaya,
pengolahan hasil produksi
hingga pemasaran produk. Wanoja Coffee memproduksi 9 jenis kopi green
bean dengan proses pengolahan
yang berbeda. Berdasarkan pengolahannya, kopi green bean dibagi
menjadi 3 jenis, yaitu:
Tabel 1 Jenis produk kopi green bean Wanoja
Coffee
|
No |
Jenis Pengolahan |
Tahapan Pengolahan |
Sub-Jenis |
Taste Note |
|
1. |
Washed |
Proses pengolahan biji kopi (cherry
coffee) dengan mengupas kulit
biji kopi, kemudian di fermentasi dan di jemur sehingga menghasilkan karakteristik rasa yang ringan dan aromatik. |
Full Washed |
Fruity, manis, bentuk medium,
dan sisa rasa bersih. |
|
Semi Washed |
Jeruk, beri, manis,
dan bentuk medium. |
|||
|
2. |
Honey |
Cherry coffee tidak
melalui proses fermentasi
sehingga menghasilkan
karakteristik rasa manis dengan
tingkat keasaman sedang-tinggi (seperti kopi washed). |
Golden Honey |
Stone fruit,
manis, seimbang, dan bentuk medium. |
|
Honey Anaerob |
Buah tropis, jeruk, manis, bentuk medium, dan sisa rasa
bersih. |
|||
|
Black Honey |
Beri, jahe, manis,
dan bentuk medium. |
|||
|
3. |
Natural |
Cherry coffee tidak dikupas |
Natural |
Seperti buah beri,
bentuk |
|
|
|
dan di fermentasi sehingga menghasilkan karakteristik
rasa yang manis. |
|
medium, dan sisa rasa
manis. |
|
Extended Natural |
Fungky, seperti buah beri, floral, bentuk medium, dan
sisa rasa manis. |
|||
|
Wine |
Wine, fungky, beri, manis,
dan bentuk medium. |
|||
|
Avisani |
Blackforest rum, chocolate liquor, anggur, manis bersih, dan berair. |
Jerman adalah salah satu
negara importir kopi green bean paling besar di dunia. Jerman mengimpor kopi langsung dari negara produsen
dan menjadi negara
tujuan utama banyak
produsen di seluruh
dunia, sehingga Jerman
memiliki pasar yang kompetitif. Oleh karena itu, dalam memasuki pasar Uni Eropa, khususnya negara Jerman, Wanoja Coffee harus memenuhi persyaratan yang ketat. Persyaratan tersebut dapat di akses di laman Market
Access Map International Trade Center (ITC)
dengan memasukan negara asal eksportir, memasukan negara tujuan ekspor, dan memasukan kode HS sesuai dengan produk yang
akan di ekspor. Berdasarkan laman
tersebut, ada beberapa persyaratan ekspor kopi dengan kode HS 090111 - Coffee
(excl. roasted and decaffeinated) yang perlu di perhatikan oleh Wanoja Coffee, antara lain:
Persyaratan untuk produk kopi Indonesia meliputi
persyaratan food safety atau keamanan
pangan yang ditentukan oleh persyaratan hukum Uni Eropa. Secara umum, Jerman menerapkan persyaratan hukum yang sama seperti negara-negara Uni Eropa lainnya, namun pada industri kopi
terdapat pengendalian impor yang sangat ketat untuk penggunaan pestisida dan peluang pertumbuhan jamur pada kopi.
Hal ini dilakukan untuk menghindari
adanya kontaminasi terhadap barang impor. Selain itu, konsumen di negara Eropa juga sudah menyadari pentingnya sustainability atau keberlanjutan dan ethical
consumption atau konsumsi yang etis. Maka dari itu,
salah satu persyaratan yang perlu diperhatikan oleh Wanoja Coffee dalam
mempersiapkan persyaratan ini, yaitu dengan mengurangi penggunaan pestisida. Penggunaan
pestisida pada produk kopi dibatasi secara ketat oleh negara-negara di Uni
Eropa khususnya Jerman. Pestisida diperbolehkan dengan batas jumlah tertentu atau
maximum residue level (MRL). Wanoja Coffee dapat mengakses database regulasi pestisida
Uni Eropa untuk mengetahui tingkat MRL setiap jenis pestisida berdasarkan pestisida
yang dipakai untuk budidaya produk kopi.
Hal yang menjadi perhatian masyarakat Eropa khususnya
negara Jerman dalam mengosumsi kopi adalah sustainability. Kopi yang keberlanjutan
adalah sumber kopi yang berkualitas dengan memastikan transparansi rantai
pasok, memberdayakan kompetensi petani, melindungi lingkungan, dan
memberdayakan petani perempuan (Nestle Indonesia, 2023). Oleh karena itu,
Wanoja Coffee perlu memperhatikan kualitas dan kemasan kopi yang akan diekspor
agar sesuai dengan standar negara Jerman.
1. Penilaian kualitas
Sebelum melakukan kegiatan ekspor, produk kopi perlu di
nilai agar kualitas sesuai dengan ketentuan kriteria standar kopi Eropa.
Penilaian tersebut dilakukan dengan mengklasifikasikan kualitas biji kopi. Klasifikasi
tersebut menggunakan standar Specialty Coffee Associations (SCA) sebagai acuan.
Secara umum untuk menentukan mutu kopi green bean dilakukan penilaian fisik. Mutu
kopi dinilai berdasarkan screen- size evaluation, jumlah cacat, penilaian warna,
penampilan dan bau biji, diikuti dengan pemeriksaan kelembaban dan analisis
aktivitas air. Kemudian, kopi diklasifikasikan sesuai dengan kualitasnya. Sampel
biji kopi kemudian dipanggang untuk mengevaluasi kualitas dan keseragaman kopi.
3. Persyaratan label
Gambar 4 Contoh
label kemasan
Sumber: CBI (2020) dan Sweet Water Organic Coffee (2023)
Produk kopi mempunyai kriteria khusus dalam pemasangan
label agar produk dapat teridentifikasi dan terlacak asal-usulnya. Label kopi
yang diekspor ke negara di Eropa harus ditulis dalam bahasa Inggris. Selain itu,
label harus mencakup informasi berikut:
(1) nama barang atau produk; (2) kode identifikasi International
Coffee Organization (ICO); (3) negara asal; (4) nilai berat bersih dalam kilogram;
(5) untuk certified coffee: tercantum identitas lembaga inpeksi (nama dan kode)
dan nomor sertifikasi.
4. Persyaratan pengemasan
Wanoja Coffee dapat menggunakan kemasan yang terbuat
dari serat alami, seperti rami atau goni. Umumnya karung rami atau goni dapat
menampung kopi sampai dengan kapasitas 60 kilogram. Akan tetapi, beberapa
negara menggunakan karung dengan kapasitas 46 kg, 50 kg, atau 70 kg. Penggunaan
karung dapat bergantung dengan permintaan importir ataupun negara tujuan
ekspor. Kelemahan menggunakan karung rami atau goni adalah ketahanan yang
kurang terhadap kelembapan. Wanoja Coffee dapat menggunakan kantong plastik ukuran
60-kilogram atau kontainer dengan ukuran 20 ton untuk menurunkan risiko
kelembaban. Selain menggunakan kantong berbahan plastik, eksportir dapat
menggunakan kemasan dengan jenis bahan high- barrier yang dapat mencegah
oksigen dan kelembapan. Wanoja Coffee juga dapat menggunakan bahan pelapis ketika
menggunakan karung rami atau goni, seperti Grainpro dan Videplast agar kualitas
kopi tetap terjaga.
Berdasarkan pemaparan di atas, dalam memenuhi
persyaratan ekspor kopi ke negara Jerman, eksportir perlu mempersiapkan dokumen
berupa sertifikat phytosanitary untuk menyatakan bahwa komoditas ekspor
tersebut bebas dari organisme penganggu tanaman dan sertifikat kesehatan yang
dikeluarkan oleh Badan Pengawan Obat dan Makanan (BPOM) untuk menyatakan bahwa
produk kopi tersebut aman dikonsumsi sesuai dengan standar pangan. Pada kegiatan
ekspor, setiap tahapan rantai pasok kopi harus dapat dilacak agar menjamin
keamanan produk, membatasi risiko kontaminasi, dan mencegah adanya kontaminasi
sehingga tindakan dapat diambil apabila terjadi kontaminasi atau produk tidak aman.
Oleh karena itu, Wanoja Coffee juga perlu mempersiapkan dokumen Surat
Keterangan Asal (SKA) atau Certificate of Origin (COO). Selain itu, Wanoja
Coffee perlu memperhatikan proses produksi serta penggunaan jenis kemasan
sesuai standar ekspor agar komoditas ekspor aman dari kontaminasi berupa jamur,
senyawa kimia, maupun mikroorganisme yang dapat menurunkan kualitas produk.
Sebelum melakukan kegiatan
ekspor, Wanoja Coffee harus mempersiapkan langkah- langkah
kegiatan ekspor terlebih dahulu agar dapat memaksimalkan potensi yang dimiliki
dan menghindari risiko yang ada.
Langkah-langkah ekspor kopi green bean ke negara Jerman terdiri dari 6 langkah, yaitu dimulai dari melakukan identifikasi potensi ekspor yang dimiliki oleh Wanoja Coffee,
kemudian Wanoja Coffee dapat mengidentifikasi target pasar yang dituju. Setelah
mendapatkan target pasar, Wanoja Coffee dapat membuat rencana ekspor dan
mengembangkan strategi pemasaran
untuk kegiatan ekspor. Apabila rencana sudah di buat, Wanoja Coffee dapat memasuki
target pasar dan melakukan pengiriman barang kepada importir
di negara tujuan ekspor.
Langkah pertama yang dilakukan adalah mengidentifikasi
potensi ekspor yang di miliki oleh Wanoja Coffee sebagai UMKM. Hal yang perlu di perhatikan sebelum
melakukan ekspor adalah melakukan identifikasi mandiri untuk mengukur
kesiapan ekspor. Identifikasi
ini dapat dilakukan secara sederhana dengan melihat beberapa hal, yaitu:
Tabel 2 Identifikasi kesiapan
ekspor Wanoja Coffee
|
No |
Identifikasi |
Hasil |
|
1. |
Jenis produk |
Kopi green bean jenis
arabica. |
|
2. |
Varian per jenis
produk |
9 varian dengan
3 pengolahan yang
berbeda, yaitu washed, honey, dan natural. |
|
3. |
Tingkat produk yang
defect |
<3% |
|
4. |
Kapasitas produksi |
36 ton per masa panen. |
|
5. |
Quality Control (QC) |
Kualitas produksi di bina dan di awasi oleh Dinas Pertanian, Kementerian Pertanian, dan
Bank Indonesia. |
|
6. |
Legalitas dan perizinan usaha |
Sudah memiliki� �legalitas� �dan�
�izin usaha. |
|
7. |
Omzet usaha |
� 3 milliar rupiah per tahun. |
|
8. |
Jangkauan pasar |
Nasional dan internasional. |
|
9. |
Penghargaan |
1.2nd Place
Cup of Excellence Indonesia (2021) 2.Anugrah Pratama
Perkebunan Indonesia (APPI)
Awards � Kementerian Pertanian Republik Indonesia (2020) 3.Kelompok Tani Berprestasi � Piagam Penghargaan Gubernur Jawa Barat
(2019) 4.3rd Place
Best Arabica Coffee
Indonesia Specialty Coffee
Awards (2018) 5.
Wirausaha Baru Terbaik � Piagam Penghargaan Gubernur Jawa Barat (2017) |
|
10. |
Tampilan kemasan dan
foto produk |
1. Kemasan � Karung plastik GrainPro Gambar 5 Contoh karung
plastik GrainPro Sumber: Tokopedia (2023) Karung plastik digunakan sebagai lapisan
pertama kemasan ekspor untuk melindungi kopi dari jamur
maupun cross-contamination ketika melakukan proses transportasi ke negara tujuan. � Karung goni Gambar 6 Kemasan karung
goni Wanoja Coffee Sumber: Dokumentasi pribadi Karung goni digunakan sebagai kemasan terluar
untuk produk ekspor. Karung goni memiliki struktur kain |
|
|
|
yang tebal dengan permukaan cukup kasar. Selain itu, karung goni ramah lingkungan dan mudah untuk
disimpan sehingga cocok
sebagai kemasan terluar untuk ekspor produk
kopi. 2. Foto Produk Gambar 7 Foto produk
kopi Wanoja Coffee Sumber: Profil Perusahaan |
Sumber: Panduan Persiapan UMKM Go Global
Bank Indonesia (2023)
Berdasarkan tabel 4.2 diatas, Wanoja Coffee menjual kopi
green bean dengan jenis kopi arabika yang memiliki cita rasa yang cenderung
asam serta memiliki lingering aftertaste (rasa manis yang sangat lama di mulut).
Wanoja Coffee memproduksi sekitar 36 ton kopi per masa panen dengan tingkat
defect yang rendah untuk setiap jenis pengolahannya, yaitu kurang dari 3%. Kopi
green bean diolah dengan menggunakan 3 cara, yaitu washed, honey, dan natural. Proses
ini menghasilkan karakteristik cita rasa yang berbeda-beda. Wanoja Coffee
memastikan kualitas produksi kopi terus meningkat dengan melakukan pelatihan
keterampilan petani kopi. Pelatihan ini dilakukan oleh kementerian pertanian,
dinas pertanian, dan Bank Indonesia selaku lembaga yang pembina Wanoja Coffee.
Selain itu, Wanoja Coffee juga mengikuti kompetisi, seperti Cup of Excellence,
Specialty Coffee Awards, dan lain-lain.
Pengecekan dokumen merupakan hal yang penting
dilakukan sebelum melakukan ekspor ke negara Jerman,
terutama dokumen yang berhubungan dengan sertifikasi produk.
Hal ini dilakukan untuk mempermudah proses administrasi ekspor dan
mempersiapkan dokumen yang belum
dimiliki. Tabel di bawah ini adalah checklist dokumen ekspor berdasarkan persyaratan ekspor ke negara
Jerman dan dokumen yang sudah dimiliki oleh Wanoja Coffee.
Tabel 3 Checklist dokumen
ekspor Wanoja Coffee
|
No |
Jenis Dokumen |
Nama Dokumen |
Check |
Keterangan |
|
1. |
Dokumen Wajib |
Sertifikat merek dan
dagang |
✓ |
Surat
legalitas usaha. |
|
Surat����� Keterangan������ Asal (SKA)
atau Certificate of Origin (COO) |
✓ |
|
||
|
Sertifikat BPOM |
✓ |
|
||
|
Sertifikat Phytosanitary |
✓ |
|
||
|
2. |
Dokumen
Pendukung |
Sertifikat halal |
✓ |
|
|
Sertifikat���������������� Nasional Indonesia (SNI) |
✓ |
|
||
|
Sertifikat HACCP |
✓ |
|
||
|
Sertifikat PRT |
✓ |
|
||
|
Sertifikat Sustainability (Fair Trade, Rainforest Alliance, dan
lain-lain) |
✗ |
Wanoja Coffee akan mempersiapkan kebutuhan sertifikat tersebut. |
Berdasarkan tabel
4.3 diatas, Wanoja Coffee sudah mempersiapkan persyaratan ekspor berupa dokumen
wajib maupun dokumen
pendukung untuk ekspor.
Wanoja Coffee perlu
menambahkan dokumen tambahan yang berhubungan dengan sustainability,
yaitu sertifikat Fair Trade atau
Rainforest Alliance. Sertifikat ini akan menjadi nilai tambah produk maupun Wanoja Coffee sebagai
eksportir di pasar Jerman karena negara Jerman
memiliki perhatian lebih terhadap kopi yang berkelanjutan dan etis. Dari
tahun ke tahun, konsumen Jerman semakin menginginkan kopi dengan dampak
sosial dan lingkungan yang positif.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh CBI pada awal tahun 2022, 31% konsumen di Jerman mengatakan mereka bersedia
membayar lebih untuk kopi bersertifikat Fair Trade.
Setelah mengetahui dokumen ekspor yang sudah dipersiapkan oleh Wanoja Coffee,
langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi potensi ekspor dengan
menganalisis faktor eksternal dan
faktor internal Wanoja Coffee. Proses identifikasi ini menggunakan alat analisis SWOT (strength, weakness,
opportunity, dan threat). Analisis SWOT digunakan untuk menentukan penyusunan strategi maupun penjualan
produk, sehingga dapat membantu Wanoja Coffee memilih
prioritas bisnis. Tabel 4.4 di bawah ini merupakan hasil
analisis SWOT dari Wanoja Coffee berdasarkan pengolahan data wawancara
dengan narasumber dalam bentuk matriks.
Tabel 4 Analisis SWOT Wanoja Coffee
|
Internal |
|
|
Kekuatan (Strength) |
Kelemahan (Weakness) |
|
1.
Kualitas kopi green bean jenis arabica sangat
baik dengan tingkat defect < 3%. 2. Sudah melakukan ekspor melalui pihak
ketiga. 3.���� Sudah����� memenuhi����� standar����� dan persyaratan ekspor. |
1.Alat pengangkut/kontainer belum bisa langsung masuk sampai ke gudang, 2.Kapasitas produksi belum stabil
dan masih tergolong kecil. 3.Harga produk per kilogram berada di segmen
konsumen upper end karena kualitas produk untuk konsumen menengah ke atas. |
|
Eksternal |
|
|
Peluang (Opportunity) |
Ancaman (Threats) |
|
1.Jerman tidak mengenakan tarif cukai dan trade remedy untuk produk
kopi dari Indonesia. 2.Meningkatnya permintaan kopi di Jerman. 3.Masyarakat Jerman peduli akan produk kopi
yang memiliki klaim sustainable/berkelanjutan. |
1.Tingkat inflasi dan regulasi impor
negara Jerman. 2. Perubahan iklim dan cuaca. 3. Harga
jual kopi kompetitor lebih murah. |
Berdasarkan
pemaparan analisis SWOT diatas, produk kopi green bean dan bisnis Wanoja
Coffee memiliki potensi
produk karena memiliki
kualitas produk yang baik. Kopi green bean yang diproduksi Wanoja Coffee memiliki
kualitas dan harga untuk segmentasi pasar specialty coffee
yang berada disegmen
upper end (kelas atas). Upper end merupakan salah satu bagian dari segmen kopi yang
terdiri dari kopi-kopi berkualitas tinggi. Pada umumnya, kopi ini berasal dari kelompok mikro yang memproduksi
kopi skala kecil, menggunakan
pengolahan inovatif, memproduksi biji Arabika dengan skor cupping 85 keatas,
dan mempermudah proses
pelacakan asal biji kopi dan berasal dari satu asal (singleorigin).
Selain itu, Wanoja Coffee sudah memenuhi standar dan persyaratan ekspor di negara Jerman sehingga siap untuk
melakukan kegiatan ekspor. Akan tetapi, Wanoja
Coffee perlu memperhatikan beberapa hal, terutama
ancaman yang mungkin
terjadi ketika melakukan kegiatan ekspor, seperti
tingkat inflasi mata uang Rupiah (Rp) dan Euro (�) yang dapat mempengaruhi biaya ekspor, regulasi impor negara
Jerman atau Uni Eropa yang dapat
berubah, perubahan iklim yang dapat mempengaruhi proses produksi dan pengolahan kopi, serta harga jual produk
kopi dari negara produsen kopi lainnya yang menjadi
eksportir ke Jerman.
Analisis
Pasar Kopi di Jerman
Jerman adalah
negara dengan tingkat konsumsi kopi terbanyak di Uni Eropa, yaitu sekitar
166 liter per tahun pada tahun 2021.
Masyarakat Jerman sangat
menyukai kopi, sehingga konsumsi kopi tahunan melebihi konsumsi bir dan
air. Berdasarkan wawancara yang
penulis lakukan dengan Atase Perdagangan KBRI
Berlin, konsumsi kopi lebih banyak
dibandingkan dengan air mineral (140 liter per tahun)
dan bir (100 liter per tahun). Masyarakat Jerman sudah mulai menyadari pentingnya menjaga kesehatan, sehingga
tren konsumsi bir pun bergeser dari bir beralkohol
menjadi bir tanpa alkohol. Jerman melakukan impor kopi dari berbagai negara untuk memenuhi konsumsi dalam
negeri. Nilai impor kopi Jerman dari berbagai
negara sejumlah 4,7 juta US Dollar. Negara
yang menjadi eksportir utama, antara lain; (1) Brazil,
(2) Vietnam, (3) Honduras, (4) Peru, (5) Kolombia, dan lain- lainnya.
Karakteristik Konsumen Kopi di Jerman
Jerman mempunyai 4
(empat) kota besar dengan tingkat konsumsi kopi yang tinggi, yaitu Berlin, Cologne, Munich, dan Hamburg. Pada� umumnya,
karakteristik masyarakat yang berada di empat kota tersebut terpengaruh
budaya minum kopi Italia. Tabel 4.5
dibawah ini menjelaskan mengenai karakteristik
konsumen kopi di kota-kota besar
tersebut.
Tabel 5 Karakteristik konsumen kopi di Jerman
|
No |
Kota |
Negara Bagian |
Informasi Umum |
Karakteristik |
|
1. |
Berlin |
Berlin |
Berlin adalah
ibukota negara Jerman yang memiliki keanekaragaman budaya, manusia, dan kepribadian. Hal ini disebabkan oleh masyarakat yang datang dari berbagai belahan
dunia. Ada beragam destinasi kedai kopi
yang melayani pelanggan yang mempunyai ragam
selera dan preferensi. Oleh karena itu, Berlin disebut
sebagai surga bagi pecinta kopi. |
�
Hampir seperempat peminum kopi yang masih muda menikmati kopi hitam. �
47,1% peminum muda mencari variasi
dan aroma kopi, hal ini tercermin dari meningkatnya lokasi minum
kopi baru, seperti
kedai kopi bergaya
vintage dan ruang kerja bersama (co- working space) yang modern. �
Tingkat kesenjangan generasi di Berlin rendah. Generasi tua maupun
muda senang bertemu
di kafe sambil meminum kopi. |
|
2. |
Cologne |
North-Rhine Westphalia |
Cologne merupakan kota terpadat keempat di Jerman dan kota terbesar keempat
di negara bagian
North- Rhine Westphalia.
Kota ini dilewati Sungai Rhine yang
menghubungkan berbagai negara di
Eropa, sehingga menjadi salah satu
jalur perdagangan dan pengiriman
barang antara Eropa Barat dan Eropa
Timur. Di kota ini terdapat
katedral terindah di Eropa, Cologne
Cathedral, sehingga banyak turis
mancanegara mengunjungi kota Cologne, baik
untuk wisata maupun untuk ibadah. |
�
Masyarakat kota Cologne menyukai kopi ala Italia, yaitu kombinasi antara espresso, susu, dan milk foam,
seperti cappuccino. �
Cologne memiliki banyak pilihan kedai
kopi yang nyaman,
modern, santai, dan indah untuk dipilih. |
|
3. |
Munich |
Bavaria |
Kota
Munich sering disebut sebagai �kota
paling utara di Italia�. Hal ini disebabkan oleh pengaruh Italia yang |
�
Sebanyak�������� 51,3%��������� bersedia mengeluarkan� lebih�� banyak�� uang |
|
|
|
|
kuat dan
komunitas lingkungan Italia. Masyarakat di kota Munich melakukan gaya hidup kopi Italia yang menyukai espresso, foamed milk, dan cappuccino. |
untuk
membeli kopi dengan
kualitas dan rasa yang nikmat, |
|
5. |
Hamburg |
Hamburg |
Hamburg merupakan kota terbesar kedua
di Jerman yang berada di bagian Utara.
Hamburg memiliki pelabuhan terbesar di Jerman
yang menjadi gerbang
pintu pelayaran dan perdagangan
dunia. |
�
Sepertiga dari kelompok usia 18-29 tahun
menyukai bertemu teman
sambil minum kopi dan kue
pada sore hari di kafe sekitar. |
Sumber: Nespresso
(2015), Koeln ist Gut (2021), Britannica (2023), Skillhood (2023)
Berdasarkan sebuah
studi independen yang dilakukan oleh Nespresso dan CN St. Gallen The Refresh Company, pola konsumsi kopi
masyarakat Jerman mengalami perubahan
tren. Peminum kopi yang masih muda mempunyai minat terhadap kualitas dan variasi kopi. Seperti wine,
kesadaran dan apresiasi terhadap aroma, asal usul, dan budidaya kopi semakin meningkat. Sebanyak 24,1% konsumen dengan rentang usia 18 � 29 tahun
ingin mencoba berbagai jenis kopi dan
resep kopi. Selain itu, sepertiga peminum kopi di Jerman tertarik dengan kopi khas dari negara
dan budaya lainnya.
Oleh karena itu, hal ini dapat menjadi
peluang untuk kopi Indonesia yang memiliki kualitas yang
sangat baik dan Indonesia sebagai
negara yang kaya akan kultur
dan budaya untuk memasarkan produknya di Jerman.
Analisis Potensi
Ekspor Kopi dari Indonesia ke Jerman
Jerman adalah
negara yang memiliki
potensi ekspor kopi yang
besar. Akan tetapi, kopi Indonesia belum
mengoptimalkan potensi ekspornya ke Jerman. Oleh karena itu, Indonesia perlu mendorong UMKM untuk melakukan
ekspor produk kopi dan memaksimalkan peluang yang ada di
pasar Jerman, antara lain:
a. Meningkatnya kehadiran roaster dan kedai kopi
Adanya fenomena
peningkatan ekspansi roaster dan kedai kopi, khususnya pada kota-kota besar seperti Berlin, Munich, Hamburg,
dan Cologne. Hal ini menjadi
potensi bagi Indonesia
sebagai negara yang memproduksi kopi mentah untuk mengekspor kopi nya
ke Jerman.
b. Meningkatnya permintaan kopi Indonesia
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik
dan Trade Map,
Indonesia mengalami kenaikan nilai ekspor kopi ke Jerman dari 40 juta ke 88 juta US Dollar pada rentang tahun
2021-2022. Hal ini menunjukkan bahwa ada peningkatan permintaan kopi Indonesia. Kopi Arabika dan Robusta adalah jenis kopi yang paling banyak diekspor
ke Jerman.
Berdasarkan analisis
tersebut, Jerman merupakan
pasar yang sangat potensial
bagi Wanoja Coffee selaku UMKM Indonesia. Potensi ini dapat menjadi peluang
bagi Wanoja Coffee untuk memasuki pasar Jerman.
Negara Pesaing Kopi Indonesia
Gambar 8 Daftar eksportir kopi ke Jerman
pada tahun 2022 (US Dollar)
Sumber:
Trade Map (2022)
Gambar 8 diatas
merupakan daftar negara yang melakukan ekspor ke Jerman pada tahun 2022. Jerman adalah negara
di Eropa yang mengimpor biji kopi dari negara-negara berkembang. Brazil
merupakan produsen kopi arabika terbesar dan
eksportir kopi tertinggi ke Jerman dengan nilai impor sebesar 1,9 juta US Dollar. Selain itu, Vietnam yang juga
merupakan negara Asia Tenggara seperti Indonesia
berada di urutan kedua sebagai eksportir tertinggi dengan nilai impor sebesar
579 ribu US Dollar. Hal ini disebabkan Vietnam memproduksi kopi dengan kuantitas yang tinggi. Indonesia berada
di urutan kesembilan sebagai eksportir terbesar
negara Jerman dengan nilai impor sebesar 87 ribu US Dollar. Secara kualitas
dan cita rasa, kopi Indonesia lebih unggul daripada
kopi Vietnam dan kopi Brazil, sehingga strategi pemasaran
diperlukan untuk menghadapi persaingan ini dengan berfokus
kepada meningkatkan kesadaran
akan kualitas produk kopi Indonesia dan meningkatkan eksistensi produk
Indonesia di pasar Jerman (KBRI Berlin,
2023).
Potensi Produk Kopi Indonesia
Berdasarkan coffee
cup tasting yang
dilakukan oleh KBRI Berlin di Frankfurt
Coffee Festival pada tahun 2022 lalu, kopi yang berasal dari Indonesia mempunyai kualitas dan karakteristik yang
lebih baik daripada negara produsen kopi
lainnya, sehingga peminum kopi Indonesia berada di segmen penikmat kopi special/kelas berat. Segmen tersebut
berada di niche market. Oleh
karena itu, masyarakat Jerman perlu diedukasi
mengenai kualitas kopi Indonesia untuk meningkatkan
kesadaran/awareness terhadap pemilihan varian kopi yang dijual. Kopi Indonesia dipasarkan di berbagai kota
di Jerman melalui berbagai macam saluran, antara
lain:
1. Retail
lokal: Edeka dan REWE
di kota Berlin.
2. Kedai kopi diaspora: Meramanis Coffee di kota Cologne, Nua Rasa Coffee
di kota Berlin, dan My
Bali Coffee di kota Munich.
3. Kedai
kopi multinasional: Starbucks
di kota Berlin, Cologne, Hamburg
dan Munich.
4. E-commerce: Amazon
Jerman (amazon.de)
Tarif Ekspor dari Indonesia ke Jerman
Jerman menggunakan
mata uang Euro (�) untuk transaksi perdagangan
ekspor-impor. Euro adalah mata uang resmi yang digunakan di sebagian
besar negara Uni Eropa. Mata uang
Euro relatif stabil,
sehingga tidak berpengaruh terhadap fluktuasi harga barang impor kopi.
Selain itu, Jerman tidak mengenakan tarif
cukai dan trade remedy pada impor produk kopi green bean dengan
HS Code 090111 dari Indonesia. Trade
remedy adalah adalah alat kebijakan perdagangan yang memungkinkan pemerintah mengambil tindakan perbaikan terhadap
impor (Market Access Map, 2022).
Membuat rencana ekspor
Setelah mengetahui
potensi produk dan peluang pasar di negara Jerman, langkah selanjutnya adalah membuat rencana
ekspor. Rencana ekspor dibuat dengan memperhatikan aspek 5K (kemasan,
kualitas, kuantitas, kapasitas, dan kontinuitas). Hal ini dilakukan agar Wanoja Coffee dapat
melaksanakan kegiatan ekspor dengan jelas dan
optimal serta mengurangi risiko
yang mungkin akan terjadi. Wanoja Coffee dapat
membuat rencana ekspor dengan mempersiapkan hal-hal
dibawah ini, yaitu:
1. Produk
Produk yang dapat
di ekspor oleh Wanoja Coffee adalah kopi green bean dengan taste notes yang sesuai dengan permintaan importir dan preferensi masyarakat Jerman.
2. Klasifikasi produk
Produk yang di
produksi dan akan di ekspor oleh Wanoja Coffee adalah kopi green bean jenis arabika. Kopi tersebut
diklasifikasikan dalam kode HS 0901.11 - Coffee,
Not Roasted, Not Decaffeinated.
3. Negara tujuan
Negara Jerman merupakan negara tujuan ekspor Wanoja Coffee.
Menetapkan negara tujuan
ekspor merupakan hal yang penting
agar Wanoja Coffee
dapat merumuskan strategi
yang tepat agar sesuai dengan tren pasar dan karakteristik masyarakat negara tujuan ekspor.
4. Target konsumen
Setelah menetapkan negara tujuan ekspor,
Wanoja Coffee perlu menetapkan target
konsumen di negara
tujuan. Skala produksi
kopi Wanoja Coffee
tergolong kecil, sehingga
model bisnis yang direkomendasikan adalah
Business-to- Business
(B2B). Wanoja
Coffee dapat menargetkan roaster (pemanggang) diaspora
berupa kedai kopi Indonesia yang merupakan pionir di negara Jerman
maupun roaster lokal sebagai importir/buyer.
5. Kemasan produk
Kemasan produk
yang digunakan oleh Wanoja Coffee
sudah sesuai dengan
standar kemasan yang ditetapkan oleh Uni Eropa, khususnya negara Jerman,
yaitu dengan menggunakan karung
goni yang dilapisi oleh GrainPro. Wanoja Coffee perlu menambahkan labelling mengenai informasi produk,
seperti kode identifikasi ICO, negara asal,
nilai berat bersih dalam kilogram, dan informasi mengenai sertifikasi sustainability yang digunakan
dengan mencantumkan nama/kode
lembaga inspeksi dan nomor
sertifikasi.
6. Jalur pengiriman
Pengiriman kopi menggunakan jalur laut menggunakan kapal. Wanoja Coffee
dapat melakukan pengiriman ke Jerman melalui
Pelabuhan Hamburg. Pelabuhan Hamburg merupakan pelabuhan
laut terbesar di Jerman yang memiliki konektivitas jalur kereta api, jalan raya, dan jalur laut lainnya,
sehingga mempermudah proses
transportasi kopi ke kota-kota lainnya. Selain itu, secara geografis, Pelabuhan
Hamburg merupakan pasar utama atau pusat industri
sehingga distribusi lebih cepat dan mengurangi biaya transportasi.
7. Metode pembayaran
Metode pembayaran
ekspor ada berbagai macam, seperti Open Account, Collection, Advance Payment, dan Letter of Credit (L/C).
Metode pembayaran terbaik dan paling
aman untuk transaksi ekspor-impor adalah menggunakan L/C, sehingga Wanoja Coffee dapat menggunakan
L/C sebagai metode pembayaran. Jenis
L/C yang dapat digunakan adalah L/C Irrevocable. L/C Irrevocable adalah L/C yang paling
banyak digunakan dan paling aman untuk eksportir
pemula karena pembayaran tidak bisa dibatalkan secara sepihak oleh pihak manapun selama periode kontrak masih valid.
Apabila ada pihak yang membatalkannya maka akan terkena sanksi.
8. Melakukan korespondensi dengan importir
Korespodensi dilakukan
dengan calon importir
untuk memberikan informasi
mengenai barang yang akan di ekspor beserta
dengan ketentuan pengiriman, seperti deskripsi produk,
kemasan yang digunakan, metode pembayaran,
tanggal dan metode pengiriman, hingga rencana impor masa yang akan datang. Wanoja Coffee juga perlu
mencantumkan profil perusahaan yang memuat
kegiatan ekspor sebelumnya untuk memberikan gambaran, salah satu contohnya
adalah testimoni dari konsumen Wanoja
Coffee. Hal ini dilakukan untuk
mengurangi risiko
ketidaksesuaian pengiriman maupun penerimaan barang.
9. Menetapkan jadwal
ekspor
Masa panen kopi Wanoja Coffee berlangsung dari bulan Mei hingga Agustus. Estimasi pengolahan kopi
bervariasi sesuai tipe pengolahan (washed, honey, atau natural). Pada umumnya, pengolahan
tersebut berlangsung selama 2 � 3
bulan. Wanoja Coffee sudah mempersiapkan dokumen untuk syarat ekspor, sehingga
Wanoja Coffee dapat mempersiapkan sertifikasi sustainability. Pada umumnya, pemerolehan sertifikasi
berlangsung selama kurang lebih seminggu. Ketika
semua dokumen sudah siap, Wanoja Coffee dapat mendaftarkan produk untuk mengirimkan barang ekspor. Jadwal ekspor dapat ditetapkan dengan mempertimbangkan proses pengolahan kopi dan kesepakatan dengan importir/buyer.
10. Merumuskan strategi
jangka panjang
Setelah melakukan
kegiatan ekspor dengan importir di Jerman, Wanoja Coffee perlu menjaga kemitraan dengan mengimplementasikan Customer Relationship Management (CRM) dengan
importir. Hal ini dilakukan agar terjadinya
pemesanan berulang yang berdampak pada peningkatan pendapatan. Selain itu, Wanoja Coffee perlu merumuskan
strategi jangka panjang untuk melakukan
perluasan pasar di Jerman. Strategi tersebut dirumuskan dengan menentukan sasaran jangka pendek,
jangka menengah, dan jangka panjang,
serta langkah-langkah yang dapat
ditindaklanjuti yang dapat dicapai per tahunnya.
Langkah
selanjutnya adalah mengembangkan strategi pemasaran ekspor di negara Jerman. Strategi pemasaran
dirumuskan menggunakan bauran pemasaran 4P
yang terdiri dari produk, harga, tempat, dan promosi. Bauran pemasaran ini dirumuskan berdasarkan hasil analisis
IFAS, EFAS, dan integrasi elemen SWOT mengenai
potensi ekspor Wanoja
Coffee dan kondisi pasar kopi di Jerman.
Analisis
IFAS dan EFAS
a. Analisis IFAS
Tabel 6 Data hasil kuesioner dan pemberian rating dari faktor
internal
|
No |
Kekuatan |
Rating |
|||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
||
|
S1 |
Kualitas kopi green bean jenis arabika
sangat baik dengan tingkat
defect < 3% |
|
3 |
5 |
17 |
|
S2 |
Sudah
melakukan ekspor melalui pihak
ketiga |
1 |
6 |
8 |
10 |
|
S3 |
Sudah
memenuhi standar dan
persyaratan ekspor |
|
2 |
4 |
19 |
|
No |
Kelemahan |
Rating |
|||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
||
|
W1 |
Alat pengangkut/kontainer belum
bisa langsung masuk sampai
ke gudang |
2 |
11 |
10 |
2 |
|
W2 |
Kapasitas produksi belum stabil
dan masih tergolong kecil |
1 |
10 |
10 |
4 |
|
W3 |
Harga
produk per kilogram berada di segmen
konsumen upper end karena
kualitas produk untuk
konsumen menengah ke atas |
4 |
13 |
5 |
3 |
Tabel 8 diatas
adalah hasil respon data wawancara dan pemberian skala rating menggunakan kuesioner (skala1 sampai dengan 4) terhadap
faktor internal Wanoja Coffee.
Pemberian rating ini dilakukan oleh 25 responden yang merupakan pengurus/anggota Wanoja Coffee, konsumen
Wanoja Coffee, dan pihak ketiga
atau pengamat bisnis.
Tabel 7 Perhitungan rating faktor internal
|
No |
Kekuatan |
Pengolahan Data Kuesioner |
Bobot |
|
S1 |
Kualitas kopi green bean jenis arabika sangat baik
dengan tingkat defect <
3% |
89 |
0.21 |
|
S2 |
Sudah melakukan ekspor melalui pihak ketiga |
77 |
0.18 |
|
S3 |
Sudah
memenuhi standar dan
persyaratan ekspor |
92 |
0.21 |
|
Total Kekuatan |
258 |
0.58 |
|
|
No |
Kelemahan |
Pengolahan Data Kuesioner |
Bobot |
|
W1 |
Alat pengangkut/kontainer belum
bisa langsung masuk sampai ke gudang |
62 |
0.14 |
|
W2 |
Kapasitas produksi belum stabil
dan masih tergolong kecil |
67 |
0.15 |
|
W3 |
Harga
produk per kilogram berada di segmen konsumen upper end karena
kualitas produk untuk
konsumen menengah ke atas |
57 |
0.13 |
|
Total Kelemahan |
186 |
0.42 |
|
Tabel 9 �merupakan hasil pengolahan data faktor internal.
Pengolahan data tersebut dilakukan dengan menghitung total kekuatan dan total
kelemahan dengan jumlah akumulasi respon faktor internal serta menentukan bobot
untuk setiap faktor internal. Sebagai contoh pada faktor kekuatan pada nomor 1
(S1), didapat dari menjumlahkan total jawaban 25 responden, yaitu 2 + 2 + 3 + 3
+ 3 + 3 + 3 + 4 + 4
+ 4 � (14) = 89.
Sementara bobot pada nomor 1 (S1) didapatkan dari perhitungan total jawaban 25 responden dibagi dengan total pengolahan data kuesioner, yaitu
bobot = 89� 444 = 0.20. Kemudian, hasil pengolahan faktor-faktor kekuatan dan faktor- faktor kelemahan dapat dijumlahkan. Begitupula dengan bobot setiap faktor. Oleh
karena itu, bobot yang didapatkan untuk faktor kekuatan
adalah 0.58 dan bobot yang
didapatkan untuk faktor kelemahan dalah 0.42.
Tabel 8 Matrik faktor strategi internal
|
No |
Kekuatan |
Bobot |
Rating |
Skor |
Keterangan |
|
S1 |
Kualitas kopi green bean jenis arabika sangat
baik dengan tingkat defect < 3% |
0.20 |
4 |
0.71 |
|
|
S2 |
Sudah
melakukan ekspor melalui pihak ketiga |
0.17 |
3 |
0.53 |
|
|
S3 |
Sudah
memenuhi standar dan persyaratan ekspor |
0.21 |
4 |
0.76 |
|
|
Total Kekuatan |
0.58 |
|
2.01 |
|
|
|
No |
Kelemahan |
Bobot |
Rating |
Skor |
Keterangan |
|
W1 |
Alat pengangkut/kontainer belum
bisa langsung masuk sampai ke gudang |
0.14 |
2 |
0.34 |
|
|
W2 |
Kapasitas produksi belum stabil
dan masih
tergolong kecil |
0.15 |
3 |
0.40 |
|
|
W3 |
Harga produk
per kilogram berada
di segmen konsumen upper
end karena kualitas produk untuk konsumen menengah ke atas |
0.13 |
2 |
0.29 |
|
|
Total Kelemahan |
0.42 |
|
1.04 |
|
|
|
Total Faktor
Internal |
1.00 |
|
3.05 |
|
|
Tabel 10 diatas menunjukkan hasil analisis IFAS. Analisis IFAS dilakukan dengan
menentukan rating dan skor untuk mendapatkan total faktor internal,
sebagai berikut:
Nilai rating
didapatkan dari rating faktor internal di bagi dengan jumlah responden. Sebagai contoh pada faktor kekuatan pada nomor 1 (S1), faktor
kekuatan berjumlah 89, sehingga perhitungan rating pada nomor 1 (S1) adalah rating = 89 = 3.56 yang dibulatkan dua desimal menjadi 4.25
Kesimpulan
Kesimpulan Laporan Tugas Akhir (LTA) ini dibuat untuk menjawab rumusan masalah mengenai langkah-langkah agar Wanoja Coffee dapat melakukan ekspor kopi ke negara Jerman dan strategi pemasaran produk kopi yang dapat di implementasi atau dilaksanakan di negara Jerman. Jerman merupakan negara yang ketat dalam menyeleksi barang impor, terutama untuk produk kopi green bean. Oleh karena itu, sebelum melakukan ekspor ke negara Jerman, Wanoja Coffee perlu memahami persyaratan ekspor, seperti persyaratan keamanan pangan dan persyaratan produk. Kemudian, Wanoja Coffee dapat mempersiapkan langkah-langkah ekspor yang terdiri dari 6 (enam) langkah, antara lain; (1) mengidentifikasi potensi ekspor, (2) mengidentifikasi target pasar, (3) membuat rencana ekspor, (4) mengembangkan strategi pemasaran ekspor, (5) memasuki target pasar negara Jerman, dan (6) mengirimkan barang ekspor. Perumusan langkah-langkah ini dilakukan agar Wanoja Coffee dapat memaksimalkan potensi dan peluang yang ada dan mengurangi risiko yang mungkin terjadi.
Wanoja Coffee memiliki kualitas kopi yang sudah sesuai dengan standar dan persyaratan ekspor. Walaupun begitu, Wanoja Coffee perlu mengantisipasi ancaman, seperti perubahan iklim dan cuaca yang dapat berdampak kepada kualitas dan kuantitas produk. Wanoja Coffee juga memiliki posisi yang agresif, yaitu memanfaatkan kekuatan untuk meraih peluang yang ada (strength � opportunity), sehingga strategi pemasaran yang dapat Wanoja Coffee terapkan agar dapat memasarkan produknya di Jerman, antara lain: (1) Menonjolkan Unique Selling Point (USP) produk dengan menambahkan sertifikasi sustainability dan mengintegrasi kultur Jawa Barat ke kemasan, profil perusahaan, dan filosofi produk, (2) Menetapkan harga premium, (3) Membangun mitra dengan roaster diaspora di Jerman dan memanfaatkan trading site, dan (4) Mempromosikan produknya dengan bergabung dengan asosiasi kopi di Jerman, mengikuti pameran nasional dan internasional, mengikuti kompetisi kopi, memanfaatkan fasilitas ITPC Hamburg, dan memasarkan produknya melalui e-commerce Jerman.
Daptar Pustaka
Arikunto,
S. (2013). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka
Cipta. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa KEMENDIKBUD. (t.thn.). Kamus
Besar Bahasa
Indonesia
(KBBI). Dipetik September 27, 2023, dari Badan Pengembangan dan Pembinaan
Bahasa KEMENDIKBUD: https://kbbi.web.id/strategi
Badan
Pusat Statistik. (2023). Statistik Indonesia 2023. Dipetik September 8, 2023, dari
Badan Pusat Statistik: https://www.bps.go.id/publication/2023/02/28/18018f9896f09f03580a614b/statistik-
indonesia-2023.html
Bank
Indonesia dan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Universitas Indonesia. (2023). Panduan UMKM GO GLOBAL: 9 Langkah
Terstruktur untuk Go Global dengan Lebih Terencana. Jakarta: Departemen
Pengembangan UMKM dan Perlindungan Konsumen Bank Indonesia.
Britannica.
(2023). Cologne, Germany. Dipetik Desember 12, 2023, dari Britannica: https://www.britannica.com/place/Cologne-Germany
Center
for the Promotion of Imports Ministry of Foreign Affairs. (2020). Entering the
European market for speciality coffee. Dipetik Oktober 20, 2023, dari Center
for the Promotion of Imports Ministry of Foreign Affairs: https://www.cbi.eu/market-
information/coffee/specialty-coffee/market-entry
Corporate
Finance Institute. (2023). A framework to understand and analyze a company�s
Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats. Dipetik November 27, 2023,
dari Corporate Finance Institute: https://corporatefinanceinstitute.com/resources/management/swot-analysis/
Creswell,
J. (2016). Research Design, Pendekatan Metode Kualitatif, Kuantitatif, dan
Campuran. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Databoks.
(2023). Konsumsi Kopi di Eropa dan Amerika Paling Tinggi di Dunia. Dipetik Juli
7, 2023, dari Databoks: https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2023/04/03/konsumsi-
kopi-di-eropa-dan-amerika-paling-tinggi-di-dunia
Fahmi,
I. (2014). Manajemen Strategis Teori dan Aplikasi. Bandung: CV. Alfabeta.
Febriyani, E. (2023). Pengaruh Desain Produk , Harga, dan Daya Tarik Promosi
Media Sosial
Instagram
Terhadap Minat Beli Ulang Produk Sepatu Aerostreet. 32. Dipetik Juli 22, 2023,
dari http://eprints.iain-
surakarta.ac.id/6307/1/Eka%20Febriyani_195211017_MBS_Skripsi.pdf
Galavan,
R. (2014). Doing Business Strategy. Ireland: NuBooks.
International
Coffee Organization. (2021). Coffee Market Research November 2021. Dipetik Juli
7, 2023, dari International Coffee Organization: http://www.ico.org/documents/cy2022-
23/cmr-1122-e.pdf
International
Coffee Organization. (2021). Coffee Trade Statistics November 2021. Dipetik
Juli 7, 2023, dari International Coffee Organization: http://www.ico.org/prices/m4- imports.pdf
International
Trade Center (ITC). (2022). Market Access Conditions Indonesia - Germany.
Dipetik
November 14, 2023, dari International Trade Center (ITC): https://www.macmap.org/en//query/results?reporter=276&partner=360&product=090111
&level=6#jump-to-custom-duties-content
International
Trade Center. (2022). Trade Map. Dipetik Desember 12, 2023, dari International
Trade Center: https://www.trademap.org/Bilateral.aspx?nvpm=1%7c360%7c%7c276%7c%7c090111%
7c%7c%7c6%7c1%7c1%7c2%7c1%7c1%7c1%7c1%7c%7c1
Kedoh,
C. A., & Setyari, N. W. (2021). ANALISIS DAYA SAING DAN FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI EKSPOR KOPI INDONESIA KE PASAR. JURNAL EKONOMI PEMBANGUNAN
UNIVERSITAS UDAYANA, 10, 4522 - 4548. Dipetik Juli
7,
2023, dari https://ojs.unud.ac.id/index.php/eep/article/download/71789/42079/
Kementerian
Luar Negeri Indonesia. (2020). Promosi Agresif Kopi Indonesia di Jerman.
Dipetik Juli 7, 2023, dari Portal Kementerian Luar Negeri Indonesia: https://kemlu.go.id/portal/id/read/1859/berita/promosi-agresif-kopi-indonesia-di-jerman
Kementerian
Luar Negeri Indonesia. (2021). Bidik Pasar Kopi Indonesia di Jerman Lewat Uji
Cocok Rasa Kopi. Dipetik Juli 18, 2023, dari Portal Kementrian Luar Negeri
Republik Indonesia.
Kementerian
Perkebunan Direktorat Jenderal Perkebunan. (2022). Sosialisasi Penerapan
Pengendalian Hama Terpadu Pada Tanaman Kopi di Kabupaten Toba. Dipetik Oktober
18, 2023, dari Kementerian Perkebunan Direktorat Jenderal Perkebunan: https://ditjenbun.pertanian.go.id/sosialisasi-penerapan-pengendalian-hama-terpadu-pada-
tanaman-kopi-di-kabupaten-toba/
Koeln
ist Gut. (2021). The Art of Making Good Coffee in Cologne. Dipetik Desember 12,
2023, dari Koeln ist Gut: https://www.koeln-isst-gut.de/von-der-kunst-des-guten-
kaffeekochens-in-koeln/
Kotler,
& Amstrong, G. (2016). Dasar-dasar Pemasaran. Jilid 1. Edisi Kesembilan.
Jakarta: Erlangga.
Kotler,
P., & Keller, K. (2016). Marketing Management, 15th Edition. New Jersey:
Pearson Pretice Hall, Inc.
McCusker,
K., & S Gunaydin. (2015). Research using qualitative, quantitative, or
mixed methods and choice based on the research. Perfusion, 537-542.
Miles,
M., & Huberman, A. M. (2007). Qualitative Data Analysis . Jakarta: UI
Press.
Moleong,
L. (2016). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Offset. Nespresso. (2015). NEW STUDY REVEALS SHIFTS IN GERMAN COFFEE LIFESTYLE
TRENDS.
Dipetik Desember 10, 2023, dari Nespresso: https://nestle-
nespresso.com/news/New-study-reveals-shifts-in-German-coffee-lifestyle-trends
Nestle
Indonesia. (2023). Kopi yang Berkelanjutan. Dipetik Oktober 18, 2023, dari
Nestle Indonesia: https://www.nestle.co.id/bahan-baku-kami/kopi-yang-berkelanjutan
Skillhood.
(2023). Brewing Berlin: A Comprehensive Look at Barista Life in Germany's
Coffee Capital. Dipetik Desember 12, 2023, dari Skillhood: https://www.skillhood.com/brewing-berlin-advantages-disadvantages-working-in-
germanys-coffee-capital/
Stellar
Market Research. (2020). Germany Coffee Market: Industry Analysis and Forecast
(2021-2027). Dipetik Juli 8, 2023, dari Stellar Market Research: https://www.stellarmr.com/report/Germany-Coffee-Market/59
Stoner,
J., Freeman, R., & Gilbert, D. (1995). Management, 6th Edition. New Jersey:
Prentice.
Hall
Inc.
Sugiyono.
(2018). Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: CV Alfabeta.
Sunyoto, D. (2013). Metodologi Penelitian Akuntansi. Bandung: PT. Refika
Aditama Anggota
Ikapi.
Suwali,
Putranto, A. H., & Panunggul, V. B. (2022). Analisis Kontribusi Ekspor Kopi
Terhadap PDB Sektor Perkebunan Indonesia. PJEB: PERWIRA JOURNAL OF ECONOMY
& BUSINESS, 02 No 02, 43-49.
Sweet
Water Organic Coffee. (2023). Dipetik Oktober 20, 2023, dari https://www.sweetwaterorganiccoffee.com/brown-sugar-viennese-roast-fair-trade-
organic-coffee/
The
Centre for the Promotion of Imports from developing countries. (2022). Entering
German Market. Dipetik Oktober 17, 2023, dari CBI Ministry of Foreign Affairs:
https://www.cbi.eu/market-information/coffee/germany/market-entry#through-what-
channels-can-you-get-coffee-on-the-german-market
Tika,
M. P. (2015). Budaya Organisasi dan Peningkatan Kinerja Kerja Perusahaan.
Jakarta: Bumi Aksara.
Tokopedia.
(2023). Dipetik November 27 , 2023, dari Tokopedia: https://www.tokopedia.com/grainpro-official-store/grainpro-hermetic-bags-5-kg-
30x50cm-zipper-xs?utm_source=google&utm_medium=organic&utm_campaign=pdp-
seo
Trade
Map. (2022). Imported Value Germany. Dipetik Desember 12, 2023, dari Trade Map:
https://www.trademap.org/Country_SelProductCountry_Graph.aspx?nvpm=1%7c276%7
c%7c%7c%7c090111%7c%7c%7c6%7c1%7c1%7c1%7c1%7c%7c2%7c1%7c1%7c2
Trade
Map. (2022). List of supplying markets for a product imported by Germany.
Dipetik Desember 12 , 2023, dari Trade Map: https://www.trademap.org/Country_SelProductCountry_TS.aspx?nvpm=1%7c276%7c%
7c%7c%7c090111%7c%7c%7c6%7c1%7c1%7c1%7c2%7c1%7c2%7c1%7c1%7c1
Walker,
G. (2016). Modern Comparative Strategy. New York