EVALUASI GEOMETRI JALAN ANGKUT BATUBARA PADA PT. TRUBAINDO COAL MINING, KAMPUNG BUNYUT, KECAMATAN MELAK, KABUPATEN KUTAI BARAT, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

 

Kamril Yeriko1, Windhu Nugroho2, Henny Magdalena3, Albertus Jovensius Pontus4, Tommy Trides5

Universitas Mulawarman

[email protected]

Abstrak:

Dari hasil penelitian yang dilakukan terdapat beberapa titik yang memiliki masalah atau masih belum ideal dan memenuhi standar yaitu pada lebar jalan lurus km 10+000 dari segmen C-D sampai segmen U-V masih belum ideal dan pada km 44+000 jalan lurus semua segmen masih belum ideal. Untuk cross slope sendiri pada km 10+000 hanya beberapa segmen yang masih belum memenuhi standar yaitu pada segmen G-H, K-L, L-M, T-U dan U-V. Dan untuk cross slope km 44+000 semua segmen masih belum ideal. Pada lebar jalan berbelok dan superelevasi tikungan 1 km 23+000 dan tikungan 2 km 42+000 semuanya masih belum ideal. Jari-jari tikungan pada tikungan 1 km 23+000 dan tikungan 2 km 42+000 semunya sudah memenuhi standar. Grade jalan pada km 42+000 masih belum memenuhi standar dari PT. Trubaindo Coal Mining. Setelah dilakukan perhitungan berdasarkan standar AASHTO dan mempertimbangkan alat terbesar yaitu Volvo FMX 480 maka didapat nilai lebar jalan ideal untuk jalan lurus adalah 18 m, untuk jalan berelok adalah 25 m, untuk jari ‒ jari tikungan adalah 135 m, untuk cross slope adalah 0,36 m, untuk superelevasi adalah 1,5 m dan untuk grade jalan berdasarkan standar dari PT. Trubaindo Coal Mining adalah 6 %.

 

Kata Kunci: Evaluasi,Jalan Angkut, Standar AASHTO

 

Abstract:

From the results of the research conducted, there are several points that have problems or are still not ideal and meet the standards, namely the width of the straight road at km 10+000 from segment C-D to segment U-V is still not ideal and at km 44+000 the straight road of all segments is still not ideal. For the cross slope itself at km 10+000, only a few segments still do not meet the standards, namely in segments G-H, K-L, L-M, T-U and U-V. And for cross slope km 44+000 all segments are still not ideal. On the width of the road turn and superelevation bend 1 km 23+000 and bend 2 km 42+000 everything is still not ideal. The bend radius at bend 1 km 23+000 and bend 2 km 42+000 all meet the standard. The road grade at km 42+000 still does not meet the standards of PT Trubaindo Coal Mining. After calculating based on AASHTO standards and considering the largest tool, namely Volvo FMX 480, the ideal road width value for straight roads is 18 m, for turning roads is 25 m, for the bend radius is 135 m, for cross slope is 0.36 m, for superelevation is 1.5 m and for road grade based on the standards of PT Trubaindo Coal Mining is 6%.

Keywords: Evaluation, Hauling Road, AASHTO Standard

�����������

Pendahuluan

PT. Trubaindo Coal Mining (TCM) memulai kegiatan operasi produksi penambangan batubara dan penetapan kegiatan eksploitasi batubara PT. TCM dilaksanakan berdasarkan surat yang dikeluarkan oleh Kementerian Energi Sumber Daya Mineral Nomor:314.K/40.00/DJG/2005 tertanggal 17 Mei 2005 di wilayah Kecamatan Muara Lawa, Kecamatan Damai, Kecamatan Melak, Kecamatan Bentian Besar,dan Kecamatan Siluq Ngurai, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur, dengan kode wilayah 96PB0160, seluas 23.650 Ha. Untuk luas area PT. TCM saat ini yaitu 22.687 Ha, terletak didaerah Kecamatan Muara Lawa, Kecamatan Damai, Kecamatan Melak, dan Kecamatan Bentian Besar, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur.

PT. TCM memiliki jalan angkut untuk pengangkutan batubara dengan panjang keseluruhan 85 km. Seiring berjalannya waktu dengan banyaknya alat berat yang beroperasi kualitas jalan angkut akan semakin berkurang dan tidak sama seperti awal jalan dibuat, jalan angkut mulai mengalami penurunan kualitas yaitu dari segi geometri jalan yang meliputi lebar jalan pada jalan lurus, lebar jalan pada jalan berbelok, jari ‒ jari tikungan, cross slope, grade jalan, dan superelevasi. Terdapat beberapa lokasi jalan yang secara visual memang mengalami masalah dan dirasa perlu dilakukan evaluasi yaitu pada jalan angkut dilokasi km 10+000, km 23+000, km 42+000 dan km 44+000.

Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan geometri jalan yang dibuat sesuai dengan standar AASHTO, untuk mendapat geometri jalan angkut yang ideal sesuai dengan dimensi alat angkut terbesar yang digunakan di PT. TCM agar lalu lintas berjalan lancar dan terhindar dari kecelakaan kerja, serta memberikan rekomendasi geometri jalan kepada perusahaan.

��

Metode

Metode penelitian yang digunakan dalah kualitatif yaitu dengan mengambil data yang dibagi menjadi 2 yaitu primer dan sekunder, data primer yang diambil berupa geometri jalan angkut yang meliputi lebar jalan lurus, lebar jalan berbelok, jari ‒ jari tikungan, cross slope, grade jalan dan superelevasi. Sedangkan data sekunder yang diambil yaitu berupa peta geologi regional, peta kesampaian daerah penelitian dan juga spesifikisai alat angkut batubara terbesar yang beroperasi pada jalan angkut.

Penelitian ini terdiri dari beberapa tahapan yaitu pengambilan data aktual geometri jalan angkut yaitu lebar jalan diambil dengan menggunakan metereran roda, jari ‒ jari tikungan diambil dengan menggunakan mobil LV perusahaan dan juga untuk nilai cross slope, grade jalan dan superelevasi diambil dengan menggunakan total station untuk data koordinat kemudian data tersebut diolah menggunakan software surpac untuk mengetahui nilai cross slope, grade jalan dan superelevasi aktual dilapangan.

Kemudian setelah mendapatkan nilai geometri jalan aktual dilapangan, lalu dihitung berdasarkan standar AASHTO untuk geometri jalan ideal dengan mempertimbangakan jumlah jalur yang digunakan dan juga alat angkut terbesar yang beroperasi dijalan tersebut. Lalu diberikan rekomendasi jalan angkut yang ideal sesuai standar AASHTO.

Hasil dan Pembahasan

Pada PT. TCM terdapat jalan angkut (hauling road) untuk pengangkutan batubara yang memiliki panjang 85 km secara keseluruhan. Seiring berjalannnya waktu juga penyebab dari air hujan dan juga alat berat yang beroperasi sehingga jalan angkut mulai rusak sehingga pada penelitian kali ini penulis akan melakukan evaluasi geometri jalan angkut untuk memberikan rekomendasi jalan yang ideal sesuai dengan standar AASHTO. Geometri jalan angkut dilapangan yaitu meliputi lebar jalan lurus, lebar jalan pada belokan, jari ‒ jari tikungan, cross slope, grade jalan dan superelevasi.

 

Lebar Jalan Lurus

1.     Pada jalan lurus km 10+000

Pengukuran jalan lurus pada lokasi jalan angkut km 10+000 dilakukan dengan membagi menjadi beberapa segmen yaitu segmen A-V yang memiliki panjang per 50 m. Untuk hasil pengukuran dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1 Lebar jalan lurus dilokasi jalan angkut km 10+000

No

Seg

men

Lebar jalan lurus aktual (m)

Lebar jalan lurus ideal (m)

Lebar jalan yang harus diperbaiki (m)

Jarak (m)

Keterangan

1

A-B

20,00

18

-

50

Ideal

2

B-C

19,55

18

-

Ideal

3

C-D

16,99

18

-1,02

Tidak Ideal

4

D-E

16,37

18

-1,63

Tidak Ideal

5

E-F

17,30

18

-0,70

Tidak Ideal

6

F-G

17,69

18

-0,31

Tidak Ideal

7

G-H

17,36

18

-0,64

Tidak Ideal

8

H-I

17,05

18

-0,95

Tidak Ideal

9

I-J

16,92

18

-1,08

Tidak Ideal

10

J-K

17,41

18

-0,59

Tidak Ideal

11

K-L

16,80

18

-1,20

Tidak Ideal

12

L-M

16,22

18

-1,78

Tidak Ideal

13

M-N

15,68

18

-2,32

Tidak Ideal

14

N-O

16,66

18

-1,34

Tidak Ideal

15

O-P

15,85

18

-2,15

Tidak Ideal

16

P-Q

15,52

18

-2,48

Tidak Ideal

17

Q-R

16,25

18

-1,76

Tidak Ideal

18

R-S

16,08

18

-1,92

Tidak Ideal

19

S-T

15,10

18

-2,90

Tidak Ideal

20

T-U

15,30

18

-2,70

Tidak Ideal

21

U-V

15,28

18

-2,72

Tidak Ideal

 

Perhitungan berdasarkan standar AASHTO dengan mempertimbangkan jumlah jalur dan juga lebar alat angkut terbesar yaitu Volvo FMX 490 maka didapatkan nilai lebar jalan lurus ideal adalah sebesar 18 m. Lebar jalan lurus aktual pada tiap segmen memiliki nilai rata ‒ rata yaitu sebesar 16,73 m dan lebar jalan lurus yang harus diperbaiki tiap segmen adalah rata ‒ rata sebesar -1,27 m. Ada dua segmen yang sudah ideal yaitu segmen A-B dan B-C, dan segmen yang lainnya masih belum memenuhi standar dan harus dilakukan evaluasi atau ditambah lebar jalannya.

 

2.     Pada jalan lurus km 44+000

Pengukuran jalan lurus pada km 44+000 dilakukan dengan membagi menjadi beberapa segmen yaitu segmen A-K yang memiliki panjang per 50 m. Untuk hasil pengukuran jalan lurus dilokasi jalan angkut 44+000 dapat dilihat pada tabel 2.

 

Tabel 2 Lebar jalan lurus dilokasi jalan angkut km 44+000

No

Seg

men

Lebar jalan lurus aktual (m)

Lebar jalan lurus ideal (m)

Lebar jalan yang harus diperbaiki (m)

Jarak (m)

Keterangan

1

A-B

13,10

18

-4,90

50

Tidak Ideal

2

B-C

13,17

18

-4,84

Tidak Ideal

3

C-D

13,29

18

-4,71

Tidak Ideal

4

D-E

14,31

18

-3,69

Tidak Ideal

5

E-F

13,70

18

-4,31

Tidak Ideal

6

F-G

13,70

18

-4,31

Tidak Ideal

7

G-H

12,71

18

-5,29

Tidak Ideal

8

H-I

12,71

18

-5,29

Tidak Ideal

9

I-J

13,63

18

-4,37

Tidak Ideal

 

Perhitungan berdasarkan standar AASHTO dengan mempertimbangkan jumlah jalur dan juga lebar alat angkut terbesar yaitu Volvo FMX 490 maka didapatkan nilai lebar jalan lurus ideal adalah sebesar 18 m. Pada jalan lurus dilokasi jalan angkut km 44+000 semua segmen masih belum memenuhi standar dan harus dilakukan evaluasi atau penambahan lebar jalan.

 

 

 

Lebar Jalan Berbelok

Pada pengukuran jalan berbelok ada dua titik tempat pengambilan data yaitu pada jalan dilokasi km 23+000 dan pada jalan dilokasi km 42+000. Untuk hasil pengukuran dapat dilihat pada tabel 3.

 

Tabel 3 Lebar jalan berbelok

Tikungan

Lebar jalan tikungan aktual (m)

Lebar jalan tikunganideal (m)

Lebar jalan yang harus diperbaiki (m)

KM

Keterangan

1

17,93

25

-7,07

23+000

Tidak Ideal

2

15,70

25

-9,30

42+000

Tidak Ideal

 

Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan standar AASHTO dengan mempertimbangkan unit terbesar yang melintasi jalan angkut didapatkan nilai jalan berbelok ideal yaitu sebesar 25 m. maka semua jalan berbelok harus dilakukan evaluasi atau pelebaran yaitu sebesar 7,07 m pada km 23+000 dan sebesar 9,30 m pada km 42+000.

Jari ‒ jari Tikungan

Pengukuran jari ‒ jari tikungan dilakukan pada dua titik tikungan, yaitu pada tikungan 1 dilokasi jalan angkut km 23+000 dan tikungan 2 km 42+000. Untuk hasil pengukuran dapat dilihat pada tabel 4.

 

Tabel 4 Jari ‒ jari tikungan

Tikungan

Jari - jarijalan tikungan aktual (m)

Jari - jari jalan tikunganideal (m)

KM

Keterangan

1

200

135

23+000

Ideal

2

300

135

42+000

Ideal

 

Jari ‒ jari tikungan pada setiap lokasi sudah memenuhi standar yaitu sebesar 200 m pada tikungan 1 dan 300 m pada tikungan 2 sehingga tidak perlu dilakukan evaluasi.

Cross Slope

1.    Cross slope km 10+000

Pengukuran cross slope dilokasi jalan angkut km 10+000 dibagi menjadi beberapa segmen dengan panjang per 50 m. hasil pengukuran dapat dilihat pada tabel 5.\

 

 

 

 

 

Tabel 5 Cross slope km 10+000

No

Seg

men

Cross slope aktual (m)

Cross slope ideal (m)

Cross slope yang harus diperbaiki (m)

Jarak (m)

Keterangan

1

A-B

0,37

0,36

-

50

Ideal

2

B-C

0,47

0,36

-

Ideal

3

C-D

0,52

0,36

-

Ideal

4

D-E

0,42

0,36

-

Ideal

5

E-F

0,48

0,36

-

Ideal

6

F-G

0,52

0,36

-

Ideal

7

G-H

0,23

0,36

-0,14

Tidak Ideal

8

H-I

0,43

0,36

-

Ideal

9

I-J

0,46

0,36

-

Ideal

10

J-K

0,38

0,36

-

Ideal

11

K-L

0,34

0,36

-0,02

Tidak Ideal

12

L-M

0,33

0,36

-0,03

Tidak Ideal

13

M-N

0,39

0,36

-

Ideal

14

N-O

0,49

0,36

-

Ideal

15

O-P

0,40

0,36

-

Ideal

16

P-Q

0,48

0,36

-

Ideal

17

Q-R

0,55

0,36

-

Ideal

18

R-S

0,36

0,36

-

Ideal

19

S-T

0,39

0,36

-

Ideal

20

T-U

0,29

0,36

-0,07

Tidak Ideal

21

U-V

0,35

0,36

-0,01

Tidak Ideal

 

Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan standar AASHTO dengan mempertimbangkan unit terbesar yang melintasi jalan angkut didapatkan nilai cross slope ideal yaitu sebesar 0,36 m. Untuk cross slope hanya ada lima segmen yang masih belum memenuhi standar yaitu pada segmen G-H, K-L, L-M, T-U dan U-V.

 

2.    Cross slope km 44+000

Pengukuran cross slope dilokasi jalan angkut km 44+000 dibagi menjadi beberapa segmen dengan panjang per 50 m. hasil pengukuran dapat dilihat pada tabel 6.

 

 

 

Tabel 6 Cross slope km 44+000

No

Seg

men

Cross slope aktual (m)

Cross slope ideal (m)

Cross slope yang harus diperbaiki (m)

Jarak (m)

Keterangan

1

A-B

0,16

0,36

-0,20

50

Tidak Ideal

2

B-C

0,23

0,36

-0,13

Tidak Ideal

3

C-D

0,23

0,36

-0,13

Tidak Ideal

4

D-E

0,24

0,36

-0,12

Tidak Ideal

5

E-F

0,21

0,36

-0,15

Tidak Ideal

6

F-G

0,22

0,36

-0,14

Tidak Ideal

7

G-H

0,04

0,36

-0,32

Tidak Ideal

8

H-I

0,24

0,36

-0,12

Tidak Ideal

9

I-J

0,25

0,36

-0,11

Tidak Ideal

 

Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan standar AASHTO dengan mempertimbangkan unit terbesar yang melintasi jalan angkut didapatkan nilai cross slope ideal yaitu sebesar 0,36 m. sehingga semua segmen pada km 44+000 cross slope harus dilakukan evaluasi atau penambahan ketinggian.

 

Grade Jalan

Pengukuran grade dilakukan pada km 42+000 dan mendapatkan nilai grade jalan aktual sebesar 3,65˚ atau 6,39 %. PT. TCM memiliki standar sendiri untuk nilai grade yaitu sebesar 6 %, sehingga untuk grade jalan harus dilakukan evaluasi dan dikurangi sebesar 0,39 %.

 

Superelevasi

Pengukuran superelevasi dilakukan di dua titik yaitu pada jalan dilokasi km 23+000 dan km 42+000, Untuk hasil pengukuran superelevasi dapat dilihat pada tabel 7.

 

Tabel 7 Superelevasi

Tikungan

Superelevasi aktual (m)

Superelevasi ��ideal (m)

Superelevasi yang perlu diperbaiki (m)

KM

Keterangan

1

0,97

1,5

0,53

23+000

Tidak Ideal

2

0,81

1,5

0,69

42+000

Tidak Ideal

 

Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan standar AASHTO dengan mempertimbangkan unit terbesar yang melintasi jalan angkut didapatkan nilai superelevasi ideal yaitu sebesar 1,5 m. Sehingga untuk superelevasi perlu dilakukan evaluasi atau penambahan ketinggian yaitu sebesar 0,97 m pada tikungan 1 km 23+000 dan 0,81 m pada tikungan 2 km 42+000.

 

Kesimpulan

1.      Pada jalan lurus dilokasi jalan km 10+000 dan km 44+000 secara teoritis dihitung berdasarkan standar AASHTO dan mempertimbangkan lebar alat terbesar yang melintas untuk lebar jalan ideal harus dibuat 18 m.

2.      Pada jalan berbelok dilokasi jalan angkut km 23+000 dan 42+000 perhitungan berdasarkan strandar AASHTO untuk lebar jalan berbelok ideal harus dibuat 25 m.

3.      Jari ‒ jari tikungan pada jalan angkut dilokasi jalan km 23+000 dan 42+000 semuanya sudah memenuhi standar.

4.      Cross slope dilokasi jalan km 10+000 dan km 44+000 perhitungan sesuai dengan standar AASHTO untuk nilai cross slope ideal yang harus dibuat dengan mempertimbangkan lebar jalan yaitu 18 m adalah sebesar 0,36 m.

5.      PT. TCM memiliki standar sendiri untuk nilai grade jalan yaitu sebesar 6%, sehingga untuk grade jalan perlu dikurangi sebesar 0,39%.

6.      Secara umum angka superelevasi yang dianjurkan untuk mengatasi tikungan jalan pada PT. TCM dengan kecepatan maksimum 60 km/jam dengan lebar jalan ditikungan 25 m adalah 0,06. Sehingga beda tinggi antara sisi dalam dan sisi luar tikungan yang harus dibuat yaitu 1,5 m.

 

Daftar Pustaka

 

Akrama, P, A., 2020, Evaluasi Geometri Jalan Tambang Untuk Menunjang Pencapaian Target Produksi Di PT. Nusa Alam Lestari Kota Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat, Jurusan Teknik Pertambangan, Sekolah Tinggi Teknologi Industri (Sttind) Padang.

Indonesianto, Y., 2005, Pemindahan Tanah Mekanis, UPN �Veteran�, Yogyakarta.

Multriwahyuni, A.,Gusman, M., dan Mingsi, A. Y., 2018, Evaluasi Geometri Jalan Tambang Menggunakan Teori AASHTO Untuk Peningkatan Produktivitas Alat Angkut Dalam Proses Pengupasan Overburden Di Pit Timur PT. Artamulia Tatapratama Desa Tanjung Belit, Kecamatan Jujuhan, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi, Jurnal Bina Tambang, Vol 3., No 4, ISSN: 2302-3333.

Oktafian, N., dan Sumarya., 2018, Evaluasi Pengaruh Geometri Jalan Angkut Terhadap Produktivitas Dump Truck Pada Pengankutan Batubara Dari Loading Point Ke Stockpile Di Site Ampelu PT. Nan Riang Kecamatan Muara Tembesi, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, Jurnal Bina Tambang, Vol. 3, No. 4. ISSN: 2302-3333.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia., 2006, Nomor 34 Tahun 2006 Tentang Jalan. Jakarta.

Rifandi, A., dan Hefni., 2016, Kajian Teknis Geometri Jalan Hauling Pada PT. Guruh Putra Bersama Side Desa Gunung Sari, Kecamatan Tabang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Jurusan Teknik Geologi. Tenggarong. Volume 1 Februari.

Shintya, S, A., Fadillah, A., dan Ade, S. R., 2020, Kajian Teknis Analisis Resiko Jalan Tambang Batubara PT. Pasir Walannae, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan. Institute Teknologi Adhi Tama. Vol. 2, No. 1. ISSN: 2686-0651.

Sulistyana, W., 2018, Perencanaan Tambang. Yogyakarta Prodi Teknik Pertambangan, UPN �V� Yogyakarta. ISBN 978-623-7594-31-4.

Suryadi, A., Hartanto, S, B. 2017, Komputerisasi Penentuan Tebal Perkerasan Kaku Dengan Metode Aashto 1993. Jurnal Teknik Sipil. Universitas Kristen Maranatha. Bandung. Vol. 13, No. 1. ISSN: 2549-7219.

Suwandhi, Awang., 2004, Perencanaan Jalan Tambang, Diklat Perencanaan Tambang Terbuka, Universitas Islam Bandung.

Syamsuddin., Guntoro, D., dan Yuliadi., 2016, Evaluasi Geometri Jalan Angkut Serta Pengaruhnya Terhadap Konsumsi Bahan Bakar Pada Kegiatan Penambangan Batu Gamping Gunung Guha di PT. Siam Cement Group (PT. SCG, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Suka Bumi, Provinsi Jawa Barat, Universitas islam Bandung. Bandung.