MEMPERTAHANKAN NUTRISI PROTEIN MELALUI BAHAN
MAKANAN NABATI UNTUK MENINGKATKAN STATUS GIZI MASYARAKAT
Dwi Novel Ersa Ilfada1, Julia Rahmah2, Mariana3,
Maya Sari4, Siti Rahayu5
Gizi STIKes Husada Gemilang
Abstrak:
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran
tentang protein nabati yang membantu mempertahankan kehidupan yang lebih baik
bagi masyarakat dan kualitas nutrisi protein nabati. Penelitian ini merupakan
penelitian kualitatif dengan analisa deskriptif ditunjang kajian pustaka dari
beberapa literatur untuk mengungkapkan protein yang berkualitas tinggi, faktor-
faktor yang mempengaruhi nilai gizi protein nabati, bioaktivitas dan fungsi
protein, mengetahui bahan makanan nabati, dan status gizi masyarakat.
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa bahan makanan nabati
dapat mempertahankan nutrisi protein yang penting bagi pemenuhan kebutuhan
gizi. Implikasi dari penelitian ini mengarah pada potensi peningkatan status
gizi masyarakat melalui peningkatan konsumsi bahan makanan nabati yang kaya
akan protein, memberikan alternatif yang berkelanjutan untuk memperbaiki
kesehatan dan gizi masyarakat secara luas.
Kata Kunci: Protein Nutrition,
Vegetable Food Ingredients, Community Nutritional Status.
Abstract:
The main objective of this research is to provide an overview of
plant-based proteins that contribute to sustaining better livelihoods for
communities and the quality of plan-based protein nutrition. This study adopts
a quantitative approach with descriptive analysis supported by a literature
review from various sources to elucidate high- quality proteins, factors
influencing the nutritional value of plant-based proteins, bioactivities,
protein functions, understanding plant-based food, and the research findings,
it can be cocluded that plan-based food can sustain crucial nutritional protein
content essential for meeting dietary requirements. The implication of this
researdh point toward the potential enhancement of the community�s nutritional
status by increasing the consumption of protein-rich plant-based foods,
providing a sustainable alternative to improve the health and nutrition of the
population at large.
Keywords: Nutrisi Protein, Bahan Makanan Nabati, Status Gizi
Masyarakat.
����� ���
Pendahuluan
Protein berasal dari kata protos atau proteos yang
berarti pertama atau utama. Protein merupakan komponen utama penyusun sel hewan
atau manusia. Sel merupakan pembentuk tubuh, maka protein yang terdapat dalam
makanan berfungsi sebagai zat utama dalam pembentukan dan pertumbuhan tubuh.
Protein merupakan molekul besar dengan berat molekul
bervariasi antara 5000 sampai jutaan. Protein akan menghasilkan asam-asam amino
jika terhidrolisis oleh asam atau enzim. Ada 20 jenis asam amino yang terdapat
dalam molekulprotein. Asam-asam amino ini terikat satu sama lain dengan ikatan
peptida. Komposisi rata-rata unsur kimia yang terdapat dalam molekul protein
yaitu sebagai berikut : karbon 50%, hidrogen 7%, oksigen 23%, nitrogen 16%,
belerang 0-3%, dan fosfor 0-3%. Dengan berpedoman pada kadar nitrogen sebesar
16%, dapat dilakukan penentuan kandungan protein dalam suatu bahan makanan.
Pada tahun 2050, total populasi dunia diperkirakan
akan bertambah atau mungkin melebihi 9 miliar, dan oleh karena itu, permintaan
pangan, pakan, dan serat di seluruh dunia diperkirakan akan meningkat sebesar
70%. Untuk memenuhi peningkatan permintaan ini, sumber-sumber baru harus
dieksplorasi. Saat ini, pangan yang berasal dari tumbuhan memegang peranan
penting dalam pola makan manusia karena merupakan sumber penting komponen
bioaktif, seperti vitamin, senyawa fenolik, atau peptida bioaktif. Oleh karena
itu, komponen-komponen ini bermanfaat bagi kesehatan manusia dan melindungi
terhadap berbagai kondisi penyakit. Untuk memenuhi kebutuhan protein, umumnya
hewan dianggap sempurna. Namun karena banyaknya penyakit pada hewan,
konsumsinya tidak aman bagi kesehatan manusia. Selain itu, ia menggantikan
protein hewani dengan protein nabati karena berbagai keterbatasan, seperti
peningkatan biaya, terbatasnya pasokan nutrisi, bahaya bagi kesehatan manusia,
penipisan air tawar, dan kerentanan terhadap perubahan iklim. Protein nabati
dianggap sebagai makanan vegan, menyediakan asam amino dalam jumlah banyak,
langsung diserap oleh tubuh, dan membantu mengobati berbagai penyakit. Apalagi
protein yang berasal dari makanan nabati kaya akan serat, asam lemak tak jenuh
ganda, oligosakarida, dan karbohidrat. Oleh karena itu, hal ini terutama
terkait dengan penurunan penyakit kardiovaskular, kolesterol low-density
lipoprotein (LDL), obesitas, dan diabetes mellitus tipe II.
Menurut Dr. Mulono Apriyanto dalam bukunya yang
berjudul pengetahuan dasar bahan pangan, menjelaskan bahwa berbagai sumber
protein nabati yang mencakup padi-padian (beras, jagung, haver, dan gandum)
umbi-umbian (singkong, ubi jalar, talas, kentang, dan umbi lapis),
kacang-kacangan (kacang kedelai, kacang hijau, kacang merah, kacang tanah,
kacang tunggak, kacang panjang, buncis, ercis, dan kapri), sayur-sayuran (sayur
yang berasal dari akar dan umbi, sayur hijau, sayur bunga, sayur buah, sayur
biji, dan sayur dari jamur), buah-buahan (hard fruit, berry fruit, stone fruit,
citrus fruit, tropical fruit, dan nuts) (Apriyanto, 2022).
Sulit dan mahal untuk mengekstraksi protein hewani
dalam jumlah yang cukup; Oleh karena itu, alternatif peningkatan status gizi
manusia terutama diperoleh dari protein nabati. Oleh karena itu, perhatian
telah diberikan untuk mengevaluasi kualitas nutrisi protein dari spesies
tanaman yang berbeda. Cara terbaik untuk meningkatkan pasokan protein adalah
dengan meningkatkan ekspresi protein dan efisiensi produksi protein pada sumber
daya alam. Selain itu, meningkatkan fungsi protein dalam makanan melalui
modifikasi, meningkatkan proporsi protein nabati dalam makanan manusia, dan
meningkatkan bioavailabilitas dan kecernaan protein makanan dalam proses
pencernaan dapat membantu meningkatkan pemanfaatan protein nabati secara
keseluruhan.�
Untuk memberikan
gambaran umum tentang protein nabati yang membantu mempertahankan kehidupan
yang lebih baik bagi masyarakat dan kualitas nutrisi protein nabati, penelitian
ini terutama berfokus pada kondisi terkini dalam pemanfaatan tanaman untuk
menghasilkan protein bagi kesehatan manusia. Ini terutama berfokus pada
berbagai sumber dan alternatifnya dengan protein berkualitas tinggi,
faktor-faktor yang mempengaruhi nilai gizi protein nabati, bioaktivitas dan
fungsi, metode penetapan kandungan protein dalam bahan makanan, mengetahui
bahan pangan nabati, dan satuts gizi masyarakat juga akan dibahas. Pada
akhirnya, dengan menggali potensi pemanfaatan bahan makanan nabati yang kaya
akan protein, diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi penting
dalam menciptakan alternatif yang lebih terjangkau dan berkelanjutan untuk
meningkatkan kesehatan dan status gizi masyarakat secara luas.
��
Metode
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode
penelitian kualitatif dengan analisis deskriptif berdasarkan kajian pustaka.
Penelitian kualitatif deskriptif dipilih untuk menggali dan membangun atau
menjelaskan makna topik yang dikaji dan mendeskripsikan secara sistematis
mengenai mempertahankan nutrisi protein melalui bahan makanan nabati untuk
meningkatkan status gizi masyarakat. Penelitian ini dilakukan dengan cara
mengumpulkan data-data dan dokumen literatur yang sesuai dengan topik yang
dikaji untuk kemudian dianalaisis menggunakan teori-teori yang didapat.
Peneliti juga menggunakan pendekatan normatif (yuridis normatif) dengan metode
penelitian hukum yang dilakukan dengan meneliti bahan pustaka. Dalam
pengumpulan data, peneliti menggunakan metode pengumpulan data dokumentasi
berupa kumpulan bahan pustaka yang mengandung informasi yang terkait dengan
topik bahasan.
Adapun analisis yang peneliti gunakan dalam penelitian
ini adalah dengan menggunakan metode deduktif, yaitu sebuah penarikan
kesimpulan yang berangkat dari sebuah pengetahuan yang bersifat umum dan
kemudian ditarik kesimpulan yang bersifat khusus.��
Hasil dan
Pembahasan
Nutrisi Protein
Protein berasal dari kata protos atau proteos yang
berarti pertama atau utama. Protein merupakan komponen utama penyusun sel hewan
atau manusia. Sel merupakan pembentuk tubuh, maka protein yang terdapat dalam
makanan berfungsi sebagai zat utama dalam pembentukan dan pertumbuhan tubuh.
Protein merupakan molekul besar dengan berat molekul
bervariasi antara 5000 sampai jutaan. Protein akan menghasilkan asam-asam amino
jika terhidrolisis oleh asam atau enzim. Ada 20 jenis asam amino yang terdapat
dalam molekulprotein. Asam-asam amino ini terikat satu sama lain dengan ikatan
peptida. Komposisi rata-rata unsur
kimia yang terdapat dalam molekul protein yaitu sebagai berikut : karbon 50%,
hidrogen 7%, oksigen 23%, nitrogen 16%, belerang 0-3%, dan fosfor 0-3%. Dengan
berpedoman pada kadar nitrogen sebesar 16%, dapat dilakukan penentuan kandungan
protein dalam suatu bahan makanan.
A. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai
Gizi Protein Nabati
Kualitas
nutrisi protein dapat diidentifikasi dengan berbagai cara, namun, secara
sederhana, keseimbangan dan jumlah relatif asam amino esensial, serta daya
cerna, bioavailabilitas, dan bioaktivitas, yang terutama mengidentifikasi
nilai gizinya. Dibandingkan dengan protein hewani, protein
yang berasal dari tumbuhan lebih
mudah diproduksi; namun, ketika digunakan sebagai sumber makanan untuk konsumsi
manusia, sebagian besar protein nabati kekurangan asam amino esensial dan oleh
karena itu nutrisinya tidak lengkap. Misalnya, beberapa protein sereal memiliki
kandungan triptofan, lisin, dan treonin yang rendah, sedangkan protein nabati
dan kacang-kacangan memiliki jumlah asam amino yang mengandung sulfur, seperti
metionin dan sistein yang lebih rendah. Karena kekurangan ini, asam amino
esensial ini menjadi faktor pembatas pada kacang-kacangan dan sereal.
Praktisnya, baik kacang-kacangan maupun sereal tidak dapat mengkompensasi
kekurangan asam amino pada tanaman lain, dan oleh karena itu, pemberian makanan
secara teratur menyediakan asam amino tambahan. Terdapat juga faktor lain yang
mempengaruhi kualitas nutrisi tanaman, antara lain kondisi tanah, kematangan
tanaman, penanganan pascapanen, penyimpanan, penggunaan pupuk dan pestisida,
varietas tanaman, dan kondisi iklim.
Penting dari segi nutrisi dan nilai ekonomi untuk meningkatkan kandungan
asam amino esensial dalam protein nabati. Dalam beberapa dekade terakhir,
pemulia tanaman dan ahli genetika telah melakukan banyak penelitian untuk
meningkatkan kualitas dan karakteristik protein nabati. Misalnya, mutasi alami,
seperti tingginya kandungan lisin pada jelai dan jagung, telah dikenali dan
dijadikan genotipe elit. Namun sayangnya, sifat-sifat yang tidak diinginkan,
seperti hasil panen yang lebih rendah dan kerentanan terhadap hama dan
penyakit, juga dikaitkan dengan jenis mutasi alami ini. Saat ini, teknik
bioteknologi modern sebagai metode alternatif membantu memecahkan masalah
tersebut. Metode yang dikenal sebagai skor asam amino terkoreksi kecernaan protein
(PDCAAS) adalah alat yang efektif untuk evaluasi kualitas protein. Salah satu
metode baru yang direkomendasikan oleh FAO pada tahun 2013, skor asam amino
esensial yang dapat dicerna (DIAAS), juga telah digunakan untuk mengevaluasi
kualitas protein, dan, dari segi pengetahuan ilmiah, metode ini dianggap lebih
akurat dibandingkan PDCAAS.
B. Sifat Bioaktif
Beberapa laporan menunjukkan efek kesehatan dari protein nabati sebagai
efek antitumor, antioksidan, hipoglikemik, penghambat ACE, antimikroba, dan
hipolipidemik. Telah diamati bahwa di negara-negara yang banyak mengonsumsi
kacang-kacangan, risiko penyakit seperti diabetes tipe-2, penyakit
kardiovaskular, kanker kolorektal, dan berbagai jenis penyakit kronis telah
berkurang. Bioaktivitas peptida kecil yang terutama dilepaskan dari hidrolisis
enzimatik oleh berbagai protease, seperti pepsin, trypsin, chymotrypsin,
alcalase, papain, pancreatin, thermolysin, dan flavourzyme, terdapat dalam
protein pulsa yang berbeda. Peptida ini mengerahkan berbagai bioaktivitas,
seperti aktivitas antioksidan, antijamur, antitumoral, dan penghambatan ACE,
dan juga digunakan untuk berbagai tujuan, seperti suplemen makanan, bahan
makanan fungsional, dan nutraceuticals.
Protein Nabati Melawan Penyakit Kardiovaskular dan Faktor Risiko
Metabolik Sejumlah besar penelitian menunjukkan potensi dampak protein makanan
yang berasal dari tumbuhan terhadap faktor risiko kardio-metabolik. Studi
pertama tentang sintesis dan asupan protein nabati sebagai alternatif protein
hewani dilaporkan dan diterbitkan pada tahun 2017. Dalam penelitian ini,
penulis meninjau dan mendemonstrasikan biomarker penyakit kardiovaskular dari
konsumsi protein nabati. Mereka juga mempelajari dan melaporkan penurunan
konsentrasi lipid darah (seperti menurunkan apolipoprotein B, kolesterol
low-density lipoprotein, dan kolesterol non-high-density lipoprotein). Para
penulis juga melakukan uji coba secara acak, yang membuktikan bahwa protein
nabati efektif dalam mengurangi faktor risiko yang berhubungan dengan penyakit
kardiovaskular pada orang dewasa.
����������� Dalam penelitian lain, dampak
protein yang berasal dari tumbuhan (kebanyakan produk kedelai) pada pasien
hiperkolesterolemia ditemukan lebih unggul dalam menurunkan profil lipid
dibandingkan dengan protein hewani. Pada populasi tahap remaja, sebagian besar
manfaat protein nabati dan masalah kesehatan metabolik telah dibahas. Beberapa
penelitian untuk menguji manfaat asupan protein nabati telah dilakukan terhadap
sindrom metabolik, pengelolaan berat badan, dan obesitas, karena hal-hal
tersebut merupakan masalah kesehatan yang serius dan terus berkembang secara
global di kalangan remaja. Namun, pengaturan asupan protein sangat penting
untuk perkembangan dan fungsi fisiologis. Oleh karena itu, meningkatkan protein
yang berasal dari tumbuhan dalam pola makan remaja sebagai pengganti protein
hewani membantu mengendalikan obesitas dan faktor kardio-metabolik lainnya.
����������� Para penulis dalam penelitian
berbeda menyimpulkan bahwa harus ada penambahan lebih banyak protein nabati
dalam makanan manusia untuk mengurangi risiko yang terkait dengan penyakit
kardiovaskular serta faktor risiko metabolik. Selain itu, ditemukan bahwa
konsumsi protein nabati menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi
(termasuk pasien lanjut usia) dibandingkan dengan protein hewani.
����������� Sebagian besar penelitian juga
dikaitkan dengan asupan sumber protein nabati dan angka kematian. Dalam studi
kohort terbaru dari NIH-AARP Diet and Health Study, penulis juga mengamati
pengaruh pilihan protein makanan terhadap kematian. Dalam penelitian ini, lebih
dari enam lakh individu dari AS dalam kelompok usia 50-71 tahun diikuti dari
tahun 1996 hingga Desember 2011. Terlihat bahwa asupan protein nabati telah
menyebabkan kebalikan dari angka kematian dan juga akibat stroke di kedua negara.
pria dan wanita dan penyakit kardiovaskular. Mereka mengamati bahwa penggantian
protein hewani dengan hanya 3% protein nabati mengurangi 10% risiko kematian
secara keseluruhan baik pada pria maupun wanita. Oleh karena itu, mengganti
protein nabati ke dalam makanan dibandingkan protein hewani bermanfaat dalam
hal mortalitas dan umur panjang. Dalam tinjauan yang diterbitkan baru-baru ini
terhadap 32 penelitian kohort, telah ditafsirkan bahwa pola makan protein
nabati menurunkan risiko semua penyebab kematian dan kematian terkait
kardiovaskular. Penggantian makanan yang mengandung protein hewani dengan
protein nabati meningkatkan umur panjang .
����������� Protein Nabati dan Diabetes Meskipun
pola makan nabati terutama dikaitkan dengan penurunan risiko diabetes, masih
belum jelas apakah mengganti protein nabati dengan protein hewani membantu
mengurangi risiko diabetes pada masyarakat. Setelah mempelajari dan
menganalisis menggunakan dataset dari Nurses' Health Study II, Malik dkk.
mengamati bahwa penggantian 5% protein nabati dengan protein hewani dikaitkan
dengan penurunan risiko diabetes tipe 2 sebesar 23%. Dalam meta-analisis yang
dilakukan pada tahun 2015, sumber protein hewani digantikan dengan protein
nabati sebesar ~35% dari asupan protein makanan selama uji coba terkontrol
secara acak selama 8 minggu. Dari penelitian ini, penulis menemukan bahwa
terdapat peningkatan signifikan pada kadar glukosa puasa, insulin puasa, dan
HbA1c pada pasien diabetes (individu dengan diabetes tipe 1 dan tipe 2). Dalam
studi kohort, individu diberikan pola makan berbasis protein dan menemukan
bahwa asupan protein yang lebih tinggi dikaitkan dengan risiko kejadian
diabetes dan pra-diabetes yang lebih rendah, dan protein nabati adalah faktor
penentu utama.
����������� Pola makan protein nabati juga
mengandung berbagai komponen bioaktif yang memberikan efek kesehatan yang
menguntungkan dibandingkan dengan produk daging olahan. Dalam uji coba silang
acak lainnya, mengganti daging merah dengan kacang-kacangan (lentil, buncis,
kacang polong, dan buncis) secara signifikan menurunkan glukosa darah puasa,
insulin, dan kadar trigliserida pada pasien diabetes tipe-2, menunjukkan
potensi peran protein nabati. atas binatang.
����������� Protein Nabati Melawan Kanker
Umumnya, sejumlah besar faktor, seperti lingkungan, genetik, pola makan, dan
kebiasaan lainnya, berhubungan dengan perkembangan kanker. Sebuah kelompok
penelitian telah mempelajari dan meneliti faktor risiko kanker kolorektal pada
individu dengan bantuan analisis interaksi gen-lingkungan, termasuk faktor lain,
seperti faktor risiko genetik, gaya hidup, dan kanker. Para penulis melaporkan
hubungan antara kanker kolorektal dan keragaman genetik metabolisme asam lemak,
yang terutama terkait dengan asupan daging yang lebih tinggi, dan menyimpulkan
bahwa mereka yang mengonsumsi banyak daging memiliki risiko tinggi terkena
kanker kolorektal. Oleh karena itu, substitusi protein nabati dengan protein
hewani merupakan cara yang lebih baik untuk mengurangi risiko kanker kolorektal
pada manusia dengan polimorfisme genetik tertentu.
����������� Protein Nabati dan Efek
Renoprotektifnya Pola makan, yang lebih rendah sayur-sayuran, buah-buahan,
minyak sehat, dan makanan olahan susu, namun lebih tinggi pada makanan
berprotein total, biji-bijian, lemak jenuh, natrium, dan tambahan gula, telah
diuji untuk mengetahui perbedaan yang membantu menyembuhkan penyakit kronis.
penyakit, terutama penyakit ginjal kronis (CKD). Penelitian terbaru menunjukkan
bahwa, selain jumlah protein, asal usul protein (misalnya, tumbuhan vs. hewan)
mungkin merupakan faktor penting yang mempengaruhi fungsi ginjal. Untuk
individu dengan penyakit ginjal kronis, konsumsi protein nabati dilaporkan
menurunkan angka kematian sebesar 23% secara signifikan. Dalam uji coba kontrol
acak pada orang dewasa penderita diabetes dengan makroalbuminuria, pola makan
protein hewani diganti dengan pola makan protein kedelai (sebesar 50%) dan
menemukan bahwa pola makan tersebut secara signifikan meningkatkan proteinuria,
kolesterol, dan kadar glukos.
����������� Dalam studi silang, pola makan kaya
protein kedelai mengurangi hiperfiltrasi glomerulus pada individu yang
menderita diabetes tipe 1 dengan nefropati tahap awal. Dengan meningkatnya
hiperfiltrasi glomerulus dan laju filtrasi glomerulus, kejadian cedera ginjal
telah menurun. Protein nabati yang sebagian besar diekstraksi dari endosperma
beras dan kedelai juga menunjukkan fungsi perlindungan ginjal pada model tikus
diabetes. Selain itu, faktor lain, seperti fitokimia dan serat, juga memainkan
peran penting dalam perlindungan ginjal dengan mengonsumsi makanan utuh dari
pola makan nabati serta komponen tumbuhan lainnya. Oleh karena itu, disarankan
untuk memasukkan protein nabati berkualitas tinggi untuk efek renoprotektif.
C. Sifat
Fungsional Protein Nabati
����������� Protein nabati juga telah
dimanfaatkan sebagai makanan fungsional. Sejumlah besar penelitian telah
dilakukan untuk memeriksa dan mengurangi faktor risiko penyakit kardiovaskular,
memodulasi peradangan dan sistem kekebalan tubuh melalui analisis fungsional
dan sifat bioaktif protein kedelai. Tinjauan sistematis baru-baru ini berfokus
pada sifat bioaktif dari sumber protein nabati, seperti beras, miju-miju,
kacang fava, kacang polong, lupin, rami, dan oat. Berbagai uji coba telah
dilakukan untuk menguji manfaat protein yang berasal dari tumbuhan dengan
mengamati konsentrasi insulin, glukosa darah, dan hormon pengatur nafsu makan.
Namun, konflik dalam hasil terlihat ketika penelitian dilakukan untuk
menentukan efek menguntungkan dari protein nabati terhadap regulasi glikemia
postprandial. Sejumlah komponen yang terdapat pada tumbuhan, seperti flavonoid
dan karotenoid, juga memberikan manfaat fungsi bioaktif pada kesehatan manusia.
����������� Selain kualitas nutrisi protein
nabati dan sifat bioaktifnya, senyawa tersebut juga memiliki sifat fungsional.
Mereka memainkan peran utama dalam pengolahan dan formulasi makanan, yaitu
produksi makanan bebas gluten dan kaya protein. Sifat kimia dan fisik protein
membantu selama penyimpanan, konsumsi, pengolahan, dan penyiapan produk
makanan. Sifat-sifat seperti kelarutan protein, kapasitas berbusa, kapasitas
penyerapan air dan lemak, stabilitas busa, pembentukan gel, dan aktivitas
pengemulsi terlibat dalam interaksi protein melalui penggabungan dengan molekul
lain, seperti protein, karbohidrat, garam, lipid, air, dan mudah menguap. Sifat
fungsional ini sebagian besar dipengaruhi oleh ukuran molekul peptida dan/atau
protein, distribusi muatan, dan struktur protein. Selain itu, kondisi
lingkungan berbeda yang mempengaruhi perubahan struktural protein selama
pengolahan makanan juga akan mempengaruhi sifat fungsional protein nabati.
Untuk meningkatkan kualitas gizi dan potensi manfaat kesehatan, dapat
ditambahkan formulasi protein yang berbeda, seperti isolat, konsentrat, dan
tepung protein. Namun, sifat fungsional dari berbagai protein nabati telah
dimanfaatkan dalam produksi industri produk makanan. Secara singkat, berbagai
sifat fungsional seperti kelarutan protein selama produksi minuman menyebabkan
pelarutan protein; penyerapan molekul air dan pengikatannya memungkinkan air terperangkap
dalam roti, daging, kue, sosis, dll; penyerapan lemak dikaitkan dengan
pengikatan lemak bebas pada daging, donat, dan sosis; sifat pengemulsi protein
mengarah pada produksi dan stabilisasi emulsi lemak dalam pasta, kue, sosis,
sup, dll; sifat busa protein memungkinkan gas terperangkap dengan membentuk
lapisan stabil pada topping kocok, produk roti, kue, dan makanan penutup; sifat
gelasi dikaitkan dengan pembentukan dan pemeliharaan matriks protein dalam
daging, keju, dan dadih.
Bahan
Makanan Nabati
A. Padi-padian
����������� Padi-padian merupakan bahan makanan
pokok masyarakat, terutama di negara kita. Golongan padi- padian ini merupakan
bahan makanan pokok sumber kalori, sumber protein, nabati, vitamin, terutama B1
dan garam-garam mineral. Kandungan yang termasuk golongan padi-padian antara
lain, jagung, beras, haver, jagung dan lain-lain. Jenis padi-padian ini di
dalamnya terdapat biji dan biji tersebut terdapat bagian yang disebut dedak.
Indonesia dikenal beberapa jenis makanan pokok diantaranya beras, jagung
umbi-umbian dan sagu.
B. Umbi-umbian
����������� Menurut Sri Mariati (2000),
umbi-umbian adalah akar yang membesar yang diperoleh dari dalam tanah berupa
akar sejati atau perubahan akar dan batang yang merupakan penimbunan cadangan
makanan. Umbi merupakan satu organ dari yang merupakan modifikasi dari organ
lain dan berfungsi sebagai penyimpan zat tertentu (umumnya karbohidrat). Organ
yang dimodifikasi dapat berupa daun, batang, atau akar. Bentuk modifikasi ini
biasanya adalah pembesaran ukuran dengan perubahan anatomi yang sangat jelas
terlihat. Umbi biasanya terbentuk tepat di bawah permukaan tanah. Organ
penyimpan tidak harus berbentuk umbi. Beberapa jenis tumbuhan menyimpan
cadangan energi pada organ yang sama, tetapi tidak mengalami banyak modifikasi
bentuk, sehingga tidak membentuk umbi.
����������� Tumbuhan memerlukan cadangan energi
karena ia tidak bisa berpindah tempat untuk menemukan sumber energi baru atau
untuk membantu reproduksi jenisnya. Umbi-umbian merupakan salah satu makanan
pokok selain beras dan jagung, dilihat dari kandungan nilai gizinya umbi-
umbian mempunyai kalori dan protein. Untuk memenuhi kebutuhan kalori dan
gizinya bagi orang dewasa diperlukan kurang lebih 400 gr beras. Bila akan
diganti dengan ubi kayu maka diperlukan kurang lebih 1300 gr. Disamping itu
dari jumlah ubi kayu tersebut hanya memberikan kurang lebih 10 gr protein. Jika
dibandingkan dengan beras mengandung kurang lebih 28 gr protein.
C. Kacang-kacangan
����������� Kacang merupakan sumber energi yang
baik bagi tubuh karena mengandung beragam nutrisi penting seperti protein,
vitamin, mineral, dan lemak sehat. Para pakar kesehatan mengatakan bahwa ada
banyak jenis kacang-kacangan yang bisa dipilih sebagai cemilan sehat untuk
dikonsumsi sehari-hari. Kacang-kacangan (leguminoceae) yaitu suku dari tanaman
yang berbuah polongan. Kacang-kacangan merupakan salah satu sumber bahan
makanan nabati yang banyak mengandung vitamin B, besi dan kalsium. Jenis
kacang-kacangan ini didalamnya terdapat biji dan terdapat pula sebagai buah
(Muchtadi, Tien R dan Sugiyono, 1992). Yang termasuk golongan kacang-kacangan
dalam hal sebagai biji antara lain: kacang kedelai (putih dan hitam), kacang
hijau, kacang merah, kacang tanah, kacang tunggak dan lain-lain. Sedangkan
jenis kacang sebagai buah yaitu: kacang panjang, buncis, ercis, kapri dan lain
sebagainya.
D. Sayur-sayuran
����������� Sayuran adalah tanaman hortikultura,
umumnya mempunyai umur relatif pendek (kurang dari setahun) dan merupakan
tanaman musiman. Sayur-sayuran mempunyai arti penting sebagai sumber mineral
dan vitamin A maupun C. Sayuran adalah semua jenis tanaman yang dapat dimakan
baik yang diambil dari akar, batang, daun dan bunga. Sayuran merupakan sebutan
umum bagi bahan pangan asal tumbuhan yang biasanya mengandung kadar air tinggi
dan dikonsumsi dalam keadaan segar atau setelah diolah secara minimal. Sebutan
untuk beraneka jenis sayuran disebut sebagai sayur-sayuran atau sayur-mayur.
Sejumlah sayuran dapat dikonsumsi mentah tanpa dimasak sebelumnya, sementara
yang lainnya harus diolah terlebih dahulu dengan cara direbus, dikukus atau
diuapkan, digoreng (agak jarang), atau disangrai. Sayuran berbentuk daun yang
dimakan mentah disebut sebagai lalapan.
����������� Istilah "sayuran" tidak
bersifat ilmiah. Kebanyakan sayuran adalah bagian vegetatif dari tumbuhan,
terutama daun (juga beserta tangkainya). Beberapa sayuran adalah bagian
tumbuhan yang tertutup tanah, seperti wortel, kentang, dan lobak. Terdapat pula
sayuran yang berasal dari organ generatif, seperti bunga (misalnya kecombrang
dan turi), buah (misalnya terong dan kapri), dan biji (misalnya buncis dan
kacang merah). Bagian tumbuhan lainnya yang juga dianggap sayuran adalah
tongkol jagung. Meskipun bukan tumbuhan, bagian jamur yang dapat dimakan juga
digolongkan sebagai sayuran. Sayuran adalah semua jenis tanaman yang dapat
dimakan baik yang diambil dari akar, batang, daun dan bunga. Sayuran banyak
mengandung zat gizi yang dapat berfungsi untuk mengatur metabolisme dalam
tubuh.
E. Buah-buahan
����������� Buah adalah organ pada tumbuhan
berbunga yang merupakan perkembangan lanjutan dari bakal buah (ovarium). Buah biasanya membungkus dan
melindungi biji. Aneka rupa dan bentuk buah tidak terlepas kaitannya dengan
fungsi utama buah. Pengertian buah dalam lingkup pertanian (hortikultura) atau
pangan adalah lebih luas dari pada pengertian buah di atas dan biasanya disebut
sebagai buah-buahan. Buah dalam pengertian ini tidak terbatas yang terbentuk
dari bakal buah, melainkan dapat pula berasal dari perkembangan organ yang
lain. Karena itu, untuk membedakannya, buah yang sesuai menurut pengertian botani
biasa disebut buah sejati. Buah seringkali memiliki nilai ekonomi sebagai bahan
pangan maupun bahan baku industri karena di dalamnya mengandung lemak, vitamin,
mineral, alkaloid, hingga terpena dan terpenoid.
����������� Ilmu yang mempelajari segala hal
tentang buah dinamakan pomologi. Di dalam pengolahan makanan, buah dapat
dipergunakan untuk makanan penutup, yang disuguhkan pada saat terakhir suatu
hidangan.
Status
Gizi Masyarakat
����������� Status gizi adalah suatu ukuran
mengenai kondisi tubuh seseorang yang dapat dilihat dari makanan yang
dikonsumsi dan penggunaan zat-zat gizi di dalam tubuh. Status gizi dibagi
menjadi tiga kategori, yaitu status gizi kurang, gizi normal, dan gizi lebih.
Pada anak-anak usia sekolah (6-12 tahun), meskipun laju pertumbuhan anak-anak selama
sebagian besar waktu sekolah mereka lebih kecil daripada masa sebelumnya, namun
per satuan berat badan, anak sekolah membutuhkan makanan yang lebih banyak
daripada orang dewasa. Kenaikan-kenaikan dalam jumlah zat gizi diperlukan untuk
pertumbuhan dan kegiatan fisik tambahan. Anak usia sekolah sangat peka terhadap
infeksi dan penyakit menular yang dapat menghasilkan simpanan zat gizi tubuh.
Jadi, apabila persediaan makanan keluarga kurang, maka seringkali anak-anak
dari kelompok umur ini sangat peka terhadap gizi kurang.
A. Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Gizi Seseorang
1. Faktor
Lingkungan
Lingkungan yang buruk seperti air minum yang tidak
bersih, tidak adanya saluran penampungan air limbah, tidak menggunakan kloset
yang baik, juga kepadatan penduduk yang tinggi dapat menyebabkan penyebaran
kuman patogen. Lingkungan yang mempunyai iklim tertentu berhubungan dengan
jenis tumbuhan yang dapat hidup sehingga berhubungan dengan produksi tanaman.
2. Faktor
Ekonomi
Di banyak negara yang secara ekonomis kurang berkembang,
sebagian besar penduduknya berukuran lebih pendek karena gizi yang tidak
mencukupi dan pada umunya masyarakat yang berpenghasilan rendah mempunyai
ukuran badan yang lebih kecil. Masalah gizi di negara-negara miskin yang
berhubungan dengan pangan adalah mengenai kuantitas dan kualitas. Kuantitas
menunjukkan penyediaan pangan yang tidak mencukupi kebutuhan energi bagi tubuh.
Kualitas berhubungan dengan kebutuhan tubuh akan zat gizi khusus yang
diperlukan untuk petumbuhan, perbaikan jaringan, dan pemeliharaan tubuh dengan
segala fungsinya.
3. Faktor
Sosial Budaya
Indikator masalah gizi dari sudut pandang
sosial-budaya antara lain stabilitas keluarga dengan ukuran frekuensi
nikah-cerai-rujuk, anak-anak yang dilahirkan di lingkungan keluarga yang tidak stabil
akan sangat rentan terhadap penyakit gizi kurang. Juga indikator demografi yang
meliputi susunan dan pola kegiatan penduduk, seperti peningkatan jumlah
penduduk, tingkat urbanisasi, jumlah anggota keluarga, serta jarak kelahiran.
Tingkat
pendidikan juga termasuk dalam faktor ini. Tingkat pendidikan berhubungan
dengan status gizi karena dengan meningkatnya pendidikan seseorang, kemungkinan
akan meningkatkan pendapatan sehingga dapat meningkatkan daya beli makanan.
4. Faktor
Biologis/Keturunan
Sifat yang diwariskan memegang kunci bagi ukuran akhir
yang dapat dicapai oleh anak. Keadaan gizi sebagian besar menentukan
kesanggupan untuk mencapai ukuran yang ditentukan oleh pewarisan sifat
tersebut. Di negara-negara berkembang memperlihatkan perbaikan gizi pada
tahun-tahun terakhir mengakibatkan perubahan tinggi badan yang jelas.
5. Faktor
Religi
Religi atau kepercayaan juga berperan dalam status
gizi masyarakat, contohnya seperti tabu mengonsumsi makanan tertentu oleh
kelompok umur tertentu yang sebenarnya makanan tersebut justru bergizi dan
dibutuhkan oleh kelompok umur tersebut. Seperti ibu hamil yang tabu mengonsumsi
ikan.
B. Akibat
yang Ditimbulkan Karena Gizi Salah (Malnutrisi)
����������� Gizi salah berpengaruh negatif
terhadap perkembangan mental, perkembangan fisik, produktivitas, dan
kesanggupan kerja manusia. Gizi salah yang diderita pada masa periode dalam
kandungan dan periode anak- anak, menghambat kecerdasan anak. Anak yang
menderita gizi salah tingkat berat mempunyai otak yang lebih kecil daripada
ukuran otak rata-rata dan mempunyai sel otak yang kapasitasnya 15%-20% lebih
rendah dibandingkan dengan anak yang bergizi baik. Studi di beberapa negara
menunjukkan bahwa anak yang pernah menderita gizi salah, hasil tes mentalnya
kurang bila dibandingkan dengan hasil tes mental anak lain yang bergizi baik.
Anak yang menderita gizi salah mengalami kelelahan mental serta fisik, dan
dengan demikian mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi di dalam kelas, dan
seringkali ia tersisihkan dari kehidupan sekitarnya.
����������� Anak yang berasal dari keluarga
dengan tingkat sosial ekonomi rendah telah diteliti memiliki persentase di
bawah ukuran normal bagi tinggi dan berat badan anak sehat. Sedangkan hubungan
antara zat gizi dan produktivitas kerja telah dikenal baik sejak satu abad yang
lalu oleh orang-orang yang mempunyai budak belian yang melihat bahwa gizilah
berarti penurunan nilai modal. Produktivitas pekerja yang disiksa atau mendapat
tekanan akan memberikan hasil yang lebih rendah bila dibandingkan dengan
keadaan yang diurus dengan baik, dalam artian diberikan makanan yang bergizi
cukup baik.
����������� Gizi salah merupakan sebab-sebab
penting yang berhubungan dengan tingginya angka kematian di antara orang dewasa
meskipun tidak begitu mencolok bila dibandingkan dengan angka kematian di
antara anak-anak yang masih muda. Dampak relatif yang ditimbulkan oleh gizi
salah ialah melemahkan daya tahan tehadap penyakit yang biasanya tidak
mematikan dan perbaikan gizi adalah suatu faktor utama yang membantu
meningkatkan daya tahan terhadap penyakit. Status gizi juga berhubungan
langsung dengan lamanya waktu yang diperlukan untuk penyembuhan setelah
menderita infeksi, luka, dan operasi yang berat.
C. Cara-cara
Perbaikan Status Gizi
����������� Pengaturan makanan adalah upaya
untuk meningkatkan status gizi, antara lain menambah berat badan dan
meningkatkan kadar Hb. Berikut adalah pengaturan makanan yang bertujuan untuk
meningkatkan status gizi:
1) Kebutuhan
energi dan zat gizi ditentukan menurut umur, berat badan, jenis kelamin, dan
aktivitas;
2) Susunan
menu seimbang yang berasal dari beraneka ragam bahan makanan, vitamin, dan
mineral sesuai dengan kebutuhan
3) Menu
disesuaikan dengan pola makan;
4) Peningkatan
kadar Hb dilakukan dengan pemberian makanan sumber zat besi yang berasal dari
bahan makanan hewani karena lebih banyak diserap oleh tubuh daripada sumber
makanan nabati;
5) Selain
meningkatkan konsumsi makanan kaya zat besi, juga perlu menambah makanan yang
banyak mengandung vitamin C, seperti pepaya, jeruk, nanas, pisang hijau, sawo
kecik, sukun, dll.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa
dengan teknik pengolahan tertentu, bahan makanan nabati dapat mempertahankan
nutrisi proteinnya yang penting bagi pemenuhan kebutuhan gizi. Implikasi dari
temuan ini mengarah pada potensi peningkatan status gizi masyarakat melalui
peningkatan konsumsi bahan makanan nabati yang kaya akan protein, memberikan
alternatif yang berkelanjutan untuk memperbaiki kesehatan dan gizi masyarakat
secara luas.
Protein berasal dari kata protos atau proteos yang
berarti pertama atau utama. Protein merupakan komponen utama penyusun sel hewan
atau manusia. Sel merupakan pembentuk tubuh, maka protein yang terdapat dalam
makanan berfungsi sebagai zat utama dalam pembentukan dan pertumbuhan tubuh.
Sulit dan mahal untuk mengekstraksi protein hewani dalam jumlah yang cukup;
Oleh karena itu, alternatif peningkatan status gizi manusia terutama diperoleh
dari protein nabati. Oleh karena itu, perhatian telah diberikan untuk
mengevaluasi kualitas nutrisi protein dari spesies tanaman yang berbeda.
Protein nabati dianggap sebagai makanan vegan,
menyediakan asam amino dalam jumlah banyak, langsung diserap oleh tubuh, dan
membantu mengobati berbagai penyakit. Apalagi protein yang berasal dari makanan
nabati kaya akan serat, asam lemak tak jenuh ganda, oligosakarida, dan
karbohidrat. Oleh karena itu, hal ini terutama terkait dengan penurunan
penyakit kardiovaskular, kolesterol low-density lipoprotein (LDL), obesitas,
dan diabetes mellitus tipe II.
Status gizi adalah suatu ukuran mengenai kondisi tubuh
seseorang yang dapat dilihat dari makanan yang dikonsumsi dan penggunaan
zat-zat gizi di dalam tubuh. Status gizi dibagi menjadi tiga kategori, yaitu
status gizi kurang, gizi normal, dan gizi lebih. Kenaikan-kenaikan dalam jumlah
zat gizi diperlukan untuk pertumbuhan dan kegiatan fisik tambahan.� ��
Daptar Pustaka
Agnia., dkk. Permasalahan
Gizi Masyarakat Dan Upaya Perbaikannya.
Apriyanto, Mulono (2022). Pengetahuan Dasar Bahan Pangan. Banten: CV. AA. Rizky. Apriyanto,
Mulono. (2021). Buku Ajar Kimia Pangan.
Nuta Media
Boye J, Wijesinha-Bettoni R, Burlingame B. Protein
quality evaluation twenty years after the introduction of the protein
digestibility corrected amino acid score method. Br J Nutr. (2012)
108:S183�211. 10.1017/S0007114512002309
Han Z, Cai MJ, Cheng JH, Sun DW. Effects of electric
fields and electromagnetic wave on food protein structure and functionality: a
review. Trends Food Sci Technol. (2018) 75:1�9. 10.1016/j.tifs.2018.02.017
L�pez DN, Galante M, Robson M, Boeris V, Spelzini D.
Amaranth, quinoa and chia protein isolates: physicochemical and structural
properties. Int J Biol Macromol. (2018) 109:152�9.
10.1016/j.ijbiomac.2017.12.080
Malik MA, Sharma HK, Saini CS. Effect of gamma
irradiation on structural, molecular, thermal and rheological properties of
sunflower protein isolate. Food Hydrocoll. (2017) 72:312�22.
10.1016/j.foodhyd.2017.06.011.
Mir NA, Riar CS, Singh S. Structural modification in
album (Chenopodium album) protein isolates due to controlled thermal
modification and its relationship with protein digestibility and functionality.
Food Hydrocolloids. (2020) 103:105708. 10.1016/j.foodhyd.2020.105708.
Pojić M, Mi�an A, Tiwari B. Eco-innovative
technologies for extraction of proteins for human consumption from renewable
protein sources of plant origin. Trends Food Sci Technol. (2018) 75:93�104.
10.1016/j.tifs.2018.03.010.
S� AGA, Moreno YMF, Carciofi BAM. Food processing for
the improvement of plant proteins digestibility.
Crit Rev Food Sci Nutr. (2020) 60:3367�86.
10.1080/10408398.2019.1688249.
Schillberg S, Raven N, Spiegel H, Rasche S, Buntru M.
Critical analysis of the commercial potential of plants for the production of
recombinant proteins. Front Plant Sci. (2019) 10:720. 10.3389/fpls.2019.00720.
Sun-Waterhouse D, Zhao M, Waterhouse GI. Protein
modification during ingredient preparation and food processing: approaches to
improve food processability and nutrition. Food Bioproc Tech. (2014) 7:1853�93.
10.1007/s11947-014-1326-6
Xiang S, Zou H, Liu Y, Ruan R. Effects of microwave heating
on the protein structure, digestion properties and Maillard products of gluten.
J Food Sci Technol. (2020) 57:2139�49. 10.1007/s13197-020- 04249-0.