COMPLICATIONS
OF POSTOPERATIVE ANESTHESIA IN PEDIATRIC PATIENTS
Wahyu
Krishna Adjie Arsana1, Bambang Pujo Semedi2,
Tri Wahyu Martanto3, Purwo
Sri Rejeki4
Universitas Airlangga Surabaya
Abstrak:
Penelitian
komplikasi pasca operasi di RSUD berfokus pada pasien anak dengan tujuan utama
memahami karakteristik demografi dan kejadian komplikasi pasca operasi
tertentu. Dari segi demografi, mayoritas responden adalah laki-laki yaitu
sebesar 61,8% sampel dengan rata-rata usia pasien 8 tahun. Rentang usia
responden bervariasi, mulai dari usia minimal 2 tahun hingga maksimal 17 tahun.
Selain itu, aspek riwayat kesehatan juga dievaluasi. Tidak ada satu pun
responden yang memiliki riwayat infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) atau
penyakit refluks gastroesofagus (GERD), dua kondisi yang dapat mempengaruhi
hasil pembedahan. Dalam konteks komplikasi pasca operasi, hasil penelitian
menunjukkan bahwa tidak ada kejadian croup, bradikardia, atau desaturasi pada
responden. Hal ini menunjukkan tingkat keberhasilan yang baik dalam manajemen
bedah dan pemulihan pasca operasi. Namun ada catatan khusus terkait hipotermia.
Sebanyak 34,7% sampel mengalami hipotermia pasca operasi, sedangkan hanya 0,8%
yang tidak mengalaminya. Komplikasi ini menyoroti pentingnya memantau suhu
pasien setelah operasi. Secara keseluruhan temuan ini menyoroti bahwa meskipun
keberhasilan dalam mencegah beberapa komplikasi serius, masih ada aspek
tertentu dari pemulihan pasca operasi yang memerlukan perhatian lebih, seperti
penanganan hipotermia.
Kata Kunci: Kata kunci, Kata Kunci,
Kata kunci, Kata Kunci, Kata Kunci
Abstract:
Research
on post-operative complications in RSUD focuses on pediatric patients with the
main aim of understanding demographic characteristics and the incidence of
certain post-operative complications. From a demographic
perspective, it was found that the majority of respondents were male,
accounting for 61.8% of the sample with the average age of patients being 8
years. The age range of respondents varied from a minimum age of 2 years to a
maximum of 17 years. In addition, aspects of medical history are also
evaluated. None of the respondents had a history of upper respiratory tract
infections (ARI) or gastroesophagial reflux disease (GERD), two conditions that
can affect surgical results. In the context of
postoperative complications, the results showed that there was no incidence of
croup, bradycardia, or desaturation among respondents. This indicates a good
success rate in surgical management and post-operative recovery. However, there
is a special note regarding hypothermia. As many as 34.7% of the sample
experienced hypothermia after surgery, while only 0.8% did not experience it.
This complication highlights the importance of monitoring the patient's
temperature after surgery. Overall
these findings highlight that despite success in preventing some serious
complications, there are still certain aspects of postoperative recovery that
require more attention, such as management of hypothermia.
Keywords: Keywords,
Keywords,
Keywords,
Keywords,
Keywords
����� ����
Pendahuluan
Komplikasi
pada pasien adalah kondisi dimana terjadi perdarahan dengan manifestasi pasca operasi
klinis berupa denyut nadi meningkat, suhu tubuh turun, pernafasan cepat dan
dalam, bibir dan konjungtiva pasien pucat serta kondisi pasien melemah (Majid,
2011). Komplikasi post opeatif dapat didefiniskan juga sebagai munculnya
penyakit baru sebagai efek samping dari tindakan anestesi atau pembiusan
perioperasi, penyakit baru tersebut antara lain nyeri dan gangguan pernapasan.
Anestesi di bagi menjadi dua kelompok yaitu anestesi umum dan anestesi
regional. Anestesi umum adalah suatu keadaan menghilangkan rasa nyeri secara
sentral disertai kehilangan kesadaran dengan menggunakan obat amnesia, sedasi,
analgesia, pelumpuh otot atau gabungan dari beberapa obat tersebut yang
bersifat dapat pulih kembali. Anestesi regional atau blok saraf adalah bentuk anestesi
yang diberikan pada sebagian dari tubuh dengan pembiusan yang ditujukan untuk
menghilangkan sensasi di bagian tubuh tertentu yang dibius (dibuat mati rasa).
Hilangnya sensasi di daerah tubuh tertentu yang dihasilkan oleh pengaruh obat
anestesi adalah pada semua saraf yang dilewati persarafannya (Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia, 2015).
Anestesi
pada pasien pediatri mejadi perhatian khusus karena kebutuhan obat pada pasien
anak berbeda, dilihat dari ukuran tubuh yang lebih kecil, perbedaan komposisi
tubuh, serta kapasitas metabolisme obat. Biasanya dosis obat didasarkan pada
berat badan, hal ini karena berkorelasi erat dengan kompartemen cairan tubuh
(Butterworth, Wasnick and Mackey, 2013). Selain itu pemberian anestesi juga
didasarkan pada kelompok umur, yaitu bayi baru lahir atau neonates (0-1 bulan), bayi atau
infant (1-12 bulan), batita atau toddler (1-3 tahun), dan anak-anak (4-12
tahun) (Dinata, Fuadi and Redjeki, 2015) Meski dari waktu ke waktu dan seiring
perkembangan di dunia medis anestesi dinilai semakin aman, bukan berarti
penngunaan anestesi umum tanpa resiko dan komplikasi. Morbiditas yang terkait
dengan anestesi umum dimulai dari komplikasi kecil tanpa konsekuensi jangka
panjang bagi pasien hingga komplikasi dengan dampak jangka panjang yang dialami
oleh pasien (Harris and Chung, 2013).
Insiden
komplikasi anestesi pasca operasi pada pasien pediatri sangat bervariasi
tergantung pada usia pasien, persentase tertinggi kejadian komplikasi post
operative pada anak adalah pada kelompok usia 1 hari hingga 1 bulan dimana
berada pada angka 26,7% dari kasus komplikasi anestesi pada anak berada di
kelompok usia tersebut, kemudian disusul kelompok anak usia 10 hingga 16 tahun
dengan angka 10,4% dari total keseluruhan kasus (Edomwonyi et al., 2006). Dari 173.700 anestesi pediatrik, tercatat 351
komplikasi yang dilaporkan antara lain: intubasi/ventilasi endotrakeal yang
tidak adekuat (161), overdosis obat anestesi (105), henti jantung (33),
aspirasi paru (27), Komplikasi anestesi regional (17), dan edema paru akut (8)
(Auroy et al., 1997). Komplikasi
neurologi dari anestesi umum terjadi paling banyak pada anak usia 3 � 9 tahun
dengan angka 1 sampai 2 insiden dari 10.000 pasien (Walker et al., 2018). Faktor resiko yang berkonstribusi terhadap komplikasi
neurologis setelah anestesi regional termasuk iskemia saraf, cedera traumatis
pada saraf selama penempatan jarum atau kateter, dan terjadinya infeksi. 75%
pasien yang mengalami komplikasi neurologis berada pada plexus brachialis
(Horlocker, 2011).
Risiko
dalam anestesi pediatri dapat diklasifikasikan sebagai minor atau mayor
(Paterson and Waterhouse, 2011). Komplikasi sistem respiratori dan kardiovaskular adalah
komplikasi mayor yang paling sering terjadi, selain itu terdapat pula gangguan
ginjal akut dan disfungsi sistem kognitive pasca operasi. Komplikasi minor yang
dapat terjadi pada pasiem tetapi dengan kategori serius dalam kejadian
komplikasi pasca operasi adalah mual, muntah, dan sakit tenggorokan, semua
komplikasi ini dapat memberi dampak signifikan terhadap pasien dan
memperpanjang waktu rawat inap di rumah sakit (Harris and Chung, 2013). Selain
itu terdapat kasus lain yang termasuk dalam komplikasi pasca operasi pada
pasien pediatri yaitu keterlambatan pulih sadar atau prolong unconscioussness (Edomwonyi et al., 2006).
Pasien
dengan komplikasi anestesi pasca operasi dapat mengalami keadaan dimana
komplikasi serius baik mayor maupun minor menyertai setelah adanya anestesi
perioperatif (Harris and Chung, 2013), oleh karena itu komplikasi anestesi
pasca operasi haruslah mendapatkan penanganan yang serius. Komplikasi anestesi
pasca operasi adalah salah satu kejadian yang dapat diminimalkan dengan dengan
waspada terhadap potensi komplikasi yang terjadi sehingga komplikasi dapat
diprediksi dan dihindari (Harris and Chung, 2013). Jika suatu komplikasi
diberikan penanganan yang tidak tepat, maka dapat menyebabkan gejala sisa
permanen, memperpanjang durasi pengobatan dan berdampak negatif pada psikologis
pasien anak(Sinclair and Faleiro, 2006). Salah satu cara untuk mengurangi
resiko komplikasi pasca operasi adalah dengan penggunaan anestesi regional, hal
ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh Spencer S Liu dan
Christhoper L. Wu yang menyatakan bahwa anestesi regional mampu mengurangi kejadian
komplikasi pasca operasi terutama pada pasien dengan penyakit kardiovaskular
(Liu and Wu, 2007).
Berdasarkan fenomena yang telah dijelaskan
menjadi latar belakang peneliti untuk melakukan penelitian dan pembahasan
mengenai komplikasi anestesi pasca operasi pada pasien pediatri. Hal tersebut
perlu dilakukan untuk untuk mengetahui jenis komplikasi pasca operasi yang
dialami pasien pediatri, penyebab komplikasi pasca operasi pada pasien pediatri
dan cara untuk meminimalkan komplikasi tersebut.�
��
Metode
Jenis dan Rancangan
Penelitian
Penelitian
ini menggunakan metode deskriptif prospektif yang menggunakan data sekunder
berupa catatan medik anestesi dan sedasi pasien post operatif.
Penelitian
ini menggunakan rancangan prospektif berdasarkan pencatatan komplikasi anestesi
post operatif di RSUD dr Soetomo.
Populasi, Kriteria, dan
Teknik Pengambilan Sampel
����������� Populasi sampel meliputi pasien anak usia 2 � 17 yang
menjalani recovery pasca operasi di recovery
room GBPT RSUD dr Soetomo
a.
Kriteria
Inklusi:
1. Pasien anak usia 2 � 17
tahun dengan komplikasi anestesi post operatif; bradikardi, croup, desaturasi,
dan hipotermi
2. Pasien menjalani
pemulihan di recovery room GBPT RSUD
dr Soetomo��
b.
Kriteria Ekslusi:
1.
Pasien
dengan data yang tidak lengkap
Teknik Pengambilan Sampel
����������� Teknik pengambilan sampel dengan metode prospektif dengan
cara pencatatan tanda tanda vital pasien di Recovery room RSUD dr Soetomo
Hasil dan Pembahasan
Deskripsi Hasil Penelitian
Penelitian
ini bertujuan untuk menghitung persentase dari komplikasi anestesi post operatif
di Recovery Room GBPT RSUD Dr
Soetomo Surabaya dalam rentang periode Mei
� Juni 2023. Penelitian ini merupakan studi deskriptif prospektif yang
dilakukan pada seluruh pasien anak
yang menjalani operasi elektif di GBPT dan dirawat pasca operasi di recovery room GBPT
RSUD Dr Soetomo Surabaya yang memenuhi kriteria inklusi. Teknik pengambilan sampel pada penelitian adalah
sebanyak 123 orang pasien. Data yang ditampilkan adalah distribusi kejadian
komplikasi anestesi pasca operasi pasien. Data akan disajikan dalam bentuk persentase.
Karakteristik Sampel Penelitian
Tabel 1 Jenis Kelamin
Sampel Penelitian
|
No. |
Jenis Kelamin |
N |
% |
|
1. |
Laki-laki |
76 |
61,8 |
|
2. |
Perempuan |
47 |
38,2 |
|
|
Total |
123 |
100,0 |
Berdasarkan tabel 5.1 jenis kelamin
dari pasien terdiri dari 76 laki � laki (61,8%) dan 47 pasien perempuan (38,2%).
Gambar
1 Boxplot Usia Sampel Penelitian
Dari boxplot terlihat nilai tengah usia pasien 8 tahun dengan
usia terkecil 2 tahun dan usia
terbesar 17 tahun. Rentang kuartil sebesar 10 tahun, dengan setengah pasien dalam penelitian berada pada rentang umur 4 hingga 14 tahun.
Gambaran Distribusi Riwayat ISPA
Tabel 2 Gambaran Distribusi Riwayat ISPA Pasien
|
Karakteristik |
N |
% |
|
Ada riwayat ISPA Tidak ada riwayat ISPA Total |
0 123 123 |
0 100 100 |
Berdasarkan tabel 5.2, riwayat
penyakit infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) yang merupakan salah satu faktor dari croup pasca intubasi pada
pasien pediatri post operatif
yaitu 0 sampel (0%).
Tabel 3 Gambaran Distribusi Riwayat GERD Responden
|
Karakteristik |
N |
% |
|
Ada riwayat GERD Tidak ada riwayat GERD Total |
0 123 123 |
0 100 100 |
Berdasarkan tabel 3, riwayat
gastroesophagial reflux disease (GERD) yang merupakan salah
satu faktor resiko dari croup post intubasi
pada pasien pediatri post operatif
yaitu 0 sampel (0%).
Gambaran Penggunaan Obat Analgesik
Tabel 4 Gambaran Penggunaan Obat Analgesik
Pasien
|
Karakteristik |
N |
% |
|
Fentanil Ketamin Remifentanil Fentanil & Midazolam Fentanil & Ketamin
Tidak menggunakan Total |
108 4 4 1 1 5 123 |
87,8 3,3 3,3 0,8 0,8 4,1 100 |
Berdasarkan tabel 5.4 sebanyak 108
pasien (87,8%) dari sampel mendapatkan terapi
fentanil sebagai obat analgesik, 4 pasien (3,3%) mendapatkan ketamin, 4 pasien (3,3%) mendapatkan renifentanil, 1 pasien
(0,8%) mendapatkan fentanil & midazolam, 1
pasien (0,8%) mendapatkan fentanil & ketamin, semetara yang tidak
mendapatkan obat analgesik sebanyak
5 (4,1%).
Gambaran Penggunaan Obat Sedatif
Tabel
�5 Gambaran
Penggunaan Obat Sedatif
Sampel
|
Karakteristik |
N |
% |
|
Propofol Ketamin Tidak menggunakan Total |
113 1 9 123 |
91,9 0,8 7,3 100 |
Berdasarkan
tabel 5.5 sebanyak 113 pasien (91,9%) dari sampel mendapatkan terapi propofol sebagai obat sedatif, 1
pasien (0,8%) mendapatkan ketamine, 9 pasien
(7,3%) mendapatkan tidak menggunakan obat sedatif.
Gambaran Penggunaan Obat Muscle Relaxant
Tabel �6 Gambaran Penggunaan Obat Muscle Relaxant
Pasien
|
Karakteristik |
N |
% |
|
Atracurium Rocuronium Tidak
menggunakan Total |
76 27 20 123 |
61,8 22 16,3 100 |
����������� Berdasarkan
tabel 5.6 sebanyak 76 pasien (61,8%) dari responden mendapatkan terapi atracurium sebagai
obat muscle relaxant,
27 pasien (22%) mendapatkan rocuronium, 20 pasien (16,3%) tidak menggunakan obat muscle relaxant.
Gambaran Distribusi Croup Pasien
Tabel 7 Gambaran Distribusi Croup Pasien
|
Karakteristik |
N |
% |
|
Croup Tidak Croup Total |
0 123 123 |
0 100 100 |
Berdasarkan tabel 5.7, croup post intubasi pada pasien pediatri
post operatif yaitu 0 responden (0%).
Gambaran Distribusi Bradikardi Pasien
Tabel 8 Gambaran Distribusi Bradikardi Pasien
|
Karakteristik |
N |
% |
|
Bradikardi Tidak
Bradikardi Total |
0 123 123 |
0 100 100 |
Berdasarkan tabel 5.8, bradikardi pada pasien pediatri
post operatif yaitu 0 responden (0%).
Gambaran Distribusi Desaturasi Pasien
Tabel �9 Gambaran Distribusi Desaturasi Pasien
|
Karakteristik |
N |
% |
|
Desaturasi Tidak Desaturasi Total |
0 123 123 |
0 100 100 |
����������� Berdasarkan tabel 5.9, desaturasi
pada pasien pediatri
post operatif yaitu 0 responden (0%).
Gambaran Distribusi Hipotermi Pasien
Tabel 10 Gambaran Distribusi Hipotermi Pasien
|
Karakteristik |
N |
% |
|
Hipotermi Tidak Hipotermi
Tidak Ada data Total |
43 1 79 123 |
34,7 0,8 64,5 100 |
����������� Berdasarkan
tabel 5.10, dari data yang ada didapatkan bahwa sebanyak 43 pasien post-operatif
mengalami hipotermi sebesar 43 penderita (34,7%). Dan 1 pasien tidak mengalami
hipotermi (0,8%)
Pembahasan
Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian komplikasi post- operatif pada
pasien pediatri di RSUD dr. Soetomo dengan pendekatan dekstriptif
observasional. Penelitian dilakukan pada 113 responden pediatri yang menjalani
Tindakan operatif di RSUD dr. Soetomo. Pembedahan dapat menjadi terapi yang
berisiko tinggi dan memerlukan banyak sumber daya, dan komplikasi pasca operasi
berkontribusi signifikan terhadap beban penyakit dan pengeluaran layanan
kesehatan di negara-negara di seluruh dunia. Komplikasi pasca operasi pada
pasien anak berbeda dari komplikasi umum yang terlihat pada orang dewasa karena
tantangan dalam melakukan operasi pada struktur anatomi yang lebih kecil dan
proses patofisiologi spesifik yang berkaitan dengan usia. Oleh karena itu,
penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komplikasi pasca operasi pada
populasi unik pasien bedah anak dan faktor yang berkaitan dengan kejadian
komplikasi tersebut.
Karakteristik
Responden Penelitian
Faktor
demografi dan komorbiditas anak diketahui dapat mempengaruhi homeostasis tubuh
dan kemampuannya beradaptasi. Hal ini selanjutnya dapat meningkatkan kejadian
resiko komplikasi pasca operatif pada populasi ini. Beberapa karakteristik
sosio-demografis berhubungan dengan komplikasi setelah prosedur bedah pediatrik
tertentu. Usia muda, asma, penyakit jantung, penyakit neurologis, sindrom
genetik, prematuritas, refluks gastroesofageal, sindrom kraniofasial, gagal
tumbuh/menurunkan berat badan, dan obesitas, terutama bila dikaitkan dengan
penyakit penyerta
lainnya, telah diidentifikasi sebagai prediktor independen pasca operasi.
Pedoman American Society of Anesthesiologists mencakup usia, status OSA, dan
kriteria masuk pasien komorbiditas dan juga mempertimbangkan sifat dan jenis
operasi yang dilakukan, anestesi yang diberikan, dan kebutuhan opioid pasca
operasi (Katz, et al., 2020, and
Minneci, et al., 2022). Penelitian Brock et al. (2022) menunjukkan jenis
kelamin perempuan (OR 0,70, 95% CI 0,62-0,80) dan perawatan di rumah sakit
pendidikan perkotaan (OR 0,74, 95% CI 0,58-0,94) juga dikaitkan dengan
penurunan angka kejadian komplikasi pasca operasi dalam kelompok pediatri. Di
sisi lain, Berasal dari Afrika Amerika (OR 1.36, 95% CI 1.08�1.73) atau ras
lain (OR 1.42, 95% CI 1.11� 1.83),
usia kurang dari satu bulan (OR 17.03, 95% CI 7.70�37.68), mempunyai penyakit usus perforasi (OR 4.27,
95% CI 3.69�4.94) dan memiliki satu prosedur (OR 4.75, 95% CI 2.40�9.38) atau dua
(OR 25.71, 95% CI 2.73�242.38) lebih banyak prosedur memiliki kemungkinan
komplikasi pasca operasi yang jauh lebih besar (Brock, et al., 2022).
Hasil
penelitian ini menunjukkan berdasarkan jenis kemain, Sebagian besar pasien berjenis
kelamin laki-laki yaitu 76 orang (61,8%) dan 47 (38,2%) pasien berjenis kelamin
perempuan. Terdapat kemungkinan bahwa perbedaan risiko pascaoperasi terutama
pada kelompok usia pediatri mungkin berhubungan dengan perbedaan biologis dalam
jenis kelamin dengan jenis kelamin perempuan lebih rendah resiko untuk
mengalami kejadian komplikasi post operasi dibandingkan dengan laki-laki
(Brock, et al., 2022).� Gender sebelumnya
telah diakui sebagai prediktor independen terhadap morbiditas pasca operasi;
namun, konsensus mengenai gender mana yang memberikan hasil buruk masih
bertentangan dalam literatur. Penelitian Jackson et al. (2023) menunjukkan
sebagian besar pasien adalah laki-laki (61,5%) dan laki-laki secara signifikan
lebih mungkin mengalami morbiditas pasca operasi bila dibandingkan dengan
perempuan (4,8% berbanding 3,8%, P<0,0001). Lebih khusus lagi, laki-laki
secara signifikan lebih mungkin mengalami komplikasi infeksi, komplikasi
saluran kemih, komplikasi paru, dan komplikasi gastrointestinal (Jackson, et
al., 2023). Hal ini dipengaruhi oleh perbedaan anatomis dan fisiologis anak
perempuan dan laki-laki serta perilaku mencari pengobatan pada kedua jenis
kelamin tersebut (Hogberg, et al., 2023).
Studi
dalam literatur trauma menunjukkan bahwa laki-laki mungkin mempunyai hasil yang
lebih buruk pada kondisi peradangan pasca-trauma karena variasi hormonal mereka
mungkin mempengaruhi mereka terhadap respons tertentu dari sistem kekebalan
tubuh yang mengarah pada peningkatan kerentanan terhadap kerusakan organ. Baik
sebagai trauma maupun pembedahan dapat menyebabkan kondisi proinflamasi, temuan
kami mengenai perempuan yang memiliki hasil lebih buruk bertentangan dengan
teori ini. Penjelasan lain yang mungkin untuk perbedaan ini adalah perbedaan
gejala yang menyebabkan keterlambatan diagnosis sehingga menyebabkan kondisi
yang lebih buruk. Perempuan dan laki-laki juga diketahui memiliki respons yang
berbeda terhadap obat- obatan, seperti antibiotik, yang dapat menyebabkan
tingkat morbiditas yang bervariasi.
Hasil
penelitian ini juga menunjukkan berdasarkan nilai tengah usia pasien 8 tahun
dengan usia terkecil 2 tahun dan usia terbesar 17 tahun. Rentang kuartil
sebesar 10 tahun, dengan setengah pasien dalam penelitian berada pada rentang
umur 4 hingga 14 tahun. usia muda sebagai faktor peningkatan risiko komplikasi
setelah prosedur gastrointestinal pediatrik.3 Hasil penelitian ini
sesuai dengan penelitian Ashaour et al. (2022) yang menunjukkan median usia 13
tahun (2,25) dengan minimal sembilan tahun dan maksimal 15 tahun. Pada usia
anak yang lebih kecil toleransi terhadap obat, kemampuan beradaptasi dan pola
pengenalan tubuh terhadap stressor lebih buruk terhadap usia tua, hal ini dapat
berdampak pada kejadian komplikasi pada anak (Ashour, et al., 2022).
Berdasarkan
Riwayat penyakit didapatkan bahwa tidak ada responden dengan riwayat penyakit
infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) dan gastroesophagial
reflux� disease (GERD). Seperti yang diketahui, komorbiditas pasien dapat menyebabkan perubahan homeostasis tubuh yang dapat mengganggu respon tubuh terhadap
stress termasuk Tindakan
operatif (Brock, et al., 2022).
Gambaran Kejadian Komplikasi Post
Operatif pada Pasien Pediatri RSUD dr Soetomo
Gambaran Kejadian Hipotermi Post Operatif
Anak-anak
lebih rentan terhadap hipotermia karena kurangnya insulasi lemak, kehilangan panas berlebihan akibat
peningkatan rasio luas permukaan
terhadap berat, dan adanya sedikit sel lemak coklat.
Tindakan pencegahannya adalah dengan menghangatkan ruang operasi hingga suhu
26�C, menggunakan pemanas berseri pada saat induksi
dan pemulihan, menutupi
bayi dengan kapas, dan memberikan cairan hangat (Mehrotra,
2019).
Hasil penelitian ini menunjukkan 43
pasien mengalami hipotermi (34,7%) dan 1 pasien
tidak mengalami hipotermi (0,8%). Hipotermia lebih banyak terlihat pada bayi
dan anak-anak pada kelompok usia yang lebih kecil setelah
operasi besar yang berkepanjangan.
Tindakan sederhana seperti menghangatkan ruang operasi hingga suhu 26�C, menggunakan pemanas radiasi pada
saat induksi dan pemulihan, menutupi bayi dengan kapas, memasukkan cairan hangat dan menyarankan dokter bedah untuk menggunakan
cairan irigasi hangat dapat mencegah terjadinya komplikasi ini. Biasanya, menghangatkan pasien dengan selimut hangat
dan pemanas berseri sudah cukup, namun pemanasan udara paksa mungkin
diperlukan karena lebih efisien. Hipertermia dapat disebabkan oleh
hipertermia lingkungan atau akibat proses infeksi dan harus diwaspadai. Kondisi yang mengancam jiwa seperti
hipertermia maligna jarang terlihat di negara kita karena alasan yang tidak diketahui (Pawar,
2012).
Gambaran
Persentase Desaturasi Post Operatif
����������� Pada penelitian ini diketahui tidak
terdapat pasien yang mengalami desaturasi pasca operasi (0%). Insiden
komplikasi anestesi pada anak-anak jauh lebih banyak dibandingkan pada orang
dewasa dan terkadang dengan akibat yang parah. Insidensinya mencapai 60% dari
seluruh komplikasi terkait anestesi. Penyebab umum hipoksemia pasca operasi
adalah efek sisa anestesi, inadequate reversal, depresi pernapasan,
obstruksi jalan napas, laringospasme, bronkospasme, dan stridor pasca operasi.
Insufisiensi pernapasan dapat disebabkan karena overdosis opioid (morfin),
prematuritas, atau apnea pasca operasi pada anak dengan apnea tidur obstruktif
(Mehrotra, 2019).
Gambaran Persentase Bradikardi Post Operatif
����������� Analgestik seperti fentanyl atau
antikolinesterase dapat menyebabkan terjadinya bradikardia (Mehrotra, 2019).
Pada penelitian ini sebanyak 108 pasien (87,8%) dari sampel mendapatkan terapi
fentanil sebagai obat analgesik, 4 pasien (3,3%) mendapatkan ketamin, 4 pasien
(3,3%) mendapatkan renifentanil, 1 pasien (0,8%) mendapatkan fentanil &
midazolam, 1 pasien (0,8%) mendapatkan fentanil & ketamin, semetara yang
tidak mendapatkan obat analgesik sebanyak 5 (4,1%). Akan tetapi hasil
penelitian ini menunjukkan tidak terdapat kejadian bradikardi pada pasien anak
post operatif (0%). Bradikardia merupakan konsekuensi yang diketahui dari
penurunan output simpatis (Bush, et al., 2018). Pada penelitian ini, kejadian
bradikardi dapat dicegah kemungkinan karena pemberian cairan dan obat-obatan
yang tepat serta pemeriksaan dan persiapan pre- operatif dan intraoperative
yang sudah baik di RS ini.
����������� Sinus bradikardia sering terjadi
setelah operasi jantung anak. Hal ini dikenali sebagai ritme teratur dengan
gelombang P sebelum setiap kompleks QRS dan detak jantung lambat. Ada beberapa
penyebab bradikardia sinus setelah operasi jantung yang mencakup hipotermia, sedasi dalam, dan pengobatan.
Penatalaksanaan bradikardia adalah dengan mengobati penyebabnya. Penting untuk
memantau dengan cermat tanda-tanda curah jantung yang memadai dalam kasus bradikardia
setelah operasi jantung karena curah jantung sama dengan volume sekuncup
dikalikan dengan detak jantung. Bayi memiliki ventrikel yang kaku dan
bergantung pada peningkatan denyut jantung daripada volume sekuncup untuk
meningkatkan curah jantungnya. Ketika seorang anak mempunyai denyut jantung
yang rendah pasca operasi, curah jantung mungkin tidak memenuhi kebutuhan O2
tubuh sehingga mengakibatkan oksigenasi anerobik dan hipoksia jaringan.
Etiologi bradikardia sinus terkadang tidak jelas dan disebut sebagai disfungsi
nodus sinus. Penatalaksanaannya mungkin memerlukan pacu jantung sementara
dengan kecepatan lebih tinggi untuk meningkatkan curah jantung dan perfusi
jaringan. Atrial pacing Atrial Pacing, Atrial Sensing, Response to Sensing
by Inhibition (AAI) adalah mode optimal untuk pacing gejala bradikardia
yang terkait dengan konduksi nodus AV yang utuh. Mode lain seperti Kecepatan
Ventrikel, Penginderaan Ventrikel, Respon terhadap Penginderaan dengan
Penghambatan VVI juga dapat digunakan jika hanya terdapat kabel ventrikel.
Irama sinus normal biasanya kembali setelah mengobati penyebabnya atau pulih
secara spontan dalam beberapa hari setelah perbaikan jantung (Kaabbani, et al.,
2017).
Gambaran persentase croup post intubasi
����������� Hasil penelitian ini menunjukkan
tidak ada responden penelitian yang mengalami croup post intubasi. Profilaksis
obstruksi jalan napas pasca ekstubasi pada pasien risiko tinggi selalu penting,
terutama pada pasien anak. Insiden croup pascaintubasi diketahui 0,1-1%. Croup
pascaintubasi menunjukkan gejala dan tanda khas seperti mengi saat inspirasi,
batuk menggonggong, suara serak, dan dispnea inspirasi, dan kemungkinan
berkembang segera setelah ekstubasi hingga 3 jam setelahnya. Gejala yang memerlukan pengobatan
biasanya menjadi jelas dalam satu jam pertama setelah ekstubasi. Faktor risiko
croup pascaintubasi adalah usia antara 1 dan 4 tahun, waktu anestesi lebih dari
1 jam, batuk pada selang endotrakeal, intubasi traumatis, pemasangan selang
endotrakeal yang ketat, perubahan posisi. posisi selama operasi, posisi pasien
selain terlentang, dan upaya intubasi berulang kali. Untuk mencegah batuk saat
diintubasi, digunakan ekstubasi tidur atau obat pereda nyeri yang diberikan
sebelum ekstubasi (Kim, et al., 2014).
Penggunaan
Obat Anestesi
����������� Hasil penelitian ini menunjukkan
penggunaan obat anestesi dibagi menjadi tiga yaitu; muscle relaxant,
sedatif, dan analgesik. Distribusi penggunaan obat muscle relaxant terbanyak
adalah atracurium sebanyak 76 pasien (61,8%) dari sampel, rocuronium sebanyak
27 pasien (22%) dari sampel dan sisa nya 20 pasien (16,3%) dari sampel tidak
menggunakan obat muscle relaxant. Distribusi penggunaan obat sedatif
terbanyak adalah propofol dengan 113 pasien (91,9%) dari sampel, ketamin 1
pasien (0,8%) dari sampel dan sisa nya 9 pasien (7,3%) dari sampel tidak
menggunakan obat sedatif. Distribusi penggunaan obat analgesik sebanyak 108
pasien (87,8%) dari sampel mendapatkan terapi fentanil sebagai obat analgesik,
4 pasien (3,3%) mendapatkan ketamin, 4 pasien (3,3%) mendapatkan renifentanil,
1 pasien (0,8%) mendapatkan fentanil & midazolam, 1 pasien (0,8%)
mendapatkan fentanil & ketamin, semetara yang tidak mendapatkan obat
analgesik sebanyak 5 (4,1%).
Keterbatasan
Penelitian
����������� Penelitian ini menggunakan
pendekatan deskriptif, sehingga kemungkinan faktor- faktor yang mempengaruhui
komplikasi post operatif pada populasi tidak diketahui dengan baik. Pada
penelitian ini juga tidak dilakukan kategorisasi komplikasi berdasarkan jenis prosedur operatif yang dilakukan, sehingga tidak
dapat dilakukan analisis pengaruh jenis prosedur dengan kejadian komplikasi
post operatif.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, kesimpulan yang dapat
diambil adalah sebagai berikut. Karakteristik demografi responden penelitian
menunjukkan bahwa sebanyak 76 responden adalah laki-laki (61,8%), dengan
rentang usia pasien antara 2 hingga 17 tahun, dengan usia tengah pasien adalah
8 tahun. Sehubungan dengan riwayat penyakit, tidak ada responden yang memiliki
riwayat penyakit infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) dan gastroesophageal
reflux disease (GERD). Gambaran kejadian croup post intubasi pada pasien
pediatri pasca operasi menunjukkan bahwa tidak ada responden (0%) yang
mengalami croup. Demikian pula, dalam gambaran kejadian bradikardi dan desaturasi
pasca operasi pada pasien pediatri, tidak ada responden (0%) yang mengalami
kedua kondisi tersebut. Namun, dalam hal kejadian hipotermi pasca operasi,
sebanyak 43 pasien (34,7%) mengalami hipotermi, sementara satu pasien (0,8%)
tidak mengalami hipotermi.
Daptar Pustaka
Ashour
HA, Almohaisen G a, Hawsawi SA, Aljrayed MA, AlKhelaiwi SM, Alsayegh S, et al.,
2022, 'The Early and Late Postoperative Complications of Pediatric
Neuromuscular Scoliosis at King Abdulaziz Medical City, Riyadh, Saudi Arabia: A
Case Series'. Cureus. 14(8): pp
28154.
Auroy,
Y.M. et al. (1997) �Relationship
Between Complications of Pediatric Anesthesia and Volume of Pediatric
Anesthetics�:, Anesthesia & Analgesia,
84(1), pp. 234� 235.
Barrington,
M. and Snyder, G., 2011. �Neurologic complications of regional anesthesia�. Current Opinion in Anaesthesiology,
24(5), pp.554-560.
Brock
R, Chu A, Lu S, Brindle ME, Somayaji R., 2022. 'Postoperative Complications
After Gastrointestinal Pediatric Surgical Procedures: Outcomes and Socio-
Demographic Risk Factors'. BMC Pediatr.
22 (22), pp. 358.
Brockel,
M., Polaner, D. and Vemulakonda, V., 2018. �Anesthesia in the Pediatric
Patient�. Urologic Clinics of North
America, 45(4), pp.551-560.
Brown,
D. and Factor, D. (1996) , �Regional Anesthesia and Analgesia�. Philadelphia:
WB Saunders.
Bush
B, Tobias JD, Lin C, Ruda J, Jatana KR, Essig G, et al., 2018, 'Postoperative
bradycardia following adenotonsillectomy in children: Does intraoperative
administration of dexmedetomidine play a role'. International Journal of Pediatric Otorhinolaryngology. 104: pp
210�5.
Butterworth,
J.F., Wasnick, J.D. and Mackey, D.C. (2013), �Airway Management . In :
Morgan & Mikhail�s Clinical Anesthesiology�. 5th edn. New York: Mc Graw
Hill.
Chung,
K. and Pavard, D. (2008) �Prevalence, pathogenesis, and causes of chronic
cough�, Lacet, 371(9621), pp.
1364�74.
Dinata,
D.A., Fuadi, I. and Redjeki, I.S. (2015) �Waktu Pulih Sadar pada Pasien
Pediatrik yang Menjalani Anestesi Umum di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin
Bandung�, Jurnal Anestesi Perioperatif,
3(2), pp. 100�109.
Dobson,
M. (1994), �Penuntun Praktis Anestesi�. Jakarta: EGC.
Edomwonyi,
N.P. et al. (2006)
'Anesthesia-Related Complications In Children', Middle East Journal of Anesthesiology, 18 (5), pp. 915-927.
Fernandez-Bustamante,
A., Frendl, G., Sprung, J., Kor, D., Subramaniam, B., Martinez Ruiz, R., Lee,
J., Henderson, W., Moss, A., Mehdiratta, N., Colwell, M., Bartels, K.,
Kolodzie, K., Giquel, J. and Vidal Melo, M., 2017. �Postoperative Pulmonary
Complications, Early Mortality, and Hospital Stay Following Noncardiothoracic
Surgery�. JAMA Surgery, 152(2),
p.157.
Goodman
and Gilman (2012), �Dasar Farmakologi�. Jakarta: EGC.
Gulhas,
Durmus and Demirbilek (2003) �The Used of Magnesium to Prevent Laryngospasm
after Tonsillectomy and Adenoidectomy. : a Preliminary Study�, Peadiatr Anaesth, 13, pp. 43�50.
Gunawan,
D.H. (2020) �Perbandingan Pemberian Lidokain 2% Intravena dengan Fentanil
Intravena Setelah Anestesi Umum Dihentikan Terhadap Kejadian Batuk Saat
Ekstubasi Sadar�, Jurnal Ilmian Ilmu
Kesehatan, 8(2), pp. 256�272.
Harris,
M. and Chung, F., 2013, �Complications of general anesthesia�, Clinics in Plastic Surgery, pp. 503�513.
Harris,
M. and Chung, F., 2021. �Complications of General Anesthesia�.
Heryono,
A., Pramono, D. and Utarini, A., 2012, �Lama Waktu Operasi, Luas Daerah
Operasi, Banyaknya Larutan Irigasi dan Jenis Anestesi dengan Komplikasi yang
Terjadi Pascaodontektomi�, Jurnal
Manajemen Pelayanan Kesehatan, 15(3), pp. 140�146.
H�gberg
L, V�rel� S, Anderberg M, Sal� M., 2023. 'Sex differences in children operated
with pyeloplasty for pelvoureteric junction obstruction'. Pediatr Surg
Int.39(1):270.
Hohlrieder,
M. et al., 2007, �Effect of total
intravenous anaesthesia and balance anaesthesia on the frequency of coughing
during emergence from anaesthesia�, British
Journal of Anaesthesi, 99(4), pp. 587�91.
H�hne,
C., 2014. �Postoperative nausea and vomiting in pediatric anesthesia�. Current Opinion in Anaesthesiology,
27(3), pp.303-308.
Horlocker,
T., 2011. �Complications of Regional Anesthesia and Acute Pain Management�. Anesthesiology Clinics, 29(2),
pp.257-278.
Hyder,
J., Bohman, J., Kor, D., Subramanian, A., Bittner, E., Narr, B., Cima, R. and
Montori, V., 2016. �Anesthesia Care Transitions and Risk of Postoperative Complications�.
Anesthesia & Analgesia, 122(1),
pp.134-144.
Jackson
JE, Rajasekar G, Vukcevich O, Coakley BA, Nu�o M, Saadai P., 2023, 'Association
Between Race, Gender, and Pediatric Postoperative Outcomes: An Updated Retrospective
Review'. Journal of Surgical Research.
1 (281), pp 112� 21.
Kabbani
MS, Al Taweel H, Kabbani N, Al Ghamdi S. Critical arrhythmia in postoperative
cardiac children: Recognition and management. Avicenna J Med. 2017;7(3):88�95.
Kamadjaja,
D.B. (2019), �Anestesi Lokal di Rongga Mulut: Prosedur,Problema dan Solusinya�.
1st edn. Surabaya: Airlangga University Press.
Katz
SL, Monsour A, Barrowman N, Hoey L, Bromwich M, Momoli F, et al., 2020,
'Predictors of Postoperative Respiratory Complications in Children Undergoing
Adenotonsillectomy''. J Clin Sleep Med.
15;16(1): pp 41�8.
Katzung,
B., 2015, �Farmakologi Dasar & Klinik�. 12th edn. Jakarta: ECG.
Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia, 2015, �KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN��� REPUBLIK�� INDONESIA��� NOMOR
HK.02.02/MENKES/251/2015�.
Indonesia.
Kementerian
Kesehatan, 2015. �PEDOMAN NASIONAL PELAYANAN KEDOKTERAN ANESTESIOLOGI DAN
TERAPI INTENSIF�, Kementerian
Kesehatan,
2015
Kim
HJ, Son JD, Kwak KH. Unexpected and severe postintubation croup after a very
short day surgery in a pediatric patient: a case report. Korean J Anesthesiol.
2014 Oct;67(4):287�9.
Kurth,
C., Tyler, D., Heitmiller, E., Tosone, S., Martin, L. and Deshpande, J., 2014.
�National Pediatric Anesthesia Safety Quality Improvement Program in the United
States�. Anesthesia & Analgesia,
119(1), pp.112-121.
Lee,
J. et al., 2011, �Differential
effects of lidocaine and remifentanil on responseto the tracheal tube during
emergence from general anaesthesia.�, British
Journal of Anaesthesia, 106(3), pp. 410�15.
Lee,
M. et al., 2011, �The clinical
effective dose of alfentanil for suppressing cough during emergence from
desflurane anesthesia�, Korean J
Anesthesiol, 61(4), pp. 292�296.
Lee,
N., Kothari, P., Steinberger, J., Leven, D., Skovrlj, B., Guzman, J. and Cho,
S., 2021. �Duration of Anesthesia as a Risk Factor for Postoperative
Complications in Patients undergoing Anterior Cervical Discectomy and Fusion�.
Lee,
N.J.B. et al., 2016, �Duration of
Anesthesia as a Risk Factor for Postoperative Complications in Patients
undergoing Anterior Cervical Discectomy and Fusion�, The Spine Journal, 16(10), pp. 151�152.
Lehmann,
M., Monte, K., Barach, P. and Kindler, C., 2010. �Postoperative patient
complaints: a prospective interview study of 12,276 patients�. Journal of Clinical Anesthesia, 22(1),
pp.13-21.
Liu,
S. and Wu, C., 2007. �Effect of Postoperative Analgesia on Major Postoperative
Complications: A Systematic Update of the Evidence�. Anesthesia & Analgesia, 104(3), pp.689-702
Lois,
L., MD, B. and Smith, R.B. (1996), �Decision Making in Anesthesiology�. USA:
The CV Mosby Company.
Majid,
A. (2011), �Keperawatan Perioperatif�. 1st edn. Yogyakarta: Goysen Publishing.
Mangku,
G. and Senapathi, T.G.A. (2010) �Buku Ajar Ilmu Anestesia dn Reanimasi�. Edited by I.M. Wiryana et
al. Jakarta: Indeks.
Manninen, P., Raman,
S., Boyle, K. and El-Beheiry, H., 1999. �Early postoperative complications
following neurosurgical procedures �. Canadian
Journal of Anesthesia/Journal canadien d'anesth�sie, 46(1), pp.7-14.
Mehrotra S., 2019,
'Postoperative anaesthetic concerns in children: Postoperative pain, emergence
delirium and postoperative nausea and vomiting'. Indian J Anaesth. 63(9): pp 763�770.
Miller, K., Harkin,
C. and Bailey, P., 1995, �Post Operative Tracheal Extubation�, Anesth Analg, 80, pp. 149�72.
Miller, R.D., 2015,
�Miller�s Anesthesia�. 8th edn. Edited by R.D. Miller. Canada: Elsevier
Saunders.
Minneci PC, Hade EM,
Gil LA, Metzger GA, Saito JM, Mak GZ, et al., 2022. 'Demographic and Clinical
Characteristics Associated with the Failure of Nonoperative Management of
Uncomplicated Appendicitis in Children'. JAMA
Netw Open. 2;5(5): pp 229-712.
Mir ghassemi, A.,
Neira, V., Ufholz, L., Barrowman, N., Mulla, J., Bradbury, C. and Bould, M.,
2015. �A systematic review and meta-analysis of acute severe complications of
pediatric anesthesia�. Pediatric
Anesthesia, 25(11), pp.1093- 1102.
Morgan, G.E.,
Mikhail, M.S. and Murray, M.J., 2006, �Local Anesthetics (In: Clinical
Anesthesiology)�. 4th edn. New York: Mc Graw Hill Lange Medical Books.
Nada, K., 2018.
�Kecelakaan pada Anestesia dan Komplikasinya serta Penanganannya�. simdos.unud.ac.id,.
Nandini, M., 201, �Premedication and Induction of Anaesthesia in
Paediatric Patiens�, Indian J Anaesth, 56(5), pp. 496�501.
Ogle, O. and Mahjoubi, G., 2012. �Local Anesthesia:
Agents, Techniques, and Complications�. Dental
Clinics of North America, 56(1), pp.133-148.
Parami, P. and Rayalino, C., 2020. �The Incidence
of Postoperative Cognitive Dysfunction in Elderly Patients Underwent Elective
Surgery at Sanglah General Hospital�. Bali
Journal of Anesthesiology, pp.61 - 63.
Paterson, N. and Waterhouse, P., 2011, �Risk in
pediatric anesthesia�, Paediatric
Anaesthesia, 21(8), pp. 848�857.
Paterson, N. and Waterhouse, P., 2010. �Risk in
pediatric anesthesia�. Pediatric
Anesthesia, 21(8), pp.848-857.
Pawar D., 2012, 'Common post-operative
complications in children'. Indian J
Anaesth. 56(5): pp 496�501.
Permatasari, E. et
al. (2017) �Pulih Sadar Pascaanestesi yang Tertunda�, Jurnal Neuroanestesi Indonesia, 6(3), pp. 186�194.
Rosdahl, C. and Kowalski, M., 2014, �Buku Ajar
Keperawatan Dasar�, Vol.1. 10th edn. Jakarta: EGC.
Sieber, F. and Barnett, S., 2011. �Preventing
Postoperative Complications in the Elderly�. Anesthesiology Clinics, 29(1), pp.83-97.
Sinclair, R.C.F. and
Faleiro, R.J., 2006, �Delayed recovery of consciousness after anaesthesia�, Continuing Education in Anaesthesia Critical
Care & Pain, 6(3), pp. 114�118.
Taylor, A. and Grant, C., 2019. �Complications of
regional anaesthesia�. Anaesthesia &
Intensive Care Medicine, 20(4), pp.210-214.
Ulfa, M. (2017) �Hubungan Dukungan Keluarga
terhadap Tingkat Kecemasan pada Pasien Pre Operasi Terencana di Rsu Dr. Saiful
Anwar Malan�, Jurnal Ilmu Keperawatan,
5(1), pp. 57�60.
Walker, B., Long, J., Sathyamoorthy, M., Birstler,
J., Wolf, C., Bosenberg, A., Flack, S., Krane, E., Sethna, N., Suresh, S.,
Taenzer, A., Polaner, D., Martin, L., Anderson, C., Sunder, R., Adams, T.,
Martin, L., Pankovich, M., Sawardekar, A., Birmingham, P., Marcelino, R.,
Ramarmurthi, R., Szmuk, P., Ungar, G., Lozano, S., Boretsky, K., Jain, R.,
Matuszczak, M., Petersen, T., Dillow, J., Power, R., Nguyen, K., Lee, B., Chan,
L., Pineda, J., Hutchins, J., Mendoza, K., Spisak, K., Shah, A., DelPizzo, K.,
Dong, N., Yalamanchili, V., Venable, C., Williams, C., Chaudahari, R., Ohkawa,
S., Usljebrka, H., Bhalla, T., Vanzillotta, P., Apiliogullari, S., Franklin,
A., Ando, A., Pestieau, S., Wright, C., Rosenbloom, J. and�� Anderson,��
T.,�� 2018.�� �Complications� �in��
Pediatric�� Regional Anesthesia�. Anesthesiology, 129(4), pp.721-732.
Walker, B.J. et al. (2018) �Complications in
pediatric regional anesthesia an analysis of more than 100,000 blocks from the
pediatric regional anesthesia network�, Anesthesiology,
129(4), pp. 721�732.