KANDUNGAN FOLAT TEPUNG KACANG HIJAU YANG DIPROSES
DENGAN BERBAGAI PERLAKUAN PANAS
Desita
Safitri1, Kiki Azkia2, M. Naufal Adha3, M.
Ridho Adhisa Putra4, Rezky Pratama Mandala5
STIkes Husada Gemilang
[email protected]1,
[email protected]2, [email protected]3,
[email protected]4,
[email protected]5
Abstrak:
Dalam penelitian ini, tujuan utamanya adalah untuk menentukan kondisi
perlakuan awal yang optimal dalam produksi tepung kacang hijau dengan kandungan
folat dan proksimat yang paling rendah. Dengan mengevaluasi berbagai perlakuan
seperti Blanching, Pengukusan, dan Penyangraian pada suhu dan durasi tertentu,
penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perlakuan yang dapat menghasilkan
tepung kacang hijau dengan kandungan folat dan nutrisi makro yang paling
rendah. Dengan mengetahui kondisi perlakuan yang optimal, diharapkan dapat
meningkatkan kualitas dan nilai gizi dari tepung kacang hijau yang dihasilkan. Selain
itu
penelitian ini juga
mengidentifikasi kondisi pretreatment yang menyebabkan berkurangnya kandungan
folat dan nutrisi makro terendah pada prosukai tepung kacang hijau. Perlakuan
yang diterapkan pada penelitian ini meliputi : (1) Proses Blanching pada suhu
100�C dengan durasi 15 menit. Prosesnya melibatkan pemanasan pada suhu 100�C
dengan durasi 15 menit. (2) Pengukusan pada suhu 100�C dengan durasi 15 menit.
(3) Penyangraian pada suhu 160�C dengn durasi 15 menit. Berdasarkan hasil
penelitian menunjukkan bahwa perlakuan blanching pada suhu 100�C selama 15
menit memberikan hasil yang paling optimal dengan kandungan folat sebesar 18,66
ppm. Ini menunjukkan bahwa blanching dapat mempertahankan kandungan nutrisi
dalam tepung kacang hijau.
Kata Kunci: folat,
kacang hijau, Gronong, perlakuan awal
Abstract:
In this research, the main objective was to determine optimal
pretreatment conditions in the production of mung bean flour with the lowest
folate and proximate content.� By
evaluating various treatments such as Blanching, Steaming, and Roasting at
certain temperatures and durations, this research aims to identify treatments
that can produce mung bean flour with the lowest folate and macronutrient
content.� By knowing the optimal
treatment conditions, it is hoped that we can improve the quality and
nutritional value of the mung bean flour produced.� Apart from that, this research also
identified pretreatment conditions that caused a reduction in folate and the
lowest macronutrient content in prosukai mung bean flour.� The treatments applied in this research
include: (1) Blanching process at a temperature of 100�C with a duration of 15
minutes.� The process involves heating at
a temperature of 100�C for a duration of 15 minutes.� (2) Steaming at 100�C for 15 minutes.� (3) Roasting at a temperature of 160�C for a
duration of 15 minutes.� Based on the
research results, it shows that blanching treatment at a temperature of 100�C
for 15 minutes gives the most optimal results with a folate content of 18.66
ppm.� This shows that blanching can
maintain the nutritional content in green bean flour
Keywords:
folate,
green beans, Gronong, pretreatment.
����� ����
Pendahuluan
Di Indonesia, kacang hijau (Vigna radi L.) merupakan
tanaman polong-polongan yang banyak digemari masyarakat. Kacang Hijau biasa
dikonsumsi sebagai makanan tradisional. Kacang hijau juga merupakan sumber
protein yang penting bagi tubuh manusia. Sumber protein pada kacang hijau lebih
tinggi dari pada makanan nabati lainnya. Ketika kacang hijau dikombinasikan
dengan makanan nabati lainnya, mereka akan memberikan proporsi protein yang
lebih lengkap dibandingkan pilihan lainnya. Selain kaya akan protein, kacang
hijau juga kaya akan lisin. Kacang hijau yang bertunas mengandung vitamin C
yang tidak dapat ditemukan pada kacang [1]. Ekstrak kacang hijau menunjukkan
adanya aktivitas anti diabetes, antiinflamasi, antikanker, menghilangkan
bakteri, dan bertindak sebagai antioksidan [2]. Kacang hijau mengandung
protein,lemak,karbohidrat,vitamin B1 dan B2,karoten,niasi,asam folat, juga
mengandung mineral,kalsium,fosofr,besi,dll.
Folat merupkan vitamin B yang larut pada air yang
secara alami ada didalam beberapa makanan. Kekurangan folat bisa menyebabkan
cacat tabung saraf di bayi yang telah dilahirkan,gangguan otak,anemia
megalobastik,demensia,Alzheimer,kanker usus besar, dan penyakit jantung
koroner. Anemia defisiensi folat terjadi saat kekurangan dari folat memaksa
tubuh memprosukai sel darah merah secara abnormal yang tidak tidak bisa
berfungsi dengan baik.
Pengolahan kacang hijau menjadi tepung dapat
meningkatkan daya simpan juga nilai ekonomisnya. Perlakuan awal di kacang hijau
wajib dilakukan wajib guna menghilangkan bau tidak sedap� pada tepung kacang hijau sebagian besar
pengolahan pangan melibatkan proses pemanasan dengan memakai suhu tinggi
seperti pemanggangan,pengukusan,perebusan. Folat adalah senyawa yang tidak
stabil di suhu tinggi. Senyawa folat yang hilang saat proses pemasakan adalah
hasil dari degradasi vitamin secara termal kepada air rebusan serta kerusakan
akibat panas [4]. Kandungan folat yang hilang selama proses pengolahan perlu
ditentukan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menentukan kondisi perlakuan
awal� yang optimum dengan menggunakan
kandungan folat dan proksimat yang paling rendah pada produksi tepung kacang
hijau.
��
Metode
Pengolahan Tepung Kacang
Hijau
Tepung kacang hijau dibuat dengan menggunakan tiga
metode perlakuan awal yang berbeda,yaitu (1) Pemasakan kacang hijau dengan cara
merebus kacang hijau pada suhu 100�C selama 15 menit, kemudian dikeringkan,digiling
dan disaringkan ; (2) Mengukus kacang hijau menggunakan pengukus bersuhu pada
suhu 100�C selama 15 menit dilanjutkan dengan pengeringan,penggilingan dan
penyaringan ; (3) Menyangrai kacang hijau di atas alat panggangan pada suhu
160�C selama 15 menit, kemudian dikeringkan, digiling dan disaring.
Karakterisasi Tepung
Makro nutrisi pada tepung ditentukan menurut AOAC
[5]. Kadar abu,lemak dan air ditentukan oleh metode gravimetri dan kandungan
protein ditentukandengan metode destruksi.
Analisis Folat
Analisis
asam folat dilakukan oleh Owen dan Robert [6]. Dua gram sampel ditambahkan
Buffer asetat 0,1 M dengan pH 4,5 dengan perbandingan 15:1. Sampel
Hasil dan
Pembahasan
Berdasarkan
pada Tabel 1, dapat disimpulkan bahwa kacang hijau varietas Gronong mempunyai
kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan kandungan protein pada tepung
jagung (20%) [7]. Tetapi juga lebih rendah dibandingkan dengan kandungan
protein pada tepung kacang kedelai (46,06%) [8]. Kandungan protein kacang hijau
berbeda pada berbagai macam kondisi perlakuan awal. Kandungan protein tertinggi
dicapai di tepung kacang hijau yang diolah dengan cara disangrai. Hal ini
ditimbulkan karena protein yang memiliki sifat hidrofilik yang akan larut pada
air saat digunakan pada proses Blanching. Pengukusan membuat kacang hijau yang
terkena paparan panas uap.
Tabel 1 Komposisi Kimia Tepung
Kacang Hijau
|
|
pretreatment |
���� |
||
|
Abu (%) |
2.98 |
2.21 |
2.62 |
3.98 |
|
Lemak (%) |
1.36 |
2.05 |
1.32 |
0.90 |
|
Protein (%) |
22.67 |
25.22 |
26.02 |
27.05 |
|
Karbohidrat
(%) |
63.90 |
62.06 |
63.53 |
64.72 |
|
Air (%) |
9.09 |
8.47 |
6.52 |
3.34 |
Komposisi Kimia�������������������� tanpa��������������� Merebus���������� Mengukus��
Memanggang
Kadar air dapat mempengaruhi umur simpan dan
kualitas tepung. Dengan kadar air yang tinggi rentan terhadap tumbuhnya jamur
yang dapat menyebabkan kerusakan. Berdasarkan SNI 01-2997-1992 [10] tentang
persyaratan mutu tepung singkong, kadar air tepung kacang hijau memenuhi
persyaratan (<15%). Kadar air tepung kacang hijau pada perlakuan
penyangraian memberikan hasil paling rendah diantara perlakuan lainnya.
Penyangraian pada suhu tinggi menghasilkan lebih banyak penguapan air
dibandingkan dengan metode preatreatment lainnya.
Pada Tabel 2 menunjukkan kandungan asam folat pada
tepung kacang hijau kandungan folat di dalam kacang hijau (31,36 ppm) lebih
tinggi dibandingkan dengan hasil penelitian yang dilakukan Rychlik et al [11].
Rychlik menentukan kandungan kacang hijau menggunakan uji mikro dan uji
pengenceran isotop stabil. Berbeda ini mungkin disebabkan oleh berbagai faktor
seperti varietas, kondisi pertumbuhan, dan metode analisis. Dibandingkan dengan
kadnungan folat pada kacang kedelai [8], kandungan folat pada kacang hijau
lebih rendah (87,1 ppm), namun lebih tinggi dibandingkan dari penelitian yang
dilakukan oleh Ginting et al. (27,34 ppm) [12] dan Arcot dkk (19,11 ppm) [13].
Hasil penelitian menunjukkan tepung kacang hijau
tanpa perlakuan awal mempunyai kandungan asam folat paling tinggi dibandingkan
tepung kacang hijau dengan perlakuan awal. Tepung kacang hijau yang sudah
diolah dengan perlakuan awal. Perlakuan dengan pengukusan dapat menghilangkan
folat lebih tinggi dibandingkan dengan pretreatment lainnya. Suhu tinggi dapat
menyebabkan asam folat dalam kacang hijau terdegradasi. Kontak sampel dengan
air dapat menurunkan kandungan asam folat akibat pencucian [14]. Karena saat
proses pengukusan melibatkan pemanasan hingga suhu tinggi yang konstan (100�C)
dan kontak sampel dengan air, kandungan asam folat dalam tepung kacang hijau
dengan menggunakan proses pengukusan lebih rendah diantara yang lainnya.
Tabel 2 Kandungan Folat Pada
Tepung Kacang Hijau
|
Tepung kacang
hijau |
Kandungan Folat
(ppm) |
Rasio Folat (%) |
|
Tanpa perawatan
awal |
31.36 |
100 |
|
Memucat |
18.66 |
59.50 |
|
Mengukus |
0.58 |
1.85 |
|
Memanggang |
8.62 |
27.49 |
Sedangkan Blanching menyebabkan hilangnya
folat lebih sedikit karena hanaya melibatkan kontak dengan air bersuhu sedang.
Suhu air yang digunakan untuk Blanching adalah 100�C pada awal proses
dan menurun secara bertahap seiring berjalannya waktu. Metode penyangraian
dengan menggunakan suhu tinggi (160�C) menyebabkan kehilangan folat lebih
tinggi dibandingkan tepung kacang hijau yang diolah dengan perlakuan awal yaitu
Blanching. Standar folat yang digunakan dalam analisis folat adalah asam
folat. Kosentrasi standar mempunyai hubungan linier dengan luas area
kromatogram.
Penggunaan antioksidan dalam pengolahan makanan
dapat dicegah penurunan kandungan folat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa
berkurangnya kandungan asam folat pada makanan diakibatkan setelah penggunaan
autoklaf (121�C) pada makanan dan tanpa adanya antioksidan pelindung.
Diperlukan lebih banyak penelitian untuk mempelajari efek perlindungan folat
pada makanan terutama tepung kacang hijau.
Kesimpulan
Blanching merupqakan kondisi
preatreatment untuk menghasilkan tepung kacang hijau dengan kandungan folat
yang lebih tinggi dan sedikit perubahan komposisi kimia.
Daptar Pustaka
Anonim.
2013. Kacang hijau. www.natureschoice.co.za. Diakses pada tanggal 23
Oktober 2013.
Zhang,
X., Shang, P., Qin, F., Zhuo, Q., Gao, B., Huang, H., Yang, H., Shi, H., Yu,
L.,2013. Komposisi kimia dan sifat antioksidan dan anti inflamasi dari sepuluh
sampel kacang hijau komersial. Ilmu dan Teknologi pangan 54:171-178.
Anonim,
2013. Mengoptimalkan Diet Anda: Makanan Terbaik untuk Vitamin Tertentu.
Web.mit.edu. Diakses pada 23 Oktober 2013.
Eitenmiller
R.R. dan Landen, W.O., 1999. Ananlisis Vitamin untuk Kesehatan dan Ilmu Pangan.
Florida: CRC Press.
AOAC,
1995. Metode Analisis Resmi. Asosiasi Ahli Kimia Analitik Resmi, Washington.
Owen,
W.E. dan Roberts, W.L., 2003, Perbandingan Lima Tes Folat Serum dan Darah Utuh
Otomatis.
Kimia
Klinis 120:121-126.
Barbieiri
R dan Casiraghi EM. 2007. Produksi tepung food grade dari tepung biji jagung
yang dihilangkan lemaknya.
Jurnal
Internasional Ilmu� Dan Teknologi Pangan
18:35-41.
Frediansyah,
A., Miftakhussolikh., Kurniadi, M., Susanto, A., Poeloengasih, C.D., 2012.
Penentuan Kadar Folat pada Tepung Tempe Terhadap Berbagai Metode Perebusan.
Prosiding Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi X : 773-780.
Winarno
FG. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Badan
Standarisasi Nasional Indonesia. 1992. Tepung ubi kayu ( SNI 01-2997- 1992).
Jakarta.
Rychlik,
M., Englert, K., Kafter, S., Kirchhoff, E., 2007. Kandungan folat
kacang-kacangan ditentukan dengan perlakuan enzim yang dioptimalkan dan uji
pengenceran isotof� yang� stabil. Jurnal Komposisi dan Analisis Pangan
20: 411-419.
Ginting
E, Arcot J, dan Cox JM. 2003. "Penentuan Retensi Folat Selama Pembuatan
Tahu Menggunakan Perlakuan Trienzim dan Uji Mikrobiologi". Jurnal Ilmu
Pertanian Indonesia 4: 12-17.
Arcot
J, Shrestha AK, dan Gusanov , U. 2002. Uji Pengikatan Protein Enzim untuk
Menentukan Asam Folat dalam Makanan Sereal yang Diperkaya dan Stabilitas Asam
Folat dalam Kondisi Ekstraksi yang Berbeda. Food Control 13: 245-252.
Delchier,
N., Ringling, C., Le Grandois, J., Werner, D.A., Galland, R., George, S., �Rychlik,
M., Renard, C.M.G.C., Pengaruh pengolahan industri terhadap kadungan folat
dalam sayuran hijau. Kimia Pangan 139: 815-824.