Analisis Strategi Komunikasi Dalam Membangun
Hubungan Interpersonal Yang Efektif
Sitti
Nurrachmah
LP3I Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Abstrak:
Hubungan
interpersonal yang efektif merupakan landasan penting dalam kehidupan manusia,
baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional. Kemampuan membangun hubungan
yang baik dengan orang lain dapat meningkatkan kualitas hidup dan mencapai
kesuksesan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi
yang efektif dalam membangun hubungan interpersonal. Penelitian ini menggunakan
metode penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini
adalah studi literatur. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dalam
tiga tahapan yakni reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil
penelitian menunjukan bahwa strategi komunikasi yang efektif dapat membantu
individu dalam membangun hubungan interpersonal yang efektif, terdapat beberapa
strategi komunikasi yang efektif dalam membangun hubungan interpersonal, yaitu
komunikasi yang terbuka dan jujur, komunikasi yang empatik, komunikasi yang
aktif dan komunikasi yang positif.
Kata Kunci: Strategi
Komunikasi, Hubungan Interpersonal, Efektivitas
Abstract:
Effective
interpersonal relationships are an important foundation in human life, both in
personal and professional life. The ability to build good relationships with
other people can improve the quality of life and achieve success. This research
aims to analyze effective communication strategies in building interpersonal
relationships. This study used qualitative research methods. The data
collection technique in this research is literature study. The data that has
been collected is then analyzed in three stages, namely data reduction, data
presentation and drawing conclusions. The research results show that effective
communication strategies can help individuals build effective interpersonal
relationships. There are several communication strategies that are effective in
building interpersonal relationships, namely open and honest communication,
empathetic communication, active communication and positive communication.
Keywords:
Communication
Strategy, Interpersonal Relations, Effectiveness
����� ����
Pendahuluan
Hubungan interpersonal adalah hubungan yang teridiri
dari dua orang atau lebih yang saling tergantung satu sama lain dan menggunakan
pola interaksi yang konsisten (Setiawan et al., 2018). Contoh komunikasi
interpersonal (antarpribadi) seperti percakapan antara kedua teman, percakapan
keluarga, dan percakapan antara tiga orang (Manurung & Sumanti, 2022).
Tujuan dari hubungan interpersonal adalah untuk menjaga kedamaian, saling
mempengaruhi, mengubah sikap atau perilaku, dan aspek-aspek lainnya. Hubungan
interpersonal memiliki kemampuan untuk memperkembangkan sisi-sisi positif dari
karakter manusia (Wijaya & Gischa, 2023).
Hubungan interpersonal merupakan prasyarat penting
untuk terwujudnya komunikasi yang berhasil. Komunikasi yang berhasil akan
menghasilkan pemahaman yang mendalam, penafsiran yang akurat, dan tindakan yang
tepat. Ketika hubungan interpersonal seseorang semakin baik, individu tersebut
cenderung lebih terbuka dalam menyampaikan pikiran, perasaan, dan ide-ide
mereka. Hal ini pada gilirannya meningkatkan efektivitas komunikasi antara
pembicara dan pendengar, memungkinkan adanya pertukaran informasi yang lebih
baik dan pengertian yang lebih mendalam di antara mereka (Hadna, 2013).
Hubungan interpersonal yang efektif memegang peranan
yang sangat penting dalam kehidupan manusia, baik itu di ranah pribadi maupun
profesional. Kemampuan untuk membina hubungan yang baik dengan orang lain
merupakan kunci untuk meningkatkan kualitas hidup dan mencapai kesuksesan dalam
berbagai aspek kehidupan. Sehingga dengan memiliki hubungan interpersonal yang
kuat dan saling mendukung, individu dapat merasa lebih terhubung, dihargai, dan
didukung dalam mengatasi tantangan sehari-hari. Di lingkungan profesional,
hubungan interpersonal yang baik juga dapat membantu dalam membangun jaringan
kerja yang kuat, meningkatkan kolaborasi, dan mencapai tujuan bersama. Oleh
karena itu, penting bagi setiap individu untuk terus mengembangkan kemampuan dalam
membangun dan merawat hubungan interpersonal yang positif dan bermakna.
Penelitian terdahulu oleh (Muzarofah, 2020) meneliti
strategi komunikasi interpersonal guru pendidikan usia dini dalam menanamkan
nilai-nilai akhlak, hasil penelitian mengindikasikan bahwa dalam menanamkan
nilai-nilai akhlak kepada siswa PG IT Robbani Cendekia Jenangan, komunikasi
interpersonal guru dapat ditingkatkan dengan mengimplementasikan beberapa
strategi yang telah diuraikan oleh peneliti. Strategi ini mencakup: (a)
Pengamatan untuk mengenali sasaran, (b) Penggunaan bahasa yang sederhana dalam
menyusun pesan, (c) Pengulangan pesan untuk memperkuat pemahaman, dan (d)
Penggunaan media seperti boneka tangan, buku cerita, dan video yang disukai
oleh anak-anak. Untuk memastikan komunikasi yang efektif, guru dapat mengacu
pada teori komunikasi interpersonal efektif, yang mencakup: (a) Memastikan
pemahaman yang sama terhadap makna pesan, (b) Menggalakkan partisipasi sukarela
dalam proses komunikasi, dan (c) Membangun hubungan antarpribadi yang positif
guna meningkatkan efektivitas komunikasi.
Penelitian selanjutnya oleh (Purandina, 2021)
meneliti strategi guru dalam membangun strategi komunikasi interpersonal jarak
jauh, hasil penelitian mengindikasikan bahwa pertama, ada tiga strategi
komunikasi interpersonal yang digunakan guru dalam remote teaching saat Pandimic
COVID-19 di TK Tunas Mekar; 1) Komunikasi sebagai Tindakan atau Komunikasi Satu
Arah, 2) Komunikasi sebagai Interaksi atau Komunikasi Dua Arah, dan 3)
Komunikasi Banyak-Arah atau Komunikasi Transaksi. Kedua, terdapat beberapa
kendala yang ditemukan dalam penerapan strategi komunikasi tersebut yang paling
mendasar adalah respon atau feedback yang lambat dari siswa dan orang tua, anak
cepat bosan atau kehilangan fokus, dan masalah teknis terkait jaringan
internet. Sehingga dapat memberikan dampak pembelajaran yang lebih efektif dan
bermakna dengan komunikasi yang lebih baik.
Kebaharuan penelitian ini terletak pada obyek
penelitiannya yakni dalam rangka membangun hubungan interpersonal di dalam
kehidupan sehari-hari. Penelitian ini dapat menjadi kontribusi yang berharga
terhadap pemahaman kita tentang komunikasi interpersonal dan faktor-faktor yang
mempengaruhi pembangunan hubungan yang efektif. Temuan dari penelitian ini
dapat memperkaya teori-teori komunikasi interpersonal yang ada dengan
menyediakan wawasan baru tentang strategi-strategi yang dapat digunakan untuk
mencapai komunikasi yang lebih baik dan hubungan interpersonal yang lebih kuat.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi yang efektif
dalam membangun hubungan interpersonal.
Metode
Penelitian
ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan
metode penelitian yang digunakan untuk memahami dan menjelaskan fenomena sosial
secara mendalam melalui pengumpulan dan analisis data yang bersifat deskriptif
dan non-numerik. Pendekatan ini sering kali digunakan untuk mengeksplorasi
kompleksitas dari pengalaman, sikap, keyakinan, dan perilaku manusia, serta
untuk memahami konteks sosial di mana fenomena tersebut terjadi (Hasan et al.,
2023). Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah studi literatur.
Teknik pengumpulan data dalam studi literatur melibatkan pencarian,
pengumpulan, dan analisis karya-karya tertulis yang relevan dengan topik
penelitian yang sedang dipelajari. Data yang telah terkumpul kemudian
dianalisis dalam tiga tahapan yakni reduksi data, penyajian data dan penarikan
kesimpulan.
Hasil dan
Pembahasan
Manusia
merupakan makhluk sosial, karena itulah yang membedakan manusia dengan makhluk
hidup lainnya. Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, sebab senantiasa ingin
berhubungan dengan yang lainnya, ingin mengetahui lingkungan sekitarnya serta
ingin mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya, rasa itulah yang memaksa
seseorang untuk perlu berkomunikasi. Dorongan ini mendorong manusia untuk
berkomunikasi sebagai respons terhadap kebutuhan sosialnya, karena manusia
dalam kehidupan sehari-hari tentu tidak luput yang namanya interaksi dan saling
komunikasi (Iffah & Yasni, 2022).
Dalam
kehidupan sosialnya, manusia selalu eksis bersama dengan individu lainnya,
saling bergantung, dan memerlukan interaksi dengan sesama manusia. Tidak jarang
disebutkan bahwa seseorang akan menjadi sulit untuk bertahan hidup, apabila ia
tidak menjalin interaksi dengan seorang individu lainnya (Xiao, 2018). Hubungan
interaksi tersebut atau disebut dengan hubungan interpersonal manusia. Hubungan
interpersonal sangat dibutuhkan dalam interaksi sosial, seseorang yang kurang
memiliki hubungan�� interpersonal banyak� mengalami�
kegagalan� dalam kehidupan
(Simanjuntak et al., 2020). Artinya, ketidakmampuan untuk membentuk dan menjaga
hubungan interpersonal yang efektif dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan
seseorang. Hubungan interpersonal yang baik membantu individu dalam membangun
dukungan sosial, meningkatkan keterampilan komunikasi, dan menciptakan
lingkungan sosial yang positif. Sebaliknya, kurangnya hubungan interpersonal
dapat menyebabkan isolasi sosial, kesulitan dalam beradaptasi dengan
lingkungan, dan kesulitan mendapatkan dukungan sosial yang diperlukan.
Secara
defininisi, istilah "interpersonal" dapat didefinisikan sebagai
proses komunikasi yang terjadi antara dua orang atau lebih secara langsung,
yang melibatkan tatap muka. Di sisi lain, "hubungan interpersonal"
merujuk pada keterhubungan di luar diri sendiri, juga dikenal sebagai
penyesuaian dengan orang lain (Setiawan et al., 2018). Sementara itu, definisi
lain menurut rahmayanty (2010) dalam (Hadna, 2013), mengatakan bahwa hubungan
interpersonal merupakan hubungan yang terjalin dengan orang lain dengan prinsip
yang saling menguntungkan. Selanjutnya dalam penelitian (Hadna, 2013), juga
menjelaskan terdapat empat model hubungan interpersonal merujuk pada teori yang
dikemukakan oleh Coleman dan Hammen, yaitu:
1.
Model pertukaran sosial (social
exchange model)
Model pertukaran sosial menggambarkan hubungan interpersonal
sebagai transaksi dagang. Menurut model ini, individu berinteraksi dengan orang
lain karena memiliki harapan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Hubungan terjalin
karena adanya pertukaran yang diharapkan memberikan keuntungan dan memenuhi
kebutuhan masing-masing pihak.
2.
Model peranan (role model)
Model peranan menganggap hubungan interpersonal sebagai
panggung sandiwara. Menurut model ini, setiap individu memiliki peran yang
harus dimainkan sesuai dengan naskah yang telah ditentukan oleh masyarakat.
Hubungan interpersonal berkembang baik jika setiap individu dapat berperan
sesuai dengan norma dan ekspektasi yang ada.
3.
Model permainan (the games people
play model)
Model permainan menggambarkan hubungan interpersonal sebagai
permainan yang melibatkan tiga kepribadian manusia, yaitu orang tua, orang
dewasa, dan anak. Setiap kepribadian ini memiliki peran dalam interaksi, dengan
orang tua mewakili asumsi dan perilaku yang diterima dari orang tua, orang dewasa
berkaitan dengan pengolahan informasi secara rasional, dan anak melibatkan
unsur perasaan, intuisi, spontanitas, kreativitas, dan kesenangan.
4.
Model interaksional (interactional
model)
Model interaksional menganggap hubungan interpersonal
sebagai suatu sistem. Dalam model ini, setiap sistem memiliki sifat struktural,
integratif, dan medan. Sistem terdiri dari subsistem yang saling berhubungan,
berinteraksi, dan bekerja sama sebagai suatu kesatuan. Sistem memiliki
kecenderungan untuk memelihara dan mempertahankan kesatuan, dan jika
keseimbangan sistem terganggu, tindakan akan diambil untuk mengembalikan
ekuilibrium.
Keempat
model tersebut memberikan sudut pandang yang berbeda terhadap hubungan
interpersonal. Menurut (Rahman et al., 2019) hubungan interpersonal yang
efektif sangat bergantung pada kualitas komunikasi yang baik. Dalam komunikasi,
seseorang tidak hanya menyampaikan isi pesan, tetapi juga memengaruhi kadar
hubungan interpersonal. Komunikasi yang efektif dapat meningkatkan saling
pengertian, kerjasama, dan kepuasan di antara individu. Seseorang yang memiliki
kompetensi komunikasi yang baik akan mampu memperoleh dan mengembangkan tugas
yang diembannya, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas hidupnya.
Hubungan interpersonal yang baik juga membuka peluang untuk lebih terbuka dalam
menyampaikan diri, memahami persepsi tentang orang lain, dan memahami persepsi
diri sendiri. Menurut hal tersebut, komunikasi menjadi aspek penting dalam
kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, komunikasi yang tidak baik dapat memiliki
dampak negatif pada kehidupan, seperti timbulnya konflik antar sesama. Oleh
karena itu, upaya untuk membangun komunikasi yang efektif perlu ditekankan
sebagai suatu keterampilan yang mendukung hubungan interpersonal yang efektif.
Menurut
(Sari, 2020) komunikasi merupakan interaksi antara dua makhluk hidup atau
lebih, sehingga peserta komunikasi ini mungkin termasuk hewan, tanaman atau
bahkan jin. Dalam pengertian yang lebih luas, komunikasi diartikan sebagai
berbagi pengalaman, sedangkan secara khusus definisi komunikasi melibatkan
upaya untuk menyampaikan pendapat, ide, atau perasaan dengan tujuan agar dapat
diketahui atau dipahami oleh orang lain, kemudian juga melibatkan kemampuan
untuk menyampaikan informasi atau pesan dari komunikator kepada komunikan
melalui saluran atau media, dengan harapan untuk mendapatkan umpan balik.
Terdapat beberapa unsur-unsur penting dalam proses komunikasi yang dapat
diidentifikasi mengutip dalam penelitian (Anas & Sapri, 2022), seperti:
1.
Pengirim pesan (Communicator)
Pengirim pesan (Communicator) merupakan individu atau
entitas yang menginisiasi proses komunikasi dengan menyampaikan pesan. Pengirim
pesan bertanggung jawab untuk merancang dan mengirimkan pesan kepada penerima.
2.
Pesan (Massage)
Pesan (Massage) merupakan informasi atau ide yang ingin
disampaikan oleh pengirim pesan kepada penerima. Pesan dapat berupa kata-kata,
gambar, suara, atau kombinasi dari berbagai elemen komunikasi.
3.
Pengkodean (Encoding)
Pengkodean (Encoding) merupakan proses di mana pengirim
pesan mengubah pesan menjadi simbol-simbol atau kode-kode yang dapat dipahami
oleh penerima. Pengkodean memastikan bahwa pesan dapat disampaikan dengan cara
yang dapat dimengerti oleh penerima.
4.
Saluran Komunikasi (Media)
Saluran komunikasi merupakan medium atau alat yang digunakan
untuk mengirimkan pesan dari pengirim pesan kepada penerima. Saluran komunikasi
dapat berupa tulisan, lisan, visual, atau kombinasi dari berbagai jenis media.
5.
Penerima (Receiver)
Penerima (Receiver) merupakan individu atau entitas yang
menerima pesan yang disampaikan oleh pengirim pesan. Penerima memiliki peran
dalam menginterpretasikan pesan dan meresponsnya sesuai dengan pemahaman dan
konteksnya.
6.
Pemaknaan pesan (Decoding)
Pemaknaan pesan (Decoding) yaitu proses di mana penerima
mengartikan dan menguraikan pesan yang diterimanya dari pengirim pesan.
Pemaknaan pesan dapat dipengaruhi oleh latar belakang, pengalaman, dan konteks
individual penerima.
7.
Umpan Balik (Feedback)
Umpan Balik (Feedback) merupakan respons atau tanggapan yang
diberikan oleh penerima kepada pengirim pesan. Umpan balik dapat memberikan
informasi tentang sejauh mana pesan telah dipahami dan efektif, serta
memungkinkan pengaturan dan perbaikan dalam proses komunikasi.
Hubungan antara manusia dan komunikasi sangat erat
kaitannya, sehingga dapat dikatakan bahwa setiap aktivitas manusia melibatkan
proses komunikasi. Komunikasi dianggap sebagai elemen esensial dalam kehidupan
manusia, karena dimana tidak ada peristiwa, masa, atau tempat yang terlepas
dari fenomena komunikasi. Bahkan, keseluruhan aspek kehidupan manusia diproses
melalui komunikasi. Pentingnya komunikasi diungkapkan secara ekstrim oleh
Ashley Montagu, yang menyatakan bahwa manusia belajar menjadi manusia melalui
komunikasi (Rustan, 2015). Adanya keberhasilan suatu komunikasi sangat
dipengaruhi oleh kedekatan atau hubungan baik antara peserta komunikasi.
Hubungan yang baik, dapat yang telah terbentuk dalam percakapan sehari-hari
maupun yang dibangun saat terjadinya komunikasi, menciptakan keterbukaan
terutama dalam komunikasi persuasif (Rustan, 2015). Sehingga manfaat
keberhasilan komunikasi dapat membangun hubungan interpersonal peserta
komunikasi.
Membangun hubungan interpersonal yang positif dianggap
sebagai tujuan utama dalam komunikasi (Menawati & Kurniawan, 2015). Untuk
mencapai hal tersebut, strategi komunikasi menjadi suatu kebutuhan yang
esensial. Middleton menggambarkan strategi komunikasi sebagai kombinasi terbaik
dari semua elemen komunikasi, mencakup komunikator, pesan, saluran, penerima, hingga
pengaruh (efek) yang dirancang untuk mencapai tujuan komunikasi optimal.
Pemilihan strategi dianggap sebagai langkah kritis yang memerlukan penanganan
hati-hati dalam perencanaan komunikasi. Kesalahan dalam pemilihan strategi
dapat berdampak fatal, terutama dalam hal kerugian waktu, materi, dan tenaga
(Wijaya, 2015). Oleh karena itu, untuk membangun hubungan interpersonal yang
efektif, diperlukan penerapan strategi komunikasi yang tepat.
Menurut Davito, yang dikutip dalam bukunya yang
berjudul "The Interpersonal Communication Book" (Fida & Unde,
2019), efektifitas komunikasi interpersonal dimulai dengan lima kualitas umum
yang dipertimbangkan yaitu keterbukaan (openness), empati� (empathy), sikap� mendukung (supportiveness),� sikap�
positif� (positiveness), dan
kesetaraan (equality). Merujuk berdasarkan pada kualitas-kualitas tersebut,
strategi komunikasi yang efektif dalam membangun hubungan interpersonal
melibatkan langkah pertama komunikasi yang terbuka dan jujur, selanjunya
komunikasi yang empatik, ketiga komunikasi yang aktif, dan terakhir komunikasi
yang positif.
Strategi komunikasi yang terbuka dan jujur memegang
peranan penting dalam membangun hubungan interpersonal yang efektif. Hal ini
sesuai dengan pendapat Rubent (1998) yang mengatakan bahwa sikap terbuka sangat
besar pengaruhnya dalam menumbuhkan komunikasi interpersonal yang efektif
(Muruf, 2016). Pada dasarnya, manusia memiliki kecenderungan untuk
berkomunikasi dengan sesama manusia sebagai upaya untuk mendekatkan diri satu
sama lain. Kedekatan interpersonal dapat menciptakan ruang di mana seseorang
merasa nyaman menyatakan pendapat secara bebas dan terbuka. Keterbukaan ini
mempengaruhi berbagai bentuk pesan, baik verbal maupun nonverbal, menunjukkan
kualitas keterbukaan dalam komunikasi interpersonal. Keterbukaan dalam
komunikasi interpersonal melibatkan dua aspek utama. Pertama, individu dapat
saling berbagi secara transparan tanpa menyembunyikan informasi penting. Ini
menciptakan lingkungan di mana orang lain dapat memahami pikiran, pendapat, dan
gagasan dengan lebih baik, memudahkan jalannya komunikasi. Aspek kedua dari
keterbukaan menunjuk pada kemauan seseorang untuk memberikan tanggapan terhadap
orang lain dengan jujur dan terus terang, demikian pula sebaliknya (Rahmi,
2021).
Keterbukaan dan kejujuran dalam komunikasi membantu
mengurangi ketidakpahaman, konflik, dan ketegangan dalam hubungan
interpersonal. Selain itu, kemampuan untuk menyampaikan ide, nilai, dan
ekspektasi secara positif melalui komunikasi dapat memperkuat tingkat kepercayaan.
Kepercayaan dianggap sebagai elemen kunci dalam hubungan, dan komunikasi
interpersonal yang jujur, konsisten, dan transparan berkontribusi pada
pembentukan dan pemeliharaan tingkat kepercayaan yang tinggi (Susiana &
Susanti, 2023).
Contoh pelaksanaan komunikasi yang terbuka dan jujur
melibatkan tindakan nyata seperti memberikan informasi dengan transparan tanpa
menyembunyikan aspek penting, menyuarakan perasaan dan kebutuhan dengan terbuka
serta bersifat konstruktif, dan mendengarkan dengan sepenuh perhatian tanpa
menilai atau menghakimi. Sehingga� setiap
elemen dalam komunikasi tersebut diarahkan untuk menciptakan hubungan yang
sehat, saling pengertian, dan saling menghargai antara individu dalam hubungan
interpersonal.
Langkah strategi komunikasi yang selanjutnya adalah
mempraktikkan empati, yang terbukti efektif dalam memperkuat hubungan
interpersonal (Muruf, 2016). Kemampuan untuk memahami dan merasakan perasaan
serta perspektif orang lain dapat menciptakan kedekatan yang lebih dalam.
Komunikasi empatik adalah bentuk komunikasi yang mencerminkan adanya saling
pengertian antara komunikator dan komunikan. Dalam hal ini, komunikasi empatik
menciptakan interaksi yang memungkinkan setiap pihak memahami sudut pandang dan
perasaan pihak lain.
Empati dalam komunikasi mengacu pada kemampuan
seseorang untuk mengetahui apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh orang lain
pada suatu situasi, dengan melihat dari sudut pandang dan perspektif mereka.
Menurut Zoll dan Enz (2012) empati dapat diartikan sebagai kemampuan dan
kecenderungan seseorang (�observer�) untuk memahami apa yang orang lain
(�target�) pikirkan dan rasakan pada situasi tertentu (Kustiawan et al., 2022).
Komunikasi empatik, yang melibatkan keberlanjutan dalam menciptakan pengertian
dan dukungan, dapat menjadi sarana yang sangat efektif untuk menjalin saling
pengertian antara dua pihak. Menerapkan strategi komunikasi yang empati
melibatkan tindakan seperti memahami dan merasakan perasaan serta sudut pandang
orang lain, menunjukkan empati dan pengertian terhadap situasi dan kebutuhan
orang lain, serta memberikan dukungan dan semangat dengan tulus. Dampaknya
dapat menciptakan hubungan komunikasi yang penuh kehangatan dan perhatian,
menunjukkan kepekaan terhadap perasaan dan kebutuhan individu lainnya.
Strategi komunikasi yang ketiga adalah komunikasi yang
aktif, yang melibatkan interaksi saling memberikan feedback atau respon antara
komunikator dan komunikan secara terus menerus. Komunikasi aktif menekankan
pada adanya dialog dua arah, di mana kedua belah pihak terlibat dalam proses
komunikasi (Aulia, 2022). Pendekatan ini meningkatkan interaktivitas dalam
komunikasi dengan memastikan bahwa informasi mengalir dalam kedua arah, bukan
hanya dari satu arah saja, karena dengan memastikan bahwa komunikasi berlangsung
dua arah, baik komunikator maupun komunikan memiliki kesempatan untuk
berkontribusi, bertukar ide, dan merespons pesan yang disampaikan.
Selain itu, komunikasi aktif menekankan pendengaran
yang aktif, di mana pihak yang mendengarkan sepenuhnya fokus pada pembicara,
memahami pesan dengan baik, dan merespons dengan benar. Respons yang
memperhatikan konteks dan merespons dengan bijak dapat meningkatkan efektivitas
komunikasi, menguatkan hubungan, dan menciptakan rasa saling menghargai.
Sehingga, melalui komunikasi yang aktif menciptakan suasana saling pengertian
dan menghormati antara komunikator dan komunikan. Contoh penerapan komunikasi
yang aktif melibatkan seperti mendengarkan secara aktif dengan penuh perhatian
dan fokus, mengajukan pertanyaan yang relevan untuk memperdalam informasi,
serta memberikan respons yang tepat sesuai dengan topik pembicaraan.
Strategi komunikasi terakhir adalah komunikasi yang
bersifat positif, di mana keberhasilan komunikasi interpersonal bergantung pada
adanya perhatian positif terhadap diri seseorang. Komunikasi akan terpelihara
baik jika suatu perasan positif terhadap orang lain dikomunikasikan,
penyampaian perasaan positif terhadap orang lain menjadi kunci dalam menjaga
kualitas komunikasi, dan adanya perasaan positif tersebut dapat berkontribusi
pada peningkatan efektivitas kerjasama (Rahmi, 2021).
Komunikasi positif mencakup sikap optimis, memberikan
penghargaan, dan memberikan dukungan. Sikap optimis membantu menciptakan
suasana yang menginspirasi dan memberikan energi positif dalam interaksi
interpersonal. Memberikan penghargaan kepada orang lain atas prestasi atau
kontribusi mereka bukan hanya mengakui nilai dari apa yang telah dicapai,
tetapi juga memperkuat ikatan interpersonal. Sementara memberikan dukungan menunjukkan
kepedulian dan keterlibatan emosional, ini dapat berupa dukungan moral, empati,
atau bahkan bantuan praktis sesuai dengan kebutuhan. Memberikan dukungan,
seseorang tidak hanya mengkomunikasikan perhatian terhadap keadaan orang lain
tetapi juga menciptakan dasar yang kokoh untuk hubungan yang saling mendukung.
Contoh penerapan komunikasi positif seperti menjaga suasana optimis dan penuh
semangat dalam berkomunikasi, memberikan penghargaan dan apresiasi terhadap
kontribusi serta usaha orang lain, dan memberikan dukungan serta dorongan untuk
mencapai tujuan bersama.
Melalui penerapan strategi komunikasi yang efektif
dapat berkontribusi pada peningkatan kualitas hubungan interpersonal, seperti
memperkuat rasa saling percaya, pengertian, dan kedekatan dengan orang lain.
Proses ini juga melibatkan pembangunan ikatan yang lebih kuat dengan keluarga,
teman, kolega, dan pasangan. Selain itu, strategi komunikasi yang tepat dapat
menciptakan lingkungan yang positif, meningkatkan tingkat kerjasama,
kolaborasi, dan saling dukung dalam mencapai tujuan bersama.
Implementasi strategi komunikasi seperti komunikasi
yang terbuka dan jujur, komunikasi yang empatik, komunikasi yang aktif, dan
terakhir komunikasi yang positif secara konsisten dan berkelanjutan, seseorang
memiliki peluang untuk memperkuat hubungan interpersonalnya yang efektif dan
menciptakan lingkungan yang optimis untuk membangun dalam berbagai aspek
kehidupan mereka, dengan demikian kemampuan untuk membangun hubungan
interpersonal yang efektif melalui komunikasi akan memberikan dampak positif
pada kualitas hidup manusia secara keseluruhan, mengingat manusia sebagai
mahluk sosial.
Kesimpulan
Strategi
komunikasi yang efektif memiliki peran penting dalam membantu individu
membangun hubungan interpersonal yang berkualitas. Berbagai strategi komunikasi
efektif telah diidentifikasi, termasuk komunikasi yang terbuka dan jujur, yang
memungkinkan individu untuk saling berbagi secara transparan tanpa
menyembunyikan informasi penting. Selain itu, komunikasi yang empatik juga
terbukti efektif dalam memperkuat hubungan interpersonal, karena kemampuan
untuk memahami dan merasakan perasaan serta perspektif orang lain dapat
menciptakan kedekatan yang lebih dalam. Selanjutnya, komunikasi yang aktif juga
memainkan peran krusial dalam membangun hubungan yang efektif dengan
mengedepankan pendengaran yang aktif, pertanyaan yang relevan, dan respons yang
tepat. Terakhir, komunikasi yang positif, yang mencakup sikap optimis,
penghargaan, dan dukungan, dapat memperkuat ikatan interpersonal dan
menciptakan lingkungan yang mendukung dan membangun. Sehingga engan menerapkan
berbagai strategi komunikasi ini, individu dapat meningkatkan kualitas hubungan
interpersonal mereka dan menciptakan ikatan yang lebih kuat dengan orang lain
dalam berbagai konteks kehidupan.
Daptar Pustaka
Anas,
N., & Sapri, S. (2022). Komunikasi antara kognitif dan kemampuan berbahasa.
EUNOIA (Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia), 1(1), 1-8.
Aulia,
W. (2022). Komunikasi interaktif dalam dakwah Agam dan Basyasman di aplikasi
goplay. Undergraduate (S1) thesis, UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
Fida,
W. N., & Unde, A. A. (2019). Strategi Komunikasi Interpersonal Orang Tua
Terhadap Anak Remaja Dalam Menghadapi Pergaulan Bebas Di Negeri Tulehu
Kabupaten Maluku Tengah. MEDIALOG: Jurnal Ilmu Komunikasi, 2(1), 20-30.
Hadna,
I. N. A. (2013). Hubungan Interpersonal Dalam Pengadaan Bahan Pustaka: Studi
Kasus Di Perpustakaan Uin Sunan Kalijaga. Baca: Jurnal Dokumentasi Dan
Informasi, 34(2), 183-200.
Hasan,
M., Harahap, T. K., Hasibuan, S., Rodliyah, I., Thalhah, S. Z., Rakhman, C. U.,
... & Arisah, N. (2023). Metode penelitian kualitatif. Penerbit Tahta
Media.
Iffah,
F., & Yasni, Y. F. (2022). Manusia Sebagai Makhluk Sosial. Lathaif:
Literasi Tafsir, Hadis Dan Filologi, 1(1), 38-47.
Kustiawan,
W., Khaira, A., Nisa, A., Nurhalija, M., & Ramadhan, R. (2022). Komunikasi
Asertif dan Empatik dalam Psikologi Komunikasi. JIKEM: Jurnal Ilmu Komputer,
Ekonomi Dan Manajemen, 2(2), 2483-2496.
Manurung,
R., & Sumanti, S. T. (2022). Pola Komunikasi Interpersonal Guru Dalam
Memotivasi Belajar Santri Pesantren Moderen Darul Arafah Raya di Kecamatan
Kutalimbaru Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara. Jurnal Sains Sosio
Humaniora, 6(1), 910-921.
Menawati,
T., & Kurniawan, H. (2015). Pentingnya Komunikasi Dalam Pelayanan Kesehatan
Primer. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala, 15(2), 120-124.
Muruf,
Y. D. (2016). Pengaruh Pelatihan Komunikasi Interpersonal Terhadap Kepuasan
Relasi dengan Rekan Kerja Pada Guru. Insight: Jurnal Ilmiah Psikologi, 18(1),
92-108.
Muzarofah,
T. N. (2020). Strategi Komunikasi Interpersonal Guru Pendidikan Usia Dini Dalam
Menanamkan Nilai-nilai Akhlak (di PG IT Robbani Cendekia Jenangan) (Doctoral
dissertation, IAIN Ponorogo).
Purandina,
I. P. Y. (2021). Guru Dalam Membangun Strategi Komunikasi Interpersonal Jarak
Jauh. WIDYALAYA: Jurnal Ilmu Pendidikan, 1(3), 294-305.
Rahman,
A., Rezal, M., Kamal, K., Mallo, A. G., Nadjemudin, S., & Lanonci, L. A.
(2019). Pengaruh Hubungan Interpersonal, Lingkungan Kerja, Dan Kecerdasan
Emosional Terhadap Kinerja Pegawai Pada Kantor Komisi Pemilihan Umum Daerah
(Kpud) Kabupaten Parigi Moutong. Jurnal Ekonomi Trend, 7(1), 58-70.
Rahmi,
S. (2021). Komunikasi interpersonal dan hubungannya dalam konseling. Syiah
Kuala University Press.
Rustan,
A. S. (2015). Menjalin Hubungan (Relation) dalam Perspektif Komunikasi Efektif.
KOMUNIDA: Media Komunikasi dan Dakwah, 5(1), 78-90.
Sari,
A. F. (2020). Etika komunikasi. TANJAK: Journal of Education and Teaching,
1(2), 127-135.
Setiawan,
N., Hasibuan, H. A., & Setiawan, A. (2018). PEngaruh Hubungan Interpersonal
Dan Efektivitas Kerja Terhadap Kualitas Pelayanan Publik: Studi Empiris Pada
Kantor Basarnas Medan. Jurnal Ilmu Manajemen Methonomix, 1(2), 77-84.
Simanjuntak,
D., Sahputra, A., & Zufrie, Z. (2020). Pengaruh Komunikasi, Hubungan
Interpersonal dan Lingkungan Kerja terhadap Kepuasan Kerja Guru MTs Negeri
Lohsari Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Informatika, 8(1), 45-53.
Susiana,
S., & Susanti, N. D. (2023). Analisis Pola Komunikasi Interpersonal:
Fondasi Pilar Keluarga Sakinah. JAWI: Journal of Ahkam Wa Iqtishad, 1(4),
249-258.
Wijaya,
A., & Gischa, S. (2023). Mengenal Hubungan Interpersonal dan
Faktor-faktornya. https://www.kompas.com/skola/read/2023/11/26/160000869/mengenal-hubungan-interpersonal-dan-faktor-faktornya?page=all#google_vignette. Diakses pada 16
Februari 2024.
Wijaya,
I. S. (2015). Perencanaan dan strategi komunikasi dalam kegiatan pembangunan.
Lentera, 17(1).
Xiao,
A. (2018). Konsep interaksi sosial dalam komunikasi, teknologi, masyarakat.
Jurnal Komunika: Jurnal Komunikasi, Media Dan Informatika, 7(2), 94-99.