Analisis Kestabilan Lereng Penambangan Ex Disposal Cv Gudang Hitam Prima Kecamatan Sanga Sanga Kabupaten Kutai
Kartanegara
Shalizam1,
Tommy Trides2, Albertus Juvensius Pontus3, Revia Oktaviani4,
Agus Winarno5
Universitas Mulawarman Samarinda,
Indonesia
[email protected]
Abstrak:
Kegiatan penambangan terbuka
tidak lepas dari lereng tambang. Lereng tambang tidak lepas dari faktor
keamanan. Untuk menentukan faktor keamanan digunakan metode kesetimbangan batas
yaitu Morgenstern-Price dengan simulasi Monte-Carlo dengan dua
kondisi, yaitu statis dan dinamis. Dari 3 section yang telah di analisis
didapatkan 2 section yang tidak aman, yaitu pada section A-A�
dengan nilai FK pada kondisi statis untuk lereng utara sebesar 0,599 dengan PK
83,1% dan dalam kondisi dinamis FK sebesar 0,360 dengan nilai PK 93,1%, lereng
selatan dengan nilai FK dalam kondisi statis sebesar 1,29 dengan PK 35,4% dan
kondisi dinamis FK 0,662 dengan PK 76,5%. Section E-E� pada lereng sisi
utara didapatkan FK kondisi statis 1,3 dengan nilai PK 12,9% dan dalam kondisi
dinamis dengan nilai FK 1,2 dan nilai PK 26,1%. Dari hasil analisis tersebut
kemudian dilakukan redesign goemetri lereng agar mendapatkan lereng yang
stabil. Hasil redesign geometri setelah dilakukan simulasi, didapatkan
geometri lereng overall sisi selatan yang stabil dengan tinggi lereng overall
88 m, sudut overall 40� dengan FK statis 1,8 dengan PK 0,1% dan FK
dinamis 1,8 dengan PK 0,0%. dan lereng sisi utara dengan tinggi overall
118 m dengan sudut overall 35� dengan FK statis 1,5 dengan PK 0,4% dan FK
dinamis 2,0 dengan PK 0,3%.
Kata
Kunci: Kestabilan Lereng, Faktor
Keamanan, Probabilitas Kolongsoran, Morgenstern-Price
Abstract:
Open pit mining activities cannot be separated from the
slopes of the mine. The slope of the mine cannot be separated from the safety
factor. To determine the safety factor, the boundary equilibrium method is
used, namely Morgenstern-Price with Monte-Carlo simulation with two conditions,
namely static and dynamic. Of the 3 sections that have been analyzed, 2 unsafe
sections were obtained, namely in sections A-A' with FK values in static
conditions for the north slope of 0.599 with PK 83.1% and in dynamic conditions
FK of 0.360 with PK values of 93.1%, the southern slopes with FK values in
static conditions of 1.29 with PK 35.4% and dynamic conditions of FK 0.662 with
PK 76.5%. Section E-E' on the north side slope obtained FK static conditions
1.3 with a PK value of 12.9% and in dynamic conditions with a FK value of 1.2
and a PK value of 26.1%. From the results of the analysis, a slope goemetric
redesign was then carried out to obtain a stable slope. The results of the
geometry redesign after simulation, obtained a stable south side overall slope
geometry with an overall slope height of 88 m, an overall angle of 40 � with a
static FK of 1.8 with a PK of 0.1% and a dynamic FK of 1.8 with a PK of 0.0%.
and the north side slope with an overall height of 118 m with an overall angle
of 35� with a static FK of 1.5 with a PK of 0.4% and a dynamic FK of 2.0 with a
PK of 0.3%.
Keywords: Slope Stability, Factor of Safety, Probability Failure,
Morgenstern-Price
����� ����
Pendahuluan
Ilmu geoteknik merupakan
salah satu aspek yang sangat penting karena terdapat suatu masalah yang
berkaitan dengan kestabilan lereng, khususnya pada tambang terbuka. Hal ini
berhubungan dengan meningkatnya produksi pada perusahaan tambang di Indonesia.
Dalam penambangan terbuka, semakin luas dan dalam kita menggali, maka semakin
banyak material overburden yang akan dipindahkan ke area disposal
serta akan meningkatkan risiko keselamatan. Maka dari itu, area disposal harus
dipastikan dalam keadaan stabil dan aman.
Longsoran pada lereng
disebabkan oleh beberapa faktor, mencakup sifat fisik dan mekanik batuan, serta
kondisi air tanah. Maka dari itu, diperlukan analisis kestabilan lereng yang
baik dan aman yang sesuai dengan Kepmen ESDM No. 1827 K/30/MEM/2018. Ukuran
kestabilan lereng dapat diketahui dengan menghitung nilai dari faktor keamanan
(FK).
Lokasi penelitian ini
merupakan daerah bekas penambangan yang telah melakukan kegiatan mine out,
namun pada saat ini akan dilakukan penambangan kembali pada area IUP CV. Gudang
Hitam Prima, yaitu pada area pit 3. Area pit 3 dikelilingi oleh
material overburden, atau material timbunan yang telah ditinggalkan oleh
perusahaan sebelumnya, yaitu PT.Leighton Contractors Indonesia. Kegiatan mine
out dilakukan pada tahun 2015 dan penambangan kembali dilakukan pada awal
tahun 2023. Jarak waktu antara pada saat mine out dan akan dilakukan
kegiatan penambangan kembali sekitar 8 tahun.
Area sidewall akan
dilakukan penambangan dimana dibutuhkan kajian geoteknik kembali pada sisi sidewall
tersebut karena telah mengalami penarikan dinding lereng, yang dimana dominan
materialnya merupakan material timbunan (overburden), sehingga
dibutuhkan rekomendasi dari hasil analisis kestabilan lereng dengan geometri
yang sesuai dengan standar Kepmen� No.
1827 K/30/MEM/2018.
Oleh karena itu, tujuan dilakukannya
penelitian ini yaitu untuk mengetahui faktor keamanan dan probabilitas
kelongsoran pada lereng disposal serta memberikan rekomendasi geometri
lereng disposal agar tercapainya keamanan yang baik yang sesuai dengan
Kepmen� No. 1827 K/30/MEM/2018 dan
standar perusahaan.
Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian yang merupakan operasi
penambangan batubara milik CV. Gudang Hitam Prima yang secara administratif
terletak pada Kelurahan Sanga Sanga Muara, Kecamatan Sanga Sanga, Kabupaten
Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Secara geografis letak dan
kedudukan CV. Gudang Hitam Prima berada pada 117�16�26� BT dan 0�36�34� LS.
Tinjauan Pustaka
Lereng
Lereng adalah permukaan bumi yang membentuk sudut kemiringan tertentu
dengan bidang horizontal. Lereng dapat terbentuk secara alami maupun buatan
manusia. Lereng yang terbentuk secara alami misalnya, lereng bukit dan tebing
sungai, sedangkan lereng buatan manusia antara lain galian dan timbunan,
tanggul dan dinding tambang terbuka (Putri & Saldy,
2022).
Sudut lereng jenjang hasil penggalian oleh alat gali mekanis seperti loader
atau shovel dipermukaan jenjang pada umumnya akan menghasilkan sudut
lereng antara 60-65 derajat. Sudut lereng yang lebih curam biasanya memerlukan
peledakan pre-splitting (Bargawa, 2018).
�
Gambar 1 Crest dan Toe (Bargawa, 2018)
Kestabilan
Lereng
Menurut (Nurhidayat et al.,
2019)
lereng yang alami ataupun lereng buatan memiliki nilai kestabilan yang
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu gaya penahan
dan gaya penggerak yang bekerja dalam kestabilan lereng tersebut. Gaya-gaya
yang bekerja pada lereng secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu
gaya-gaya yang cenderung untuk menyebabkan material pada lereng untuk bergerak
ke bawah dan gaya-gaya yang menahan material pada lereng sehingga tidak terjadi
pergerakan atau longsoran.
Analisis kestabilan lereng dilakukan untuk menilai tingkat kestabilan
suatu lereng. Istilah� kestabilan lereng
dapat didefinisikan sebagai ketahanan blok di atas suatu permukaan miring
(diukur dari garis horizontal) terhadap runtuhan (collapsing) maupun
gelinciran (sliding) (Arif, 2021).
Disposal
����������� Waste dump atau disposal adalah
daerah pada suatu operasi tambang terbuka yang dijadikan tempat membuang kadar
rendah dan material bukan bijih. Disposal biasanya dapat dibuat pada
lubang-lubang bekas penambangan ataupun bekas penambangan luar (Farrand, 2019).
Disposal atau tempat penimbunan ini harus direncanakan dengan
baik agar timbunan tanah tersebut berada dalam kondisi stabil. Stabilitas
lereng disposal tergantung pada faktor utama karakteristik material timbunan.
Karakteristik material ini memuat perilaku material yang berbeda dengan
perilaku batuan, sehingga stabilitas lereng disposal akan berbeda dengan
stabilitas lereng batuan pada lokasi penambangan batubara (Prasetyo, 2011).
Longsoran Busur (Circular Failure)
Longsoran busur sering terjadi pada lereng batuan
yang lapuk atau yang sudah sangat terkekarkan dan pada lereng-lereng timbunan.
Bentuk bidang gelincir pada longsoran busur sesuai namanya akan menyerupai
busur bila digambarkan pada penampang melintang. Longsoran jenis ini sering
terjadi jika ukuran fragmen tanah atau massa batuan sangat kecil dibandingkan
dengan ukuran lereng. Maka dari itu, lereng yang tersusun oleh material pasir,
lanau, atau partikel lain yang lebih kecil memiliki kemungkinan besar untuk
mengalami longsoran busur (Arif, 2016).
Gambar
2 Skema
Longsoran Busur (Arif,
2016)
Kriteria
Keruntuhan
Mohr-Coulumb
Teori
ini disuguhkan oleh Mohr pada tahun 1980
tentang keruntuhan pada material yang menyatakan bahwa keruntuhan terjadi pada
suatu material akibat kombinasi kritis antara tegangan normal dan geser, dan
bukan hanya akibat tegangan normal maksimum atau tegangan geser maksimum saja.
Jadi, hubungan antara tegangan normal dan geser pada sebuah bidang keruntuhan (Braja, 1985).
Analisis
Probabilitas
Probabilitas kelongsoran adalah
peluang terjadinya peristiwa kelongsoran lereng tambang dan atau alami. Semakin
tinggi nilai probabilitas kelongsoran (PK) lereng, maka semakin besar peluang
lereng tersebut untuk longsor (Azizi dkk, 2019).
Keterangan :
PK ����� = Probabilitas
kelongsoran
N�� ����� = Banyaknya simulasi
M� ������ = Jumlah kemunculan nilai gaya penahan
> gaya penggerak
Metode Kesetimbangan Batas (Limit
Equilibirium Method)
Metode kesetimbangan batas merupakan metode yang sangat
populer untuk digunakan dalam menganalisis kestabilan lereng tipe gelinciran
translasional dan rotasional. Metode ini relatif sederhana, mudah digunakan,
serta telah terbukti keandalannya dalam praktik rekayasa selama bertahun-tahun.
Pada metode ini, perhitungan analisis kestabilan lereng hanya menggunakan
kondisi kesetimbangan statik dan mengabaikan adanya hubungan tegangan-regangan
pada lereng. Asumsi lainnya, yaitu geometri dari bentuk bidang runtuh, harus
diketahui dan ditentukan terlebih dahulu (Arif, 2021).
Kondisi kestabilan lereng dalam metode kesetimbangan batas
dinyatakan dalam indeks faktor keamanan. Faktor keamanan dihitung menggunakan
kesetimbangan gaya, kesetimbangan momen, atau menggunakan kedua kondisi
kesetimbangan tersebut, tergantung metode perhitungan yang dipakai
Metode Morgenstren-Price
Metode
ini adalah salah satu metode yang berdasarkan prinsip kesetimbangan batas yang
dikembangkan oleh Morgenstern dan Price pada tahun 1965, dimana proses
analisanya merupakan hasil dari kesetimbangan setiap gaya-gaya normal dan momen
yang bekerja pada tiap irisan dari bidang kelongsoran lereng tersebut baik gaya
(Takwin, 2017).
Menurut KEPMEN ESDM No 1827 K/30/MEM/2018 terdapat ambang batas nilai
probabilitas kelongsoran untuk kestabilan lereng. Ada tiga kategori dalam
usulan ambang batas FK dan PK , yaitu dampak longsoran, FK rata-rata, dan PK
maksimum.
Tabel 1 Nilai Ambang Batas FK dan PK Lereng Tambang
(KEPMEN ESDM No 1827 K/30/MEM/2018)� Lampiran II
|
Jenis Lereng |
Keparahan Longsor |
Kriteria dapat diterima |
||
|
FK Statis (Min) |
FK Dinamis (Min) |
Probabilitas Longsor
(Maks) |
||
|
Lereng Tunggal |
Rendah s.d Tinggi |
1,1 |
Tidak Ada |
20�50% |
|
Inter-ramp |
Rendah |
1,15�1,2 |
1,0 |
25% |
|
Menengah |
1,2-1,3 |
1,0 |
20% |
|
|
Tinggi |
1,2-1,3 |
1,1 |
10% |
|
|
Lereng Keseluruhan |
Rendah |
1,2-1,3 |
1,0 |
15-20% |
|
Menengah |
1,3 |
1,05 |
10% |
|
|
Tinggi |
1,3-1,5 |
1,1 |
5% |
|
Pada penelitian ini untuk jenis lereng keseluruhan menggunakan
keparahan longsor tinggi, dengan FK statis 1,3-1,5 dan FK dinamis 1,1 dengan PK
5%.
Metode Penelitian
Penelitian ini
menggunakan metode kuantitatif, di mana teknik pengumpulan data terbagi menjadi
2 yaitu data primer yang diperoleh secara langsung di lapangan dan data
sekunder yang didapatkan dari arsip data perusahaan pada tempat penelitian
dilakukan.
Penelitian ini terdiri
dari beberapa tahapan dalam memperoleh data, yaitu tahapan lapangan dengan
mengambil sampel core pada area pit 3 dengan melakukan pengeboran
geoteknik, kemudian melakukan sampling, lalu dilakukan pengujian sifat fisik
dan mekanik pada laboratorium.
.�� Analisis kestabilan lereng ini menggunakan
metode kesetimbangan batas, di mana untuk
melakukan perhitungan faktor keamanan dan probabilitas kelongsoran dengan
metode kesetimbangan batas Morgenstern-Price dengan penerapan simulasi Monte
Carlo 1000 kali percobaan.
Hasil dan Pembahasan
Hasil pengujian data yang di
dapatkan dari pengujian sifat fisik dan mekanik di mana digunakan dalam
parameter masukan dalam melakukan analisis dapat dilihat pada Tabel 1 berikut :
Tabel 2 Hasil Uji Baik Suai
|
2,11 |
0,18 |
|||||
|
87,05 |
64,01 |
|||||
|
35,38 |
||||||
|
1,03 |
0,04 |
1,0 |
1,07 |
|||
|
Lognormal |
||||||
Berdasarkan
Tabel 1 di atas merupakan hasil dari rekapitulasi dari data sifat fisik dan
mekanik yang kemudian di lakukan uji baik suai untuk menentukan nilai mean,
standar deviasi, relatif minimal, relatif maksimal dan jenis distribusi. Nilai
bobot isi, kohesi, sudut geser dalam dan jenis distribusi merupakan data sifat
fisik mekanik yang digunakan sebagai parameter dalam melakukan analisis
kestabilan lereng.
Analisis
Kestabilan Lereng
Analisis
kestabilan lereng ini dilakukan dengan membuat 3 section, di mana section
atau sayatan mewakili dari titik pengeboran pada area disposal. Sayatan
dapat dilihat pada Gambar 1 berikut :
Gambar 1 Peta Section Area Pit 3
����������� Pada peta section
di atas, pemodelan lereng akan dibagi menjadi 3 sayatan yaitu section
A-A�, B-B� dan E-E� di mana dalam setiap sayatan akan di bagi menjadi 2 lereng sidewall,
yaitu sisi utara dan sisi selatan. Untuk melihat litologi dari section A-A�
dapat dilihat pada Gambar 2 dan Gambar 3 dibawah ini.
Gambar 2 Stratigrafi Section A-A� Sisi Utara
Gambar 3 Stratigrafi
Section A-A� Sisi Selatan
Dalam
melakukan analisis kestabilan lereng, diasumsikan tinggi permukaan air
mengikuti permukaan lereng, dalam kondisi jenuh. Untuk mendapatkan nilai faktor
keamanan dilakukan dalam dua kondisi, yaitu pada kondisi statis dan kondisi
dinamis.
Pada kondisi dinamis di tambahkan faktor ketergangguan yaitu
distribusi load dan seismic load di mana diasumsikan bahwa
kendaraan dump truck yaitu (Articulated
Dump Truk) tipe A406 melewati lereng, maka digunakan nilai distribusi
load sebagai pembebanan pada lereng dengan nilai 240,62 kPa.
Nilai seismic load merupakan koefisien getaran gempa, di
mana nilai koefisien di dapatkan berdasarkan peta gempa wilayah Indonesia, pada lokasi penelitian, yaitu Kalimantan Timur
menunjukkan nilai 0.05 g. Peta kegempaan dapat dilihat pada Gambar 4 berikut ini :
Lokasi
Penelitian
Hasil
Analisis Faktor Keamanan
Setelah data-data
dikumpulkan dan di input dalam software analisis kestabilan lereng, dilakukan
analisis terlebih dahulu pada desain lereng awal untuk melihat kondisi lereng apakah
dalam kondisi tidak aman atau aman. Faktor keamanan dan probabilitas
kelongsoran dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini :
Tabel 3 FK Desain Awal Sisi
Selatan
|
Cross Section |
Dimensions of the south side
slope |
FK Statis |
PK Statis (%) |
FK Dinamis |
PK Dinamis (%) |
Ket. |
||||
|
Single Height (m) |
Berm Width (m) |
Overall Height (m) |
Overall Slope (�) |
Single Slope (�) |
||||||
|
A-A� |
6 |
3 |
85 |
36 |
50 |
1,29 |
35,1 |
0,66 |
76,6 |
Tidak Aman |
|
B-B� |
6 |
4,4 |
29 |
32 |
42 |
4,4 |
0,0 |
4,4 |
0,0 |
Aman |
|
E-E� |
6 |
3 |
68 |
33 |
50 |
5,1 |
0,0 |
4,7 |
0,0 |
Aman |
Tabel 4 FK Desain Awal Sisi
Utara
|
Cross Section |
Dimensions of the south side
slope |
FK Statis |
PK Statis (%) |
FK Dinamis |
PK Dinamis (%) |
Ket. |
||||
|
Single Height (m) |
Berm Width (m) |
Overall Height (m) |
Overall Slope (�) |
Single Slope (�) |
||||||
|
A-A� |
12 |
3 |
114 |
33 |
60 |
0,59 |
83 |
0,36 |
93,1 |
Tidak Aman |
|
B-B� |
12 |
3 |
29 |
51 |
60 |
2,4 |
0,0 |
2,4 |
0,0 |
Aman |
|
E-E� |
12 |
3 |
99 |
50 |
60 |
1,3 |
12,8 |
1,2 |
26,1 |
Tidak Aman |
Setelah dilakukan analisis
pada desain lereng awal, diketahui bahwa lereng sisi utara pada section
A-A� dan section E-E�, pada lereng sisi selatan pada section A-A�
dalam kondisi tidak aman karena lereng tersebut merupakan material timbunan
sehingga berpengaruh pada kestabilan lereng itu sendiri. Oleh karena itu, perlu
dilakukan redesain geometri lereng tersebut untuk mendapatkan FK dan PK
dalam kondisi stabil dan aman sesuai dengan acuan dan ketentuan yang telah
ditetapkan Kepmen ESDM No. 1827/K/30/MEM/2018.
Kemudian untuk melihat hasil analisis faktor
keamanan geometri setelah di redesign dapat dilihat pada Tabel 4 dan
Tabel 5 di bawah ini :
Tabel 5 Rekomendasi Geometri Lereng Selatan
|
Cross Section |
Dimensions of the south side
slope |
FK Statis |
PK Statis (%) |
FK Dinamis |
PK Dinamis (%) |
Ket. |
||||
|
Single Height (m) |
Berm Width (m) |
Overall Height (m) |
Overall Slope (�) |
Single Slope (�) |
||||||
|
A-A� |
8 |
7 |
87 |
35 |
60 |
2,42 |
0,0% |
2,39 |
0,2% |
Aman |
|
B-B� |
8 |
7 |
34 |
36 |
60 |
2,46 |
0,1% |
2,42 |
0,3% |
Aman |
|
E-E� |
8 |
7 |
68 |
36 |
60 |
2,14 |
0,0% |
2,10 |
0,0% |
Aman� |
Tabel 6 Rekomendasi Geometri Lereng Utara
|
Cross Section |
Dimensions of the south side
slope |
FK Statis |
PK Statis (%) |
FK Dinamis |
PK Dinamis (%) |
Ket. |
||||
|
Single Height (m) |
Berm Width (m) |
Overall Height (m) |
Overall Slope (�) |
Single Slope (�) |
||||||
|
A-A� |
8 |
7 |
114 |
30 |
50 |
2,81 |
0,0% |
2,02 |
2,7% |
Aman |
|
B-B� |
8 |
7 |
30 |
33 |
50 |
2,21 |
0,0% |
2,22 |
0,0% |
Aman |
|
E-E� |
8 |
7 |
102 |
31 |
50 |
2,24 |
0,1% |
2,06 |
0,5% |
Aman |
Hasil analisis pada simulasi yang telah
dilakukan, direkomendasikan pada lereng sisi selatan tinggi lereng tunggal 8
meter, lebar berm 7 meter, sudut
tunggal 60�, dengan sudut lereng keseluruhan 35�. Pada lereng sisi utara tinggi
lereng tunggal 8 meter, lebar berm
7 dan 5 meter, sudut tunggal 50�, sudut lereng keseluruhan 31�
Hasil analisis pada simulasi yang telah
dilakukan, direkomendasikan pada lereng sisi selatan tinggi lereng tunggal 8
meter, lebar berm 7 meter, sudut tunggal 60�, dengan sudut lereng
keseluruhan 35�. Pada lereng sisi utara tinggi lereng tunggal 8 meter, lebar berm
7 dan 5 meter, sudut tunggal 50�, sudut lereng keseluruhan 31�.
Interpretasi Hasil Analisis Section A-A�
Hasil analisis lereng utara tersebut
didapatkan nilai FK statis sebesar 0,599 dan FK dinamis sebesar 0,360. Nilai PK
statis sebesar 83,1% dan nilai PK dinamis sebesar 93,1%. Hasil analisis lereng
sisi selatan didapatkan nilai FK statis sebesar 1,29 dan FK dinamis sebesar
0,662. Nilai PK statis 35,4% dan PK dinamis sebesar 76,50%. Hasil analisis
lereng awal dapat dilihat bahwa kondisi lereng utara pada section A-A�
tidak aman. Interpretasi
hasil analisis geometri awal section A-A� dapat dilihat pada� Gambar 5 dan Gambar 6, dan interpretasi hasil
analisis geometri setelah redesign pada Gambar 7 dan Gambar 8 berikut
ini.
Setelah dilakukan perbaikan
geometri lereng pada section A-A�, B-B� dan E-E�, direkomendasikan tinggi
lereng tunggal sebesar 8 meter, lebar berm 7 meter, single slope 50�,
overall slope 30�, maka pada section A-A� didapatkan FK dalam
kondisi statis sebesar 2,81 dengan PK statis 0,0%. Dalam kondisi dinamis
didapatkan FK dinamis sebesar 2,02 dengan nilai PK dinamis 2,7%, dimana FK dan
PK sudah memenuhi standar diambang batas aman. Untuk nilai FK dan PK dalam
kondisi dinamis maupun statis section B-B� dan E-E� dapat dilihat pada
Tabel 4 dan Tabel 5.
Kesimpulan
Nilai FK statis dan FK dinamis pada lereng sisi selatan section
A-A� dalam kondisi tidak aman, sedangkan section B-B� dan E-E� dalam
kondisi aman. Untuk lereng sisi utara didapatkan FK statis dan FK dinamis section
A-A� dan E-E� dalam kondisi tidak aman, dan section B-B� dalam kondisi
aman. Hasil analisis simulasi, didapatkan nilai PK statis
pada lereng sisi selatan, pada section A-A� 35,4%, B-B� 0,0%, dan E-E�
0,0%. PK dinamis section A-A� 76,50%, B-B� 0,0% dan E-E� 0,0%, dan pada
lereng sisi utara didapatkan PK statis pada section A-A� 83,1%, B-B�
0,0% dan E-E� 12,9%. PK dinamis section A-A� 93,1%, B-B� 0,0% dan E-E�
26,1%. Berdasarkan hasil analisis pada
simulasi, direkomendasikan pada lereng sisi selatan tinggi lereng tunggal 8
meter, lebar berm 7 meter, sudut
tunggal 60�, dengan sudut lereng keseluruhan 30�, dan pada lereng sisi utara
tinggi lereng tunggal 8 meter, lebar berm
7 dan 5 meter, sudut tunggal 50�, dan sudut lereng keseluruhan 30�.
Daftar Pustaka
Arif, I. 2016. Geoteknik Tambang. PT. Gramedia Pustaka
Utama : Jakarta.
Arif, Irwandi. 2021. Geoteknik Tambang. PT. Gramedia
Pustaka Utama : Jakarta.
Azizi, M. A. 2014. Pengembangan Metode Penentuan
Reliabilitas Kestabilan Lereng Tambang Terbuka di Indonesia. Disertasi
Institut Teknologi Bandung : Bandung.
Braja, M. D.
1985. Mekanika Tanah Jilid 2. The University of Texas : El Paso.
Bargawa, Waterman Sulistyana. 2018. Perencanaan Tambang.
Yogyakarta.
Farrand, R A. 2019. Analisis Kestabilan Lereng pada Desain
Diposal Suwota Tahun 2018 di Tambang PT ANTAM TBK UBPN Maluku Utara, Kabupaten
Halmahera Timur, Maluku Utara. Skripsi. UIN Syarif Hidayatullah : Jakarta.
Kepmen Esdm No 1827 K/30/Mem/2018. Pedoman Pelaksanaan
Teknik.
Morgenstern, N.R & Price, V. E. 1965. The Analysis of
The Stability of General Slip Surfaces. Volume 15, Issue 1. Ice Publishing.
Nurhidayat, Teguh, Edo Syawaluddin, Muchtar Arifin, Iwan
Oktariansyah. 2019. Analisis Probabilitas Kestabilan Lereng tambang Timah
Primer Blok Pemali, Bangka, Indonesia. Prosiding TPT XXVIII Perhapi 2019.
Putri,
Nadila, Tri Gamela Saldy, 2021. Analisis Kestabilan Lereng Disposal Dengan
Menggunakan� Metode Bishop Di Site Puncak
Jaya CV.Tekad Jaya Sago Halaban Lima Puluh Kota. Jurusan Teknik Pertambangan,
Fakultas Teknik, Universitas Negeri Padang, Indonesia.
Prasetyo, S. I., Hariyanto,
R., Cahyadi, T. A. 2011. Studi Kasus
Analisa Kestabilan Lereng Disposal di Daerah Karuh, Kec. Kintap, Kab. Tanah
Laut, Kalimantan Selatan. Seminar Nasional ke 6 Tahun 2011 : Rekayasa
Teknologi Industri dan Informasi. UPN Veteran Yogyakarta : Yogyakarta.
Partington, Mark & Ryans Mark. 2010. Understanding The
Nominal Ground Pressure of Forestry Equipment. Vol. 12 No. 5.
FPInnovations.
Porsinsky, Tomislav, Pentek Tibor, Bosner Andreja, Stankic
Igor. 2015. Ecoefficient Timber Forwarding on Lowland Soft Soils.
Forestry Faculty of Zagreb University. Croatia.
Rai, M. A., Suseno K, Ridho K
W. 2014. Mekanika Batuan. Institut Teknologi Bandung : Bandung.
Ridha, M., & Darminto, D.
2016. Analisis Densitas, Porositas, dan Struktur Mikro Batu Apung Lombok
Dengan Variasi Lokasi dan Kedalaman. Jurnal Fisika Dan Aplikasinya.
Institut Teknologi Sepuluh November (ITS): Surabaya
Saptono, Singgih. 2021. Sistem
Klasifikasi Massa Batuan. LPPM UPN Veteran Yogyakarta. Yogyakarta.
Sebayang, W., Sutriyono, E., Jati, S.N., 2020. Analisis
Kestabilan Lereng Disposal PT. Bara Anugrah Sejahtera Muara Enim Sumatera
Selatan. Jurnal Geomine, 8(1): 51-58
Steffen, O., Contreras, L.-F.,
Terbrugge, P. J., & Venter, J. 2008. A Risk Evaluation Approach For Pit
Slope Design in the 42nd U.S. Rock Mechanics - 2nd
U.S. Canada Rock Mechanics Symposium: San Fransisco.
Takwin, G. A, Turangan A. E.,
Rondonuwu S. G. 2017. Analisis Kestabilan Lereng Metode Morgenstern-Price
Studi Kasus Diamond Hill Citraland. Universitas Sam Ratulangi : Manado.
Jurnal Tekno, Vol. 15, No. 67.
Wyllie,
Duncan C., & Christopher W. Mah. 2004. Rock Slope Engineering: Civil and
Mining. 4rd. (ed). New York: Spoon Press. London.
Wahyuni,
Sri., Nurliah Jafar, Habibie Anwar, Abd. Salam Munir. 2021. Analisis
Kestabilan Lereng Disposal IPD PQRT Pit West Menggunakan Metode Bishop Pt Buma Job
Site Lati Kabupaten Berau Kalimantan Timur. Jurusan Teknik Pertambangan.
Fakultas Teknologi Industri, Universitas Muslim Indonesia. Jurnal Geosapta Vol.
7 No. 1 Januari 2021.