Jenis-Jenis Laba-Laba (Aranea) di Desa Posona
Kecamatan Kasimbar dan Pemanfaatannya Sebagai Media Pembelajaran Berbentuk Buku
Saku Digital
Mohammad
Darsah1, Masrianih2, Syech Zainal3
Universitas Tadulako, Sulawesi Tengah, Indonesia
Abstrak:
Spesies laba-laba digolongkan dalam filum Arthropoda, kelas Arachinida
dan ordoAranea, setiap jenis laba-laba nyatanya memiliki morfologi yang
berbeda-beda pada setiap tingkat familinya. Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentiikasi jenis-jenis laba-laba yang ada di Desa Posona Kecamatan
Kasimbar dan pemanfaatanya sebagai media pembelajaran dalam bentuk buku saku
digital. Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian deskripsif.
Menggunakan metode jelajah dengan 5 stasiun pengamatan secara purposive
sampling. Hasil penelitian terdapat 21 jenis laba-laba yang terdiri dari 19
genus dan 11 famili. Adapaun 21 jenis laba-laba tersebut yaitu : Araneus
ventricosus, Argiope apense, Argiope amoena, Cyrtophora exanthematica,
Gasteracantha Cancriformis, Nephila pilipes, Oxyopes salticus, Dolomedes
tenebrosus, Holoenemus pluchei, Polcus phalangioides, Habrocestum togansangmai,
Menemerus bivittatus, Pseudogagrella splendens, Loxosceles reclusa, Opadometa
fastigata, Tetragnatha guatemalensis, Tetragnatha obtusa, Argyrodes fissifrons,
Ariamnes flagellum, dan Zoropsis spinimana dilihat dari keberadaan jenis- jenis
laba-laba kondisi lingkungan rata-rata di lokasi penelitian yaitu : suhu 30�C,
Kelembaban 78% dan intansitas cahaya 473 cd. Dan berdasarkan uji validasi oleh
tim dosen ahli yang terdiri dari ahli isi, ahli media, dan ahli desain serta 30
mahasiswa penguji, hasil penelitian sangat layak untuk dimanfaatakan sebagai
media pembelajaran berupa buku saku digital dengan presentase kelayakan sebesar
81,238%.
Kata Kunci: Jenis Laba-laba, Media
Pembelajaran, Buku Saku Digital
Abstract:
Spider
species are classified in the phylum Arthropoda, class Arachinida and
orderAranea, each type of spider in fact has a different morphology at each
level of the family. This study aims to identify the types of spiders in Posona
Village, Kasimbar District and their use as learning media in the form of
digital pocket books. The research conducted is a type of descriptive research.
Using the cruising method with 5 observation stations by purposive sampling.
The results of the study found 21 species of spiders consisting of 19 genus and
11 families. The 21 species of spiders are: Araneus ventricosus, Argiope
apense, Argiope amoena, Cyrtophora exanthematica, Gasteracantha Cancriformis,
Nephila pilipes, Oxyopes salticus, Dolomedes tenebrosus, Holoenemus pluchei,
Polcus phalangioides, Habrocestum togansangmai, Menemerus bivittatus,
Pseudogagrella splendens, Loxosceles reclusa, Opadometa fastigata, Tetragnatha
guatemalensis, Tetragnatha obtusa, Argyrodes fissifrons, Ariamnes flagellum,
and Zoropsis spinimana seen from the presence of these types of spiders the
average environmental conditions at the research site are: 30�C temperature,
78% humidity and 473 cd light intensity. And based on the validation test by a
team of expert lecturers consisting of content experts, media experts, and
design experts as well as 30 student testers, The results of the study are very
feasible to be used as learning media in the form of digital pocketbooks with a
feasibility percentage of 81.238%.
Keywords:
�Spider
Types, Learning Media, Digital Pocket Guide
����� ����
Pendahuluan
Spesies
Laba-laba digolongkan dalam filum Arthropoda, kelas Arachnida dan ordo Aranea (Susilo et al., 2021). Jenis laba-laba kurang lebih
43.678 spesies dengan 3.600 genus yang telah teridentifikasi. Laba-laba
memiliki bentuk yang beragam mulai dari warna tubuh, bentuk tubuh, habitat,
bentuk jaring, dan sebagainya. Sama seperti jenis Arthropoda lainnya, Laba-laba
memiliki pola penyebaran yang begitu luas. Laba-laba dapat dijumpai hampir di
seluruh tempat di permukaan bumi mulai dari daerah yang beriklim tropis sampai
di daerah kutub. Laba-laba juga dapat hidup di bawah permukaan air. Spesies
laba-laba yang dapat hidup di bawah permukaan air yaitu Argyroneta aquatica.
laba-laba ini memiliki gelembung udara yang terkurung dalam kantung sutranya (Gumira,
2021)
Fungsi
atau peranan laba-laba dalam ekosistem dapat dijadikan sebagai bioindikator
dalam pengendalian hama hal ini disebabkan karena serangga adalah makanan utama
dari laba-laba tersebut (Meilin,
2016) Spesies laba- laba dapat
dikatakan sebagai sahabat para petani, hal ini dsebabkan karena laba- laba
secara almi dapat membasmi serangga hama. Pentingnya masyarakat atau petani
mengetahui spesies laba-laba dalam sebuah ekosistem akan dapat mempermudahkan
petani dalam mengendalikan maraknya penyebaran serangga (Yuliana & Ami, 2020)
hama
yang merugikan para petani atau masyarakat yang resah atau susah dalam
menghilangkan hama pada pertanian. Dengan kata lain petani dan laba-laba adalah
salah satu bentuk simbiosis mutualisme dalam ekosistem (Uyun Zahrotul et al., 2021).�
Dari
hasil observasi di Desa Posona Kecamatan Kasimbar banyak masyarakat yang belum
megatahui apa itu spesies laba-laba dan perananya. Masyarakat menganggap
laba-laba adalah seragga hama pada tanaman padi dan penganggu terutama di area
permukiman, selain itu juga masyarakat menganggap bahwa semua laba-laba beracun
dan berbahaya sehingga laba-laba tersebut di basmi menggunkan racun hama.
Padahal keberadaan jenis laba-laba membantu dalam pengendalian hama dan proses
jaring makanan. Selain dari data observasi di desa posona peneliti juga ingin
mengetahui jenis-jenis laba-laba apa saja yang ada di Desa Posona hal ini
disebabkan tidak adanya penelitian atau data terkait jenis-jenis laba-laba yang
ada di desa tersebut.
Hasil
penelitian ini nantinya dibuatkan dalam bentuk media pemebelajaran dimana
Jennah (2009) menjelaskan tentang media pembelajaran yaitu suatu alat yang
tujuannya mengkomunikasikan atau menyalurkan suatu bahan ajar pada peserta
didik sehungga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan perasaan,
sehingga kegiatan pembelajaran berjalan dengan baik dan sesuai dengan yang
diharapkan.
Penggunaan
media belajar diharapkan mampu membangkitkan hasil belajar siswa, membantu
keefektifan proses pembelajaran, serta dapat menarik dan mengarahkan perhatian
siswa untuk berkonsentrasi pada materi pelajaran, sehingga mempermudah siswa
untuk mengingat informasi yang diberikan (Lakari et al., 2021).
Dalam
media pembelajaran terdapat berbagai macam bentuk namun bertujuan hanya untuk
memudahkan dalam proses belajar mengajar, salah satu media ajar yaitu buku
saku. Menurut (Santoso et al., 2021) buku saku adalah buku dengan
ukuran kecil, ukuran standar buku saku sama dengan ukuran kertas A6 atau setara
10,5 x 14,8 cm. Buku saku berisi gambar dengan penjelasan yang singkat padat
dan jelas bertujuan memberikan informasi pengetahuan serta dapat dibawa kemana
saja.
Seiring
pengembangan zaman dan teknologi, media pembelajaran juga mengalami
perubahan-perubahan terkait hal tersebut. Salah satunya pembuatan media berupa
buku saku digital. Buku saku digital membantu untuk memberikan petunjuk di mana
pun dan kapan pun, hal ini disebakan pengaksesan tersebut terdapat dalam akses
internet (Simanjuntak, 2022).
Berdasarkan
hal tersebut, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui Jenis-Jenis
Laba-Laba (Aranea) di Desa Posona Kecamatan Kasimbar dan Pemanfaatannya Sebagai
Media pembelajaran.
Metode
Jenis
penelitian ini yaitu penelitian deskriptif kuantitatif yang bersifat R&B.
Populasi pada penelitian ini yaitu semua jenis laba-laba yang ada di Desa
Posona Kecamatan Kasimbar sedangkan sampel penelitian ini yaitu spesies laba-
laba yang didapatkan pada 5 lokasi penelitian yang terdiri dari area permukiman
warga, perkebunan, persawahan, aliran sungai dan taman mangrove. Penelusuran
lokasi pengamatan menggunkan metode jelajah dengan penentuan purposive
sampling. Tehnik pengambilan sampel dilakukan secara hend collection dan
sweeping net. Selanjutnya hasil yang didapatkan dibuatkan sebagai media pembelajaran
dalam bentuk buku saku digital kemudian dilakukan validasi sesuai ketentuan dari
Arikunto dan Jebar (2018).
Hasil dan
Pembahasan
A.
Hasil Pengukuran Faktor Lingkungan
Tabel 1 Faktor Kondisi
Lingkungan Area Pengamatan
|
No |
Kondisi Lingkungan |
����������������������� Rata-rata Stasiun������������������������ |
||||
|
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
|
|
1 |
Suhu (�C) |
30 |
30 |
34 |
29 |
31 |
|
2 |
Kelembaban (%) |
81 |
80 |
66 |
88 |
75 |
|
3 |
Intensitas
Cahaya (cd) |
554 |
280 |
855 |
211 |
373 |
B.Hasil Pengamatan Laba-laba (Aranea) di Desa Posona Kecamatan
Kasimbar
Tabel 2 Jenis
Laba-laba Yang Didapatkan
|
Ordo |
Famili |
Spesies |
|
|
Araneidae |
Araneus scloparius Argiope apense Argiope amoena Cyrtophora exanthematica
Gasteracantha cancriformis |
|
Aranea |
Nephilidae |
Nephila pilipes |
|
|
Oxyophidae |
Oxyopes salticus |
|
|
Pisauridae |
Dolomedes tenebrosus |
|
|
Polcidae |
Holoenemus pluchei Polcus phalangioides |
|
|
Salticidae |
Cosmophasis thalassina
Habrocestum togansangmai Menemerus
bivittatus |
|
|
Sclerosomatidae |
Pseudogagrella splendens |
|
|
Sicariidae |
Loxosceles reclusa |
|
|
Tetragnathidae |
Opadometa fastigata Tetragnatha guatemalensis Tetragnatha obtusa |
|
|
Theridiidae |
Argyrodes fissifrons Ariamnes flagellum |
|
|
Zoropsidae |
Zoropsis spinimana |
Tabel 3 Kehadiran Jenis Laba-laba di Area Stasiun Pengamatan
|
Spesies |
�Stasiun���������������������������������������������������������� |
||||
|
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
|
Araneus scloparius |
|
|
|
|
|
|
Argiope apense |
|
|
|
|
|
|
Argiope amoena |
|
|
|
|
|
|
Cyrtophora exanthematica |
|
|
|
|
|
|
Gasteracantha Cancriformis |
|
|
|
|
|
|
Nephila pilipes |
|
|
|
|
|
|
Oxyopes salticus |
|
|
|
|
|
|
Dolomedes tenebrosus |
|
|
|
|
|
|
Holoenemus pluchei |
|
|
|
|
|
|
Polcus phalangioides |
|
|
|
|
|
|
Cosmophasis thalassina |
|
|
|
|
|
|
Habrocestum togansangmai |
|
|
|
|
|
|
Menemerus bivittatus |
|
|
|
|
|
|
Pseudogagrella splendens |
|
|
|
|
|
|
Loxosceles reclusa |
|
|
|
|
|
|
Opadometa fastigata |
|
|
|
|
|
|
Tetragnatha guatemalensis |
|
|
|
|
|
|
Tetragnatha obtusa |
|
|
|
|
|
|
Argyrodes fissifrons |
|
|
|
|
|
|
Ariamnes flagellum |
|
|
|
|
|
|
Zoropsis spinimana |
|
|
|
|
|
C. Hasil Validasi Media
Pembelajaran
Buku
saku digital sebelum diterapkan dalam bentuk media pembelajaran perlu dilakukan
uji coba terlebih dahulu atau divalidasi. Hal ini bertujuan agar media
pembelajaran sesuai dengan apa yang diharapkan dimana tujuan media pembelajaran
dapat membangkitkan hasil belajar siswa, membantu keefektifan proses
pembelajaran, serta dapat menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk
berkonsentrasi pada materi pelajaran (Nurrita, 2018). Maka dari itu diterapkannya tim
validaror berupa ahli isi, ahli media, ahli desain dan 30 mahasiswa sebagai uji
coba perlakuan. Adapun hasil dari validasi media pembelajaran tersebut sebagai
berikut
Tabel 4 Presentase Penilaian Kelayakan Media Pembelajaran Dalam Bentuk Buku Saku Digital Oleh Tim Ahli Isi
|
No |
Aspek Yang Dinilai |
Skala Penilaian |
Persentase (%) |
|
1 |
Ketetapan judul
dengan buku saku digital |
4 |
75 |
|
2 |
Kesesuaian� antara� judul� buku� saku� digital dengan isi materi |
5 |
85 |
|
3 |
Kejelasan klasifikasi dan deskripsi laba-laba |
4 |
75 |
|
4 |
Kejelasan gambar |
5 |
85 |
|
5 |
Ketetapan nama
spesies |
4 |
75 |
|
6 |
Kefaktualisasi isi buku saku
digital dengan masalah terkini |
4 |
75 |
|
JUMLAH |
26 |
470 |
|
|
RATA-RATA |
4,3 |
78,3 |
|
|
*Nilai rata-rata yang didapatkan menunjukn kelayakan penggunaan media, nilai
rata-rata menunjukan bahwa
sumber belajar dalam
bentuk buku saku
digital tersebut layak
untuk digunakan |
|||
Tabel 5 Presentase Penilaian Kelayakan Media Pembelajaran Dalam Bentuk Buku Saku Digital Oleh Tim Ahli Media
|
No |
Aspek Yang Dinilai |
Skala
Penilaian |
Persentase
(%) |
|
A. Judul |
|||
|
1 |
Kemenarikan��� tampilan��� sampul��� buku��� saku digital |
4 |
75 |
|
2 |
Kesesuaian ukuran
huruf |
4 |
75 |
|
3 |
Kesesuaian penampilan judul |
4 |
75 |
|
4 |
Kesesuaian antara
huruf dan warna sampul |
4 |
75 |
|
B. Materi |
|||
|
1 |
Kesesuaian materi
dan media yang
digunakan |
5 |
85 |
|
2 |
Kualitas gambar
yang digunakan |
4 |
75 |
|
3 |
Ketepatan ukuran
gambar |
3 |
55 |
|
4 |
Kesesuaian���� ukuran���� huruf���� dalam���� media |
4 |
75 |
|
|
pembelajaran |
|
|
|
5 |
Ketepatan antara
gambar dan deskripsi dalam media pembelajaran |
4 |
75 |
|
JUMLAH |
36 |
665 |
|
|
RATA-RATA |
4 |
73,8 |
|
|
*Nilai rata-rata yang didapatkan menunjukn kelayakan penggunaan media,
nilai rata-rata menunjukan bahwa sumber belajar dalam bentuk buku saku
digital tersebut layak untuk digunakan |
|||
Tabel 6 Presentase Penilaian Kelayakan Media Pembelajaran Dalam Bentuk Buku Saku Digital Oleh Tim Ahli Desain
|
No |
Aspek Yang Dinilai |
Skala
Penilaian |
Persentase
(%) |
|
A. Uraian
Materi |
|||
|
1 |
Ketepatan ukuran
huruf |
4 |
75 |
|
2 |
Kejelasan kalimat |
5 |
85 |
|
3 |
Sistematika penulisan |
4 |
75 |
|
4 |
Kemenarikan tampilan uraian materi |
4 |
75 |
|
B. Gambar |
|||
|
1 |
Kesesuaian gambar
dengan uraian materi |
4 |
75 |
|
2 |
Kejelasan gambar
untuk dipahami |
5 |
85 |
|
3 |
Kemenarikan tampilan gambar |
4 |
75 |
|
C. Teks Keterangan Gambar |
|||
|
1 |
Ketepatan letak |
4 |
75 |
|
2 |
Ketepatan warna
tulisan |
5 |
85 |
|
3 |
Ketepata ukuran
huruf |
4 |
75 |
|
4 |
Kemenarikan tampilan |
4 |
75 |
|
JUMLAH |
47 |
855 |
|
|
RATA-RATA |
4,27 |
77,72 |
|
|
*Nilai rata-rata yang didapatkan menunjukn kelayakan penggunaan media, nilai rata-rata menunjukan bahwa sumber belajar
dalam bentuk buku saku digital tersebut layak untuk digunakan |
|||
Tabel 7 Presentase
Penilaian Kelayakan Media Pembelajaran Dalam Bentuk Buku Saku Digital Oleh 30
Mahasiswa
|
No |
Aspek Penilaian |
Skala penilaian |
Persentase
(%) |
|
1 |
Menurut anda apakah isi buku saku digital ini menarik.? |
4,3 |
87 |
|
2 |
Menurut anda apakah isi buku saku digital ini mudah dimengerti.? |
4 |
81 |
|
3 |
Bagaimana kejelasan gambar yang ada dalam
buku saku digital ini.? |
4,4 |
89 |
|
4 |
Bagaimana kejelasan tulisan (teks) yang ada dalam buku saku digital ini.? |
4,3 |
87 |
|
5 |
Menurut anda apakah tampilan gambar pada buku saku digital ini menarik.? |
4,5 |
90 |
|
6 |
Menurut anda apakah buku saku digital
ini secara keseluruhan menarik.? |
4,5 |
88 |
|
7 |
Apakah buku saku digital
ini dapat membantu mempermudahan untuk
mengetahui jenis-jenis laba-laba.? |
4,5 |
91 |
|
8 |
Apakah penulisan bahasa latin yang
digunakan dalam buku saku digital ini sudah tepat.? |
4,5 |
90 |
|
Total |
|
3,5 |
703 |
|
Rata-rata |
4,3 |
87,8 |
|
|
*Nilai
rata-rata yang didapatkan menunjukn kelayakan penggunaan media, nilai rata-
rata menunjukan bahwa sumber belajar dalam bentuk buku saku digital tersebut
Sangat layak untuk digunakan |
|||
Pembahasan
A. Jenis-Jenis Laba-Laba Yang Ditemukan Pada Lokasi Penelitian
Hasil
penelitian dan indentifikasi spesies laba-laba yang diperoleh di desa Posona
Kecamatan Kasimbar Kabupaten Parigi Moutong terdiri dari 21 jenis laba- laba 19
genus dan 11 famili adapun ke-21 spesies yang terdiri dari 11 famili tersebut,
yaitu : famili Araneidae 5 spesies (Araneus
ventricosus, Argiope apense, Argiope amoena, Cyrtophora exanthematica dan
Gasteracantha Cancriformis), Nephilidae 1 spesies (Nephila pilipes), Oxyophidae 1 spesies (Oxyopes salticus), Pisauridae 1 spesies (Dolomedes tenebrosus), Polcidae 2 spesies (Holoenemus pluchei dan Polcus phalangioides), Salticidae 3
spesies (Cosmophasis thanassina,
Habrocestum togansangma dan Menemerus bivittatus), Sclerosomaticidae 1 spesies (Pseudogagrella splendens), Sicariidae 1
spesies (Loxosceles reclusa), Tetragnathidae 3 spesies (Opadometa fastigata,
Tetragnatha guatemalensis dan Tetragnatha obtusa), Therididae 2 spesies
(Argyrodes fissifrons dan Ariamnes flagellum), dan Zoropsidae 1 spesies
(Zoropsis spinimana). Jenis-jenis laba-laba yang ditemukan tersebut sesuai
pada Tabel 2.
Pada
stasiun I diperoleh 9 jenis laba-laba yaitu : Argiope apense, Cyrtophora exanthematica, Gasteracantha Cancriformis,
Oxyopes salticus, Holoenemus pluchei, Polcus phalangioides, Menemerus
bivittatus, Loxosceles reclusa, dan Zoropsis
spinimana data tersebut sesuai dengan tabel 3 dilihat dari jenisnya pada
stasiun I tersebut spesies laba-laba yang mendominasi yaitu jenis laba-laba
pembuat jaring hal ini disebabkan pada stasiun I merupakan area pemungkiman
yang mana pada area pemungkiman tempat penelitian jarang terdapat tegakan pohon
dan lebih banyak tumbuhan herba serta perdu sehingga
tanah
langsung terpapar dari sinar matahari dan beberapa spesies laba-laba tanah
tidak menyukai paparan sinar matahari langsung. dari penjelasan tersebut sesuai
dengan yang dikemukakan oleh (Nugroho, 2018) bahwa area pemungkiman yang
tidak terdapat tegakan pohon dan didominasi oleh rerumputan dapat mempengaruhi
kekayaan jenis laba-laba karena membuat cahaya masuk lebih dalam dan luas
kepermukaan tanah. Berkaitan dengan hal tersebut kondisi lingkungan pada
stasiun 1 memang begitu panas, sesuai dengan tabel 1 kondisi suhu pada stasiun
I yaitu 30�C, dan intensitas cahanya berkisar antara 554 cd sedangkan
kelembabannya 81%. Pada stasiun II diperoleh 16 jenis laba-laba yaitu
:
Araneus scloparius, Argiope apense,
Argiope amoena, Cyrtophora exanthematica, Gasteracantha Cancriformis, Nephila
pilipes, Oxyopes salticus, Dolomedes tenebrosus, Holoenemus pluchei,
Cosmophasis thalassina, Habrocestum togansangmai, Menemerus bivittatus,
Pseudogagrella splendens, Tetragnatha guatemalensis, Tetragnatha obtusa, dan Zoropsis
spinimana data tersebut sesuai dengan tabel 3. Stasiun II ini merupakan
stasiun yang paling banyak ditemukannya jenis laba-laba dibandingkan dengan
stasiun yang lainnya. Melihat kondisi habitat sangat sesuai untuk ditempati
spesies laba-laba, hal tersebut karena stasiun II merupakan daerah perkebunan
dimana pada area perkebunan tempat penelitian yang secara biologis terdapat
banyak komunitas tanaman seperti tanaman kopi, kakao, kelapa, pisang, nangka,
lemon dan masih banyak lagi hal ini sesuai dengan yang dilaporkan (Fatmala, 2017) komunitas tanaman yang ada di
area penelitian sangat mempengaruhi keberadaan jenis laba- laba di alam sebagai
ruang penyediaan sumber makanan. Dengan terdapatnya komunitas tanaman
mengakibatkan laba-laba banyak ditemukan karena melimpahnya serangga dan
serangga adalah makanan dari laba-laba tersebut hal ini sesuai dengan pendapat
dari Memah, dkk. (2014) dimana jenis laba-laba penting dalam menjaga kestabila
rantai makanan. Selain dari faktor biologis faktor lingkungan juga dapat
memepengaruhi banyaknya jenis laba-laba. Dilihat dari tabel 1 stasiun II
memiliki suhu berkisar 30�C, kelembaban berkisar antara 80% dan intensitas
cahaya 280 cd. Dimana pesies laba-laba dapat mentoleransi suhu mulai 30�C
kebawah (Kuntner,dkk. 2008), dan intensitas cahaya maximal berkisar antara
312-362 lux (Foelix, 1996) sedangkan kelembaban yang ditoleransi sekitar 70-80%
(Baron dan Litsinger 1995). Stasiun III diperoleh 7 jenis laba-laba yaitu :
Araneus scloparius, Argiope apense, Oxyopes salticus, Dolomedes tenebrosus,
Menemerus bivittatus, Opadometa fastigata dan Tetragnatha guatemalensis data
tersebut sesuai dengan tabel 3. Stasiun III merupakan salah satu stasiun yang
paling sedikit ditemukannya spesies laba-laba karena pada stasiun III merupakan
daerah persawahan. Hal yang menyebabkan stasiun III jarang ditemukan spesies
laba-laba karena pada daerah persawahan adalah tempat terbuka dan sebagain
besar laba-laba tidak menyukai tempat yang langsung terpapar dari sinar
matahari,
hal
ini sesuai dengan penjelasan dari Foelix (1996). Kemudian pada penelitian yang
dilakukan oleh (Najah, 2023) mengatakan bahwa ekosistem sawah
yang terdiri dari rerumputan dan semak akan dapat mempengaruhi keberadaan jenis
laba-laba di ekosistem tersebut. Selain dari pada itu kondisi lingkunagn pada
stasiun III juga tidak memungkinkan untuk ditinggali spesies laba-laba dilihat
dari data faktor lingkungan pada tabel 1 kondisi suhu pada stasiun III yaitu
34�C, kelembaban 66% dan intensitas cahaya 855 cd. Stasiun IV dipereroleh
laba-laba 11 jenis yaitu : Araneus scloparius, Argiope apense, Gasteracantha
Cancriformis, Nephila pilipes, Oxyopes salticus, Dolomedes tenebrosus, Holoenemus
pluchei Cosmophasis thalassina, Tetragnatha guatemalensis dan Tetragnatha
obtusa data tersebut sesuai pada tabel 3. Stasiun IV merupakan stasiun area
perairan air dilihat dari data kondisi lingkungan pada stasiun IV menunjukan
bahwa suhu berkisar 29�C, kelembaban 88% dan intenistas cahaya 211 cd. Pada
stasiun V spesies laba-laba yang ditemukan yaitu berjumlah 7 jenis diantaranya
: Argiope apense, Holoenemus pluchei Cosmophasis thalassina, Tetragnatha
guatemalensis, Tetragnatha obtusa, Argyrodes fissifrons,dan Ariamnes flagellum
data tersebut sesuai pada tabel 3. Stasiun V ini merupakan daerah mangrove dan
juga merupakan stasiun yang paling sedikit ditemui spesies laba-laba selain
dari stasiun III. hal yang menyebabkan stasiun V jarang ditemukan spesies
laba-laba karena pada stasiun tersebut memiliki substrat yang berlumpur
sehingga tidak cocok untuk ditempati laba-laba tanah. Selain itu juga, selama
saya melakukan pengamatan di taman mangrove spesies serangga yang ditemukan
yaitu Oecophylla sp sehingga dapat disimpulkan untuk makanan dari spesies
laba-laba hanya sedikit, sehingga laba- laba hanya sedikit ditemukan karna
faktor biologis. Hal tersebut sesuai yang dikemukakan oleh Kasmara (2018) bahwa
kondisi biologis mempengaruhi keberadaan laba-laba. Kondisi biologi yang
dimaksud dapat berupa sumber makanan, keberadaan predator dan vegetasi.
Kemudian faktor lingkungan pada stasiun V melibuti suhu berkisar antara 31�C,
kelembaban 75% dan intensitas cahaya berkisar antara 373 cd walaupun secara
teori kondisi lingkungan memenuhi syarat untuk ditinggali spesies laba-laba,
namun pada lokasi pengamatan kondisi biologis tidak dapat memenuhi syarat
karena jumlah serangga yang minim dan jumlah predator serangga lebih banyak
yang menyebabkan spesies laba-laba hanya sedikit ditemukan.
Dilihat
dari tabel 3 jenis laba-laba yang sering dijumpai hampir ada di setiap stasiun
yaitu Argiope apense dan Tetragnatha guatemalensis spesies ini hampir ada
disemua stasiun sehingga spesies ini dapat dikatakan kosmopolit, dimana spesies
kosmopolit yaitu spesies yang sangat luas dan mudah beradaptasi dengan kondisi
lingkungan disekitarnya. Sedangkan jenis laba-laba yang paling sedikit
ditemukan yaitu spesies Argiope amoena, Habrocestum togansangmai,
Pseudogagrella
splendens, Loxosceles reclusa, Enoplognatha ovata, Opadometa fastigata,
Argyrodes fissifrons dan Ariamnes flagellum.
B.�� Peranan Laba-laba
Dalam Ekosistem
Laba-laba
(Araenea) adalah hewan invertebrata yang jenis makanan utamanya adalah
serangga. Laba-laba merupakan salah satu hewan predator alami bagi serangga di
suatu ekosistem (Ruth Stella Petrunella Thei, n.d.) Sedangkan (Letak
& Halim, 2018) mengatakan bahwasanya
hewan laba-laba (Aranea) merupakan kelompok hewan predator serangga terbesar
sekitar 60% dibandingkan hewan predator serangga lainnya.
Spesies
laba-laba terbukti bermanfaat bagi ekosistem sebagai predator alami bagi petani
sehingga mempermudahkan petani dalam hal pengendalian hama pada tanaman.
Spesies laba-laba juga hanya sedit mengakibatkan kerusakan bagi tanaman
sehingga sangat berpotensi membantu dalam pertanian. Dalam suatu ekosistem
peran spesies laba-laba akan dapat mempermudahkan petani dalam mengendalikan
maraknya penyebaran serangga hama yang merugikan para petani atau masyarakat
yang resah atau susah dalam menghilangkan hama pada pertanian. Dengan kata lain
petani dan laba-laba adalah salah satu bentuk simbiosis mutualisme dalam
ekosistem. Maka dari itu, petahi seharusnya dapat memanfaatkan laba-laba dan
tidak membasminya terutama didaerah pertanian karena spesies laba-laba dapat
sangat membantu para petani dalam menggendalikan hama pada pertanian tersebut.
C.� Validasi Buku Saku
Digital Sebagai Media Pembelajaran Jenis-Jenis Laba-Laba
Spesies
laba-laba merupakan hewan yang dapat dijadikan sebagai pengendalian hama alami
bagi petani. Namun, besarnya potensi tersebut berbanding terbalik dengan
pemahaman masyarakat yang masih minim terhadap kemampuan laba-laba dalam
ekosistem. Sehingga diperlukan informasi yang kongkrit dan mudah untuk dipahami
oleh masyrakat luar. Oleh karna itu, dibutuhkan suatu media. Dimana media ini
berfungsi sebagai proses penyalur informasi. Media yang digunakan yaitu dalam
bentuk buku saku digital. Anita, dkk (2021) menyatakan Buku saku digital adalah
buku berbasis elektronik yang menyimpan gambar beserta penjelasan secara
singkat, padat dan jelas. Buku saku digital bukan hanya untuk menyampaikan
kesan-kesan tertentu tetapi juga mampu untuk mempengaruhi tingkah laku
seseorang yang membacanya selain itu buku saku digital memiliki akses yang
mudah untuk dijangkau, dapat dibawa kemana saja, tidak berat, tidak susah, dan
dapat di baca dimana saja dan kapan saja.
Hasil
penelitian yang dilakukan diaplikasikan sebagai media pembelajaran dalam bentuk
poster yang diharapkan dapat membantu memberikan informasi mengenai jenis-jenis
laba-laba. Untuk mengetahui kelayakan buku saku digital yang dibuat sebagai
media pembelajaran, dilakukan validasi oleh tim ahli yaitu ahli isi, ahli media
dan ahli desain untuk mengetahui kelemahan-kelemahan dari buku saku digital
tersebut. Setelah dilakukan validasi oleh tim ahli, maka diperoleh nilai
persentase berturut-turut sebesar 78,3%, 73,8%, dan 77,72% sehingga buku saku
digital dapat dikatakan layak untuk dijadikan sebagai media pembelajaran.
Setelah proses validasi oleh tim ahli (dosen), maka buku saku digital diuji
kembali kelayakannya pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi yang
dibagi dalam dua kategori kelompok yaitu kelompok kecil yang berjumlah 10
responden dan kelompok besar yang berjumlah 20 responden. Berdasarkan hasil uji
kelayakan terhadap dua kelompok mahasiswa tersebuut diperoleh nilai presentase sebesar
90% dan 86,37%. Kemudian nilai validasi oleh tim ahli isi, ahli media, ahli
desain, mahasiswa kelompok kecil dan mahasiswa kelompok besar digabungkan
sehingga nilai akhir validasi media pembelajaran tersebut bernilai 81,238%
sehingga disebut sangat layak. Melalui hasil penelitian tersebut, maka buku
saku digital layak dijadikan sebagai media pembelajaran sesuai yang telah di
kemukakan oleh Arikunto (2010) bahwa kategori presentase media pembelajaran
dikatakan sangat layak apabila mencapai 81%-100%.
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil penelitian dapat disimbulkan bahwa Jenis laba-laba yang diperoleh di Desa
Posona dari 5 lokasi stasiun terdapat 21 spesies, 19 genus dan 11 famili. 21 spesies
laba-laba tersebut yaitu : Araneus ventricosus, Argiope apense, Argiope amoena,
Cyrtophora exanthematica, Gasteracantha Cancriformis, Nephila pilipes, Oxyopes
salticus, Dolomedes tenebrosus, Holoenemus pluchei, Polcus phalangioides,
Habrocestum togansangmai, Menemerus bivittatus, Pseudogagrella splendens,
Loxosceles reclusa, Opadometa fastigata, Tetragnatha guatemalensis, Tetragnatha
obtusa, Argyrodes fissifrons, Ariamnes flagellum, dan Zoropsis spinimana.
Berdasarkan hasil uji validasi oleh tim dosen ahli yang terdiri dari ahli isi,
ahli media dan ahli desain serta 30 mahasiswa penguji, hasil penelitian sangat
layak dimanfaatkan sebagai media pembelajaran berupa buku saku digital dengan
persentase kelayakan sebesar 81,238%.
Daptar Pustaka
Fatmala, L. (2017). Keanekaragaman arthropoda permukaan
tanah di bawah tegakan vegetasi pinus (pinus merkusii) tahura pocut meurah
intan sebagai referensi praktikum ekologi hewan. UIN Ar-Raniry Banda Aceh.
Gumira, S. (2021). Kitab Omong Kosong. BENTANG (PT
Bentang Pustaka).
Lakari, F., Ismail, F., & Syah, I. (2021). Upaya
Meningkatkan Minat Belajar Siswa Kelas IV Pada Pembelajaran IPS Dengan
Menggunakan Media Gambar. Journal of Elementary Educational Research, 1(2),
49�55.
Letak, P., & Halim, A. M. (2018). Pengendalian hayati
dengan memberdayakan potensi mikroba. Mulawarman University PRESS.
Meilin, A. (2016). Serangga dan peranannya dalam bidang
pertanian dan kehidupan. Jurnal Media Pertanian, 1(1), 18�28.
Najah, M. K. (2023). Keanekaragaman Kupu-kupu (Subordo:
Rhopalocera) Di Taman Nasional Ujung Kulon. Jurnal Biogenerasi, 8(1),
334�342.
Nugroho, A. D. (2018). Komunitas laba-laba ordo: araneae
permukaan tanah di hutan sokokembang pekalongan Jawa Tengah. Fakultas Sains
dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Nurrita, T. (2018). Pengembangan media pembelajaran untuk
meningkatkan hasil belajar siswa. Jurnal Misykat, 3(1), 171�187.
Ruth Stella Petrunella Thei, R. S. P. T. (n.d.). Arthopoda
pada Ekosistem Tanaman Cabai.
Santoso, R., Susilawati, E., & Susanti, E. (2021).
Analisa pola penggunaan dan kepatuhan obat tuberkulosis di salah satu rumah
sakit swasta di kota bandung. IKRA-ITH Teknologi Jurnal Sains Dan Teknologi,
5(2), 58�71.
Simanjuntak, M. D. R. (2022). Pengembangan Media
Pembelajaran Buku Saku Digital Berbasis Android Untuk Meningkatkan Minat Dan
Hasil Belajar Siswa Dalam Pembelajaran IPS Kelas IV Di SD Negeri Percobaan
Pembina Medan. UNIMED.
Susilo, H., Hakim, M. N., & Setiawan, U. (2021).
Biodiversitas Laba-Laba Arachnida (Araneae) Di Kawasan Ekosistem Desa Wisata
Banyubiru Kecamatan Labuan Kabupaten Pandeglang. Jurnal Lingkungan Dan
Sumberdaya Alam (JURNALIS), 4(1), 56�69.
Uyun Zahrotul, S., A Syachruroji, A. S., Andriana, E., &
Hendracipta, N. (2021). Modul Pembelajaran IPA Berbasis Kearifan Lokal Untuk
Siswa Sekolah Dasar. Multi Kreasi Press.
Yuliana, A. I., & Ami, M. S. (2020). Analisis vegetasi
dan potensi pemanfaatan gulma lahan persawahan. LPPM Universitas KH. A.
Wahab Hasbullah.