Perioperative Mortality after Radical Surgery
Management of Patient with Lung Cancer: A Systematic Review
PPT
Muhammad Rabbani PASA
Rumkital drg.
Marakub Nainggolan, Akademi Angkatan Laut, Jawa Timur,
Indonesia
Abstrak:
Kematian
perioperatif adalah istilah yang menggambarkan tingkat kematian yang terjadi
pada individu sebelum atau setelah operasi. Tingkat kelangsungan hidup pasien
sering dipengaruhi oleh keadaan perioperatif, termasuk faktor-faktor seperti penanganan anestesi dan prosedur
bedah.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kematian perioperatif dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta untuk memahami tingkat komplikasi pasca operasi dalam
konteks reseksi paru dini atau
setelah kemoterapi. Selain itu, penelitian
ini juga bertujuan untuk membandingkan hasil perioperatif antara pembedahan setelah terapi neoadjuvan dan setelah kemoterapi atau
reseksi dini. Metode
Penelitian: Penelitian ini merupakan tinjauan sistematis yang menggunakan empat
database yaitu PubMed, Google Scholar Cochrane, dan Proquest untuk mencari
artikel-artikel terkait. Data dari artikel-artikel yang relevan dievaluasi dan
disintesis untuk memberikan gambaran yang komprehensif tentang tingkat kematian
perioperatif dan komplikasi pasca operasi. Dari analisis terhadap
485.850 pasien yang menjalani
operasi, sebanyak 4.038 individu atau 0,7% mengalami kematian perioperatif. Penyebab kematian yang paling umum adalah kesalahan anestesi, faktor kesalahan pembedahan, dan penyakit penyerta
pada pasien. Hasil dan tinjauan
literatur juga menunjukkan bahwa angka kematian pada hari ke-30 dan ke-90 masing-masing adalah 0% dan 2,7%. Tingkat komplikasi pasca operasi sebanding dengan reseksi paru dini atau
setelah kemoterapi.Pembedahan
setelah terapi neoadjuvan secara keseluruhan aman dan efektif, dan
memberikan hasil perioperatif yang serupa dengan pembedahan setelah kemoterapi atau reseksi dini.
Temuan ini menyoroti pentingnya penanganan anestesi yang hati-hati dan prosedur
bedah yang cermat dalam meminimalkan risiko kematian perioperatif, serta menegaskan keamanan dan efektivitas pembedahan setelah terapi neoadjuvan dalam konteks reseksi
paru.
Kata Kunci: Kematian perioperatif, Bedah Radikal, Kanker Paru
Abstract:
Perioperative
mortality is a term that describes the rate of death that occurs in an
individual before or after surgery. Patient survival rates are often influenced
by perioperative circumstances, including factors such as anesthetic management
and surgical procedures. This study aims to evaluate perioperative mortality
rates and the factors that influence them, as well as to understand the rate of
postoperative complications in the context of early lung resection or after
chemotherapy. In addition, this study also aims to compare perioperative
outcomes between surgery after neoadjuvant therapy
and after chemotherapy or early resection. Research Method: This research is a
systematic review using four databases, namely PubMed, Google Scholar Cochrane,
and Proquest to search for related articles. Data
from relevant articles were evaluated and synthesized to provide a
comprehensive picture of perioperative mortality rates and postoperative
complications. From an analysis of 485,850 patients who underwent surgery,
4,038 individuals or 0.7% experienced perioperative death. The most common
causes of death are anesthesia errors, surgical errors, and patient
comorbidities. The results and literature review also showed that the mortality
rates at 30 and 90 days were 0% and 2.7%, respectively. Postoperative
complication rates are comparable to early lung resection or after
chemotherapy. Surgery after neoadjuvant therapy is
overall safe and effective, and provides similar perioperative outcomes to
surgery after chemotherapy or early resection. These findings highlight the
importance of careful anesthetic management and careful surgical procedures in
minimizing the risk of perioperative mortality, and confirm the safety and
effectiveness of surgery after neoadjuvant therapy in
the context of pulmonary resection.
Keywords:
�Perioperative mortality, Radical Surgery, Lung Cancer
����� ����
Pendahuluan
Kanker didefinisikan oleh National Cancer Institute
sebagai perkembangan sel baru yang tidak normal yang melewati batas normal,
menyerang sisi lain tubuh, dan menyebar ke organ lain (Yusna, 2019). Diantara 10 penyebab kematian
tertinggi di dunia, kanker merupakan masalah medis yang serius. Menurut
Febriani (2020) kanker paru-paru adalah jenis kanker yang dimulai di paru-paru
akibat proliferasi sel yang tidak normal yang tumbuh dengan cepat dan tidak
terkendali. Kerusakan DNA, seperti penghapusan bagian DNA, inaktivasi gen
penekan tumor, protoonkogen menjadi onkogen, kurangnya apoptosis, dan aktivitas
telomerase, merupakan penyebab utama perkembangan sel yang tidak normal (Susanti et al., 2023).
Global Burden of Cancer Study melaporkan bahwa
Indonesia saat ini memiliki prevalensi kematian akibat kanker sebesar 8,8%,
termasuk kematian akibat kanker paru. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan.
Terdapat 34.783 kasus kanker paru pada tahun 2020, dan angka
kematian akibat kanker ini meningkat 18% dari tahun
2018 hingga 2020. Kanker apa pun yang berkembang di paru-paru disebut sebagai
kanker paru-paru. Ini termasuk kanker paru primer dan karsinoma bronkial, yang
merupakan tumor ganas yang berasal dari epitel bronkial. Sekitar 11% dari
seluruh kasus kanker (Hamdani et al., 2023), atau 2.206.771 kasus
baru, adalah kanker paru.
Kanker ini juga merupakan penyebab utama kematian akibat kanker di seluruh dunia
dan di Indonesia.
Salah satu penyakit yang menyerang organ paru- paru
adalah kanker paru-paru. Tergantung pada bentuk dan stadium kanker, gejala
kanker paru dapat berubah. Jenis, ukuran, lokasi, dan stadium kanker paru
semuanya mempengaruhi pengobatan. Pembedahan, kemoterapi, terapi radiasi,
terapi bertarget, krioterapi, dan terapi ablasi adalah beberapa jenis terapi
yang ada. Pencegahan kanker paru dapat dilakukan dengan menghindari rokok atau
berhenti merokok (Sugiharto et al., 2021).
Evaluasi perioperatif paru merupakan bagian penting
dalam penatalaksanaan pasien dengan penyakit paru yang akan menjalani
pembedahan jantung atau non- jantung elektif (Solihin & Nurcahyo, 2024). Tujuan evaluasi perioperatif
secara umum adalah (1) identifikasi kondisi komorbid yang dapat meningkatkan terjadinya
komplikasi perioperatif;
(2) optimalisasi kondisi umum jika memungkinkan; (3)
memahami, mengenali, dan menangani kejadian yang dapat menyebabkan komplikasi
pascaoperasi; (4) merekomendasikan pemeriksaan praoperasi yang dapat
memengaruhi stratifikasi risiko dan manajemen pasien; dan (5) merekomendasikan
modalitas pascaoperasi yang dapat menurunkan risiko komplikasi.
Menurut penelitian Febriani 4.038 (0,7%) dari
485.850 pasien yang menjalani pembedahan meninggal dunia. Penyebab kematian
yang paling umum adalah kesalahan anestesi, faktor kesalahan pembedahan, dan
penyakit komorbiditas pasien. Komplikasi paru pasca operasi (PPC) berkisar
antara 2 hingga 19%, yang mengindikasikan kejadian yang signifikan. Menurut
Smetana, masalah paru timbul pada sekitar 6,8% dari prosedur bedah. PPC yang
paling sering dilaporkan adalah atelektasis, pneumonia, gagal napas, dan
perburukan penyakit paru yang sudah ada. Menurut
laporan, masalah paru lebih sering terjadi dibandingkan komplikasi jantung dan
mengakibatkan rawat inap yang lebih lama di rumah sakit (Salim et al., 2019).
Terdapat berbagai strategi untuk mengurangi risiko
masalah paru pasca operasi, yang secara garis besar dapat diklasifikasikan ke
dalam tiga kategori: preoperatif, intraoperatif, dan pasca operatif. Tujuan
dari penulisan artikel ini adalah untuk mengentahui kematian preoperatif
setelah operasi radical penatalaksanaan pasien kanker paru-paru melalui
sistematik review (Suryani, 2021).
��
Metode
Penelitian
ini merupakan tinjauan literatur. Empat database-PubMed, Google Scholar
Cochrane, dan Proquest-digunakan untuk mencari artikel. Preoperative mortality,
Lung cancer, Radical surgery management adalah istilah pencarian untuk artikel.
Berdasarkan kata kunci, total 634 artikel ditemukan. Artikel-artikel tersebut
kemudian disaring lebih lanjut untuk kriteria inklusi. 211 artikel memenuhi
persyaratan untuk dimasukkan. Komponen tujuan, metode, sampel dan pengaturan,
kriteria, dan hasil kemudian dianalisis menggunakan alat JBI. Terdapat 10
artikel yang dipilih untuk pemeriksaan tambahan. Bagian diskusi berisi analisis
isi artikel, sedangkan tabel (tabel.1) menyajikan gambaran umum
artikel.Prosedur untuk mengidentifikasi artikel disajikkan sebagai berikut:
Pengambilan Data
Judul
dan abstrak setiap penelitian dibaca oleh penulis untuk melihat apakah
penelitian tersebut sesuai dengan persyaratan penelitian. Setelah itu, penulis
memilih penelitian terdahulu yang akan digunakan sebagai sumber untuk tulisan
penelitian mereka. Hasil ini diperoleh setelah memeriksa beberapa penelitian
yang berbeda, yang semuanya menunjukkan pola yang sama. Semua entri harus
dibuat dalam bahasa Inggris dan tidak dapat dilihat di tempat lain. Untuk tujuan
review sistematis, hanya artikel yang memenuhi semua persyaratan inklusi yang
dimasukkan ke dalam daftar. Temuan penelitian kemudian diperiksa secara
menyeluruh.
Penilaian Kualitas & Sintesis
Data
Bagian
ini membahas penelitian mana yang telah dilakukan dan mana yang harus
dimasukkan dalam sistematik review ini. Sebelum memutuskan artikel mana yang
akan ditinjau lebih lanjut, penulis meninjau sendiri penelitian yang termasuk
dalam judul dan abstrak publikasi. Tahap selanjutnya adalah menilai setiap
artikel yang memenuhi kriteria inklusi tinjauan dan memenuhi syarat untuk
disertakan dalam tinjauan. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan, penulis
kemudian memutuskan publikasi mana yang akan disertakan dalam tinjauan
literature.
Hasil dan Pembahasan
Pada
database Pudmeb dan bantuan Google Scholar, penulis mendapatkan 10 literature
yang sesuai dengan tinjauan penelitian penulis. Namun, dari 10 literature yang
berupa artikel penelitian, hanya 4 literature yang sesauai dengan tujuan
sistematik review. Berikut disajikan di bawah ini:
Nasser
menggumpulkan pasien dengan NSCLC perifer yang secara klinis dinyatakan sebagai
T1aN0 diacak secara intraoperatif (setelah konfirmasi patologis tidak adanya
metastasis nodal pada nodus hilar dan mediastinum mayor) untuk reseksi lobar
(Lengan A: 357) atau reseksi sublobar (Lengan B: 340; reseksi irisan 58%).
Penugasan pengacakan didasarkan pada skema pengacakan blok acak bertingkat
tanpa penyembunyian. Pengacakan dikelompokkan berdasarkan ukuran tumor
radiografi (<1 cm, 1 - 1,5 cm, dan > 1,5 - 2,0 cm), histologi (karsinoma
skuamosa, adenokarsinoma, dan lainnya), serta status merokok (tidak pernah,
pernah, sedang merokok). Penugasan ini tidak disembunyikan.
Kematian
perioperatif didefinisikan sebagai kematian akibat sebab apapun dalam waktu 30
dan 90 hari setelah intervensi bedah dan dihitung pada semua pasien secara
Semua analisis dilakukan berdasarkan niat untuk mengobati
Wei-Hao
Chao, et.al mengumpulkan 125 pasien yang menjalani VATS untuk kanker paru
antara tahun 2017 dan 2021. CPET diberikan sebelum operasi untuk mengevaluasi
tingkat risiko dan PRCR dilakukan berdasarkan tingkat risiko individu yang
ditentukan oleh VO2 puncak, VO2 pada VT, dan kemiringan VE/VCO2. Hasil utama
adalah unit perawatan intensif (ICU) dan lama rawat inap di rumah sakit, waktu
intubasi endotrakeal (ETT), dan waktu pemasangan selang dada (CTT). Hasil
sekundernya adalah komplikasi pasca operasi (PPC), termasuk emfisema subkutan,
acak.
Morbiditas dinilai dengan menggunakan Kriteria Terminologi Umum untuk Efek
Samping (CTCAE v4.0).
pneumotoraks,
efusi pleura, atelektasis, infeksi, dan empiema.
Empat
puluh empat pasien dengan kanker paru non-sel kecil stadium I hingga IIIA
(American Joint Committee on Cancer Staging Manual, edisi ketujuh) diacak untuk
mendapatkan nivolumab (N; 3 mg/kg intravena pada hari ke-1, 15, dan 29; n = 23)
atau nivolumab dengan ipilimumab (NI; I, 1 mg/kg intravena pada hari ke-1; n =
21). Operasi dengan tujuan kuratif direncanakan antara 3 dan 6 minggu setelah
dosis terakhir neoadjuvant N. Pasien yang menyelesaikan reseksi di awal atau
setelah kemoterapi dari periode waktu yang sama digunakan sebagai pembanding
Table 1 Literature Review
|
No |
Author |
Asal |
Metode |
Hasil |
|
1. |
Nasser K, et.al [2] |
New York |
Studi acak |
Dalam uji coba internasional acak multisenter yang besar dan multisenter ini, analisis post-hoc menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam mortalitas dan morbiditas perioperatif antara reseksi lobar dan sublobar pada pasien yang sehat secara fisik dan fungsional dengan NSCLC T1aN0
klinis. Data ini dapat memengaruhi pilihan sehari-hari yang dibuat oleh pasien dan dokter mereka dalam menentukan pendekatan pengobatan yang optimal untuk kanker paru stadium I. |
|
2. |
Jin Kang, et.al
[3] |
China |
State of the
art |
PET/CT biasanya direkomendasikan untuk penatalaksanaan pra-operasi [66] dan PET/CT perioperatif telah digunakan dalam beberapa uji coba neoadjuvan [67]. Sebagai contoh, dalam uji coba (NCT04586465), PET/CT dinamis digunakan untuk mengevaluasi respons NSCLC stadium
IIa-IIIb terhadap pembrolizumab neoadjuvan yang dikombinasikan dengan kemoterapi. |
|
3. |
Boris Sepesi, MD, et.al |
Texas |
Studi acak |
Angka kematian pada 30 dan
90 hari masing- masing adalah 0% dan 2,7% (n = 1). Tingkat komplikasi pasca operasi sebanding dengan reseksi paru di awal atau setelah kemoterapi. Operasi setelah neoadjuvant N atau NI secara keseluruhan aman dan efektif serta
memberikan hasil perioperatif yang serupa dengan hasil yang dicapai setelah kemoterapi atau reseksi di awal. |
|
4. |
Wei-Hao���������������� Chao,
et.al [5] |
Chile |
Studi retrospektif |
Pasien dengan tingkat risiko yang berbeda menunjukkan
prognosis dan PPC yang sebanding setelah menjalani PRCR yang dipandu oleh CPET.
PRCR harus dianjurkan pada pasien yang menjalani PPN untuk kanker paru |
Pembahasan
Kanker
paru menempati urutan ketiga setelah kanker payudara dan serviks pada tahun
1998 di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta (Dewi, 2017). Secara global, kanker paru
merenggut nyawa sekitar satu juta orang setiap tahunnya. Pria memiliki risiko
kanker paru yang lebih tinggi (65%) dibandingkan wanita (1:20). Kelompok usia
di atas 40 tahun��������� memiliki��������� risiko�������������� yang���������������� lebih��� tinggi.�� ����������� Ada ketidakpastian tentang penyebab
pasti kanker paru. Faktor penyebab yang signifikan adalah paparan atau
penghirupan bahan yang diketahui memiliki sifat karsinogenik dalam jangka waktu
lama (Hanafi, 2021), di samping faktor-faktor lain
termasuk kekebalan tubuh, keturunan, dan lainnya. Terdapat korelasi yang cukup
besar antara merokok dan etiologi kanker paru, menurut beberapa publikasi (Rejeki & Pratiwi, 2020).�
Dibandingkan dengan bukan perokok, perokok memiliki
risiko lebih tinggi terkena kanker paru. Sesak napas, batuk, nyeri dada, nyeri
punggung, hemoptisis, anoreksia, penurunan berat badan yang substansial,
kelemahan, dan penyumbatan vena kava adalah beberapa gejala klinis. Kanker
paru-paru sel kecil (SCLC) dan kanker paru-paru bukan sel kecil (NSCLC), yang
selanjutnya diklasifikasikan menjadi karsinoma sel skuamosa, adenokarsinoma,
karsinoma bronkoalveolar, dan karsinoma sel besar, merupakan divisi praktis
yang didasarkan� pada data histopatologis. Pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan
radiologi, biopsi trans toraks (TTB), biopsi aspirasi jarum halus (FNAB), dan pemeriksaan histopatologi merupakan contoh pemeriksaan
penunjang yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kanker paru (Sudarsih et al., 2018).
Pengobatan
untuk NSCLC dan SCLC berbeda tergantung pada jenis kanker paru. Pembedahan,
radiasi, dan kemoterapi adalah beberapa pengobatan yang biasanya diberikan
berdasarkan stadium kanker. Kemoterapi adalah pengobatan standar bagi penderita
kanker paru, baik secara paliatif maupun mulai dari stadium III A. Secara
global, angka kematian dan prevalensi kanker paru masih sangat tinggi (Rejeki & Pratiwi, 2020).
Istilah
"kematian perioperatif" menggambarkan tingkat kematian yang menyerang
individu sesaat sebelum atau tepat setelah operasi. Tingkat kelangsungan hidup
pasien mungkin dipengaruhi oleh keadaan perioperatif. Berikut ini adalah
beberapa variabel yang terkait dengan kematian perioperatif: enelitian menunjukkan
bahwa individu yang berusia di atas 70 tahun dan terinfeksi COVID-19 memiliki
tingkat kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang lebih muda.
Selain itu, pasien dengan komorbiditas yang lebih berat (CCI > 3) berisiko
lebih tinggi untuk meninggal. Dibandingkan dengan operasi elektif, pasien yang
menjalani operasi darurat memiliki peluang kematian yang lebih tinggi. Terdapat
peluang kematian (Hayati & Kusumawaty, 2023)
yang
lebih tinggi bagi pasien yang memerlukan perawatan intensif di unit perawatan
intensif (ICU) setelah operasi. Mortalitas perioperatif juga dapat dipengaruhi
oleh Kejadian Tidak Diinginkan (KTD) selama terapi ICU. Memahami
variabel-variabel ini sangat penting untuk mengambil keputusan yang berdasar
informasi dan menentukan pasien mana, terutama pasien lanjut usia selama
pandemi COVID-19, yang dapat mendapatkan manfaat dari operasi yang memerlukan
anestesi (SURIAWAN, n.d.).
Penyakit
paru obstruktif kronik (PPOK) didefinisikan oleh Global Initiative for Chronic
Obstructive Lung Disease (GOLD) sebagai penyakit yang progresif, dapat dicegah,
dan diobati dengan manifestasi luar paru yang berdampak pada tingkat keparahan
penyakit (Ciptaningrum & Karyus, 2022). Penyakit ini ditandai dengan
keterbatasan aliran udara paru yang tidak sepenuhnya dapat dipulihkan, respons
inflasi abnormal terhadap partikel beracun dan gas beracun, dan keduanya. Pada
tahun 2020, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) diprediksi akan meningkat
dari posisinya saat ini sebagai penyebab kematian terbesar keempat di dunia
menjadi peringkat ketiga. Pada tahun 2020, kemungkinan akan ada 4,7 juta
kematian akibat PPOK di seluruh dunia, meningkat dari 2,2 juta pada tahun 1990.
Merokok
adalah salah satu faktor resiko PPC yang khusus karna dapat dihentikan sebelum
bedah (Kentjono, 2022). Mungkin diperlukan beberapa
bulan untuk dapat memperbaiki kerusakan akibat asap rokok tetapi pengenthian
kebiasaan merokok selama beberapa minggu sebelum dapat menurunkan resiko PPC
secara bermakna. Anggapan bahwa berhenti merokok tepat sebelum operasi
meningkatkan risiko PPC tidak didukung oleh data ilmiah. Jika berhenti merokok
dipertahankan selama enam minggu sebelum operasi, diperkirakan akan ada
penurunan yang cukup besar dalam masalah yang muncul setelah operasi. Setelah
berhenti merokok, efek berbahaya dari CO dan nikotin mulai memudar 12 hingga 48
jam kemudian. Setelah satu minggu, terjadi penurunan yang nyata pada respons
jalan napas, dan dua minggu kemudian, volume dahak berangsur-angsur berkurang hingga
minggu keenam. Komplikasi memuncak sekitar 12 minggu, dengan penurunan yang
terjadi pada 6-8 minggu.
Kesimpulan
Kesimpulan
yang dapat diambil dari sistematik review ini adalah prevalensi kematian akibat
kanker sebesar 8,8%, termasuk kematian akibat kanker paru. Kondisi ini sangat
mengkhawatirkan. Terdapat 34.783 kasus kanker paru pada tahun 2020, dan angka
kematian akibat kanker ini meningkat 18% dari tahun 2018 hingga 2020. Istilah
"kematian perioperatif" menggambarkan tingkat kematian yang menyerang
individu sesaat sebelum atau tepat setelah operasi. Tingkat kelangsungan hidup
pasien mungkin dipengaruhi oleh keadaan perioperatif.
Daptar Pustaka
ciptaningrum, I., & Karyus, A. (2022). Penatalaksanaan
Holistik Pasien Tn. T Lansia 65 Tahun Dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronis
Melalui Pendekatan Kedokteran Keluarga. Jurnal Kesehatan Tambusai, 3(1),
46�57.
Dewi, M. (2017). Sebaran Kanker Di Indonesia, Riset Kesehatan
Dasar 2007. Indonesian Journal Of Cancer, 11(1), 1�8.
Hamdani, A. F., Purbaningsih, W., & Nalapraya, W. Y.
(2023). Karakteristik Demografi Dan Klinikopatologi Pasien Kanker Paru Di Rsud
Al− Ihsan. Jurnal Riset Kedokteran, 97�102.
Hanafi, M. A. (2021). Analisis Risiko Paparan Isopropanol
Di Udara Pada Pekerja Industri Percetakan Di Kota Kendari= Risk Analysis Of
Isopropanol Exposure In The Air On Printing Industry Workers In Kendari.
Universitas Hasanuddin.
Hayati, T. V., & Kusumawaty, I. (2023). Indikasi Operasi
Caesar Dengan Kejadian Kegagalan Induksi Persalinan. Jkm: Jurnal Keperawatan
Merdeka, 3(1), 48�59.
Kentjono, W. A. (2022). Total Laryngectomy: An Update. Paradigma
Dan Manajemen Terkini Pada Kasus Onkologi Tht-Kl, 251.
Rejeki, M., & Pratiwi, E. N. (2020). Diagnosis Dan
Prognosis Kanker Paru, Probabilitas Metastasis Dan Upaya Prevensinya. Prosiding
University Research Colloquium, 73�78.
Salim, M. F., Lubis, I. K., & Sugeng, S. (2019).
Perbedaan Length Of Stay (Los) Pasien Diabetes Mellitus Berdasarkan Komplikasi
Di Rsup Dr. Sardjito Yogyakarta. Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan
Indonesia, 7(1), 17.
Solihin, G. M., & Nurcahyo, W. I. (2024). Disfungsi
Ventrikel Kanan Perioperatif Bedah Jantung Dewasa. Majalah Anestesia &
Critical Care, 42(1), 81�97.
Sudarsih, K., Budiwati, T., & Felayani, F. (2018).
Peranan Foto Thorax Sebagai Pemeriksaan Penunjang Diagnostik Pada Penderita Ca.
Mammae Di Instalasi Radiologi Rsud Sunan Kalijaga Demak. Jurnal Ilmu Dan
Teknologi Kesehatan, 5(1).
Sugiharto, S., Simanjuntak, R. A. P., & Larissa, O.
(2021). Kanker Paru, Faktor Risiko Dan Pencegahannya. Prosiding Senapenmas,
613�620.
Suriawan, I. N. Y. (N.D.). Literature Review Halaman
Sampul Depan Gambaran Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Tingkat Kecemasan
Pasien Pra Anestesi Pada Operasi Sectio Caesarea Dengan Spinal.
Suryani, W. (2021). Daun Kelor (Moringa Oleifera) Terhadap
Penyakit Degeneratif.
Susanti, R., Dafip, M., & Mustikaningtyas, D. (2023). Ekspresi
Dan Profil Mirna Pada Kanker Kolorektal. Unisma Press.
Yusna, F. A. D. (2019). Ketahanan Hidup Pada Pasien Kanker
Payudara Lontara 2 Atas Rsup Wahidin Sudirohusodo Makassar Periode 2017-2018.
Universitas Hasanuddin.