Analisis Proksimat
Umbut Rotan Noko (Daemonorops
Robusta)
Nasria1, Andi Tanra Tellu2, Musdalifah Nurdin3
Universitas
Tadulako, Sulawesi Tengah, Indonesia
[email protected]1, [email protected]2,
[email protected]3
Abstrak:
Umbut rotan (rotan muda) merupakan
salah satu bahan pangan (sayur dan lalapan) yang popular dari beberapa daerah.
Penelitian bertujuan untuk mengetahui kandungan gizi yakni kadar karbohidrat,
kadar lemak kadar protein, kadar air dan kadar abu umbut rotan noko
(Daemonorops robusta) di Desa Sibado Kecamatan Sirenja. Jenis penelitian yang
digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Analisis proksimat digunakan untuk
menentukkan kadar lemak, kadar protein, kadar air, kadar abu dan kadar
karbohidrat. Uji kadar lemak menggunakan metode soxhlet, uji kadar protein
menggunkan metode spektrofotometri, uji kadar air menggunakan metode
termografimetri, uji kadar abu menggunkan metode dryasing dan uji kadar
karbohidrat menggunakan metode by difference. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa rata-rata kadar lemak sebesar 0,332%, kadar protein sebesar 2,110% kadar
air sebesar 90,280%, kadar abu sebesar 1,196% dan kadar karbohidrat sebesar 6,
082%. Hal ini menunjukan bahwa umbut rotan noko (Daemonorops robusta) layak
dikonsumsi oleh masyarakat.
Kata Kunci: Analisis Proksimat, Kandungan Gizi, Umbut Rotan Noko.
Abstract:
Rattan shoots (young rattan) are a popular food ingredient (vegetables and fresh vegetables) in several regions. The research aims to determine the nutritional content, namely carbohydrate content, fat content, protein content, water content and ash content of noko rattan shoots (Daemonorops robusta) in Sibado Village, Sirenja District. The type of research used is quantitative descriptive. Proximate analysis is used to determine fat content, protein content, water content, ash content and carbohydrate content. The fat content test uses the Soxhlet method, the protein content test uses the spectrophotometric method, the water content test uses the thermography method, the ash content test uses the drying method and the carbohydrate content test uses the by difference method. The results showed that the average fat content was 0.332%, protein content was 2.110%, water content was 90.280%, ash content was 1.196% and carbohydrate content was 6.082%. This shows that noko rattan shoots (Daemonorops robusta) is suitable for consumption by the public
Keywords:
�Proximate Analysis, Nutrient content, Noko
Rattan Shoots
���������
Pendahuluan
Rotan
merupakan tumbuhan yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat, batangnya yang
dimanfaatkan sebagai anyaman dan tali temali, daunnya digunakan untuk keperluan
upacara adat, buahnya di manfatkan sebagai obat dan bahan kosmetik, serta umbut
rotan yang merupakan tunas muda rotan yang dapat dimanfaatakan sebagai bahan
pangan yang tergolong kedalam jenis sayur-sayuran. Umbut ini dimasak dan
dikonsumsi sebagai (lauk) makan (Utami et al., 2017).
Umbut
rotan (rotan muda) merupakan salah satu bahan pangan (sayur dan lalapan) yang
popular dari beberapa daerah (Rumbang et al., 2021). Masyarakat dari daerah-daerah
tertentu sangat memanfaatkan umbut rotan tersebut sebagai bahan pangan makanan,
masyarakat sangat menyukainya umbut rotan karena rasanya nikmat. Tidak sulit
menemukan tunas rotan atau umbut rotan karena banyak ditemukan di sekitar
kawasan hutan. Cara pengelolahan umbut rotan tidaklah terlalu sulit, mereka
terlebih dahulu harus membersihkan duri dari umbut rotan tersebut. Setelah itu
proses selanjutnya adalah merebus umbut rotan yang berguna untuk mengurangi
rasa pahit dan untuk menjadikan umbut rotan menjadi lembut (Gunawan
et al., 2022).
Analisis
proksimat merupakan suatu metode analisis kimia untuk mengidentifikasi
kandungan zat makanan dari suatu bahan pakan atau pangan (Andyarini
& Hidayati, 2017). Analisis proksimat
menganalisis beberapa komponen seperti: kadar air, bahan organik (abu),
protein, lemak, karbohidrta, dan serat kasar (Rochmah
Kurnijasanti, 2016). Istilah proksimat
memiliki pengertian bahwa hasil analisisnya tidak menunjukkan angka
sesungguhnya, tetapi mempunyai nilai mendekati. Hal ini disebabkan komponen
praktisi yang dianalisisnya masih mengandung komponen lain yang jumlahnya
sangat sedikit yang seharusnya tidak masuk ke dalam fraksi yang dimaksud (Mikdarullah et al., 2020).
Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi
tubuh manusia, yang menyediakan 4 kalori (kiojoule) energi pangan per gram.
Karbohidrat juga mempunyai peranan penting dalam menentukan karakteristik bahan
makanan misalnya rasa, warna, tekstur, dan lain-lain (Fitri & Fitriana, 2020). Lemak adalah senyawa yang
mengandung unsur C, H, dan O. Lemak atau lipid merupakan salah satu zat gizi
yang dibutuhkan oleh tubuh manusia, karena perannya untuk menyediakan energi
sebesar 9 kkal/g, melarutkan vitamin A, D, E, K, dan menyediakan asam lemak
esensial bagi tubuh manusia (Angelia, 2016). Protein adalah zat makanan yang
mengandung nitrogen, yang menjadi faktor penting dalam fungsi tubuh. Protein
merupakan komponen terbesar setelah air di sebagian besar jaringan tubuh (Bakhtra et al., 2017). Kadar air merupakan komponen
penting dalam makanan karena air dapat mempengaruhi penampakan, tekstur, serta
cita rasa makanan kita (Nuryanti, 2018). Kadar abu adalah sisa dari
komponen anorganik yang terdapat pada bahan pakan yang memiliki hubungan sangat
erat dengan mineral (Mustafa & Elliyana, 2020). Berdasarkan hal tersebut
dilakukan penelitian ini untuk mengetahui kandungan gizi pada umbut rotan yang
ada di Desa Sibado Kecamatan Sirenja dengan menganalisis kadar karbohidrat,
kadar lemak, kadar protein, kadar air dan kadar abu, sehingga bisa dijadikan
acuan sebagai informasi kandungan gizi umbut rotan yang dikonsumsi sebagi bahan
pelengkap makanan pokok.
��
Metode
�������� Jenis penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif�
yaitu penelitian yang menggambarkan/ mendeskripsikan/ mengukur secara
cermat tentang fenomena yang diteliti dengan memperoleh data berdasarkan hasil
uji laboratorium analisis proksimat dari umbut rotan.
Tempat
dan Waktu Penelitian
�������� Penelitian ini dilaksanakan
di Desa Sibado dan dilanjutkan analisis kadungan gizi di Laboratorium Kimia
MIPA Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tadulako Palu
pada bulan Agustus 2023-Maret 2024.
Prosedur Penelitian
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian antar lain, parang, plastik sampel, alat ekstraksi soxhlet,
erlenmeyer, desikator,
kertas saring, timbangan
analitik, oven, labu lemak, spektrofometer uv-vis, rotary evaporator, cawan porselen, pipet tetes, gelas ukur, gelas kimia, penanggas air, klem dan statif, kamera,
alat tulis, mesin
agitasi, dan sentrifuge. Bahan yang digunakan yaitu
umbut rotan, aquades,
alumunium foil, naoh 1m, dan larutan
n-heksen,
Cara Kerja
Uji Protein (Metode
Spektofotometri)
Sampel
ditimbang 5 gram, kemudian dimasukkan kedalam Erlenmeyer. Dicampurkan 20 ml
aquades dan 1 ml NaOH 1 m kedalam erlenmeyer dan dikocok hingga homegen selama
2 jam. Sampel kemudian disaring dengan menggunakan filter papers hingga cairan
jernih. Filtrate diambil sebnayak� 1 ml
dicampur dengan 3 ml reagen biuret. Sampel didiamkan selama 30 menit lalu
diukur kandungan proteinnya dengan menggunkan spektofotometri uv vis pada
panjang gelombang maksimum. Kemudia dihitung menggunkan rumus :
Kadar Protein (%) =
Keterangan :
X���� : konsentrasi BSA sampel (ppm)
Y���� : volume (L)
Fp�� : faktor pengenceran (jika ada)
W��� : berat sampel (g)
Uji Lemak (Metode Soxhlet)
Keringkan
sampel pada suhu 80�C selama kurang lebih 1 jam. Timbang sampel sebanyak 5 g
dan masukkan kedalam selongsong kertas.Sumbat selongsong yang berisi sampel
dengan kapas.� Sampel dimasukkan kedalam
alat soxhlet yang dihubungkan dengan labu�
lemak yang telah dikeringkan dan diketahui bobotnya.(timbang labu
sebelum dipakai). Uapkan pelarutnya secara vakum dengan menggunakan rotary
vakum evaporator. Keringkan ekstrak lemak dalam oven pengering suhu 105 oC
selama 1 jam. Dinginkan dalam desikator dan timbang hingga bobot tetap.
Kemudian dihitung menggunakan rumus :
Kadar
lemak=
Keterangan :
W��� :bobot sampel awal (gram)
W1� :bobot labu + sampel sesudah ekstraksi (gram)
W2� :bobot labu kosong (gram)
Uji Kadar Air (Metode Termogravimetri)
Cawan dikeringkan terlebih dahulu selama 1 jam dalam
oven padasuhu 105�C, lalu didinginkan dalam desikator selama 1/2 jam dan
kemudian beratnya ditimbang. Sampel ditimbang seberat 5 gram, dimasukkan
kedalam cawan, kemudian dimasukkan kedalam oven selama 3 jam pada suhu 105�C,
laludi dinginkan dalam desikator selama 1 jam dan timbang. Masukkan kembali sampel kedalam oven
selama 1 jam pada suhu 105oC, lalu didinginkan dalam desikator
selama 1 jam dan ditimbang.Ulangi pemanasan dan penimbangan hingga diperoleh
bobot tetap. Kemudian dihitung
menggunakan rumus :
Kadar
Air (%)� =
Keterangan :
Ws� :bobot sampel sebelum dioven (gram)
Wi�� :bobot sampel + cawan sesudah dioven (gram)
Wo� :bobot cawan kosong (gram)
Uji Kadar Abu (Metode Dryasing)
Sampel
sebanyak 1g ditimbang pada cawan porselen yang sudah diketahui bobotnya.
Ditanur pada suhu 550� C hingga pengabuan sempurna. Setelah Itu didinginkan dalam
desikator (sekali-kali pintu tanur dibuka sedikit,agar oksigen bias masuk).
Ditimbang hingga diperoleh bobot tetap. Kemudian dihitung menggunakan rumus :
Kadar
abu=
Keterangan :
W��� :bobot sampel sebelum diabukan (gram)
W1� :bobot sampel+cawan sesudah diabukan(gram)
W2� :bobot cawan kosong (gram)
Uji Kadar Karbohidrat
(Metode By Difference)
Penentuan kadar karbohidrat mengunakan metode carbohydrate by differenece, yakni
penentuan karbohidrat melalui perhitungan bukan melalui analisis. Dihitung
menggunakan rumus :
%K
= 100 - %(protein + lemak + abu + air)
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan
pengujian yang telah dilakukan pada sampel umbut rotan di Laboratorium Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tadulako Palu maka
didapatkan hasil Analisa proksimat yang disajikan pada Tabel 1 sebagai berikut :
Tabel 1Hasil Analisis Proksimat Umbut Rotan Noko
|
Sampel |
Kadar Air (%) |
Kadar Abu (%) |
Kadar Protein (%) |
Kadar Lemak (%) |
Kadar Karbohidrat (%) |
|
Umbut rotan
U1 |
90,659 |
1,291 |
2,148 |
0,289 |
5,613 |
|
Umbut rotan
U2 |
90,906 |
1,092 |
2,172 |
0,365 |
5,466 |
|
Umbut rotan
U3 |
89,276 |
1,207 |
2,009 |
0,341 |
7,167 |
|
Rata- rata |
90,280 |
1,196 |
2,110 |
0,332 |
6,082 |
Pembahasan
Lemak adalah senyawa organik yang tidak larut dalam air,
tetapi larut dalam zat pelarut organik non polar salah satunya n-heksan.
Sebagai bahan makanan lemak mempunyai peran penting untuk dikonsumsi oleh orang
yang mengerjakan tugas fisik yang berta, lemak dapat memberikan citarasa
kelezatan yang lebih menarik (Astuti, 2018). (Fariadi et al., 2024), menjelaskan bahwa lemak berfungsi
sebagai menyedia energi ke-2 setelah karbohidrat. Lemak memiliki fungsi sebagai
penyedia energi cadangan, pembawa zat-zat makanan yang esensial, dan sebagai
pelindung organ-organ tubuh yang lunak (Cahyani et al., 2020). Tabel 1 menginformasikan bahwa
kadar lemak pada umbut rotan noko diperoleh hasil rata-rata 0,332%. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa kadar lemak pada umbut rotan noko sama dengan
Kemenkes RI (2018), menyatakan bahwa umbut rotan memiliki kandungan lemak
sebesar 0,3% setiap 100 gram BDD. Berdasarkan
anjuran WHO yang merekomendasikan bahwa asupan lemak tidak lebih dari 30% dari
asupan total energi per hari atau setara dengan 67 gram lemak per hari, jika
kebutuhan energi adalah 2000 kalori atau sama dengan 5-6 sendok. Dengan
demikian jika di tinjau dari kandungan lemak umbut rotan noko yang didapatkan
yaitu 0.332% dan termasuk dalam kategori rendah dengan kebiasaan masyarakat
Desa Sibado yang gemar mengkonsumsi umbut rotan untuk dijadikan sayur pelengkap
makanan maka dapat dikatakan bahwa umbut rotan ini dapat membantu dalam
mencukupi kebutuhan lemak.
Protein merupakan salah satu komponen zat gizi yang
diperlukan dalam tubuh untuk pembentuk dan perbaikan jaringan dalam tubuh.
Protein memiliki peran penting sebagai komponen fungsional dan struktural pada
semua sel tubuh (Astuti, 2018). Protein juga merupakan salah satu
bagian terbesar dalam tubuh sesudah air yang memiliki fungsi khas yang tidak
dapat digunakan oleh zat gizi lain seperti membangun dan memelihara sel-sel dan
jaringan tubuh (Saputri et al., 2019). Hasil penelitian analisis kadar
protein umbut rotan dalam kondisi basah segar yang ditimbang sebanyak 5 gram
dengan 3 kali pengulangan sehingga diperoleh nilai rata-rata 2,110%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kadar
lemak pada umbut rotan noko terbilang rendah dengan Kemenkes RI (2018), yang
menyatakan bahwa umbut rotan memiliki kandungan protein sebesar 2,4% setiap 100
gram BDD. Pemenuhan kebutuhan protein berdasarkan Anggka Kecukupan Gizi (AKG)
masing-masing orang berbeda-beda, hal ini bergantung pada usia, jenis kelamin
dan penyakit tertentu. Untuk orang dewasa diperlukan mengkomsumsi protein
sebanyak 65-75 g/hari. Umbut rotan dengan konsentrasi sebanyak 5 gram mengandung
2,110% protein, sehingga dengan mengkonsumsi umbut rotan sebanyak 10 g/hari
dapat memenuhu kebutuhan protein sebanyak 4,22%.
Kadar air dalam bahan pangan sangat mempengaruhi
kualitas dan daya simpan dari bahan pangan tersebut. Oleh karena itu penentuan
kadar air dari suatu bahan pangan sangat penting agar dalam proses pengolahan
maupun pendisribusian mendapat penanganan yang tepat. Semakin banyak kadar air
yang terkandung, umur simpannya semakin sebentar, karena kalau suatu bahan
banyak mengandung kadar air, maka sangat memungkinkan adanya mikroba yang
tumbuh (Nuryanti, 2018). Tabel 1 menginformasikan kadar
air pada umbut rotan noko memiliki nilai rata-rata 90,280%. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kadari air umbut rotan noko lebih rendah dibandingan Kemenkes
RI (2018), yang menyatakan bahwa kadar air umbut rotan sebesar 90,5%. Kadar air
pada umbut rotan terbilang tinggi sehingga dapat disumpulkan bahwa umur
simpannya semakin sebentar.
Abu adalah residu anorganik dari proses pembakaran
atau oksidasi komponen organik bahan pangan. Kadar abu total adalah bagian dari
analisis proksimat yang bertujuan untuk mengevalusi nilai gizi suatu
produk/bahan pangan terutama total mineral (Nuryanti, 2018). kadar abu suatu bahan
menggambarkan banyaknya mineral
yang tidak terbakar menjadi zat yang dapat menguap. Hasil penelitian analisis
kadar abu umbut
rotan noko dengan nilai rata-rata 1,196%. Hasil ini menunjukan bahwa kadar abu umbut rotan noko lebih
lebih rendah dibandingan Kemenkes RI (2018), yang menyatakan bahwa umbut rotan
memiliki kadar abu sebesar 1.3%, sesuai
dengan literatur dari kadar abu sayuran yang seharusnya, yaitu sekitar 1% maka
kadar umbut rotan noko sudah sesuai dan cocok untuk dikonsumsi sehari hari.
Karbohidrat merupakan kebutuhan dasar yang diperlukan
tubuh. Karbohidrat merupakan bahan yang penting penghasil sumber tenaga dan
sering kali digunakan sebagai sumber energi yang baik bagi tubuh. Karbohidrat
bersumber dari nabati dan hewani. Fungsi utama karbohidrat adalah penghasil
energi, di dalam hati digunakan sebagai detokfikasi, di samping itu membantu
metabolisme lemak dan protein.
Hasil penilitian yang diperoleh melalui perhitungan yang ditunjukkan oleh tabel
1 bahwa umbut rotan noko memiliki kandungan karbohidrat dengan nilai rata
6,082%. Hasil penilitian menunjukkan bahwa kadar karbihidrat umbut rotan noko
lebih tinggi dari Kemenkes RI (2018), yang menyatakan bahwa kadar karbohidrat
umbut rotan sebesar 5.5%. Menurut
BPOM (2014) Kebutuhan akan karbohidrat 50%-65% per harinya. Angka Kecukupan
Gizi (AKG) khususnya karbohidrat per harinya yaitu perempuan dengan rentang
usia 19-49 tahun membutuhan 309-312 gram dan lakilaki membutuhkan 375-394 gram
per hari dan untuk bayi/anak membutuhakan 58- 254 gram per harinya. umbut rotan
segar dalam 100 gram BDDnya mengandung 6.082 % dengan demikian mengkonsumsi
umbut rotan dalam keadaan segar terbilang dapat mencukupi kebutuhan kerbohidrat
tubuh sehari-hari.
Kesimpulan
Penelitian ini menyimpulkan
bahwa Hasil analisis kandungan gizi pada umbut rotan dengan jenis rotan noko
(Daemonorops robusta Warburg) analisis proksimat menunjukkan bahwa rata-rata
kadar lemak sebesar 0,332%, kadar protein sebesar 2,110% kadar air sebesar
90,280%, kadar abu sebesar 1,196% dan kadar karbohidrat sebesar 6, 082%.
Daftar Pustaka
Andyarini, E. N., & Hidayati, I. (2017). Analisis proksimat pada Tepung
Biji Nangka (artocarpus heterophyllus lamk.). KLOROFIL: Jurnal Ilmu Biologi
Dan Terapan, 1(1), 32�37.
Angelia, I. O. (2016). Analisis kadar lemak pada tepung ampas kelapa. Jurnal
Technopreneur (JTech), 4(1), 19�23.
Astuti, W. P. (2018). Subtitusi Tempe Untuk Meningkatkan Rasa dan Kadar
Protein pada Abon Biji Durian (Durio zibethinus Murr). UIN Raden Intan
Lampung.
Bakhtra, D. D. A., Rusdi, R., & Mardiah, A. (2017). Penetapan kadar
protein dalam telur unggas melalui analisis nitrogen menggunakan metode
kjeldahl. Jurnal Farmasi Higea, 8(2), 143�150.
Cahyani, P. M., Maretha, D. E., & Asnilawati, A. (2020). Uji kandungan
protein, karbohidrat dan lemak pada larva maggot (Hermetia Illucens) yang di
produksi di kalidoni kota palembang dan sumbangsihnya pada materi insecta di
kelas X Sma/Ma. Bioilmi: Jurnal Pendidikan, 6(2), 120�128.
Fariadi, H., Yulihartika, R. D., Azhari, D., & Saputra, J. (2024).
Sosialisasi Limbah Tulang Ikan Sebagai Bahan Baku Pengolahan Produk Pangan
Inovatif. Jurnal Dehasen Untuk Negeri, 3(1), 143�148.
Fitri, A. S., & Fitriana, Y. A. N. (2020). Analisis senyawa kimia pada
karbohidrat. Sainteks, 17(1), 45�52.
Gunawan, S., Rukmi, R., Naharuddin, N., Sustri, S., Rahmawati, R., &
Korja, I. N. (2022). Bentuk-Bentuk Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)
Oleh Masyarakat Desa Mataue Kecamatan Kulawi Kabupaten Sigi. Jurnal Warta
Rimba, 10(1), 60�69.
Mikdarullah, M., Nugraha, A., & Khazaidan, K. (2020). Analisis
Proksimat Tepung Ikan dari Beberapa Lokasi yang Berbeda. Buletin Teknik
Litkayasa Akuakultur, 18(2), 133�138.
Mustafa, A., & Elliyana, E. (2020). Pemanfaatan ampas kedelai pada
pembuatan brownies �gluten free� ubi jalar ungu dan uji kelayakannya. Agrointek:
Jurnal Teknologi Industri Pertanian, 14(1), 1�13.
Nuryanti, N. (2018). Studi kelayakan kadar air, abu, protein, dan kadmium
(Cd) pada sayuran di Pasar Sunter, Jakarta Utara sebagai bahan suplemen
makanan. Indonesia Natural Research Pharmaceutical Journal, 3(2),
111�123.
Rochmah Kurnijasanti, N. (2016). Hasil analisis proksimat dari kulit
kacang yang difermentasi dengan probiotik Biomc4. Jurnal Agro Veteriner,
5(1), 28�33.
Rumbang, N., Trissan, W., Karelius, K., & Agnestisia, R. (2021).
PEMANFAATAN SELULOSA DARI KULIT UMBUT ROTAN (Calamus sp) SEBAGAI ADSORBEN
METILEN BIRU. Jurnal Ilmiah Berkala: Sains Dan Terapan Kimia, 15(2).
Saputri, G. A. R., Tutik, T., & Permatasari, A. I. (2019). Penetapan
Kadar Protein pada Daun Kelor Muda dan Daun Kelor Tua (Moringa Oleifera L.)
Dengan Menggunakan Metode Kjeldahl. Jurnal Analis Farmasi, 4(2),
108�116.
Utami, S., Wardenaar, E., & Idham, M. (2017). Studi pemanfaatan rotan
oleh masyarakat dusun kebak raya di kawasan hutan desa suruh tembawang
kecamatan entikong kabupaten sanggau. Jurnal Hutan Lestari, 5(3).