Strategi Kelompok Ina Glekat Dalam
Mengembangkan Usaha Tenun Ikat di Desa Watoone Kabupaten
Flores Timur
Rofina
Yunita Jani1, Frans Bapa Tokan2, Eusabius Separera Niron3
Universitas
Khatolik Widya Mandira Kupang
[email protected]1, [email protected]2,
[email protected]3
Abstrak:
Di era teknologi yang sangat ketat saat ini, semua
pengusaha harus menggunakan strategi untuk mengembangkan bisnis mereka. Pada dasarnya, tujuan dari pengembangan
usaha yang berbasis kelompok tenun tradisional adalah untuk meningkatkan akses bagi individu,
keluarga, dan kelompok masyarakat terhadap sumber daya yang diperlukan untuk melakukan proses produksi serta kesempatan untuk berusaha. Tenun ikat, salah satu warisan budaya bangsa Indonesia, tersebar di seluruh kepulauan Indonesia dan berkembang menjadi industri kreatif yang merupakan bagian penting dari ekonomi
negara. Penelitian kualitatif
adalah metode penelitian yang digunakan. Ini menghasilkan data deskriptif tentang kata-kata lisan dan tertulis serta tingkah laku subjek.
Untuk mencapai kesimpulan, peneliti memberikan penjelasan mendalam tentang masalah yang berkaitan dengan data dan teori yang ada. Teori yang dipergunakan oleh
peneliti dalam skripsi ini yaitu
Marketing Mix. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi yang digunakan
oleh kelompok tenun Ina Glekat dalam mengembangkan usaha adalah menerapkan
strategi pemasaran secara langsung atau dari
mulut ke mulut sehingga hasil penjualan yang didapatkan belum maksimal. dan kelompok tenun Ina Glekat tetap menenun agar budidaya tenun ini tidak
hilang. Produksi kain tenun berkualitas
tinggi, menjual barang dengan harga
rendah, melakukan promosi yang lebih baik, dan memilih lokasi yang tepat adalah beberapa strategi pengembangan bisnis yang digunakan.
Kata Kunci: Strategi
Pengembangan Usaha, Marketing Mix dan
Tenun Ikat Ina Glekat
Abstract:
Competition
in the era of technology is very tight, requiring every entrepreneur to use
strategies to develop their business. The main goal of business development
initiatives, such as traditional weaving groups, is to give more people,
families, and community organizations access to the resources they need to
carry out the manufacturing process and to commercial opportunities. One of the
artistic traditions of the Indonesian people, which is practiced all over the
Indonesian archipelago, is ikat weaving. One of the main drivers of the
country's economy is the rise of ikat weaving as a creative sector. The
methodology employed in the research is In order to
reach a conclusion, qualitative research aims to provide a thorough explanation
of the issues related to the theories and data that are currently in use, along
with descriptive information about the spoken and written words, as well as the
observable behavior of the subjects. The theory applied The
study's findings clarify that the approach taken by the Ina Glekat
weaving group in developing a business is to implement a direct marketing
strategy or word of mouth so that the sales results obtained are not maximized.
and the Ina Glekat weaving group continues to weave
so that this weaving cultivation is not lost. The business development strategy
used is to produce quality woven fabrics, sell products at low prices, increase
sales promotion and choose the right location.
Keywords:
�Business
Development Strategy, Marketing Mix and Tenun Ikat
Ina Glekat
����� ����
Pendahuluan
Persaingan di era Teknologi yang
sangat ketat membuat pengusaha harus menggunakan strategi untuk mengembangkan bisnis mereka (Windi & Mursid, 2021). Pada dasarnya,
tujuan dari pengembangan usaha yang berbasis kelompok tenun tradisional adalah untuk memberi
lebih banyak akses terhadap sumber daya yang diperlukan untuk melakukan proses produksi dan kesempatan untuk berusaha (Samadara, 2018). Tenun
ikat tersebar di seluruh kepulauan dan merupakan salah satu warisan budaya
bangsa Indonesia (Ro�ini, 2021). Perkembangan
tenun ikat sebagai industri kreatif menjadi salah satu ujung tombak perekonomian
nasional (Nurcahyanti & Affanti, 2018).
Pengembangan adalah
proses meningkatkan dan mengubah
menjadi sempurna (Maghfiroh, 2021). Perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi adalah tiga tahapan
dalam pengembangan usaha ini (Deswati & Triyanti, 2015). Setelah
itu, penyempurnaan dilakukan untuk menghasilkan bentuk yang tepat. Usaha, juga dan juga bisnis,
adalah kegiatan yang dilakukan oleh individu atau sekelompok orang atau organisasi yang menciptakan nilai dengan membuat barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan memperoleh keuntungan dari transaksi (Saragih, 2017). Pengembangan
suatu usaha merupakan tanggung jawab dari setiap
pengusaha atau wirausaha yang membutuhkan pandangan kedepan, motivasi dan kreativitas (Si, Budijono, Si, & Si, 2023).
Untuk mengembangkan sebuah usaha dibutuhkan
sebuah strategi. Strategi pengembangan
adalah suatu upaya jangka panjang
yang akan dicapai dengan cara mengembangan
usaha secara efektif dan efesien melalui perencanaan terstruktur (Alifiyah & Budiman, 2021)7. Strategi pengembangan juga dimakanai sebagai sebuah proses untuk memperbaiki cara dalam mengerjakan
usaha kain tenun (Lia, 2022).
Strategi juga dapat dimaknai sebagai �rencana tindak� (action plan),
yakni cara untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, dibutuhkan strategi pengembagan usaha yang tepat agar kelompok tenun Ina Glekat dapat mengoptimalkan usahanya. Namun studi ini
menemukan bahwa kelompok Ina Glekat ini memiliki strategi tersendiri yang
masih berorientasi pada nilai sosial dan bukan pada nilai profit semata (Nurdin, Savira, Shahib, Palippui, & Hasanuddin,
2023). Sebab itu mereka
lebih sering mengandalkan kekuatan sosial dan kekuatan itu pula yang membuat kelompok tenun ikat ini masih bertahan
sampai saat ini. Walaupun, kelompok tenun ini tidak mendapatkan
bantuan dari pihak pemerintah. Strategi atau tindakan yang dilakukan oleh kelompok tenun Ina Glekat agar tetap mampu bertahan dalam menjalankan usahanya adalah: 1) Berproduksi dengan fasilitas atau peralatan terbatas, 2) Solidaritas yang sangat kuat atau sangat tinggi, 3) Saling terbuka atau transparan
dengan usaha mereka, dan 4) kelompok ini juga sangat solid ketika menghadapi kesulitan dalam membangun usaha.
Pengrajin tenun Ina Glekat dalam
mengembangkan usahanya masih tetap� mengikuti
selera dan kebutuhan konsumen, karena itu para pengerajin tenun harus cerdas
dan lebih kreatif dalam membaca kebutuhan
dan situasi pasar, dan dalam
menarik minat wisatawan agar usahnya lebih berkembang dan di kenal luas oleh masyarakat atau wisatawan, dan seperti yang di harapkan mendaptkan keutungana dan mengembagankan usaha agar lebih luas lagi. Hasil dari tenunan mereka
rata-rata dijual di pasar-pasar tardisional
dan di luar daerah bahkan melalui media sosial (WhatsApp, Facebook dan Instagram).
Kain tenun merupakan warisan budaya etnis Lamaholot
yang menyebar diberbagai daerah (Jati, 2019). Kain tenun
mempunyai ciri khas tertentu, sehingga setiap daerah akan berbeda
motif dan bahan yang digunakan
(Nuraini & Falah, 2022). Kain tenun
sesungguhnya mempunyai nilai karakteristik yang unik dan bernilai jual tinggi, akan
tetapi dalam pengembangannya menghadapi berbagai kendala yang menjadikan kain tenun tidak terjual
secara luas (Neununy, 2021). Tradisi
pembuatan kain tenun ikat, khususnya di masyarakat Flores Timur, diwariskan
dari generasi ke generasi, baik
dalam hal metode pembuatan maupun filosofi dan nilai yang terkandung di dalamnya (Elvida, 2016). Menurut
tradisi masyarakat di sana,
kain tenun ikat bukan hanya pakaian
sehari-hari dan hadiah saja, tetapi juga berfungsi sebagai penanda identitas etnis, belis, atau
mahar perkawinan. Pada saat pernikahan, seorang pria memberikan
belis yang terdiri dari gading gajah,
sedangkan pihak perempuan memberikan selembar kain tenun
ikat yang dibuat secara tradisional (Semuel, Mangoting, & Hatane, 2022). Kain tenun
ikat juga digunakan sebagai
bekal kubur untuk seseorang yang meninggal yang dibawa ke liang lahat.
Pengusaha kerajinan tenun ikat selain memproduksi tenun ikat juga harus memperhatikan bagaimana menarik para konsumen agar membeli produk yang dihasilkan, maka pengusaha kerajinan tenun ikat harus memiliki strategi pemasaran, strategi pemasaran ada berbagai macam
salah satunya yaitu
strategi bauran pemasaran. Menurut Kotler dan Amstrong, bauran
pemasaran, atau marketing mix, terdiri
dari empat hal utama yang dapat dikendalikan oleh perusahaan: produk (product), harga (price), tempat (place),
dan promosi (promotion) (Fakhrudin, Valeria, & Awan, 2022). Juga memiliki konsep inti pemasaran anatar lain; produk dan jasa, nilai kepuasan dan mutu, pertukaran transsaksi dan hubungan, pasar
dan kebutuhan, keinginan serta permintaan.
Berdasarkan empat
elemen yang terkait dengan bauran pemasaran
tersebut.: (1) Produk
adalalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pasar untuk diperhatikan, digunakan, dibeli ataupun dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan ataupun kebutuhan yang diharapkan pemakainya. Ketika konsumen membeli sebuah produk, maka ia memiliki
harapan bagaimana produk tersebut berfungsi (product moment). (2) Harga adalah jumlah nilai
yang ditukarkan oleh pelanggan
dengan keuntungan memiliki atau menggunakan
produk. Nilai produk dapat ditetapkan oleh pembeli dan penjual melalui tawar-menawar, atau penjual dapat
menetapkan harga untuk semua pembeli
pada harga yang sama. (3) Tempat adalah tempat
di mana kegiatan perdagangan,
produksi, dan pemasaran dilakukan. Salah satu prioritas pembeli adalah lokasi yang ideal. Dalam pemasaran, (4) Promosi adalah aliran informasi
atau persuasi satu arah yang digunakan untuk mendorong seseorang atau organisasi untuk melakukan tindakan yang menciptakan pertukaran.
Berdasarkan penjelasan
di atas maka peneliti menarik untuk melakukan penelitian dengan judul �Strategi Kelompok Ina Glekat dalam Mengembangkan Usaha Tenun Ikat di
Desa Watoone Kabupaten
Flores Timur�.
�
Metode
Jenis penelitian ini adalah
Penelitian deskriptif yang menggunakan pendekatan kualitatif. Peneliti
menggunakan deskriptif kualitatif sebab peneliti ingin menggambarkan strategi
bauran pemasaran kerajinan tenun pada kelompok tenun Ina Glekat Desa Watoone kabupaten
Flores Timur. Penentuan lokasi penelitian menggunakan metode Purposive Area dengan
menentukan DesaWatoone Kabupaten Flores Timur sebagai Lokasi penelitian,
sedangkan untuk penentuan subjek dan informan penelitian menggunakan metode Purposive,
dimana informan utama dalam penelitian ini adalah pemilik (Ketua-Anggota)
usaha kerajinan tenun ikat dan informan pendukung dalam penelitian ini adalah
Kepala Desa, Tokoh Masyarakat dan Konsumen. Jenis dan sumber data yang
digunakan adalah data primer dan data sekunder. Metode pengumpulan data
menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumen. Dan metode analisis data
yang digunakan adalah kegiatan reduksi data, penyajian data, dan penarikan
kesimpulan.
Hasil dan Pembahasan
Strategi pemasaran merupakan
rencana yang menjabarkan ekspektasi perusahaan akan dampak dari
berbagai aktivitas atau program pemasaran terhadap permintaan produk atau lini
produknya di pasar sasaran tertentu. Bauran pemasaran merupakan suatu cara yang dilakukan oleh para pengrajin dalam menjalankan usaha agar produknya bisa diminati oleh konsumen dan untuk mendapatkan suatu keuntungan tersendiri bagi perusahaan tersebut, dalam menjalankan suatu usaha sangatlah diperlukan strategi bauran pemasaran yang didalamnya meliputi empat unsur bauran pemasaran
yaitu: produk, harga, promosi dan tempat.
1. Produk
a. Kualitas Produk Suatu produk dapat dikatakan
berkualitas apabila memenuhi syarat atau melalui proses produksi yang
menggunakan alat-alat dan bahan yang tepat sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Kualitas dalam sebuah produk sangat dibutuhkan guna menjaga minat
konsumen dan keberlanjutan usahanya. Kualitas dapat diartikan
sebagai sesuatu yang cocok dengan selera atau sesuai dengan keinginan dan juga
dilihat dari pandangan konsumen. Hasil observasi penulis dilapangan menunjukan bahwa kualitas kain yang diproduksi oleh kelompok
Ina Glekat sangat bagus dan banyak
konsumen mengakui hasil tenun yang di produksi oleh kelompok Ina Glekat kualitasnya
sangat bagus, tidak pernah mengecewakan selalu memuaskan pelanggan dan sesuai
dengan harapan konsumen dan memproduksi hanya dengan menggunakan
benang yang dibeli dari tokoh.
b.
Motif dari kain tenun sangat
berkaitan dengan berbagai aspek yaitu warna, jenis benang dan gambarnya. Motif
dari kain tenun dipakai untuk kebutuhan upacara-upacara di antaranya upacara adat,
perkawinan, keagamaan dan lain sebagainya. Motif dan kain tenun tidak hanya
untuk perlengkapan atau busana adat. Motif adalah
bentuk nyata yang dipakai sebagai titik tolak dalam
menciptakan
keindahan kain. Berdasarkan hasil observasi penulis di lapangan menerangkan bahwa
motif yang digunakan oleh kelompok Ina Glekat banyak disukai oleh
konsumen. Kelompok tenun Ina Glekat tidak terlalu terpaku dengan satu
motif. Warna dasar kain tenun yang digunakan dalam menenun kain kewatek yaitu coklat
dan hitam, warna dasar yang digunakan dalam menenun kain nowing yaitu ungu,
hitam dan juga merah, sedangkan senae dominan warna ungu dan hitam dan juga ada
yang mengikuti warna dan motif nowing atau kewatek.
c.
Bahan Dasar dalam memproduksi kain tenun adapun bahan dasar yang
harus digunakan. Bahan dasar benang yang digunakan merupakan bahan dasar alami
yang berasal dari serat-serat tumbuhan. Bahan dasar yang digunakan beragam ada
yang bersifat tradisional dan ada juga hasil modifikasi namun tetap menjadi
cirikhasnya karena bukan hanya bahan dasar namun ada juga warna dasar yang bisa
menjadi ciri khasnya. Namun
kelompok Ina Glekat memproduksi dengan benang yang dibeli dari tokoh.
d. kelompok tenun Ina
Glekat hanya memproduksi kain (1) nowing, (2) kewatek dan (3) senae.
Nowing, kewatek dan senae menurut penuturan para informan telah menjadi warisan leluhur dan memiliki keindahan tersendiri yang disukai oleh masyarakat lokal dan wisatawan domestik dan asing, yang kagum dengan hasil
tenunan perempuan yang memiliki kemampuan dalam menenun.
2. Harga
a. Keterjangkauan harga
Keterjangkauan harga yang dimaksud disini adalah konsumen bisa menjangkau
kembali harga yang sudah ditetapkan oleh penjual (kelompok Ina Glekat).
produk juga memiliki harga yang berbeda Mulai dari
yang paling murah hingga
yang paling mahal. Berdasarkan hasil wawancara
penulis dengan beberapa informan diketahui bahwa selama ini tenun yang dibuat oleh kelompok
Ina Glekat masih dinilai terjaangkau oleh konsumen dan harganya sangat
kompetitif. Hal tersebut sesuai dengan yang disampaikan oleh Ibu Kristina Bengan
Ola salh satu anggota kelompok Ina Glekat. Bliau mengatakan bahwa:
�kami memproduksi kain tenun
ini tidak terlalu terpaku dengan untung dan rugi dari hasil penjulannya, yang
kami mau kepuasan pelanggan terhadap hasil produksi kami. Kualitas kain yang
kami buat juga menjadi hal penting yang harus kami jaga, agar semaunya sesuai
dengan ekspetasi atau keinginan konsumen�.
Strategi utama yang harus diterapkan adalah harga,
keterjangkauan harga dari sebuah produk dibutuhkan dalam pengembangan usaha.
b.
Kesesuaian harga
dengan kualitas
Penyesuaian harga dapat meneruskan penghematan yang
diperoleh kepada konsumen. Penyesuaian harga dengan kualitas sangat dibutuhkan
keseluruhan produk yang mampu memuaskan kebutuhan yang terlihat. Kualitas dari
sebuah produk menunjang kompetisinya untuk memperoleh kebutuhan konsumen. Selain
harga juga penysuaian harga dan kualitas barang juga sangat penting untuk
diperhatikan. Seperti yang dijelaskan oleh Ibu Yosefina Barek Bale salah satu anggota kelompok tentang penyesuaian harga dan kualitas;
�kami sebagai pelaku usaha akan
mengatakan bahwa harga jual dari kain tenun nowing, kewatek dan senai itu
sendiri harus dan terggantung dari kesulitan selama pembuatan motif tenun dan
adanya� pemakaiaan benang emas dalam
hasil tenunan ini. Maka dari situlah harga akan disesuaikan�.
Memastikan Kepuasan Konsumen Selain target penjualan, kepuasan konsumen sangat penting dan menjadi prioritas kelompok. Proses pemasaran dianggap berhasil jika pelanggan puas dengan produk
yang dibuat.
c.
Daya saing
harga
Daya saing diartikan sebagai perbedaan penawaran harga
yang diberikan oleh produsen kepada konsumen terhadap suatu produk yang sama
dan potongan harga sangat berpengaruh secara signifikan terhadap kepuasan
konsumen. Daya saing dan potongan harga mempunyai pengaruh terhadap kepuasan
konsumen, karena keduanya memiliki peran yang berpengaruh besar terhadap
berkembangnya sebuah produk. Seperti yang dijelaskan oleh Ibu Trisia Bengan Tokan �sebagai ketua kelompok dalam hasil wawancara yang dilakukan oleh penulis,
menyatakan bahwa;
�kami tidak bersaing dengan
kelompok manapun, kami menenun dengan alasan agar budidaya tenun menenun ini
tidak hilang karena sejauh ini kami orang tua atau yang sudah lanjut usia saja
yang tertarik dengan menenun ini. Untuk generasi mudah saat ini hampir semua
orang tidak ada yang tertarik untuk menenun, maka dari situ kami tidak mau
suatu saat budidaya menenun ini hilang�.
kelompok tenun Ina
Glekat tidak pernah bersaing berakitan dengan harga karena mereka lebih
mementingan kualitas produk dan kepuasan konsumen.
3.
Tempat
a.
Saluran
Saluran dapat diartikan sebagai tempat
di mana produsen dapat menjual barang mereka kepada konsumen,
lokasi ini memiliki dampak yang signifikan bagi bisnis untuk dapat
mencapai pembeli atau konsumen, seperti yang dijelaskan oleh Ibu Kristina Bengan Ola,salah satu anggota kelompok mengatakan bahwa;
�Penjualan produk kain tenun
dari segi letak atau tempat pejualannya jauh dari keramaiaan, akan tetapi
kelompok ini sudah diketahui oleh banyak orang dan artinya sangat mudah untuk
menemukan tempat atau rumah tenun Ina Glekat ini�
.
Pemilihan lokasi dan saluran sangat berpengaruh pada proses pemasaran
produk. Lokasi penjual harus strategis dan mudah dijangkau untuk mencapai target.
b. Persediaan
Jumlah produk yang tersedia untuk dibeli disebut
sebagai persediaan. Persediaan juga dapat diartikan sebagai stok dalam bentuk barang dan barang-barang yang dimaksudkan
ini adalah barang yang untuk dijual. Hal ini seperti
yang dijelaskan oleh Ibu Yosefina Barek Bale. Beliau menjelaskan bahwa:
�kami menyediakan lebih dari
cukup stok proses persediaan juga masih menggunakan proses manual karena kami
belum memiliki mesin produksi secara otomatis kami juga tidak tertarik dengan
menenun. Kami lebih suka dan tentunya nyaman dengan alat-alat yang seharussnya
digunakan untuk menenun�.
Untuk memungkinkan proses produksi dan penjualan yang lancar, persediaan barang dalam proses dan barang jadi harus selalu
tersedia sebagai "stok buffer".
c. Cakupan Pasar
Cakupan pasar adalah jangkauan pasar di mana pengembang dapat memenuhi kebutuhan pelanggan dan bisnis. Berdasarkan hasil wawancara yang dilkakukan oleh
penulis bersama Ibu Yosefina Derang adalah anggota
kelompok menjelaskan
bahwa;
�dalam memproduksi sebuah akain
tenun sangat mengutmakan kebutuhan pembeli walaupun tempat mereka sedikit sulit
dijangkau oleh pembeli. Tapi sampai saat ini banyak pembeli yang sudah
mengetahui tempat tenun kelompok Ina Glekat ini dan bagi pembeli yang baru juga
tidak kesulitan karena akses ke tempat tenun Ina Glekat ini jalannya sangat
bagus pembeli yang memiliki kendaraan baik roda 2 atau 4 bisa masuk�.
Pemilihan lokasi produk yang salah karena sulit untuk
dijangkau oleh pembeli atau pelanggan. Hal ini karena letaknya yang jauh dari
pusat kota, keramaiaan dan juga pasar. Namun memiliki akses jalan yang cukup
bagus dan memadai.
4.
Promosi
a.
Periklanan
Periklanan adalah jenis promosi
nonpribadi yang menggunakan
berbagai media untuk mendorong pembeli. Hasil wawancara mengenai strategi promosi oleh
responden sebagaimana yang dijelaskan oleh kaka Andy sebagai konsumen, mengatakan bahwa;
�Sejauh ini,
promosi yang mereka lakukan hanya dari
mulut ke mulut dan konsumen yang memposting kembali di sosial media untuk memberi tahu orang lain tentang produk mereka�
Pernyataan diatas diperkuat oleh Ibu Trisia Bengan
Tokan, menjelaskan bahwa;
�Kami tidak terlibat dalam
promosi produk tenun kami melalui sarana iklan. Kami hanya mengantisipasi dan
menunggu kedatangan pelanggan atau konsumen yang tertarik untuk membeli barang
dagangan kami�.
Periklanan juga pesan persuasif
yang disampaikan oleh penjual
kepada masyarakat melalui media untuk memberi tahu mereka,
dan atau diartikan sebagai Periklanan adalah salah satu alat pemasaran yang digunakan untuk memperkenalkan suatu produk ataupun layanan.
b.
Promosi
Penjulan (Facebook, WhatsApp dan Instagram) juga dari mulut ke mulut atau Radio
mulut
Promosi adalah cara untuk
berkomunikasi dengan pelanggan untuk memberi tahu mereka
tentang produk yang telah dibuat dan ditawarkan kepada pelanggan baru. Hasil wawancara yang berkaitan dengan strategi promosi yang dipilih responden sebagaimana yang dijelaskan oleh ibu Kristina Benga
Ola, anggota kelompok bahwa;
�Kami juga memproduksi produk
kami ke sosial internet seperti Facebook, WhatsApp, dan
Instagram. Namun, itu jarang terjadi atau hanya terjadi
sekali-kali karena banyak kendala yang menghalangi akses internet dan penggunaan internet itu sendiri, sehingga hampir semua dari
kami tidak tahu menggunakan internet. Selain itu,
kami melakukan promosi secara langsung dengan pelanggan yang datang langsung ke kantor kami�.
Pemberiaan informasi mengenai produk atau jasa yang ditawarkan
tersebut melalui kegiatan promosi dan harus dikembangkan lagi tingkat
promosinya.
Selain keempat aspek yang digunakan kelompok Ina Glekat juga memiliki kendala atau
hambatan yang harus dihadapi dalam pengembangan usaha kain tenun. Hasil wawancara yang
disampaikan oleh Ibu Trisia Bengan Tokan, sebagai ketua kelompok menyatakan bahwa;
�kendala yang kami hadapi
sampai saat ini adalah pemasaran yang masih lemah dan juga pendapatan yang
menurun dikarenakan banyak ibu-ibu yang sudah menenun dan jarang membeli produk
dari hasil tenun kelompok kami dan menjadi kendala utamanya adalah pemasaran
yang masih lemah�.
Pendapat lain disampaikan oleh Bapa Frans Rawa Gana, sebagai kepala
Desa �menjelaskan bahwa;
�Kendala dalam kegiatan mereka
salah satunya adalah fasilitas tempat mereka melakukan kegiatan atau tempat
menenun dan juga metode kegiatan mereka. Misalnya, dalam cara mengikat benang
kalau sekarang massih pake cara tradisional kalau ada metodenya aagar bisa
lebih cepat maju atau berkembang�.
Diperkuat lagi dengan jawaban yang disampaikan oleh
Bapa Damianus Lebu Raya sebagai
tokoh masyarakat dan juga konsumen, menyatakan bahwa;
�Menurut
pendapat saya, masalah yang dihadapi oleh kelompok Ina Glekat adalah masalah di bagian modal daan dan kurangnya tenaga kerja atau jumlah
anggota yang sedikit jumlahnya sehingga saya rasa
ini juga menjadi hambatan bagi kelompok dalam memproduksi kain tenun�.�
Hambatan-hambatan tersebut bukanlah hambatan yang signifikan, Namun, hambatan-hambatan tersebut bukanlah hambatan serius bagi kelompok Ina
Glekat, hambatan sesunggugnya terletak pada masalah pemasaran yang masih lemah,
modal usaha dan juga anggota atau tenagga kerja dalam menenun.
Secara teory kelompok Ina Glekat ini sudah tidak bisa dikembangkan lagi karena dilihat
dari data awal yang didapatkan bahwa penghasilan kelompok ini tidak memiliki
keuntungan sama sekali. Akan tetapi, strategi apa yang digunakan oleh kelompok Ina Glekat sehingga masih bisa bertahan
sampai sekarang. Jawaban-jawaban
dalam hasil wawancara peneliti dengan Informan ditulis sebagai berikut:
Jawaban lain diberikan oleh Bapa Damianus Lebu Raya,
bahwa;
�dengan adanya kelompok ini
anggota kelompoknya merasa dibantu apabila mereka sedang mengalami kedukaan
atau ada urusan adat yang bersifatnya mendesak mereka bisa memakai atau
meminjam dari hasil tenun kelompok dengan catatan akan diganti dan banyak anggota
kelompok yang merasa dibantu dan karena itulah mereka bisa bertahan sampai
sekarang�.
Jawaban lain yang disampaikan oleh Ibu Kristina Bengan
Ola, mengatakan;
�kami tidak memiliki strategi
khusus tetapi kami selalu bekerjasama dan juga selalu mengutamakan kebersamaan.
Kami juga sering melakukan rekreasi bersama dan mendapat simpatisan dari
masyarakat dan juga kami setiap bulan desember tepatnya di hari Ibu kami
keelompok melakukan kegiatan sosial yaitu kami membagi sembako kepada orang tua
jompo berupa beras dan juga sabun mandi�.
Diperkuat dengan jawaban yang diberikan oleh informan
ibu Trisia Bengan Tokan menjelaskan bahwa;
�Tenun
ikat di sini bukan untuk diperjualbelikan demi mendapat keuntungan guna membeli kebutuhan
sehari-hari seperti beras dan lain-lain, tetapi sudah menjadi gaya
hidup yang mendarah daging. Kami bukan UMKM yang menunggu bantuan dari pemerintah. Misi utama kami adalah untuk melestarikan tenun dan tidak mementingkan uang yang didapat dari pembuatan tenun ikat tersebut�.
Kemampuan, tindakan, pola, atau rencana yang diambil untuk mempertahankan
dan meningkatkan bisnis disebut strategi bertahan.
Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa pemilik usaha
kerajinan tenun ikat pada Kelompok Tenun Ina Glekat di Desa Watoone Kabupaten Flores Timur. Untuk mengembangkan bisnisnya, pemilik usaha kerajinan
tenun ikat menggunakan
strategi bauran pemasaran,
yang mencakup beberapa elemen seperti produk, harga, promosi, dan lokasi. Tujuan dari strategi ini adalah untuk menarik
konsumen untuk membeli produk tenun ikat yang mereka buat.
Dalam memproduksi tenun
ikat, pemilik usaha kerajinan tenun ikat di Desa Watoone khususnya kelompok tenun Ina Glekat memastikan kualitas produknya dengan menggunakan bahan-bahan berkualitas tinggi seperti benang dan bahan tambahan lainnya. Selain itu, produk tenun
ikat memiliki berbagai macam motif, sehingga pelanggan dapat membeli produk tenun ikat sesuai keinginannya.
Salah satu aspek penting dari bauran
pemasaran adalah melihat strategi bauran pemasaran dari perspektif harga. Pemilik usaha kerajinan
tenun ikat menetapkan harga berdasarkan biaya total, termasuk biaya produksi, tenaga kerja, dan pemasaran, serta keuntungan tetap. Sehingga dari penentuan
harga jual suatu produk tenun
ikat tersebut� dapat
menetapkan harga produk menjadi tiga tingkatan, yaitu; sedang, dan tinggi. Pemilik bisnis tenun ikat juga menetapkan harga berdasarkan permintaan pelanggan; jika pelanggan membeli banyak produk, pemilik bisnis dapat menyesuaikan kualitas produk sesuai dengan keinginan
pelanggan, sehingga mereka dapat mengubah
harga produk sesuai dengan harga
yang diminta pelanggan.
Promosi dilakukan dengan tujuan membuat pelanggan mengenal barang yang dijual oleh perusahaan dan membuat mereka tertarik untuk membeli barang
tersebut. Pemilik usaha kerajinan tenun ikat mempromosikan produk tenun ikat melalui pengiklanan di media sosial seperti WhatsApp,
Facebook, Instagram dan melalui mulut
ke mulut.
Sesuai dengan apa yang sudah dijelaskan diatas bahwa kelompok
tenun Ina Glekat sudah memproduksi dengan baik dan juga mempromosikan hasil tenunannya di media soaial.
Kesimpulan
Produk ini adalah
kain tenun ikat yang ada di kelompok Ina Glekat dan memiliki indikator kualitas, motif, bahan dasar, dan jenis kain. Sebagian besar tenun dibuat
dengan pewarnaan alami dari benang
yang dibeli di toko. Kain nowing, kewatek, dan senae memiliki motif garis ujung bawah dan atas dari campuran
warna benang, dan nowing memiliki motif bunga. Pewarna alam yang dibuat dari benang
yang dibeli di toko akan kuat dan tahan
lama. Selain itu, harga
yang ditawarkan sesuai dengan kualitas produk dan harganya yang terjangkau. Harga kain tenun ikat dipengaruhi oleh jenis kain, kata pengrajin tenun kelompok Ina Glekat.
Proses penjualan produk sangat dipengaruhi oleh lokasi dan saluran. Kelompok Ina Glekat menjual kain tenun buatannya
di rumah tenunnya di lokasi yang mudah dijangkau, ramai, dan aman. Produknya sangat laku dijual. Promosi juga sangat penting dalam penjualan
kain tenun. Mengingat fakta bahwa sebagian besar pemilik usaha
tidak hanya menjual produk mereka melalui mulut ke mulut,
promosi yang dilakukan oleh
kelompok Ina Glekat termasuk posting di media sosial
HP dan dari mulut ke mulut. Selain itu, melalui situs media sosial berbasis ponsel seperti Facebook (FB) dan
WhatsApp (WA).
Daftar Pustaka
Alifiyah, Nur, & Budiman, Ahmad. (2021). Strategi pengembangan usaha
melalui bisnis model canvas kerajinan tenun pondok pesantren al-falah ploso,
mojo, kediri. Jurnal Cakrawala Ilmiah, 1(3), 295�308.
Deswati, Rismutia Hayu, & Triyanti, Riesti. (2015). Tingkat
partisipasi masyarakat dalam Pelaksanaan Pengembangan Usaha Mina Pedesaan
(PUMP) pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. Jurnal Sosial Ekonomi
Kelautan Dan Perikanan, 10(1), 125�136.
Elvida, Maria Nona. (2016). Pembuatan Kain Tenun Ikat Maumere Di Desa
Wololora Kecamatan Lela Kabupaten Sikka Propinsi Nusa Tenggara Timur. HOLISTIK,
Journal of Social and Culture.
Fakhrudin, Arif, Valeria, Maria, & Awan. (2022). Bauran Pemasaran. Bauran
Pemasaran, 3, 1�91.
Jati, Hironnymus. (2019). Pemberdayaan Usaha Ekonomi Kreatif Kerajinan
Tenun Ikat Lamaholot Sebagai Penunjang Wisata Religius Semana Santa. SAINSTEK,
4(1), 362�372.
Lia, N. Nova. (2022). � Produk Kain Tenun Rongkong Untuk Meningkatkan
Pendapatan Dan Nilai Budaya Masyarakat Kecamatan Rongkong.
Maghfiroh, Anisatul. (2021). Analisis pengembangan sumber daya manusia
dalam perspektif syariah. Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, 7(1),
403�411.
Neununy, Dolfries. (2021). Kain Tenun Ikat Tradisional Sebagai Kearifan
Local Masyarakat Desa Tumbur Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Nuraini, Siti, & Falah, Asep Miftahul. (2022). Eksistensi Kain Tenun
di Era Modern. ATRAT: Jurnal Seni Rupa, 10(2), 162�169.
Nurcahyanti, Desy, & Affanti, Tiwi Bina. (2018). Pengembangan Desain
Batik Kontemporer Berbasis Potensi Daerah Dan Kearifan Lokal. Jurnal
Sosioteknologi, 17(3), 391�402.
Nurdin, Yasmi, Savira, Gita Elsa, Shahib, Habib Muhammad, Palippui, Irfan,
& Hasanuddin, Muhammad Ridwan. (2023). Nilai Budaya Lamaholot dalam
Penentuan Harga Jual Kain Tenun Ikat: Studi pada Kelompok Perempuan Penenun
�Tene Tuen� di Nusa Tenggara Timur. Jurnal Ilmiah Akuntansi Dan Finansial
Indonesia, 6(2), 25�34.
Ro�ini, Yenik Komariatun Ro�ini. (2021). Upaya peningkatan kualitas
tenun ikat bandar kediri sebagai salah satu aset budaya kota kediri/Yenik
Komariatun Ro�ini. Universitas Negeri Malang.
Samadara, Selfesina. (2018). Pemberdayaan perempuan pengrajin tenun ikat
di kampung prai ijing, desa tebar, kecamatan kota, kabupaten sumba barat, nusa
tenggara timur untuk meningkatkan perekonomian keluarga dan mendukung
pengembangan pariwisata daerah. Jaka-Jurnal Jurusan Akuntasi, 3(1),
44�53.
Saragih, Rintan. (2017). Membangun usaha kreatif, inovatif dan bermanfaat
melalui penerapan kewirausahaan sosial. Jurnal Kewirausahaan, 3(2),
26�34.
Semuel, Hatane, Mangoting, Yenni, & Hatane, Saarce Elsye. (2022).
Makna Kualitas dan Kinerja Tenun Tradisional Indonesia Kolaborasi Budaya
Nasional dan Budaya Organisasi. Makna Kualitas Dan Kinerja Tenun Tradisional
Indonesia Kolaborasi Budaya Nasional Dan Budaya Organisasi. PT Rajagrafindo
Persada.
Si, M., Budijono, Drs, Si, M., & Si, M. (2023). Fakultas Ilmu
Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Jember. 1�17.
Windi, Panca, & Mursid, Mansur Chadi. (2021). Pentingnya perilaku
organisasi dan strategi pemasaran dalam menghadapi persaingan bisnis di era
digital. Jurnal Logistik Bisnis, 11(2), 71�77.