Analisis
Integrasi Nilai-Nilai Keislaman Dalam Pembelajaran Matematika Pada Kurikulum
Merdeka Di Smpn 210 Jakarta
Alliya
Imani Zahra1, Aniqo Aini Samsul Putri2, Amirullah3
Universitas
Muhammadiyah Prof Dr.Hamka, Indonesia
[email protected]1,
[email protected]2, [email protected]3
Abstrak:
Salah satu program dalam Kurikulum
Mandiri yang berusaha membentuk karakter siswa dan meningkatkan kemampuan
mereka sesuai dengan nilai-nilai Pancasila adalah Proyek Penguatan Profil
Pelajar Pancasila (P5). Salah satu cara untuk mengatasi masalah pendidikan di
Indonesia adalah melalui program P5. Selama ini, pendidikan di Indonesia
cenderung lebih menekankan pada kemampuan kognitif (pengetahuan) siswa
dibandingkan dengan komponen afektif (sikap) dan psikomotorik (keterampilan).
Penelitian ini bermaksud untuk mendeskripsikan implementasi Program P5 dan
menilai cita-cita pendidikan Islam yang dimasukkan ke dalam Kurikulum Merdeka,
dengan fokus pada penerapan Program P5 pada mata pelajaran matematika di SMP
Negeri 210 Jakarta. Penelitian ini menggabungkan jenis penelitian fenomenologi
dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini menggunakan observasi,
dokumentasi, dan wawancara sebagai metode pengumpulan data. Hasil penelitian
menunjukkan betapa suksesnya Program P5 dalam Kurikulum Merdeka yang telah
diterapkan di SMP Negeri 210 Jakarta. Pengembangan keterampilan, kemampuan, dan
kompetensi siswa serta pembentukan karakter mereka yang sejalan dengan
nilai-nilai Pancasila adalah tanda-tanda keberhasilan. Program P5 dalam
Kurikulum Merdeka di SMP Negeri 210 Jakarta telah dilaksanakan secara metodis,
mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian program. Kegiatan-kegiatan
yang berkaitan dengan nilai-nilai pendidikan Islam, baik moral, sosial, maupun
akidah, dimasukkan ke dalam pelaksanaan program tersebut.
Kata
Kunci: Integrasi, Nilai-Nilai Keislaman,
Pembelajaran Matematika, Kurikulum Merdeka.
Abstract:
One of the programs in the Independent
Curriculum that attempts to mold students' character and improve their
abilities in line with Pancasila values is the Strengthening Pancasila Student
Profile (P5) Project. One way to address the issues with Indonesian education
is through the P5 program. Up until now, the country has tended to emphasize
students' cognitive (knowing) abilities more than their affective (attitudes)
and psychomotor (skills) components. This study intends to describe the P5
Program's implementation and assess the Islamic educational ideals that are
incorporated into the Merdeka Curriculum, with a focus on the P5 Program's
application in mathematics at SMP Negeri 210 Jakarta. This study combines
phenomenological research types with qualitative approaches. This study
employed observation, documentation, and interviewing as data gathering
methods. The outcomes demonstrated how successfully the P5 Program in the
Merdeka Curriculum has been implemented at SMP Negeri 210 Jakarta. The
development of students' skills, abilities, and competences as well as their
character formation in line with Pancasila values are signs of success. The P5
Program in the Merdeka Curriculum at SMP Negeri 210 Jakarta has been
implemented in a methodical manner, beginning with planning, carrying out, and
assessing the program. Activities of all kinds that are pertinent to the
Islamic education values, including moral, social, and creedal values, are
included in the program's implementation.
Keywords: Integration, Islamic Values,
Mathematics Learning, Independent Curriculum.
Pendahuluan
�Pendidikan adalah hak segala bangsa� kutipan
Undang-Undang Dasar 1945 ini masih selalu diperjuangkan para pendidik dan
segenap pemerintahan Indonesia hingga saat ini. Menurut (Ramadhan,
2023) Pendidikan bukan hanya
menjadi wadah bagi peserta didik untuk meningkatkan kemampuan akademiknya,
melainkan juga harus menjadi wadah untuk mengarahkan peserta didik ke jalan
yang lebih baik bagi mental dan spiritualnya. Dilihat dari fungsi pendidikan
nasional yang digagas oleh Kemendikbud (2003) adalah, pendidikan harus mampu
berupaya dalam merancang, melaksanakan, membentuk, serta meningkatkan kualitas
suatu individu menjadi karakter berharga bagi bangsa dan masa yang akan datang.
Salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut dengan menyelenggarakan
pendidikan. Menurut (Arfani,
2018), pelaksanaan pendidikan
yang di mulai dari tingkat usia dini hingga perguruan memiliki beberapa dimensi
yang harus dilaksanakan di dalam kegiatan pembelajaran, seperti ketakwaan
terhadap Tuhan yang Maha Esa, kesehatan jasmani dan rohani, keilmuan,
peningkatan kompetensi, kreatifitas, kemandirian, dan penumbuhan rasa tanggung
jawab dan bangga dalam menjadi warga negara Indonesia.
Pada era saat ini, pendidikan terus berupaya untuk
turut berkembang secara pesat mengikuti arus globalisasi dan teknologi. Hal ini
juga pernah diungkapkan oleh Ki Hadjar Dewantara di dalam Pidato Senat UGM
(1956), bahwa �Pendidikan harus mengikuti kodrat dan zamannya.� Berkaitan
dengan hal tersebut, kurikulum di Indonesia terus mengalami perkembangan hingga
saat ini. Semua itu dilakukan agar pendidikan Indonesia dapat memaksimalkan
potensi, minat, bakat, serta menyelenggarakan pembelajaran yang berpihak pada
peserta didik. Kegiatan pembelajaran sendiri tidak pernah akan terlepas dari
peran seorang guru. Oleh karenanya selain peserta didik, keberadaan,
keefektivitasan, serta kebebasan seorang guru dalam melaksanakan pembelajaran
juga menjadi pertimbangan pemerintah dalam mengembangkan kurikulum pendidikan
nasional, (Prasetyo
& Hamami, 2020). (Fitriyah
& Wardani, 2022) mengungkapkan, bahwa
pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di sekolah harus berpedoman kepada
beberapa prinsip kurikulum nasional, yaitu (1) Penghormatan pada hasil kerja yang
fokus, berintegrasi, disiplin, serta memiliki konsistensi (2) Menyelesaikan dan
mencari solusi atas suatu masalah, tantangan, dan hambatan dengan menggunakan
keilmuan yang relevan dengan perkembangan zaman (3) Keaslian dan keluwesan
dalam menentukan tujuan (4) Terlibat aktif, melaksanakan pemberdayaan, serta
menjadikan guru dan peserta didik yang mandiri. Dengan menerapkan nilai-nilai
kurikulum tersebut, pendidikan diharapkan dapat menjadikan guru dan peserta
didik memiliki kebebasan dalam mengkaji suatu ilmu pengetahuan, sikap dan
perilaku, serta meningkatkan kemampuan bermasyarakat dan memahami lingkungan
sekitar, (Ainia,
2020).
Dalam menerapkan pendidikan umum tentu kita tidak
terlupakan dengan pendidikan agama. Pendidikan agama merupakan pilar utama
karena mendidik anak sesuai dengan fitrahnya. Pembuatan kurikulum yang dibangun
di atas prinsip-prinsip nilai-nilai Islam dapat membantu anak-anak berkembang
baik secara pribadi maupun akademis di sekolah dasar, dan hal ini diantisipasi
akan mengarah pada pencapaian tujuan kurikulum. Perlunya pendidikan Islam dalam
kehidupan manusia, menurut (Laksana,
2016), merupakan amanat agama
yang harus dilaksanakan oleh manusia karena agama dan pendidikan memiliki
keterkaitan yang erat dan memiliki aplikasi yang nyata dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Selain itu, pendidikan Islam, menurut (Hidayat
& Nasution, 2016), bertujuan untuk
mengembangkan kepribadian manusia yang seimbang secara universal melalui
pengajaran yang mengembangkan jiwa, akal, potensi, dan perilaku. Kebutuhan
pendidikan Islam untuk membina fitrah manusia dan membangun manusia yang
berkarakter serta memiliki pengetahuan agama yang berlandaskan Al-Quran dan
Sunnah ditegaskan oleh (Mayasari,
2020).
Dibutuhkan pemikiran dan wawasan tentang pendidikan
karakter apa yang akan dimuat oleh kurikulum yang diimplementasikan dalam
rangka membina karakter peserta didik itu sendiri, karena tidak bisa hanya
dengan pola pendidikan umum yang ada di dalam rencana tanpa ada gerakan nyata.
Seperti yang dikemukakan oleh (Nugraha
& Rafiza, 2022), pengembangan karakter,
yang dapat dilakukan melalui pendidikan, sangat penting untuk menghasilkan sumber
daya manusia yang beradab. Selain itu, seperti yang dijelaskan oleh (Husaini,
2021), tujuan dari pendidikan
karakter adalah untuk membantu anak-anak menyadari betapa pentingnya menghargai
satu sama lain. Salah satu upaya untuk memasukkan prinsip-prinsip Islam ke
dalam pendidikan. Komponen kurikulum yang paling berharga adalah karakter, yang
dapat diterapkan pada semua mata kuliah akademik, termasuk matematika. Salah
satu mata pelajaran yang paling penting dan wajib dipelajari mulai dari sekolah
dasar hingga universitas adalah matematika. Kita dapat memperoleh pengetahuan
yang spesifik dan relevan tentang alam dan situasinya dengan mempelajari
matematika. Oleh karena itu, perlu untuk membahas peran agama dalam proses
belajar mengajar ketika memberikan pendidikan matematika di dunia modern. Hal
ini bertujuan untuk mengembangkan siswa yang menghormati sesama dan lingkungan.
Hal ini diperlukan untuk menghentikan anak-anak bertindak dengan cara yang
menyimpang, terutama dalam hal melanggar norma dan aturan sosial.
Permasalah pada SMPN 210 Jakarta adalah ditemukannya
peserta didik yang sedang berada pada fase pubertas menjadi mudah terpengaruh
dan menelan budaya luar mentah-mentah (tanpa memfilterisasi) seperti kecanduan
bermain tiktok, game online, streaming video
online yang secara tidak langsung
dijadikan contoh buruk bagi kehidupannya seperti bullying, memberi umpatan kasar, menormalisasi nama panggilan
dengan bahasa yang kotor, serta perbuatan menyimpang lainnya di lingkungan
kelas bahkan sekolah. Selain itu, keberagaman agama peserta didik menjadikan
alasan kuat bagi warga sekolah untuk menjadikan pendidikan agama sebagai bekal
sekaligus pendamping dalam menyelenggarakan pendidikan mata pelajaran lainnya.
Dalam hal ini, pendidikan diharapkan dapat membantu para siswa mengatasi
masalah karakter mereka dengan menanamkan nilai-nilai keislaman atau agama
sejak dini. Karakter ini dapat diterapkan melalui pengajaran di kelas karena,
seperti yang dikatakan (Insani,
Furnamasari, & Dewi, 2021),
pendidikan bukan hanya tentang memberikan pengetahuan tetapi juga tentang membentuk
kepribadian siswa agar mencerminkan nilai-nilai Pancasila.
Pada dasarnya pembelajaran matematika sendiri
menurut (Setiawan,
2021), merupakan kegiatan
pembelajaran yang guru selenggarakan dengan tujuan membangkitan kreativitas
peserta didik serta membangun konstruksi ilmu pengetahuan baru yang nantinya
dapat memberikan peningkatan penguasaan pada pembelajaran matematika. Setiap
prosedur pendidikan harus dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan
kognitif, emosional, dan psikomotorik mereka. Selain itu, pendidikan juga dapat
menanamkan prinsip-prinsip mulia yang dapat membentuk karakter bangsa dan diri
mereka sendiri. Siswa percaya bahwa menguasai materi yang disampaikan oleh guru
adalah satu-satunya cara untuk belajar matematika. Pada kenyataannya, dengan
menggunakan kompetensi dasar yang sudah ada, pendidikan dapat dimanfaatkan oleh
pendidik untuk menanamkan karakter idealisme Islam dalam upaya memperkuat
keimanan dan ketakwaan siswa. Membangun karakter bangsa melalui penerapan
konsep-konsep matematika yang dijiwai oleh akidah Islam sangatlah penting. Oleh
karena itu, sangat penting untuk terus memajukan studi materi matematika dengan
membuat hubungan antara ayat-ayat yang ditemukan dalam Al-Quran dan pedoman
moral dan etika yang diberikan Islam, ajaran yang dapat dipelajari oleh seluruh
umat manusia.
Kurikulum merupakan komponen yang paling penting
dalam sebuah lembaga pendidikan karena kurikulum harus ada dan memenuhi
kebutuhan lembaga serta peraturan dan persyaratan yang berlaku. Karena
kurikulum merupakan komponen dari sistem pendidikan yang memiliki dampak, maka
kurikulum menjadi sangat penting dan menyesuaikan dengan arus sosial di
masyarakat (Julaeha,
2019). Kurikulum berfungsi
sebagai titik acuan dan panduan untuk melaksanakan pendidikan di sekolah,
mendukung proses dan menawarkan sumber daya untuk membantu siswa mencapai
tujuan mereka (Mahlianurrahman,
2020). (Asri,
2017) lebih lanjut menegaskan
bahwa kurikulum adalah pusat pendidikan dan efektivitas pelaksanaan kurikulum
menentukan jalannya pendidikan. Kurikulum otonom, atau gagasan pembelajaran
mandiri, didasarkan pada modifikasi kurikulum yang telah diadopsi oleh banyak
institusi, bahkan sekolah dasar, dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, (Ainia,
2020) mengusulkan bahwa
pembelajaran otonom memiliki konsep yang sama dan berkaitan dengan cara
berpikir tokoh pendidikan tersebut. Pendidikan, dalam konteks Ki Hadjar
Dewantara, berfokus pada keselarasan antara budi pekerti dan karakter.
Kebebasan untuk mengeksplorasi kemampuan dan keterampilan yang dimiliki oleh
setiap siswa dan guru. Di sisi lain, pengembangan kurikulum mandiri dipandu
oleh beberapa prinsip, seperti yang dinyatakan oleh Fitriyah dan (Fitriyah
& Wardani, 2022). Prinsip-prinsip tersebut
antara lain sebagai berikut: (1) standar kinerja disiplin ilmu yang menghargai
prinsip-prinsip fokus, kesatuan, dan konsistensi; (2) kemampuan untuk
mentransfer pengetahuan dan pilihan-pilihan interdisipliner; (3) orisinalitas,
fleksibilitas, dan arah; dan (4) partisipasi, pemberdayaan, atau kemandirian
guru dan siswa. Bagi siswa dan guru, kurikulum pembelajaran otonom pada
dasarnya memungkinkan kemandirian intelektual. Dalam situasi ini, guru dan
siswa bebas menyelidiki pengetahuan, ciri-ciri kepribadian, dan kemampuan dari
lingkungan sekitar sebagai upaya menumbuhkan esensi jiwa otonom (Daga,
2021).
Penelitian (Fitriyani
& Kania, 2019) yang berjudul
"Integrasi Nilai-Nilai Islam dalam Pembelajaran Matematika" merupakan
salah satu karya terdahulu yang penulis rujuk untuk mendalami lebih lanjut
mengenai masalah ini. Penelitian ini dan penelitian yang akan peneliti tulis
memiliki kesamaan dalam hal keduanya menggunakan temuan observasi dan wawancara
untuk menganalisis bagaimana nilai-nilai Islam diimplementasikan oleh siswa
dalam pendidikan matematika mereka. Sementara itu, penelitian ini berbeda
dengan penelitian sebelumnya karena tidak memiliki fitur unik terkait subjek
penelitiannya. Sementara itu, subjek penelitian penulis memiliki karakter yang
unik, yaitu siswa di SMPN 210 Jakarta yang telah mengadopsi kurikulum otonom
dalam pembelajaran matematika.
Selain itu, (Fitrah
& Kusnadi, 2022) melakukan penelitian
berjudul "Integrasi Nilai-Nilai Islam dalam Pembelajaran Matematika
sebagai Bentuk Penguatan Karakter Peserta Didik." Salah satu persamaan
penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah objek kedua penelitian
tersebut adalah siswa yang menggunakan prinsip-prinsip Islam dalam pembelajaran
matematika, yang merupakan salah satu metode untuk mengembangkan karakter
siswa. Sementara itu, metodologi penelitian merupakan hal yang membedakan
penelitian ini dengan penelitian sebelumnya. Metodologi penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, berbeda dengan
tinjauan literatur yang digunakan dalam penelitian sebelumnya.
Sebagai kesimpulan, Afani (2023) melakukan
penelitian berjudul "Analisis Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam
Implementasi Program P5 pada Kurikulum Merdeka di SMP Negeri 2 Sukoharjo
Wonosobo." Persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah
analisis nilai-nilai pendidikan Islam dalam implementasi program P5 pada
kurikulum mandiri dan penggunaan metode penelitian kualitatif. Sementara itu,
lokasi penelitian membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya.
Lokasi penelitian terdahulu adalah SMP Negeri 2 Sukoharjo Wonosobo. Sedangkan
penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 210 Jakarta.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, peneliti
terinspirasi untuk melakukan penelitian dan menghasilkan sebuah artikel ilmiah
dengan judul �ANALISIS INTEGRASI
NILAI-NILAI KEISLAMAN DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA PADA KURIKULUM MERDEKA DI
SMPN 210 JAKARTA.�
��
Metode
����������� Penelitian
ini menggunakan metodologi penelitian kualitatif. Dengan menggunakan pendekatan
ini, informasi deskriptif tentang kejadian aktual di sekolah akan dimasukkan
dalam penelitian. Tujuan dari penelitian kualitatif deskriptif ini adalah untuk
mengumpulkan informasi tentang pemahaman yang komprehensif tentang bagaimana
prinsip-prinsip Islam diintegrasikan ke dalam pembelajaran matematika dalam
Kurikulum Merdeka di SMPN 210 Jakarta. Hubungan antara nilai-nilai Islam dengan
kurikulum matematika di sekolah, pemilihan sumber belajar yang mengintegrasikan
nilai-nilai Islam, ketersediaan sumber belajar dengan integrasi tersebut, dan
adanya kompetensi guru dalam mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam
pembelajaran matematika adalah beberapa faktor yang akan dibahas dalam
penelitian ini. Sementara itu, indikator-indikator berikut ini menjadi dasar
analisis dalam penelitian ini: upaya guru dalam mengintegrasikan nilai-nilai
Islam ke dalam pembelajaran matematika; reaksi siswa terhadap pembelajaran
tersebut, pemahaman siswa terhadap pembelajaran tersebut ketika dipadukan
dengan nilai-nilai Islam; dan perwujudan perubahan perilaku siswa yang
menunjukkan bahwa pengintegrasian nilai-nilai Islam ke dalam pembelajaran
memberikan pengaruh positif bagi siswa. Dalam penelitian ini, para peneliti
menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi yang dikumpulkan secara
independen sebagai metode pengumpulan data. Selanjutnya, semua data yang
dikumpulkan oleh para peneliti akan ditangani sesuai dengan pedoman penelitian
kualitatif, yang berujung pada kesimpulan yang dapat diverifikasi (Rijali,
2019).
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan hasil observasi
dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti, ditemukan beberapa data sebagai
berikut:
1.
Integrasi
Nilai Keislaman di SMPN 201 Jakarta
Nilai sendiri menurut Ansori
(2016) memiliki pengertian tentang kepemilikan di dalam sebuah kepercayaan
manusia. Hal ini berkaitan erat dengan apa yang manusia diyakini dan dijadikan
sebuah pedoman di dalam kehidupannya. Adapun pendapat dari (Ramadhan, 2023) mengenai sebuah arti singkat dari keislaman itu
sendiri yaitu, ketekunan dan rasa semangat seseorang dalam mempelajari,
menerapkan dan memodifikasi prinsip-prinsip Islam dalam tujuan yang tak
tergoyahkan untuk menjadi manusia yang sempurna. SMPN 210 Jakarta telah
menggunakan kurikulum otonom selama dua tahun terakhir, menurut hasil wawancara
peneliti dengan wakil kurikulum sekolah. Program P5 (Profil Pelajar Pancasila),
yang terdiri dari enam profil pelajar Pancasila-yakni keimanan, kebhinekaan,
gotong royong, kemandirian, nalar kritis, dan kreativitas-diterapkan melalui
kurikulum ini. Karena hal tersebut, maka integrasi nilai keislaman sendiri
memiliki keselarasan dengan suatu pendidikan islam di sekolah.
Berdasarkan hasil observasi
peneliti, SMPN 210 Jakarta telah menerapkan nilai-nilai keislaman pada
kurikulum yang sekolah terapkan saat ini yaitu, kurikulum merdeka. Dengan
mengimplementasikan program P5 di dalam beberapa program sekolah, yaitu:
tadarus pagi yang dilaksanakan setiap hari sebelum melaksanakan kegiatan
pembelajaran, kegiatan pesantren kilat di setiap bulan ramadhan, pendalaman Al
Qur�an dan hadist, penguatan karakter yang berakhlakul karimah pada seluruh
peserta didik, serta membentuk lingkungan sekolah yang islami. Pada
pembelajaran matematika sendiri, ditemukan nilai-nilai keislaman pada bahan
ajar guru yang berupa Modul Ajar. Nilai-nilai keislaman yang diajarkan dan
diimplementasikan di dalam kegiatan pembelajaran mengadaptasi sifat wajib
Rasulullah .SAW. yang memiliki keterkaitan erat dengan moral dan etika di
kehidupan sehari-hari. Sifat wajib tersebut adalah: Shidiq (kebenaran), Amanah
(dapat dipercaya), Tabligh (menyampaikan), dan Fathonah (cerdas).
Berdasarkan hal di atas,
SMPN 210 Jakarta telah mengintegrasikan nilai-nilai keislaman pada kurikulum
merdeka yang diterapkan saat ini. Hal ini memiliki tujuan agar peserta didik
tumbuh menjadi pribadi yang memiliki ketaatan dan kepatuhan di dalam keyakinan
agama Islamnya. Integrasi nilai-nilai islam di sekolah diharapkan dapat
meningkatkan nilai-nilai terpuji peserta didik di dalam perilaku, perbuatan,
perkataan, serta tindakannya. Hal ini pun sesuai dengan prinsip pendidikan
islam itu sendiri, yaitu menjadikan manusia seseorang yang bukan hanya dapat
berlaku baik kepada TuhanNya, melainkan juga terhadap sesamanya, Amri (2017).
2.
Integrasi Nilai Keislaman Dalam Pembelajaran
Matematika
Berdasarkan observasi dan
asistensi peneliti terhadap guru matematika di SMPN 210 Jakarta, terdapat
nilai-nilai keislaman yang diintegrasikan dan disesuaikan dengan materi
pembelajaran yang guru sampaikan. Beberapa nilai keislaman yang diintegrasikan
di dalam pembelajaran matematika dengan mengadaptasi sifat Rasulullah .SAW.
adalah sebagai berikut:
Shidiq (kebenaran).
Sesuai dengan apa yang Allah
.SWT. firmankan di dalam surah Maryam ayat 50 yang berbunyi:
Artinya: �Dan Kami
anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka
buah tutur yang baik dan mulia.�
Ayat tersebut memiliki
maksud bahwa segala apa yang disampaikan oleh Rasul adalah benar dan bukan
dusta. Di dalam kegiatan pembelajaran matematika, guru mengintegrasikan nilai
keislaman ini dengan mengaitkannya ke dalam salah satu materi matematika, yaitu
aljabar di seluruh tingkat kelas peserta didik. Materi aljabar memiliki
kesepakatan dalam menyelesaikan perkalian operasi bilangan bulat dengan
menggunakan beberapa sifat seperti berikut ini:
a. Negatif dikalikan negatif = positif
Hal ini mengajarkan peserta
didik bahwa menyatakan hal yang salah itu adalah salah merupakan perilaku yang
benar.
b. Positif dikalikan positif = positif
Hal ini mengajarkan peserta
didik bahwa menyatakan hal yang benar itu adalah benar merupakan perilaku yang
benar.
c. Negatif dikalikan positif = negatif
Hal ini mengajarkan peserta
didik bahwa menyatakan hal yang salah itu adalah benar merupakan perilaku yang
salah.
d. Positif dikalikan negatif = negatif
Hal ini mengajarkan peserta didik
bahwa menyatakan hal yang benar itu adalah salah juga merupakan perilaku yang
salah.
2) Amanah (dapat dipercaya).
Sesuai dengan apa yang Allah
.SWT. firmankan di dalam surah An Nisa ayat 58 yang berbunyi:
Artinya: �Sesungguhnya
Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan
(menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu
menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang
sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha
Melihat.�
Ayat tersebut memiliki
maksud bahwa Rasulullah memiliki sifat amanah dan mustahil untuk berbohong atau
berkhianat. Di dalam kegiatan pembelajaran matematika, guru mengintegrasikan
nilai keislaman ini dengan mengaitkannya ke dalam salah satu materi matematika,
yaitu pengukuran dan aritmatika sosial di kelas 7. Materi pengukuran memiliki
aturan satuan pengukuran yang telah diterapkan secara nasional dan
internasional. Pengukuran yang peserta didik pelajari adalah pengukuran dalam
satuan panjang, waktu, luas, dan berat. Dalam hal ini peserta didik diajarkan
untuk selalu berlaku adil dan dapat dipercaya. Hal ini diterapkan ke dalam
beberapa kegiatan pembelajaran, yaitu:
a.
Saat mengukur panjang suatu
benda peserta didik harus menggunakan penggaris atau alat ukur meteran, bukan
dengan menggunakan perkiraan atau rentangan jari tangan mereka.
b.
Dalam mengkonversi suatu
ukuran panjang dan berat peserta didik dapat menggunakan tangga satuan panjang
dan berat, seperti gambar di bawah ini:
(Sumber: Goggle)
(Sumber: Advenesia.com)
c.
Materi aritmatika sosial
dapat menjadi salah satu cara untuk menanamkan nilai keislaman amanah di dalam
bermuamalah di kehidupan sehari-hari peserta didik. Kegiatan ini memiliki
keterkaitan erat dengan jual beli, untung rugi, bunga, bruto, dan sebagainya.
3) Tabligh (menyampaikan)
Sesuai dengan salah satu
hadis riwayat oleh HR. Bukhari no. 30202 yang berbunyi:
Artinya: dari [�Abdullah
bin �Amru] bahwa Nabi shallallahu �alaihi wasallam bersabda: �Sampaikan dariku
sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Israil
dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka
bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka.�
Ayat tersebut memiliki
maksud bahwa Rasulullah menyampaikan segala sesuatu yang Rasulullah dapatkan
kepada manusia walaupun wahyu tersebut mungkin kurang menyenangkan bagi
manusia. Di dalam kegiatan pembelajaran matematika, guru mengintegrasikan nilai
keislaman ini dengan berbagai hal, yaitu:
a. Membuktikan kebenaran ide matematika yang telah
Allah jelaskan sebelumnya di dalam Al-Qur'an. Salah satunya adalah ide tentang
bilangan, yang memiliki 38 angka yang berbeda. Tiga puluh bilangan asli dan
delapan bilangan pecahan (rasional) membentuk 38 bilangan tersebut. Siswa dapat
mempelajari penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, di antara
operasi bilangan lainnya, dari angka-angka ini.
b. Menyampaikan suatu data hanya berdasarkan data dan
fakta yang dapat diperoleh, dianalisis, dan divalidasi kebenarannya dengan menerapkan
pembelajaran matematika materi Statistika di kelas 9.
4) Fathonah (cerdas).
Sesuai dengan salah satu
hadis yang diriwayatkan oleh Muslim nomor 817, yang berbunyi:
Artinya: Dari Umar bin
Al-Khattab radhiyallahu �anhu, Nabi shallallahu �alaihi wa sallam bersabda,
�Sesungguhnya Allah mengangkat (meninggikan) dengan kitab ini (Al-Qur�an) dan
merendahkan kaum yang lain dengannya juga.�
Ayat tersebut memiliki
maksud bahwa Rasulullah menyampaikan keutamaan dalam menuntut ilmu agar menjadi
kaum yang cerdas. Karena semakin tinggi kecerdasan seseorang dalam berilmu,
semakin tinggi juga Allah mengangkat derajat suatu kaum. Di dalam kegiatan
pembelajaran matematika, guru mengintegrasikan nilai keislaman ini dengan salah
satu materi garis dan titik koordinat di kelas 7. Pada materi ini, setiap
pertambahan dan pengurangan suatu nilai akan berdampak pada grafik yang
terbentuk dari suatu nilai titik koordinat. Nilai positif selalu bertambah ke
arah kanan dan atas, hal ini dapat dirasionalkan jika kita selalu mempelajari
hal-hal baik (yang disimbolkan dengan arah kanan) dan mendekatkan kepada Allah
.SWT. (yang disimbolkan dengan arah ke atas), maka grafik yang terbentuk akan
terus menaik. Sedangkan, jika kita mempelajari hal-hal buruk (yang disimbolkan
dengan arah kiri) dan menjauhkan diri dari Allah .SWT. (yang disimbolkan de
arah koordinat e bawah), maka akan membentuk suatu grafik menurun. Hal ini
mengartikan, bahwa keilmuan seseorang akan mempengaruhi tingkat kecerdasan
seseorang dalam berilmu dan beriman kepada Allah .SWT.
3.
Implementasi Nilai Keislaman dalam Pembelajaran
Matematika Pada Kurikulum Merdeka di SMPN 210 Jakarta
Berdasarkan hasil observasi
dan wawancara peneliti, langkah-langkah yang guru matematika di SMPN 210
Jakarta lakukan dalam mengimplementasikan kegiatan pembelajaran matematika pada
kurikulum merdeka yang diintegrasikan dengan nilai keislaman yang diterapkan
oleh sekolah adalah sebagai berikut:
a. Shidiq (kebenaran).
Berdasarkan hasil wawancara
peneliti dengan wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, sikap kebenaran yang
ingin sekolah tanamkan pada peserta didik melalui guru memiliki beberapa jenis,
yaitu: kebenaran dalam pengetahuan, kebenaran dalam perlakuan dan tindakan,
serta kebenaran dalam perkataan. Para guru memasukkan komponen pertama dari
kurikulum otonom-iman, takut akan Tuhan Yang Maha Esa, dan akhlak mulia-ke
dalam kelas dengan mengaitkan pelajaran matematika dengan ayat-ayat Al Qur'an
dan berbagai hadis. Lalu, elemen kelima yaitu, bernalar kritis. Pada elemen
ini, peserta didik dilatih untuk dapat memiliki sikap disiplin, cermat, teliti,
dan tepat dalam menyelesaikan sebuah persoalan dan mengambil sebuah keputusan.
Hal ini bertujuan agar apa-apa yang peserta didik temukan dan serahkan adalah
sebuah kebenaran yang dapat dapat divalidasi dan berdasarkan pada hasil
analisis dan evaluasi penalaran peserta didik.
b. Amanah (dapat dipercaya).
Berdasarkan hasil wawancara
peneliti dengan wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, nilai amanah yang ingin
sekolah wujudkan kepada peserta didik melalui guru memiliki ciri-ciri, seperti:
jujur, rendah hati, konsisten, dan menghormati satu sama lain. Pada
penerapannya, guru guru mengaitkan elemen pertama, dengan nilai akhlak pribadi
dan manusia. Peserta didik diajarkan untuk memiliki kerendahan hati dalam
menghadapi dirinya sendiri dan orang lain.
Kemudian, guru menerapkan
elemen keenam dari kurikulum merdeka yaitu, kreatif. Pada elemen ini peserta
didik diajarkan untuk menghasilkan sebuah karya yang orisinil. Hal ini memiliki
arti bahwa apa yang peserta didik adalah murni hasil dari dirinya sendiri.
Bukan merupakan hasil duplikasi karya orang lain. Hal yang dihasilkan nyata dan
dipertanggungjawabkan. Lalu, guru juga menerapkan elemen kedua yaitu,
berkebinekaan global dengan nilai berkeadilan sosial. Peserta didik dibuatkan
kelompok belajar yang berisikan peserta didik dengan keanekaragaman budaya dan
latar belakang keadaan sosial yang beragam. Hal ini bertujuan agar peserta
didik dapat menghargai perbedaan satu sama lain sehingga tumbuh rasa toleransi
di antara mereka.
c. Tabligh (menyampaikan).
Berdasarkan hasil wawancara
peneliti dengan wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, nilai amanah yang ingin
sekolah wujudkan kepada peserta didik melalui guru harus memiliki dasar
pengetahuan, komunikasi yang jelas, serta penyampaian informasi yang menarik dan
ekspresif. Dalam hal ini guru menerapkan elemen ketiga yaitu, bergotong royong
dengan nilai kolaborasi. Di dalam modul ajar guru selalu menyisipkan pertanyaan
pemantik di setiap awal pembelajaran. Hal ini dilakukan untuk memicu perdebatan
di antara para siswa. Bersama-sama, pendidik dan siswa menciptakan lingkungan
belajar yang dinamis dan produktif di dalam kelas. Selain itu, siswa diundang
untuk berdiri dan berbagi tujuan pembelajaran mereka. Dari kegiatan ini peserta
didik belajar untuk menyampaikan sebuah pendapat, pemikiran, dan perasaannya
dengan komunikasi yang baik dan alasan yang relevan dengan informasi akurat
yang ia dapatkan.
d. Fathonah (cerdas).
Sekolah berharap dapat
mengembangkan kecerdasan kognitif, emosional, dan psikomotorik siswa melalui
guru, berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan wakil kepala sekolah bidang
kesiswaan. Guru menggunakan kemandirian, komponen keempat, dalam hal ini. Kegiatan
pembelajaran menjadi wadah bagi peserta didik untuk memahami dirinya sendiri.
Guru menggunakan pendekatan model pembelajaran yang bervariasi pada
pembelajaran matematika, seperti CRT (Culturally Responsive Teaching), TaRL
(Teaching at The Right Level), dan lainnya. Guru juga
menerapkan elemen kelima, yaitu bernalar kritis. Dalam pembelajaran matematika,
peserta didik diajak untuk menganalisis suatu soal dengan rumus hasil pemikiran
yang telah ditetapkan. Peserta didik dibiasakan untuk berpikir sebelum menyerahkan
hasil hitungannya.
Guru juga menerapkan elemen keenam, yaitu kreatif. Di
dalam kegiatan pembelajaran matematika, peserta didik memiliki kebebasan dalam
menentukan solusi untuk menyelesaikan sebuah soal. Guru tidak mengharuskan
peserta didik hanya menggunakan rumus yang bersumber dari ajaran guru di kelas.
Peserta didik dibebaskan untuk memiliki sumber bahan ajar yang beragam dengan
tetap berada di dalam pengawasan guru. Peserta didik juga memiliki sebuah
projek yang ditampilkan di kegiatan P5 rutin sekolah yang dilaksanakan setiap 4
bulan sekali.
Kesimpulan
Peneliti
menarik kesimpulan bahwa prinsip-prinsip Islam telah dimasukkan ke dalam
pengajaran matematika dalam kurikulum otonom di SMPN 210 Jakarta berdasarkan
temuan dan diskusi sebelumnya. Integrasi yang dimaksudkan adalah menghubungkan
nilai keislaman yang berkaitan dengan sifat wajib Rasulullah .SAW. dengan
kegiatan pembelajaran dan penyelesaian sebuah permasalahan di dalam kegiatan
pembelajaran matematika di kelas. Sifat-sifat yang dibutuhkan adalah Fathonah,
Tabligh, Amanah, dan Shidiq. Sifat-sifat ini dapat dimasukkan ke dalam
kurikulum saat ini, kurikulum mandiri, dan dikaitkan dengan sejumlah ide dalam
sumber belajar matematika.
Daftar Pustaka
Ainia, Dela Khoirul. (2020). Merdeka belajar dalam pandangan
Ki Hadjar Dewantara dan relevansinya bagi pengembanagan pendidikan karakter. Jurnal
Filsafat Indonesia, 3(3), 95�101.
Arfani, Laili. (2018). Mengurai hakikat pendidikan, belajar
dan pembelajaran. Pelita Bangsa Pelestari Pancasila, 11(2).
Asri, Muhammad. (2017). Dinamika kurikulum di Indonesia. Modeling:
Jurnal Program Studi PGMI, 4(2), 192�202.
Daga, Agustinus Tanggu. (2021). Makna merdeka belajar dan penguatan
peran guru di sekolah dasar. Jurnal Educatio Fkip Unma, 7(3),
1075�1090.
Fitrah, Muh, & Kusnadi, Dedi. (2022). Integrasi
nilai-nilai islam dalam membelajarkan matematika sebagai bentuk penguatan
karakter peserta didik. Jurnal Eduscience (JES), 9(1), 152�167.
Fitriyah, Chumi Zahroul, & Wardani, Rizki Putri. (2022).
Paradigma kurikulum merdeka bagi guru sekolah dasar. Scholaria: Jurnal
Pendidikan Dan Kebudayaan, 12(3), 236�243.
Fitriyani, Dewi, & Kania, Nia. (2019). Integrasi
nilai-nilai keislaman dalam pembelajaran matematika. Prosiding Seminar
Nasional Pendidikan, 1, 346�352.
Hidayat, Rahmat, & Nasution, Henni Syafriana. (2016). filsafat
pendidikan islam: membangun konsep dasar pendidikan Islam.
Husaini, Husaini. (2021). Integrasi Nilai Religius dalam
Pembelajaran MI/SD untuk Membangun Karakter Siswa. El-Ibtidaiy: Journal of
Primary Education, 4(1), 65�76.
Insani, Naila, Furnamasari, Yayang Furi, & Dewi, Dinie
Anggraeni. (2021). Penerapan Pendidikan Karakter pada Siswa Sekolah Dasar dalam
Upaya Menghadapi Era Globalisasi. Jurnal Pendidikan Tambusai, 5(3),
8937�8941.
Julaeha, Siti. (2019). Problematika kurikulum dan
pembelajaran pendidikan karakter. Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 7(2),
157.
Laksana, Sigit Dwi. (2016). Urgensi Pendidikan Islam Dalam
Perubahan Sosial Di Masyarakat. Aristo, 4(2), 47�56.
Mahlianurrahman, Mahlianurrahman. (2020). Pengembangan
Perangkat Pembelajaran Berbsasis Kurikulum 2013. Attadib: Journal of
Elementary Education, 4(1), 1�13.
Mayasari, Linda. (2020). Manajemen Pendidikan Karakter
Dalam Pembinaan Akhlak Siswa Di Sma Negeri 1 Purbolinggo Kabupaten Lampung
Timur. IAIN Metro.
Nugraha, Jaka, & Rafiza, Prasnanda Bunga. (2022).
Analisis Pembelajaran Berbantuan Media Audio Visual Upin Ipin Episode Sholawat
Allahul Kaffi terhadap Pembentukan Karakter Religius Siswa Sekola Dasar. El-Ibtidaiy:
Journal of Primary Education, 5(2), 168�175.
Prasetyo, Arif Rahman, & Hamami, Tasman. (2020).
Prinsip-prinsip dalam pengembangan kurikulum. Palapa, 8(1),
42�55.
Ramadhan, Wandri. (2023). Analisis integrasi nilai-nilai
keislaman dalam pembelajaran Ilmu Pendidikan Alam dan Sosial (IPAS) pada
kurikulum merdeka di sekolah dasar. El-Ibtidaiy: Journal of Primary
Education, 6(1), 81�92.
Setiawan, Didik. (2021). Pengaruh Iklim Belajar Dan Minat
Belajar Terhadap Pemahaman Konsep Matematika Dimasa Pandemik Siswa Kelas V
Sekolah Dasar Se Kecamatan Malili. Sigma: Jurnal Pendidikan Matematika, 13(2),
143�151.