Jurnal Inovasi Global

Vol. 2, No. 3, Maret 2024

ISSN: 3032-2723; E-ISSN: 3031-0512

https://jig.rivierapublishing.id/index.php/rv/index


Upaya Meningkatkan Hasil Belajar dan Keterampilan Bercerita Melalui Metode Storytelling Kelas IV di MI Raudlatus Shibyan Krangkeng Indramayu

Izzatul Millah1, Khoimatun2

Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Nahdlatul Ulama Indramayu

[email protected]

 

Abstrak:

Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional yang digunakan oleh seluruh bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia juga dikatakan sebagai bahasa kedua setelah bahasa Ibu. Diharapkan dengan adanya mata pelajaran Bahasa Indonesia disekolah, yang paling utama adalah siswa bisa berkomunikasi secara lebih efektif serta mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar sesuai etika dan kesopanan. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada sekolah dasar belum mampu menyampaikan komunikasi dan masih kesulitan dalam bercerita, selain itu kurangnya penggunaan media pembelajaran dan hasil belajar tergolong rendah tidak mencapai KKM dan indikator keberhasilan. Hal ini perlu dilakukan tindakan dengan judul Upaya meningkatkan hasil belajar dan keterampilan bercerita pada mata pelajaran bahasa Indonesia melalui metode Storytelling kelas IV di MI Raudlatus Shibyan Krangkeng Krangkeng Indramayu. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang bertujuan untuk mengetahui penerapan metode Storytelling dan meningkatkan hasil belajar serta keterampilan bercerita pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas IV MI Raudlatus Shibyan Krangkeng Krangkeng Indramayu dengan jumlah 22 siswa (11 laki-laki) dan (11 perempuan). Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus yang terdiri setiap siklus 2 kali pertemuan. Instrumen dalam penelitian menggunakan lembar observasi keterampilan bercerita dan lembar observasi aktivitas guru serta pemberian tes berupa soal yang diberikan pada setiap akhir siklus. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa : 1) hasil observasi aktivitas guru dalam penerapan metode Storytelling pada siklus I terdapat skor 59 dengan persentase 81,94% dan termasuk dalam ketegori baik, sedangkan pada siklus II terdapat skor 66 dengan persentase 91,67% dan termasuk dalam kategori sangat baik. 2) hasil belajar pada siklus I dengan jumlah 13 siswa yang berhasil mencapai ketuntasan hasil belajar 59,09% dengan nilai terendah 50 dan nilai tertinggi 85, pada siklus II dengan jumlah 19 siswa yang berhasil mencapai ketuntasan hasil belajar 86,36% dengan nilai terendah 60 dan nilai tertinggi 95. 3) hasil keterampilan bercerita pada siklus I terdapat skor 422 dengan persentase 59,95% dalam katogori kurang terampil, sedangkan pada siklus II terdapat skor 607 dengan persentase 86,22% dengan kategori sangat terampil. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penelitian dengan

Doi: 10.58344/jig.v2i3.83����������������������������������������������������������������������������������������������� 474


menggunakan metode storrytelling dapat meningkatkan hasil belajar dan keterampilan bercerita pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas IV MI Raudlatus Shibyan Desa Krangkeng Kecamatan Krangkeng Kabupaten Indramayu.

 

 

Kata Kunci: Metode Storytelling, Hasil Belajar, Keterampilan Bercerita.

Abstract:

Indonesian is the national language used by the entire Indonesian nation. Indonesian is also said to be a second language after mother tongue. It is hoped that with the existence of Indonesian language subjects at school, the most important thing is that students can communicate more effectively and be able to speak Indonesian properly and correctly according to ethics and decency. In learning Indonesian, elementary schools have not been able to convey communication and have difficulty telling stories, in addition to the lack of use of learning media and learning outcomes that are classified as low, not achieving KKM and indicators of success. This needs to be done with the title Efforts to improve learning outcomes and storytelling skills in Indonesian language subjects through the class IV Storytelling method at MI Raudlatus Shibyan Krangeng Krangeng Indramayu. This research is a class action research (CAR) which aims to find out the application of the storytelling method and improve learning outcomes and storytelling skills in Indonesian language class IV MI Raudlatus Shibyan Krangeng Krangeng Indramayu with a total of 22 students (11 boys) and (11 girls) ). This research was conducted in 2 cycles consisting of 2 meetings in each cycle. The instrument in the study used observation sheets of storytelling skills and observation sheets of teacher activity and the provision of tests in the form of questions given at the end of each cycle. The results of this study indicate that: 1) the results of observations of teacher activity in the application of the Storytelling method in cycle I had a score of 59 with a percentage of 81.94% and included in the good category, while in cycle II there was a score of 66 with a percentage of 91.67% and included in very good category. 2) learning outcomes in cycle I with a total of 13 students who managed to achieve complete learning outcomes of 59.09% with the lowest score of 50 and the highest score of 85, in cycle II with a total of 19 students who managed to achieve complete learning outcomes of 86.36% with the lowest score 60 and the highest score is 95. 3) the results of storytelling skills in the first cycle there is a score of 422 with a percentage of 59.95% in the less skilled category, while in the second cycle there is a score of 607 with a percentage of 86.22% in the very skilled category. So it can be concluded that research using the storytelling method can improve learning outcomes and storytelling skills in Indonesian language subjects in class IV MI Raudlatus Shibyan, Krangkeng Village, Krangeng District, Indramayu Regency.

 

Keywords: Storytelling Method, Learning Outcomes, Storytelling Skills


 

Pendahuluan

Bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional yang digunakan oleh seluruh bangsa Indonesia (Bulan, 2019). Bahasa Indonesia juga dikatakan sebagai bahasa kedua setelah bahasa Ibu (Kurniati, 2015). Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar merupakan bagian dari lima Mata Pelajaran pokok yang harus dipelajari oleh siswa. Menurut (Setiawati, 2015) Para ilmuwan dalam bidang lain pun menjadikan bahasa sebagai objek studi karena mereka memerlukan bahasa sekurang-kurangnya sebagai alat untuk mengomunikasikan berbagai hal.

Pada dasarnya bahasa adalah sebagai alat komunikasi dalam kebutuhan sehari- hari (Nurcholis & Hidayatullah, 2019). Keterampilan berbahasa diketahui mempunyai empat komponen, yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis (Ilham & Wijiati, 2020). Menurut (Pradita & Jayanti, 2021) berbicara diartikan sebagai satu dari empat keterampilan berbahasa yang berkembang seiring dengan kehidupan anak serta didahului oleh keterampilan menyimak. Begitupun berbicara merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang bersifat produktif (Fauziah, 2018). Berbicara secara umum dapat dimaksudkan sebagai sebuah keterampilan guna menyampaikan ide, gagasan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan (Rahmayanti, Fitriani, & Aziz, 2023).

Keterampilan berbicara seseorang itu dapat diukur dari bagaimana ide atau informasi yang diungkapkan sampai pada lawan tuturnya dan juga menjadi tolak ukur untuk mendukung penutur dalam meningkatkan keterampilan berbicara yang merupakan salah satu bagian dari keterampilan berbahasa. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Nurgiantoro (2010) berbicara merupakan suatu kegiatan berbahasa kedua dari manusia setelah kegiatan berbahasa mendengar. Menurut Setyonegoro (2013) berbicara ialah satu kemampuan berkomunikasi dengan lawan tuturnya. Berbicara merupakan suatu kemampuan dalam menuturkan bunyi-bunyi berupa artikulasi atau kata-kata yang bertujuan untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan (Rahmayanti et al., 2023). Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa, berbicara merupakan suatu kegiatan penyampaian informasi untuk menambah pengetahuan (Suharyanto, 2016), keterampilan dan sikap sebagai respon dari pendengar yang mengekspresikan suatu ide melalui tuturan. Keterampilan berbicaralah yang pertama tama dapat memenuhi kebutuhan berkomunikasi dengan lingkungan sekitar khususnya bahasa verbal atau lisan (Mahadi, 2021).

Berbicara berarti mengemukakan ide atau pesan lisan secara aktif melalui lambang bunyi agar terjadi kegiatan komunikasi antara pembicara dan pendengar (Harianto, 2020). Diharapkan dengan adanya mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah, yang paling utama adalah siswa bisa berkomunikasi secara lebih efektif serta mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar sesuai etika dan kesopanan (Ali, 2020). Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada siswa sekolah dasar belum mampu menyampaikan komunikasi dalam bercerita, oleh karena itu dalam pembelajaran ini diharapkan siswa mampu menyampaikan cerita di depan kelas (Tambunan, 2018).


Setiantono (2012) bercerita merupakan cara penyampaian atau penyajian materi pembelajaran secara lisan dalam bentuk cerita dengan salah satu jenis dalam pembelajaran berbicara. Bercerita dapat dipahami sebagai suatu tuturan yang menjelaskan bagaimana terjadinya suatu hal, peristiwa dan kejadian, baik yang dialami diri sendiri maupun orang lain.

Tujuan bercerita adalah untuk memberikan informasi kepada orang lain. Dengan bercerita seseorang akan dapat menyampaikan berbagai pengalaman yang pernah dirasakan, dilihat, dialami serta informasi dan pengetahuan yang dimiliki (Amalia, 2019). Bercerita juga dapat berfungsi sebagai cara seseorang untuk mengungkapkan berbagai perasaan yang dirasakan, kemauan serta keinginan untuk berbagi tentang pengalaman yang diperolehnya. Dengan saling mengungkapkan perasaan, pengalaman, informasi, maka komunikasi dikehidupan sosial pun akan berjalan dengan baik dan lancar (Harapan, Pd, Ahmad, & MM, 2022).

Dari hasil observasi di kelas IV MI Raudlatus Shibyan siswa masih belum bisa menyampaikan keterampilan bercerita dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di depan kelas, banyak siswa yang masih kesulitan jika diminta untuk bercerita secara lisan. Hal ini terlihat pada saat proses pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia keterampilan bercerita masih sangat kurang diminati, siswa cenderung belum memiliki keberanian untuk bersuara maju di depan kelas. Adapun ketercapaian hasil belajar siswa masih kurang maksimal dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Dengan jumlah siswa sebanyak 22 siswa, hanya beberapa siswa yang memiliki keterampilan bercerita yang baik serta berani bercerita di depan kelas.

Hasil wawancara dengan guru hasil nilai keterampilan bercerita siswa dalam pelajaran bahasa Indonesia masih tergolong kurang dengan indikator keberhasilan 55,40% sedangkan indikator keterampilan bercerita siswa yang harus dicapai sebesar 75%, sedangkan nilai hasil belajar siswa yang telah mampu mencapai KKM hanya 36% (8 siswa) sedangkan 63% (14 siswa) masih di bawah KKM, sehingga KKM yang telah ditentukan oleh guru kelas yaitu 70. Selain itu, siswa yang berpartisipasi aktif dalam pembelajaran hanya beberapa saja.

Berdasarkan pemaparan di atas, untuk mengatasi permasalahan pembelajaran peneliti menerapkan metode pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar dan keterampilan bercerita siswa pada pelajaran Bahasa Indonesia. Menggunakan metode pembelajaran Storytelling metode pembelajaran Storytelling merupakan sebuah upaya yang dilakukan supaya siswa mampu menyampaikan isi perasaan, buah pikiran atau sebuah cerita secara lisan.

Hal ini sejalan dengan Wahyuni (2011) dengan judul: �Peningkatan Keterampilan bercerita melalui metode menceritakan Ulang (Storytelling) Murid Kelas V SD, dapat di lihat dari hasil keterampilan bercerita murid kelas V sebesar 16,14% dari siklus I dengan indikator keberhasilan 61,36% dan pada siklus II dengan indikator keberhasilan 77,50%. Adapun hasil lain dari peneliti Karyadi, A.C (2018) hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian Implikasi dari penelitian ini adalah penerapan metode storytelling menggunakan media big book sebagai salah satu alternative metode pembelajaran yang menyenangkan bagi anak yang menyebutkan bahwa rata-rata kelas pada pra tindakan sebesar 34,89%. Setelah dilakukan tindakan dalam siklus I meningkat rata-rata kelas menjadi sebesar 54, 89% dan pada siklus II meningkat menjadi 71,03%.


Adapun hasil penelitian yang dilakukan oleh Muhlisa baharudin (2018) yang berjudul� Penerapan Metode Storytelling (mendongeng) dengan media gambar seri untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas II SDN 1 Pringgabaya�. Sedangkan rata-rata hasil kemampuan berbicara siswa adalah 69,05% meningkat menjadi 75,8%.

Peneliti menggunakan Metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK), bersifat meneliti kelangsungan pembelajaran di dalam kelas. Berdasarkan paparan di atas, peneliti dapat mengembangkan pembelajaran dengan penelitian tindakan kelas yang berjudul �Upaya Meningkatkan Hasil Belajar dan Keterampilan Bercerita Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Melalui Metode Storytelling Kelas IV di MI Raudlatus Shibyan Desa Krangkeng Kecamatan Krangkeng Kabupaten Indramayu�.

 

Metode

Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, maka metode penelitian yang digunakakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Yang sering disebut Classroom Action Research (CAR) merupakan jenis penelitian yang dilaksanakan guru dalam bentuk tindakan untuk memperbaiki proses dan hasil belajar siswa. Arikunto (2014) menyatakan bahwa penelitian tindakan kelas (PTK) adalah penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru ke kelas atau di sekolah tempat ia mengajar dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses praksis pembelajaran. Arikunto (2010) penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan kegiatan penelitian yang dilakukan terhadap sejumlah subjek yang menjadi sasaran yaitu peserta didik, yaitu bertujuan memperbaiki situasi pembelajaran di kelas agar terjadi peningkatan kualitas pembelajaran. Dapat disimpulkan bahwa PTK merupakan suatu bentuk penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru yang bersifat reflektif dengan tujuan untuk memperbaiki proses dan hasil belajar siswa yang dilakukan guru dengan melakukan tindakan tertentu untuk memperbaiki proses dan hasil belajar siswa.

PTK merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan kualitas peran dan tanggung jawab guru khususnya dalam pengetahuan pembelajaran. PTK berkembang dari penelitian tindakan kelas oleh Kurt Lewin, yang diterapkan dibidang ilmu sosial. Penelitian tindakan dilakukan untuk memperbaiki proses tindakan sosial. PTK dilaksanakan dengan menerapkan berbagai inovasi untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas proses pembelajaran.

 

Desain Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini menggunakan desain penelitian yang dikemukakan oleh Kemmis dan Mc Taggart yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi/Pengamatan dan refleksi. Menurut Kemmis dan Mc Taggart (Arikunto, 2010) adalah sebagai berikut:


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.1 Alur Pelaksanaan PTK Model Kemmis dan Mc Taggart Menurut Arikunto (2010) model yang dikemukakan oleh Kemmis dan Mc Taggart.

Penelitian tindakan kelas dilakukan melalui proses yang dinamis dan komplementari yang terdiri dari empat langkah yaitu sebagai berikut:

1)     Perencanaan (Planning)

Perencanaan merupakan tahap dimana peneliti menjelaskan apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Pada tahap ini peneliti mengidentifikasi dan menganalisis masalah yang akan diteliti, menetapkan alasan mengapa penelitian dilakukan untuk mengatasi masalah, membuat rincian rancangan tindakan seperti membuat silabus, menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), menyiapkan materi yang akan diajarkan, merancang media yang akan digunakan, menyiapkan lembar observasi / pengamatan, menyiapkan lembar tes hasil belajar, melakukan refleksi dan berkoordinasi dengan guru wali kelas serta menetapkan indikator keberhasilan.

2)     Pelaksanaan Tindakan (Action)

Tahap ke-2 dari penelitian tindakan adalah pelaksanaan yang merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan dalam kancah, yaitu mengenakan tindakan kelas pada tahap ini, rancangan model dan skenario pembelajaran akan diterapkan. Skenario atau rancangan tindakan yang akan dilakukan menjelaskan tentang:

a.      Langkah demi langkah kegiatan yang akan dilakukan.

b.      Kegiatan yang seharusnya dilakukan oleh guru.

c.      Kegiatan yang seharusnya dilakukan oleh siswa.

d.      Rincian tentang jenis media pembelajaran yang akan digunakan dan cara menggunakannya.

e.      Jenis instrumen yang akan digunakan untuk pengumpulan data / pengamatan disertai dengan penjelasan rinci bagaimana menggunakannya.

3)     Pengamatan (Observasi)


Pengamatan merupakan kegiatan pengamatan (pengumpulan data) yang Selanjutnya dikaji secara menyeluruh untuk mengukur seberapa jauh efek tindakan dalam mencapai sasaran. Pengamatan dilaksanakan bersamaan dengan tahap pelaksanaan tindakan. Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan yaitu mengamati dan mencatat semua hal yang diperlukan dapat berupa data kuantitatif (hasil tes tulis berupa isian) atau data kualitatif yang menggambarkan keadaan kelas dengan lembar observasi keterampilan bercerita dan observasi aktivitas guru selama pembelajaran apakah ada peningkatan keterampilan bercerita dan hasil belajar siswa saat menerapkan metode Storytelling.

4)     Refleksi

Tahapan ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan, berdasarkan data yang telah terkumpul, kemudian dilaksanakan kegiatan mengevaluasi dan menganalisis hasil pengamatan untuk mengukur keberhasilan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Hasil refleksi digunakan oleh peneliti sebagai acuan untuk menentukan tindakan selanjutnya. Apabila masih ditemukan beberapa kekurangan dan belum sesuai dengan indikator keberhasilan maka hasil refleksi akan digunakan sebagai acuan untuk menyusun perencanaan pada siklus Berikutnya. Jika hasil penelitian pada siklus I belum memenuhi indikator keberhasilan maka hasil tersebut akan ditingkatkan pada siklus berikutnya.

Siklus I

Penelitian siklus pertama terdiri dari empat kegiatan, yaitu: Perencanaan, pelaksanaan, observasi/pengamatan, dan refleksi. Berdasarkan siklus pertama, guru akan mengetahui letak keberhasilan dan kegagalan atau hambatan yang dijumpai pada siklus pertama. Untuk itu, guru merumuskan kembali rencana tindakan untuk siklus kedua. Kegiatan pada siklus kedua ini dapat berupa kegiatan sebagaimana yang dilakukan pada siklus pertama.

 

Populasi dan Sampel

a.      Populasi

Menurut Arikunto (2010) populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh siswa MI Raudlatus Shibyan Desa Krangkeng Kecamatan Krangkeng Kabupaten Indramayu dengan jumlah siswa 114 siswa.

b.      Sampel

Menurut Arikunto (2010) sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di MI Raudlatus Shibyan Desa Krangkeng Kecamatan Krangkeng Kabupaten Indramayu sampel diambil dari Kelas IV sebagai sampel dengan jumlah sebanyak 22 siswa yang dijadikan sebagai subjek penelitian.

 

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan dari penelitian adalah mendapatkan data-data. Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data penelitian tindakan kelas ini adalah dengan tes dan observasi. Berikut adalah penjelasan mengenai teknik pengumpulan data.

1)     Tes


Menurut Arikunto (2012) tes adalah suatu alat pengumpul informasi ataupun data, tetapi jika dibandingkan dengan alat-alat lain, tes disini bersifat lebih resmi karena perlu dengan batasan-batasan. Untuk mengukur hasil belajar siswa menggunakan tes tertulis berupa soal. Tes umumnya digunakan untuk menilai dan mengukur hasil belajar kognitif siswa berkenaan dengan penguasaan bahan pengajaran sesuai dengan tujuan pendidikan dan pengajaran.

Tes dalam penelitian ini dilakukan pada akhir pembelajaran untuk memperoleh data serta mengetahui sejauh mana siswa memahami materi yang diajarkan. Adapun tes yang digunakan dalam penelitian adalah tes tertulis dan bentuk tesnya berupa isian untuk mengukur hasil belajar siswa.

2)     Observasi

Menurut Arikunto (2012) observasi atau pengamatan adalah suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara teliti serta pencatatan secara sistematik. Pada penelitian ini, observasi dilakukan berdasarkan lembar observasi yang telah dibuat sebelumnya. Untuk mengukur tingkat keterampilan bercerita siswa dan aktivitas guru dalam proses pembelajaran.

3)     Dokumentasi

Pengumpulan data melalui dokumentasi foto-foto merupakan bukti penelitian sebagai gambar hasil belajar penelitian yang dapat dideskripsikan. Penelitian bertindak sebagai perencanaan dan pelaksanaan kegiatan, peneliti membuat perencanaan kegiatan, melaksanakan kegiatan, melakukan pengamatan, mengumpulkan hasil penelitian. Melakukan tindakan sekaligus mengamati hasil. Dokumentasi dianalisis dengan mendeskripsikan foto-foto menjadi kalimat yang bermakna untuk menjelaskan data penelitian. Hasil analisis dokumentasi pada setiap siklus dijadikan data penguat untuk kriteria keberhasilan proses aktifitas belajar siswa.

Hasil dan Pembahasan Hasil Temuan

Pada bab ini akan disajikan mengenai hasil penelitian sebagai jawaban atas rumusan masalah yang diajukan. Sebelum hasil penelitian dipaparkan akan diuraikan terlebih dahulu mengenai kondisi awal (pratindakan) keterampilan bercerita kelas IV MI Raudlatus Shibyan. Dengan demikian, secara urut bab ini akan menjelaskan tentang (1) kondisi awal keterampilan bercerita siswa kelas MI Raudlatus Shibyan, (2) pelaksanaan tindakan serta hasil penelitian, dan (3) pembahasan hasil penelitian.

1)     Hasil Temuan Penelitian Prasiklus Keterampilan Bercerita Siswa

Data yang diperoleh oleh pratindakan yang didapat dari guru kelas dalam keterampilan bercerita sebelum menggunakan metode storytelling dengan indikator keberhasilan keterampilan bercerita siswa hanya 50,28% sedangkan indikator yang harus dicapai keterampilan bercerita sebesar 75%, dikarenakan guru masih menggunakan metode konvensional sehingga siswa merasa jenuh dalam melakukan pembelajaran bercerita pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hal ini menunjukan bahwa pada hasil observasi keterampilan bercerita pada prasiklus masih belum mencapai kriteria ketuntasan indikator sebesar 75%. Secara keseluruhan ini menunjukkan bahwa keterampilan bercerita siswa kelas IV MI Raudlatus Shibyan masih tergolong kurang.


Data dari hasil keterampilan bercerita awal ini akan menjadi bahan pertimbangan peneliti dengan kolaborator untuk mengadakan tindakan perbaikan yang dilakukan dalam pembelajaran berikutnya.

2)     Nilai Hasil Belajar Prasiklus Bahasa Indonesia.

Berdasarkan prasiklus yang telah didapatkan oleh guru kelas dapat dilihat hasil awal belajar pada mata pelajaran bahasa indonesia diketahui bahwa masih banyak siswa yang kurang dalam hasil belajar. Dari jumlah 22 siswa yang berhasil terdapat 8 siswa (36,36%) dan 14 siswa (63.64%) yang belum berhasil. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar kelas IV MI Raudlatus Shibyan masih tergolong belum mencapai nilai KKM 70. Data dari hasil belajar prasiklus ini akan menjadi bahan pertimbangan peneliti untuk mengadakan tindakan perbaikan yang dilakukan dalam siklus 1.

 

Hasil Tindakan Kelas Siklus I

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam 2 siklus yang terdiri setiap siklus 2 kali pertemuan pembelajaran peserta tes evaluasi setiap siklus.

Pada siklus I dilaksanakan pada tanggal 20-21 Juni 2022 yang dilaksanakan di kelas IV MI Raudlatus Syibyan Desa Krangkeng subjek penelitian ini terdiri dari 22 siswa diantaranya 11 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Pada siklus I ini dilaksanakan dalam dua kali pertemuan. Berikut ini dijabarkan pelaksanaan tindakan siklus I.

1)     Perencanaan Siklus I

Perencanaan dalam penelitian ini dilakukan oleh peneliti kemudian didiskusikan dengan kolaborator. Perencanaan dalam siklus I ini meliputi persiapan hal-hal yang dibutuhkan saat pelaksanaan penelitian. Persiapan tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut.

a)      Koordinasi dengan guru untuk menetapkan jadwal pelaksanaan penelitian;

b)     Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) siklus I;

c)      Menyiapkan materi pembelajaran Bahasa Indonesia;

d)     Menyiapkan media cerita legenda yang akan diceritakan oleh siswa;

e)      Menyiapkan lembar soal tes siklus I untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diterapkannya metode Storrytelling.

2)     Pelaksanaan Siklus I

Implementasi tindakan pada siklus I, yaitu dengan penerapan penggunaan media cerita dongeng untuk meningkatkan keterampilan bercerita. Implementasi tindakan siklus I dilakukan sebanyak dua kali pertemuan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan sebelumnya, yaitu tanggal 20-21 Juni 2022. Adapun deskripsi implementasi tindakan siklus I pada tiap pertemuan adalah sebagai berikut.

a.        Pertemuan Pertama (Senin, 20 Juni 2022)

Pertemuan pertama siklus I dilaksanakan pada hari Senin, 20 Juni 2022 berlangsung selama 60 menit (1 jam pelajaran) dimulai pukul 07.30-08.30 WIB. Alat dan bahan yang digunakan pada pertemuan pertama adalah media cerita legenda. Adapun kegiatan yang berlangsung selama pembelajaran meliputi:

Kegiatan Pendahuluan

1.      Melakukan pembukaan dengan salam, menanyakan kabar dan kehadiran siswa.

2.      Kelas dilanjutkan dengan berdo�a dipimpin oleh salah seorang siswa.


3.      Melakukan apersepsi yang akan menarik perhatian siswa.

4.      Mengajukan pertanyaan yang ada berkaitannya dengan pelajaran yang akan dilakukan.

5.      Menumbuhkan motivasi dan����� menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan yang berlangsung.

6.      Menyampaikan kegiatan pembelajaran yang dilakukan.

Kegiatan Inti

1.      Guru menjelaskan materi pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan media.

2.      Guru membagikan media pembelajaran pada siswa berupa lembar teks cerita �Gajah kecil yang Putus Asa� (Storytelling).

3.      Siswa membaca teks cerita �Gajah kecil yang Putus Asa� dengan seksama (Storytelling).

4.      Siswa memperhatikan guru yang sedang mendemonstrasikan cara bercerita dengan baik di depan kelas (Storytelling).

5.      Siswa memberikan���� tanggapan terhadap demonstrasi yang guru lakukan (Storytelling).

6.      Siswa maju secara bergantian untuk menceritakan tentang cerita �Gajah kecil yang Putus Asa� yang sudah dibacanya (Storytelling).

7.      Siswa menghafal nama tokoh dalam cerita �Gajah kecil yang Putus Asa� yang sudah dibacanya.

8.      Siswa mengidentifikasi tema dan amanat dari cerita �Gajah kecil yang Putus Asa� yang sudah dibacanya.

9.      Siswa bersama guru bertanya jawab tentang nama tokoh, tema, dan amanat dalam cerita �Gajah kecil yang Putus Asa�.

Kegiatan Penutup

1.      Siswa di dampingi guru membuat kesimpulan hasil belajar.

2.      Siswa di ingatkan oleh guru untuk mempelajari materi pelajaran berikutnya.

3.      Guru menutup pembelajaran dengan berdo�a.

b.       Pertemuan Kedua (Selasa, 21 Juni 2022)

Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Selasa, 21 Juni 2022 yang berlangsung selama 120 menit (2 jam pelajaran) dimulai pukul 07.30 � 09.30 WIB. Alat dan bahan yang digunakan pada pertemuan kedua adalah media cerita legenda dan lembar soal. Adapun kegiatan yang berlangsung selama pembelajaran meliputi:

Kegiatan Pendahuluan

1       Melakukan pembukaan dengan salam, menanyakan kabar dan kehadiran siswa.

2       Kelas dilanjutkan dengan berdo�a dipimpin oleh salah seorang siswa.

3       Mengajukan pertanyaan yang ada berkaitannya dengan pelajaran yang akan dilakukan.

4       Menumbuhkan motivasi dan menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan yang berlangsung.


Kegiatan Inti

1.      Guru menjelaskan materi pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan media.

2.      Guru membagikan media pembelajaran pada siswa berupa lembar teks cerita �Gajah kecil yang Putus Asa� (Storytelling).

3.      Siswa membaca teks cerita �Gajah kecil yang Putus Asa� dengan seksama (Storytelling).

4.      Siswa memperhatikan guru yang sedang mendemonstrasikan cara bercerita dengan baik di depan kelas (Storytelling).

5.      Siswa memberikan���� tanggapan terhadap demonstrasi yang guru lakukan (Storytelling).

6.      Siswa maju secara bergantian untuk menceritakan tentang cerita �Gajah kecil yang Putus Asa� yang sudah dibacanya (Storytelling).

7.      Siswa menerima lembar soal dari guru bentuk tes cerita �Asal Mula Telaga Warna�.

8.      Siswa mengerjakan lembar soal tes pada lembar jawaban yang telah tersedia.

9.      Siswa diingatkan oleh guru untuk memeriksa kembali hasil jawabannya.

Kegiatan Penutup

1.      Siswa di dampingi guru membuat kesimpulan hasil belajar.

2.      Siswa di ingatkan oleh guru untuk mempelajari materi pelajaran berikutnya.

3.      Guru mengkondisikan kelas dan dilanjutkan dengan berdo�a.

 

3)     Observasi Siklus I

Dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia menggunakan metode storytelling, peneliti bertindak sebagai pengajar dalam proses pembelajaran, sedangkan observer dilakukan oleh guru kelas IV. Disini observer bertugas mengawasi seluruh kegiatan dan mengamati sekaligus memberikan penilaian terhadap aktivitas guru selama proses pembelajaran dan keterampilan bercerita pada saat siswa bercerita didepan kelas. Berikut ini merupakan hasil observasi guru yang dilakukan pada saat tindakan siklus I pertemuan pertama dan kedua.

Tabel 4.1 Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Guru dalam Penerapan Metode Storytelling Siklus I

No

Indikator

Hasil Skor

1

Kegiatan Awal

20

2

Kegiatan Inti

29

3

Kegiatan Penutup

10

Jumlah Skor

59

Persentase

81,94%

Kategori

Baik

 

Berdasarkan tabel 4.1 diatas, rakapitualsi hasil observasi aktivitas guru dalam menggunakan metode Storrytelling pada siklus 1 terdapat jumlah skor 59 dengan


persentase 81,94%. Hal ini menunjukan bahwa hasil observasi guru pada siklus 1 dengan kategori baik.

Tabel 4.2 Rekapitulasi Keterampilan Bercerita Menggunakan Metode Pembelajaran Storytelling Siklus 1

No

Aspek Pengamatan

Ju mlah Skor

Rata

-Rata

1

Siswa mampu berbicara bahasa yang baik

57

2,59

2

Siswa memiliki kefasehan berbicara

55

2,5

3

Mengusai kosakata yang baik

56

2,54

4

Intonasi suara dan durasi

48

2,18

5

Siswa mampu bercerita dengan baik

56

2,54

6

Menguasai isi cerita

50

2,27

7

Ekpresi yang tepat dan sesuai dengan isi cerita (sedih, bahagia, marah dan terkejut)

46

2,09

8

Memiliki sikap yang wajar, tenang dan tidak

kaku

54

2,45

Jumlah

422

Persentase

59,95%

Kategori

Kurang Terampil

 

Berdasarkan Tabel 4.2 di atas, rekapitulasi hasil keterampilan bercerita pada siklus I dengan skor 422 dengan persentase adalah 59,95%. Dari data tersebut pada siklus I belum mencapai indikator keberhasil 75% dikarenakan masih ada siswa yang belum menguasi kefasehan bercerita, intonasi suara dan durasi, ekspresi dalam bercerita serta belum tenang dalam mengikuti keterampilan bercerita. Hal ini menunjukan keterampilan bercerita dinyatakan dalam kategori kurang terampil. Maka dari itu peneliti melakukan tindakan siklus II untuk meningkatkan keterampilan bercerita siswa kelas IV MI Raudlaus Syibyan Desa Krangkeng.

Tabel 4.3 Rekapitiulasi Nilai Hasil Belajar Siklus I

o

Si

klus

Si

swa Tuntas

Persentase Siswa Tuntas

Siswa Tidak Tuntas

Persen

tase�������������� Siswa Tidak Tuntas

 

Pr

asiklus

8

36,36%

14

63,64%

 

Si

klus I

13

59,09%

9

40,91%

Berdasarkan tabel 4.3 rekapitulasi hasil belajar pada siklus 1 siswa kelas IV MI Raudlatus Shibyan masih banyak siswa yang kurang mencapai nilai KKM. Dari jumlah 22 siswa terdapat 13 (59,09%) siswa yang dinyatakan mencapai nilai KKM sedangakan 9 (40,91%) siswa masih belum mencapai nilai KKM. Hal ini menujukan bahwa siklus I masih perlu tindakan selanjutnya yaitu siklus II untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada kelas IV MI Raudlatus Syibyan Desa Krangkeng dengan nilai KKM 70 dan ketuntasan keberhasilan 80%.


 

 

4)     Refleksi Siklus I

Hasil observasi atau data yang diperoleh pada siklus I adalah pada kegiatan pembelajaran metode Storrytelling pada pelajaran bahasa Indonesia yang dilakukan oleh guru sudah dikatakan dalam kategori baik dikarenakan penguasaan kelas yang dilakukan oleh guru saat membuka pelajaran dan pada saat menyampaikan apersepsi dan motivasi di depan kelas menarik perhatian siswa. Saat proses kegiatan pembelajaran berlangsung guru mampu untuk mengatur situasi kelas saat proses pembelajaran hal ini siswa tidak ada lagi yang mengobrol dan berlarian saat pembelajaran berlangsung.

Keterampilan bercerita siswa dalam proses pembelajaran dengan menggunakan metode Storrytelling masih memiliki kekurangan, yaitu masih banyak siswa yang yang bergurau, bermain, saling mengejek siswa lainnya saat tampil di depan kelas.

Hasil belajar siswa pada siklus I masih belum mencapai kriteria KKM dikarenakan siswa masih belum memahami dalam mengerjakan soal isian yang diberikan oleh guru. Hal yang belum dimengerti siswa saat mengerjakan soal isian yaitu karena masih belum memahami teks cerita yang terdapat pada soal tersebut.

Berdasarkan refleksi siklus I ini masih terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya revisi untuk dilakukan pada siklus berikutnya. Tindakan yang akan dilakukan pada siklus II yaitu :

1)     Guru harus lebih kreatif lagi saat memberikan motivasi penguatan ketika hendak belajar.

2)     Lebih kreatif dalam mengarahkan siswa terhadap permasalahan yang akan dipecahkan.

3)     Guru dapat memberikan tambahan nilai kepada siswa yang aktif dalam belajar agar siswa terpacu semangatnya dalam belajar.

4)     Hasil keterampilan bercerita masih belum mencapai nilai ketuntasan 75% sehingga perlu tindakan selanjutnya.

5)     Hasil belajar siswa menunjukan klasifikasi sebesar 59,09% sehingga perlu ditingkatkan kembali.

Hasil Tindakan Kelas Siklus II

Pada siklus II dilaksanakan pada tanggal 22-23 Juni 2022 yang dilaksanakan di kelas IV MI Raudlatus Syibyan. Subjek penelitian ini terdiri dari 22 siswa diantaranya 11 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Pada siklus II ini dilaksanakan dalam dua kali pertemuan. Berikut ini dijabarkan pelaksanaan tindakan siklus I.

1)     Perencanaan Siklus II

Perencanaan dalam penelitian ini dilakukan oleh peneliti kemudian didiskusikan dengan kolaborator. Perencanaan dalam siklus I ini meliputi persiapan hal-hal yang dibutuhkan saat pelaksanaan penelitian. Persiapan tersebut meliputi hal-hal berikut.

a)      Koordinasi dengan guru untuk menetapkan jadwal pelaksanaan penelitian;

b)     Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) siklus II;

c)      Menyiapkan materi pembelajaran Bahasa Indonesia;

d)     Menyiapkan media cerita legenda yang akan diceritakan oleh siswa;


e)      Menyiapkan lembar soal tes siklus II untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diterapkannya metode Storrytelling.

2)     Pelaksanaan Siklus II

Pelaksanaan tindakan pada siklus II, yaitu dengan penerapan penggunaan media cerita legenda untuk meningkatkan keterampilan bercerita. Pelaksanaan tindakan siklus II dilakukan sebanyak dua kali pertemuan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan sebelumnya, yaitu tanggal 22-23 Juni 2022 yang dilaksanakan di kelas IV MI Raudlatus Syibyan. Adapun deskripsi pelaksanaan tindakan siklus II pada tiap pertemuan adalah sebagai berikut.

a.        Pertemuan Pertama (Rabu, 22 Juni 2022)

Pertemuan pertama siklus II dilaksanakan pada hari Rabu, 22 Juni 2022 berlangsung selama 60 menit (1 jam pelajaran) dimulai pukul 07.30 � 08.30 WIB. Alat dan bahan yang digunakan pada pertemuan pertama dan kedua adalah media cerita legenda. Adapun kegiatan yang berlangsung selama pembelajaran meliputi:

Kegiatan Pendahuluan

1.      Melakukan pembukaan dengan salam, menanyakan kabar dan kehadiran siswa.

2.      Kelas dilanjutkan dengan berdo�a dipimpin oleh salah seorang siswa.

3.      Melakukan apersepsi yang akan menarik perhatian siswa.

4.      Mengajukan pertanyaan yang ada berkaitannya dengan pelajaran yang akan dilakukan.

5.      Menumbuhkan motivasi dan menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan yang berlangsung.

6.      Menyampaikan kegiatan pembelajaran yang dilakukan

Kegiatan Inti

1.      Guru menjelaskan materi pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan media.

2.      Guru membagikan media pembelajaran pada siswa berupa lembar teks cerita �Si Kancil yang Pandai� (Storytelling).

3.      Siswa membaca teks cerita �Si Kancil yang Pandai� dengan seksama (Storytelling).

4.      Siswa memperhatikan guru yang sedang mendemonstrasikan cara bercerita dengan baik di depan kelas (Storytelling).

5.      Siswa memberikan tanggapan terhadap demonstrasi yang guru lakukan (Storytelling).

6.      Siswa maju secara bergantian untuk menceritakan tentang cerita �Si Kancil yang Pandai� yang sudah dibacanya (Storytelling).

7.      Siswa menghafal nama tokoh dalam cerita �Si Kancil yang Pandai� yang sudah dibacanya.

8.      Siswa mengidentifikasi tema dan amanat dari cerita �Si Kancil yang Pandai� yang sudah dibacanya.

9.      Siswa bersama guru bertanya jawab tentang nama tokoh utama dan tambahan, tema, dan amanat dalam cerita �Si Kancil yang Pandai�.


Kegiatan Penutup

1.      Siswa di dampingi guru membuat kesimpulan hasil belajar.

2.      Siswa di ingatkan oleh guru untuk mempelajari materi pelajaran berikutnya.

3.      Guru menutup pembelajaran dengan berdo�a.

 

b.       Pertemuan Kedua (Kamis, 23 Juni 2022)

Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari Kamis, 23 Juni 2022 yang berlangsung selama 120 menit (2 jam pelajaran) dimulai pukul 07.30 � 09.30 WIB. Alat dan bahan yang digunakan pada pertemuan kedua adalah media cerita legenda dan lembar soal. Adapun kegiatan yang berlangsung selama pembelajaran meliputi:

Kegiatan Pendahuluan

1.      Melakukan pembukaan dengan salam, menanyakan kabar dan kehadiran siswa.

2.      Kelas dilanjutkan dengan berdo�a dipimpin oleh salah seorang siswa.

3.      Mengajukan pertanyaan yang ada berkaitannya dengan pelajaran yang akan dilakukan.

4.      Menumbuhkan motivasi dan menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan yang berlangsung.

Kegiatan Inti

1.      Guru menjelaskan materi pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan media.

2.      Guru membagikan media pembelajaran pada siswa berupa lembar teks cerita �Si Kancil yang Pandai� (Storytelling).

3.      Siswa membaca teks cerita �Si Kancil yang Pandai� dengan seksama (Storytelling).

4.      Siswa memperhatikan guru yang sedang mendemonstrasikan cara bercerita dengan baik di depan kelas (Storytelling).

5.      Siswa memberikan tanggapan terhadap demonstrasi yang guru lakukan (Storytelling).

6.      Siswa maju secara bergantian untuk menceritakan tentang cerita �Si Kancil yang Pandai� yang sudah dibacanya (Storytelling).

7.      Siswa menerima lembar soal tes dari guru bentuk tes cerita �Asal Mula Danau Toba�.

8.      Siswa mengerjakan lembar soal tes pada lembar jawaban yang telah tersedia.

9.      Siswa diingatkan oleh guru untuk memeriksa kembali hasil jawabannya.

 

Kegiatan Penutup

1.      Siswa di dampingi guru membuat kesimpulan hasil belajar.

2.      Siswa di ingatkan oleh guru untuk mempelajari materi pelajaran berikutnya.


3.      Guru mengkondisikan kelas dan dilanjutkan dengan berdo�a.

 

3)     Observasi Siklus II

Observasi pada siklus II ini pada dasarnya hampir sama dengan observasi pada siklus I. Pengamatan dilakukan terhadap pelaksanaan proses pembelajaran dan hasil pembelajaran.

Tabel 4.4 Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Guru dalam Penerapan Metode Storytelling Siklus II

No

Indikator

Hasil Skor

1

Kegiatan Awal

22

2

Kegiatan Inti

33

3

Kegiatan Penutup

11

Jumlah Skor

66

Persentase

91,67%

Kategori

Sangat Baik

 

Berdasarkan tabel 4.4 diatas, rakapitualsi hasil observasi aktivitas guru dalam menggunakan metode Storrytelling pada siklus II sudah dinyatakan dalam kategori sangat baik karena pada hasil observasi aktivitas guru pada siklus II terdapat jumlah skor 66 dengan persentase 91,67%. Hal ini menunjukan bahwa guru sudah bisa menguasai keadaan kelas. Maka pada siklus II peneliti sudah berhasil dalam melakukan penelitian di kelas IV MI Raudlatus Syibyan Desa Krangkeng.

Tabel 4.5 Lembar Observasi Keterampilan Bercerita Menggunakan Metode Pembelajaran Storytelling Siklus II

No

Aspek Pengamatan

Jumlah

Skor

Rata

-Rata

1

Siswa mampu berbicara bahasa yang

baik

76

3,45

2

Siswa memiliki kefasehan berbicara

66

3

3

Mengusai kosakata yang baik

75

3,40

4

Intonasi suara dan durasi

76

3,45

5

Siswa mampu bercerita dengan baik

73

3,32

6

Menguasai isi cerita

81

3,68

7

Ekpresi yang tepat dan sesuai dengan isi cerita (sedih, bahagia, marah dan terkejut)

81

3,68

8

Memiliki sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku

79

3,59

Jumlah

607

Persentase

86,22%

Kategori

Sangat Terampil


Berdasarkan Tabel 4.5 di atas, rekapitulasi hasil keterampilan bercerita pada siklus II dengan skor 607 dengan persentase adalah 86,22%. Dari data tersebut pada siklus II sudah mencapai indikator keberhasil 75% dikarenakan siswa sudah menguasi kefasehan bercerita, intonasi suara dan durasi, ekspresi dalam bercerita serta tenang dalam mengikuti keterampilan bercerita. Hal ini menunjukan keterampilan bercerita dinyatakan dalam kategori sangat terampil. Maka dari itu peneliti tidak perlu melakukan tindakan selanjutnya.

Tabel 4.6 Nilai Hasil Belajar Siklus II

No

Siklus

Siswa Tuntas

Persentase Siswa Tuntas

Siswa Tidak Tuntas

Persentase

Siswa������������������ Tidak Tuntas

1

Prasiklus

8

36,36%

14

63,64%

2

Siklus I

13

59,09%

9

40,91%

3

Siklus II

19

86,36%

3

13,64%

Berdasarkan tabel 4.6 diatas hasil belajar siklus II siswa kelas IV MI Raudlatus Shibyan sudah dinyatakan memenuhi nilai kriteria dan bisa dikatakan sudah ada peningkatan dari siklus I. Dalam hasil belajar siklus II hasil belajar siswa kelas IV MI Raudlatus Shibyan terdapat 19 siswa (86,36%) yang dinyatakan tuntas sedangakan 3 siswa (13,64%) masih belum tuntas. Maka pada siklus II ini siswa sudah memenuhi nilai KKM 70 dengan ketuntasn keberhasilan 80%. Maka dapat disimpulkan hasil belajar siswa dalam diagram dibawah ini:

Gambar 4.1. Hasil belajar siswa dari prasiklus sampai siklus II Berdasarkan gambar di atas ini hasil belajar siswa terdapat peningkatan dalam

hasil belajar. Dari data prasiklus hasil belajar terdapat 36,36%. Pada siklus I adanya peningkatan hasil belajar yaitu 59,09% dan siklus II hasil belajar siswa terdapat 86,36%.


4)     Refleksi Siklus II

Hasil pengamatan yang dilakukan pada siklus II ini didapatkan hasil bahwa pembelajaran dengan menggunakan metode Storrytelling sudah ada peningkatan dibandingkan dengan siklus I, peningkatan pada siklus II dapat disimpulkan sebagai berikut:

1)          Guru sudah terlihat kreatif dalam menyampaikan materi.

2)          Guru mampu mengarahkan siswa kepermasalahan .

3)          Siswa sudah mampu menyelesaikan permasalahn yang diberikan guru.

4)          Hasil keterampilan bercerita sudah mencapai nilai ketuntasan 75% sehingga tidak perlu tindakan selanjutnya.

5)          Siswa sudah mampu bekerja sama menyelesaikan pemecahan masalah.

6)          Jawaban dari soal-soal pada siklus II sudah mulai terlihat����������� baik dari hasil siklus sebelumnya.

7)          Adanya peningkatan hasil belajar siswa pada aspek memahami dan menyebutkan, yang telah memenuhi target sehingga tidak perlu lagi melaksanakan siklus selanjutnya.

Pelaksanaan tindakan telah selesai dilakukan langkah selanjutnya yaitu refleksi. Refleksi ini dilakukan oleh peneliti dan guru kelas IV pada akhir siklus II, peneliti bersama guru kolaborator mengevaluasi semua tindakan yang sudah dilaksanakan.

Selama tindakan siklus II proses pembelajaran berlangsung lebih baik jika dibandingkan dengan tahap siklus I. Adanya media pembelajaran baru merangsang minat siswa dalam bercerita. Hal ini dapat dilihat dari hasil keterampilan bercerita yang diperoleh siswa lebih baik dari hasil siklus I.

Berdasarkan pada siklus II dalam keterampilan bercerita terjadi peningkatan. Dari data yang diperoleh pada siklus I dalam keterampilan bercerita dengan nilai skor 422 dengan persentase 59,95% dengan kategori kurang terampil. Sedangkan pada siklus II keterampilan bercerita dengan skor 607 dengan persentase 86,22% dan termasuk dalam kategori sangat terampil.

Hal ini menunjukan bahwa keterampilan bercerita pada kelas IV dengan metode Storrytelling sudah memenuhi nilai ketuntasan indikator keterampilan bercerita yaitu 75%.

Pada hasil belajar pada kelas IV dengan metode Storryteling siklus II terdapat peningkatan. Dari data yang diperoleh pada siklus I terdapat 13 siswa yang dikatakan tuntas dengan persentase 59,09% dan 9 siswa yang dikatakan belum tuntas dengan persentase 40,91%. Sedangakan pada siklus II hasil belajar terdapat 19 siswa yang dikatakan tuntas dengan persentase 86,36% dan 3 siswa yang dikatakan belum tuntas dengan persentase 13,64%. Hal ini dikatakan bahwa siklus II sudah mencapai indikator keberhasilan dalam keterampilan bercerita 75% dan ketuntasan hasil belajar 80%.

 

Pembahasan Hasil Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yaitu pemecahan suatu masalah yang terjadi di dalam kelas dengan melakukan peningkatan kualitas tindakan (Kunandar: 2016). Pada penelitian ini dilakukan 2 siklus dan 2 kali pertemuan di setiap siklus. Pada siklus I yang dilaksanakan pada tanggal 20-21 Juni 2022 dan pada siklus II dilaksanakan


pada tanggal 22-23 Juni 2022. Setiap siklus terdiri dari beberapa tahapan, yakni perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Pada pertemuan awal, hasil belajar dan keterampilan bercerita dalam pelajaran bahasa Indonesia masih rendah. Hal ini disebabkan karena siswa terbiasa dengan metode yang diterapkan guru sebelumnya serta interaksi dalam pembelajaran hanya terjadi satu arah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan adanya upaya untuk meningkatkan hasil belajar dan keterampilan bercerita.

Realita yang terjadi di lapangan, siswa cenderung bermalas-malasan untuk membaca, belum berani untuk bertanya dan antusias ketika guru meminta untuk membaca dan berbicara di depan kelas. Kebanyakan dari mereka masih kurang memperhatikan materi pembelajaran Bahasa Indonesia didalam cerita seperti: tokoh, tema, alur cerita, latar dan amanat. Antusias mereka dalam bercerita juga kurang sehingga dibutuhkan sebuah metode pembelajaran yang berasumsi bahwa siswa akan belajar dengan baik apabila materi yang disajikan oleh guru berupa cerita dongeng.

Menurut Pellowski (dalam Nurcahyani, 2010) mendefinisikan storytelling sebagai sebuah seni atau seni dari sebuah keterampilan bernarasi dari cerita-cerita dalam bentuk syair atau prosa, yang dipertunjukkan atau dipimpin oleh satu orang di hadapan audience secara langsung dimana cerita tersebut dapat dinarasikan dengan cara diceritakan atau dinyanyikan, dengan atau tanpa musik, gambar, ataupun dengan iringan lain yang mungkin dapat dipelajari secara lisan, baik melalui sumber tercetak, ataupun melalui sumber rekaman mekanik.

Peran guru dalam proses belajar mengajar meliputi banyak hal seperti sebagai pengajar, manajer kelas, supervisor, motivator, konsuler, eksplorator, dsb, yang akan dikemukakan disini adalah peran yang dianggap paling dominan dan klasifikasi guru menurut (Uzer Usman, 2013). Adapun permasalahan yang akan dicari jawabannya dalam penelitian ini adalah :�Apakah metode Storytelling dapat meningkatkan keterampilan bercerita dan hasil belajar pada siswa kelas IV MI Raudlatus Syibyan Desa Krangkeng?

Menurut Surakarna & Dantes (2015) kompetensi yang memadai sebagai pendidik menjadi tolak ukur untuk melihat bagaimana kualitas guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pengajar dan pendidik. Aktivitas guru pada siklus I yang diperoleh dari observasi guru pada siklus I. Hasil observasi aktivitas guru pada siklus I dengan skor 59 dengan persentase 81,94% dan dikatakan baik sedangkan pada siklus II dengan skor 66 dengan persentase 91,67% dan dikatakan sangat baik. Hal ini pada siklus II guru sudah mampu melakukan penelitian sehingga tidak perlu adanya tindakan selanjutnya.

Sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Sumarni (2012) kinerja guru merupakan kemampuan yang ditunjukkan oleh seorang guru dalam melaksanakan tugas atau pekerjaan. Kemampuan yang penulis maksud adalah bagaimana keterampilan guru di dalam kelas baik keterampilan membuka pelajaran, keterampilan menggunakan metode, keterampilan menggunakan media, keterampilan menggunakan bahan ajar, keterampilan menggunakan variasi serta keterampilan menutup pelajaran. Peran seorang guru sangatlah signifikan dalam proses belajar mengajar.

Hasil belajar merupakan perubahan yang diperoleh siswa setelah mengalami aktivitas belajar. Perubahan yang diperoleh tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh siswa. Keberhasilan seseorang dalam proses belajar mengajar paling banyak di ukur dengan alat ukur tes belajar, yang diberikan di akhir pembelajaran atau di akhir semester.


Hasil belajar yang dapat dihasilkan oleh siswa tergantung pada proses belajarnya. Hasil belajar adalah kemampuan atau prestasi siswa yang siswa capai setelah melalui proses belajar mengajar. Sudjana (2011) menyatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan- kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar siswa dari praksiklus terdapat 8 siswa (36,36%) yang tuntas dan 14 siswa (63,64%) yang belum tuntas. Pada siklus I hasil belajar terdapat 13 siswa (59,09%) yang tuntas dan 9 siswa (40,91%) yang belum tuntas, sedangkan siklus II hasil belajar terdapat 19 siswa (86,36%) yang tuntas dan 3 siswa (13,64%) yang belum tuntas.

Hal ini sejalan dengan penelitian M. Rais Salim (2019) dengan judul Penerapan Metode StoryTelling untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas III SD GMIH L.O.C Kabupaten Pulau Morotai dengan hasil belajar Pada siklus I5 siswa (31,25%/) yang memperoleh nilai ≥65, 11 siswa (sementara 68,75%/) masi memperoleh nilai <65 atau dapat dikatakan masih belum berhasil. Sedangkan pada siklus II terdapat 13 siswa (81,25%) atau memperoleh nilai ≥65 dan 3 siswa (18,75%) belum berhasil.

Menurut Agus Suprijono (2012) Keterampilan adalah kegiatan belajar yang berfokus pada pengalaman belajar melalui gerak yang dilakukan peserta didik. Kegiatan keterampilan terjadi jika peserta didik menerima stimulus kemudian merespons dengan menggunakan gerak. Dalam pelaksanaa kegiatan pembelajaran, metode storytelling bercerita dilaksanakan dalam upaya meningkatkan kemampuan siswa bercerita, memberikan keterangan atau penjelasan tentang hal baru dalam rangka menyampaikan pembelajaran yang dapat mengembangkan berbagai kompetensi dasar pada siswa (F. Agustina, 2020). Oleh karena itu materi yang disampaikan berbentuk cerita yang awal dan akhirnya berhubungan erat dalam kesatuan yang utuh, maka cerita tersebut harus dipersiapkan terlebih dahulu. Dari data prasiklus hasil keterampilan bercerita terdapat skor 354 dengan indikator keberhasilan 50,28%, sedangkan indikator keberhasilan dalam keterampilan bercerita sebesar 75%. Pada siklus I dengan skor 422 dengan indikator keberhasilan 59,95% termasuk dalam kategori kurang terampil dan pada siklus II keterampilan bercerita dengan skor 607 dengan persentase 86,22% termasuk dalam kategori sangat terampil. Sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa mengalami peningkatan hasil belajar dan keterampilan bercerita dengan menggunakan metode pembelajaran storytelling dianggap berhasil.

Hal ini sejalan dengan Wahyuni (2011) dengan judul: �Peningkatan Keterampilan bercerita melalui metode menceritakan Ulang (Storytelling) Murid Kelas V SD No. 118 Inpres Matajang Kecamatan Camba Kabupaten Maros �Skripsi. FKIP Unismuh Makassar. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan keterampilan bercerita murid kelas V SD No. 118 Inpres Matajang. Hal ini dapat di lihat dari hasil keterampilan bercerita murid pada siklus I dengan indikator keberhasilan 61,36% dan pada siklus II dengan hasil keterampilan bercerita dengan indikator keberhasilan 77,50%.

Keterampilan bercerita dan hasil belajar memiliki hubungan yang saling berkaitan. Semakin meningkat keterampilan bercerita semakin meningkat pula hasil belajar siswa. Dengan demikian tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan bisa dicapai semaksimal mungkin.

Peran guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa adalah salah satu kegiatan integral yang wajib ada dalam kegiatan pembelajaran. Selain memberikan dan


mentransfer ilmu pengetahuan guru juga bertugas untuk meningkatkan motivasi anak dalam belajar. Tidak bisa dipungkiri bahwa semangat belajar seorang siswa dengan yang lain berbeda-beda, untuk itulah penting bagi guru untuk selalu senantiasa untuk membertikan motivasi kepada siswa supaya siswa senantiasa memiliki semangat belajar dan mampu menjadi siswa yang berprestasi serta dapat mengembangkan diri secara optimal.

Pada siklus I dan siklus II dengan pembelajaran menggunakan metode pembelajaran storrytelling terdapat perubahan dalam keterampilan bercerita dan hasil belajar siswa. Dari hasil obesevasi pada siklus I pertemuan 1 dan 2 terdapat beberapa penilaian yaitu penilaian observasi guru dan penilaian keterampilan bercerita siswa yang dilakukan oleh observer serta penilaian hasil belajar yang dinilai oleh peneliti. Pada prasiklus masih banyak siswa yang belum paham tentang bercerita dikarenakan pembelajaran yang dilakukan dengan cara monoton sehingga masih banyak siswa yang kurang terampil dalam bercerita. Setelah melakukan penelitian selama 2 siklus diperoleh hasil penelitian yang mengalami peningkatan pada setiap siklusnya. Peningkatan yang diperoleh pada penelitian yaitu peningkatan observasi aktivitas guru, peningkatan hasil keterampilan bercerita siswa dan peningkatan hasil belajar siswa. Dalam peningkatan tersebut menunjukan bahwa siswa kelas IV MI Raudlatus Syibyan Desa Krangkeng sudah tidak mengalami kesulitan dalam materi bercerita.

 

Kesimpulan

Berdasarkan deskripsi hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.

1.      Dalam pembelajaran menggunakan metode Storrytelling terdapat beberapa peningkatan hasil belajar dan keterampilan bercerita sebelum menggunakan metode. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan metode Storrytelling siswa sudah tidak merasakan jenuh dalam melakukan pembelajaran. Hal ini menunjukan pada prasiklus masih butuh pembelajaran dengan menggunakan media yang akan dipelajari oleh peneliti. Dari hasil observasi aktivitas guru pada siklus I terdapat skor 59 dengan persentase 81,94% dan dinyatakan baik, sedangkan pada siklus II pada hasil observasi aktivitas guru terdapat skor 66 dengan persentase 91,67% dan dinyatakan sangat baik.

2.      Hasil belajar siswa dengan menggunakan metode storytelling pada siklus I terdapat 13 siswa yang tuntas dengan persentase 59,09%, dan 9 siswa yang dengan persentase 40,91% yang dinyatakan belum tuntas. Sedangkan pada siklus II hasil belajar terdapat 19 siswa dengan persentase 86,36% dan sebanyak 3 siswa dengan persentase 13,64% yang dinyatakan belum tuntas.

3.      Hasil observasi keterampilan bercerita dengan menggunakan metode storytelling pada siklus I terdapat nilai skor 422 dengan persentase 59,95% dengan kategori kurang terampil. Sedangkan pada siklus II hasil observasi keterampilan bercerita terdapat nilai skor 607 dengan persentase 86,22% dengan ketegori sangat terampil.


Daftar Pustaka

Ali, Muhammad. (2020). Pembelajaran bahasa indonesia dan sastra (basastra) di sekolah dasar. PERNIK, 3(1), 35�44.

Amalia, Eka Rizki. (2019). Meningkatkan Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini Dengan Metode Bercerita.

Bulan, Deanty Rumandang. (2019). Bahasa Indonesia sebagai identitas nasional bangsa Indonesia. JISIPOL| Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, 3(2), 23�29.

Fauziah, Siti. (2018). Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Al-Munzir, 10(2), 298�319.

Harapan, Edi, Pd, M., Ahmad, Syarwani, & MM, Drs. (2022). Komunikasi antarpribadi: Perilaku insani dalam organisasi pendidikan. PT. RajaGrafindo Persada-Rajawali Pers.

Harianto, Erwin. (2020). Metode bertukar gagasan dalam pembelajaran keterampilan berbicara. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 9(4), 411�422.

Ilham, Muhammad, & Wijiati, Iva Ani. (2020). Keterampilan berbicara: Pengantar keterampilan berbahasa. Lembaga Academic & Research Institute.

Kurniati, Lisdwiana. (2015). Bahasa ibu dalam pembelajaran anak di sekolah. Jurnal Pesona, 1(1).

Mahadi, Ujang. (2021). Komunikasi pendidikan (urgensi komunikasi efektif dalam proses pembelajaran). JOPPAS: Journal of Public Policy and Administration Silampari, 2(2), 80�90.

Nurcholis, Ahmad, & Hidayatullah, Syaikhu Ihsan. (2019). Tantangan Bahasa Arab Sebagai Alat Komunikasi Di Era Revolusi Industri 4.0 Pada Pascasarjana IAIN Tulungagung. Arabiyatuna: Jurnal Bahasa Arab, 3(2), 283�298.

Pradita, Linda Eka, & Jayanti, Rani. (2021). Berbahasa produktif melalui keterampilan berbicara: teori dan aplikasi. Penerbit NEM.

Rahmayanti, Indah, Fitriani, Laily, & Aziz, Abdul. (2023). Vlog Sebagai Hasil Produk Belajar Siswa dalam Keterampilan Berbicara Bahasa Arab di MTsN Kota Batu Malang. Al Maghazi: Arabic Language in Higher Education, 1(2), 61�76.

Setiawati, Sulis. (2015). Aspek kohesi konjungsi dalam wacana opini pada majalah Tempo dan implikasinya terhadap pembelajaran bahasa Indonesia. Jurnal Gramatika: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 1(1), 45� 56.

Suharyanto, Agung. (2016). Surat kabar sebagai salah satu media penyampaian informasi politik pada partisipasi politik masyarakat. Jurnal Administrasi Publik (Public Administration Journal), 6(2), 123�136.

Tambunan, Pandapotan. (2018). Pembelajaran keterampilan berbicara di sekolah dasar.

Jurnal Curere, 2(1).