Membangun Kemampuan Sosial Melalui Penerapan Konseling Kelompok Adlerian untuk Mengatasi Perilaku Egosentris pada Remaja

 

Bakhrudin All Habsy 1, Ildagis Binarsia 2, Nurina Dzawata Samcha3, Noor Avia Ratnawati4*

1,2,3,4 Bimbingan dan Konseling, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Indonesia

[email protected]1, [email protected]2, [email protected]3, [email protected]4*

Abstrak:

Egosentrisme pada remaja sebagai ciri psikologis yang umum terjadi di masa remaja. Hal ini mencakup pemahaman diri yang terpusat pada diri sendiri, di mana remaja cenderung melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri tanpa mempertimbangkan perspektif orang lain. Mereka mungkin cenderung egosentris dalam cara mereka berpikir, merasakan, dan bertindak. Egosentrisme pada remaja dapat dilihat sebagai bagian dari tantangan perkembangan yang perlu diatasi untuk mencapai kesejahteraan psikologis dan sosial yang lebih baik. Konseling Adlerian, yang berakar dari teori kepribadian Alfred Adler, menekankan pentingnya memahami individu dalam konteks hubungan sosialnya dan pengaruh lingkungan pada perkembangan kepribadian. Penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif deskriptif dengan jenis metode� study literatur (study literature). �sumber untuk melakukan tinjauan ini meliputi pencarian secara elektronik dengan menggunakan beberapa database yaitu Google Scholar dalam bentuk jurnal penelitian dan artikel .Hasil akhir dari penulisan artikel ini adalah (1) Perspektif Historis Konseling Adlerian 2) Konsep Dasar Konseling Kepribadian dalam Konseling Adlerian 4) Tujuan Konseling Adlerian (5) Proses Konseling Adlerian (6) Situasi Hubungan Konseling, Adlerian (7) Mekanisme Pengubahan Konseling Adlerian.

 

Kata Kunci: Egosentrisme, Remaja, Konseling Adlerian, Teori kepribadian Alfred Adler, Studi Literatur

 

Abstract:

Adolescent egocentrism as a psychological trait is common in adolescence. It involves a self-centered understanding of self, where adolescents tend to see things from their point of view without considering the perspectives of others. They may tend to be egocentric in the way they think, feel, and act. Egocentrism in adolescents can be seen as part of the developmental challenges that need to be overcome to achieve better psychological and social well-being. Adlerian counseling, which has its roots in Alfred Adler's personality theory, emphasizes the importance of understanding the individual in the context of his or her social relationships and the influence of the environment on personality development. The research used is descriptive qualitative research with a literature study method. "The sources for conducting this review include electronic searches using several databases, namely Google Scholar in the form of research journals and articles. The final results of writing this article are (1) Historical Perspective of Adlerian Counseling, (2) Basic Concepts of Adlerian Counseling, (3) Personality Development in Adlerian Counseling, (4) Objectives of Adlerian Counseling, (5) Adlerian Counseling Process, (6) Adlerian Counseling Relationship Situations, and (7) Mechanisms of Change in Adlerian Counseling.

 

Keywords: Egocentrism, Adolescents, Adlerian Counseling, Alfred Adler's personality theory, Study literature

 

����� ����

Pendahuluan

Kemampuan siswa untuk berinteraksi dan berperilaku secara dapat diterima merupakan aspek yang sangat penting bagi keberhasilan mereka dalam menjalani kehidupan di masyarakat. Kemampuan ini mencakup berbagai keterampilan, mulai dari kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik, memahami norma-norma sosial, hingga kemampuan untuk bekerja sama dalam tim dan menyelesaikan konflik dengan cara yang konstruktif. Siswa yang memiliki kemampuan ini cenderung lebih mampu menjalin hubungan yang sehat dengan orang lain, baik dalam lingkungan sekolah maupun di masyarakat lebih luas. Mereka dapat dengan mudah beradaptasi dengan berbagai situasi sosial dan memiliki kesadaran akan pentingnya menghormati perbedaan dan merangkul keberagaman. Selain itu, kemampuan ini juga mempersiapkan siswa untuk menjadi anggota masyarakat yang produktif dan berkontribusi secara positif dalam pembangunan komunitas mereka. Keterampilan sosial adalah kemampuan individu untuk berkomunikasi efektif dengan orang lain baik secara verbal maupun nonverbal sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada pada saat itu, keterampilan ini merupakan perilaku yang dipelajari. Siswa yang memiliki keterampilan sosial yang baik memiliki kemampuan untuk mengungkapkan perasaan mereka, baik yang positif maupun negatif, dalam hubungan interpersonal tanpa harus menyakiti perasaan orang lain. Mereka dapat mengomunikasikan perasaan mereka dengan jujur dan sopan, serta mampu memahami bagaimana kata-kata dan tindakan mereka dapat memengaruhi orang lain di sekitar mereka. Keterampilan sosial yang baik mencakup kemampuan untuk mendengarkan dengan empati, menanggapi dengan pengertian, dan menyelesaikan konflik dengan cara yang konstruktif. Siswa yang memiliki keterampilan sosial yang berkembang juga cenderung memiliki hubungan yang lebih baik dengan teman-teman mereka, serta mampu berinteraksi secara positif dalam berbagai situasi sosial dan lingkungan belajar. Pengembangan keterampilan sosial merupakan aspek penting dalam pendidikan yang dapat membantu siswa menjadi individu yang lebih baik dalam komunikasi dan hubungan interpersonal. (Wati, Maruti, & Budiarti, 2020);(Agusniatih & Manopa, 2019).

Dalam konteks tugas perkembangan dan proses sosialisasi. Fenomena kondisi remaja tersebut jelas menjadi hambatan dalam perkembangan sosialnya. Remaja yang terjebak dalam kecenderungan perilaku-perilaku bermasalah sering kali menghadapi stigma buruk yang kuat dari masyarakat. Terlepas dari usaha mereka untuk berubah dan berkembang, label negatif yang melekat pada mereka seringkali membuat langkah mereka terhambat. Lingkungan sosial yang telah memberi cap buruk terhadap mereka cenderung memperburuk situasi ini. Akibatnya, remaja tersebut seringkali mengalami kesulitan untuk mengembangkan perilaku sosial yang baik. Mereka mungkin merasa terisolasi, tidak dipahami, dan bahkan ditolak oleh masyarakat di sekitar mereka. Stigma tersebut dapat menciptakan lingkungan yang tidak kondusif bagi perkembangan positif mereka, sehingga memperdalam jurang antara mereka dan norma-norma sosial yang diharapkan. Dalam situasi ini, perlu adanya pendekatan yang holistik dan inklusif untuk membantu remaja mengatasi stigma, membangun kembali kepercayaan diri, dan mengembangkan keterampilan sosial yang diperlukan untuk berinteraksi secara sehat dengan masyarakat. Saat memasuki masa remaja mulai muncul suatu ciri pemikiran khusus yang disebut dengan egosentrisme remaja. Secara umum egosentrisme dimaknai sebagai keterbatasan membedakan hubungan subjek-objek.

Secara lebih spesifik, egosentrisme remaja merujuk pada kesadaran individu bahwa ia menjadi pusat perhatian lingkungan sosialnya, dibarengi dengan pemikiran bahwa bahwa selain dirinya tidak ada orang yang memahaminya. Beberapa studi melaporkan bahwa egosentrisme berkaitan Daft9engan hubungan interpersonal remaja, yakni tingkat egosentrisme yang tinggi pada remaja berhubungan dengan macam-macam masalah dalam hubungan interpersoanlnya �. Oleh   karena   itu   proses   konseling   berfokus   pada memberikan informasi, pengajaran, panduan, dan menyampaikan dorongan agar konseli mampu hidup lebih bersosial dan bekerja sama  dengan masyarakat ataupun dengan teman sebayanya.

Pendekatan konseling kelompok Adlerian menawarkan solusi yang khas dalam mengatasi sikap egosentris pada anak. Teori Adlerian, yang didasarkan pada konsep psikologis Alfred Adler, menekankan pentingnya pemahaman terhadap individu sebagai bagian dari komunitas sosialnya. Dalam konteks konseling kelompok Adlerian, anak-anak diajak untuk memahami bahwa mereka adalah bagian dari kelompok yang lebih besar dan bahwa tindakan dan keputusan mereka memiliki dampak pada orang lain di sekitar mereka. Melalui pengalaman berbagi dan berinteraksi dalam kelompok, anak-anak dapat belajar untuk menghargai perspektif orang lain, meningkatkan empati, dan mengembangkan keterampilan sosial yang sehat. Konselor kelompok Adlerian membantu anak-anak memperkuat rasa keterhubungan mereka dengan orang lain, mengidentifikasi kekuatan mereka, dan mengembangkan rasa tanggung jawab sosial. Dengan demikian, pendekatan konseling kelompok Adlerian memberikan landasan yang kuat bagi anak-anak untuk mengatasi sikap egosentris dan membangun hubungan yang lebih seimbang dan berarti dalam lingkungan sosial mereka (Trisnowati, 2024).

Pengertian konseling kelompok Adlerian adalah suatu proses pemberian bantuan dari konselor kepada konseli yang mengalami masalah melalui setting kegiatan kelompok.Fokus dari konseling kelompok terfokus kepada membantu konseli untuk mengatasi masalah-masalah penyesuaian dan perkembangan sehari-hari. alam perkembangannya, teori ini disebut konseling Adlerian, yakni teori yang dikembangkan oleh Adler bersama dengan pengikut- pengikutnya. Teori ini menekankan pada keutuhan (unity) dan keunikan individual. Pemahaman terhadap perilaku dan perkembangan manusia harus dimulai dengan memahami tujuan dan dorongan-dorongan perilakunya, konstelasi keluarga, dan gaya kehidupannya. Teori ini menekankan pada minat social dan tujuan hidup manusia, serta pada analisis kesadaran. Berdasarkan karakteristik tersebut teori Adlerian digambarkan sebagai bersifat socio-teleo-analytic.

��

Metode

�� Penelitian ini adalah penelitian kualitatif .Penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif deskriptif dengan jenis metode  study literatur (study literature).Study literatur di gunakan dalam penelitian ini  untuk mengkaji secara mendalam tentang variabel penelitian yakni kemampuan berfikir kritis.Metode studi literatur adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka,membaca dan mencatat, serta mengelolah bahan penelitian.sehingga dengan menggunakan metode analisis  tinjauan literature (Literature Review) �Membangun kemampuan sosial penerapan konseling adlerian untuk mengatasi perilaku egosentris pada remaja�. Sumber untuk melakukan tinjauan ini meliputi pencarian secara elektronik dengan menggunakan beberapa database yaitu Google Scholar dalam bentuk jurnal penelitian dan artikel dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2024.Jurnal dan artikel yang diperoleh kemudian dilakukan review untuk memilih jurnal penelitian dan artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi .Jurnal penelitian dan artikel yang digunakan sebagai sampel selanjutnya diidentifikasi

 

Study Literatur

Memberikan definisi yang jelas tentang masalah yang akan diteliti; membuat batasan masalah agar lebih fokus pada masalah utama yang menjadi objek kajian penelitian; menghindari terjadinya peniruan atau plagiarisme baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, sehingga tidak perlu terjadi; menghubungkan antara penemuan-penemuan baru dengan pengetahuan terdahulu yang kemudian dapat dijadikan sebagai saran bagi penelitian selanjutnya; kajian pustaka juga mengarahkan peneliti untuk mengembangkan kerangka berfikir penelitian; dan yang terakhir adalah mengembangkan hipotesis penelitian.

 Beberapa tahapan yang dapat dilakukan dalam kegiatan tinjauan pustaka antara lain:

1) Melakukan analisis masalah: 2) Menemukan dan atau membaca alternatif literatur yang lain: 3) Memilih indeks sebagai bahan referensi atau data base: 4) Mentransformasikan penyataan dalam masalah penelitian menjadi bahasa pencarian: 5) Mencari masalah penelitian secara manual atau dengan batuan komputer: 6) Membaca literatur utama yang dianjurkan: 7) Membuat catatan dan mengorganisasikannya: 8) Menuliskan hasil tinjauan pustaka:

 

Sumber-Sumber Dalam Study Literatur

Sumber pustaka memiliki tingkat keutamaan sebagai rujukan dalam sebuah penelitian, yaitu sumber literatur pertama dan sumber literatur kedua. Meskipun tinjauan pustaka sangat mengutamakan pada tinjauan literatur pertama, tapi literatur kedua juga sangat berguna. Literatur kedua akan memberikan gambaran ringkas mengenai perkembangan teori yang dijadikan sebahai landasan dalam topik penelitian. Format literatur juga bermacam-macam setidaknya digolongkan menjadi tiga jenis, antara lain: 1) versi cetak terdiri dari indeks yang diterbitkan, katalog, jurnal tercetak, buku, laporan penelitian, dan sebagainya; 2) mikrotech (teknologi mikro) seperti mikrofilm, dan sebagainya; 3) database dan sumber elektronik seperti internet maupun data berbentuk CD (compact disc). 

 

Tekhnik  Study Literatur

Studi literature memiliki berbagai teknik, pada penelitian ini digunakan teknik simak dan pencatatan. Teknik pemilihan artikel yang digunakan sangat penting dalam penelitian ini. Artikel dan buku yang digunakan yakni artikel yang terbaru dan menjadi

rujukan dalam berbagai artikel lain.Pengumpulan data dilakukan melalui google schoolar dari berbagai artikel yang sudah memiliki indeks skala nasional atau terindeks Sinta. Dengan demikian data yang didapatkan lebih kredibel dan memiliki kekuatan ilmiah. Proses ini peneliti lakukan sebagai bentuk tanggungjawab untuk menghadirkan karya ilmiah yang memiliki keaslian dan kredibilitas yang baik

 

Hasil dan Pembahasan

Penelitian ini menunjukkan bahwa konseling adlerian sangat efektif dalam mengatasi perilaku egosentris pada remaja .Perubahan perilaku konseli yang semakin positif setelah diberikan perlakuan konseling kelompok adlerian .Hal itu berarti bahwa konseli kelompok adlerian efektif mengatasi perilaku egosentris pada remaja serta mampu meningkatkan perilaku yang positif .Egosentrisme pada remaja dapat dilihat sebagai bagian dari tantangan perkembangan yang perlu diatasi untuk mencapai kesejahteraan psikologis dan sosial yang lebih baik.Konseling adlerian,yang berakar dari teori kepribadian Alfred Adler,menekankan pentingnya memahami individu dalam konteks hubungan sosialnya dan pengaruh lingkungan pada perkembangan kepribadian.Berikut hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu: (1).Persepektif Historis, (2).Konsep Dasar Konseling Adlerian, (3).Perkembangan Kepribadian dalam Konseling Adlerian,(4).Tujuan Konseling Adlerian,(5).Proses Konseling Adlerian,(6).Situasi Hubungan dalam Konseling Adlerian,(7).Mekanisme Pengubahan dalam Konseling Adlerian (Prosedur dan Tekhnik Konseling Adlerian).

 

Persepektif� Historis

Adler lahir di Wina pada 1870 dan meninggal di Aberdeen, Skotlandia pada 1937 pada saat dia mengadakan perjalanan keliling untuk memberikan ceramah. Adler merupakan seorang dokter yang menamatkan gelar dokternya di Universitas Wina pada 1895. Adler merupakan seorang dokter yang tertarik dengan pasien pasiennya yang menderita penyakit fisik namun tidak memiliki penyebab fisik atau disebut juga dengan gangguan histeria. Adler merupakan adik dari Freud, sebelumnya Adler merupakan anggota Masyarakat Psikoanalitik Sigmund Freud. Namun kemudian, dia memisahkan diri dari Freud karena dia percaya bahwa penekanan Freud pada ketentuan biologis dan insting sangatlah sempit. Adler percaya bahwa apa yang terjadi pada diri seorang individu di masa dewasa sangat dipengaruhi oleh enam tahun pertama kehidupan. Fokus Adler tidaklah sekedar pada menggali peristiwa di masa lalu, melainkan dia tertarik pada persepsi seseorang pada masa lalu dan bagaimana interpretasinya pada masa lalu itu memiliki pengaruh yang berkelanjutan. Perspektif Adler manusia tidaklah sekedar ditentukan oleh keturunan dan lingkungan, melainkan oleh kemampuan mereka untuk 22 menginterpretasi, memengaruhi, serta menciptakan peristiwa. Adler percaya bahwa isu sentralnya bukanlah apa yang kita bawa pada saat kita lahir, yang krusial adalah apa yang kita perbuat dengan kemampuan yang kita miliki. Penganut aliran Adler mengakui bahwa kondisi biologis dan lingkungan membatasi kemampuan kita untuk menentukan pilihan serta berkreasi. Meskipun mereka menolak sikap deterministiknya Freud, mereka tidak terus melangkah ke pendapat yang lebih ekstrim yaitu dengan mengatakan bahwa manusia bisa menjadi apa saja yang dia mau.

Alfred Adler dibesarkan dari keluarga yang berasal dari kota Wina yang mempunyai enam anak laki-laki dan dua anak perempuan. Pada waktu usia dini Adler hidupnya tidak bahagia. Dia sering sakit-sakitan dan sangat sadar akan kematiannya.� Pada usia 4 tahun dia hampir meninggal karena sakit pneumonia nya itu. Dia mendengar ketika dokter sedang memberitahu kepada ayahnya tentang penyakitnya itu. Terkait dengan penyakitnya itu kemudian Adler mempunyai keinginan untuk menjadi seorang dokter kelak nantinya. Selama dia sakit, dia sangat dimanjakan oleh ibunya. pada masa kanak-kanak dan remaja Adler merasa cemburu terhadap kakaknya karena dia merasa bahwa dirinya memiliki kesehatan yang lemah berbeda dengan kakak laki-lakinya yaitu Sigmund yang mempunyai kesehatan yang normal. Ketika mempertimbangkan hubungan yang tegang antara Adler dan Sigmund, Freud menduga bahwa pola dari konstelasi keluarga yaitu diulang dalam hubungan Freud. Pada awal tahun Adler berjuang untuk melawan penyakit dan rendah dirinya itu. meskipun Adler merasa kalah mengenai kondisi kesehatan dengan saudara-saudaranya tetapi ia dapat mengimbangi keterbatasan fisik secara bertahap. Hal ini jelas bahwa pada usia dini� adalah seorang mahasiswa yang miskin. Gurunya pernah menyarankan terhadap ayahnya supaya Adler menjadi tukang sepatu. Dengan tekadnya dan terus berusaha akhirnya Adler melanjutkan untuk belajar kedokteran di University of Vienna dengan jurusan sebagai dokter mata dan bergeser ke dokter umum. Akhirnya dia berniat mempelajari tentang neurologi dan psikiatri karena dia mempunyai keinginan untuk menyembuhkan penyakit pada anak-anak yang tidak bisa disembuhkan penyakitnya itu. Adler mempunyai kepedulian yang besar terhadap anak-anak mengenai reformasi sekolah dan membantu masalah yang dialami pada seorang anak. Dia berbicara dan menulis dengan sederhana menggunakan bahasa non teknis sehingga orang lain bisa memahami dan menerapkan prinsip pendekatan dengan cara yang praktis untuk membantu orang dalam memenuhi tantangan kehidupan sehari-harinya. Pada tahun 1927-1959 Adler mengeluarkan buku psikologi pertamanya yang berjudul �Understanding Human Nature� yang dijual sampai ratusan ribu kopi di Amerika Serikat. Setelah melayani perang Dunia 1 sebagai pejabat dan medis, kemudian Adler menciptakan 32 klinik bimbingan sekolah-sekolah anak umum yang berada di kota Wina dan mulai melatih menjadi seorang guru, pekerja sosial, dokter, dan pekerjaan profesional yang lainnya. Dia merintis praktek mengajar dengan profesional melalui demonstrasi hidup orang tua dan anak-anak sebelum orang lain. Klinik� yang dia dirikian kemdian tumbuh menjadi popularitas dan ia tak kenal lelah diperkuliahan dengan menunjukkan karyanya. Meskipun Adler memiliki jadwal kerja yang padat sebagian besar kehidupan profesionalnya, ia masih butuh waktu untuk menikmati musik, menyanyi bersama teman-temanya. Pada pertengahan 1920-an dia mulai mengajar di Amerika Serikat dan dia sering melakukan kunjungan dan wisata. Dia mengabaikan peringatan dari teman-temanya untuk memperlambat pada tanggal 28 Mei 1937, sebelum kuliah dijalankan di Aberdeen, Skotlandia, kemudian Adler meninggal karena sakit jantung.

Persepektif historis adlerian mencakup konsep yang berasal dari teori individu . Analisis pendekatan yang secara langsung membahas perkembangan manusia dari sudut pandang pengembangan sosial perlu dilakukan. Salah satu pendekatan yang secara konsep dasar berfokus pada social interest adalah Adlerian (Setiawan, 2018). Pendekatan ini menekankan faktor sosial dibandingkan faktor biologis dalam menentukan perilaku individu, sehingga prediksi perilaku, perkembangan individu, perilaku maladaptive serta upaya teraputik terfokus pada pengembangan nilai-nilai sosial individu. Dengan karakteristik dan keunikan pendekatan Adlerian, maka dinilai pendekatan ini akan dapat dengan tepat dalam memberikan intervensi yang jitu dalam menangani permasalahan dan isu-isu yang berkaitan dengan perkembangan sosial siswa (Ardi, Neviyarni, Karneli, & Netrawati, 2019);(Jufri, Asri, Mannahali, & Vidya, 2023). Terutama penggunaan pendekatan ini dalam pelayanan konseling kelompok. Walaupun demikian, penggunaan pendekatan ini masih perlu analisis yang mendalam. Hal ini didasarkan atas fakta bahwa sebagai besar konselor sekolah di Indonesia masih belum menerapkan basis pendekatan yang jelas dalam memberikan pelayanan konseling, terutama konseling kelompok (Sulistiyono, 2022);(Firmansyah, Masril, Fitriani, Ardimen, & Irman, 2023)

 

Konsep Dasar Konseling Adlerian

Pendekatan Adlerian juga dikenal sebagai pendekatan sosioteleologis, dimana pendekatan ini berfokus pada kekuatan sosial individu dalam mencapai sebuah tujuan tertentu. Secara umum, individu akan menciptakan pandangan mengenai diri dan orang lain dalam kerangka social interest. Dengan adanya pandangan tersebut, individu akan berupaya dalam menetapkan tujuan jangka panjang dan jangka pendek sebagai dasar dalam motivasi diri, yang pada akhirnya akan berpengaruh pada perkembangan individu. Kondisi kesempurnaan dalam hidup dianalogikan oleh Adler sebagai gerakan yang dipandu oleh tujuan jangka panjang (Habsy, Mubarok, Saputri, & Firdaus, 2024). Proses tersebut dalam rangka memenuhi pencarian hidup tentang perasaan inferioritas menuju keinginan dan motivasi untuk mencapai kondisi superior, memiliki kekuatan dan penguasaan, dan pada akhirnya akan memiliki kesempurnaan. Tentu saja kesempurnaan disini merupakan sebuah pencapaian individu dalam hidup. Dengan kata lain, pendekatan Adlerian meyakini bahwa perilaku individu ditentukan oleh proses kreatif dalam menentukan pilihan dan membuat makna yang pada akhirnya adalah untuk memenuhi tujuan hidup. Upaya gerakan menui masa depan dalam bentuk tindakan dan gaya hidup hendaklah dipandang dalam suatu pendekatan yang holistik serta lebih penting dibandingkan dengan kondisi di masa lalu (Lesmana, 2021).

Model konseling yang didirikan oleh Alfred Adler. Dasar filosofi konseling ini adalah manusia pada dasarnya dimotivasi oleh minat sosial, perjuangan menuju tujuan hidup (teleologis), dan berurusan dengan tugas-tugas hidup. Konsep kunci konseling Adlerian didasarkan pada model perkembangan (developmental) dengan menekankan integritas kepribadian, kapasitas positif individu untuk hidup di masyarakat secara kooperatif, kebutuhan untuk memandang individu dari perspektif subjektifnya, dan pentingnya sasaran hidup yang menunjukkan arah perilaku. Konseling merupakan materi untuk bisa memberi dorongan dan membantu konseli mengubah perspektif kognitif mereka. Sasaran konseling Adlerian adalah menantang premis dan sasaran dasar konseli. Memberikan dorongan semangat agar mereka bisa mengembangkan sasaran yang berguna secara sosial. Penganut Adler menggunakan banyak teknik konseling, antara lain: parafrase, pemberian dorongan semangat, konfrontasi, interpretasi, konstalasi keluarga, kontrak terapeutik, tugas pekerjaan rumah, rencana perbuatan paradoxal, dan sugesti. Konseling Adlerian dapat diaplikasikan dalam semua bidang kehidupan, misalnya: untuk konseling anak dan orangtua, konseling perkawinan dan keluarga, konseling individual untuk anak dan adolesen, penyalahgunaan obat, dan konseling untuk manusia lanjut usia (lansia). Karena modelnya developmental, konseling Adlerian sangat cocok untuk pencegahan terganggunya kesehatan mental dan kondisi-kondisi yang menghalangi pertumbuhan.

Menurut Husnia (2021) konseling kelompok pendekatan Adlerian merupakan suatu pendekatan dalam konseling yang berorientasi pada keunikan dan keutuhan seorang individu tersebut, tujuan dari konseling kelompok pendekatan Adlerian ini adalah untuk menumbuhkan individu yang memiliki mental yang dewasa serta sehat.

 

Perkembangan Kepribadian Konseling Adlerian

Adler sependapat dengan Freud dalam hal ini, yang mengatakan bahwa kehidupan seseorang dipengaruhi oleh perkembangan empat atau lima tahun pertama. Sepanjang tahap awal perkembangan, anak sudah mulai mengembangkan persepsi diri, pola tingkah laku, dan gaya hidup.� Pada waktu ini juga individu mulai untuk memilih tujuan hidup, semua perilaku diarahkan. Adler berpendapat bahwa ada manusia dalam kehidupan ini ada rasa rendah diri �inferiority�, perasaan inferiority ini menggerakkan seseorang untuk mencapai `superiority�.

Faham Adler tentang superiority lebih ditekankan pada masing-masing individu dalam memahami lingkungannya dan seseorang selalu berusaha untuk mengembangkan situasinya. Dalam istilah Adler semua fungsi yang kita miliki mengikuti arah tersebut, mereka berusaha keras mempertahankan, menjaga, mengembangkan, baik dalam hal yang baik, dan buruk. Adler berkeyakinan bahwa memberikan kondisi yang menyenangkan pada awal interaksi anak dengan keluarganya, akan semakin mendorong timbulnya minat sosial. Anak akan terdorong untuk mencapai keuntungan bagi dirinya maupun orang lain. Salah satu cara mengatasi perasaan yang tidak menyenangkan yang tercipta dari perasaan rendah diri adalah dengan meyakini bahwa seseorang mampu mengembangkan kesejahteraan dan kegembiraan kepada orang lain. Oleh karena itulah mereka merasa dirinya berharga. Untuk mengembangkan gaya hidup ada tiga konsep menurut Adler yaitu: self-deterministik, teleology� dan� holistik.

Menurut Adler bahwa individu menentukan tingkah lakunya bukan kejadian eksternal. Adler berpandangan individu mengontrol dirinya dan bergerak untuk mencapai tujuan sebagai sesuatu keseluruhan yang menyatu dan inilah yang dinamakan gaya hidup. Pada suatu saat dimana tujuan hidup telah dipilih serta gaya hidup dikembangkan untuk mencapai tujuan tersebut maka sangat sukar bagi setiap individu untuk merubahnya.

 

Tujuan Konseling Adlerian

Tujuan konseling menurut Adlerians untuk membantu individu� menemukan konsep dirinya. Kita tidak berusaha secara khusus untuk merubah pola tingkah laku atas gejala-gejalanya. Jika seorang klien mengembangkan tingkah laku karena ia menemukan bahwa hal tersebut menguntungkan dirinya pada saat itu terjadi perubahan yang mendasar, maka kita tidak bisa mengatakan bahwa kita itu berhasil. Maka selanjutnya kita akan mencoba untuk merubah tujuan dan konsep.

Tujuan lebih khusus dari konseling ditentukan pada: (1) membantu individu mengurangi penilaian yang bersifat negatif terhadap dirinya serta perasaan inferioritasnya, (2) membantu individu mengoreksi persepsinya terhadap suatu kejadian dan dalam waktu yang sama membantu ia mengembangkan tujuan-tujuan yang baru yang mana ia bisa mengarahkan tingkah lakunya, (3) mengembangkan kembali minat sosial dalam diri individu dengan cara interaksi sosial.yakni intinya mengubah perasaan inverior menjadi superior atau sukses.Konseling adlerian dalam hal ini akan merupakan suatu proses memulihkan suatu keadaan individu sebagai makhluk sosial. Dimana bahwa manusia termotifasi untuk melaksanakan tanggung jawab sosial dan pemenuhan kebutuhan untuk mencapai sesuatu. Konseling kelompok Adlerian memiliki fokus utama pada pertumbuhan dan tindakan individu dalam konteks kelompok. Anggota kelompok Adlerian merasakan pengalaman yang lebih berorientasi pada interaksi sosial kelompok, yang pada gilirannya memungkinkan mereka untuk mengintegrasikan diri secara pribadi dan menemukan arah tujuan yang lebih jelas. Dalam kelompok ini, kompetisi ditekan, dan anggota kelompok menjadi lebih mampu dalam menangani isu-isu yang berkaitan dengan keluarga, terutama jika kelompok terdiri dari siswa, yang kemudian dapat lebih memahami konsekuensi logis dari tindakan mereka.Menurut Corey dalam bukunya "Theory & Practice of Group Counseling," konseling kelompok Adlerian memiliki empat tujuan utama. Pertama, membangun dan memelihara hubungan antara konselor dan klien yang didasarkan pada rasa hormat dan empati. Tujuan ini memungkinkan klien merasa diterima dan terbuka untuk pertumbuhan pribadi yang lebih baik. Kedua, menciptakan suasana konseling yang mendukung sehingga anggota kelompok merasa mereka berada di tempat yang tepat untuk mengejar pemahaman diri dan nilai-nilai mereka. Ketiga, membantu klien menemukan cara-cara baru untuk mengatasi masalah mereka dan memberikan wawasan serta pengetahuan baru. Terakhir, tujuan konseling adalah untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang diri sendiri, mengatasi kompleks inferioritas, dan mengembangkan tujuan hidup yang konstruktif.Dalam konteks konseling Adlerian, tujuan utama adalah membantu individu mencapai perasaan positif tentang diri mereka, mengatasi kompleks inferioritas, mengidentifikasi dan mengartikulasikan tujuan hidup, meningkatkan keterlibatan sosial dan empati, mengembangkan kecerdasan sosial, mengatasi tantangan kehidupan, dan meraih perkembangan pribadi yang lebih baik. Semua tujuan ini membantu klien dalam membangun hubungan yang lebih sehat dan mencapai kehidupan yang lebih memuaskan sesuai dengan nilai dan tujuan hidup mereka.

Tujuan dari pendekatan Adlerian yaitu, a. Bersama klien mengungkapkan tujuan keliru dan gagasan yang mendasarinya sehingga mereka memahami gaya hidup khas mereka.� b. Mendorong klien untuk mengakui bahwa mereka memiliki perasaan sosial

Tujuan dasar dari pendekatan Adlerian adalah untuk membantu klien mengidentifikasi dan mengubah keyakinan keliru mereka tentang diri, orang lain, dan hidup dan dengan demikian berpartisipasi lebih lengkap dalam dunia sosial. Klien tidak dipandang sebagai sakit secara psikologis tetapi sebagai berkecil hati. Proses terapi membantu individu menyadari pola mereka dan membuat beberapa perubahan mendasar dalam gaya hidup mereka, yang menyebabkan perubahan dalam cara mereka merasa dan berperilaku. Peran keluarga dalam perkembangan individu ditekankan. Terapi adalah usaha koperasi yang menantang klien untuk menerjemahkan.

 

Proses Konseling Adlerian

Adler adalah orang yang pertama untuk mengenali pentingnya hubungan antara konselor dan klien. Dalam pandangannya, terapi sangat utama sebagai suatu hubungan sosial. Pada hakekatnya, keseluruhan proses konseling dipandang sebagai suatu proses sosialisasi. Permasalahan klien sebagian besar adalah hasil dari tidak adanya sosialisasi, dan proses konseling merupakan sarana dalam mengembangkan kembali proses sosialisasi individu. Proses konseling mempunyai potensi, karena adanya interaksi antara konselor dan klien. Hubungan ini adalah unik sebab klien yang pertama kalinya yang berhadapan dengan orang lain tanpa merasa takut. Dengan diberikannya suasana yang hangat oleh konselor, maka klien akan merasa bahwa ia diterima dan akan mampu mengimbangi perasaan rendah dirinya secara terbuka.

Agar tercipta hubungan yang baik, maka konselor harus menjadi pendengar yang objektif yang penuh perhatian yang berkomunikasi dengan klien dan peduli terhadapnya, maka� konselor harus memiliki kemampuan menyatakan sesuatu kepada klien dalam berbagai cara yang dapat diterima oleh klien, jika tidak maka klien tidak akan pernah memahami tingkah lakunya sendiri dan konsekuensi logis dari tingkah lakunya itu. Adler berpendapat dalam menciptakan hubungan konseling yang sesuai maka konseling melalui tiga tahapan:

Tahap dimana konselor berusaha mengembangkan pemahaman terhadap tujuan serta gaya hidup dari konseli Menginterpretasikan tingkah laku konseli terhadap dirinya Perkembangan minat sosial konseli itu sendiri.

Setelah proses ini, Adler berpendapat bahwa perilaku individu akan berubah. Ini adalah test konseling yang nyata bagi Adler, karena ia tidak percaya bahwa orang bisa mengembangkan pemahaman yang benar tentang dirinya tanpa suatu perubahan dalam perilaku. Jika tidak ada perubahan dan tidak memahami dirinya, berarti konseling belum sukses.Dalam layanan konseling kelompok, posisi dan cara pandang terhadap manusia juga diterapkan oleh praktisi pendekatan Adlerian (Husnia, 2021);(Rasimin & Hamdi, 2021). Pemimpin kelompok dalam pendekatan ini lebih mengutamakan hubungan egaliter dengan anggota kelompok, sehingga pola ini menjadi dasar pendekatan Adlerian dalam setting kelompok. Selain itu, pemimpin kelompok berperan sebagai teladan bagi anggota kelompok dengan membawa berbagai karakteristik yang khas, antara lain kepercayaan diri, presence, memotivasi anggota kelompok, sanggup mengambil resiko, peduli, penerimaan, kemauan menjadi contoh, memiliki selera humor, mampu bekerjasama dengan anggota kelompok, memberikan dorongan positif dan mampu mengeksplorasi potensi-potensi anggota kelompok. Hal yang juga sangat penting adalah konselor harus mampu menyadari berbagai (Ardi et al., 2019). 9 Analisis pendekatan Adlerian dalam konseling kelompok untuk optimalisasi potensi diri siswa pertumbuhan anggota kelompok yang menjadi dasar dalam mengidentifikasi perkembangan diri masing-masing anggota. Dengan kompleksitas pelaksanaan pelayanan konseling kelompok melalui pendekatan Adlerian tersebut, sedikitnya terdapat beberapa step dasar penerapan pendekatan ini di sekolah (Habsy, Az-Zahra, Rosidin, & Firdaus, 2024;); Gladding, 2017; Sonstegard & Bitter, 2011), antara lain:

1.� Tahap� Membangun dan Menjaga Hubungan yang Kohesif dengan Anggota Kelompok

2.� Tahap� Eksplorasi Dinamika Individu Anggota Kelompok melalui Asesmen dan Analisis

3.� Tahap Membangun Kesadaran dan Wawasan Anggota Kelompok

4.� Tahap� Re-orientasi dan Re-edukasi berdasarkan Hasil pada Tahap 3

Sebagaimana dipaparkan pada Gambar 1, pada awal sesi konseling kelompok dengan pendekatan Adlerian perlu adanya upaya dalam membangun hubungan terapeutik yang solid dengan landasan kerjasama, kolaborasi, saling menghormati dan egaliter. Sesi awal tersebut pada hakikatnya berfungsi sebagai fondasi yang akan menentukan sukses atau tidaknya sesi-sesi berikutnya. Pada tahap kedua, fokus kegiatan konseling kelompok hendaknya beralih pada pemahaman gaya hidup (life style) masing-masing anggota kelompok (Ardi et al., 2019).

Analisis tersebut berhubungan dengan bagaimana gaya hidup dapat mempengaruhi individu dalam setiap tugas kehidupan yang dijalaninya. Hal ini juga berkaitan dengan bagaimana individu memaknai identitas budaya yang ada pada dirinya dan mempengaruhi setiap sisi kehidupan anggota kelompok. Pada tahap berikutnya dalam proses konseling kelompok dengan pendekatan ini, perlu adanya upaya membawa suatu perubahan dalam bentuk kesadaran dan wawasan yang dijadikan dasar dari suatu perubahan dalam diri klien anggota kelompok. Sedangkan produk akhir dari proses konseling kelompok dengan pendekatan Adlerian adalah proses re-orientasi dan re-edukasi. Proses re-orientasi berkenaan dengan bagaimana pemimpin kelompok mengajak anggota kelompok dalam menganalisis berbagai kepercayaan, tujuan serta gaya hidup yang salah, serta mencari berbagai pertimbangan gaya hidup, tujuan dan alternatif lain yang ditetapkan atas dasar wawasan, yang telah diperoleh anggota kelompok selama sesi berlangsung.

Peluang besar pada pendekatan ini menjadi kekuatan utama yang memungkinkan adanya intervensi yang menyeluruh terhadap kondisi permasalahan yang dialami siswa (Aminah, Ilfiandra, & Saripah, 2020). Terdapat banyak relevansi pendekatan ini dengan kebutuhan siswa di sekolah dengan kompleksitas masalah yang dialami. Remaja pada umumnya mengalami berbagai perasaan putus asa yang mendalam, dimana dengan menggunakan prinsip-prinsip pendekatan ini maka akan memungkinkan masing-masing anggota mengungkapkan diri dan keputusasaan tersebut dan merasa bahwa siswa yang bermasalah tersebut tidak sendirian. Dengan menggunakan empat tahap dalam pendekatan konseling melalui teori Adlerian tersebut akan memungkinkan siswa yang kurang memiliki tujuan, sehingga dengan adanya proses reorientasi dan re-edukasi akan menjadikan siswa dapat menentukan tujuan baru yang akan dicapai dalam hidup sehingga akan mengubah paradigma dan gaya hidupnya. Potensi besar tersebut juga cocok untuk diterapkan dalam rangka optimalisasi potensi siswa (Edy, Marsono, & Utama, 2020).

Ada 4 tahap konseling kelompok Adlerian yaitu, a. Membangun dan Menjaga Hubungan yang Kompak dengan Anggota Kelompok Pada tahap awal penekanannya adalah pada membangun hubungan terapeutik yang baik berdasarkan kerja sama, kolaborasi, kesetaraan, dan saling menghormati. Dengan memerhatikan hubungan dari sesi pertama, konselor meletakkan dasar untuk keterpaduan dan koneksi. Adlerian berpendapat bahwa hasil yang sukses dari konseling kelompok didasarkan pada membangun dan mempertahankan hubungan terapeutik yang kuat pada tahap awal konseling (Rasimin & Hamdi, 2021) Peserta kelompok didorong untuk aktif dalam proses konseling karena mereka bertanggung jawab atas partisipasi mereka sendiri dalam kelompok. Situasi kelompok memberikan banyak kesempatan untuk membangun kepercayaan dan memperkuat hubungan antar-anggota dan pemimpin. Juga, dengan menyaksikan perubahan positif pada teman sebaya, peserta dapat melihat seberapa baik kelompok bekerja. b. Tahap Analisis dan Penilaian Menurut Mosak & Maniacci (Rasimin & Hamdi, 2021) Tujuan dari tahap ini adalah memahami gaya hidup seseorang dan melihat bagaimana hal itu memengaruhi fungsi seseorang saat ini dalam semua tugas kehidupan . Selama tahap penilaian ini, penekanannya adalah pada individu dalam konteks sosial dan budayanya. Pemimpin dapat mulai dengan mengeksplorasi bagaimana para peserta berperan dalam situasi sosial dan bagaimana perasaan mereka tentang diri mereka sendiri dan identitas peran gender mereka.

 

Situasi Hubungan dalam Konseling Adlerian

Adlerians mempertimbangkan hubungan klien-terapis yang baik untuk menjadi salah satu di antara sesama yang didasarkan pada kerjasama, saling percaya, menghormati, kerahasiaan, kolaborasi, dan tujuan keselarasan. Mereka menempatkan nilai khusus pada konselor pemodelan komunikasi dan bertindak dengan itikad baik. Dari awal terapi, hubungan adalah salah satu kolaboratif, ditandai dengan dua orang bekerja sama menuju spesifik c, disepakati gol. terapis Adlerian berusaha untuk membangun dan memelihara aliansi terapeutik egaliter dan orang-orang hubungan dengan klien mereka. Mengembangkan hubungan terapeutik yang kuat adalah penting untuk hasil yang sukses (Muryono, 2021). mempertahankan bahwa pada awal klien konseling harus dimulai untuk merumuskan rencana, atau kontrak, merinci apa yang mereka inginkan, bagaimana mereka berencana untuk mendapatkan di mana mereka menuju, apa yang mencegah mereka dari berhasil mencapai tujuan mereka, bagaimana mereka dapat mengubah perilaku tidak produktif menjadi konstruktif perilaku, dan bagaimana mereka dapat memanfaatkan sepenuhnya aset mereka dalam mencapai mereka tujuan. Kontrak terapi ini menetapkan tujuan dari proses konseling dan spesifik es tanggung jawab dari kedua terapis dan konseli. Mengembangkan kontrak bukan persyaratan terapi Adlerian, tetapi kontrak dapat membawa fokus ketat untuk terapi.

 

Mekanisme Pengubahan dalam Konseling Adlerian

Selama reorientasi tersebut fase konseling, konseli membuat keputusan dan memodifikasi tujuan mereka. Mereka didorong untuk bertindak seolah-olah mereka adalah orang-orang yang mereka inginkan, yang dapat melayani untuk menantang asumsi membatasi diri. Konseli diminta untuk menangkap sendiri dalam proses mengulangi pola lama yang telah menyebabkan perilaku yang tidak efektif. Komitmen merupakan bagian penting dari reorientasi. Jika konseli� berharap untuk mengubah, mereka harus bersedia untuk mengatur tugas-tugas untuk diri mereka sendiri dalam kehidupan sehari-hari dan melakukan suatu spesifik tentang masalah mereka. Dengan cara ini, konseli menerjemahkan wawasan baru mereka menjadi tindakan nyata.

menekankan bahwa perubahan nyata terjadi antara sesi dan tidak dalam terapi itu sendiri. Mereka menyatakan bahwa tiba pada strategi perubahan merupakan langkah pertama yang penting, dan stres yang dibutuhkan keberanian dan dorongan bagi konseli untuk menerapkan apa yang mereka pelajari dalam terapi untuk sehari-hari hidup.fase berorientasi aksi ini adalah waktu untuk memecahkan masalah dan membuat keputusan.

Konselor dan konseli� mempertimbangkan alternatif mungkin dan mereka konsekuensi, mengevaluasi bagaimana alternatif ini akan memenuhi tujuan klien, dan memutuskan pada aksi tertentu. Alternatif terbaik dan kemungkinan-kemungkinan baru adalah mereka yang dihasilkan oleh konseli, dan konselor harus menawarkan konseli kesepakatan atas dukungan dan dorongan selama tahap ini proses.

�konselor Adlerian mencoba untuk membuat perbedaan dalam kehidupan konseli mereka.� Perbedaan yang mungkin diwujudkan oleh perubahan perilaku sikap atau persepsi. Adlerians menggunakan banyak teknik yang berbeda untuk mempromosikan teori ini,beberapa di antaranya telah menjadi intervensi umum di terapi lainnya.model� teknik pergi meliputi kedekatan, saran, humor, diam, niat paradoks, bertindak seolah-olah, meludah di sup konseli, menangkap diri, teknik push-button, eksternalisasi, re-authoring, menghindari perangkap, konfrontasi, penggunaan cerita dan dongeng, analisis ingatan awal, gaya hidup penilaian, mendorong, tugas pengaturan dan komitmen, memberikan pekerjaan rumah,dan mengakhiri dan meringkas semuanya telah digunakan. Praktisi Adlerian kreatif dapat menggunakan berbagai macam teknik lain, asalkan metode ini secara filosofis harus konsisten dengan premis dasar teori psikologi Adlerian. Adlerians pragmatis menggunakan teknik yang sesuai untuk konseli tertentu. Secara umum praktisi Adlerian berfokus pada motivasi modifikasi lebih dari perubahan perilaku dan mendorong konseli untuk membuat holistik perubahan di sisi berguna bagi hidup. Semua konseling ini merupakan upaya kerjasama,dan membuat perbedaan tergantung pada kemampuan konselor untuk memenangkan konseli.

Dari tahapahan konseling kelompok adlerian didapati konseli yang awal mulai mengikuti kegiatan ini menunjukkan perilaku egosentris seperti mengolok-ngolok teman,tidak mampu bekerja sama,berkata kasar,tidak mau menghormati atau menghargai orang lain dan tidak bisa berempati.selesai mengikuti kegiatan ini mereka lebih mampu bersosial dengan baik,dan mampu menunukkan rasa menghormati,bekerjasama,menerima apa adanya,dan berempati pada orang lain.

 

Kesimpulan

Berdasarkan data yang penulis peroleh dari penelitian dan pengelolahan dapat disimpulkan bahwa:

a)      Berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa terjadi perubahan perilaku konseli yang semakin positif setelah diberikan perlakuan konseling kelompok adlerian Hal itu berarti bahwa konseli kelompok adlerian efektif mengatasi perilaku egosentris pada remaja serta mampu meningkatkan perilaku yang positif

b)      Kemampuan sosial berkomunikasi efektif dengan orang lain ,baik secara verbal maupun non verbal sesuai dengan kondisi yang ada pada saat itu ,dimana ketrampilan ini merupakan perilaku yang dipelajari sehingga membangun kemampuan sosial:penerapan konseling kelompok adlerian efektif� untuk mengatasi perilaku egosentris pada remaja.

Berdasarkan hasil temuan diatas penulis mengemukakan beberapa pendapat dan saran sebagai berikut:bagi sekolah diharapkan kerjasama dengan pihak sekolah lain dalam menerapkan berbagai bentuk layanan bk yang kearah pengembangan diri siswa seperti pengadaan seminar tentang kehidupan sosial anak remaja,bermain peran,dan latihan ketrampilan sosial.selanjutnya mendorong peneliti lain untuk mencoba mengatasi perilaku egosentris dengan menggunakan pendekatan lain seperti pendekatan realitas dan psikoanalisis.Konselor sekolah diharapkan dapat memotivasi untuk menerapakan model konseling adlerian untuk mengatasi perilaku egosentris kepada siswa lain dan mencoba untuk mengaplikasikan pendekatan lain yang berbeda untuk masalah yang berbeda juga.

 

Daftar Pustaka

 

Agusniatih, Andi, & Manopa, Jane M. (2019). Keterampilan sosial anak usia dini: teori dan metode pengembangan. Edu Publisher.

Aminah, Asti Siti, Ilfiandra, Ilfiandra, & Saripah, Ipah. (2020). Strength Based Skill Training Untuk Peningkatan Kekuatan Harapan Siswa. Journal of Innovative Counseling: Theory, Practice, and Research, 4(02), 70�85.

Ardi, Zadrian, Neviyarni, Neviyarni, Karneli, Yeni, & Netrawati, Netrawati. (2019). Analisis pendekatan Adlerian dalam konseling kelompok untuk optimalisasi potensi diri siswa. Jurnal Educatio: Jurnal Pendidikan Indonesia, 5(1), 7�12.

Edy, Irwan Christanto, Marsono, Shandy, & Utama, Heriyanta Budi. (2020). Upgrading Minat Wirausaha Siswa Dalam Rangka Optimalisasi Potensi Daerah Yang Dalam Membangun Kemandirian Ekonomi. Wasana Nyata, 4(1), 50�56.

Firmansyah, Yori, Masril, Masril, Fitriani, Wahidah, Ardimen, Ardimen, & Irman, Irman. (2023). Pengaruh Layanan Konseling Kelompok Berbasis Regulasi Diri Dalam Meningkatkan Kedisiplinan Belajar SIswa. Jurnal Pendidikan Dan Konseling (JPDK), 5(1), 4362�4367.

Habsy, Bakhrudin All, Az-Zahra, Tazkia Aulia, Rosidin, Dira Anindia Ayu, & Firdaus, Wardah Rikza. (2024). Konseling Adlerian Dalam Perspektif Multibudaya. Protasis: Jurnal Bahasa, Sastra, Budaya, Dan Pengajarannya, 3(1), 8�24.

Habsy, Bakhrudin All, Mubarok, Alfi Kamelia, Saputri, Warnanda Eka, & Firdaus, Musyaffa Dafa. (2024). Konseling Adlerian: Tinjauan Filosofis. TSAQOFAH, 4(3), 1847�1864.

Husnia, Hulvi. (2021). Efektivitas Konseling Kelompok Pendekatan Adlerian Untuk Meningkatkan Harga Diri Siswi di Mas Ti Candung.

Jufri, A. P., Asri, Wahyu Kurniati, Mannahali, Misnah, & Vidya, Ananta. (2023). Strategi Pembelajaran: Menggali Potensi Belajar Melalui Model, Pendekatan, dan Metode yang Efektif. Ananta Vidya.

Lesmana, Gusman. (2021). Teori dan Pendekatan konseling. umsu press.

Muryono, Sigit. (2021). Mengembangkan resiliensi akademik melalui hubungan positif dalam konsep pendekatan person centered.

Rasimin, M. Pd, & Hamdi, Muhamad. (2021). Bimbingan dan Konseling Kelompok. Bumi Aksara.

Setiawan, M. Andi. (2018). Pendekatan-Pendekatan Konseling (Teori Dan Aplikasi). Deepublish.

Sulistiyono, Joko. (2022). Buku Panduan Layanan Konseling Kelompok Pendekatan Behavioral Untuk Mengatasi Kedisiplinan Masuk Sekolah. Penerbit P4I.

Trisnowati, Eli. (2024). Implementasi Teori Konseling Individual. PT. Sonpedia Publishing Indonesia.

Wahyudin, Ahmad ‎., & Wiji Utami, Hapsari. (2023). PERAN WANITA DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI ‎DI DAERAH PERKOTAAN. Multifinance, 1(1), 31�40. https://doi.org/10.61397/mfc.v1i1.16

Wati, Eka Kurnia, Maruti, Endang Sri, & Budiarti, Melik. (2020). Aspek Kerjasama Dalam Keterampilan Sosial Siswa Kelas IV Sekolah Dasar. Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 4(2), 97�114.