HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEMANDING

 

Eka Ghina Aprina Putri1, Yasin Wahyurianto2, Teresia Retna3

Poltekkes Kemenkes Surabaya, Indonesia

[email protected]

Abstrak:

Stunting merupakan kondisi pada balita yang memiliki panjang badan atau tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan dengan usianya. Nutrisi yang diperoleh sejak lahir tentunya sangat berpengaruh terhadap pertumbuhannya termasuk resiko terjadinya stunting. Tidak dilakukanya pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan dapat menjadi salah satu faktor penyebab stunting karena nutrisinya didak tercukupi. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita di Desa Bektiharjo Dusun Medokan wilayah kerja Puskesmas Semanding. Desain penelitiaan yang digunakan adalah korelasi. Populasi pada penelitia ini adalah semua orang tua yang memiliki balita yang ada di desa Bektiharjo Dusun Medokan wilayah kerja Puskesmas Semanding. Besar sampel 62 orang, Teknik sampling menggunakan probability sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuisioner, yang di analisis menggunakan uji korelasi Chi-Square. Hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa balita yang tidak diberikan ASI Eksklusif sebagian besar mengalami stunting yaitu sebesar 70%. Berdasarkan hasil uji korelasi Chi-Square didapatkan nilai signifikan dengan hasil yang diperoleh yaitu p=0,036 yang berarti p=<0,05, maka ada hubungan antara pemberian ASI Eksklusif dengan kejadian stunting pada balita. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian ASI Eksklusif pada balita sangat penting artinya balita yang tidak diberikan ASI Eksklusif berpeluang lebih besar mengalami stunting jika dibandingkan dengan balita yang diberikan ASI secara eksklusif.

 

 

Kata Kunci: Balita, ASI Eksklusif, Stunting

 

Abstract:

Stunting is a condition in toddlers whose body length or height is shorter than their age. Nutrients obtained from birth certainly greatly affect growth, including the risk of stunting. The absence of exclusive breastfeeding for 6 months can be one of the factors causing stunting because the nutrition is not sufficient. The purpose of this study was to analyze the relationship between exclusive breastfeeding .and the incidence of stunting in children under five in Bektiharjo Village, Medokan Hamlet, the working area of ​​the Semanding Health Center. The research design used is correlation. The population in this study are all parents who have toddlers in BektiharjoVillage, Medokan Hamlet, the working area of ​​the Semanding Health Center. The sample size is 62 people. The sampling technique uses probability sampling. The data collection technique used is a questionnaire, which is analyzed using the Chi-Square.

The results of this study can be seen that the majority of toddlers who are not given exclusive breastfeeding experience stunting, which is 70%. Correlation test Chi-Square obtained value with the results obtained, namely p =0.036 which means p =<0.05, then there is a relationship between exclusive breastfeeding and the incidence of stunting in toddlers. This shows that exclusive breastfeeding for toddlers is very important, meaning that toddlers who are not given exclusive breastfeeding have a greater chance of experiencing stunting when compared to toddlers who are exclusively breastfed.

 

 

Keywords: Toddler, Exclusive Breastfeeding, Stunting

����� ����

Pendahuluan

Stunting merupakan kondisi dimana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Nutrisi yang diperoleh sejak bayi lahir tentunya sangat berpengaruh terhadap pertumbuhannya termasuk resiko terjadinya stunting. Tidak dilaksanakannya inisiasi menyusui dini (IMD), gagalnya pemberian ASI eksklusif, dan proses penyapihan dini dapat menjadi salah satu faktor terjadinya stunting. Sedangkan dari sisi pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) hal yang perlu diperhatikan adalah kuantitas, kualitas, dan keamanan pangan yang diberikan (Kemenkes RI, 2018).

Balita merupakan individu atau sekelompok individu dari penduduk yang berada pada suatu rentang usia tertentu. Balita dapat dikelompokkan menjadi 3 golongan yaitu usia bayi atau baduta (bawah dua tahun) dengan usia 0-2 tahun, golongan batita (bawah tiga tahun) dengan usia 2-3 tahun, dan golongan pra sekolah >3-5 tahun. Menurut WHO kelompok usia balita adalah 0-60 bulan. Asupan zat gizi yang seimbang sangat diperlukan pada masa balita untuk pertumbuhan dan perkembangan (Adriani dan Wirjatmadi, 2016).

Balita seringkali dihubungkan dengan permasalahan gizi yang kurang mencukupi.Kurang gizi pada balita tidak hanya terjadi ketika sudah lahir saja, melainkan dapat terjadi ketika balita tersebut masih berada dalam kandungan. Kekurangan gizi yang dialami oleh balita dapat menyebabkan pertumbuhan balita menjadi kurang maksimal. Salah satu pertumbuhan balita yang kurang maksimal ditandai dengan tinggi badan yang tidak ideal.

Menurut Departemen Kesehatan tahun 2015 dalam Yuliana dan Hakim,2019. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (Bagi bayi di bawah lima tahun) yang diakibatkan kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir akan tetapi, kondisi Stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun. Stunting yang dialami anak dapat disebabkan oleh tidak terpaparnya periode 1000 hari pertama kehidupan mendapat perhatian khusus karena menjadi penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depan. Stunting dapat pula disebabkan tidak melewati periode emas yang dimulai 1000 hari pertama kehidupan yang merupakan pembentukan tumbuh kembang anak pada 1000 hari pertama. Pada masa tersebut nutrisi yang diterima bayi saat didalam kandungan dan menerima ASI memiliki dampak jangka panjang terhadap kegidupan saat dewasa. Hal ini dapat terlampau maka akan terhindar dari terjadinya stunting pada anak-anak dan status gizi yang kurang. Menurut Kementerian Kesehatan tahun 2020, stunting memiliki ambang batas -3 SD sd <-2 SD.

Menurut Kemeskes RI berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 yang dimuat dalam website resmi kemenkes, bahwa angka stunting secara nasional mengalami penurunan sebesar 1,6% pertahun dari 27,7% pada tahun 2019 menjadi 24,4% ditahun 2021. Saat ini prevalensi stunting di Indonesia sudah berada dibawah 20%, namun masih belum memenuhi target RPJMN tahun 2024 yakni sebesar 14%. Meskipun demikian 14% bukan menjadi target utama dalam penurunan stunting di Indonesia. Target utama dalam penurunan stunting yaitu sampai pada kategori rendah atau dibawah 2,5%.

Berdasrkan laporan kinerja bidang kesmas provinsi jawa timur tahun 2020, prevalensi stunting tahun 2019 yaitu 26,8%, sedangkan prevalensi stunting tahun 2020 yaitu 12,2%. Data tersebut menandakan bahwa kejadian stunting di jawa timur mengalami penurunan dari target yang telah ditentukan yaitu sebesar 28%. Di Kabupaten Tuban sendiri prevalensi balita stunting pada tahun 2021 yaitu 11,65% (Dinkes Kab. Tuban, 2021). Namun prevalensi tersebut masih dikategorikan tinggi.

Prevalensi balita stunting di wilayah kerja Puskesmas Semanding pada tahun 2019 yaitu 25,6%, sedangkan pada tahun 2020 yaitu 14,6%, dan pada tahun 2021 yaitu 16,9% (Puskesmas Semanding, 2021). Di wilayah kerja Puskesmas Semading terdapat 9 desa, salah satu desa yang memiliki prevalensi stunting tertinggi pada tahun 2021 yaitu desa Bektiharjo. Jumlah balita stunting di Desa Bektiharjo pada tahun 2021 sebanyak 130 balita dari 456 balita dengan prevalensi 28,5% (Puskesmas Semanding, 2021).

Menurut Unicef Framework yang dikutip oleh Erna Eka Wijayanti (2019) salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya stunting pada balita yaitu kurangnya asupan makanan yang tidak seimbang sehingga kebutuhan gizinya kurang. Dalam hal ini untuk memberikan pemenuhan gizi yang cukup dapat mempemberian ASI secara eksklusif supaya tidak terjadinya stunting pada balita. Dalam pemberian MP-ASI yang terlalu dini dan tidak diberikanya ASI eksklusif juga berhubungan dengan kajadian stunting pada anak (Kusuma, 2013 dalam Erna Eka Wijayanti, 2019). ASI adalah air susu ibu yang mengandung gizi untuk kebutuhan dan perkembangan bayi. Kandungan yang dimiliki oleh ASI, yaitu lemak, karbohidrat, kalori, protein, dan vitamin. ASI eksklusif bermanfaat sebagai nutrisi lengkap, meningkatan daya tubuh, meningkatkan kecerdasan mental, dan emosional, serta mudah dicerna dan diserap oleh bayi (Mufdlilah, 2017 dalam Anita Sampe, dkk, 2020).

Upaya untuk menangulangi kejadian stunting, pemerintah melakukan intervensi gizi yang spesifik antara lain pemberian suplementasi gizi makro dan mikro (tablet tambah darah, vitamin A), pemberian tambahan makanan pada ibu hamil, pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI, pelaksanaan kelas ibu hamil dan penanganan kekurangan gizi (Kemenkes RI, 2018).

Berdasarkan uraian tersebut, menununjukkan bahwa salah satu faktor penyebab stunting yaitu tidak diberikannya ASI esklusif. Untuk mengetahui serta memahami bagaimana hubungan ASI esklusif yang diberikan ibu kepada balita stunting, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada balita di Puskesmas Kecamatan Semanding lebih tepatnya di desa Bektiharjo.

 

Metode

Desain penelitian ini yang digunakan adalah korelasi yang bersifat cross sectional. Populasi pada penelitia ini adalah semua orang tua yang memiliki balita yang ada di desa Bektiharjo Dusun Medokan wilayah kerja Puskesmas Semanding. Besar sampel 62 orang, Teknik sampling menggunakan probability sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuisioner, yang di analisis menggunakan uji korelasi Chi-Square. Variabel independen dalam penelitian ini adalah Pemberian ASI Eksklusif, sedangkan Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kejadian Stunting.

 

Hasil dan Pembahasan

A.       Pemberian ASI Eksklusif Pada Balita Di Desa Bektiharjo Dusun Medokan Wilayah Kerja Puskesmas Semanding Pada Bulan Juni Tahun 2022

 

Tabel 1 Distribusi Pemberian ASI Eksklusif Pada Balita Di Desa Bektiharjo Dusun Medokan Wilayah Kerja Puskesmas Semanding Pada Bulan Juni Tahun 2022

Pemberian ASI Eksklusif

Frekuensi (f)

Presentase (%)

Diberikan

24

44,4

Tidak diberikan

30

55,6

Total

54

100

 

Berdasarkan tabel 1 di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar (55,6%) tidak diberikan ASI Eksklusif.

 

B.Kejadian Stunting Pada Balita Di Desa Bektiharjo Dusun Medokan Wilayah Kerja Puskesmas Semanding Pada Bulan Juni Tahun 2022

 

Tabel 2 Distribusi Kejadian Stunting Pada Balita Di Desa Bektiharjo Dusun Medokan Wilayah Kerja Puskesmas Semanding Pada Bulan Juni Tahun 2022

Kejadian Stunting

Frekuensi (f)

Presentase (%)

Stunting

31

57,4

Tidak Stunting

23

42,6

Total

54

100

 

Berdasarkan tabel 2 diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar (57,4%) balita mengalami stunting.

 

C.Analisis Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Stunting pada Balita di Desa Bektiharjo Dusun Medokan Wilayah Kerja Puskesmas Semanding

 

Tabel 3 Analisis Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Stunting pada Balita di Desa Bektiharjo Dusun Medokan Wilayah Kerja Puskesmas Semanding

ASI Eksklusif

Kejadian Stunting

Total

Tidak Stunting

Stunting

F

%

f

%

f

%

Tidak Diberikan

9

30%

21

70%

30

100%

Diberikan

14

58,3%

10

41,7%

24

100%

Total

23

42,6%

31

57,4%

54

100%

Hasil Uji Chi-Square di dapatkan nilai P=0,036 dengan α=0,05

 

Berdasarkan tabel 5.4 dapat diketahui bahwa sebagian besar (70%) balita yang mengalami stunting tidak diberikan ASI Eksklusif, sebagian besar (58,3%) balita tidak mengalami stunting diberikan ASI Eksklusif.

Berdasarkan hasil uji Chi-Square didapatkan nilai signifikan dengan hasil yang diperoleh yaitu p=0,036 yang berarti bahwa p=<0,05 maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara pemberian ASI Eksklusif dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Semanding.

 

PEMBAHASAN

A.       Pemberian ASI Eksklusif Pada Balita

Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar balita tidak diberiankan ASI Eksklusif. Hal ini menunjukkan bahwa capaian ASI Eksklusif di lokasi penelitian belum mencapai target nasional yang di tetapkan oleh pemerintah, yaitu sebesar 80% (Kemenkes RI,2018).

ASI (Air Susu Ibu) adalah sumber asupan nutrisi bagi bayi baru lahir, yang mana sifat ASI bersifat eksklusif sebab pemberianya berlaku pada bayi berusia 0-6 bulan. Dalam fase ini harus diperhatikan dengan benar mengenai pemberian dan kualitas ASI, supaya tidak menganggu terhadap pertumbuhan bayi sejak lahir (Kemenkes RI, 2018).

ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambaban lainnya pada bayi berumur nol sampai enam bulan (0-6 bulan). Bayi hanya diberi ASI tanpa makanan atau minuman lain termasuk air putih, kecuali obat, vitamin, mineral, dan ASI yang dipompa.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan pemberian ASI eksklusif ada enam bulan pertama usia bayi. ASI menyediakan semua energi dan nutrisi yang dibutuhkan oleh bayi selama enam bulan pertama kehidupannya. ASI memberikan banyak manfaat bagi ketahanan, pertumbuhan, dan perkembangan bayi. Pemberian ASI secara eksklusif mampu menghindarkar bayi dari kematian bayi akibat penyakit serta mempercepat penyembuhan selama sakit (Sudargo Toto, 2021).

Berdasarkan hasil penelitian dari Maya, Eka (2017) yang meneliti beberapa faktor yang menyebabkan kegagalan pemberian ASI Eksklusif kepada bayinya adalah 73,6% tidak didukungan ibu oleh suami, 62% percaya akan kebiasaan (sosial budaya) pemberian makan sebelum waktunya, dan 65% tidak ketersediaan fasilitas.

Berdasarkan penelitian diatas dapat diketahui bahwa masih banyaknya balita yang tidak diberikan ASI Eksklusif dikarenakan ada faktor yang masih kental yaitu pengaruh budaya dengan melakukan pemberian makanan bayi sebelum waktunya seperti memberikan pisang yang dihaluskan dan dicampurkan dengan air diberikan pada saat bayi masih berusia kurang dari 6 bulan. Oleh karena itu penting sekali ibu mengetahui pemberian ASI Eksklusif yang tepat, yaitu salah satunya untuk mengetahi bagaimana pemberian ASI Eksklusif bisa memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada di Dusun Medokan dengan rutin mengikuti kegiatan posyandu.

 

B.��� Kejadian Stunting Pada Balita

Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat diketahui bahwa sebagian besar balita mengalami stunting.

Stunting merupakan kondisi dimana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Nutrisi yang diperoleh sejak bayi lahir tentunya sangat berpengaruh terhdap pertumbuhannya termasuk resiko terjadinya stunting. Tidak dilaksanakannya inisiasi menyusui dini (IMD), gagalnya pemberian ASI eksklusif, dan proses penyapihan dini dapat menjadi salah satu faktor terjadinya stunting (Kemenkes RI, 2018).

Menurut Departemen Kesehatan tahun 2015 dalam Yuliana dan Hakim,2019. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (Bagi bayi di bawah lima tahun) yang diakibatkan kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir akan tetapi, kondisi Stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun. Stunting yang dialami anak dapat disebabkan oleh tidak terpaparnya periode 1000 hari pertama kehidupan mendapat perhatian khusus karena menjadi penentu tingkat pertumbuhan fisik, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depan. Stunting dapat pula disebabkan tidak melewati periode emas yang dimulai 1000 hari pertama kehidupan yang merupakan pembentukan tumbuh kembang anak pada 1000 hari pertama. Pada masa tersebut nutrisi yang diterima bayi saat didalam kandungan dan menerima ASI memiliki dampak jangka panjang terhadap kegidupan saat dewasa. Hal ini dapat terlampau maka akan terhindar dari terjadinya stunting pada anak-anak dan status gizi yang kurang. Menurut Kementerian Kesehatan tahun 2020, stunting memiliki ambang batas -3 SD sd <-2 SD.

Menurut Yuliana & Hakim (2019) faktor utama penyebab Stunting yaitu asupan makanan tidak seimbang berkaitan dengan kandungan zat gizi dalam makanan yaitu karbohidrat, protein, lemak, mineral, vitamin, dan air), riwayat berat badan lahir rendah (BBIR), riwayat penyakit, praktek pengasuhan yang kurang baik, termasuk kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan, serta setelah ibu melahirkan. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara Ekslusif, tidak menerima Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI).

Berdasarkan penelitian diatas dapat diketahui bahwa masih banyak balita yang mengalami stunting. Banyaknya balita yang mengalami stunting dapat disebabkan karena kurangnya asupan makanan, riwayat berat badan bayi rendah, dan pemberian ASI yang tidak Eksklusif. Oleh sebab itu penting sekali bagi orang tua yang mempunyai balita yang mengalami stunting di Dusun Medokan untuk mengetahui tentang stunting baik dari definisi stunting, tanda stunting, faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting, pencegahan serta penanggulangan stunting. Oleh karena itu untuk orang tua harus memantau pertumbuhan balita dengan aktif dalam mengikuti kegiatan posyandu yang telah diselenggarakan, dimana kegiatan tersebut akan berdampak baik untuk balita dan orang tua di Dusun Medokan, terutama dalam pencegahan stunting pada balita di Dusun Medokan wilayah kerja Puskesmas Semanding.

 

C.�� Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Stunting pada Balita

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa sebagian besar balita yang mengalami stunting tidak diberikan ASI Eksklusif, sebagian besar balita tidak mengalami stunting diberikan ASI Eksklusif.

Berdasarkan hasil uji Chi-Square didapatkan nilai signifikan dengan hasil yang diperoleh yaitu p=0,036 yang berarti bahwa p=<0,05 maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara pemberian ASI Eksklusif dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Semanding.

ASI (Air Susu Ibu) adalah sumber asupan nutrisi bagi bayi baru lahir, yang mana sifat ASI bersifat eksklusif sebab pemberianya berlaku pada bayi berusia 0-6 bulan. Dalam fase ini harus diperhatikan dengan benar mengenai pemberian dan kualitas ASI, supaya tidak menganggu terhadap pertumbuhan bayi sejak lahir (Kemenkes RI, 2018).

ASI eksklusif merupakan pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambaban lainnya pada bayi berumur nol sampai enam bulan (0-6 bulan). Bayi hanya diberi ASI tanpa makanan atau minuman lain termasuk air putih, kecuali obat, vitamin, mineral, dan ASI yang dipompa.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan pemberian ASI eksklusif ada enam bulan pertama usia bayi. ASI menyediakan semua energi dan nutrisi yang dibutuhkan oleh bayi selama enam bulan pertama kehidupannya. ASI memberikan banyak manfaat bagi ketahanan, pertumbuhan, dan perkembangan bayi. Pemberian ASI secara eksklusif mampu menghindarkar bayi dari kematian bayi akibat penyakit serta mempercepat penyembuhan selama sakit (Sudargo Toto, 2021).

Nutrisi yang diperoleh sejak bayi lahir tentunya sangat berpengaruh terhadap pertumbuhannya termasuk resiko terjadinya stunting. Tidak dilaksanakannya inisiasi menyusui dini (IMD), gagalnya pemberian ASI eksklusif, dan proses penyapihan dini dapat menjadi salah satu faktor terjadinya stunting. Sedangkan dari sisi pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) hal yang perlu diperhatikan adalah kuantitas, kualitas, dan keamanan pangan yang diberikan (Kemenkes RI, 2018).

Berdasarkan hasil penelitian Prasetyono (2009) bahwa salah satu manfaat ASI Eksklusif adalah mendukung pertumbuhan bayi terutama tinggi badan karena kalsium ASI lebih efisien diserap dibanding susu pengganti ASI atau susu formula. Sehingga bayi yang diberikan ASI Eksklusif cenderung memiliki tinggi badan yang lebih tinggi dan sesuai dengan kurva pertumbuhan dibanding dengan bayi yang diberikan susu formula. ASI mengandung kalsium yang lebih banyak dan dapat diserap tubuh dengan baik sehingga dapat memaksimalkan pertumbuhan terutama tinggi badan dan dapat terhindar dari resiko stunting.

ASI juga memiliki kadar kalsium, fosfor, natrium, dan kalium yang lebih rendah daripada susu formula, sedangkan tembaga, kobalt, dan selenium terdapat dalam kadar yang lebih tinggi. Kandungan ASI ini sesuai dengan kebutuhan bayi sehingga dapat memaksimalkan pertumbuhan bayi termasuk tinggi badan. Berdasarkan hal tersebut dapat dipastikan bahwa kebutuhan bayi terpenuhi, dan status gizi bayi menjadi normal baik tinggi badan maupun berat badan jika bayi mendapatkan ASI Eksklusif.

Berdasarkan hasil penelitian dapat di simpulkan bahwa jika diberikan ASI Eksklusif maka akan semakin berkurang kejadian stunting pada anak, maka rendahnya pemberian ASI Eksklusif menjadi salah satu pemicu terjadinya stunting pada balita, sebaliknya pemberian ASI yang baik oleh ibu akan membantu menjaga keseimbangan gizi anak sehingga tercapai pertumbuhan anak yang normal. ASI sangat dibutuhkan dalam masa pertumbuhan bayi agar kebutuhan gizinya tercukupi. Oleh karena itu ibu harus dan wajib memberikan ASI secara eksklusif kepada bayi sejak lahir sampai umur 6 bulan dan tetap memberikan ASI sampai bayi berumur 2 tahun untuk memenuhi kebutuhan gizi pada bayi.

 

Kesimpulan

Di Dusun Medokan, data menunjukkan bahwa sebagian besar balita tidak mendapatkan ASI eksklusif. Selain itu, mayoritas balita di Dusun Medokan juga mengalami stunting. Analisis lebih lanjut mengindikasikan adanya hubungan antara pemberian ASI eksklusif dan kejadian stunting pada balita. Hasil ini memberikan gambaran bahwa pola pemberian ASI eksklusif dapat berpengaruh pada tingkat kejadian stunting di Dusun Medokan, memberikan dasar untuk pertimbangan kebijakan dan intervensi yang lebih baik terkait gizi dan kesehatan anak di wilayah tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

Daptar Pustaka

 

Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Adriani, M., Wirjatmadi, B. (2016). Peranan Gizi dalam Siklus Kehidupan. Jakarta: Prenadamedia Grup.

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. (2020). Laporan Kinerja Bidang Kesehatan Masyarakat. Surabaya: Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.

Irwan, D. S. (2017). Etika dan Perilaku Kesehatan. Yogyakarta: CV. Absolute Media.

Kemenkes RI. (2021). Penurunan Prevalensi Stunting Tahun 2021 Sebagai Modal Menuju Generasi Emas Indonesia 2045. https://www.kemkes.go.id. Diakses pada 15 Januari 2022.

Kementrian Kesehatan Ripublik Indonesia. (2018). Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan. Situasi Balita Pendek (Stunting) di Indonesia. Jakarta: Pusat Data dan Informasi.

Nursalam. (2016). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Nursalam. (2017). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Nursalam. (2018). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Pemerintah Indonesia. (2014). Peraturan Mentri Kesehatan Republik Indonesia No.41 Tahun 2014 Tentang Pedoan Gizi Seimbang. Kementrian Kesehatan: Jakarta.

Pemerintah Indonesia. (2020). Peraturan Mentri Kesehatan Republik Indonesia No.2 Tahun 2020 Tentang Standar Antropometri Anak. Kementrian Kesehatan: Jakarta.

Prasetyono. (2009). Buku Pintar ASI Eksklusif Pengenalan, Praktik, Dan Kemanfaatan-Kemanfaatannya. Yogyakarta: DIVA Press.

Purwani, Erni. (2013). Pola Pemberian Makan Dengan Status Gizi Anak Usia 1 Sampai 5 Tahun di Kabunan Taman Pemalang. Jurnal Keperawatan Anak. Vol 1.

Puskesmas Semanding. (2019). Laporan Hasil Kegiatan Bulan Timbang. Semanding: Puskesmas Semanding.

Puskesmas Semanding. (2020). Laporan Hasil Kegiatan Bulan Timbang. Semanding: Puskesmas Semanding.

Puskesmas Semanding. (2021). Laporan Hasil Kegiatan Bulan Timbang. Semanding: Puskesmas Semanding.

Saidah, H., & Dewi, R. K. (2020). �Feeding Rule� Sebagai Pedoman Penatalaksanaan Konsultan Makan Pada Balita. Malang: Ahlimedia Book.

Sampe, Anita., dkk. (2020). Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Stunting pada Balita. Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada. Vol 11.

Sudargo, T., & Kusmayanti, N. A. (2021). Pemberian ASI Eksklusif Sebagai Makanan Sempurna Untuk Bayi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Wijayanti, Erna Eka. (2019). Hubungan antara BBLR, ASI Eksklusif Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 2-5 Tahun. Jurnal Kesehatan dr. Soebandi. Vol 7.

Yuliana, W., ST, S.,Keb, M., & Hakim, B. N. ( 2019). Darurat Stunting Dengan Melibatkan Keluarga. Sulawesi Selatan: Yayasan Ahmar Cendekia Indonesia.