Pengalaman Psikologis Umat Islam dalam Interaksi dengan Tradisi Cium Hidung (Henge’dhu Hewangnga) di Kabupaten Sabu Raijua
DOI:
https://doi.org/10.58344/jig.v4i7.559Keywords:
Pengalaman Psikologis, Umat Islam, Tradisi Cium Hidung, Sabu RaijuaAbstract
Tradisi cium hidung (henge'dhu hewangnga) merupakan tradisi budaya masyarakat Sabu Raijua yang masih dipraktikkan sebagai bentuk penghormatan, persaudaraan, dan keharmonisan sosial. Penelitian ini bertujuan memahami pengalaman psikologis umat Islam dalam interaksi dengan tradisi tersebut di Kabupaten Sabu Raijua. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi deskriptif. Partisipan berjumlah tujuh orang umat Islam yang berdomisili di Kabupaten Sabu Raijua dan memiliki pengalaman langsung berinteraksi dengan tradisi cium hidung. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi nonpartisipan, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui pengkodean, pengembangan tema, dan interpretasi makna pengalaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umat Islam memaknai tradisi cium hidung sebagai simbol penghormatan, penerimaan, persaudaraan, dan identitas budaya. Pengalaman psikologis partisipan mencakup empat aspek: kognitif, afektif, perilaku, dan spiritual transendental. Secara kognitif, tradisi dipahami sebagai warisan budaya bernilai positif. Secara afektif, partisipan merasakan kesenangan, kenyamanan, dan rasa diterima. Secara perilaku, partisipan menunjukkan sikap menghormati dan menjaga kebersamaan. Secara spiritual, tradisi dimaknai sebagai sarana mempererat persaudaraan dan menumbuhkan rasa syukur. Penelitian ini menegaskan bahwa tradisi cium hidung berkontribusi terhadap terpeliharanya hubungan sosial yang harmonis di Kabupaten Sabu Raijua.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Elvin Marlince Lede, Diana Aipipidely, Mardiana Artati, Dinah Charlota Lerik

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/deed.id




