Integrasi Pas Kecil dan Komunikasi Risiko dalam Membangun Budaya Keselamatan Pelayaran di Pelabuhan Telaga Biru

Authors

  • Moehammad Roemyansyah Universitas Hang Tuah
  • Ari Sriantini Universitas Hang Tuah
  • Supangat Universitas Hang Tuah

DOI:

https://doi.org/10.58344/jig.v4i7.581

Keywords:

pas kecil, komunikasi risiko, budaya keselamatan, nelayan tradisional, kapal di bawah 7 gt

Abstract

Keselamatan pelayaran pada sektor perikanan tangkap tradisional dengan kapal di bawah 7 Gross Tonnage (GT) sering kali menghadapi tantangan akibat rendahnya kepatuhan administratif dan kesadaran keselamatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kesadaran nelayan tradisional terhadap keselamatan pelayaran berbasis Pas Kecil, mengidentifikasi mekanisme komunikasi risiko yang diterapkan, serta merumuskan pola integrasi keduanya di wilayah Pelabuhan Telaga Biru. Menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, data dihimpun melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan nelayan tradisional, serta rekapitulasi data dari Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) Kelas III Telaga Biru. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan (gap) administratif yang besar, di mana 60% nelayan belum memiliki Pas Kecil. Nelayan umumnya mengalami kesenjangan kognitif (cognitive gap) dengan menganggap Pas Kecil sebatas formalitas izin bersandar demi menghindari sanksi petugas. Otoritas pelabuhan mengintegrasikan komunikasi risiko dengan menjadikan momentum pengukuran fisik kapal sebagai entry point dialog partisipatif dua arah. Pendekatan sosiokultural menggunakan bahasa lokal, pemanfaatan media visual dan digital (Info BMKG), serta pelibatan local champions (tokoh masyarakat) terbukti efektif mentransformasi aspek pengetahuan, sikap, dan perilaku nelayan dalam membangun budaya keselamatan (safety culture) maritim yang kokoh.

Downloads

Published

2026-07-22